[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 1

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser

Chapter 1

Itu bukan berarti kita tidak saling mencintai, Sayang. Justru itu merupakan cobaan yang harus dihadapi oleh dua orang yang saling mencintai.

.

Hyundai-KIA berwarna silver itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah dengan pagar berukir megah bertuliskan ‘Empire High School’ di atasnya. Baekhyun yang duduk di balik kemudi memutar kepalanya ke belakang, demi melihat kedua anaknya yang duduk di bangku tengah. Namun belum sempat suaranya keluar untuk menyampaikan petuah, Taehyung sudah membuka pintu mobil dan keluar dari sana dengan tangan memanggul tas ranselnya dan sebuah headphone yang melingkar di lehernya, tanpa pamit kepada ayahnya.

Aish! Dimana sopan santunnya sih anak itu?!” desis Baekhyun saat menatap Taehyung berlalu begitu saja keluar dari mobil. Namun kemudian ia tersenyum saat tatapannya bertemu dengan Sohyun yang menatapnya dengan sebuah senyum kecil di bibirnya.

Appa, semoga harimu menyenangkan.” kata putri bungsunya itu.

Baekhyun tersenyum, lalu mengacak puncak kepala Sohyun. “Terimakasih, Sayang.” katanya kemudian, mengedikkan pandangannya pada bangunan sekolah. “Masuklah sana. Belajar yang rajin, Sohyun~a.”

Sohyun mengangguk. Ia mengecup sekilas pipi ayahnya, lalu keluar dari mobil. Setelah melambaikan tangan pada ayahnya, ia melangkah masuk melewati gerbang ‘Empire High School’. Begitu melihat kakaknya yang berjalan tak jauh di depannya, Sohyun segera berlari mendekati kakaknya, lalu menyenggol lengan kakaknya itu dengan iseng hingga Taehyung agak terdorong ke depan.

Oppa, semoga harimu menyenangkan.” kata Sohyun, melemparkan senyum cantiknya pada Taehyung.

Tanpa menunggu balasan dari Taehyung, Sohyun sudah berlari menjauh. Sekilas ia menolehkan kepalanya ke belakang, melirik Taehyung, lalu melambaikan tangannya pada kakaknya.

Taehyung hanya mendengus. Ia memalingkan pandangannya, berpura-pura tidak mengenali adiknya sendiri. Kakinya terus melangkah ke gedung tingkat menengah atas, berlawanan dengan Sohyun yang melangkah menuju gedung tingkat menengah pertama.

————————

Langkah Sohyun berhenti tepat di depan pintu kelas 2-1. Tangannya memegang erat kedua tali tas ranselnya dengan ekspresi tegang. Napasnya memburu beberapa saat sebelum akhirnya ia menghela napas panjang. Bibirnya bergerak mencoba untuk membentuk sebuah senyuman. Setelah memantapkan hatinya, tangannya bergerak untuk membuka pintu kelas.

Kelas 2-1 tampak ramai dan berisik sekali saat Sohyun membuka pintu. Hampir setengah bangku sudah terisi, pertanda banyak murid yang sudah datang. Tak ada yang menoleh ke arahnya saat Sohyun melangkah masuk ke dalam. Tak ada yang menyambutnya saat Sohyun melangkah masuk ke dalam. Dan tak ada yang membalas senyumannya saat Sohyun melangkah masuk ke dalam.

Sohyun melangkah mendekati bangkunya, dan duduk disana. Di belakang bangkunya, tampak beberapa murid perempuan berdiskusi tentang drama televisi yang mereka tonton tadi malam. Mereka tidak mempedulikan Sohyun yang baru saja datang, malah meneruskan perbincangan seru mereka.

“Aku semakin membenci karakter Sungyeol oppa kalau begini caranya. Seharusnya dia tidak bersifat antagonis seperti itu pada Woohyun oppa dan Seul Bi.”

“Kasihan Woohyun oppa. Dia semakin kesepian setelah Seul Bi pindah ke rumahnya Sungyeol oppa.”

“Tetapi alur ceritanya agak memaksa tidak, sih, menurut kalian? Masa’ tiba-tiba saja bisa begitu? Kurang masuk akal, tahu.”

