My Nerd Boy – [Chapter 2]

my-nerd-boy

My Nerd Boy [Chapter 2]

 MeiKim

StoryLine by : Monica

Cast : Oh Sehun

Kim Monic (OC)

Other Cast: Shin Da Jung (OC), Kim Taehyung (BTS), Suho, Luhan, Baekhyun, Chanyeol, Kris, etc

Length: Chapter

Genre: Romance, Drama, School-life

Rating: PG-13

Poster by: Gitahwa @ ArtZone

Disclaimer: Ide cerita dan alur murni dari Monica dan Author Mei. RCL jusseyyo ^^ Don’t be a silent readers, don’t bash dan saling menghargai aja yaaa

Sehun POV

Setelah pertunangan tak terduga kemarin malam, aku semakin memperhatikan gadis cantik nan angkuh itu. Yap, sebenarnya aku sudah mengetahui tentang perjodohan ini sebulan yang lalu, sebelum akhirnya aku dipertemukan langsung dengan gadis itu dan keluarganya. Saat aku masih di Amerika, appa dan eomma-ku gencar sekali memberitahuku mengenai gadis itu. Anak gadis dari teman baik appa-ku. Aku sudah melihatnya dari foto-foto yang diberikan oleh eomma. Cantik, ya itu adalah kesan pertamaku. Setidaknya aku tidak akan menyesal dengan perjodohan ini, karena aku dijodohkan dengan gadis yang cantik.

Menolak perjodohan? Tidak. Itu tidak mungkin. Aku bukan seorang anak yang ssuka membantah kedua orangtuaku. Sebagaimanapun menyebalkannya, sebagaimanapun kekonyolan mereka, aku sangat menghormati mereka berdua. Mau tak mau akupun harus mengikuti rencana kedua orangtuaku ini. Aku tau, mereka melakukan ini untuk kebaikanku dan lagipula mereka tak mungkin asal memilih gadis untuk disandingkan bersamaku.

Setelah hari kemarin, aku mengetahui gadis itu, Monic. Gadis yang sangat angkuh dan dingin. Gadis populer disekolahku, banyak namja yang bertekuk lutut padanya, namun dia menyikapinya dengan baik dan tidak terlihat ia adalah gadis yang mudah ditaklukan. Itu yang membuatku semakin penasaran padanya, membuatku semakin ingin memilikinya seutuhnya. Setidaknya, cincin ini adalah pengikat. Aku memiliki andil dalam hal ini.

Aku berjalan menyusuri koridor yang menuju kelasku dengan membawa buku-buku tebal ditanganku. Ya, sudah kalian ketahui aku adalah si Nerd yang menyebalkan, begitulah yang dikatakan Monic. Aku tidak menyangkal, aku mengakuinya bahwa aku memang berpenampilan norak, dengan kaca mata besar, rambut coklatku yang sengaja kubelah tengah dan sedikit terlihat basah, dan juga kancing seragamku yang ku kancingkan hingga leher. Benar-benar terlihat seperti kutu buku yang norak. Well, aku merasa nyaman dengan penampilanku seperti ini. Karena dengan penampilan seperti ini, aku bisa mengetahui mana yang benar-benar tulus dan tidak. Aku tak perlu menunjukkan wajah tampan dan kekayaanku, jika itu hanya menunjukkan orang-orang yang palsu dihadapanku.

“Hei, Nerd. Hahahaha” aku menghentikan langkahku dan memalingkan wajahku dengan malas mencari sumber suara yang sangat familiar bagiku, suara bass yang dimiliki oleh namja yang tingginya hampir menyamaiku, Park Chanyeol

“Kau terlihat lucu berpenampilan seperti ini, Sehun” ucapnya kembali terkekeh ketika menatapku. Ia merangkulku sambil terus tertawa menertawai penampilanku. Aku cepat-cepat melepaskan rangkulan Chanyeol padaku membuatnya terdiam dan menatapku aneh

“Sudah kubilang bukan, jaga jarak.” Ucapku ketus. Ia mengerutkan dahinya menatapku “Memangnya apa yang salah? Kau ini kan sahabatku, anggota grup EXO juga” ucapnya. Terkadang rasanya kebiasaan pelupanya itu melebihi Lay sahabatku di China. Benar-benar membuatku ingin memukulnya sekarang juga.

Yap.. aku adalah salah satu anggota grup EXO. Grup yang terkenal dengan para namja yang tampan dan juga memiliki harta kekayaan yang melimpah. Yang beranggotakan 5orang. Suho, Baekhyun, Kris, Chanyeol dan tentu saja aku. Orang-orang hanya mengetahui bahwa grup EXO memiliki 4 orang anggota saja, tidak ada yang tahu jika aku adalah salah satunya, itu sengaja aku tutupi karena aku yang menginginkannya. Itulah alasan kenapa saat aku bertabrakan hari kemarin dengan Monic, Baekhyun hanya menatapku dan berlalu begitu saja. Alasan kenapa Chanyeol dan Suho diam tak berkutik saat aku tak sengaja menumpahkan minuman pada seragam Monic.

