Finding Love [Chapter – 4] Hurt

poster fl

Finding Love

Cast and Character | Chapter 1: What Happened? | Chapter 2: That Creepy Boy | Chapter 3: Heartbreaker | Chapter 4: Hurt

Written By © Amy Park

Main Cast:

BTS V – iKON B.I – Kim Hyemi (OC) – EXO Sehun

Supporting Cast:

Choi Minda (OC) – Park Yejin (OC) – Winner Taehyun – Jung Lucile (OC) – JYJ Jaejoong

Others:

Block B Zico as Jiho

Multichapter | PG15 | Romance – Family – Friendship – Angst

Everybody is going to hurt you

You just gotta find the ones worth suffering for

=== Finding Love ===

Few Months Later

Tak terasa, pergantian tahun ajaran baru telah tiba. Kyungsan International High School akan mengadakan acara pelepasan murid tingkat tiga yang sudah lulus, termasuk acara prom night di dalamnya.

Taehyun sedang menunggu seseorang di bangku taman belakang sekolah. Taman ini terlihat sangat indah, rerumputan hijau dan kolam ikan buatan beserta gemercik air mancur tertata rapi di sana. Ketika Taehyun sedang menatap kolam ikan dengan seksama, pipinya ditususuk singkat oleh sebuah jari. Taehyun mendongkak, tampak Hyemi yang menjauhkan telunjuknya seraya duduk di samping Taehyun.

“Selamat, oppa. Kau telah lulus dengan nilai yang luar biasa.”

Taehyun tersenyum, “Terima kasih. Ini semua karena dukunganmu.”

Hyemi menghela napasnya lalu memandang kolam ikan di depannya dengan tatapan kosong, “Oppa akan meninggalkan sekolah ini. Aku akan kesepian.”

Taehyun mendesah kecil lalu menyentuh wajah Hyemi untuk menuntun gadis itu agar menatapnya, Setelah itu, ia berkata, “Aku menyukaimu.”

Mata Hyemi membulat sempurna. Gadis itu hanya terdiam, sedangkan Taehyun tersenyum miris, “Tapi aku tetap tidak bisa bersamamu. Aku akan pergi ke Berlin untuk melanjutkan pendidikan di sana. Maafkan aku.”

“Jadi, karena itu oppa tidak ingin menerimaku? Hanya karena tidak ingin mempunyai hubungan jarak jauh denganku?”

“Aku hanya tidak ingin kau bersedih nantinya. Aku akan sibuk kuliah, mengejar cita-citaku, aku hanya akan membuatmu sakit.”

Taehyun menatap Hyemi dengan dalam. Dia meraih Hyemi ke dalam pelukannya. Hyemi hanya mengangguk, “Semoga berhasil, oppa. Kau pasti menjadi orang yang sukses.”

Taehyun tersenyum, “Terima kasih.”

Mereka tak sadar, seseorang tengah mengawasi mereka dari jauh.


Acara prom night bukan hanya untuk murid tingkat tiga saja. Seluruh murid dari tingkat satu dan dua pun berhak ikut. Masing-masing mereka harus datang ke acara prom night dengan pasangan mereka.

Sulli mengatur napasnya dalam, dia melihat Taehyung yang sedang duduk di bangku kelas dari kaca jendela. Dengan penuh percaya diri, Sulli melangkahkan kakinya masuk ke kelas Taehyung dan menghampiri lelaki itu.

Sunbae!” ucap Sulli di depan meja Taehyung.

“Oh, Sulli, ada apa?” heran Taehyung.

Sulli kembali mengatur napasnya. Dia lalu menyodorkan sebatang coklat dengan kedua tangannya pada Taehyung, “Jadilah kekasihku!”

Sontak, teman sekelas Taehyung yang ada di sana bersorak. Kini, Sulli dan Taehyung menjadi pusat perhatian. Suatu hal yang menakjubkan, Sulli yang dikenal sebagai putri basket dan pianis populer Korea, kini tengah menyatakan perasaannya pada Taehyung, ketua organisasi basket sekaligus kapten basket sekolah.

“Terima saja, Taehyung! Kalian terlihat cocok!!” celetuk Taemin, salah satu teman sekelas Taehyung.

Taehyung terdiam. Dia menengok ke tempat duduk Minda yang hanya terhalang empat bangku darinya. Minda yang terlihat sibuk dengan bukunya, tampak tidak tertarik memerhatikan Taehyung dan Sulli.