Sohyun yang mendengar komentar tersebut segera membalik tubuhnya. Menatap kumpulan murid perempuan itu dengan wajah antusias dan senyum di bibirnya.

“Iya, benar. Menurutku juga alurnya terlalu memaksa. Aku sependapat denganmu, Jane.” kata Sohyun, menanggapi komentar salah satu murid tersebut yang berambut dibando.

Wajah murid-murid perempuan itu berubah tidak suka saat mendengar Sohyun bergabung dengan pembicaraan mereka. Dan demi melihat ekspresi tidak suka mereka, senyum di bibir Sohyun menghilang. Mendadak, tubuhnya menegang.

“Apaan sih, kita kan tidak bicara dengannya.” sahut salah satu dari mereka dengan sinisnya.

“Biasalah, orang yang tidak punya teman kan selalu sok akrab dengan kita.”

“Benar. Tidak usah dengarkan dia.”

“Oh ya, Jane, kudengar kau punya Photobook Official Infinite yang terbaru, ya? Boleh kulihat?”

“Oh, tentu saja. Bahkan aku bertemu dengan Myungsoo oppa secara langsung saat membelinya.”

“Benarkah? Wah, kau beruntung sekali.”

Murid-murid perempuan itu kembali berdiskusi mengenai hal lain. Tanpa menanggapi ucapan Sohyun. Tanpa mengajak Sohyun terlibat. Membiarkan gadis itu terdiam di bangkunya. Sendirian.

Sohyun menundukkan kepala, memandang ujung sepatunya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengepal erat di atas pahanya. Dadanya bergemuruh, lagi-lagi merasa kesepian di dalam kelas ini, seperti hari-hari kemarin.

Setiap pagi, ia selalu mengucapkan ‘semoga harimu menyenangkan’ kepada anggota keluarganya. Pada ibunya. Pada ayahnya. Dan pada kakaknya. Sambil berharap kalau dirinya juga akan mendapatkan hari yang menyenangkan itu. Tetapi kenapa hingga hari ini hari yang menyenangkan itu tak pernah kunjung datang padanya?

————————

Taeyeon mengelap peluhnya berkali-kali. Sekali lagi ia mencoba menggesekkan koin di tangannya pada noda keunguan yang dengan sangat kurangajar bersarang di salah satu seragam kerja suaminya. Tetapi mau berapa kalipun ia mencoba, noda itu tetap saja tidak menghilang. Sudah hampir selama setengah jam Taeyeon berjongkok di tempat cucian demi menghilangkan noda luntur seragam suaminya, namun noda itu tak kunjung menghilang.

Taeyeon merasa frustasi. Ia melempar seragam kerja suaminya itu ke dalam ember yang berisi air dan busa cucian, lalu berdiri dari jongkoknya. Ia merasa kakinya kesemutan dan tangannya pegal-pegal. Dengan langkah agak tertatih, ia berjalan menuju bangku, tepat di sebelah mesin cuci. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Merenggangkan otot tubuhnya yang tegang.

Taeyeon menghela napas panjang saat melihat seragam kerja suaminya yang tergeletak begitu saja di atas busa-busa air di dalam ember. Noda keunguan itu masih terlihat dengan begitu jelas, bahkan dari jarak sejauh ini. Rasanya Taeyeon ingin sekali membawa kemeja itu ke loundrian. Meminta seseorang untuk membersihkan noda itu. Tetapi ia tidak bisa melakukannya. Ini adalah kesalahannya, menciptakan noda keunguan itu pada seragam kerja suaminya. Berarti dialah yang harus bertanggungjawab. Ia tidak bisa menyerahkan tanggungjawabnya begitu saja pada orang yang tidak bersalah.

Taeyeon kembali menghela napas panjang sebelum memutuskan untuk berdiri, menguncir rambutnya, dan melanjutkan pekerjaannya.

Tidak apa-apa. Demi suaminya, ia rela menghabiskan waktunya untuk membersihkan kesalahannya.

————————

Baekhyun baru saja kembali ke ruang kerjanya setelah dari makan siang bersama teman-teman kerjanya sambil terlibat dalam pembicaraan yang seru. Sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau Direktur Han sudah berdiri di depan pintu.

