My Nerd Boy – [Chapter 1]

my-nerd-boy

Title: My Nerd Boy [Chapter 1]

MeiKim

StoryLine by : Monica

Cast : Oh Sehun

Kim Monic (OC)

Other Cast: Shin Da Jung (OC), Kim Taehyung (BTS), Suho, Luhan, Baekhyun, Chanyeol, Kris, etc

Poster by: Gitahwa @ ArtZone

Length: Chapter

Genre: Romance, Drama, School-life

Rating: PG-17+

FF Req by: Monica, semoga kamu suka ya chingu ^^

Disclaimer: Ide cerita dan alur murni dari Monica dan Author Mei. RCL jusseyyo ^^ Don’t be a silent readers, don’t bash dan saling menghargai aja yaaa

Author POV

Seperti biasanya, Monic, sang murid yang memiliki predikat gadis terpopuler di sekolahnya, selalu mendapati lokernya yang penuh dengan surat, bunga dan coklat. Ia hanya tersenyum kecut dan segera membuang surat-surat dan bunga itu ke tempat sampah.

“Berapa surat cinta lagi yang kau dapatkan hari ini?” ucap Da Jung sahabatnya itu

“Entahlah, aku tak membacanya. Itu tidak penting, jadi langsung kubuang saja” ucap Monic

Always seems like that” ucap Da Jung mengikuti langkah Monic dan mensejajarkan langkahnya bersama Monic

Annyeong! Pulang sekolah nanti kalian kemana? Bagaimana jika kita makan ice cream di Hongdae?” ucap Baekhyun yang merangkul Monic dan Da Jung.

“Ah! Kedengarannya itu bagus” ucap Da Jung

“Yap. Ide yang bagus. Uhh.. Bunnies, itu ide yang bagus” ucap Monic mencubit kedua pipi chubby milik Baekhyun

“Tapi lebih bagus lagi jika aku tak pergi bersamamu!” sambung Monic sambil mendorong kening Baekhyun ke arah belakang menggunakan jari telunjuknya

Yaa! memangnya kenapa?!” gerutu Baekhyun

“Karena kau sangat cerewet dan selalu membuatku malu” ucap Monic dingin

“Jangan-jangan, kau sudah punya janji dengan namja lain ya? Nugu? Nugu?! Apa Kris yang tingginya seperti tiang listrik itu? atau Taehyung yang mirip alien itu? atau.. Suho yang selalu memiliki ekspresi aneh? atau siapa lagi?” tanya Baekhyun penuh selidik

“Yang jelas, jauh lebih tampan dan tidak banyak bicara sepertimu!” ucap Monic

“Tidak boleh!” ucap Baekhyun

“Hey, memangnya siapa kau berani melarangku!” ucap Monic segera berlalu meninggalkan Baekhyun dan Da Jung

BRUKK

Tiba-tiba saja seseorang menabrak Monic sehingga mereka berdua jatuh tersungkur ke tanah.

YAA! apa kau tidak lihat aku sedang jalan?!” gerutu Monic. Ia segera berdiri menepuk-nepuk rok nya yang kotor terkena debu.

“Apa kacamata besarmu itu tidak dapat membantumu melihat dengan benar, huh?! Dasar kutu buku!” ucap Monic kesal

“Maaf aku tidak sengaja” ucap Sehun

“Kau tidak tau siapa aku? Ah.. kau murid baru? Sebaiknya kau kembali ke sekolah lamamu. Kau tidak pantas disini.” Ucap Monic segera berlalu meninggalkan Sehun yang masih terdiam. Baekhyun menatap Sehun sekilas dan segera menyusul Monic. “Yaa! Monic tunggu aku!” seru Baekhyun

Sehun si namja kutu buku yang tadi menabrak Monic hanya terduduk dan terus menatap kepergian Monic dengan seorang namja yang terbirit-birit mengejarnya. Jadi, namanya Monic.. batin Sehun.

“Kau tidak apa-apa? Maafkan temanku itu ya. Dia memang seperti itu” ucap Da Jung membantu Sehun mengambil buku-bukunya yang berserakan

“Tidak apa-apa, aku yang salah sudah menabraknya” ucap Sehun

“Kau murid baru ya? Kau di tingkat berapa?”

Ne, aku di tingkat 2”

“Ah kalau begitu kita di tingkat yang sama. Dimana kelasmu? Aku akan menemanimu menuju kelasmu”

“Kelasku di II-A”

“Ah, kau berada di kelas yang sama denganku. Kajja, kita ke kelas bersama” ucap Da Jung. Sehun hanya mengangguk dan berjalan agak berjarak dengan Da Jung.

Monic yang sudah terlebih dulu sampai dikelasnya, segera duduk dibangkunya. Ia mengambil cermin di dalam tasnya, merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapih. Tiba-tiba saja seseorang berlarian duduk di depan kursi Monic dan tersenyum memperhatikan Monic.

“Good morning, beauty” sapa seseorang yang duduk didepan kursinya. Monic dengan malas menaruh cerminnya dan menatap namja dihadapannya, ia menatapnya dengan tatapan poker face-nya.

“Apa?” tanya Monic memutar kedua bola matanya malas memperhatikan namja yang sedari tadi menatapnya dengan senyuman yang membuatnya ingin sekali memukulnya. Namja itu segera mengeluarkan coklat dari balik tangannya.

“Coklat yang manis, untuk seseorang yang sangat manis” ucapnya. Monic kembali menatapnya kesal, ia menghela nafasnya kasar dan mengambil coklat yang diberikan namja itu.

