[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 11

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not | Chapter 3 – Promise | Chapter 4 – Don’t Cry | Chapter 5 – It’s Hurt | Chapter 6 – Jung Yujin = Yujin Park | Chapter 7 – Surprise | Chapter 8 – Why? | Chapter 9 – Secret | Chapter 10 – After Court

“Kau kemana saja, Kim Taehyung?” tanyanya, dengan suara bergetar, dengan suara yang terdengar menyakitkan.

Taehyung sampai terluka mendengarnya.

“Kau bilang kau akan di sampingku. Kau bilang semuanya akan baik-baik saja. Tetapi kemana kau selama ini? Kenapa kau menghilang dari hadapanku? Kenapa kau tidak pernah datang? Kenapa kau hanya mengucapkan janji palsu padaku?” isaknya.

“Maaf.” kata Taehyung, dengan suara menyesal. “Maaf karena membiarkanmu sendirian menghadapi masa sulit.”

Taehyung menggigit bibir, menatap Yura dengan tatapan bersalah, membiarkan dadanya terus dipukuli oleh gadis itu, membiarkan gadis itu meluapkan seluruh emosi terpendamnya padanya.

“Kenapa… kenapa kau melakukan ini padaku?” isak gadis itu.

Diam sejenak sebelum Taehyung menjawab.

“Aku sakit, Yura.”

Dan demi mendengar jawaban lelaki itu, gerakan tangan Yura terhenti. Airmatanya berhenti mengalir saat ia menatap Taehyung yang balas menatapnya tanpa adanya keraguan ataupun mengandai-andai.

“Setelah hari persidangan itu, aku sakit parah.”

Chapter 11: Triangle Love

924743_988980147780680_1673223985_n

.

“Tak bisakah kau melihat ke arahku lagi?” —– Park Jimin

.

.yujin-2

“Maafkan aku, Park Jimin. Tetapi aku sudah mencintai oranglain.” —- Yura Park
.

images (3)

.

“Maaf bila nantinya kau terluka, Yura Park.” —– Kim Taehyung

.

Taehyung tidur selama setengah jam di atas sofa. Napasnya naik-turun dengan begitu teratur. Bibirnya yang pucat mendengkurkan suara yang pelan.

Yura duduk di atas lantai, di sisi sofa, di sebelah Taehyung, tetap terjaga memperhatikannya. Takut kalau lelaki itu akan terbangun dengan kesakitan.

Ini semua terasa mimpi bagi Yura. Taehyung datang padanya, setelah berminggu-minggu menghilang, dan mengatakan padanya kalau ia sakit. Yura terlalu terkejut, terasa begitu nyata, sampai sampai membuat airmatanya berhenti mengalir. Atau mungkin juga karena kemudian ia melihat Taehyung menangis sampai sampai Yura tak bisa menangis lagi.

Taehyung sakit. Penyakit langka yang jarang diderita oleh orang seusianya.

Sepulangnya dari sidang waktu itu, begitu tiba di dorm, Taehyung terjatuh, tiba-tiba. Ia merasa kepalanya sakit, pusing hebat, berputar-putar, perutnya juga terasa sakit dan mual, sebelum akhirnya ia pingsan saat itu juga. Pengacara Nam langsung membawanya ke rumah sakit tanpa sepengetahuan agensi dan personil Bangtan Boys.

Hari itu juga, setelah persidangan dinyatakan selesai, Taehyung divonis mengidap penyakit Psikosomatis. Dokter bilang penyebabnya adalah beban pikiran dan atau masalah emosi yang tidak bisa keluar atau disalurkan. Masalah emosi itu bisa berupa rasa berdosa, merasa punya penyakit, stres, depresi, kecewa, kecemasan atau masalah emosi lainnya. Gejalanya adalah mual, sakit perut, muntah, pusing, sakit kepala, gemetar, berkeringat, mulut kering, sakit dada, dan lainnya. Dokter bilang kecil kemungkinan untuk sembuh kalau Taehyung tidak melakukan terapi di awal. Ia diberi dua pilihan. Apakah melakukan terapi penyembuhan di awal namun harus diopname di rumah sakit dan tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya atau bertahan selama beberapa bulan dengan mengkonsumsi obat-obatan tetapi ia tidak perlu diopname di rumah sakit dan dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.

Dan Taehyung memilih pilihan pertama.

Maka dari itu, selama beberapa hari kemarin, ia tidak pernah datang menemui Yura.

Taehyung membuka matanya pelan-pelan. Dan hal yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Yura.

“Hei.” Yura tersenyum sembari mengelus rambut lelaki itu.

“Hei.” gumam Taehyung. Bibir pucatnya membentuk senyuman.

