(CHAPTER) Because Of You (2nd)

dessy-ds-because-of-you

Poster By LAYKIM

Title : Because Of You (Chapter 2) || Author : DALV || Genre : Romance, Sad, Family, Friendship, Drama || Rating : PG – 16 || Leght :        Chapter ||Main Cast    : – Kim Nara (OC) – Luhan – Kim Jong In|| Other Cast        : Temukan sendiri. OK ^^

Disclaimers                  :           Semua cast milik Tuhan dan orang tua masing – masing. Kecuali LuGe punya Author juga XD kkkk

Author Note                :           Fanfiction chapter saya dengan judul baru. Kekeke Maaf jika masih ada kekurangan ataupun typo. Maaf jika masih ada kekurangan ataupun typo. Semua ini murni dari imajinasi saya. ^^ jika ada kesamaan dengan yang lain itu tidak kesegajaan.

Happy Reading! ^^

“YA! OH SEHUN bisakah kau melepaskan pegangan yang kuat ini? Ini sakit bodoh!”

Pria yang bernama Oh Sehun itu tidak mendengarkannya. Dia seperti menutup pendengarannya menjadi tuli. Sehun terus menarik tangan Nara menuju atap sekolah. Sedangkan Nara hanya mengikuti Sehun dan cairan bening itu kembali turun karna rasa sakit tangan kirinya yang dipegang Sehun. Sehun baru menyadari itu setelah mereka sampai di atap sekolah. Sehun memeluk Nara dan membenamkan kepala Nara di dada bidang nya

Mianhe. Aku terlalu kuat menarikmu.” Ucap Sehun sambil mengelus kepala Nara

Nara hanya diam. Hening. Tidak ada yang ingin memulai membuka suara. Sehun masih merasa bersalah ke Nara. Yang bisa mereka dengar hanya deru nafas mereka dan Nara bisa mendengarkan detakan jantung Sehun yang berdegup kencang. Entahlah, Nara tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak aneh menurutnya. Akhirnya pelukan mereka terlepas setelah Sehun merasa Nara sudah baikan.

Wae? Kenapa kau menarik ku ke sini?” Setelah sekian lama Nara membuka pembicaraan mereka

“Aku juga tidak tau kenapa bisa menarik kau ke sini. Aku hanya ingin berdua dengan mu sekarang. Mungkin setelah ini aku tidak akan mengganggu mu lagi. Aku akan merindukan mu Kim Nara.”

Nara diam mendengar perkataan Sehun. Nara bisa melihat mata Sehun yang berubah sendu. Ekspresi nya berubah menjadi ekspresi yang Nara sendiri tidak bisa menebaknya. Jika Nara tidak salah liat mata Sehun mulai berkaca-kaca menatapnya. Ia bisa melihat ada perasaan kacau disana. Baru kali ini Nara melihat Sehun yang menurut nya kacau. Sehun membawa Nara duduk di bangku yang tersedia di atap sekolah itu.

“Maukah kau berjanji? Kembali lah ke Nara yang dulu. Nara yang selalu ceria, Nara yang selalu tersenyum melihat siapapun, Nara yang tidak kacau seperti sekarang ini. Jebal Nara a. Kembalilah ke Nara yang dulu. Aku merasa kau yang sekarang sangat berbeda. Bukan seorang Kim Nara yang tegar menghadapi masalah.”

Waeyo? Kenapa kau mendadak seperti ini? Apa kau mempunyai masalah?”

Ne aku punya masalah. Kau tau aku akan di jodohkan. Aku tidak bisa menolak permintaan Appa. Appa terlalu egois melakukan ini.”

“Ikutilah apa yang di katakan Ahjjusi. Dia melakukan hal yang terbaik buat kau Hun. Ahjjusi pasti sudah memikirkan hal ini baik-baik. Jangan kecewakan dia Hun. Apa kau ingin melihat dia menderita jika kedua anaknya menolak permintaan nya?”

“Cukup Tan Oppa yang menolak permintaan nya. Jangan sampai kau mengulang nya untuk ke dua kali nya. Jika kau meolaknya mungkin dia akan merasa dia adalah orang tua yang kurang beruntung karna anaknya semua tidak ingin menjalankan perintahnya.” Ujar Nara sambil mengelus pipi Sehun.