“Terimakasih, karena sepertinya kau ingin membuatku gendut. Kembali ke kelasmu, Taehyung! Ini sudah bel masuk!” gerutu Monic. Taehyung hanya tersenyum, ia beranjak dari bangku dan melangkah pergi keluar dari kelas Monic.

“Hey! Ini untukmu” ucap Monic, pada teman perempuan di kelasnya, memberikan sekotak coklat yang diberikan Taehyung padanya sebelumnya.

“Untukku?!” tanya gadis itu terkejut

“Tentu saja. Ambilah” ucap Monic memberikan coklatnya. Ia menghela nafasnya kasar, dan segera menaruh tangannya di atas meja dan menopang dagunya dengan malas. Tak lama, sahabatnya Da Jung memasuki kelas bersama seorang namja. Yap! Namja yang sudah menabraknya tadi di koridor sekolah.

“Kenapa kau datang bersama namja kutu buku itu, Jungie!” gerutu Monic pada sahabatnya Da Jung yang baru saja duduk dibangku tepat disamping Monic. Da Jung segera menatap Monic dengan tampang innoncent-nya.

“Dia itu murid baru disini. Kebetulan dia sekelas dengan kita. Jadi sekalian saja aku kemari bersamanya” jelas Da Jung yang segera mendapatkan pukulan kecil dikepalanya oleh Monic

“Bukan itu maksudku, Jungie! Kau jangan dekat-dekat dengan namja kutu buku seperti itu. Dia itu tak pantas dengan gadis populer di sekolah seperti kita. Apa jadinya jika orang-orang melihatmu jalan bersama Nerd Boy sepertinya” jelas Monic

“Kau ini selalu saja begitu. Aku tidak mementingkan predikat populerku disekolah. Jadi aku tak perduli jika dia kutu buku atau apapun, jika dia baik, dia bisa jadi temanku” jelas Da Jung. Monic lagi-lagi menghela nafasnya kasar karena kesal mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Terserah apa katamu” dengus Monic lalu memalingkan wajahnya dari Da Jung

Jam-jam berlalu, pelajaran demi pelajaran telah dilalui. Akhirnya bel yang ditunggu-tunggu para siswa pun berbunyi. Bel yang menandakan waktunya beristirahat. Monic segera berjalan keluar dari kelasnya bersamaan dengan sahabatnya Da Jung. Mereka segera menuju kantin, karena Monic sangat lapar tak bisa lagi menahannya.

“Hey, Monic!” seru seorang namja yang sedikit berlari menghampiri Monic. Monic yang merasa namanya dipanggil segera membalikan tubuhnya dan menatap siapa yang memanggilnya. Namja itu tersenyum padanya, dan Monic pun membalas senyuman manis namja itu.

“Suho?” ucap Monic

“Mau makan siang bersama?” tanya Suho. Monic tersenyum dan mengangguk dengan cepat. Mereka berjalan bersama menuju kantin, Da Jung juga ikut berjalan bersama mereka. Setibanya di kantin sekolah, Suho segera memesankan makan siang yang biasa disantap oleh Monic dan Da Jung. Setelah memesan, ia segera duduk disamping Monic dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.

Mungkin kedekatan Suho dengan Monic dapat membuat namja manapun melihatnya sangat iri. Tentu saja, Monic tak akan sembarang duduk bersama namja, jika namja itu tidak berada di ‘level’-nya. Bagi Monic, Suho itu sangat pantas bisa duduk disampingnya. Bagaimana tidak, Suho adalah ketua grup EXO, grup yang terkenal dengan pria tampan dan kaya. Pria yang menurutnya se’level’ dengannya.

“Suho-yya!” ucap seseorang setengah berlari menghampiri Suho dan segera duduk dihadapan Suho, tepat disamping Da Jung. Membuat Da Jung yang menyadari siapa seseorang yang berada disampingnya itu, membuatnya benar-benar salah tingkah dan sangat gugup.

“Ada apa Chan?” tanya Suho pada namja yang menghampirinya itu, Chanyeol.

“Aku pinjam ponselmu, ppalli!” ucap Chanyeol pada Suho

“Memangnya untuk apa?” tanya Suho segera mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Chanyeol. Chanyeol segera mengambil ponsel milik Suho dan segera menghubungi seseorang.

YAA! Kembalikan ponselku, BACON! YAA! awas kalau kau macam-macam dengan ponselku! Kau benar-benar harus kuberi pelajaran BACON!” ucap Chanyeol terus menggerutu pada seseorang yang dihubunginya, yang ternyata adalah Baekhyun.

YAA!” gerutu Chanyeol lagi, mengetahui Baekhyun memutuskan panggilannya. Ia terus mengumpat kesal dan segera mengembalikan ponsel milik Suho. Suho, Monic dan Da Jung menatap Chanyeol dengan tatapan kebingungan, karena sedari tadi Chanyeol hanya terus mengumpat kesal. Tanpa memperdulikan siapapun yang ada disampingnya, ia segera meraih lemon tea milik Suho dan meneguknya habis.

“Oh! Monic, ada kau ternyata?” ucap Chanyeol yang baru menyadari bahwa ada Monic di meja yang sedang ditempatinya itu bersama Suho. Ia segera mengalihkan pandangannya dan menatap siapa yang duduk disampingnya. Saat tersadar siapa yang duduk disampingnya, ia membulatkan matanya dan terbatuk karena tersedak minumannya sendiri. Ia benar-benar terkejut ketika melihat siapa yang duduk disampingnya.

