[Multichapter] 1,2,3 (Hana, Dul, Set) [Chapter 2]

123

1,2,3 (Hana, Dul, Set)

Luhana120

| Oh Sehun (EXO), Kim Taehyung (BTS), Yook Sungjae (BTOB), Byun Hana (OC) |

| Romance, Comedy, School Life |
| Teen |

| Sorry for typos and mainstream idea |

| Chapter 2 |

| 1 |

.

“A girl with two stunning eyes, among three boys.”

.

“Apa? Oh, ternyata kau, Sehun. Maaf, aku tak melihatmu, aku buru-buru.”

“Tak apa, aku juga salah tak menghindar darimu.”

“Kalau begitu, aku kembali ke kelas,”

“Tunggu! Aku—aku ingin m-membicarakan sesuatu… denganmu.”

“Apa?”

“Bisakah kau datang ke rumahku besok setelah pulang sekolah?”

“Ada apa?”

“Hanya masalah… Masalah kelas,”

“Oh iya, aku lupa jika kau adalah wakil ketua kelas. Baiklah, aku akan datang.”

Thanks.

You’re welcome, dude.

Hana menepuk pundak Sehun pelan, kemudian meninggalkannya mematung di koridor sekolah. Tubuhnya membeku, tak bisa bergerak sesenti pun.

Kendalikan dirimu, Sehun. Dia hanya menepuk pundakmu, jangan biarkan dia menang lagi.

Sehun segera sadar dari lamunannya, kemudian kembali ke kelas, karena ia lupa apa yang akan dilakukannya setelah Hana menyentuh pundaknya.

“YA! KIM TAEHYUNG! MATI SAJA KAU!!”

“Ya! Ya! Ya! Ini bukan salahku!!”

“KAU MENYEBALKAN, KIM TAEHYUNG!!!”

Park Saem telah keluar. Lembar jawaban telah di bagikan. Dan hasilnya, Taehyung mendapat nilai sempurna, sedangkan Hana mendapat nilai tepat di bawah Taehyung, tentunya karena soal nomor 30.

“KAU. HARUS. MATI. KIM. TAE. HYUNG!!!”

“Sudah kubilang ini bukan salahku, bocah!”

“Ini karena nyanyianmu bodoh!”

“Telingamu yang terlalu tajam!”

“Terserah kau akan mengelak apa lagi, Tae. Intinya, aku benci padamu. Titik.”

Hana kembali ke tempat duduknya dengan emosi yang meluap. Dia gadis yang sangat ambisius. Ia mempunyai ambisi yang sangat tinggi. Ia akan menempuh cara apapun untuk meraih keinginannya. Dan jika keinginan itu tak terpenuhi, emosinya akan meluap. Sungguh mengerikan.

Emosi gadis itu mendidih. Ia sangat marah sekarang. Mungkin sebentar lagi Taehyung akan tinggal nama.

-|||-

Waktunya pulang.

“Hana-a!”

Hana mengenal suara itu. Itu suara Kim Taehyung. Gadis itu pura-pura tak mendengar karena ia masih kesal dengan Taehyung. Hana tetap berjalan.

“Hei, berhentilah!”

Taehyung mengejar Hana yang masih marah padanya. Berlari, dan menarik tangan Hana hingga gadis itu berbalik.

“Apa?”

“Kau tuli, hah? Aku memanggilmu dari tadi.”

“Lalu?”

“Er, lupakan. Kau memang menyebalkan. Kau masih marah padaku?”

“Menurutmu?”

“Em, tidak.”

“Pergi dariku.”

“Tunggu! Tunggu! Aku hanya bercanda. Em, sebagai permintaan maafku atas lagu sialan itu… kau mau es krim?”

“Ti—“

“Kalau begitu ayo!”

Tanpa menerima tolakan dari Hana, Taehyung menyeret gadis itu ke sebuah toko yang menjual es krim. Membelikannya es krim cokelat, favorit gadis itu.

Ahjumma, aku beli es krim coklat dua, ini uangnya.”

“Ya, terima kasih.”

Taehyung tersenyum sekilas kemudian meninggalkan toko itu. Lelaki itu mengajak Hana yang sedari tadi tangannya terpaut dengannya duduk di bawah pohon yang rindang. “Ini untukmu.”

“Aku tak mau. Aku mau pulang.”

Hana beranjak pergi dan melepaskan tangannya dari tangan Taehyung. “Hei, tunggu!” Hana berhenti. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Taehyung dengan malas. “Apa?”