Dia tau apa yang Sehun rasakan sekarang. Pria itu kacau tidak seperti biasanya. Mungkin mereka sama kacau nya menghadapi situasi yang mereka hadapi saat ini. Sehun adalah salah satu Pria yang beruntung bisa dekat dengan Nara. Selain Jong In dan Chanyeol. Meskipun Sehun dan Chanyeol dekat dengan Nara karna mereka merasa telah jatuh cinta kepada Nara.

“Konyol memang. Di jaman yang serba modern seperti ini masih ada kata perjodohan dari orang tua kita. Tapi Hun, kau tau jalan orang tua kita bisa saja terbaik untuk kita. Lagian bukankah kau belum tau siapa gadis yang akan dijodohkan dengan mu? Mungkin saja dia adalah gadis sexy yang selama ini kau cari.” Nara terkekeh setelah menyelesaikan perkataan nya

Sehun juga terkekah mendengar nya. Itu lah hal yang Sehun suka dari Nara. Nara selalu bisa membuat orang terdekatnya tersenyum. Sehun memegang tangan Nara yang berada di pipi nya. Mungkin kalau Nara menerima dia sebagai Namjachingu nya maka perjodohan itu tidak akan ada. Sehun mencuim kening Nara. Nara kaget akan perlakuan Sehun. Karna dari semua Pria yang berani mencium kening nya hanya Minno Oppa dan Jong In. Jika ada yang lain mungkin dia akan menampar Pria itu. Tapi tidak untuk kali ini. Dia hanya menerima perlakuan Sehun. Jika dia menolak maka Sehun akan semakin kacau. Itu lah yang ada di benak Nara.

“Gomawo Kim Nara. Ah iyah. Kau belum menjawab tentang permintaan ku? Apa kau tidak ingin melakukannya?”

Ne… Ne… Ne… Aku janji akan menjadi Nara yang dulu. Nara yang kau kenal. Kajja ke kelas. Aku tidak ingin di usir oleh Park Songsangnim jika aku terlambat masuk.”

Sehun hanya memberikan senyumannya. Dia merasa lega sudah mengatakan semuanya dan dia juga lega karna bisa melihat senyum manis dari seorang Kim Nara.

Nara bernafas lega karna ketika dia sampai di depan kelas guru killer yang bermarga Park itu belum masuk. Dan kabarnya dia tidak masuk karna istirnya sakit. Menjadi keberuntungan Nara yang tak terduga. Kekeke

Nara memasuki kelas dengan senyum yang susah diartikan. Jong In yang melihat kelakuan Nara hanya bertanya-tanya ke Hye Ri. Mereka berdua bingung dengan kelakuan Nara yang satu ini. Kalian sendiri tau bagaimana kelakuan Nara belakangan ini.

Nara berjalan ke tempat duduknya yang paling belakang. Dia melihat Jong In dan Hye Ri dengan tatapan bertanya-tanya.

Wae? Kenapa kalian melihatku seperti itu?”

“Ani. Apa Oppa memberi mu salah obat? Atau kau menerima Sehun menjadi Namjachingu mu?” ujar Jong In yang panik akan kelakuan Nara

“Mian Oppa, obat yang kau kasih itu aku tidak memakannya. Obat itu aku buang ketika aku berada di kamar mandi. Tidak. Malah Sehun mengatakan jika dia akan dijodohkan. Mungkin hari ini terlihat cerah, makanya aku seperti ini.”

DUARRR!!!

Nara kaget ketika mendengar petir yang tiba-tiba itu. Jong In dan Hye Ri bergidik ngeri ketika melihat kelakuan Nara. Mereka merasa ada yang aneh dengan Nara. Bagi mereka hal ini adalah hal yang paling mengerikan yang pernah terjadi dengan Nara. Jong In dan Hye Ri memutuskan untuk kembali membaca buku yang mereka pegang. Sedangkan Nara menatap bingung kedua sahabat nya itu.