Taehyung menghela napas lalu kembali menatap Sulli, “Kau harus menjadi pasanganku untuk prom night, baru aku mau menjadi kekasihmu.”

Seluruh isi kelas pun bersorak karena perkataan Taehyung. Sulli mengangguk senang. Taehyung kembali melihat ke arah tempat duduk Minda. Sayangnya, gadis itu sudah tidak ada. Dada Taehyung pun langsung terasa sesak.

====

Minda terdiam sambil melihat pemandangan kota Seoul dari atap sekolah. Dia menghela napas berat sambil tertunduk sedih. Pikirannya sedang kacau, dia tak sadar seseorang telah berdiri di sampingnya.

“Minda.”

Minda mendongkak. Dia menoleh dan mendapati seorang pria berkacamata yang sedang tersenyum padanya. “Jiho songsangnim.”

Jiho tertawa kecil lalu mengacak pelan rambut Minda, “Kau seperti melihat setan ketika melihatku. Sedang apa di sini?”

“Memikirkan suatu hal,” jawab Minda sambil tersenyum kecil.

Jiho memalingkan wajahnya dari Minda, “Karena Taehyung?” pertanyaan Jiho membuat Minda tersentak. Jiho kembali berkata, “Kau mencintainya. Aku tahu.”

Minda tersenyum miris, “Walau aku mencintainya, aku tidak boleh melanggar janji, kan? Aku tidak ingin mengecewakan eomma.”

“Tapi kau menyakiti hatimu sendiri.”

Minda menghela napas, “Aku tak peduli. Sampai kapan pun aku tidak ingin membuat eomma kecewa. Sooyoung unnie sudah tidak ada, hanya aku satu-satunya anak eomma yang tersisa, aku tidak ingin membuatnya bersedih.”

Jiho tersenyum kecil lalu memeluk Minda lembut, “Jadi, kau akan ikut denganku?”

Minda mengangguk seraya membalas pelukan Jiho, “Eomma hanya mempercayai oppa.”

“Jika kau berubah pikiran, kapan pun kau bisa meninggalkan aku.”

Minda tersenyum lalu membenamkan wajahnya di dada pria itu. Dia tidak bisa membendung tangisnya. Ia tahu, meninggalkan Taehyung bukanlah hal yang mudah. Meninggalkan orang yang paling dia cintai bukanlah hal yang mudah untuk ia lakukan.

====

Hanbin melangkahkan kakinya di teras rumah Yejin. Dia menghela napas lalu menekan bel rumah bernuansa krim tersebut. Tangannya tersembunyi di belakang. Ketika pintu rumah terbuka, Hanbin pun tersenyum manis pada Yejin.

“Hanbina, ada apa?” tanya Yejin terlihat sumringah.

Hanbin langsung menyodorkan satu buket bunga mawar merah dengan kedua tangannya, “Untukmu.”

Yejin mengambil buket bunga itu dengan heran, “Ada angin apa kau memberikan aku bunga?”

Hanbin menggaruk tengkuknya terlebih dulu sebelum menjawab, “Maukah nuna menjadi pasanganku di prom night nanti?”

Yejin terkekeh geli, “Pasanganmu? Kau tak malu?”

“Malu kenapa?”

“Aku lebih tua enam tahun darimu. Kau tak malu membawaku ke pesta sekolah?”

Hanbin berdecak kesal, “Umur hanyalah angka, nuna.”

Yejin tersenyum, ada yang berbeda dari senyumannya, “Kau benar, umur hanyalah angka. Tapi sebagian orang menganggapnya serius. Sangat disayangkan.”

Hanbin memejamkan matanya lalu kembali menatap Yejin, “Jadi, nuna mau menjadi pasanganku, tidak?”

Yejin mengangguk kecil, “Hanya pasangan prom night, kan? Aku bersedia menemanimu.”

“Terima kasih.” ucap Hanbin terdengar enggan. Jawaban Yejin tidak membuatnya bahagia.

Ada hal yang membuat dada Hanbin begitu sesak. Hatinya terus menyimpan kata-kata Yejin yang terakhir.

Hanya sekedar pasangan prom night. Tidak lebih, batin Hanbin.

====

Hari itu pun tiba. Acara prom night akan berlangsung dua jam lagi. Lucile yang sedang menandatangani berkas di meja kerjanya, segera berdiri ketika mendengar suara bel apartemen berbunyi. Wanita itu langsung membuka pintu.

“Selamat malam. Aku ke sini untuk menjemput Hyemi.”

“Masuklah, dia masih ada di kamar.”