Tak ada yang bicara selama beberapa menit, hanya saling memandang satu sama lain. Dan ini terlalu sempurna untuk Yura.

“Maafkan aku.” Taehyung membuka suara, memecah keheningan. “Maafkan aku karena telat datang.”

Yura hanya tersenyum, menatap lelaki itu dengan tatapan lembut, lalu mengelus pergelangan tangan Taehyung. “Yang terpenting adalah kesehatanmu, Tuan Kim.”

Tangan Yura menelusuri guratan lelah di wajah Taehyung dengan gerakan pelan. Teringat baginya saat lelaki itu menangis ketika mengatakan kalau ia sakit di depan pintu apartemennya tadi. Untuk yang kedua kalinya ia melihat lelaki itu menangis. Seperti pada malam pertemuan pertama mereka, lelaki itu tampak begitu rapuh di depannya. Terisak, saat memberitahunya kalau ia sakit, saat memberitahunya kalau ia menderita, saat memberitahunya kalau ia ketakutan, saat memberitahunya kalau ia kabur dari rumah sakit karena sudah tidak tahan lagi. Dan demi melihat itu semua, Yura sempurna tertegun, airmatanya terasa kering, tak bisa lagi mengalir.

“Kembalilah ke rumah sakit, Taehyung.” ujar Yura lirih.

Air muka Taehyung berubah. Ia menggelengkan kepala, lalu meraih tangan Yura dan menggenggam tangan gadis itu kuat-kuat, memintanya perlindungan. “Aku takut, Yura. Aku tidak tahan di rumah sakit. Aku tidak mau melakukan terapi itu.”

Demi melihat ekspresi ketakutan di wajah Taehyung, Yura merasa hatinya mencelos. Membayangkan terapi seperti apa yang dapat membuat lelaki itu ketakutan di rumah sakit hingga membuat lelaki itu kabur dari rumah sakit dan mendatangi apartemennya. Dan dengan hanya membayangkannya saja, ia merasa bergidik.

Yura balas menggenggam tangan Taehyung, menatap manik lelaki itu dalam-dalam. “Kalau kau ingin sembuh, kalau kau ingin selamat dari penyakitmu, kau harus melakukan terapi itu, Taehyung.”

“Kalau begitu aku tidak ingin sembuh.”

“Hei, Kim Taehyung.” Yura tampak kecewa.

“Aku serius, Yura.” ia menatap Yura dengan mata berkaca-kaca. “Aku lebih baik tidak sembuh daripada harus melakukan terapi itu.”

“Kau harus sembuh, Taehyung. Kau harus selamat.”

Tatapan Taehyung lalu berubah tanpa ekspresi saat mendengar ucapan Yura. “Semuanya akan sama saja, Yura.”

Yura balas menatap Taehyung dengan tidak mengerti.

“Aku melakukan terapi ataupun tidak melakukan terapi, itu sama saja. Aku tidak akan pernah selamat.”

‘Aku tidak akan pernah selamat dari kasus ini, Yura….’

——————-

Taehyung kembali ke rumah sakit beberapa jam kemudian—setelah dipaksa oleh Yura, tentu saja. Awalnya Taehyung bersikeras tidak mau, tetapi begitu Yura mengancam akan menelepon pihak agensi untuk menjemputnya, Taehyung langsung terdiam. Baginya, lebih baik diantar oleh Yura daripada dijemput oleh pihak agensi. Akhirnya dengan berat hati, Taehyung mengiyakan permintaan Yura.

Mereka tetap bertemu wartawan saat keluar dari apartemen Yura. Tetapi mereka hanya berlalu, tidak menjawab segala pertanyaan wartawan itu. Mereka hanya membiarkan para wartawan itu mengabadikan momen tersebut.

Yura hanya mengantar Taehyung sampai depan rumah sakit. Setelah menyerahkan lelaki itu pada Pengacara Nam dan memastikan kalau lelaki itu dalam keadaan aman, Yura pergi ke kantor Haruman Fashion, setelah sebelumnya ia berkata akan menjenguk lelaki itu usai bekerja nanti.

Di dalam kantor, Yura merasa agak risih saat duduk di bangku kerjanya. Oh, bukan karena bangkunya. Sungguh bukan karena itu. Melainkan karena tatapan teman-teman sekantornya. Sudah hampir selama dua minggu ini, ia selalu mendapatkan tatapan yang tidak biasa dari teman-teman sekantornya. Ada yang menatapnya dengan tatapan ingin tahu, tatapan tidak suka, dan tatapan lainnya yang sulit untuk Yura definisikan. Bahkan Minju pun menatapnya dengan tatapan demikian. Dan hal tersebut benar-benar membuatnya tidak nyaman. Segala kegiatan yang ingin dilakukannya di meja kerja tidak bisa ia lakukan dengan baik.