Nara memutuskan keluar dari kelas karna dia akan mati bosan dengan keadaan kelas sekarang. Nara berjalan ke ruang rahasia yang berada di dekat lorong tangga. Itu adalah ruang pribadi nya ketika dia ingin menyendiri. Yang mengetahui ruangan ini hanya Jong In dan Hye Ri. Tidak susah bagi seorang Nara meminta ruangan ini di buat. Karna 50% saham yang ada di sekolah ini milik Haraboeji nya dan 30% adalah saham atas nama seorang Kim Nara, jadi bisa di bilang dia berkuasa di sekolah ini. Tapi para siswa di SOPA tidak pernah tau jika Nara memiliki 80% saham dari sekolah itu.

Nara memasuki ruangan itu dan Nara menemukan amplop yang tidak asing baginya. Amplop berwarna baby blue. Nara ingin mengambil nya tapi pergerakan Nara terhenti ketika Jong In mengetuk pintu ruangan itu. Jong In melihat amplop itu dan mengambil nya.

Mian. Ini punya ku. Tadi aku menaruh nya di sini dan lupa untuk mengambilnya.” Ujar Jong In berbohong

“Ah… begituhkah? Bukankah surat itu pernah Oppa berikan kepada ku ketika aku berumur 10 tahun? Dan seingat ku surat itu sudah aku buang.”

“A…Anio… ini surat yang baru Oppa buat kemarin. Oppa ingin memberikan ini ke seseorang. Amplop ini banyak di jual Kim Nara. Jadi bukan cuma kau yang mempunyai Amplop seperti ini. Kajja kita kembali ke kelas. Oppa ingin bertanya tentang tugas.”

“Tidak bisakah Oppa membawa tugas itu kemari? Aku malas kembali ke kelas Oppa. Aku ingin istirahat disini.”

“Ayolah Nara. Apa kau ingin Oppa di hukum karena tugas itu?” ujar Jong In sambil memberika aegyo gagal yang sering dia buat ketika meminta sesuatu ke Nara

“Jangan melakukan aegyo gagal mu di depan ku. Kau mau mati?”

Jong In hanya tersenyum akan kelakuan Nara itu. Jong In menarik tangan Nara keluar dan menuju ke kelas. Jong In juga tidak ingin tau bagaimana wajah Nara yang menahan emosi di belakang nya. Jong In selalu merasa beruntung mempunyai adik yang seperti Nara. Jika Jong In kesusahan dengan tugasnya maka Jong In akan meminta bantuan Nara. Dan Nara selalu dengan senang hati mengajari Oppa nya yang menurut dia itu selalu menyusahkan Nara.

KRINGGG

Akhirnya bel istirahat berbunyi. Ini adalah saat dimana semua murid pada berhamburan keluar ke kantin. Luhan menghampiri Jong In dan Hye Ri yang sedang serius mendengar penjelasan dari Nara.

“Jong In-a apa kau mau ke kantin bersama?” ajak Luhan

“Oke Hyung. Tapi Nara……”

Shireo! Aku tidak ingin pergi dengan dia. Jika kau ingin menemani dia pergi saja. Dan untuk hari ini penjelasan tentang tugas sampai disini saja. Jika masih ada yang belum ngerti datang lah ke rumah ku.” Ujar Nara tiba-tiba dengan awrah dinginnya.

“YA! KIM NARA apa sebegitu susahnya kau memaafkan Luhan Hyung? Bukankah Oppa sudah katakan kalau dulu itu adalah kesalahan Oppa? itu bukan kesalahan Luhan Hyung, Kim Nara” ujar Jong In yang sudah emosi akan sikap Nara

Nara kaget ketika melihat wajah mengerikan dari seorang Kim Jong In. Apakah Jong In baru memarahi dia? Oppa nya membela pria yang dia benci?

Oppa memarahiku? Ah… Mian aku sudah buat kalian emosi. Aku sudah memaafkan Hyung mu itu. Tapi maaf aku belum ingin berbicara banyak tentang ini.” ujar Nara yang menahan cairan bening yang akan keluar sebentar lagi

Akhirnya tanpa persetujuan Jong In dan Luhan, Nara keluar dan menerobos Luhan dan Jong In yang berada di hadapannya. Para Gadis yang melihat itu menjadi bertanya-tanya kenapa Nara bisa membenci pria setampan Luhan.

“Sudah lah Jong. Kau tau kan Nara itu orangnya keras kepala. Kajja kita pergi ke kantin aku sudah laper. Masalah Nara nanti pulang sekolah aku akan pergi ke rumahnya.”