“Sejak kapan kalian disini?!” tanya Chanyeol panik

“Sejak kau datang kemari, sejak kau heboh sendiri berbicara dengan Baekhyun, sejak kau mengumpat sedari tadi” ucap Monic. Chanyeol yang mendengarnya hanya bisa menelan ludah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

Da Jung segera mengambil tisu yang berada di dekatnya dan memberikannya pada Chanyeol. “igeo..” ucap Da Jung dengan pelan dan tersipu malu. Hal itu membuat Chanyeol kembali terkejut dan salah tingkah dengan perlakuan Da Jung padanya. Chanyeol hanya tersenyum kikuk dan segera mengambil tisu yang diberikan oleh Da Jung.

“Aku sudah selesai, aku akan pergi duluan, ne?” ucap Monic pada Da Jung, Suho dan Chanyeol, memecah keheningan. Ia segera bangkit dari tempat duduknya beranjak pergi. “Monic!” seru Suho menghentikan Monic yang hendak pergi meninggalkan meja.

Ne?” tanya Monic.

“Pulang sekolah nanti, bagaimana jika aku mengantarmu pulang?” ucap Suho

“Boleh. Aku tunggu di depan kelas saat pulang nanti, okay?” ucap Monic tersenyum dengan sangat manisnya. Suho hanya mengangguk dan membalas senyuman Monic. Segera setelah itu, Monic membalikan badannya dan hendak berjalan, namun tiba-tiba saja..

BRAKK

Monic kembali bertabrakan dengan seseorang, dan minuman yang sedang dibawa orang itu tumpah mengotori seragam Monic.

YAA!” teriak Monic kesal. Ia menatap seseorang yang menabraknya itu. Ia menghela nafasnya kasar, dan menatap namja yang menabraknya itu dengan kesal.

“Lagi-lagi kau!! Kau lihat?! Seragam ku kotor!!” gerutu Monic kesal. Membuat Da Jung, Suho dan Chanyeol hanya terdiam dengan mulut yang menganga menatap Monic dan Sehun.

“Haish!! Jinjja!! Kau benar-benar membuat hariku sial!” ucap Monic kesal

“Maafkan aku, tadi aku tidak sengaja” ucap Sehun salah tingkah

Aissh! Minggir!” ucap Monic mendorong tubuh Sehun dengan sangat kasar, lalu ia segera berlalu meninggalkan kantin

Ia segera pergi menuju toilet untuk membersihkan seragamnya yang kotor itu. Ia terus menggerutu karena ulah Sehun yang membuatnya benar-benar merasa sial hari ini. Setelah selesai, ia berjalan menuju lokernya, berharap ada seragamnya yang sengaja disimpan di lokernya. Ia segera membuka lokernya, dan kembali mendengus kesal, menghentakan kakinya kasar. Tak ada seragam di lokernya, itu artinya ia akan masuk kelas dengan seragam yang kotor seperti itu.

“Haish! Menyebalkan!!” gerutu Monic

“Monic?” ucap seseorang yang sudah sedari tadi memperhatikan Monic. Monic yang tersadar namanya baru saja disebut, ia memalingkan wajahnya dan menatap pada sumber suara itu.

“Kris?” ucap Monic

“Ada apa dengan seragammu? Kenapa kotor sekali?” ucap Kris sambil berjalan menghampiri Monic, berjalan dengan kedua tangan dimasukan ke dalam dua saku jas seragamnya.

Namja kutu buku itu yang membuat seragamku kotor seperti ini” gerutu Monic. Kris yang mendengarnya hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan tatapan dinginnya. Monic hanya mendengus kesal, karena setiap kali Kris berbicara dengannya, ia selalu memasang wajah tanpa ekspresinya, benar-benar pantas untuk disebut Ice Prince. Tak lama seseorang datang menghampiri Kris dan memberikan satu set seragam baru padanya. Kris segera mengambilnya dan melemparkan pada Monic yang berdiri tepat disampingnya. Membuat Monic terkejut dan dengan sigap menangkap seragam yang dilempar Kris tadi.

“Sesuai dengan ukuranmu. Segera ganti seragammu” ucap Kris dingin dan segera berlalu meninggalkan Monic. Membuat Monic yang mendengarnya benar-benar terkejut, karena tersadar Kris sudah berjalan menjauh darinya, ia segera berteriak memanggil Kris. Dan membuat Kris berhenti dan menatap Monic masih dengan tatapan datarnya.

Gomawo!” ucap Monic tersenyum dan mengangkat seragam yang diberikan oleh Kris. Kris hanya membalasnya dengan anggukan dan kembali berjalan meninggalkan Monic.

“Walaupun tingkahnya begitu dingin. Tapi dia benar-benar baik dan mengerti apa yang aku butuhkan tanpa perlu aku mengatakannya” ucap Monic tersenyum. Ia segera menuju toilet untuk mengganti seragamnya dengan seragam baru yang diberikan oleh Kris. Setelah selesai, ia segera berlarian kecil menuju ke kelasnya.

Sesampainya dikelas ia sudah mendapati Da Jung duduk dibangkunya, Monic segera berjalan menghampiri Da Jung dan duduk disampingnya. Da Jung memperhatikan sahabatnya yang sepertinya sedang dalam mood yang tidak baik. Ia memperhatikan seragam Monic yang nampaknya masih baru dan tidak kotor karena tumpahan minuman tadi.

“Kau mendapatkan seragam ini darimana? Rasanya tadi seragammu itu kotor” tanya Da Jung penuh selidik. Monic menghela nafasnya kasar. “Kris” hanya kata itu yang keluar dari bibir mungil Monic membuat Da Jung mengangguk-anggukan kepalanya tanda tahu dan mengerti.