“Selamat siang, Direktur-nim.” sapa para pekerja kantor itu, termasuk Baekhyun.

Direktur Han menatap Baekhyun dengan tatapan yang berbeda. Dan Baekhyun merasa ia akan mendapatkan surat peringatan hari ini.

“Byun Baekhyun, kau ke ruanganku sekarang.” kata Direktur Han.

Tepat seperti apa yang ia pikirkan.

Baekhyun mengekor langkah Direktur Han menuju ruangan. Setelah duduk di bangkunya, Direktur Han menatap Baekhyun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan Direktur Han berhenti pada kemeja biru laut yang dikenakan Baekhyun.

“Ada apa dengan seragammu?”

“Seragam untuk hari ini sedang dicuci, Direktur-nim.”

Direktur Han mengeluarkan secarik kertas dari dalam laci. “Kalau begitu, beritahu istrimu untuk menjadwalkan waktu mencuci seragam kerjamu, Baekhyun.”

“Ini bukan kesalahan istri saya, Direktur-nim. Istri saya selalu tepat waktu dalam mencuci seragam kerja saya.”

Direktur Han kembali memandang Baekhyun. “Lalu? Apa yang terjadi?”

Baekhyun menimbang sesaat, berpikir apakah akan memberitahukannya pada direkturnya atau tidak.

“Saat sarapan pagi tadi, saya tidak sengaja menumpahkan kopi yang istri saya buat ke seragam yang saya kenakan, Direktur-nim.” Baekhyun memutuskan untuk berdusta. “Jadi, saya mengganti seragam saya dan mengenakan seragam yang lain.”

Direktur Han terdiam sesaat, kemudian mengangguk-angguk. Menerima pengakuan Baekhyun.

“Kalau begitu, ini murni kesalahanmu. Lain kali kau harus hati-hati.” Direktur Han kembali menyimpan kertasnya di dalam laci. “Kau tidak perlu kuberi surat peringatan. Ini hanya pelanggaran kecil. Kembalilah bekerja.”

Baekhyun membungkukkan setengah badannya pada Direktur Han. “Terimakasih, Direktur-nim.” lalu melangkah keluar ruangan.

Tidak apa-apa kali ini ia berdusta. Demi menjaga nama baik istrinya, ia rela mengucapkan kesalahan istrinya adalah kesalahannya juga.

————————

Ruang kelas 2-2 pada gedung tingkat menengah atas langsung berisik begitu mendengar suara bel berbunyi. Bahkan sebelum Guru Nam menutup pelajarannya, beberapa murid sudah berhamburan keluar kelas sambil memanggul tas ranselnya sambil berteriak senang. Tak ada murid yang tak senang kalau mendengar suara bel pulang sekolah berbunyi, bukan?

Taehyung masih membereskan buku-buku pelajarannya ketika Guru Nam keluar dari kelas. Berjarak dua meja di depannya, beberapa murid lelaki berteriak heboh. Mengucapkan selamat pada salah seorang lelaki di antara mereka. Sementara lelaki yang lain menolehkan kepala ke arah Taehyung, lalu melangkah mendekatinya.

“Kau langsung pulang?” tanya Jimin setibanya di sebelah Taehyung.

“Entahlah.” jawab Taehyung singkat, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jimin.

Jimin melirik salah seorang lelaki di antara kumpulan lelaki yang kini sedang diacak-acak rambutnya oleh beberapa temannya. Ia lalu kembali menatap Taehyung sambil mengedikkan pandangannya pada lelaki yang sedang dikerubungi oleh teman-temannya itu.

“Sungjae memenangkan hati Joy.” kata Jimin.

Taehyung mengangkat kepala. Melihat Sungjae yang sedang tertawa saat teman-temannya justru malah mengincar tubuhnya untuk menyiksanya. Oh, tentu saja ‘menyiksa’ dalam arti konotatif, seperti mencubit, menggelitik, mengacak rambutnya, dan siksaan lainnya.

“Kau tidak ingin merayakannya?” tambah Jimin.

Kali ini Taehyung melirik Jimin. “Dimana?”