“Kau lupa? Kita kelompok Ekonomi,”

“Ahh, cerdas cermat sialan itu. Mengapa aku harus satu kelompok denganmu?”

“Mana kutahu, tanyakan saja pada Yoon saem.”

“Kau benar-benar. Baiklah, aku mengalah kali ini.” Hana duduk di sebelah Taehyung dan menyambar buku Ekonomi milik lelaki itu. “Ini es krimmu,”

Hana melirik Taehyung sejenak, kemudian menerima es krim cokelat yang mulai meleleh itu. “Thanks.” Hana memakan es krim itu sambil membaca buku pelajaran. Dan betapa berantakannya ia makan.

Tiba-tiba, Taehyung mengusapkan ibu jarinya di bibir Hana. “Sayang, makanlah dengan rapi. Lihatlah, ada banyak es krim di sekitar bibirmu.”

“Sudah kubilang jangan panggil aku—“

“Sayang, diamlah.”

Hana mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat dan tak bergerak sedikitpun. Membiarkan tangan Taehyung menyentuh bibirnya dengan lembut. Gadis itu membeku, ia menatap mata Taehyung dengan tatapan kosong.

“Selesai.”

“…”

“Hei, gadis pendek, jangan melihatku seperti itu,”

Tik tik tik

“Eh? Hujan mulai turun, ayo berteduh,”

Taehyung menarik Hana untuk berteduh karena hujan turun dengan deras. Gadis itu tersadar dan mengikuti Taehyung. “Ini semua salahmu! Jika kau tak menarikku, aku bisa pulang dengan motorku!”

“Hehe, maaf. Aku tak tahu jika hari ini akan hujan.”

“Kau selalu menyebalkan.”

Hana mengusap kedua tangannya. Ayolah, mereka berteduh di depan toko yang sedang tutup. Tentunya gadis itu kedinginan.

“Kau kedinginan?”

Lelaki ini keterlaluan tak peka.

“Tidak.”

“Jangan mengelak.”

Tanpa basa-basi dan tanpa menunggu protes dari Hana, Taehyung memeluknya dari belakang. Gadis itu tersentak, tetapi tak bisa menolak pelukan hangat dari Taehyung. Kepalanya tertunduk, menikmati hangat tubuh Taehyung.

“Merasa lebih hangat?”

“Ha? Oh, y-ya. Te-terima kasih.”

Hana gugup. Detak jantungnya berpacu lebih kencang. Ada sengatan aneh di tubuhnya.

“Itulah gunanya teman.”

Teman? Aku bahkan tak pernah memeluk Baekhyun, bodoh.

Gadis itu semakin gugup. Ia tak pernah dipeluk seorang lelaki kecuali ayahnya. Jadi, lelaki ini beruntung menjadi lelaki pertama yang memeluk Hana. Tetapi, bagaimanapun juga ini tak bisa diartikan sebagai cinta begitu saja.

Sialan. Aku tak menyukainya, ‘kan?

“Kau bisa lepaskan aku?”

“Eo, kau sudah lebih hangat? Baiklah.”

Taehyung melepaskan Hana dengan senyuman bodohnya. “Kau tau? Kurasa hujan ini akan lama.”

“Jangan sampai. Aku tak mau berdua disini bersamamu, dan aku ingin pulang.”

“Kau mau hujan-hujan? Dude, today is Monday! How about your uniform?”

I don’t care about that, but I want to go home. Now. Bye.”

Hana hendak menerobos hujan, tetapi Taehyung menahannya. “Tidak. Kau bisa sakit. Jika kau sakit, kau tak akan mendapat nilai ekonomi.”

“Terserah kau saja, intinya aku pulang sekarang.”

“Ya! Ya! Hei! Jangan bodoh!”

Tanpa pikir panjang, Taehyung mengejar Hana yang sekujur tubuhnya telah basah, juga tasnya yang tak berisi apapun. Dia selalu meninggalkan semua bukunya di loker kelas.

“Hana-a!” Dengan terpaksa, lelaki itu ikut hujan-hujanan bersama Hana. Ia telah basah kuyup. Ia tetap mengejar Hana sampai dapat. Taehyung menarik lengan Hana hingga gadis itu jatuh di pelukannya. Hana menatap Taehyung dengan gugup dan sungguh, jarak mereka sangatlah dekat. “Dengar.”

