[Multichapter] 1,2,3 (Hana, Dul, Set) [Chapter 3]

123

1,2,3 (Hana, Dul, Set)

Luhana120

| Oh Sehun (EXO), Kim Taehyung (BTS), Yook Sungjae (BTOB), Byun Hana (OC) |

| Romance, Comedy, School Life |
| Teen |

| Sorry for typos and mainstream idea |

| Chapter 3 |

| 1 | 2 |

.

“A girl with two stunning eyes, among three boys.”

.

“Ibu, aku pulang,”

Sehun memarkirkan sepedanya di gudang, kemudian masuk ke rumah. Mencium tangan ibunya, kemudian berjalan gontai ke kamarnya.

“Sehun-a, mana gadis yang akan kau tunjukkan kepada Ibu?”

“Hana? Hari ini dia sakit.”

“Benarkah? Oh, semoga dia cepat sembuh.”

“Hm.”

Sehun kembali berjalan setelah berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan ibunya. Hatinya gusar saat ini. Sekarang, coba pikirkan. Hyunmi dan teman-temannya adalah sahabat Hana. Mereka selalu bersama-sama. Dan juga, Sehun mendengar bahwa mereka telah membuat kesepakatan untuk harus menjenguk siapa diantara mereka yang sakit, tak peduli itu satu hari ataupun lebih. Otomatis, hari ini Hyunmi, Zizi, Ara, dan Jiseok, mungkin juga Chanri menjenguk Hana. Sayangnya, Eunra tak dapat ikut karena ia harus menghadiri pernikahan saudaranya.

Jika mereka berkumpul, sudah pasti mereka akan berbagi cerita hari ini disekolah, atau yang lain, mencurahkan isi hati mungkin. Oh ayolah, jika Hana mendengar hinaan(?) Sehun tadi, tentunya gadis itu akan membencinya, dan semakin kecil kemungkinan Sehun untuk mendapatkan Hana.

Sehun stress sekarang. Entah ini stress keberapa. Ia terlalu sering mengalami stress sekarang. Ia memutar otak untuk menghentikan mulut Hyunmi dan kawan-kawannya. Mungkin ini belum terlambat. Lelaki itu menyambar ponsel yang ia letakkan di atas nakas, kemudian mencari nomor telepon Hyunmi.

“Sial, aku tak punya kontak satupun dari mereka.”

Sehun berfikir lagi. “Eo, mungkin Taehyung punya,” Tanpa berpikir panjang, Sehun mengirim pesan ke Taehyung. Kemudian menunggu balasan.

Beberapa detik kemudian, Taehyung membalasnya. Gotcha! Taehyung punya nomor Hyunmi. Tak perlu berbasa-basi lagi, Sehun pun menghubungi Hyunmi.

“Yeoboseyo?”

“Eum, Hyunmi-a, kau ada di rumah Hana sekarang?”

“Ya. Ada apa?”

“Kau sedang berkumpul dengan teman-temanmu, juga Hana?”

“Ya, ada apa sebenarnya?”

“Bisakah kau menjauh sebentar?”

“Baiklah, sudah. Katakan sekarang, kau mau apa?”

“Bisakah kau tidak menyampaikan tentang umpatanku tadi pagi ke Hana?”

“Mengapa?”

“A-aku…”

“Eo, kau menyukainya, aku lupa.”

“Tidak! Aku tak menyukainya,”

“Jujur saja, Sehun. Jika kau tak mau jujur, akan kusampaikan umpatanmu tadi pagi,”

“Tidak! Ak-aku m-memang tak menyukainya,”

“Begitu? Hana-a! Aku―”

“Oke, oke! Aku akan jujur, tapi jangan katakan apapun ke Hana, oke? Baiklah, aku menyukai Hana. Kau puas?”

“Oh iya, aku lupa, memangnya kau tadi mengumpat bagaimana?”

Why I miss her? She’s like a satan. She refers to Hana. Puas?”

“YA! SEHUN! MATI KAU BESOK!! AKU MEMBENCIMU, SETAN!!”

Tit

Sehun terkejut dan langsung mematikan telepon itu. Ia hafal suara tadi, itu suara Hana ketika sedang marah, meski tadi sedikit serak. Matilah dia. Sepertinya Hyunmi tadi tak menjauh, tetapi malah menyalakan mode speaker di tengah-tengah mereka.

“Hyunmi, mati saja kau,”

Sehun menghela nafas berat. Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia akan depresi mungkin. Sial menimpanya lagi. Lelaki itu tak siap bertemu Hana esok.

“Sehun-a! Kemarilah sebentar,”

“Ya, Ibu!”