Jimin tersenyum miring. “Seperti biasa.” matanya melirik nakal ke arah Irene ketika gadis itu hendak keluar dari kelas. “Irene, ingin berkencan denganku hari ini?”

Irene menghentikan langkah, melirik Jimin dengan tajam. “Dalam mimpimu.” lalu kembali melangkah keluar kelas.

Jimin langsung jatuh terduduk, tangannya hendak meraih Irene, namun tidak sempat karena gadis itu sudah terlalu jauh darinya. “Oh, Irene, kau menghancurkan hatiku.” ucapnya berlebihan.

Taehyung hanya mendengus melihat sikap playboy nan alay Jimin keluar. Ia kembali membereskan barangnya sebelum akhirnya ia melihat seorang gadis berambut panjang yang baru saja bangun dari duduknya dan hendak keluar dari kelas. Tatapan mereka sempat bertemu beberapa saat sebelum gadis itu berbalik dan melangkah keluar kelas. Taehyung hanya memandang punggung gadis itu yang semakin menjauh.

“Ayo kita berangkat sekarang!”

Tanpa aba-aba Jimin langsung menarik leher Taehyung dan menyeretnya keluar kelas, mengekor langkah Sungjae dan kawan-kawan yang terlebih dahulu keluar kelas.

————————

Kepala Sohyun menyembul dari balik pintu. Bibirnya tersenyum saat menemukan Taeyeon sedang menyetrika pakaian di dalam ruangan. Ia melangkah masuk dan mendekati ibunya. Tanpa sepatah katapun, ia duduk di sebelah tumpukan pakaian yang tampak berantakan dan belum disetrika, lalu melipatnya dan menyimpannya dalam tumpukan yang rapi.

Sohyun mengambil salah satu kemeja di dalam tumpukan tersebut dan hendak melipatnya. Keningnya mengernyit begitu mengenali kemeja yang hendak ia lipat itu.

“Noda ungunya hilang, eomma.” kata Sohyun.

Ini adalah pertama kalinya Sohyun mengeluarkan suara di dalam ruangan tanpa diketahui oleh Taeyeon. Maka tidak heran kalau Taeyeon tersentak kaget saat tiba-tiba saja mendengar suara di dekatnya. Ia menoleh terkejut dan menatap Sohyun dengan mata terbelalak dan jantung berdebar.

“Oh? Sohyun~a, sejak kapan kau ada disana?” tanya ibunya, dengan suara yang terdengar begitu syok.

Sohyun menyengir, merasa bersalah telah mengagetkan ibunya. “Baru saja. Maaf mengagetkanmu, eomma.”

Air muka Taeyeon langsung berubah lembut. “Tidak apa-apa.” ia melihat kemeja yang dipegang oleh Sohyun dan teringat dengan perkataan anak bungsunya itu barusan. “Butuh waktu lama dan kesabaran yang amat sangat untuk menghilangkan noda itu.”

Eomma yang melakukannya?”

Taeyeon mengangguk, tersenyum saat mengingat perjuangannya dalam membersihkan noda itu. “Eomma hampir saja menyerah. Tetapi begitu teringat dengan appa-mu, rasanya eomma mendapat kekuatan kembali. Dan ternyata eomma bisa melakukannya.”

Sohyun mengulum senyum saat mendengar hal tersebut. “Kedengarannya, eomma sangat mencintai appa.”

Taeyeon agak tertawa mendengar perkataan lugu putri bungsunya. “Karena itulah eomma dan appa menikah, Sayang. Kalau tidak cinta, untuk apa eomma menikah dengan appa?”

Sohyun mengangguk, membenarkan perkataan ibunya. “Tetapi…” ia menatap ibunya yang masih menyetrika pakaian dengan tatapan ingin tahu. “Kalau memang eomma dan appa saling mencintai, kenapa kalian selalu saja bertengkar?”

Gerakan Taeyeon terhenti. Ia mengecilkan volume panas setrikaannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Sohyun. Menatap putri bungsunya dengan mata dan bibir yang tersenyum.

“Itu bukan berarti kita tidak saling mencintai, Sayang. Justru itu merupakan cobaan yang harus dihadapi oleh dua orang yang saling mencintai.” jawab Taeyeon kemudian.