“Tidak perlu, unnie!!!”

Lucile menoleh dan terkaget mendapati Hyemi yang sudah ada di sebelahnya. Hyemi langsung keluar dan hendak menarik lelaki tersebut untuk pergi, “Ayo, Sehun!”

“Saya permisi dulu, nuna!”

Hyemi menarik lengan Sehun untuk segera pergi. Lucile mendesah kecil lalu menutup pintu. Dia kembali menuju meja kerjanya. Duduk di sana dan menghela napas seraya mengusap wajahnya.

Dia melihat bingkai foto yang ada di meja, fotonya bersama Jaejoong. Lucile tersenyum kemudian meraih bingkai foto itu. Jemarinya bermain-main di sekitar foto Jaejoong.

“Kapan kita akan bertemu? Aku merindukanmu.”

====

Taehyun benar-benar tidak hadir di acara prom night, lelaki itu sudah berangkat menuju Berlin. Hyemi hanya bisa mendesah kecewa karenanya. Dia berjalan keluar dari gedung, berniat menghirup udara segar. Dia duduk di bangku taman. Taman yang sama ketika dia duduk bersama Taehyun, tempat terakhir Hyemi berbincang dengan Taehyun.

“Aku mencarimu. Ternyata kau di sini, dugaanku benar.”

Hyemi menoleh, Sehun sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum manis. Senyum yang berbeda dari seorang Sehun yang ia kenal, tampak lebih lembut dan tulus.

“Kau yakin tidak mengenalku?”

Hyemi menatap Sehun terheran, “Aku mengenalmu. Aku tidak hilang ingatan.”

Sehun berdecak, “Sebelum kita bertemu di sekolah ini, apa kau tidak ingat bahwa kita pernah bertemu?”

“Aku tidak ingat. Sungguh.”

“Jika tidak ingat, kenapa kau masih memakai liontin pemberianku?” ucap Sehun sambil menunjuk liontin yang kini tengah dipakai Hyemi.

Hyemi menyentuh liontinnya dan menatap Sehun tak percaya, “Kau? Pangeran plester?”

Sehun mengangguk, “Aku sudah mengenalimu ketika aku pertama melihatmu. Itu yang membuatku ingin memilikimu.” Sehun menghela napas sesaat lalu menatap kolam ikan di depannya, “Maaf telah menyusahkanmu. Sekarang aku tahu, ternyata kau sangat mencintai Taehyun. Aku tidak bisa memaksamu.”

Hyemi hanya bisa terdiam. Sehun menoleh dan tersenyum pada Hyemi, kedua tangan lelaki itu menyentuh wajah Hyemi, “Aku akan kembali ke Kanada. Sekarang kau bebas dariku.”

Hyemi menahan napasnya ketika Sehun mencium keningnya dengan lembut. Lelaki itu kembali tersenyum lalu berdiri, berbalik dan meninggalkan Hyemi seorang diri.

Seharusnya Hyemi senang jika Sehun pergi, bukan? Dia bisa terbebas dari lelaki yang selalu menyusahkannya. Namun, Hyemi merasa ini bukanlah hal yang benar. Kepergian Sehun lebih menyakitkan. Dia menggenggam liontinya dengan erat lalu mulai menitikan air matanya.

 

Seorang gadis kecil menangis hebat di sebuah taman yang sepi. Lututnya berdarah, luka yang tidak terlalu parah tapi perih tampak di sana. Tak lama, seorang anak lelaki menghampirinya dan berjongkok di depannya.

“Kamu kenapa?”

“Aku terjatuh. Kakakku meninggalkan aku.” jawab gadis kecil itu sambil terisak.

Anak lelaki itu membuka liontin yang terkalung di lehernya, mengambil sebuah plester dari sana. Setelah menutup liontin itu kembali, dia menempelkan plester itu di lutut sang gadis kecil.

“Jangan menangis lagi. Lihat, beruang lucu telah menutup lukamu.”

Gadis cilik itu mulai berhenti menangis. Dia memandangi plester pink dengan beruang coklat di tengahnya. Perlahan, gadis itu tersenyum. “Sakitnya hilang.”

Anak laki-laki itu berdiri. Dia mengulurkan tangannya pada Hyemi, “Kubantu kamu berdiri.”

Hyemi meraih lengan anak laki-laki itu lalu beranjak. “Terima kasih, ya!”

Anak laki-laki itu mengangguk lucu, “Jika nanti kamu jatuh, kamu harus pakai plester ini.” Dia membuka kalung liontinnya lalu memberikannya pada Hyemi.