Sehun menuju ibunya yang memanggilnya. “Ada apa?”

“Besok kau ajak Hana kemari, ya? Ibu ingin bertemu segera.”

“Tapi, Ibu―”

“Ibu tak ingin menunda lagi, Sehun.”

“Baiklah.”

Sehun kembali ke kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk.

“Sial,”

Sehun menghempaskan tubuhnya di kasur empuk dengan cukup keras. “Gadis itu membenciku. Bagaimana caranya aku membawanya kemari?” Sehun berfikir keras. Hipotesis yang sungguh sukar ditemukan itu membuatnya kembali stress.

Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian beranjak ke lemari yang berisi semua pakaiannya. Dan dia berjalan ke kamar mandi.

-|||-

“Hana-ya! Kau membuat janji dengan Taehyung untuk tak masuk hari ini?”

“Tutup mulutmu, Lee Yumi. Atau kubunuh kau,”

“Ayolah, seisi kelas membicarakan kau dengan Taehyung seharian. Meski Eunra juga tak masuk hari ini.”

Shit. Aku harus masuk besok,”

“Hei, aku iri padamu, pelajaran hari ini menyebalkan. Membuat hasratku untuk membolos meningkat,”

“Kau pikir aku ingin tidur seharian di kasur ini, hah?”

Hana dan sahabat-sahabatnya bercanda ria cukup lama. Waktu berlalu dengan cepat. Matahari hampir tak terlihat. Zizi dan teman-temannya pun memutuskan untuk pulang.

“Terima kasih telah mengunjungiku hari ini, tunggu aku besok di sekolah,”

Anytime!”

Senyuman merekah di wajah Hana, untuk membalas senyuman sahabat-sahabatnya. Hana berbalik untuk kembali ke kamarnya, tetapi Baekhyun yang berdiri tepat di belakangnya membuat gadis itu terkejut bukan main.

“Ya! Kau membuatku terkejut!”

“Hehe, maaf. Ada telpon untukmu,”

“Dari?”

“Entahlah, dia hanya bilang kalau dia temanmu,”

Hana menatap Baekhyun sekilas, kemudian melewatinya untuk menjawab telpon itu.

Yeoboseyo?”

Em… Hana-a,”

“Oh, kau Sehun ya? Sehun yang menghinaku beberapa jam yang lalu? Jangan harap dapat melihatku sebagai ketuamu lagi, wakil sialan!”

“T-tunggu! Aku mohon dengarkan dulu!”

“Apa yang harus kudengar darimu? Bualan? Hinaan? Tidak, terima kasih.”

Bukan! Aku-aku… Aku hanya ingin… meminta maaf―”

“Tak ada maaf untukmu!”

Tapi―”

“Oh iya, untuk ajakan berkunjung ke rumahmu, aku tak akan datang.”

Hana-a! Kumohon, besok kerumahku… Ibuku ingin melihatmu,”

“Hei! Apa urusannya dengan ibumu?!”

Yah, aku selalu bercerita tentang perilakumu sebagai ketua… Dan ibuku ingin bertemu denganmu.”

“Apa?! Aish, kau menyebalkan!”

Kumohon… Demi ibuku, juga jika bertemu jagalah tingkahmu,”

“Ya! Kau kira aku mau? Jawabanku, tidak.”

Kumohon, ini hanya sekali dalam hidupmu,”

“Oke, tapi, aku tetap membencimu. Ingat itu, wakil sialan!”

Hana mematikan telepon dengan cara yang tak manusiawi. Ia melempar ponselnya ke sofa, kemudian membiarkannya dengan mengenaskan disana. Hei, itu ponsel yang mahal. Maklumi saja, keluarga Byun adalah keluarga dengan aset yang berlimpah, juga harta yang mungkin cukup untuk beberapa generasi.

Keluarga mereka selalu memakai ponsel yang sama, dan itu adalah kesepakatan.

“Hyun oppa!”

“Apa?”

“Dimana laptop, headphone, dan flashdiskku?”

“Mana kutahu? Kau yang memakainya.”

“Ish, kakak sialan.”

Baekhyun yang baru saja dari teras tersenyum miring. Hari ini hari Selasa. Tiba-tiba saja, ponselnya berbunyi.

Yeoboseyo?”

“…”

Eo, chagiya!

Baekhyun menuju kamarnya, mencari privasi. Yap, itu adalah Park Daejin, kekasihnya yang beberapa bulan lebih muda darinya. Gadis itu juga teman kuliah Baekhyun di Kyunghee University, hanya saja berbeda jurusan. Baekhyun duduk di semester 6 jurusan psikologi, sedangkan Daejin duduk di semester 5 jurusan manajemen perusahaan.