Mister Baekhyun yang saat itu melihat asistennya berada pada masa sulit, segera memanggil gadis itu untuk masuk ke ruangannya. Yura merasa seperti terselamatkan. Ia bergegas masuk ke dalam ruangan bosnya itu, meskipun tetap saja lirikan-lirikan itu tetap mengikutinya sampai ia menghilang di balik pintu.

Mister Baekhyun mengeluarkan sebuah amplop dari dalam laci dan melemparkannya ke atas meja, lalu menatap Yura yang baru saja masuk ke dalam ruangannya dengan mimik serius.

“Untuk sementara ini, sampai konser Bangtan Boys selesai, pekerjaanmu akan kualihkan ke Big Hit Entertainment.” kata Mister Baekhyun.

Mata Yura mengerjap, terlalu terkejut dengan perkataan bosnya yang tiba-tiba. “A-apa?”

“Kau tahu sendiri Bangtan Boys akan menggelar konser besar akhir bulan ini, bukan? Aku akan mengalihkanmu untuk bekerja disana. Kau hanya tinggal mengurusi masalah busana yang akan mereka kenakan selama konser. Mulai besok—oh, mulai hari ini, setelah kau keluar dari ruangan ini— pindahlah ke Big Hit Entertainment, hanya sementara. Agensi dan manajernya sudah setuju untuk mengirimkan asistenku untuk bekerja disana sampai konser artisnya berakhir.”

Yura masih tidak bisa berkata apa-apa. Ia menatap amplop di atas meja Mister Baekhyun dengan mata terbelalak. Apakah ia dipecat?

“Kau tidak dipecat, Yura. Kau hanya kualihkan.” kata Mister Baekhyun, seakan dapat membaca apa yang dipikirkan Yura. “Kau juga bisa memulihkan perasaanmu disana. Setidaknya disana kau tidak akan mendapatkan tatapan-tatapan yang membuatmu tertekan, seperti disini.”

Mata Yura berkaca-kaca mendengar perkataan Mister Baekhyun. Kemudian ia membungkukkan badannya dalam-dalam pada bosnya itu. Merasa terharu. “Terimakasih, Mister Baekhyun. Terimakasih banyak.”

“Sudahlah, cepat kemas barang-barangmu. Aku tak ingin melihat wajahmu lagi disini.”

Yura tahu benar, meskipun bosnya itu bersikap diktator sekali padanya, Mister Baekhyun tetaplah manusia biasa, yang memiliki sisi kelembutan dan perhatian dalam hatinya.

“Aku berhutang banyak padamu, Mister Baekhyun.”

——————-

“Selamat datang, Yura Park.”

Yura menolehkan kepala ketika baru saja menginjakkan kakinya di salah satu ruangan di gedung Big Hit Entertainment. Ia menemukan Park Jimin duduk di salah satu bangku di depan meja rias, menatap ke arahnya dengan senyum di bibirnya. Lelaki itu bangun dari duduknya, melangkah mendekati Yura, lalu membantu gadis itu dengan membawa masuk barang-barang yang dibawa gadis itu ke dalam. Dua buah koper besar.

“Masih ada lagi?” tanya Jimin.

Yura mengangguk. “Ada di mobil. Tetapi itu bisa diambil nanti.” ia lalu memandang Jimin dengan pandangan heran. “Kau tahu aku akan datang?”

Kali ini Jimin yang mengangguk. “Manajer telah mengatakannya pada kami, kalau kau akan dialihkan kesini sampai konser kami berakhir.”

Bibir Yura membulat. Ternyata ini memang sudah direncanakan.

“Kalau kau merasa bosan disini, kau bisa datang ke studio Bangtan Boys di lantai atas. Aku akan pergi latihan dulu.” kata Jimin, hendak melangkah keluar.

Yura mengangguk. Namun begitu teringat sesuatu, ia membalik tubuh seraya berkata,“Oh ya, Park Jimin, Taehyung sakit, kau tahu itu, kan?”

Langkah Jimin terhenti di bingkai pintu. Kepalanya berputar ke arah Yura dengan mimik terkejut.

“Kau tahu darimana? Bahkan media belum tahu berita ini.”

“Taehyung datang ke apartemenku pagi tadi.”

Jimin tertegun. Menatap Yura dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Dan demi melihat tatapan Jimin yang seperti itu, membuat Yura bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sedang dipikirkan lelaki itu?

“Dia bukannya tidak mau menolongku saat itu, Jimin. Dia hanya terpaksa tidak datang, karena dia harus melakukan terapi. Dia—”

“Taehyung tahu apartemenmu?” tanya Jimin, menyela ucapan Yura.