“Kau tahu? Besok adalah cerdas cermat. Kau tahu? Aku, kau, dan juga Sehun adalah murid yang paling di incar ketika ada tugas semacam ini.”

“Lalu?”

“Tentunya kita yang menjawab semua soalnya, bodoh! Ah, sulit sekali bicara denganmu.”

“Begitu. Lalu?”

“Jika kita tidak megikuti cerdas cermat sialan itu, kita pasti akan diburu. You know, ‘most wanted’.”

Shit, kau benar. Kalau begitu, aku pulang. Pai pai.”

-|||-

Hatciu!

“Flu sialan ini―hatciu! Ahh, membuatku tersiksa. Hatciu! Kurasa aku harus―hatciu! Aku harus menghubungi Jo saem.”

Hana sedang terbaring di tempat tidurnya dengan balutan selimut tebal juga tisu bekas yang berserakan. Ia flu akibat hujan semalam. Gadis itu menyambar ponselnya yang berada di atas nakas, kemudian menghubungi Jo saem, guru wanita yang mengajar Matematika, sekaligus wali kelas Hana.

Yeoboseyo? Jo saem―hatciu!”

Ada apa, ketua kelas Byun?”

“Maaf, saem. Saya izin tak dapat mengikuti pelajaran hari ini―hatciu! Karena saya sakit flu seperti yang saem dengar sekarang,”

Astaga, itu buruk, ketua kelas Byun. Baiklah. Istirahat yang cukup, Nak. Cepatlah sembuh dan pimpin kelasmu lagi.”

Gamsahamnida, saem. Annyeong.”

Hana meletakkan ponsel itu disebelahnya. Tetapi, tiba-tiba ponsel itu bergetar. Ada panggilan masuk.

“Eo, Taehyung sialan. Yeo―hatciu! Yeoboseyo?”

“Kau juga―hatciu! Flu, huh?”

“Jangan bilang kau flu juga?”

“Kau sudah mendengarnya ‘kan,”

“Yang benar saja. Untuk apa kau menelponku pagi-pagi?”

Aku ingin menyuruhmu untuk belajar Ekonomi lebih keras. Ternyata kau juga sakit―hatciu!”

“Eo. Lalu… Bagaimana cerdas cermatnya?”

“Aku tak tahu. Mungkin mereka akan berfikir lebih keras. Tenang, ada Seulgi disana.”

“Terserah saja. Aku tak peduli. Aku hanya―hatciu! Memikirkan nilaiku sekarang,”

“Tak hanya kau, bodoh! Aku juga. Mungkin nilai kita akan kosong. Kau tahu ‘kan―hatciu!, Yoon saem sangatlah pelit membagi nilai.”

Hell yeah, I know.”

“Kalau begitu aku pergi dulu. Get well soon,”

You too, bro. Bye,”

“Bye,”

Hana meletakkan ponselnya di atas nakas. Kemudian menyelimuti tubuhnya.

“Dari pacarmu, huh?”

“Tutup mulutmu, Byun Baekhyun.”

“Ya! Aku oppamu! Aish, kau tak sopan sekali,”

“Biarkan. Kau santai sekali, tak sekolah?”

“Tidak. Aku libur.”

“Oh.”

“Tak bisakah kau sedikit lebih hangat padaku? Kau seperti es,”

“Bukan urusanmu,”

Baekhyun melirik ponsel Hana. Ia mengambilnya dengan cepat, kemudian menyembunyikannya di saku celananya selagi Hana membelakanginya. Lelaki itu menyunggingkan seringaian menakutkannya.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Semoga cepat sembuh, adik kecil,” Baekhyun mengecup pipi adiknya sekilas, kemudian berlari ke luar kamar.

“Ya! Siapa kau berani menciumku?!”

“Aku oppamu! Kau lupa, huh?”

“Dasar lelaki sialan. Bagaimana bisa Daejin eonni terpikat olehnya? Dia perlu operasi katarak.”

Hana hampir saja menutup matanya untuk tidur, tetapi suara kencang Baekhyun terpaksa membangunkannya. Sungguh hari yang sangat buruk untuk gadis itu.

“Ibu! Lihatlah, Hana sudah mempunyai pacar!”

Shit, apa lagi ini,”

Hana meloncat dari tempat tidurnya dan menyusul Baekhyun yang ada di dapur bersama ibunya. Persetan dengan flunya, Hana menyadari bahwa ponselnya dibawa oleh kakaknya.