“Kenapa memberikannya padaku? Bukankah ini milikmu?”

“Buatmu saja. Kata eomma, tidak ada salahnya jika memberikan barang kita pada orang yang kita sayang.”

“Kau sayang padaku? Bahkan aku tidak mengenalmu.”

Anak laki-laki itu terkekeh, “Eomma juga bilang, tidak ada salahnya jika kita menyayangi seseorang yang tidak kita kenal.”

Hyemi tersenyum, “Aku juga sayang kamu kalau begitu.”

Anak lelaki itu mengangguk, “Aku pulang dulu, ya? Eomma sedang di rumah sakit. Aku harus ke sana.”

“Baiklah. Err… namamu siapa?”

“Pangeran Plester!”

Anak lelaki itu tersenyum jahil lalu mencium pipi Hyemi singkat. Kemudian, dia berlari meninggalkan Hyemi.

 

Hyemi tersenyum kecil mengingat kejadian itu. Betapa bodohnya dia tidak mengenali Sehun. Betapa bodohnya dia, karena baru tersadar bahwa dia kehilangan.

====

“Minda memiliki kenangan yang buruk, Taehyung.” ucap Hyoyeon yang duduk di depan Taehyung.

“Kenangan buruk, sunbae?”

Hyoyeon berhenti menyeruput minumannya, dia mengangguk kecil, “Kenangan buruk yang membuat dia tidak bisa menerimamu.”

“Kenapa?”

Hyoyeon menghela napas, “Aku memberitahumu karena aku tahu bahwa Minda sebenarnya mencintaimu.” Hyoyeon menghentikan perkataannya sejenak, dia melipat tangannya di meja, “Dia memiliki kakak, namanya Sooyoung. Sama seperti Minda, kakaknya sangat pintar, dia menerima beasiswa di sekolah swasta yang bagus dan mewah.”

Hyoyeon menyandarkan diri di kursi, dia menghela napas lalu melanjutkan, “Kakaknya berpacaran dengan seorang lelaki tampan dan kaya raya. Sooyoung sangat mencintai lelaki itu, cinta mati. Hingga pada saat lelaki itu selingkuh dan menghamili gadis lain, Sooyoung sangat terpukul. Pada akhirnya, Sooyoung bunuh diri.”

Taehyung tercekat mendengar hal itu, sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap tenang dan kembali mendengarkan perkataan Hyoyeon, “Karena itulah, ibu Minda melarang Minda untuk berhubungan dengan lelaki kaya raya manapun. Ia takut jika Minda bernasib sama seperti Sooyoung. Ibu Minda tidak ingin kehilangan anaknya lagi.”

Taehyung tersenyum miris, “Jadi karena itu, Minda tidak mau menerimaku?”

Hyoyeon mengangguk, “Itu salah satunya. Ada faktor lain yang membuat Minda tidak bisa menerimamu.”

“Apa?”

“Kau kenal Jiho songsaengnim? Guru Kimia yang masih muda itu?” Taehyung mengangguk, “Nyonya Choi mempercayakan Jiho untuk menjaga Minda. Bisa dibilang, hanya Jiho satu-satunya pria kaya yang boleh mendapatkan hati Minda. Jiho adalah putra dari sahabat baik nyonya Choi. Banyak yang bilang, mereka telah dijodohkan.”

Taehyung tanpa sadar mengepalkannya tangannya, “Sunbae tidak bergurau, kan?”

Hyoyeon menggeleng, “Sooyoung dan Minda adalah sahabatku, tak mungkin aku mengarang cerita tentang mereka.”

 

Taehyung memejamkan matanya, teringat perbincangannya dengan Hyoyeon tadi pagi. Dia mencari-cari sosok Minda di kerumuman orang-orang yang tengah berdansa dan mengobrol di dalam gedung pesta.

Taehyung menghampiri Kikwang yang sedang mengambil minuman. “Hai.” sapa Taehyung sambil menepuk bahu Kikwang.

“Oh, Taehyung, ada apa?”

“Di mana Minda? Kau pasangan prom night Minda, kan?”

Kikwang meneguk orange juice lalu menjawab, “Aku datang bersama Luna. Kau belum tahu? Minda memutuskan untuk pindah sekolah ke London bersama Jiho songsangnim. Kudengar mereka dijodohkan, mungkin mereka akan menikah dan tinggal di sana? Entahlah, aku juga kurang tahu.”