Yura agak terkejut dengan pertanyaan Jimin yang tiba-tiba, tetapi kemudian ia mengangguk.

“Saat Taehyung vakum dari Bangtan Boys, dia tinggal di apartemenku.”

Jimin kembali tertegun. Dadanya berdebar tak keruan mendengar hal tersebut.

“Sebenarnya,” Jimin kembali bersuara, kali ini dengan suara tertahan. “ada hubungan apa di antara kau dan Taehyung?” tanyanya.

Yura tidak langsung menjawab, hanya balas menatap Jimin dengan tidak mengerti.

“Apakah hubungan kalian tidak sesederhana yang kupikirkan?” tanya Jimin lagi. Tatapannya pada Yura berubah tak menentu. Antara marah, kecewa, dan… cemburu.

Yura terdiam sejenak, menghela napas, lalu mengangguk. “Mungkin memang tidak sesederhana itu. Taehyung belum bisa benar-benar melihat ke arahku. Ia selalu teringat dengan Yujin setiap kali melihatku.”

“Kalau begitu,” Jimin maju selangkah mendekati Yura. Menatap gadis itu dengan tatapan yang begitu dalam, menembus tepat pada manik gadis itu, sementara dadanya berdebar keras saat ia melanjutkan, “bisakah kau hanya melihatku saja?”

Yura tertegun. “Park Jimin…”

“Tak bisakah kau melihat ke arahku lagi?”

——————-

Jimin duduk termangu di sudut ruangan dengan pandangan kosong. Tak peduli dengan suara berisik dari tengah ruangan. Tak peduli dengan Yoongi yang sedang menari di rengah ruangan. Tak peduli dengan suara tawa Hoseok yang menertawakan gerakan tarian aneh yang dilakukan Yoongi. Tak peduli dengan suara Namjoon yang sedang latihan nge-rap. Tak peduli dengan suara berisik Seokjin dan Jungkook yang sedang bercanda. Jimin tak peduli dengan itu semua. Ia hanya peduli pada hatinya, pada rasa sakit di hatinya. Atas ucapan Yura beberapa jam yang lalu.

“Tak bisakah kau melihat ke arahku lagi?”

Jimin kembali maju selangkah, semakin mendekat pada Yura.

“Aku kembali, Yura. Padamu. Menagih janjimu padaku, yang kaukatakan ketika itu. Aku datang lagi padamu.”

Yura menggelengkan kepala. “Tidak ada janji yang kukatakan padamu, Jimin.” kata gadis itu.

“Kau mengucapkannya, Yura, padaku. Aku masih mengingatnya dengan sangat di luar kepalaku.”

Yura kembali menggelengkan kepala. Dan Jimin merasa perih melihatnya.

“Selama ini aku mencarimu, Yura. Untuk mengatakan hal ini padamu. Bahwa aku… sudah menemukan Yujin. Dan pada hari itu tiba, aku akan menagih janjimu padaku. Untuk kembali bersama. Untuk kembali bersatu. Denganmu.”

Jimin kembali melangkah maju, namun Yura malah melangkah mundur, menjauhi Jimin. Dan Jimin merasa sangat sakit saat melihat gadis itu justru melangkah mundur. Apakah ini sebuah penolakan? Tetapi ia harus tetap melanjutkannya, sekarang atau tidak sama sekali.

“Aku menyukaimu, Yura. Aku masih mencintaimu.”

“Maafkan aku, Park Jimin.” Jimin mendengar Yura bersuara, dan demi mendengar kata ‘maaf’, Jimin sudah merasakan hatinya patah di beberapa bagian. “Tetapi aku sudah mencintai oranglain.”

Jimin tahu itu. Sejak gadis itu menyatakannya di hari persidangan waktu itu, Jimin sudah tahu. Kini ia menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak menyatakan perasaannya pada gadis itu. Seharusnya ia tahu, kalau semua akan berakhir seperti ini. Seharusnya ia tahu kalau gadis itu akan menolak perasaannya. Tetapi… kenapa harus Kim Taehyung yang menjadi alasannya? Kenapa harus lelaki itu?

“Oh ya, kudengar Yura Park sudah datang.” kata Yoongi, sambil merenggangkan tubuhnya saat dirasanya tubuhnya pegal setelah selesai menari.

Jungkook mengangguk. “Iya, benar. Tadi aku sempat bertemu dengannya di bawah. Tetapi tampaknya keadaannya sedang tidak baik.”

Demi mendengar kalimat yang diucapkan Jungkook, Jimin langsung menolehkan kepala. “Tidak baik bagaimana maksudmu?”