Kening Sohyun mengernyit tidak mengerti. Dan demi melihat keheranan di wajah Sohyun, Taeyeon kembali tersenyum.

“Menjalin sebuah hubungan suami-istri untuk jangka waktu yang lama bukanlah hal yang mudah, Sayang. Ada kalanya rasa jenuh itu hadir, membuat emosi menjadi labil dan tidak stabil. Dan cara tiap orang untuk melampiaskan emosi itu berbeda-beda, ada yang hanya diam saja tidak ingin diganggu, ada yang melampiaskannya dengan minum alkohol, ada yang berkelahi, dan ada pula yang melampiaskannya dengan marah-marah, apapun yang dilakukannya ataupun yang dilakukan oranglain tampak salah di matanya. Namun biarpun begitu, mereka pasti akan kembali ke orang terkasihnya, orang yang dicintai dan mencintainya. Nah, appa-mu adalah tipe orang yang terakhir, Sayang.”

Appa memang tempramental sekali.” kata Sohyun, agak mendengus sebal mendapati kenyataan ayahnya yang bersifat demikian. “Kenapa sih eomma harus menikah dengan appa? Kenapa eomma tidak menikah dengan pria lain yang lebih lembut, yang tidak pemarah seperti appa?”

Taeyeon tersenyum lucu mendengar gerutuan putri bungsunya. Ia mencolek hidung Sohyun. “Kalau eomma tidak menikah dengan appa-mu, kau tidak akan terlahir di dunia ini, Sayang.”

Sohyun terdiam, membenarkan perkataan ibunya.

“Berarti tadi pagi appa sedang merasa jenuh dengan eomma hingga marah-marah begitu ya?” tanya Sohyun, lagi.

Lagi-lagi Taeyeon tersenyum. Ia menyukai putri bungsunya yang selalu banyak bertanya padanya dengan tatapan ingin tahu. Tidak, ia tidak pernah merasa keberatan dengan pertanyaan-pertanyaan dari putrinya, meskipun memang terkadang pertanyaan dari putrinya itu terlalu jauh dari batas usianya. Tetapi tidak apa-apa, baginya itu bagus sekali untuk mengetahui pengetahuan umum lebih awal dari usianya. Ia malah menduga-duga jika besar nanti pasti putrinya akan memiliki pengetahuan yang amat luas dan menjadi orang yang hebat.

“Kau ingin tahu rahasianya?” tanya Taeyeon mencondongkan tubuh ke depan, agak berbisik pada Sohyun.

“Rahasia apa?” Sohyun ikut berbisik, mengikuti ibunya, menatap ibunya dengan tatapan ingin tahu.

“Tentang appa-mu yang marah-marah pada eomma tadi pagi. Kau ingin tahu rahasianya, tidak? Tetapi, sst,” Taeyeon menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. “Jangan sampai appa-mu tahu ya. Cukup kita berdua saja yang tahu.”

“Memangnya apa itu?” Mata Sohyun tampak berbinar, ingin tahu.

“Sebenarnya…” bisik Taeyeon. “tadi pagi itu… appa-mu…” Taeyeon semakin mendekatkan mulutnya pada telinga Sohyun. “… sedang datang bulan.”

Taeyeon sudah menegakkan kembali tubuhnya sambil cekikikan tidak jelas, lalu kembali melanjutkan pekerjaan menyetrikanya yang sempat tertunda. Sementara Sohyun terpaku dengan mata yang mengerjap beberapa kali, berusaha mencerna ucapan ibunya barusan. Ketika dilihatnya ibunya cekikikan tidak jelas, Sohyun memukul lengan ibunya dengan tatapan merajuk.

EOMMA!” teriaknya kemudian. “Tidak lucu, tahu!”

Taeyeon masih saja tertawa cekikikan. Sementara Sohyun memajukan bibirnya.

“Bagaimana mungkin appa bisa datang bulan? Eomma ini ada-ada saja!” gerutu Sohyun, lalu bangun dari duduknya. “Sudah ah, aku tidak mau membantu eomma lagi.” ujarnya lalu berlalu keluar ruangan dengan wajah ditekuk.