“Rasanya banyak sekali malaikat penjaga dan penolong disisimu. Kau beruntung Monic” ucap Da Jung. Monic yang mendengarnya hanya memutar kedua bola matanya malas dan menumpukan dagunya pada tangannya.

“Jadi sebenarnya kau itu akan memilih siapa sebenarnya? Suho? Kris? Atau dua anak yang nampak kembar Baekhyun dan Taehyung itu? kurasa mereka tak ada lelahnya mengejarmu, terutama Taehyung” tanya Da Jung penuh selidik. Kini Monic menatap sahabatnya itu dengan tatapan malas dan tajam “Kau pikir aku akan dengan mudahnya menerima cinta mereka? Tentu saja tidak!” jelas Monic. Ia kembali menghela nafasnya berat dan raut wajahnya kini berubah “Aku tidak mau terluka untuk kedua kalinya, Jungie” ucap Monic.

“Kau masih memikirkan Luhan oppa?” tiba-tiba saja nama itu terlintas dipikiran Da Jung yang membuat raut wajah sahabatnya itu semakin menunjukkan bahwa perkataannya itu benar.

“Oh ayolah! Itu sudah 2 tahun yang lalu, bukan? Sampai kapan kau akan terus memikirkannya? Sampai kapan kau akan terus mengharapkan dia kembali?” ucap Da Jung yang berhasil membuat mata indah Monic berkaca-kaca, “Aku merindukannya, Jungie” lirih Monic.

“Ayolah.. Kau harus melupakannya. Luhan oppa saja sudah menemukan kehidupannya. Lalu sampai kapan kau akan terus seperti ini. Bukankah kau pernah bilang, kau akan ikut senang jika Luhan oppa menemukan dan mendapatkan impiannya?” ucap Da Jung. Monic kembali menghela nafasnya kasar dan mengalihkan wajahnya dari Da Jung

“Ah! Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Hatiku semakin sakit rasanya” ucap Monic

Oppa.. Apa kabar? Kau sudah mendapatkan impianmu, menjadi aktor dan penyanyi terkenal. Semoga kau selalu bahagia, oppa.. Batin Monic

Author POV End

Monic POV

Akhirnya bel yang ditunggupun sudah berbunyi. Akhirnya pelajaran-pelajaran membosankan ini berakhir juga dan aku bisa pulang. Aku segera meraih tasku lalu berjalan keluar kelas, saat keluar kelas, aku sudah melihat Suho menunggu dikelasku. Namja itu memang selalu tepat waktu, ia tak pernah membuatku kesal menunggu. Kebetulan sekali Suho menawarkanku untuk pulang bersamanya, karena hari ini Bum oppa tidak bisa menjemputku, dan Suho menyelamatkanku untuk pulang naik bus.

“Suho-yya, kajja” ucapku menghampiri Suho. Ia tersenyum padaku dan kami berjalan bersama menuju parkiran sekolah. Kami berjalan bersama menuju sebuah mobil bermerek Lamborghini Reventon berwarna hitam pekat, dan tentu saja tidak sembarang orang yang dapat memiliki mobil mewah kelas dunia seperti ini. Mengapa aku bisa mengetahui mobil-mobil seperti ini? Ya tentu saja, karena Bum oppa, juga mengkoleksi mobil-mobil mewah dan mahal seperti ini. Suho segera membukakan pintu untukku dan mempersilahkanku untuk masuk. Lalu Suho segera melajukan mobilnya dan mengantarku pulang.

Sesampainya dirumahku, aku melihat tak ada mobil Tan oppa terparkir disana. Aku menghela nafasku lega, karena aku bisa terbebas dari amukan Tan oppa karena saat ini aku diantar pulang oleh seorang namja. Suho segera turun dari mobilnya dan segera membukakan pintu untukku.

“Suho-yya, gomawo” ucapku. Ia hanya tersenyum dan mengangguk, lalu pamit untuk pulang. Setelah Suho pergi, aku segera masuk ke dalam rumahku. Sepi.. ya beginilah keadaan rumahku setiap harinya. Tan oppa yang sibuk dengan pekerjaannya dirumah sakit, Bum oppa yang sedang kuliah, eomma dan appa yang juga sibuk dengan pekerjaannya. Menyisakan aku sendiri yang selalu merasa bosan dan hanya berdiam diri rumah sebesar ini.

Aku membungkukan badanku untuk melepas sepatuku dan memakai sendal rumahku, lalu bergegas menuju kamarku yang berada di lantai dua. “OH! Astaga!” tiba-tiba saja aku terkejut dan hampir saja terjatuh ke belakang karena terkejut dengan Tan oppa yang sudah berada dihadapanku saat ini. Berdiri dengan dua tangan dilipat didepan dadanya dan menatapku dengan tatapan yang tajam. Sial!

Oppa! Kau membutku terkejut” ucapku memegang dada

“Pulang dengan siapa lagi?” tanyanya. Ah! Dia melihatnya. Sial! Apa yang harus kukatakan, pasti Tan oppa akan memarahiku habis-habisan lagi

“Dilihat dari mobilnya, itu Suho?” ucapnya lagi. Aku hanya terdiam dan menundukkan kepalaku. Bersiap-siap atas amukan singa didepanku ini.

“Sudah kubilang berapa kali jangan pulang dengan sembarang namja, Monic!” ucapnya

“Bum oppa tidak bisa menjemput! Aissh.. salah siapa aku tidak boleh membawa mobilku sendiri ke sekolah, jadi aku pulang bersama Suho karena dia menawarkanku untuk pulang bersama” gerutuku kesal

“Kau kan bisa naik bus” ucap Tan oppa

Oppa, apa kau tidak tau? Naik kendaraan umum itu lebih membahayakan untuk gadis sepertiku” ucapku.