Jong In dan Luhan akhirnya pergi ke kantin. Sedang kan Nara sudah berada di atap sekolah mereka yang terlihat begitu nyaman. Disaat Nara ingin menyendiri ternyata tetap saja ada yang ingin mengganggunya dan Nara paling benci ketika dia ingin menyendiri ada saja pria yang mengganggu ketenangan dia. Tapi sebelum gadis itu benar-benar keluar pria itu menahan tangannya dan membuat Nara berbalik menatapanya.

Wae? Apa kau juga akan menyuruh ku untuk memaafkan Luhan? Hah… apa kalian semua di bayar olehnya dan menyuruh kalian memohon kepada ku untuk memaafkannya?” ujar Nara kepada pria yang sedang duduk di bangku

“Apa aku terlihat sekali akan menyuruh mu untuk memaafkan Luhan? Oh ayolah Naraya maafkan dia. Bukan kah Jong In sudah mengatakan apa yang terjadi waktu itu?” Ujar Pria yang menghampiri Nara

“Chanyeol-a harus kah aku memaafkan Luhan yang sudah menyakiti Jong In dan aku? Apakah kau akan memaafkan orang yang kau sayang tiba-tiba pergi begitu saja dan tidak ada kabar sedikit pun? Masalah dia memukul Jong In aku sudah memaafkannya, tapi masalah dia pergi tanpa kabar apapun maaf aku belum bisa memaafkannya. Karna waktu kecil kami pernah berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Tapi dia menghianati janji itu.” Jelas Nara dengan air mata sudah membasahi pipi nya

Nara pergi meninggalkan Chanyeol yang terdiam di tempat duduk nya sekarang. Dia masih mencerna perkataan Nara yang mengatakan kalau Nara menyayangi Luhan. Apa dia tidak salah mendengar nya? Apa Nara benar-benar sayang ke Luhan? Apa pria yang Nara tunggu dan yang Nara sayang sampai sekarang itu adalah Luhan? Apa karna itu dia menolak ku? Chanyeol hanya bisa tersenyum miris setelah tidak melihat keberadaan Nara di dekat nya lagi.

Bel telah berbunyi dari 5 menit yang lalu. Nara memasuki kelas nya dengan wajah yang sedikit di tekuk dan mata yang sembab. Nara berjalan ke tempat duduk nya yang berada di belakang yang berada di belakang Jong In. Jong In yang melihat itu menjadi khawatir dengan keadaan adiknya itu.

“Nara a Gwenchana?” Tanya Jong In dengan nada khawatir

Sedang kan Nara hanya mengangguk menjawab pertanyaan Jong In. Dia tidak melihat ke arah Jong In karena dia tidak ingin Jong In mengetahui kalau dia baru sajah menangis. Tanpa mereka sadari Han Songsangnim sudah memasuki kelas dan sudah memberikan tugas kepada seluruh murid di kelas itu. Nara cepat-cepat mengerjakan tugas yang di berikan Han Songsangmin supaya dia bisa pergi ke UKS setelah dia menyelesaikan tugas nya itu. Yah mungkin dia bisa menenangkan diri untuk sementara di UKS. Tidak susah bagi seorang Nara menyelesaikan soal matematika yang di berikan Han songsangnim. Hanya dalam 20 menit 5 soal yang di berikan Han songsangnim di selesaikan oleh Nara. Setelah selesai Nara langsung memberikan tugas itu ke Han.

Songsangnim bisakah saya permisi ke UKS? Saya merasa tidak enak badan.”

“Begituhkah? Kalau begitu saya akan menyuruh Jong In untuk mengantar mu ke UKS.”

“Aku bisa sendiri Songsangnim. Jong In belum menyelesaikan tugas nya. Jadi lebih baik aku pergi sendiri.”