Taeyeon memandang kepergian putrinya dengan senyum di bibirnya. “Loh, kok gitu aja ngambek sih? Sohyun~a! Byun Sohyun! Tanggung nih, ayo bantu eomma dulu.”

“Tidak mau! Eomma jahil!” sahut Sohyun dari luar ruangan.

Taeyeon hanya menggelengkan kepala, merasa lucu melihat putri bungsunya yang dengan begitu mudah ia kerjai. Hihihi, Taeyeon iseng sekali pada putrinya sendiri.

————————

Sohyun meletakkan semangkuk sup hangat di atas meja makan dengan hati-hati. Tak lama kemudian Taeyeon muncul di belakangnya dengan membawa beberapa piring dan mangkok dan meletakkannya di atas meja.

“Kali ini pasti tidak asin.” kata Taeyeon sambil membereskan peralatan makan di atas meja makan.

Sohyun tersenyum. “Percaya saja padaku, eomma. Appa pasti akan jatuh cinta dengan sup buatan eomma kali ini.”

Taeyeon tersenyum, mengacak rambut putrinya. “Kau ini bisa saja dalam membuat ibumu ini senang.” katanya, lalu melangkah kembali ke dalam dapur.

Sohyun hanya menyengir. Ia mengambil posisi duduk di bangku di balik meja makan, lalu melirik jam dinding di ruang tengah. Sebentar lagi ayahnya pulang.

Taeyeon kembali dari ruang dapur dengan membawa beberapa gelas di tangannya. “Oh ya, Sohyun~a, kakakmu kemana? Kenapa jam segini dia belum juga pulang?”

“Tadi sore aku sudah meneleponnya, tetapi malah di-reject. Begitu aku menelepon lagi, malah tidak sambung. Sepertinya Taehyung oppa mematikan ponselnya.”

“Aduh, anak itu kemana sih malam-malam begini belum juga pulang? Membuat khawatir saja.”

Sohyun menatap ibunya yang tampak khawatir dengan tatapan heran.

“Taehyung oppa kan sudah besar, eomma. Bukankah sudah tidak apa-apa kalau dia pulang malam? Lagipula Taehyung oppa adalah laki-laki, pasti dia bisa menjaga diri.”

“Tetapi tetap saja dia masih di bawah umur, Sohyun~a. Bahkan umurnya baru saja hendak menginjak 17 tahun. Lagipula bukan hanya itu yang eomma khawatirkan.”

“Lalu apa?”

“Karena kakakmu itu adalah anak eomma, Sayang. Kalau Taehyung bukan anak eomma, eomma tidak akan sekhawatir ini padanya.”

Sohyun terdiam, menatap ibunya dengan tatapan kagum, lalu mengulum senyum.

“Taehyung oppa pasti sangat beruntung memiliki ibu sepertimu, eomma.” ujar Sohyun tulus.

Taeyeon menoleh pada Sohyun dan balas mengulum senyum pada putri bungsunya itu.

APPA PULANG!”

Sohyun membulatkan mata, turun dari bangkunya, lalu berlari menuju ruang tengah. “Appa~” teriaknya, menyambut kehadiran ayahnya.

Baekhyun menyerahkan tas kerjanya pada Sohyun, mengacak rambut putrinya itu, dan mengecup puncak kepalanya sekilas. “Halo, Putriku.”

Appa, apakah harimu menyenangkan?” tanya Sohyun.

Baekhyun hanya tersenyum. Tangannya melonggarkan dasinya yang agak ketat mengikat lehernya. “Makan apa kita malam ini?”

Eomma memasak sup. Kali ini pasti tidak asin seperti tadi pagi.”

“Benarkah? Wah, appa tidak sabar untuk mencobanya.” kata Baekhyun sambil melangkah menuju dapur bersama putrinya.

Setibanya di dapur, ia menemukan istrinya sedang menuangkan sup ke atas mangkok. Taeyeon menolehkan kepala demi memberikan senyum untuknya, lalu mendorong mangkok tersebut ke hadapannya setelah ia duduk.

“Apakah direktur memarahimu?” tanya Taeyeon pada suaminya.