“Aissh.. alasan!” ucapnya dan mendaratkan pukulan dikepalaku. Membuatku meringis kesakitan dan mengelus-elus kepalaku “Appo” rengekku.

“Cepat bersihkan tubuhmu, ganti pakaianmu. Kita harus pergi” ucap Tan oppa

“Pergi kemana? Ahhh.. oppa mau mengajakku shopping?” ucapku antusias. Aku melihatnya kembali menatapku tajam dan sudah mengangkat tangannya bersiap memukul kepalaku, aku segera memundurkan langkahku untuk menjauh dari Tan oppa yang menyeramkan ini.

“Kenapa di otakmu itu hanya shopping dan shopping saja. Cepat ke kamarmu. Kita tidak boleh telat. Ini acara penting” ucap Tan oppa

Memangnya acara apa? Kenapa aku juga harus datang?” tanyaku

Eiy! Sudah kubilang cepat pergi ke kamarmu, nanti juga kau tau sendiri” ucapnya kesal dan segera menendang kakiku

“Ah! Oppaaa!” lenguhku kesal. Aku segera berjalan menuju kamarku untuk bersiap-siap.

Setibanya dikamar, aku segera melempar tasku sembarangan dan segera pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Setelah selesai, aku segera memilih-milih dress yang akan kupakai di acara yang katanya penting itu. Aku memilih mengenakan floral dress selutut tanpa lengan, tidak terlalu santai dan ada sedikit sentuhan formal. Lalu aku segera beralih mengatur rambutku, aku memilih membuat rambutku sedikit bergelombang, agar terkesan sedikit dewasa. Dan wajahku, aku tak mengoleskan kosmetik dengan tebal, hanya sedikit polesan saja, agar terkesan natural.

Setelah selesai aku segera turun kebawah menghampiri Tan oppa dan segera pergi entah menuju kemana. Karena Tan oppa tidak mau memberi tahuku. Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, aku tiba disebuah restaurant mewah. Aku dan Tan oppa segera memasuki restaurant itu dan menuju sebuah ruangan yang sudah dipesan oleh appa-ku. Sesampainya disana, aku melihat eomma, appa dan Bum oppa sudah berkumpul.

Oke, ini tumben sekali keluargaku semuanya berkumpul seperti ini. Sepertinya, memang ada sesuatu yang penting sehingga semuanya menyempatkan waktunya untuk berkumpul disini.

“Tumben sekali, ada apa?” tanyaku pada semua anggota keluargaku

“Pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan, bukan?” sambungku

“Tentu saja, jika tidak ada yang penting, mana mungkin berkumpul seperti ini” ucap eomma. Aku juga tau, aku hanya berbasa-basi saja. Menyebalkan! Aku mempoutkan bibirku karena kesal.

“Ada yang ingin eomma dan appa bicarakan padamu, Monic” ucap eomma

“Apa?” tanyaku

Appa memiliki sahabat sejak kecil, dan dulu kami sudah sepakat jika suatu saat nanti kami memiliki anak, kami akan menjodohkannya. Dan kebetulan sekali, appa memiliki anak gadis sepertimu, dan sahabat appa memiliki anak laki-laki yang seumuran denganmu. Jadi, kita sepakat untuk menjodohkanmu” jelas appa.

“Oh..” hanya itu saja yang keluar dari mulutku. Chakkaman! Sepertinya ada kata-kata yang janggal. Apa tadi ada kata ‘perjodohan’? ‘menjodohkan’? ‘dijodohkan’? benarkah?! “PERJODOHAN?!” ucapku terkejut. Aku beralih menatap wajah kedua orangtua dan kedua oppa-ku secara bergantian, berharap aku salah mendengar.

“Ya, dijodohkan” ucap eomma

Eomma! Appa! Kenapa kalian tidak meminta persetujuanku dulu? Kenapa kalian begitu cepat mengambil keputusan. Kenapa harus dijodohkan? Aku bisa mencari calon suamiku sendiri! Dan bahkan aku masih murid SMA, kenapa harus dijodohkan secepat ini!” gerutuku

“Kami menjodohkanmu dengan orang yang pantas denganmu. Dan sekarang kita akan bertemu dan makan malam bersama keluarga Oh” ucap appa

“Daddy, please no!” ucapku memelas. Tapi appa dan eomma seolah menutup telinganya, tidak ingin mendengar penolakan dariku.

“Aku bisa mencari jodohku sendiri! Aku tidak mau dengan perjodohan konyol ini, lagipula kenapa kalian membuat perjanjian konyol seperti itu sih? Kenapa harus aku yang dikorbankan?! Kenapa tidak Tan oppa atau Bum oppa saja!? Kenapa harus aku?” gerutuku kesal

“Apa kau gila ingin menjodohkan oppa-mu yang tampan ini dengan sesama namja, eoh?!” gerutu Bum oppa. Aku terus mendumal tak memperdulikan ucapan Bum oppa. “Pokoknya aku tidak mau! Aku tidak mau dijodohkan dan dinikahkan dengan namja yang tidak kucintai!” ucapku kesal

“Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu” ucap Tan oppa dengan tatapan yang tenang dan dingin. Aku menghela nafasku kasar, dia itu oppa-ku, bukannya membelaku ini malah mendukung rencana konyol eomma dan appa-ku.