“Bodoh!” gerutuku. Ia kembali menatapku dengan tatapan terkejut ketika kata itu baru saja meluncur dengan mulusnya dari bibirku “Kau mengataiku bodoh Oh Sehun?!” aku menghela nafasku kasar dan menatapnya dengan malas

“Kau tidak lihat bagaimana penampilanku sekarang? Itu artinya kau harus menjaga jarak denganku. Kau, Suho, Baekhyun dan Kris. Tidak ada namja populer berdekatan dengan namja kutu buku seperti ku. Yang lain saja mengingat ini, kenapa kau tidak mengingatnya? Pabboya!” gerutuku

“Lagipula kenapa juga sih kau berpenampilan seperti ini? Apa kau sudah bosan dikelilingi gadis-gadis cantik, huh?”

“Hidup dengan identitas yang berbeda adalah mekanisme pertahanan hidup di dunia yang sulit ini.”

“Kata-katamu terlalu sulit untuk dimengerti, Oh Sehun. Apa kau tidak lihat? Disini banyak sekali gadis cantik, dan kau juga bisa sangat populer seperti dulu. Ah kau mulai tidak asik, Sehun”

“Terserah padamu, Chanyeol. Kau masih saja tidak berubah, tapi mana hasilnya? Kau masih saja tidak mempunyai yeojachingu

“Hey! Kau lihat saja nanti, tau-tau aku sudah membawa yeoja cantik dan kau pasti iri”

“Aku tidak mungkin iri padamu, karena aku juga sudah memiliki targetku sendiri”

Jinjja? Si nerd ini punya target? Kuyakin yeoja itu tidak mau denganmu hahaha”

“Kita lihat saja, Park Chanyeol” dengusku. Dia masih saja tertawa terpingkal-pingkal menertawaiku, rasanya ingin mencekiknya saat ini juga.

“Sehun!” tiba-tiba aku mendengar suara seseorang menyerukan namaku, aku segera mencari sumber suara itu, dan ya.. itu adalah yeoja teman sekelasku yang bernama Da Jung itu. Ia berlari menghampiriku dan kini sudah berada dihadapanku, dan tepat saat itu juga Chanyeol yang sedari tadi tertawa terpingkal-pingkal, kini diam membisu layaknya batu.

“Ah.. annyeong Chanyeol-ssi” ucap DaJung membungkuk memberi salam pada Chanyeol, dan dibalas dengan Chanyeol yang sepertinya bertingkah gugup. Gotcha! Aku tau sekarang kenapa Chanyeol tiba-tiba menjadi seperti ini, nampaknya gadis yang dimaksudnya itu adalah gadis yang sedang bersama kami sekarang.

“Ada apa?” tanyaku pada Da Jung.

“Ini, Jo seonsangnim menitipkan berkas ini padaku, ia memintaku memberikannya padamu” jelas DaJung, aku segera mengambil berkas-berkas itu dan mengucapkan terimakasih. Setelah itu ia segera berlalu meninggalkanku dan Chanyeol. Tatapanku beralih menatap Chanyeol yang masih memperhatikan punggung Da Jung yang sudah berlalu menjauh dari tempatku berdiri bersama Chanyeol

“Jadi itu gadis incaranmu?” ucapku terkekeh. Ia segera menatapku terkejut dan terlihat salah tingkah saat ini “Ti..tidak! tentu saja bukan! Kau sok tau, Sehun!” sangkalnya. Aku hanya terkekeh melihat tingkah sahabatku ini.

“Kau mungkin bisa berbohong pada siapapun, tapi tidak denganku, bodoh! Semuanya jelas dengan tingkahmu tadi”

“Ah! Sudahlah, tidak usah membahasnya. Lebih baik aku pergi. Bukankah namja populer sepertiku tidak pantas berbincang dengan namja kutu buku seperti mu? Hahaha” ucapnya segera berlalu meninggalkanku “Aishh.. jinjja

Aku segera berjalan menuju kelasku, sesampainya disana aku melihat Monic sedang berbincang dengan seorang namja. Kuperhatikan, namja itu mirip sekali dengan Baekhyun. Apa mereka mempunyai hubungan darah? Kenapa begitu mirip? Bahkan Baekhyun tidak memiliki adik atau kakak laki-laki. ‘ingatkan aku untuk menanyakan pada Baekhyun nanti, barangkali dulu ia memiliki saudara yang menghilang diculik orang dan sekarang saudara yang hilang telah ditemukan’

Aku segera duduk dibangkuku yang berada dibelakang kursi Monic. Aku kembali memperhatikan kedua orang yang sedang berbincang dihadapanku. Sepertinya terlihat akrab, walaupun sesekali aku mendengar Monic melenguh kesal pada namja dihadapannya itu, namja kembaran Baekhyun barangkali. Dan sepertinya juga, namja itu menyukai Monic, ck.. maaf teman, Monic sudah menjadi milikku, kau tak akan memiliki kesempatan untuk merebut Monic dariku.