Jungkook tampak berpikir. “Entahlah, sepertinya Yura noona baru saja mendengar kabar yang mengejutkan.” kemudian ia menjentikkan jarinya. “Ataukah Yura noona baru saja mendengar kabar kalau Taehyung hyung sakit?”

Jimin kembali mengalihkan pandangannya, lalu menghela napas berat. Tidak, bukan itu, Jungkook. Bukan kabar itu yang membuat gadis itu terkejut.

Hoseok menganggukkan kepala. “Mungkin bisa begitu. Mereka kan memiliki hubungan sesuatu.” katanya, lalu menghela napas. “Tetapi aku benar-benar tidak menyangka kalau ternyata dia kakak dari Yujin. Pantas saja wajahnya mirip sekali dengan gadis itu.”

Jungkook menyenggol lengan Hoseok dan mengedikkan pandangannya pada Jimin. Oh, kenapa ia selalu saja lupa untuk tidak membicarakan Yujin di depan Jimin.

Yoongi memperhatikan Jimin yang terdiam di sudut ruangan. Dan melihat hal tersebut benar-benar membuatnya penasaran. Sudah lama sekali ia ingin bertanya akan hal ini, tetapi selalu saja ia tahan. Tetapi hari ini, setelah hari persidangan itu, tampaknya sudah tidak apa-apa kalau ia menanyakan hal ini.

“Hei, Park Jimin.” Yoongi melangkah mendekati Jimin. “Sebenarnya apa yang terjadi di antara kau dan Yujin? Kenapa ekspresimu selalu berubah setiap kali kita membicarakan Yujin?”

Jimin tidak langsung menjawab. Ia malah menghela napas berat.

“Kau membencinya? Atau mungkin malah… kau menyukainya?” tambah Yoongi.

Keempat personil Bangtan Boys lainnya hanya melihatnya dari kejauhan dengan wajah ingin tahu. Mereka tak bisa memungkiri kalau mereka juga merasa penasaran dengan hal tersebut.
Jimin menggelengkan kepala. “Bukan begitu, hyung.”

“Lalu?”

Lagi-lagi Jimin menghela napas berat sebelum menjawab, “Karena setiap kali aku mendengar namanya, melihat wajahnya, aku…” ia diam sejenak. “Aku teringat Yura.”

Jungkook dan Hoseok saling pandang. Persis seperti yang mereka duga. Jimin pasti menyukai gadis yang bernama Yura itu.

“Aku teringat dengan janji gadis itu, untuk membawa Yujin kembali ke hadapannya jika saja aku menemukannya.” Jimin kembali menghela napas berat. “Tetapi hingga hari kematian gadis itu, aku belum bisa membawanya kembali ke depan Yura.”

Benar, kalau saja sejak awal ia bertemu dengan Yujin, ia pasti sudah memberitahu Yura tentang keberadaan gadis itu, dan mungkin Yura pun tidak akan mengenal Taehyung dan tidak akan memiliki perasaan pada lelaki itu. Dan tentu juga, Yura masih mengingat janjinya dan akan kembali padanya. Jimin merasa menyesal karena tidak pernah melakukan semua itu dari awal.

Jimin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan ekspresinya yang tidak terkontrol. “Kenapa… penyesalan selalu saja datang di akhir, hyung?”

Yoongi menepuk bahu Jimin, prihatin.

“Kalau datang di awal, bukan penyesalan namanya, Jimin.”

——————-

Pintu geser kamar rawat inap itu bergeser saat Yura membukanya. Ia melongokkan kepala ke dalam dan melihat Taehyung sedang duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit dengan kacamata bertengger di hidungnya dan sebuah buku bacaan di tangannya. Senyum Taehyung melebar begitu melihat Yura masuk ke dalam.

“Akhirnya kau datang juga.” kata Taehyung, menyambut kedatangan gadis itu.

Yura melangkah masuk ke dalam, meletakkan keranjang buah-buahan di atas nakas, lalu duduk di sisi ranjang Taehyung, memperhatikan wajah lelaki itu.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Aku bosan.” Taehyung memajukan bibirnya, lalu sedetik kemudian ia tersenyum. “Tetapi aku merasa jauh lebih baik setelah bertemu denganmu.”

Yura tersipu.

“Bagaimana terapimu?”

Taehyung memijit pelipisnya pelan. “Namanya hipnoterapi. Banyak para psikolog yang datang membantu, dan hal itu cukup membuatku pusing hebat karena pertanyaan-pertanyaan mereka. Tetapi dokter bilang aku harus bertahan selama hipnoterapi berjalan, memang seperti itulah terapi penyembuhannya. Kalau aku tidak bertahan, masa terapi akan berlangsung lebih lama dari biasanya. Tetapi aku benar-benar tidak tahan, Yura. Aku ingin cepat-cepat mengakhirinya.”