Baekhyun melongo sesaat. Taeyeon mengedikkan pandangannya pada seragam kerja yang dikenakan suaminya.

“Seragammu.”

Baekhyun melirik seragamnya sekilas, terdiam sejenak, lalu mengambil sendok dan mencicipi sup buatan istrinya. Matanya langsung berbinar saat kuah sup itu mengecap di lidahnya.

“Hm, Sohyun benar. Ini tidak asin. Benar-benar enak.” decak Baekhyun.

Sohyun tersenyum cerah. “Tuh, kan, eomma. Sudah Sohyun bilang appa pasti menyukainya.”

Sementara Taeyeon hanya mengulum senyum, memperhatikan suaminya dengan penuh haru. Meskipun suaminya itu tidak menjawab pertanyaannya barusan dengan mengalihkannya ke pembicaraan lain, tetapi ia mengerti. Suaminya pasti tidak ingin membahas hal itu lagi, hal yang telah membuat pertikaian terjadi pagi tadi. Toh, masalah tadi pagi sudah berlalu, tidak perlulah malam ini kembali diungkit. Taeyeon tahu benar dengan sikap suaminya yang satu itu. Terkadang sikap suaminya itu memang sulit untuk dimengerti.

“Mana Taehyung?” Baekhyun baru menyadari ketidakhadiran putra sulungnya, ia melirik pintu kamar putranya yang terletak di sebelah tangga, lalu berteriak. “Taehyuung~ Byun Taehyuuung~ ayo, makan malam bersama!”

Oppa belum pulang.” sahut Sohyun.

“Belum pulang?!” pekik Baekhyun.

Wajah Sohyun langsung memucat. “I-iya.”

Taeyeon yang menyadari perubahan air muka Sohyun segera menambahkan, “Sohyun sudah mencoba menghubunginya tadi sore, tetapi Taehyung tidak mengangkat.”

Baekhyun membanting sendok ke atas meja hingga menciptakan bunyi dentingan yang cukup keras.

Aish, anak yang satu itu! Selalu saja begitu! Siapa yang pernah mengajarinya untuk pulang malam? Masih anak sekolahan sudah keliaran kemana-mana saja, mau jadi apa dia besar nanti, hah?!” bentaknya, entah pada siapa.

Taeyeon hanya diam saja. Ia justru mengkhawatirkan Sohyun yang terlihat mengkerut di bahunya.

Appa.” Sohyun memanggil Baekhyun. Ragu, ia menatap ayahnya itu. “Appa sedang merasa jenuh ya?”

Baekhyun dan Taeyeon sama-sama tertegun. Taeyeon melirik ke arah suaminya, namun suaminya itu malah terdiam, seakan perkataan putri bungsunya itu telah menohoknya.

Terdengar suara deruman mobil dari kejauhan yang berhenti tepat di depan rumahnya, beberapa saat kemudian deruman itu kembali terdengar menjauh, disusul oleh terbukanya pintu depan. Baekhyun, Taeyeon, dan Sohyun sama-sama menolehkan kepala saat melihat Taehyung dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya serta headphone yang melingkar di lehernya muncul dari ruang tengah dan melangkah dengan tenang menuju kamarnya.

“Byun Taehyung!” Baekhyun menghentikan langkah Taehyung tepat di depan pintu kamarnya.

Taehyung menolehkan kepala, balas menatap ayahnya dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Kemana saja kau baru pulang jam segini?” tanya Baekhyun.

Taehyung tidak menjawab, hanya memalingkan pandangannya ke arah lain, lalu membuka pintu kamar.

YYA! BYUN TAEHYUNG! KALAU AYAHMU BERTANYA PADAMU, KAU HARUS MENJAWAB!” teriak Baekhyun, murka.

Tetapi Taehyung tidak mendengarkan, ia tetap melangkah masuk ke dalam kamarnya, tanpa menoleh lagi ke arah ayahnya maupun ibu dan adiknya yang berada di ruang makan.

“Astaga!” Baekhyun terpekur demi melihat sikap putranya yang kurangajar, napasnya sampai terengah-engah dan ia merasa suhu tubuhnya meningkat. Ia mengipas-ngipas kerah seragamnya. “Anak siapa itu? Kurangajar sekali. Aku benar-benar tidak mengenalinya.”