Meanwhile, Hana sedang mengetik fanfiction. Bagaimanapun juga, ia seorang gadis yang mengidolai seorang tokoh. Sayangnya, ia sulit membagi waktu. Disaat satu fanfiction belum terselesaikan, ide yang baru muncul dan gadis itu membuat judul baru. Dan, akhirnya menumpuk 20 lebih cerita yang belum terselesaikan.

“Argh, selalu seperti ini. Aku punya ide saat buang air! Dan sekarang menghilang,”

Hana memijat pelipisnya, mondar-mandir, untuk mencari inspirasi. Meski ia seperti lelaki, ia masih punya sisi manis dan humoris. Maka dari itu, ia sangatlah hebat dalam membuat cerita bergenre romance, comedy, dan fluff.

Gadis itu mengetuk-ngetuk keyboard laptopnya, tetapi inspirasi tak kunjung datang. “Minho oppa… memeluk? Mencium? Atau… mengacuhkannya?” Hana tetap saja bingung. Ia tak dapat meneruskan ceritanya.

Hana yang sudah tak punya ide lagi menutup laptopnya, kemudian turun ke bawah. “Ibu!”

“Ibu pergi bersama ayah. Ada apa?” Baekhyun yang sedang menonton televisi menanggapi teriakan adiknya yang sangat nyaring. “Aku butuh dengan ibu, bukan denganmu.”

“Kau memang menyebalkan. Hei, kau mau menonton American Pie?

“Hei, kau mesum! Ayo.”

Baekhyun yang memasang wajah datar hanya bisa mengumpat dalam hati. Kakak beradik itu menuju kamar Hana, kemudian membuka laptop dan menonton film yang sungguh tak pantas untuk seumur mereka.

“Hihihi… Gadis-gadis dalam film ini sungguh―”

TAK

“Hei, ingat Daejin eonni.”

“Oh, maaf.”

Hana menjitak Baekhyun dengan tak berperikemanusiaan. Ia telah mengenal baik Daejin, kekasih Baekhyun. Jadi, Hana sangat menghormati Daejin, meski ia tak terlalu menghormati kakaknya sendiri.

“Hei… The Naked Mile sudah selesai… Kau punya lagi?”

“Kau tahu, WiFi rumah ini sedang muak kupakai.”

“Ah iya. Kau mau download anime? Hentai?”

“Tidak! Aku sedang menahan hasrat. Aku hanya mendownload anime romance.

“Sepertinya tak buruk. Judulnya?”

“Kaichou wa Maid-sama.”

“Whoa, seperti apa ceritanya?”

“Aku belum menontonnya. Mau lihat?”

“Hm.”

Duo Byuntae itu menonton dengan senyuman mesum yang mengerikan. Bagaimanapun juga, jiwa mereka telah ternodai oleh film-film yang mempunyai rating 21 tahun ke atas, juga anime hentai.

-|||-

Pagi yang sejuk di sekolah. Hana memarkirkan motor sportnya di parkiran sekolah. Jangan tanya motor apa itu. Ia punya motor yang terlewat keren dari penjuru lelaki yang ada di sekolahnya.

“Hei,”

Hana celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya. Sungguh aneh, tak ada seorang pun disini. Hei, dia tentunya ketua kelas yang terlewat rajin. Sekarang masih pukul lima lewat empat puluh tujuh menit. “Hm?”

Gadis itu pun mengabaikan suara yang memanggilnya dengan menakutkan dan memilih untuk menuju kelasnya.

Inchou!”

Eh? Inchou? Siapa yang memanggilku menggunakan bahasa Jepang?

Inchou!!”

Ayolah, ini tak lucu. Ini semakin mengerikan.

“Hana-a!!”

Hana tak menggubris panggilan itu dan tetap berjalan ke arah kelasnya sembari berfikir keras. Dan ketika akan menuju sepatu…

Siapa yang memanggilku? Bahkan dia berbahasa―

Grep

Tiba-tiba, ada yang membungkam mulutnya dan menariknya hingga jatuh menindih seseorang. Tangan yang dengan sempurna menutupi bibir Hana itu cukup familiar. Gadis itu mengenal siapa yang menculiknya sekarang. Hana segera menepuk tangan itu.

“Ya! Wakil sialan! Berani sekali kau menyentuhku?!”

“Tunggu. Tunggu sebentar lagi.”

Ini pertama kalinya aku berani menyentuhmu. Mungkin aku tak dapat menyentuhmu setelah ini. Maaf. Aku menyesal. Umpatanku…

“Ya! Lepaskan aku!”