Yura mengangguk setuju. “Kalau begitu, cepatlah akhiri dengan mengikuti seluruh perintah dokter dan psikolog itu, Kim Taehyung.”

Taehyung menghela napas berat. “Kau tidak tahu apa yang mereka lakukan padaku, Yura.”

Yura menatap Taehyung dengan tatapan ingin tahu. “Memangnya apa yang mereka lakukan?”

Taehyung tidak langsung menjawab, hanya balas menatap Yura. Dan entah kenapa ia merasa hatinya berdebar, lagi-lagi karena perasaan bersalah.

“Maaf.”

Tatapan Yura berubah tidak mengerti. “Kenapa kau malah meminta maaf?”

“Maaf bila nantinya kau terluka, Yura Park.”

Yura semakin menatap Taehyung tidak mengerti, lalu mengalihkan pandangan. “Kau ini bicara apa sih?” ia mengambil keranjang buah-buahan di atas nakas dan membuka bungkusnya.

Taehyung tersenyum saat melihat keranjang buah-buahan itu. “Kau tidak perlu membawa bingkisan buah-buahan itu padaku, Yura.”

“Ini bukan dariku. Namjoon-ssi yang menitipkannya padaku untuk diberikan padamu.”

Air muka Taehyung berubah demi mendengar nama leader grup-nya disebut oleh Yura.

“Bagaimana kabar mereka?” tanya Taehyung, dengan suara datar, namun entah kenapa Yura malah mendengar nada kerinduan dalam suara itu. “Mereka tidak datang menjengukku?”

“Mereka masih latihan saat aku pergi kesini. Jadi mereka hanya menitipkan bingkisan itu padaku. Dan mereka menitipkan pesan padaku untuk disampaikan padamu.” Yura berdeham sejenak, sebelum melanjutkan, “Berjuanglah, Kim Taehyung. Kami menunggumu di studio.” dengan suara yang dibuat semirip mungkin dengan suara Namjoon saat menyampaikan pesan tersebut pada Yura.

Dan demi mendengar suara Yura yang seperti itu, Taehyung tak bisa menahan tawanya. Yura tersenyum lega saat melihat air muka Taehyung kembali mencair.

“Mister Baekhyun mengalihkan pekerjaanku ke Big Hit Entertainment sampai konser Bangtan Boys berakhir.”

Taehyung mengangkat alis. “Busana?”

Yura mengangguk. “Maka dari itu, cepatlah kembali ke studio, Kim Taehyung. Agar aku bisa melihatmu setiap hari disana, melihatmu latihan menari, latihan menyanyi, dan melihat aktivitasmu sehari-hari disana.”

Taehyung tersenyum, lalu mengangguk. “Tunggu aku disana, Yura. Aku pasti akan segera keluar dari rumah sakit.”

Namun sedetik kemudian senyumnya menghilang saat ia teringat dengan Jimin. Kalau memang Yura bekerja di Big Hit Entertainment untuk sementara ini, berarti gadis itu akan bertemu dengan Jimin setiap hari. Dan entah kenapa hal itu membuat perasaannya menjadi kacau.

“Memangnya kalau aku ada disana, kita akan bertemu setiap hari?” tanya Taehyung.

Yura tampak berpikir. “Mungkin saja. Tadi sudah beberapa kali aku berpapasan dengan Jungkook-ssi.”

“Jimin juga?”

Yura terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Ya, dia juga.”

Dada Taehyung berdebar saat melihat perubahan air muka Yura. Tangannya mulai berkeringat dingin.

“Bagaimana kau bisa mengenalnya?” tanya Taehyung. Teringat dengan pertemuan gadis itu dengan Jimin di depan toilet sebelum persidangan dimulai beberapa tempo lalu. “Tampaknya kalian saling mengenal.”

Yura menatap Taehyung ragu. “Apakah tidak apa-apa kalau aku memberitahumu?”

Taehyung mengangguk.

Yura menghela napas, mengendalikan perasaannya. “Sebenarnya, Jimin adalah mantan pacarku saat SMA.”

Taehyung terkejut setengah mati. “Pa-pacar?”

“Mantan.” ralat Yura, ia menatap Taehyung dengan tatapan bersalah. “Maaf tidak memberitahumu dari awal.”

Taehyung terpekur. Tatapan matanya berubah kosong. Dan debaran di dadanya semakin keras.

“Berarti… Jimin mengenal Yujin?”

Yura mengangguk. “Sebelum kau mengenal Yujin, Jimin sudah mengenalnya terlebih dahulu. Dengan nama Yujin Park.”