Taehyung menghela napasnya, dia mencoba tersenyum pada Kikwang lalu berbalik pergi.

“Gadis bodoh.”

Bukan. Bukan itu yang ingin Taehyung katakan. Hatinya berkata bahwa ini adalah salahnya. Dialah yang bodoh.

====

Hari sudah semakin larut. Hanbin dan Yejin masih berada di atap sekolah, memandang indahnya pemandangan malam kota Seoul.

“Ini adalah tempat kesukaanku ketika masih sekolah di sini. Rasanya nyaman dan tentram. Tempat yang cocok untuk menghilangkan penat.”

Hanbin yang berdiri di sebelah Yejin hanya tersenyum, “Aku malah belum tahu tentang keberadaan tempat ini.”

Yejin menatap Hanbin lalu memicingkan matanya, “Kasihan sekali. Padahal ini adalah tempat yang paling bagus di sekolah ini.”

Hanbin terkekeh kecil. Yejin kembali menatap pemandangan kota sambil memeluk tubuhnya sendiri. Hanbin yang melihat itu langsung membuka jas yang dia kenakan, lalu memakaikannya pada Yejin.

“Oh, kemejamu tipis. Nanti kau kedinginan.” ucap Yejin tak enak hati.

“Bahkan nuna memakai baju tanpa lengan, nuna akan lebih kedinginan. Pakai saja.”

Yejin tersenyum tipis pada Hanbin yang kini mengalihkan pandangannya. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia mendesah kecil lalu bertanya, “Tipe lelaki idaman nuna seperti apa?”

Yejin menoleh pada Hanbin, wanita itu sedikit heran dengan pertanyaan Hanbin, “Lelaki idaman?”

Hanbin menatap Yejin sambil tersenyum simpul, “Lelaki idaman. Lelaki yang ingin kau jadikan pendamping hidup.”

Yejin terlihat berpikir lalu menjawab, “Seorang pria mandiri. Sifatnya lebih dewasa dariku. Dia juga harus mencintaiku dengan sepenuh hati.”

“Pria mandiri, ya. Bukan lelaki,” ringis Hanbin.

Yejin mendengar itu. Dia tersenyum tipis, “Aku ingin memiliki kekasih yang lebih dewasa dariku. Agar dia bisa mengerti diriku dan bisa menuntunku dalam menjalani hidup ini.”

“Bukankah umur hanya angka? Jika memang ada lelaki yang lebih muda darimu, tapi dia mampu menuntun nuna dalam menjalani hidup, apa nuna akan menerimanya?”

Yejin menggeleng, “Aku tidak tahu.”

Hanbin tersenyum miris, “Bagiku, umur hanyalah sebuah angka, nuna. Tidak perlu memandang umur untuk orang yang sangat kita cintai.”

Hanbin memposisikan badannya agar berhadapan dengan Yejin. Lelaki itu menatap Yejin serius, “Ayah menyuruhku untuk meneruskan sekolah di Amerika. Dia menginginkan aku untuk meneruskan karirnya.”

Yejin mendongkak dan menatap Hanbin lirih, “Kapan kau ke sana?”

“Besok pagi. Aku akan pindah sekolah.”

Yejin membalikkan badannya, membelakangi Hanbin. Entah mengapa ada rasa yang mengganjal dalam hatinya. Tangan yang sangat dia kenal tiba-tiba melingkar di pinggangnya, memeluknya erat dari belakang.

Nuna, terima kasih telah menjadi kakak yang baik bagiku. Aku berjanji, suatu hari nanti, aku akan membawa pria idaman nuna. Pria yang mencintai nuna dengan sepenuh hatinya.”

Yejin memejamkan matanya. Entah mengapa, dia sangat ingin waktu berhenti berputar, dan terus berada dalam pelukan hangat Hanbin.

===

Tomorrow morning…

Jika boleh jujur, Minseok berterima kasih pada Tuhan karena membuat Sehun tidak banyak bicara hari ini. Namun, di sisi lain, Minseok khawatir karena dia yakin sepupunya itu pasti sedang ada masalah yang dipikirkan. Minseok kemudian teringat bahwa siang ini sepupunya tersebut akan kembali ke Kanada. Secara otomatis Minseok pun tahu masalah yang sedang dipikirkan oleh Sehun.

“Kau yakin akan kembali ke Kanada? Bagaimana dengan Hyemi? Bukankah kau bilang ingin memilikinya?”