Hana memberontak dan sayangnya ia tak berhasil lepas dari Sehun. Sehun tertunduk lesu dan menyesali segalanya dalam hati.

Detik-detik yang akan kukenang.

“Maaf.”

Hana terdiam. Ini bukan Sehun yang biasanya. Gadis itu paham betul karakter 39 teman sekelasnya, hafal nomor absen, alamat rumah, hingga ukuran sepatu mereka dengan detail. Ketua kelas yang sangat pengertian.

“Hei, ada apa denganmu?”

“Maaf.”

“Aku memaafkanmu, tetapi ada apa?”

Daisuki.

Jantung Hana serasa berhenti. Ia tak dapat berfikir dengan jernih. Wakilnya yang selama ini pendiam, tiba-tiba saja menaruh hati padanya dan menyatakannya dengan nada yang berbeda. Gadis itu terdiam sejenak. “Hei. Jangan seperti ini. Ini bukan dirimu.”

Mata Sehun terbuka lebar. Tatapannya kosong. Ia takut apa yang akan dilontarkan oleh ketuanya itu. Ia takut jika Hana akan menjauh. Sehun gusar saat ini. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.

“Kau menyukaiku?”

“Maaf. Mungkin ini―”

“Tidak.” Sehun terdiam seketika. Menunggu kelanjutan tanggapan Hana. “Sepertinya kau harus membuka matamu lebar-lebar.”

Sehun terkejut bukan main. Apa maksudnya?

Apa? Apa mataku sipit? Hei, mataku cukup lebar!

“Apa maksudmu?”

“Hidupmu tak akan tenang jika bersamaku. Kau yang pendiam, cerdas, rajin, juga memendam semua perasaanmu sendiri sangat bertolak belakang denganku. Aku gadis yang malas. Aku sangat aktif, juga berorganisasi. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika kau tertular penyakit malasku.”

“Tidak! Aku hanya menyukaimu! Aku tak peduli―”

“Pedulikan masa depanmu, Sehun.”

“Tapi, aku ingin bersamamu.”

“Kau masih bisa bersamaku ‘kan? Hei, masih ada dua tahun dan beberapa bulan lagi!”

“Tapi ini berbeda… Aku mencintaimu…”

“Maaf. Tidak.”

Hana menyentuh tangan Sehun yang melingkarkan tangannya di pinggangnya. Isyarat untuk melepas pelukan ini. Sehun beranjak pergi, tetapi Hana menarik ujung jasnya. “Bisakah kau tak menjauhiku?”

Sehun hanya mencoba tersenyum diatas rasa sakitnya ditolak oleh seorang gadis―atau lebih tepatnya cinta pertama. Hana pun membalas senyumannya.

Seandainya kau tahu…

“Hana!!”

“Ya! Eunra! Tak bisakah kau mengecilkan volumemu?”

“Hei, apa yang kau lakukan dengan Sehun? Wajahnya memancarkan ketidakpuasan.”

“Sepertinya dia pusing dengan tugas yang kuberikan. Tenanglah, pangeranmu tak akan tergores olehku.”

…betapa Eunra menyukaimu. Maaf, Eunra. Aku harus menyembunyikannya darimu.

“Ya! Jangan lukai cinta keduaku!”

Calm down, aku tak akan menyentuhnya…”

…lagi.

“Kau memang eonni terbaik!”

“Kau harus ingat, umur kita hanya berbeda empat hari,”

“Hehe. Ibu belum datang?”

“Belum. Tunggu saja sebentar lagi, ia pasti akan muncul.”

Eunra meletakkan tasnya di kursi yang ada di depan Hana. Lalu mengeluarkan sebuah buku tebal dan besar yang hampir hancur. Bayangkan saja, sampul depan dan belakang sudah terlepas, juga halaman pertama yang hilang entah kemana. Itu berisi cerita buatan Eunra, Ara, dan Hana.

“Hei, Jiseok kemana?”

“Kau tahu sendiri, jika aku berangkat, Jiseok baru saja masuk kamar mandi.” Jawab Eunra seraya menatap Hana datar.

Hana menepuk jidatnya, tak kuasa mempunyai teman semalas Jiseok, meski sebenarnya ia lebih malas. “Aish, bocah itu.”

“Kau akan sangat terkejut jika Jiseok berangkat lebih awal dariku.”

“Jika benar terjadi, mungkin aku akan menjalani operasi jantung.” Jawab Hana, kemudian terkekeh. Eunra pun ikut tertawa.

“Kau berlebihan.”

Beberapa saat kemudian, datanglah Jiseok, Ara, dan Yumi. Eunra langsung menyambutnya dengan jeritan nyaring yang sangat memekakkan telinga. Sedangkan Hana sedang melamunkan sesuatu.