“Hey, Nerd! Kenapa kau terus menatapku, huh?” aku tersadar dari lamunanku. Aku tak menyadari jika sedari tadi aku menatap mereka dan sekarang kembaran Baekhyun yang aku tak tahu siapa namanya itu menyadari bahwa aku memperhatikan mereka. Aku memilih untuk menundukan kepalaku, jika saja aku sedang tidak menjadi ‘si Nerd’ yang dia katakan, mungkin sudah kuhajar dia saat ini juga.

“Biarkan dia, Taehyung. Dia memang si Nerd yang aneh. Hiraukan saja dia” aku mendengar ucapan itu, dan suaranya juga aku seperti mengenalnya. Aku mengangkat kepalaku dan melihat pada sumber suara itu, yap suara Monic. Ia menatapku dan tersenyum menaikan sebelah sudut bibirnya, seperti memandangku dengan tatapan jijik, lalu beralih membuang padaku. Mungkin sekarang kau seperti ini padaku, meremehkanku, lihat saja nanti, semua akan berbalik 180 derajat, kau akan mencintaiku.. batinku.

Sehun POV End

Author POV

Hari ini berlangsung seperti biasanya, tak ada yang berbeda, hanya satu, setiap saat Monic menatap wajah Sehun, rasa benci semakin bertambah, ia sangat membenci Sehun melebihi apapun. Entah apa yang membuatnya sangat membenci Sehun, mungkin karena pertemuan pertama yang tidak baik, dan lalu perjodohan yang berujung pertunangan, dan yang lebih membuatnya benci pada Sehun adalah karena dia paling tidak menyukai namjaNerd’.

Saat ini adalah jam istirahat, Monic sedang berjalan menyusuri koridor, entah menuju kemana, ia tak merasa lapar jadi ia tak pergi bersama DaJung sahabatnya ke kantin. Moodnya masih tidak baik, setiap kali mengingat kejadian kemarin, ia selalu merasa frustasi sendiri, ia ingin perjodohan itu dibatalkan.

YAA!” tiba-tiba seseorang memanggilnya dengan nada sedikit tinggi, suara yang selalu membuatnya jengah, membuatnya ingin sekali mencekik pemilik suara itu. Ia menengadahkan kepalanya, menatap seseorang yang berteriak padanya, Minah. Orang kedua yang paling dibencinya setelah Sehun. Dulu hanya Minah lah yang dibencinya, sekarang ada yang menggesernya, yaitu si Nerd, Sehun. Monic menatap Minah dengan tatapan dingin, ia memutar kedua bola matanya malas.

Yaa! wanita penggoda! Sudah kubilang jangan mendekati Kris ku lagi! Apa kau tidak pernah mendengarku, huh?!” ucap Minah sambil mendorong bahu Monic. Monic menghela nafasnya kasar dan menatap Minah dengan tatapan tajam, ia menyunggikan sebelah sudut bibirnya. “Apa kau tidak lelah mengejar dan terus berharap cintamu terbalas oleh Kris?” Monic tersenyum kecut “Aku kasihan padamu, Minah” ucapan Monic itu berhasil membuat Minah kesal.

“Kau bilang apa tadi?! kasihan?” ucap Minah mulai emosi

“Ya, aku kasihan padamu, Minah. Mengejar laki-laki yang nyatanya hanya menginginkan aku” ucap Monic meremehkan Minah. Minah mendecak kesal, ia mengepalkan tangannya dan menatap Monic dengan tajam.

“Kau!” ucap Minah kini menarik kerah baju Monic, membuat pemiliknya semakin tersenyum meremehkan pada Minah

“Hey, hey, hey. Kau sedang berbuat apa, manis?” ucap seseorang yang menghampiri mereka dan segera menepis tangan Minah yang tadi menarik kerah Monic

“Cih.. kini bantuanmu datang” ucap Minah mendecak kesal dan menatap namja yang membela Monic dengan tatapan kesal. “Sekali lagi kau menyentuhnya, kau berurusan denganku, Bang Minah”. Minah segera pergi meninggalkan Monic dengan sangat emosi, jika saja tadi tidak ada namja sok pahlawan itu, mungkin ia bisa saja melampiasakan emosinya pada Monic

“Kau selalu ikut campur, Taehyung” desis Monic

“Aku hanya tak suka gadis menyebalkan itu mengganggumu” ucap Taehyung.