“Luhan kau sudah menyelesaikan tugas mu? Bisakah kau mengantarkan Nara ke ruang UKS?” Ujar Han Songsangnim yang tidak menjawab pertanyaan Nara

Nara terkejut ketika Han Songsangnim memanggil Luhan. Sebelum dia mengatakan protes nya pada Han Songsangnim, Luhan sudah berada di sampingnya untuk mengantar nya ke ruang UKS. Nara berjalah keluar kelas meninggalkan Luhan yang berada di belakang dia. Pandangan Jong In dan Chanyeol tertuju pada kedua pasangan itu. Jong In merasa senang karena Han Songsangnim menyuruh Luhan untuk mengantar Nara ke UKS, Sedangkan Chanyoel menatap mereka masih dengan senyum mirisnya.

Setelah sampai di ruang UKS Nara berbaring di tempat tidur yang sudah di sediakan oleh sekolah. Luhan yang sedari tadi berjalan di belakang Nara akhirnya memberanikan dirinya untuk menghampiri Nara.

“Nara-ya Gwenchana? Apa kau mau pulang sajah? Oppa akan mengantar mu pulang.”

Gwenchana. Luhan-ssi kau kembalilah ke kelas.”

Luhan mengerutkan alisnya.

Apakah Nara baru saja memanggilnya Luhan? Apakah kini ia benar-benar telah menjadi sosok asing bagi seorang Kim Nara?

Kemana perginya Kim Nara yang selalu menyapanya lembut dengan panggilang sayang ‘LuGe’ ataupun ‘Luhan Oppa’ yang terdengar begitu menyejukkan telinga. Nara yang selalu hangat kepadanya ketika Nara sakit. Nara yang selalu berlari memeluknya jika Luhan datang mengunjungi nya.

Luhan hanya bisa terdiam di posisi nya “Tidak bisakah dia memanggilku dengan sebutan Oppa lagi?” pertanyaan itu sekarang beradu didalam pikiran Luhan. Dada nya terasa sesak setelah mendengarkan itu.

Nara mengeluarkan telepon nya untuk menelepon seseorang.

“Yeoboseo Eomma, Eomma apakah kau bisa menjemput ku di sekolah?”

“Tidak bisa Chagiya. Eomma masih ada pasien. Tidak bisakah kau menyuruh Luhan atau Jong In yang mengantarkan mu?”

“Ah begituhkah. Kalau begitu aku akan pulang naik bus Eomma. Jong In Oppa sedang belajar Eomma. Tidak mungkin aku mengganggu dia.”

“Bukankah Luhan sedang bersama mu sekarang? Suruhlah dia yang mengantarkan mu.”

“Mwo? Bagaimana…..”

“Eomma tutup teleponnya dulu ne. Eomma harus menangani pasien.” Ujar Nyonya Kim sambil terseyum di seberang sana

Belum sempat Nara menjawab Nyonya Kim sudah mematikan sambungan telepon secara sepihak. Nara masih bingung bagaimana Eomma nya bisa mengetahui bahwa Luhan sedang bersama dia. Ruang UKS saat ini hening. Yah hening, tidak ada yang berani membuka suara saat ini.

KRING

Bel bunyi pulang sekolah itu membuyarkan lamunan kedua orang yang berada di UKS. Nara ingin pergi dari ruangan itu tapi sebelum dia pergi ada sebuah tangan menahannya

Kajima. Oppa akan mengantarkan mu pulang. Oppa tidak ingin mendengar penolakan. Kajja kita ke kelas dulu ambil tas.”

Luhan menarik tangan Nara menuju ke kelas mereka. Disana sudah ada Jong In dan Hye ri yang memegang tas mereka berdua.

“Ah ternyata kalian sudah di sini. Ini tas kalian. Aku baru saja akan mengantar ini ke ruang UKS.” Ujar Jong In yang menyerahkan tas Luhan

Gomawo Jong In a.”

Nara mengambil tas yang berada di tangan Hye Ri dan dia menatap Jong In dengan tatapan “Tolong bantu aku dari pria ini” tapi nihil Jong In tidak bisa membantu nya. Mata Nara sudah panas, mungkin sebentar lagi cairan bening akan turun dengan deras dari matanya.

Kajja Nara kita pulang.”

Luhan menarik tangan Nara dan berusaha tidak menggenggam nya terlalu kuat. Luhan takut dia melukai gadis yang dia sayang itu. Jong In? Apa yang dia lakukan? Dia hanya menatap punggung Nara yang semakin menjauh.