Tiba-tiba saja salah satu pelayan memasuki ruangan dan mengatakan bahwa keluarga Oh sudah datang. Aku segera memilih bangku tepat disebelah Bum oppa. Rasanya aku ingin kabur saat ini juga, jika tidak ada Tan oppa yang mengawasiku, tentu saja.

Oppa yakin pilihan eomma dan appa itu pasti pilihan yang baik. Kurasa, pria itu pasti sesuai tipemu” bisik Bum oppa padaku

“Tetap saja aku tidak mau dijodohkan oppa” ucapku setengah berbisik. Bum oppa hanya tersenyum dan mengelus lembut pucuk kepalaku.

Tak lama, aku melihat wanita dan pria paruh baya memasuki ruangan ini dan diikuti dua orang namja dibelakangnya. Itu keluarga Oh? Dan.. dua namja itu anaknya? Jinjja? Daebak! Apa salah satu dari dua namja tampan ini akan menjadi jodohku? Aku membulatkan mataku dan membuat mulutku menganga, tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini

Namja yang satu ini bertubuh proporsional, tinggi tegap, tubuhnya yang atletis, berkulit putih, wajahnya benar tampan dan ideal. Raut wajahnya memperlihatkan jika namja satu ini adalah namja yang tegas dan dingin. Dan namja yang satunya lagi juga bertubuhnya tinggi, wajahnya tampan dan juga imut. Senyumannya benar-benar membuatku terpesona. Aku tidak akan menolak jika salah satu dari mereka yang akan dijodohkan denganku.

Oppa, eomma dan appa benar-benar mengetahui tipeku” ucapku berbisik pada Bum oppa yang ada disampingku

“Tapi, yang satu lagi belum datang” ucapnya

Mwo? masih ada satu lagi? Aku yakin yang satu lagi juga tampan” ucapku

Aku melihat kedua namja itu duduk dibangku yang bersebrangan dengan bangku kedua oppaku, menyisakan satu bangku kosong dihadapanku.

“Maaf kami terlambat” ucap Tuan Oh

“Perkenalkan, ini anakku yang pertama Oh Woo Bin, dan ini anakku yang kedua Oh Daehyun. Dan anakku yang terakhir sepertinya sedikit terlambat” sambung Tuan Oh.

Dan kini giliran appa-ku yang memperkenalkan aku dan kedua oppa-ku bergantian. Aku hanya tersenyum dan bersikap baik pada keluarga Oh, aku akan menjadi yeoja yang beruntung jika aku dijodohkan dengan salah satu namja tampan dihadapanku saat ini.

“Wahh.. calon adik iparku sangat cantik. Jika saja aku yang dijodohkan dan aku belum bertunangan, aku tak akan menolaknya” ucap salah satu namja tampan yang bertubuh proporsional, yang bernama Woo bin itu, anak pertama dari keluarga Oh. Aku hanya tersenyum kikuk dan tersipu malu. Gugur sudah harapanku pada namja tampan satu ini, ternyata bukan dia yang dijodohkan denganku. Tenang Monic, masih ada satu namja tampan dihadapanmu, dan satu lagi masih misterius.

Tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam ruangan. Ia membungkuk meminta maaf karena sudah datang terlambat. Berpakaian rapih memakai stelan jas, bertubuh tinggi, berkulit putih,dan.. berkacamata? MWO?! si kutu buku itu?! dia anak ketiga dari keluarga Oh?! Aku menatap tidak percaya. Dia benar-benar sangat berbeda dengan kedua kakaknya yang tampan. Kenapa hari ini sangat sial, kenapa aku harus bertemu si kutu buku sialan ini lagi!

Ia segera duduk dibangku tepat disebrang bangku ku. Ia mengalihkan tatapannya, dan sekarang menatapku. Nampaknya ia juga sama terkejutnya denganku.

“Ah.. ini anakku yang ketiga, Oh Sehun. Yang akan dijodohkan dengan anak gadismu, Monic” ucap tuan Oh. Sebentar.. tadi apa yang aku dengar? Aku dijodohkan dengan si namja kutu buku ini?!!

“MWO?!” ucapku dan Sehun bersamaan, sepertinya kami memang sama-sama terkejut. ANDWAEEE!!!! Aku tidak mau! Tidaak!!!

Aku bukan dijodohkan dengan Woobin yang bertubuh proporsional itu? bukan dengan Daehyun yang memiliki senyuman memikat itu? aku dijodohkan dengan Sehun si kutu buku ini? Shirreo!!

Aku ingin sekali berteriak jika aku tidak mau dijodohkan dengan Sehun. Tapi rasanya itu sangat tidak sopan, bagaimanapun Tuan Oh adalah sahabat ayahku, dan aku harus menghormatinya. Sungguh! Aku benar-benar ingin melarikan diri saat ini juga!

“Bukankah kalian satu sekolah? Apa kalian sudah saling bertemu? Atau bahkan saling mengenal?” ucap Nyonya Oh. Aku dengan sigap menggelengkan kepalaku “Ani. Aku belum pernah bertemu dengannya” ucapku berbohong.

“Ah, mungkin saja belum. Ia baru masuk sekolah hari ini, pastinya kalian belum mengenal satu sama lain” ucap Nyonya Oh tersenyum lembut padaku.