“Tapi aku bisa mengurus masalahku sendiri. Kau tidak perlu ikut campur” Monic menghela nafasnya kasar dan segera meninggalkan Taehyung. “Hey! Kau mau kemana?!” ucap Taehyung mengejar Monic yang sudah berlalu meninggalkannya dan mengikuti Monic yang entah hendak pergi kemana.

“Hey, kau tahu tidak aktor China yang bernama Luhan itu? dia membintangi film baru. Dan filmnya rilis kemarin. Apa kau sudah menonton?” tiba-tiba saja langkah Monic terhenti ketika ia mendengar seorang gadis yang sedang berbicara heboh dengan temannya

Jinjja? Aku harus menontonnya hari ini juga!” timpal teman gadis itu

“Ah dia sangat tampan! Dan kudengar jika dulu juga dia pernah bersekolah disini”

“Benarkah? Whaa~ daebak! Aku tak menyangka aktor dan penyanyi terkenal sepertinya pernah bersekolah disini”

Monic menghela nafasnya berat, perasaannya kembali berkecamuk. Taehyung yang ada disampingnya, melihat wajah Monic dengan tatapan kebingungan. Monic kembali berjalan hingga mereka tiba di taman belakang sekolah dan duduk dibawah pohon.

“Kau sedang ada masalah ya? Apa kau ingin menceritakannya padaku? Aku akan mendengarkannya” ucap Taehyung memecah keheningan. Monic yang mendengarnya segera menatap Taehyung dengan tatapan tidak suka

“Kau tau kan aku tidak suka ada yang ikut campur dalam masalahku?” ucap Monic kesal

“Aku tau.” Ucap Taehyung ringan. “Aku tau kau tidak pernah suka siapapun mengetahui masalahmu. Aku tau kau adalah orang yang selalu memendam masalahmu. Selalu berusaha tegar dan kuat dengan masalah yang kau hadapi. Dan aku juga tau jika saat ini kau..”

“Kau terlalu banyak tau, Taehyung” ucap Monic memotong pembicaraan Taehyung

“Ya, aku memang tau banyak tentang kau” ucap Taehyung

“Bahkan aku lebih mengetahui kau dibandingkan kau sendiri” sambung Taehyung

“Sudahlah aku sedang ingin sendiri, Taehyung” dengus Monic, segera melipat tangannya di depan dadanya dan memejamkan matanya.

“Jika kau berbicara seperti itu, itu artinya kau membutuhkan seseorang saat ini” ucap Taehyung.

“Tidak” ucap Monic menyangkal

“Aku tau, ini menyangkut Luhan bukan?” ucap Taehyung penuh selidik. Seketika Monic membuka matanya karena terkejut dengan ucapan Taehyung, ia merasa seperti Taehyung bisa menebak isi hatinya. Ya, memang benar, apalagi yang dapat membuatnya muram dan sedih selain memikirkan Luhan.

“Kau makhluk sok tahu yang pernah kukenal” dengus Monic

“Bukan sok tau, tapi aku memang tau” ucap Taehyung

“Bukan maksudku mencampuri urusanmu. Setidaknya, jika dengan berbagi dapat membuatmu merasa tenang, aku akan mendengarnya, hanya mendengar, tanpa perlu berbicara jika kau mau” sambung Taehyung

“Sudahlah! Aku sedang tidak ingin diganggu” dengus Monic

“Untuk seseorang, itu adalah cinta. Untuk seseorang, itu adalah luka. Untuk orang lain, itu adalah kenangan lama.” Ucap Taehyung. Monic mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Taehyung saat ini

“Kau ini bicara apa, bodoh!” gerutu Monic

“Kau dan Luhan” jawaban singkat yang meluncur dari bibir Taehyung yang berhasil menyayat hati seorang Ice Princess, Monic. Membuat ia tak henti-hentinya memikirkan mantan kekasih di masa lalunya, Luhan.

“Kenapa kau terus saja menyebut-nyebut nama itu, Taehyung!” dengus Monic

“Karena nama itulah yang sedang kau pikirkan” ucap Taehyung cepat. Monic kini beralih menatap wajah Taehyung dengan tatapan yang sulit diartikan. Baginya, Taehyung terlalu banyak tau mengenai dirinya, hingga yang ada dipikirannya sajapun, Taehyung mengetahuinya.

“Kau mungkin bisa membohongi dirimu sendiri. Tapi tidak padaku. Semuanya jelas terlihat pada matamu. Kau menyimpan sesuatu, sesuatu yang sudah kau pendam lama. Aku mengetahuinya sejak lama. Kau merindukan Luhan, merindukan mantan kekasihmu yang sudah lama meninggalkanmu. Menaruh harapan yang kau sendiri tak akan sanggup terus menaruhnya” ucap Taehyung kini menatap Monic dengan tatapan yang dalam dan hangat. Pria yang sangat menyebalkan bagi Monic, tapi terkadang pria inilah yang memang benar-benar mengetahui isi hati Monic, sebisa apapun Monic menutupinya, Taehyung pasti mengetahuinya.