Mian Nara-ya. Oppa tidak bisa membantu mu untuk masalah ini.” Ujar Jong In dengan suara lirihnya

Gwenchana Jong In a. Bukankah ini memang rencana kita. Bukan kah kita berharap dari dulu kalau mereka bisa baikan lagi? Aku akan membantu mu Jong In a.” Ujar Hye Ri

Gomawo Chagiya. Kau memang yang terbaik. Kajja kita pulang.”

Mereka memang sudah menjadi pasangan sejak mereka memasuki Senior High School. Entah apa yang membuat Jong In bisa begitu cinta dengan gadis nya itu. Meraka benar-benar berhasil menyembunyikan hubungan mereka yang sudah 3 tahun itu ke Nara. Ya meskipun mereka tau jika lambat laun Nara akan mengetahuinya dan mungkin Nara akan berceramah 1 hari 1 malam ketika dia mengetahui itu. Jong In sudah tau bagaimana sifat Nara jika dia menyimpan rahasia yang penting itu ke Nara.

Luhan dan Nara sedang berada di mobil Luhan yang sedang dia kendarai. Yah untuk kali ini Nara tidak bisa menolak nya. Sedari keluar dari ruangan UKS Luhan tidak sedikit pun melepaskan pegangan nya. Nara tidak ingin mengambil pusing tentang masalah ini. Pemikirannya sekarang hanya yang penting aku sampai di rumah dan bisa beristirahat. Setelah pertemuannya dengan Chanyeol di atap sekolah tadi membuat kepalanya menjadi berat.

Di dalam mobil mereka berdua tidak ada yang berani membuka pembicaraan. –hening- Nara hanya fokus ke luar jalanan yang mendung. Mungkin sebentar lagi kota seoul akan segera hujan. Sedangkan Luhan dia tetap fokus ke jalanan sambil sesekali menatap sendu Nara.

Dari sekolah ke rumah Nara membutuhkan waktu 30 menit jika itu tidak macet. Tidak lama mereka berdua sampai di rumah Nara yang bisa di bilang mewah itu. Luhan memarkirkan mobil nya di pekarangan rumah Nara. Setelah sampai Nara membuka seatbelt dan segera turun dari mobil Luhan. Tidak ada kata ‘Terima Kasih’ yang di ucapkan oleh Nara, jangankan terima kasih menoleh ke arah Luhan saja dia juga tidak ingin.

Setelah Nara keluar dari mobil yang di ikuti oleh Luhan. Nara megkerutkan kening nya. Nara bingung kenapa banyak mobil mewah yang terparkir di pekarangan rumah? Apa Haraboeji nya mempunyai tamu? Haraboeji Nara adalah seorang pengusaha kaya yang perusahaan nya ada di mana pun. Siapa yang tidak mengenal dengan Kim Jong Suk pengusaha terkaya di Seoul? Semua perusahaan ingin bisa bekerja sama dengan perusahaan JS Crop. Mungkin jika mereka tau Nara adalah cucu dari Kim Jong Suk mereka akan bertekuk lutut di hadapan Nara. Tapi sayang Nara bukan lah gadis yang ingin memamerkan keluarga nya yang kaya. Nara di kenal sebagai gadis yang simple. Jika di tanya tentang keluarga nya di hanya akan menjawab sekenannya. Jika ada kerja kelompok bersama dengan teman-teman nya dia akan mengajak mereka ke apartemen nya yang bisa di bilang ‘mewah’ juga. Nara tidak ingin ambil pusing tentang tamu Haraboeji nya. Tapi tunggu dari semua mobil mewah itu ada terparkir mobil ‘Kim Jong In’. Nara semakin bingung dengan semua ini. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk kerumah nya. Tanpa memperhatikan Luhan yang berada di belakang nya. Dia mengganggap bodoh terhadap Pria itu.

“Na wasseo”

“Oh Uri Nara. Kau sudah pulang dari sekolah?” ujar salah satu tamu yang berada di rumah itu. Nara tidak mengenal siapa itu. Tapi jika Nara lihat wajah nya seperti nya Nara pernah melihat nya. Tapi dimana?

“Ne. Anyyeonghaseo Ahjjuma.” Sapa Nara sambil membungkuk ke tamunya Haraboeji nya itu

Ahjumma? Apa kau tidak mengenaliku lagi Nara-ya? Bukan kah kau selalu memanggil ku Imo?”