“Kudengar, Sehun itu sangat berprestasi di sekolah lamanya yang di Amerika itu, ya? Wah.. anak-anakmu memang pintar sama sepertimu, Mansoo” ucap appa-ku pada Tuan Oh

“Ah kau ini selalu saja begitu” ucap Tuan Oh

“Ah.. berhubung kita jarang berkumpul seperti ini, karena kita selalu disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, bagaimana jika hari ini juga kita resmikan mereka, dan kita jadikan pertemuan hari ini menjadi acara pertunangan mereka” ucap Nyonya Oh

MWO?!” ucapku lagi bersamaan dengan Sehun. Ini gila, ini pertama kalinya aku bertemu si Nerd ini dan keluarganya, dan hari ini juga aku bertunangan?! Sungguh, gila!

“Ah itu ide bagus, lagipula, kita akan sulit untuk mengadakan pertemuan antar keluarga seperti ini. Terlebih dari itu, anakku Tan mulai bulan depan akan bertugas ke Kanada jadi mungkin sebelum dia pergi kita bisa melangsungkan pertunangan hari ini” ucap eomma-ku

“Ah tapi.. maksudku.. apa ini tidak terlalu cepat?” ucapku khawatir

“Tidak, ini adalah waktu yang bagus untuk kalian berdua” ucap nyonya Oh

“Tapi ahjumma, bahkan aku baru bertemu dengannya hari ini dan kita belum saling mengenal” ucapku pada nyonya Oh

“Ahh.. itu masalah gampang, kalian kan satu sekolah, dan kalian sudah akan bertunangan hari ini, kalian bisa saling mengenal satu sama lain menjelang pernikahan kalian” ucap nyonya Oh

“Ini.. jauh-jauh hari aku sudah memesankan cincin ini. Pasangkan padanya, Sehun” ucap tuan Oh memberikan kotak kecil berwarna hitam yang aku yakini didalamnya adalah sepasang cincin untukku dan si Nerd dihadapanku ini.

“Tapi, appa” ucap Sehun terbata-bata

“Sudah, ayo” ucap Tuan Oh terus mendesak Sehun

Sehun menatapku, aku segera menatapnya dengan tatapan tajamku. Sungguh, namja ini benar-benar membuat hidupku sial. Seharusnya aku tidak bertemu dengannya seumur hidupku. Sungguh rasanya aku ingin melenyapkan si Nerd ini dari hadapanku. Bum oppa yang berada disampingku menyikut lenganku dan menggerakan dagunya ke arah Sehun, memberi isyarat untukku agar mengulurkan tanganku agar Sehun bisa memakaikan cincin itu pada jari manisku.

Aku menghela nafasku kasar dan segera mengulurkan tanganku pada si Nerd dihadapanku ini, ia menatapku ragu, lalu memasangkan cincin itu dijari manisku. Aku sangat berharap cincin itu tidak muat dijari manisku agar pertunangan ini batal. Nyatanya, sial! Cincin itu dengan mulusnya terpasang dijari manisku.

“Aigoo.. lihat bukan? Mereka memang jodoh?” ucap nyonya Oh

“Kau harus menjaganya dengan baik, Sehun. Dia sudah menjadi tunanganmu dan akan menjadi istrimu sebentar lagi” ucap Tuan Oh. Apa?! Istri?! Dalam mimpimu!!

Setelah selesai makan malam, kedua orang tua Sehun dan orangtua ku memilih untuk pergi terlebih dahulu, menyisakan aku bersama kedua oppaku dan ketiga anak keluarga Oh ini. Kulihat kedua oppa-ku dan kedua hyung Sehun sangat akrab, padahal aku bisa jamin jika ini juga pertemuan pertama mereka, tapi nampaknya mereka seperti sudah kenal lama.

“Hey, adik ipar. Walaupun adik kecilku ini berpenampilan agak norak, tapi ia pasti bisa menjagamu dengan baik dan menjadi suami yang baik untukmu” ucap Woobin oppa tengah tersenyum padaku. Aku hanya tersenyum kecut.

“Untung saja adikku ini dijodohkan dengan gadis cantik sepertimu, jika tidak, mungkin dia tak akan pernah mendapatkan gadis dengan penampilannya yang seperti ini” ucap Daehyun oppa setengah tertawa. Ya, jelas! Itu benar sekali. Bahkan aku saja tidak mau dengan si Nerd ini. Cih.. tidak akan pernah!

“Aishh.. hyung!” gerutu Sehun. Aku hanya menghela nafasku kasar, benar-benar rasanya ingin sekali pergi dari tempat terkutuk ini.

“Kalau begitu, kajja kita pulang. Besok pagi kalian sekolah, kan? Sehun antarkan Monic pulang” ucap Daehyun pada Sehun. Aku segera memotong pembicaraan Daehyun oppa “Ani. Aku bisa pulang bersama Bum oppa” ucapku. Bum oppa hanya tersenyum menatapku dan menggelengkan kepalanya “Maaf yeodongsaengku yang cantik, aku akan pergi ke club dulu, jika kau ikut denganku, Tan hyung akan membunuhku”

Aku mengalihkan pandanganku menuju Tan oppa yang terduduk agak jauh dariku “Kalau begitu, aku bisa pulang bersama Tan oppa”. Tan oppa hanya menatapku dengan tatapan andalannya, tatapan dingin dan tegas yang selalu membuatku takut. “Aku masih ada urusan dirumah sakit” ucapnya singkat.

“Kalau begitu, Sehun cepat antarkan calon istrimu ini” ucap Woobin oppa menggoda. Akhirnya aku tak mau menerima untuk pulang bersama si Nerd ini. Oh Tuhan, katakan jika ini adalah mimpi burukku. Tolong bangunkan aku dan sadarkan aku jika ini hanya mimpi buruk.