Yura menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Jimin masih bersamaku ketika aku dan appa melewati masa sulit itu bersama Yujin. Bahkan Jimin ada disana ketika hari kematian appa dan hari kaburnya Yujin dari rumah. Jimin tahu semuanya tentang keluargaku, tanpa terkecuali.”

“Jadi, Jimin sudah tahu dari awal kalau Yujin mengkonsumsi barang terlarang itu? Bahkan dia lebih tahu dari dulu daripada aku?”

Yura kembali mengangguk. “Jimin tahu semuanya.”

Taehyung merasa tubuhnya lemas. Berarti, ketika Jimin mengatakan padanya untuk tidak mendekati Yujin, mengatakan bahwa gadis itu berbahaya, semata-mata karena lelaki itu ingin melindunginya? Dari kemungkinan terbawanya ia dalam perangkap barang terlarang yang digunakan Yujin? Astaga, apa ini maksudnya? Bukankah Jimin bermuka dua padanya? Bukankah Jimin mengkhianatinya? Tetapi kenapa saat ini ia merasa kalau lelaki itu sebenarnya… sangat menyayanginya?

“Aku merasa bersyukur karena Jimin tidak pernah mengungkap keburukan Yujin di depan publik. Yah, walaupun pada akhirnya keburukan itu tetap terungkap, yang penting bukan dia yang menyebarkan berita itu.”

Taehyung menatap Yura dengan perasaan kacau. “Lalu, apa yang membuat hubungan kalian berakhir?”

Kali ini Yura tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, mengendalikan perasaannya, sebelum kembali bersuara, “Karena aku merasa bersalah pada Yujin.”

“Yujin kehilangan arah selama ini bukan hanya karena appa yang menelantarkannya, tetapi aku juga. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Aku terlalu memperhatikan Jimin, tanpa sama sekali memperhatikan Yujin, adikku sendiri. Aku terlalu menyayangi Jimin, tanpa sama sekali menyadari kalau Yujin merasa kesepian. Aku… juga adalah orang yang menyebabkan Yujin kehilangan arah. Aku merasa bersalah padanya.”

Tatapan Yura berubah kosong, saat mengingat masa itu. “Maka dari itu, aku mengakhiri hubungan kami.” kemudian terbeberlah kisah cintanya dengan Jimin yang telah berakhir lima tahun yang lalu.

Jimin mengejar langkah Yura yang sudah melangkah jauh di depannya dengan tatapan panik. Ia meraih lengan Yura dengan gerakan cepat dan membalik tubuh gadis itu, untuk menghadap ke arahnya, menatap wajahnya.

“Jangan seperti itu, Yura. Kumohon.” kata Jimin, dengan tatapan nanar, dengan mata berkaca-kaca.

“Justru aku yang memohon padamu, Jimin. Tolong aku.”

Jimin menggelengkan kepala, merasa frustasi. “Tetapi tidak begini caranya, Yura. Aku bisa menolongmu, dengan cara yang lain. Tetapi tidak dengan berpisah. Tidak dengan mengakhiri hubungan seperti ini. Kita sudah memulai ini sejak setahun yang lalu, lalu kenapa tiba-tiba kau melakukan ini?”

Mata Yura berkaca-kaca saat balas menatap Jimin. “Ini tidak tiba-tiba, Jimin. Ini sudah kurencanakan. Sejak kepergian appa dan Yujin.”

Jimin menatap Yura dengan tatapan terluka. Sementara tatapan Yura berubah kosong, namun matanya tampak berkaca-kaca, menahan emosi yang meletup di dadanya.

“Biarkan aku merasakan rasa kesepian yang dirasakan Yujin saat aku dan appa tidak mempedulikannya.”

“Astaga, Yura Park!” Jimin mengenyahkan lengan Yura dari tangannya dengan cukup keras. Lalu ia berjalan mondar-mandir, mengacak rambutnya, frustasi.

“Ini kesalahanku.”

“Ini bukan kesalahanmu, Yura! Berhentilah menyalahkan diri sendiri!” bentak Jimin.

“Ini salahku, Jimin!” Yura balas membentak. “Kalau saja aku tidak hanya memperhatikanmu, kalau saja aku tidak hanya peduli padamu, dan kalau saja aku tidak berpacaran denganmu,” airmata Yura mengalir. “Yujin tidak akan menyentuh barang-barang terlarang itu. Yujin tidak akan pernah merasa kesepian hingga akhirnya menyentuh barang-barang terlarang itu.”