“Mana? Ibu lihat,”

“Ini,”

Baekhyun menunjukkan wallpaper ponsel Hana yang terpampang dengan jelas. Itu adalah gambar ketika Hana dan Taehyung berpelukan kemarin. Kebetulan ia juga berteduh karena lupa membawa jas hujan. Dan beruntungnya, Hana tak menyadari keberadaannya yang ada di seberang. Dan tentunya foto itu adalah kiriman Baekhyun, dan Baekhyun sudah mengaturnya menjadi wallpaper.

“Bagaimana kau bisa―hatciu! Mendapatkan foto itu, huh?!”

“Kau lupa? Kemarin kau yang menyuruhku untuk memotretmu,” Baekhyun menyeringai jail.

“YA! SIAPA YANG MENYURUHMU, HUH?!”

“Kau,”

Tiba-tiba Hana mempunyai ide untuk membalas Baekhyun. Ia merebut ponselnya dan menyeringai jail seperti kakaknya.

“Oh iya… Aku lupa. Seminggu yang lalu, aku bertemu kau dan Daejin eonni sedang berciuman di taman―mmmp!”

“Tutup mulutmu, bocah!”

Baekhyun segera membekap mulut adiknya sebelum terlambat, meski sebenarnya itu sudah sangat terlambat. Kabar baik ataupun buruk itu telah sampai di telinga Ibu mereka, Nyonya Byun.

“Baekhyun-a… Bagaimana bisa kau mencium seorang gadis di depan umum, huh?! Kau tau, itu memalukan!”

“Tapi―”

“Jangan mengelak… Aku punya bukti disini, kau mau tahu?”

Hana membuka galeri ponselnya. Dan benar saja, terpampang jelas wajah Baekhyun dan kekasihnya, Daejin sedang berciuman dengan manisnya. Daejin mengalungkan tangannya di leher Baekhyun, sedangkan Baekhyun memegang pinggang gadisnya. Romantis sekali.

“Ou, like a fucker, huh?”

Shut your mouth, bitch.”

Oh oh oh! Hei, jangan bicara dengan kasar, my little bastards. Baekhyun, Ibu tahu Daejin adalah gadis yang baik dan yah, cukup polos untukmu. Jadi, jangan peralat dia. Arra?”

Okey, mom. I know.”

“Hatciu! I think I need a break. Call me for breakfast later.”

“Okey, Honey. Get well soon,”

Hana berjalan dengan pelan ke arah kamarnya. Tetap dengan flu yang sungguh menyiksa. Membaringkan tubuhnya di kasur, dan mulai untuk terlelap.

-|||-

Dia sakit? Sakit apa dia? Apa dia tak apa?

Pikiran Sehun yang berkecamuk membuatnya tak fokus pada presentasi Sejarah kali ini.

“Sehun-a! Apa jawabannya?”

“…”

“Ya! Sehun-a!

“Hah? Apa?”

“Ya! Jawab pertanyaannya! Kau melamun dari tadi,”

Kyura memarahi Sehun yang sedari tadi tak fokus pada presentasi ini. Gadis cerewet itu memukulnya pelan, mengomelinya layaknya ibu yang marah kepada anaknya, dan mendengus kesal.

“Maaf, aku tak sarapan hari ini.” Dusta Sehun dipercaya begitu saja oleh Kyura. Kyura mengangguk paham. Jawaban untuk presentasi mereka telah terjawab oleh Chanri. Kelompok mereka segera kembali ke tempat duduk masing-masing.

Sehun duduk dan melihat presentasi kelompok selanjutnya dengan tatapan kosong. Saat sesi tanya jawab pun ia tak mengajukan pertanyaan. Biasanya ia akan mengajukan pertanyaan mematikan dan sulit untuk dijawab. Nyatanya, ia terlalu sibuk untuk memikirkan seseorang sekarang.

“Sehun-a! Ajukan pertanyaan!”

Chanri yang selalu heboh sendiri, menyuruh Sehun untuk mengajukan pertanyaan. Namun, Sehun tak menggubrisnya sama sekali. Ia bahkan tak mengerti jika Kwon saem telah keluar, dan Yoon saem, sang guru Ekonomi telah memasuki kelas.

“Ehm, anak-anak. Mohon maaf, untuk cerdas cermat hari ini ditunda, dan digantikan hari Kamis setelah pulang sekolah di aula. Saem ada rapat dengan guru yang lain. Thank you for attention.”