Kami segera berpisah dengan kedua oppa-ku dan kedua hyung Sehun. Aku segera menuju mobil porsche putih yang kuyakin itu adalah mobil Sehun karena ia sudah membukakan pintu untuk mempersilahkanku masuk. Aku segera masuk dan Sehun segera melajukan mobilnya untuk mengantarku pulang kerumah.

Moodku benar-benar hancur. Sungguh rasanya emosiku kini akan meledak. Bagaimana mungkin aku dijodohkan dengan namja yang paling kubenci, namja yang benar-benar bukan tipeku. SHIRREO!! Aku tidak akan pernah mau menjadi istrinya, bahkan menjadi calonnya pun aku tak mau!

“Kita harus membatalkan perjodohan ini” ucapku pada Sehun yang fokus menatap jalanan. Ia hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaanku. Aku menghela nafasku kesal dan kembali menatapnya “Hey Nerd! Dengar aku tidak?!” ucapku kesal karena sedari tadi dia mengacuhkanku

“Tidak bisa” tiba-tiba saja ia mulai berbicara dan apa?! Apa yang baru saja dia katakan?!

“Lihat pada jarimu, apa yang terpasang disana. Itu membuktikan bahwa kita sudah terikat dan kedua orangtua kita tak akan pernah membatalkannya” tutur Sehun. Aku menatapnya tak percaya, bahkan ia tak menolak perjodohan ini? Jadi hanya aku yang menolak perjodohan ini?!

“Mungkin kau beruntung karena mendapatkan yeoja cantik dan populer sepertiku. Tapi aku?! Ini mimpi buruk! Bencana besar untukku! Mendapatkan namja kutu buku seperti mu adalah hal yang tidak pernah kuharapkan!” gerutuku

“Pokoknya perjodohan ini harus dibatalkan” sambungku

“Lakukan jika itu memang mustahil untuk kau lakukan” ucapnya ditir

“Cih.. selain Nerd dia juga angkuh dan dingin seperti es” gumamku

“Aku mendengarnya” ucapnya. Aku kembali menatapnya dan memutar kedua bola mataku dengan malas, mendengus kesal kenapa bisa-bisanya ini terjadi padaku

Hari ini aku baru bertemu dengan si Nerd ini, ia menabrakku bahkan menumpahkan minuman pada seragamku. Sekarang? Kami dijodohkan dan sudah bertunangan? Kesialan apalagi yang akan terjadi nantinya? Namja ini memang pembawa sial bagi hidupku!

Sesampainya dirumah aku segera menghampiri eomma dan appa-ku. Aku meminta untuk membatalkan perjodohan konyol ini. Perjodohan yang tidak masuk akal. Aku melihat Tan dan Bum oppa sedang duduk menonton tv diruangan tengah, bagus! Mereka membohongiku dan sengaja mengaturnya agar aku bisa pulang bersama si Nerd itu?! ‘ingatkan aku untuk mencekik kedua oppa-ku itu’

Appa! Eomma! Aku tidak mau dijodohkan dengan Sehun. Aku tidak mau. Kumohon batalkan perjodohan ini” ucapku memelas

“Tidak, honey. Sehun adalah namja yang pantas untukmu. Lagipula kalian sudah bertunangan” ucap eomma

ANDWAE! Aku tidak mau dijodohkan dengan namja kutu buku itu! NO! I said NO!” ucapku

“Tanpa perlu persetujuanmu pun, perjodohan ini akan terus berlangsung. Tidak ada penolakan!” ucap appa

Shirreo! Bagaimana reputasi disekolahku jika yang lainnya tau aku dijodohkan dengan namja kutu buku, namja yang bukan tipeku?! Andwae! Aku tidak mau!”

“Tidak ada penolakan” ucap appa yang segera berlalu meninggalkanku

Dad! Please!” ucapku memelas

Mom!” ucapku pada eomma. Namun eomma hanya tersenyum dan berjalan meninggalkanku. Aku menghentakan kakiku kesal dan terus merengek bahwa aku tidak mau dijodohkan dengan Sehun

“Bagaimana rasanya dijodohkan dengan seorang namja yang bukan tipemu? Bukankah itu menarik? Kau tetap harus menerimanya, yeodongsaeng-ku yang cantik” ucap Bum oppa menggodaku. Membuatku semakin kesal dengan perjodohan ini

Oppa! Bantu aku bicara pada eomma dan appa. Oppa, tolong bantu aku. Aku tidak mau dijodohkan dengannya. Oppa, jebal” rengekku

 

Mianhae, yeodongsaengku yang manis. Kali ini oppa-mu yang tampan ini tidak bisa membantu. Kau tau bukan appa dan eomma itu sangat tugas dan tidak akan mendengar penolakan darimu” ucap Bum oppa

Oppaaaa” rengekku

“Sehun adalah pilihan yang tepat, Monic. Cepat masuk kamarmu, ini sudah larut, besok kau harus bersekolah” ucap Tan oppa mengelus pucuk rambutku dan berlalu meninggalkanku. Sungguh! Hari ini adalah hari tersialku seumur hidupku!

Ini semua berawal dari si kutu buku itu menabrakku tadi pagi, dan berakhir dengan perjodohan. Oh astaga! Kenapa hidupku benar-benar sial. Kenapa aku harus bertemu dengan Sehun si namja kutu buku pembawa sial itu. Oh ayolaaah.. bagaimana reputasiku disekolah? Aku dijodohkan dengan namja kutu buku yang bukan tipeku. NO WAY!!

ANDWAEEEEEEEE!!!!!”

To be continued..

Advertisements

2 thoughts on “My Nerd Boy – [Chapter 1]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s