Ne? Ah mian Ii……Mo” Ucap Nara yang bingung akan situasi saat ini.

Gwenchana Nara-ya.”

“Ah aku permisi dulu. Aku ingin mengganti pakaian.”

“Luhan a, duduklah. Apa kau akan terus mematung di situ?”

“Ah Ne Mama.”

Nara yang mendengar itu hanya bisa bertanya-tanya dalam pikirannya. “Mama?” itu Mama nya Luhan? Dia tidak ingin mengambil pusing akan hal itu. Dia berjalan ke kamar nya yang bisa di bilang mewah juga. Berwarnakan biru langit dan ada sedikit hiasan bintang di atas langit-langit kamarnya. Tempat ini adalah tempat ternyaman yang pernah Nara temui setelah apartemen nya.

Nara mendudukkan dirinya di pinggiran tempat duduk nya. Dia masih berkutat dengan pikirannya tentang tamu Haraboeji nya yang berada di bawah. Tunggu…… bukan kah di bawah tadi juga ada Jong In dan Hye Ri, di sebelah mereka ada Eomma dan Appa Jong In, dan di dekat meraka ada Eomma dan Appa Hye Ri. Sedangkan Eomma dan Appa Nara berada di samping Haraboeji dan Halmoni dan di samping Eomma dan Appa nya Luhan. Apa keluarga mereka sedang mengerjai dia akan sesuatu hal atau menyimpan suatu rahasia yang akan di ketahui setelah ia turun? Ah Nara lelah dengan permainan keluarga nya. Dia tidak ingin memusingkan kepalanya karna masalah keluarga nya yang tiada hentinya menindas nya dengan permintaan-permintaan tidak jelas.

Tok tok tok

Terdengan ketukan pintu kamar Nara.

“Nugu?”

Eomma Naraya. Bolehkah Eomma masuk?”

“Oh Eomma. Masuklah.”

Nyonya Kim membuka pintu kamar Nara dan setelah masuk dia menutup pintu itu lagi. Nyonya Kim berjalan menuju anak kesayangan nya itu.

Chagiya, apa kepala mu masih pusing? Apa perlu Eomma mengambil obat untuk mu?”

“Ah Anio. Nan Gwenchana Eomma. Aku sudah baikan.”

“Ah begitukah? Jika begitu gantilah pakaianmu dan turun lah kebawah. Ada yang ingin kami sampaikan kepada mu.”

“Ne Eomma. Aku akan turun 10 atau 20 menit lagi.”

Nyonya Kim keluar dari kamar Nara. Sesampainya di luar dia bergumam ‘Mian’ untuk anak nya itu. Sedangkan Nara di kamar menganti seragam nya dengan pakaian santai nya di rumah. Setelah dia selesai dia keluar kamar dan turun ke bawah. Dia tidak ingin semua tamu Haraboeji nya menunggu kehadiran dia. Ya untuk saat ini dia benar-benar harus menyiapkan mental untuk perkataan Haraboeji nya nanti. Nara di sambut hangat oleh tamu Haraboeji nya di bawah. Termasuk Kim Jong In. Entah kenapa Nara merasa ada yang di simpan oleh sahabat nya itu.

Cha. Karna Nara sudah di sini mari kita langsung membicarakan nya.” ucap Kim Haraboeji

“Naraya. Haraboeji ingin mengatakan sesuatu kepada mu.” Sambung nya

“Ne. Apa yang ingin Haraboeji katakan?”

“Kami akan menjodohkan mu dengan Luhan.”

To Be Continue~~~~

Hai aku kembali dengan nama pena baru. DALV. Pertama nama pena ku itu DessyDS. Dan iseng ajah sih untuk ganti nama pena. Huehehe

Aku kembali degan membawa lanjutan Because Of You. Maaf untuk tidak memposting beberapa bulan ini. aku benar-benar kena writer block dan susah banget untuk ngeposting FF. Apalagi tentang FF Lucky yang masih tertunda. huaaaaa

Dan sampai jumpa di chapter ke 3 dari FF BOY dan chapter 9 FF lucky. ^^

Don’t Forget to RCL guys. ^^

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s