Kurasa aku harus membicarakannya dengan Ibu, Ara, Hyunmi, dan Jiseok. Aku tak mau Eunra tersakiti untuk kedua kalinya.

Kemudian, datanglah Zizi dan Hyunmi yang berangkat bersama. Hana mengembangkan senyumnya. Senyuman yang mengajak untuk berkomunikasi.

“Ibu, aku ingin bicara.” Bisik Hana tepat di pinggir telinga Zizi. Kening Zizi berkerut. Seolah berkata apa? Hana menarik Zizi, menjauh dari Eunra yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang sepertinya pekerjaan rumah.

“Eunra menyukai Sehun.”

Really? But, Sehun loves you!

Yeah, I know. Eunra menelponku tengah malam kemarin, hanya untuk bercerita padaku tentang Sehun, betapa dia menyukai Sehun, dan Sehun adalah tambatan hatinya sekarang, setelah Bambam.”

“Aish, anak itu benar-benar.”

“Dan… Sehun menyatakan perasaannya padaku, tadi pagi.”

“Apa?!”

“Tenanglah, aku tak menerimanya. Aku juga masih memikirkan Eunra, juga umpatan sialannya.”

“Hei, gadis itu buta? Bahkan Sehun menganggap Eunra tak lebih dari teman sekelas yang tak akan pernah akrab. That’s very… Oh, that’s just….”

“Tak apa. Kita hanya bisa membiarkan gadis itu menyukai Sehun, karena kurasa ini puncaknya.”

“Itu mengerikan. Ini masalah serius Hana. Adikmu itu sangat berambisi.”

Hana menundukkan kepalanya. Berfikir keras. Eunra memang menyebalkan, tetapi silsilah yang dibuat oleh Minna berhasil membuat Hana merasa Eunra adalah adik kandungnya sendiri, meski hanya berjarak 4 hari.

Tak lama kemudian, datanglah Ara, Hyunmi, dan Jiseok. Tanpa basa-basi, Hana langsung memanggil ketiga sosok itu untuk berkumpul, membicarakan Eunra tentunya.

“Kalian tahu? Eunra menyukai Sehun?” Hana bertanya membuka obrolan yang berbisik tersebut.

“Aku tahu. Dia memberitahuku kemarin lewat telepon.” Sahut Ara.

“Oke. Sekarang, Eunra sangat menyukai Sehun.” Lanjut Hana seraya menyorotkan tatapan yang penuh kecemasan.

“Dan buruknya, Sehun menyukaimu.” Hyunmi menimpali ucapan Hana.

“Dia bahkan mengungkapkan perasaannya padaku tadi pagi.”

“Juga, dia anakku yang sangat berambisi. Dia akan menggantungkan harapan terbesarnya kepada Sehun. Akan menyakitkan bila harapan itu tak terbalas.”

“Kalian tentunya ingat saat dia menyukai Bambam. Dia begitu berharap bahwa cintanya akan terbalas. Nyatanya? It hurts.”

“Kau benar. Apa yang harus dilakukan? Membiarkannya mencintai Sehun sama saja mendorong Eunra ke jurang.”

“Kita tak mungkin membiarkan Eunra sakit hati lagi untuk kedua kalinya.”

“Ara benar. Ini bisa jadi siksaan keduanya.”

Pembicaraan yang menyangkut pautkan Eunra dan Sehun pun masih berlanjut dengan bisikan dan suara yang lirih. Setelah dirasa cukup, Ara, Hyunmi, Jiseok, Zizi, dan Hana kembali ke tempat masing-masing.

Mereka berlima berfikir keras untuk mengeluarkan Eunra dari jurang yang teramat dalam dan berbahaya itu. Namun, tak akan ada yang bisa menghentikan Eunra saat ini. Karena cintanya kepada Sehun sangat mematikan, Eunra akan sangat marah jika ada orang yang berurusan dengan Sehun. Terlebih lagi jika Sehun bercanda dengan gadis lain. Dia tak akan membiarkan Sehun disentuh siapapun. Eunra mungkin sudah gila, tetapi beginilah jika ia sedang dilanda cinta.

Eunra, maafkan kakakmu ini. Aku telah menyakiti Sehun, dan kurasa sikapnya akan menyiksamu. Maaf. Aku benar-benar minta maaf.

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] 1,2,3 (Hana, Dul, Set) [Chapter 3]

  1. yayy yang ditunggutunggu datengg, udah lama banget nungguin nextnya :v
    nanti chapter 4nya jangan lamalama ya thor ? kkk

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s