Taeyeon dan Sohyun memperhatikan Baekhyun yang kembali mengambil sendoknya dan menyuap makanannya ke dalam mulut, tetapi kemudian pria itu kembali membanting sendoknya.

Aish, aku kehilangan nafsu makan!” gerutunya.

Baekhyun lalu bangun dari duduknya dan melangkah menuju tangga dengan langkah lebar. Ketika ia melewati kamar putranya, ia sempat memukul pintu kayu itu dengan cukup keras sebelum akhirnya kakinya melangkah menaiki anak tangga, menuju kamarnya di lantai atas.

Taeyeon dan Sohyun hanya memperhatikan punggung Baekhyun yang semakin menjauh sambil menggelengkan kepala, bahkan sesekali berdecak. Setelah Baekhyun benar-benar menghilang dari pandangannya, barulah mereka berdua sama-sama menghela napas panjang.

“Kurasa eomma benar.” sahut Sohyun.

Taeyeon menatap putrinya dengan bingung.

“Sepertinya appa memang sedang datang bulan.”

————————

Di dalam ruangan yang gelap itu, Taehyung meletakkan tas ranselnya dan headphone-nya di atas ranjang lalu berjalan menuju cermin di dekat jendela kamar. Ia berhenti di depan sana dan memandang pantulan bayangan dirinya sendiri dengan pandangan tanpa ekspresi. Cahaya dari luar kamar sedikit memberi penerangan di dalam ruangan yang entah kenapa tidak dinyalakan oleh pemilik kamar tersebut sehingga Taehyung hanya dapat melihat samar-samar wajah dirinya di cermin yang balas menatapnya dengan mimik tanpa ekspresi.

Tangannya lalu bergerak menelusuri lehernya dengan gerakan pelan sampai akhirnya berhenti di suatu titik dimana terdapat tanda kemerahan disana, dekat tengkuk lehernya. Taehyung memperhatikan tanda merah itu dengan tatapan marah, lalu ia mendengus benci. Benci pada dirinya sendiri.

“Kau benar-benar lelaki yang buruk, Byun Taehyung.” katanya lirih, menatap benci pantulan bayangan dirinya sendiri lewat cermin.

—tbc

I’m comeback!
Mungkin jalan cerita fanfic ini nggak sekompleks fanfic BTS, tapi kuharap kalian suka yaa~ 😀 Cerita ini nggak full tentang keluarga doang kok, ada permasalahan yang sering ditemui juga di dalam persahabatan, jadi semoga kalian menikmati dan terhibur 🙂
Jangan lupa like dan comment. Enjoy it, guys ^^

Advertisements

13 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 1

  1. ceritanya bagus jarang cerita gendre family baekyeon gini,seru ceritannya next chaptnya ditunggu ya athor updatesoon please..

  2. keren jarang cerita gendre family baekyeon gini,seru ceritannya next chaptnya ditunggu ya athor updatesoon please..

  3. keren keren jarang cerita gendre family baekyeon gini,seru ceritannya next chaptnya ditunggu ya athor updatesoon please..

  4. keren keren jarang cerita gendre family baekyeon gini,seru ceritannya next chaptnya ditunggu ya athor updatesoon

  5. keren keren jarang cerita gendre family baekyeon gini,. seru ceritannya next chaptnya ditunggu ya athor updatesoon..

  6. Fast update eon. 3 bias aku ada disini 😀 Duh, Baekie emosional banget seh. Trus Sohyun sama Taeyeon juga ngawur banget. Masa Baekhyun lagi datang bulan XD Nahloh Taehyung, kamu ngapain coba pergi pagi pulang malem gitu. Trus trus, tanda kemerahan itu apa? Jangan-jangan… *otak yadong.
    Aku tunggu lanjutan nya eon. Fast update please *wink *kedip-kedip mata

    • Bias aku juga ada disini 😀 hehe
      Iya nih kali kali aku mau buat Baek yang emosional dan Taehyung yang cool 😀
      Okeey, secepatnya akan di update. Makasih banyak yaa ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s