Sehun menghela napas lalu menatap Minseok yang sedang duduk di hadapannya. “Bisakah kau tidak bertanya tentang hal itu?”

“Aku hanya penasaran dengan alasanmu. Tidak biasanya kau menyerah untuk mendapatkan apa yang kau inginkan.” Ujar Minseok yang dibalas oleh tatapan sinis Sehun. “Hey, jangan salahkan perkataanku. Kau memang belum berhasil mendapatkan Hyemi.”

“Asal kau tahu, aku sama sekali tidak menyerah. Kepergianku ke Kanada adalah salah satu cara untuk menjadikan dia milikku.”

Minseok menaikkan sebelah alisnya bingung. “Maksudmu?”

“Tidak ada salahnya ‘kan aku menaruh luka pada Hyemi sebelum aku mengobatinya?”

“Kau akan menggunakan metode ‘membuatnya stres dan jatuh di tanganmu’? Kupikir kau akan menggunakan cara lembut untuk mendapatkannya.”

“Yap. Lembut. Lembut ketika menyakitinya.”

“Demi Tuhan, Sehun. Kau tidak perlu menyakiti Hyemi.” Ujar Minseok kesal.

Sehun tersenyum sinis. “Setidaknya aku pun pernah disakiti olehnya.”

===

“Kau serius akan meninggalkan aku dengan saudara kembarmu yang menyebalkan ini?” Tanya Lucile lirih pada Hanbin sambil menunjuk Hyemi dan Taehyung yang juga hadir di bandara untuk mengantar kepergian Hanbin ke Amerika.

“Percayalah, nuna, mereka tidak akan merepotkanmu.”

“Yang benar saja. Mereka terlalu aktif. Mana mungkin mereka tidak akan merepotkan aku. Di antara kalian bertiga, kaulah yang paling jarang membuatku gila, Kim Hanbin.” Omel Lucile.

“Aigoo, kalau unnie tidak mau direpotkan oleh kami, mengapa unnie tidak ikut Hanbin ke Amerika saja, huh? Aku dan Taehyung bisa tinggal di sini tanpa unnie.”

Lucile memukul Hyemi pelan. “Kalian pikir kalian tinggal di apartemen siapa selama ini? Semudah itukah mengusirku?”

Hyemi terkekeh. “Kau benar.”

Hanbin tersenyum melihat hal itu, sedangkan Taehyung hanya terdiam. Semenjak kepergian Minda, lelaki itu benar-benar terpukul dan menjadi sosok yang pendiam. Bisa dibilang, pribadi Taehyung yang selalu ceria tanpa ada beban kini sudah terkubur dan digantikan oleh sosok Taehyung yang tidak banyak bicara dan kaku.

Tak lama, Hanbin menepuk bahu Taehyung dan menatap ketiga keluarganya itu dengan serius. “Jaga diri kalian baik-baik. Aku tahu masing-masing kita memiliki masalah yang berat. Ku harap masalah itu tidak menjadi penghalang bagi kalian untuk terus menjalani kehidupan. Percayalah, semua ini akan menemukan akhir yang terbaik.”

Lucile tersenyum. “Kau memiliki pola pikir yang lebih dewasa dariku, Hanbina. Kau juga jaga diri baik-baik di sana. Kami akan sangat merindukanmu.”

Hanbin mengangguk. Hyemi kemudian memeluk saudara kembarnya itu seraya meneteskan air mata. “Kita akan menemukan akhir yang terbaik. Aku percaya dengan kata-katamu.”

Hyemi melepaskan pelukannya sambil menghapus air mata. Taehyung hanya tersenyum tipis, lelaki itu belum mendapatkan kekuatan untuk berbicara. Hanbin pun pada akhirnya menghela napas, sudah saatnya dia pergi.

“Aku pergi dulu. Sampai jumpa beberapa tahun lagi.”


 

seperti kata Hanbin, sampai jumpa beberapa tahun lagi ahahaha #canda

Dan bagi siapapun yang membaca ini, aku ingin ngasih tau kalau kisah Lucile akan aku skip mulai chapter berikutnya, karena aku sadar terlalu banyak tokoh di sini, jadi aku akan fokus pada kisah tiga saudara kembar saja.

Dan bagi siapapun yang baca, tolong tinggalkan jejak, ‘kehadiran’ kalian di kolom komentar akan jadi pertimbangan buatku untuk melanjutkan ff ini atau tidak. Thank you ^^

Terakhir, maaf jika banyak typo.

4 thoughts on “Finding Love [Chapter – 4] Hurt

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s