Cannibal [Chapter 5]

CANNIBAL 2 Author : slmnabil | Cast : Kim Jongin, Jeon Hyena [OC], Kang Seulgi, Key

Genre : Romance, Fantasy, Thriller, Angst | Length : Chaptered | Rating : 17

Poster by Jungleelovely @poster channel

“Jika sejatinya mereka anak baik maka ia bisa kembali menjadi anak baik, namun jika sudah kecanduan mereka bisa melanjutkan rutinitas barunya.”

“Lalu kenapa kau datang sendirian?!”

Jongin tahu ia akan kena omel Hyena jika pulang dengan keadaan seperti ini. Namun terluka merupakan bagian dari pekerjaannya sebagai polisi. Meski Hyena tahu betul, tapi melihat Jongin yang sering sekali dalam keadaan tidak baik-baik saja, wanita mana yang akan tenang dengan itu?

“Sayang, kau tahu Ibumu mengatakan apa padaku?” tanya Jongin mencoba mendinginkan situasi, siapa saja yang melihat mereka akan tahu Jeon Hyena sedang marah besar.

Melihat istrinya tak kunjung menjawab Jongin melanjutkan, “Kita itu saling melengkapi. Aku sering terluka dan kau jarang sekali. Kenapa? Karena kau diciptakan untuk mengobatiku.”

“Aku akan melarang kau menghubungi Ibu mulai sekarang.”

Jongin menyahut, “Kenapa? Ibumu kan tidak mengatakan sesuatu yang salah.”

Ia memperhatikan Hyena yang masih menunduk meski pekerjaan mengobatinya sudah selesai. Rambut coklat madunya yang tergerai bebas membuat wajah ayu Hyena terhalang. Jongin menggapainya lalu menyelipkannya ke telinganya. Namun ia membeku saat setetes air meluncur bebas dari mata Hyena.

“Aku takut kau mati….” Hyena mulai terisak.

Jongin mengelus rambutnya lembut. “Sayang, aku tidak akan kemana-mana.”

“Dulu kau menangis seperti itu,” Jongin menyisipkan senyum ringan. “Seperti anak kecil yang takut kehilangan boneka barbienya.”

Hyena tidak mengerti, kenapa senyum Jongin begitu tulus? Seperti ia hanya sedang bernostalgia ke masa-masa indahnya dahulu. Tidak mengenal hubungan saling memakan, tidak mengenal bagaimana rasa daging manusia.

Dulu, Hyena hanya akan merengek setiap kali Jongin menjadikannya bahan gurauan yang mengundang tawa renyah di acara keluarga. Ia tidak akan mau satu ranjang dengan Jongin, bahkan tidak mau mengajaknya berbicara.

Tapi sekarang, ia hanya diam.

“Sudah selesai,” ujar Jongin setelah merekatkan balutan perban dengan plester. Ia mengangkat wajahnya, dan tepat saat itu ia bertemu pandang dengan Hyena yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Kim Jongin.

Tidak ada yang bicara, tidak ada yang berniat mengakhirinya. Baik Jongin maupun Hyena sama-sama membeku di tempatnya.

“Kai,” Hyena buka mulut. “Kenapa Seulgi memanggilmu seperti itu? Kai?”

Jongin menyunggingkan senyum. Demi Tuhan pria ini merencanakan akan tersenyum lepas seperti itu berapa kali hari ini? Yang bahkan mencapai setengahnya saja belum.

“Kau mulai tertarik lagi tentangku? Jujur saja, kita bahkan masih sah sebagai pasangan. Kita belum bercerai,” timpal Jongin.

“Seu..Seul..Seulgi! Kau tidak memeriksanya? Siapa tahu dia kabur, atau mengamuk misalnya,” kata Hyena gelagapan. Ia tidak tahu perasaan macam apa ini, hanya saja ia tidak menyukainya. Rasanya, mengerikan.