“Berhenti menjadi sasaeng fasnku, kau terlihat menyeramkan, Taehyung” ucap Monic mengalihkan pembicaraan. Taehyung menghela nafasnya kesal

TUKK

Sentilan mendarat dikening Monic, membuat pemiliknya terkejut dan sepersekian detik kemudian meringis kesakitan. “YAA!” dengus Monic, ia mengelus-elus keningnya yang sakit ulah kelakuan konyol, Taehyung. “Kau memang cantik, membuat namja manapun menggilaimu, termasuk aku. Tapi ternyata kau sangat bodoh” ucap Taehyung

“Kau bilang aku apa?! Bodoh?!” gerutu Monic. Taehyung mengangguk dan kembali memperjelas ucapannya “Ya, kau bodoh!” ucap Taehyung

“Aku tidak bodoh! Beraninya kau mengatakan aku bodoh!” gerutu Monic

“Tapi kau memang bodoh” ucap Taehyung ringan, membuat Monic terus mengumpat dan memukuli lengan Taehyung berkali-kali. Hal itu membuat Taehyung tertawa geli karena tingkah Monic yang menurutnya selalu berubah-ubah tak bisa ditebak. Kadang bertingkah sedingin es, kadang bertingkah semaunya seperti tak memiliki hati, kadang bertingkah sangat manis dan kini bertingkah layaknya anak kecil.

“Apa yang membuatmu tertawa, huh?! Apa ada yang lucu?!” dengus Monic kesal

“Ya, bagiku kau lucu dan menggemaskan” ucap Taehyung sambil mencubit kedua pipi milik Monic dengan gemasnya

“Aishh.. kau benar-benar menggangguku, Taehyung! Sudah! Aku ingin kekelas” ucap Monic beranjak dari duduknya dan segera berlalu meninggalkan Taehyung yang masih tertawa geli menertawakan tingkah Monic yang menurutnya menggemaskan itu.

Setibanya dikelas, ia segera menuju bangkunya, tatapannya tak sengaja menangkap sosok Sehun yang sedang tak sengaja melihatnya juga. Monic mendumal tak karuan dan memutar kedua bola matanya malas, lalu segera duduk dibangkunya.

Tak lama sahabatnya Da Jung juga memasuki kelas dan berhamburan menghampiri Monic. “Monic!” ucap DaJung yang melihat Monic merebahkan kepalanya diatas meja tanpa memperdulikannya. “Yaa!” ucap DaJung lagi kini menggoyang-goyangkan tubuh Monic yang berhasil membuat Monic mengangkat kepalanya dan menatap DaJung dengan malas. Ia menatap DaJung dengan tatapan seperti bertanya ‘apa’

“Kau tau tidak jika film terbaru Luhan oppa dirilis kemarin?” ucap DaJung heboh. Monic yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas dengan berat dan segera mengalihkan tatapannya dari DaJung. “Aku sudah tau” jawab Monic singkat

“Kau sudah menontonnya?” tanya DaJung. Namun Monic hanya terdiam tak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Ia kembali menghela nafasnya berat tanpa memperdulikan Da Jung. DaJung seperti menyadari mood sahabatnya ini, ia merasa bersalah telah membahas Luhan lagi dihadapan Monic

Mian.. aku sudah mengingatkanmu lagi padanya. Aku lupa” ucap DaJung menyesali ucapannya

Tanpa disadari, namja yang duduk dibelakangnya mendengar percakapan mereka. Ia mengerutkan dahinya, menerka-nerka apa dan siapa yang sedang dua gadis didepannya ini bicarakan. Luhan? Siapa lagi namja itu? apa hubungannya dengan Monic? Akan kuingat nama itu baik-baik. Aku harus mengetahui siapa namja itu.. batin Sehun.

Pelajaran-pelajaran pun berlalu, akhirnya bel pulang sekolahpun berbunyi. Membuat para murid riuh dan segera bersiap-siap untuk pulang. Sehun menatap dua gadis yang duduk di depan bangkunya sudah berlalu pergi keluar kelas.

Monic dan DaJung berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Yap, kali ini Kim Bum tak bisa lagi menjemput adiknya, Monic, sehingga Monic terpaksa akan pulang menggunakan bus. Sebenarnya ia bisa saja meminta diantarkan pulang pada Kris, Suho, Baekhyun atau bahkan Taehyung, tapi ia tak mau mengambil resiko jika saat tiba dirumahnya, akan ada Kim Tan yang sudah bersiap untuk mengamuk padanya. Monic menghela nafasnya berat menyusuri tiap langkah kakinya

“Hey! Adik ipar!” tiba-tiba saja terdengar suara seorang namja sedikit berteriak. Monic dan DaJung yang merasa aneh dengan teriakan orang itu, dengan refleks melihat ke arah sumber suara itu.