Yoon saem telah keluar, dan suasana kelas berganti menjadi riuh. Sayangnya, sang ketua kelas tak ada disini. Jika Hana berada disini, suasana kelas lebih teratur. Memang ramai, tetapi tak seramai kali ini. Murid-murid lain saling bercanda, bermain laptop, menggambar, dan ada juga yang tertidur, tak lupa dengan yang melamun. Tentunya itu Sehun. Ayolah, siapa yang bisa menolak kebahagiaan jam kosong? Hanya kutu buku yang menolaknya, dan itu hanyalah Sehun.

Kau sakit? Bagaimana gadis sepertimu sakit? Yang benar saja, it’s just a joke, right?

Sehun mencari-cari hipotesis dari kekhawatirannya. Dan cukup sial juga, ia tak tahu alamat rumah Hana. Untuk menjenguknya tentu saja. Gadis yang tak kenal penyakit macam Hana ternyata bisa sakit juga, meski sebenarnya itu tak terlalu parah. Ia hanya flu ringan.

Ini semua membuatku bingung. Oh Tuhan bantulah hambamu ini. Semoga kau cepat sembuh, Hana. Aku merindukan ulahmu yang menyebalkan, aku juga―

“Sehun-a! Kau melamun terus? Kau merindukan Taehyung ya?”

“Yang benar saja. Aku masih normal, Ilhoon.”

“Eo, bukan? Lalu, oh… Ketua ya?”

Bingo.

Why I miss her? She’s like a satan.”

“Hei, hati-hati dengan ucapanmu. Jika itu terdengar oleh teman Hana, teman mereka pasti akan mengadu.” Ilhoon memperingatkan Sehun. Tapi sayangnya…

“Oh… Begitu? Hyunmi-a! Zizi-a! Ara-a! Jiseok-a!

Great, Yumi mendengarnya. Pupus sudah harapanku…

Yumi yang kebetulan lewat di samping bangku Sehun mendengar hinaan(?) yang dilontarkan lelaki itu. Yumi memanggil sahabat-sahabatnya. Dalam hitungan detik, Hyunmi, Zizi, Ara, dan Jiseok menghampiri Yumi.

“This guy wants to die. He said, why he missed Hana? She was like a satan.” Jelas Yumi.

“Whoa, berani sekali kau. Kau pikir aku tak tahu? Kau menyukai ketua-mu sendiri ‘kan?” Zizi menohok Sehun hanya dengan satu pertanyaan. ‘Kau menyukai ketua-mu sendiri ‘kan?’ Sehun merasa ini waktunya untuk mati. Dengan susah payah menyembunyikan rahasia terbesarnya ini dari teman-temannya, dan sekarang? Terbongkar begitu saja.

Tidak. Rahasiaku terbongkar.

Really?”

Sial menimpa lelaki itu sekarang. Zizi menohoknya dengan pertanyaan, tak lupa dengan volume setara dengan pengeras suara sekolah. Seisi kelas menjadi hening seketika, hingga ada yang menyeletuk tak percaya. Itu datang dari grup gosip kelas yang terdiri dari Eunyoo, Arin, Mira, dan yang paling buruk diantara mereka, Minna.

Minna adalah gadis yang sangat tak bisa menjaga rahasia. Dan yah, bisa dikatakan, dia hampir sama dengan teman lelakinya, Ilhoon. Mungkin mereka akan jodoh nantinya. Oke, lupakan tentang Minna, kita punya tokoh yang sedang tertimpa masalah sekarang.

“Sehun menyukai Hana?”

“Tidak! Hh, mudah sekali kalian mempercayai bualan itu.”

Zizi dan kawan-kawannya tak terima. Padahal, Sehun telah menjadi riset peneletian sahabat-sahabat Hana selama beberapa minggu. Mereka mengawasi tingkah laku Sehun tanpa sepengetahuan Hana dan Sehun tentunya.

“Kau yakin itu hanya bualan?”

Oh, jangan pojokkan aku lagi.

“Ya. Aku bisa pastikan itu.”

Sehun berusaha untuk tidak gugup. Mencoba tegas menghadapi cobaan macam ini.

“Oke. Mungkin kau bisa dipercaya. Tapi ingat, jika Hana mendengar umpatanmu, ia tak akan pernah memaafkanmu.”

“Siapa juga yang butuh maaf darinya?”

Hyunmi menyunggingkan smirknya kemudian tangannya menunjuk Sehun, “Kau. Aku pastikan kau akan menyesal.”

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] 1,2,3 (Hana, Dul, Set) [Chapter 2]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s