Yura menatap Jimin. “Maafkan aku, Jimin. Tetapi kurasa hubungan kita memang harus berakhir sampai disini.” ia maju selangkah, mendekati Jimin, menatap lelaki itu dengan ragu. “Nanti, apabila aku sudah mengetahui keberadaan Yujin, apabila Yujin telah kembali, kau boleh datang kembali padaku. Apabila kau bertemu dengannya, entah kapanpun itu, ajaklah dia untuk pulang, ajaklah dia untuk bertemu denganku, ajaklah dia untuk tinggal bersamaku lagi. Dan saat itu juga, saat Yujin sudah kembali, kau boleh kembali padaku, Jimin. Kau boleh datang padaku lagi.”

“Lalu,” Taehyung menatap Yura tanpa ekspresi, setelah gadis itu selesai bercerita. “Jimin datang? Apakah dia datang kembali padamu?”

Yura diam sejenak, kemudian mengangguk. “Iya, dia datang. Tetapi dia tidak membawa Yujin. Dia hanya membawa kabar tentang Yujin. Kalau adikku sudah… meninggal.”

Taehyung terpekur. Teringat dengan hari dimana pertama kalinya ia melihat Yura menangis karena mengetahui kalau Yujin telah meninggal. Adalah hari dimana ia kembali diingatkan dengan kematian Yujin-nya.

“Jadi, orang yang memberitahumu kalau Yujin sudah meninggal adalah.. Jimin?”

Yura kembali mengangguk. “Iya. Aku juga bertanya pada Halla, dan dia mengiyakan.”

Taehyung terdiam sejenak. Perasaannya kembali kacau. Kenapa dunia ini begitu sempit? Kenapa ia harus terlibat dengan orang-orang yang lebih mengetahui Yujin selama ini? Kenapa dunia ini begitu mempermainkan hidupnya? Kenapa ia tetap diberikan kehidupan dalam dunia yang menyesakkan ini? Seharusnya ia tidak pernah ragu untuk terjun ke Sungai Han waktu itu. Seharusnya ia membiarkan dirinya jatuh saja disana. Menyatu bersama abu Yujin. Menyatu bersama perasaan bersalahnya. Mati membeku disana. Dan segala rasa sakit dan penyesalannya juga akan membeku. Hilang tak berbekas.

“Lalu,” Taehyung kembali bersuara, dengan suara bergetar. “Apakah kau menerimanya kembali?”

Yura tidak langsung menjawab.

“Kau bilang padanya kalau kau sudah mengetahui keberadaan Yujin, Jimin boleh kembali padamu, lalu apakah… kau menerimanya kembali?”

Di luar dugaan Taehyung, Yura justru menggelengkan kepala. “Tidak.” jawabnya.

Yura menatap Taehyung dengan tatapan penuh arti, lalu melanjutkan, “Karena aku sudah mencintai oranglain.”

Dan demi mendengar jawaban itu, perasaan bersalah itu kembali membayangi Taehyung. Tanpa terkecuali. Seluruh perasaan bersalah itu. Tentang kebohongannya, dan juga tentang… suatu hal yang tidak satupun orang ketahui.

Di luar pintu, Jimin berdiri mematung dengan tatapan mengarah pada kedua makhluk insan di dalam ruangan. Ia memperhatikan Yura dari kejauhan, dengan tatapan khawatir. Bibirnya bergetar saat berkata, “Jangan dia, Yura. Jangan mencintai Taehyung.”

Tatapannya lalu beralih pada Taehyung. Menatap lelaki itu dengan perasaan marah. Teringat dengan kesalahan terbesar lelaki itu, malam itu, pada hari kematian Yujin.

Sebenarnya, pada malam kematian Yujin, Taehyung ada disana, di jembatan layang itu. Jimin juga ada disana. Tetapi sayangnya, Taehyung tidak tahu akan hal itu. Taehyung tidak tahu, kalau sebenarnya, Jimin tahu semuanya, pada malam kematian Yujin itu. “Lelaki itu… akan membuatmu terluka nantinya, Yura. Jangan mencintainya.”

“Cintai aku saja…” lirihnya pedih.

—tbc

NEXT CHAPTER: HYPNOTHERAPY

“Tetapi kenapa kau malah memanggilku kesini, dokter?” — Yura Park

“Aku hanya ingin kau mengakuinya, Kim Taehyung.” — Park Jimin

“Aku ingin melepaskan semua beban pikiranku, dokter. Bantu aku.” — Kim Taehyung


Chapter 11 is hereeeee!
Jiminnieeee~ :”( yang sabar ya nak :”(
hehe gatau nih mau ngomong apa, enjoy it aja ya guys 🙂

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 11

  1. Asli dah….jd kasian sama jimin masa. Aku kira penyakit Taehyung penyakit biological ternyata psikis, psikosomatis. Aku penasaran knp jimin kayak menganggap bahwa Taehyung itu agak berbahaya ya?

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s