“Hey!” teriak namja itu lagi sambil melambaikan tangannya ke arah Monic. DaJung yang terlihat kebingungan, ia menatap Monic dan namja yang tak dikenalinya itu secara bergantian. Monic mengehala nafasnya kesal. Apa lagi kesialan hari ini?!.. batin Monic.

“Hey, adik ipar!” ucap namja itu kini menghampiri dan segera merangkul Monic dengan akrab, membuat DaJung kembali kebingungan

“Woobin oppa? Sedang apa oppa disini?” tanya Monic

“Tentu saja bertemu dengan adik iparku yang cantik ini” ucap Woobin sambil mengedipkan matanya menggoda Monic

Oppa jangan memanggilku seperti itu” ucap Monic sedikit berbisik

“Hahaha arrasseo. Kajja, kita pulang bersama, aku ingin mengajakmu dan Se—“

“Aku akan menyusul!” ucap Monic memotong pembicaraan Woobin

Oke! Aku tunggu dimobil” ucap Woobin dan segera berlalu meninggalkan Monic. DaJung yang mendengar beberapa kali Monic dipanggil dengan sebutan ‘adik ipar’ kini menatap Monic dengan death glare-nya

“Kau berhutang cerita padaku!” dengus DaJung

“Aishh.. arra.. arra! Nanti akan kuceritakan. Aku harus pergi, Jungie. Annyeong!” ucap Monic melambaikan tangannya pada sahabatnya itu dan segera berlalu menyusul Woobin menuju mobilnya

“Monic, kenalkan ini Sica, tunanganku” ucap Woobin memperkenalkan tunangannya yang ternyata turut dibawanya juga.

Annyeong, eonnie” ucap Monic menyapa Jessica.

“Jadi ini tunangan Sehun? Ah kau cantik sekali, Monic” puji Jessica, Monic hanya tersipu malu mendengar ucapan Jessica, calon kakak iparnya juga. Tiba-tiba seseorang membuka pintu belakang mobil, tepat dimana Monic duduk.

Hyung! Kan sudah kubilang ja—“ ucapan Sehun terhenti ketika melihat ada seorang yeoja yang duduk dibangku belakang, dan yeoja itu adalah Monic. Monic yang melihat Sehun hanya menghela nafasnya kasar dan mengalihkan tatapannya dari Sehun dengan malas. Sehun segera memasuki mobil dan mau tak mau mereka duduk bersebelahan.

Selama perjalanan, keadaan benar-benar hening. Hanya terdengar perbincangan ringan Jessica dan Woobin saja, sedangkan Monic dan Sehun hanya saling diam dan saling duduk berjauh-jauhan, seperti anak kecil yang sedang bermusuhan hanya karena memperebutkan sebuah permen. Tak lama mereka sampai di sebuah Mall, mereka berempat segera turun dari mobil dan berjalan memasuki mall. Monic terus menjaga jarak dari Sehun, ia tak pernah mau jalan sejajar ataupun berdekatan dengan Sehun. Baginya, Sehun itu sudah seperti virus yang sangat menjijikan baginya.

“Eiy, kenapa kalian jalan berjauh-jauhan? Seperti sedang bermusuhan saja” ucap Jessica. Monic dan Sehun hanya saling menatap dan sepersekian detik saling mengalihkan tatapannya lagi.

Hyung, noona. Sebenarnya untuk apa kalian membawa kami kemari?” ucap Sehun mulai kesal

“Tentu saja untuk berkencan” ucap Jessica tersenyum pada Monic dan Sehun

“Dan memperkenalkan calon istrimu pada tunanganku” sambung Woobin

“Hey, adik ipar. Kenapa kau diam saja?” tanya Woobin pada Monic

Oppa, bisakah kau tak memanggilku dengan sebutan itu?” gerutu Monic. Woobin yang mendengarnya hanya terkekeh karena tingkah Monic

“Tapi aku suka memanggilmu seperti itu, adik ipar” goda Woobin

Oppaaaa!” lenguh Monic kesal

Arrasseo, arrasseo” ucap Woobin mengacak rambut Monic, hal yang sangat dibenci Monic, ia tak menyukai siapapun mengacak rambutnya seperti itu. Ia terus mengumpat dalam dirinya karena tingkah Woobin yang menurutnya menjengkelkan itu.

“Jadi, apa rencana kita sekarang?” ucap Woobin pada Jessica

“Bagaimana jika kita menonton? Ada film yang ingin sekali ku tonton.” Ucap Jessica. Woobin mengangguk tanda menyetujui usul Jessica, lalu mereka berempat segera menuju lantai paling atas untuk menuju bioskop.

“Kau mau menonton apa?” tanya Woobin

“Itu, film ini sangat banyak dibicarakan orang-orang. Dan aktornya pun tampan” ucap Jessica menunjuk sebuah poster berukuran besar.

“Jadi sekarang ada yang lebih tampan dariku di matamu?” dengus Woobin. Jessica yang mendengarnya hanya tertawa geli melihat kelakuan tunangannya itu.

Sedangkan Monic hanya terdiam dan menatap poster itu. Ya, poster yang menampakan foto Luhan, mantan kekasihnya. Sehun yang melihat Monic terus menatap poster itu hanya bisa mengerutkan dahinya, bertanya-tanya pada dirinya, kenapa raut wajah Monic kini berbeda.

Setelah membeli tiket, mereka berempat segera memasuki ruang theatre dan segera duduk di tempat duduk mereka. Monic memilih duduk di paling ujung, yang duduk disampingnya adalah Sehun, disamping Sehun ada Jessica dan Woobin duduk disamping Jessica. Film pun diputar, mereka segera menikmati dan fokus pada film yang sedang diputar. Adegan-adegan Luhan pun mulai terpampang jelas di film yang sedang diputar. Kini rasanya Monic merasakan dadanya begitu sesak, ia kembali berkecamuk dengan perasaannya. Matanya mulai memanas, ingin sekali rasanya ia menangis karena tak tahan menahan rasa rindu pada mantan kekasihnya itu.

Sudah hampir setengah jam film itu diputar, Monic tak benar-benar mengikuti alur ceritanya, ia hanya terus memperhatikan sosok Luhan di film itu, sosok yang sangat dicintainya di masa lalu, sosok yang sangat penting dihidupnya, sosok yang meninggalkannya 2 tahun lalu, dan sosok yang sangat dirindukannya selama ini. Tak terasa air matapun jatuh membasahi pipi Monic, ia membiarkannya begitu saja, karena ia berpikir ini adalah ruangan yang gelap, jadi tidak akan ada yang tau jika saat ini ia sedang menangis.

Namun, pemikirannya salah. Ia salah jika tidak akan ada yang memperhatikannya. Nyatanya, sedari tadi ada yang tak sengaja memperhatikannya. Ya, Sehun memperhatikannya. Memperhatikan Monic yang sedari tadi terfokus pada film yang ditontonnya sehingga popcorn yang digenggamnya tak disentuh sama sekali karena saking terfokusnya melihat film yang sedang diputar. Sehun kembali kebingungan ketika melihat air mata menetes begitu saja dari mata indah milik Monic, Sehun mengalihkan pandangannya pada layar, tak ada adegan menyedihkan, film ini cenderung film romantis dan sedikit ada komedi, tapi kenapa Monic bisa menangis? Itulah pertanyaan yang terus berputar di kepala Sehun.

Tak lama film pun berakhir, ia baru tersadar jika aktor di film itu bernama Luhan, nama yang sama yang didengarnya tadi saat dikelas, nama yang diperbincangkan Monic dan Dajung saat dikelas. Ia menganggukan kepalanya tanda mulai mengerti apa yang sedari tadi tidak dimengertinya.

Dia menangis karena Luhan ini? Memangnya mereka ada hubungan apa? Sehingga gadis angkuh sepertinya ini bisa menangis hanya karena si Luhan itu.. batin Sehun.

Setelah selesai menonton film, mereka berempat segera makan malam dan pulang mengantarkan Monic. Setibanya dirumah, Monic segera masuk ke dalam rumahnya ketika sudah melihat mobil Audi hitam milik Woobin melaju meninggalkan kediaman rumah keluarga Kim.

“Seharusnya pelajar sepertimu sudah pulang sejak tadi, kenapa kau baru pulang jam segini? Dari mana saja kau?” ucap Tan menyerbu pertanyaan pada adiknya itu. Monic menghela nafasnya kesal karena ia baru saja tiba dirumahnya dan harus mendengar oppa-nya yang menurutnya sangat cerewet dan berlebihan itu

“Kau pasti baru berkencan yaa?” kini giliran Bum menggoda adik kecilnya itu

“Apa kalian tidak ada pekerjaan lain selain mewawancaraiku seperti ini?” ucap Monic kesal dan beranjak pergi meninggalkan kedua kakaknya itu, namun Tan menghalangi jalan Monic

“Apa kau sudah menjawab pertanyaanku hingga berlalu begitu saja?” ucap Tan

Oppa, aku lelah ingin istirahat” ucap Monic

“Jawab pertanyaanku dulu, baru kau bisa masuk ke kamarmu” ucap Tan kini menatap wajah adiknya dengan tatapan mematikan, membuat nyali Monic menciut

“Apa oppa tidak mengenali mobil itu, huh? Biasanya oppa sangat tau siapa pemilik mobil yang selalu mengantarku pulang” gerutu Monic

“Kali ini aku baru melihatnya” jawab Tan singkat

“Aku tadi pergi bersama Woobin oppa dan tunangannya Sica eonnie” jelasku

“Bersama Sehun juga?” tanya Bum

“Menurutmu?!” ucap Monic sedikit menekan. Membuat Bum terkekeh geli

“Benarkah?” tanya Tan

“Jika oppa tidak percaya, hubungi saja Woobin oppa. Jika nanti oppa menghubunginya, tolong katakan padanya, berhenti memanggilku dengan sebutan ‘adik ipar’ terus.” Gerutu Monic. perkataan itu membuat Bum kembali tertawa terpingkal-pingkal, mengingat adiknya kini sudah bertunangan dengan anak ketiga dari keluarga Oh.

“Berhenti tertawa, Kim Bum oppa!” dengus Monic

“Jika kau pergi bersama Sehun, aku tak melarangnya. Bagaimanapun juga itu hal bagus untukmu agar saling mengenal dengan calon suamimu” ucap Tan

“Calon suami? NO oppa! Aku tidak mau menjadi istrinya. Tidak akan pernah! Gadis populer sepertiku harus menikah dengan namja ‘Nerd’ sepertinya? No way!” ucap Monic kesal

“Kenapa rasanya kau itu sangat membenci Sehun?” tanya Bum

“Tentu saja aku membencinya. Sangat membencinya, oppa. Ingat itu! aku membenci namja ‘Nerd’ sepertinya! Ia membuat hidupku sial. Aku benar-benar membencinya” ucap Monic

“Benci dan cinta itu seperti dua sisi dari uang koin” ucap Tan tiba-tiba membuat kedua adiknya menatapnya dengan wajah kebingungan. “Ketika kau melempar koin itu, kau tak tau yang mana yang akan kau lihat terlebih dahulu” sambung Tan

Oppa ini bicara apasih. Rumit sekali” dengus Monic

“Saat kau memutuskan membenci seseorang, kau harus bersiap jika suatu hari kenyataannya akan berubah 180 derajat. Bisa saja orang yang sangat kau benci itu adalah orang yang akhirnya kau cintai, bahkan kau mungkin saja akan berkorban sangat banyak untuk kebaikannya. Karena pada dasarnya, manusia tak akan tahu takdir apa yang harus diterimanya.” Ucap Tan. Membuat Monic dan Bum kembali menatapnya dengan tatapan kebingungan. Terkadang kakak tertuanya ini berbicara seperti orang yang sudah hidup beribu-ribu tahun saja, terkesan sangat tua dan sedikit bijak memang.

“Dan apa yang oppa katakan barusan itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah ada suatu hari yang merubah kenyataan 180 derajat. NEVER!” ucap Monic dan segera berlalu meninggalkan kedua kakaknya itu.

Monic memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya keatas ranjang empuknya. Ia menatap atap kamarnya dengan tatapan kosong dan pikiran yang kacau seperti benang kusut. Tiba-tiba saja ia tersadarkan oleh dering ponsel. Ia segera bangkit dan merogoh ponselnya dari dalam tasnya. Ia melihat Id caller pada ponselnya, nomor yang tak dikenalinya. Ia berpikir-pikir untuk mengangkat atau membiarkan panggilan masuk itu. Namun, ia memilih untuk mengangkat panggilan masuk itu.

Yeoboseyo?” ucap Monic. Namun tak ada sahutan dari sebrang sana yang entah dimana.

Yeoboseyo?” ucap Monic lagi. Ia melihat layar ponselnya, mencurigai bahwa panggilannya terputus sehingga tidak ada jawaban, namun itu masih tersambung, tapi hanya hening, tak ada jawaban sama sekali.

Yeoboseyo? Siapa ini? Kau bisa mendengarku? Yeoboseyo?” ucap Monic lagi

PIP

Tiba-tiba saja panggilan itu terputus. Seseorang yang tak diketahui siapa telah mematikan panggilannya. Monic menatap layar ponselnya, ia mengerutkan dahinya dan mengangkat kedua bahunya, lalu melempar ponselnya ke ranjangnya. Ia memilih untuk mandi dan mengganti pakaiannya.

Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, ia segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia mengambil ponselnya untuk mengatur alarm nya, saat melihat layar ponselnya, ia melihat ada pesan masuk, sepertinya dari nomor yang sama dengan nomor yang tadi menghubunginya.

From: +010-872xxxx

Senang mendengar suaramu

Monic kembali mengerutkan dahinya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri siapa yang menghubungi dan mengirimkan pesan aneh ini padanya. Pasalnya, tak banyak yang mengetahui nomor ponselnya, selain orang-orang terdekatnya, dan tidak mungkin ada yang mendapatkan nomor ponselnya dengan begitu mudahnya.

“Aneh. Siapa sebenarnya orang jahil ini?” gerutu Monic

To be continued..

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s