Jongin sepertinya mengerti, Hyena menghindar dari pertanyaannya dan pasti wanita itu ingin dirinya cepat-cepat menyingkir. Hidup tiga tahun bersama Hyena, Jongin masih mengerti betul karakternya seperti apa. Bahkan setelah mereka berpisah kurang lebih dua tahun lamanya.

Jongin meraih kotak obatnya kemudian beranjak keluar. Ia berhenti di daun pintu dan menoleh, sebelum berkata, “Kai, aku meminta Seulgi dan semua orang untuk memanggilku seperti itu. Aku tidak ingin diam di tempat, di masa lalu. Dimulai dari nama, jadi kuharap kau bisa melakukan hal yang sama.”

“Aku bagian dari masa lalumu, Kim Jongin.”

Jongin hanya tersenyum disusul bunyi ‘click’ pintu yang ditutup.

Bibi Han sudah seperti itu sejak semalam, mondar-mandir di balkon kamar Hyena sembari menggigiti jarinya. Ia merasa bersalah sekali karena saat kerusuhan terjadi dirinya tidak berada di sini untuk menjaga Hyena. Kendati Key tidak menyalahkannya tetap saja ia tak enak hati melihat tuannya tidak keluar kamar berhari-hari.

Key tidak makan, tidak bekerja, bahkan tidak bicara. Bibi Han tidak tahu guncangan sebesar apa yang pria itu alami, Key belum mau menceritakan kejadiannya. Satu yang ia tahu pasti ada hubungannya dengan hilangnya Hyena, atau masalah di kasino.

“Nona belum menghubungi?” tanyanya pada asisten rumah tangga yang kebetulan melintas.

Ia menggeleng, tapi Bibi Han bisa membaca kalau ada yang disembunyikan oleh Asisten Kang, jadi ia memanggilnya untuk mendekat.

“Kang Seulgi menghantam kepala Nona dengan tabung pemadam, dan ia membawanya pergi.”

Bibi Han menyahut, “Kalau itu Kang Seulgi….bukankah dia adikmu?” tanyanya. “Dan dia bekerja dengan Kai? Bukankah mereka pesuruh gelap kasino?”

“Kai itu….Kim Jongin, suami Nona Jeon.”

Saat itulah terdengar suara pintu yang dibuka, dan mereka tahu betul siapa yang baru keluar dari sarangnya. Key dengan wajah pucat dan pakaian yang dia kenakan terakhir kali saat ia pulang.

“Ayah memanggilku dan Ibu menyuruhku untuk menginap di rumah selama beberapa minggu. Kalian pulanglah, jangan lupa kunci semua pintu sebelum pergi.”

“Tuan, Anda baik-baik saja?” tanya Bibi Han.

Key tersenyum lemah. “Bohong jika aku mengatakan seperti itu. Aku pergi, Bi,” timpalnya.

Ia menuruni beberapa anak tangga untuk sampai di lantai bawah. Bercak-bercak darah kering masih terlihat meski ternitnya dilapisi karpet beludru merah gelap. Key kembali teringat kepada Hyena.

Ia sangat mengkhawatirkannya, namun tampaknya ia harus melupakannya sejenak. Ia harus fokus mengemudi bukan? Kecuali ia ingin mati konyol karena sesuatu yang mereka sebut kecelakaan.

Tapi tiba-tiba perutnya bergelenyar, Key sangat lapar. Ia sadar betul makanan biasa tidak akan membuatnya kenyang, perutnya butuh sesuatu yang ‘spesial.’

Seulgi tidak bisa menyembunyikan binar di matanya begitu retinanya menangkap refleksi wanita yang berdiri di depan pintu rumah. Rambutnya digelung rapi di belakang menunjukkan wajah ayunya secara keseluruhan. Kaca mata dan jas putih selutut yang masih melekat di tubuhnya, menunjukkan ia langsung bergegas kemari dari tempatnya bekerja.

“Silahkan masuk, Kai sudah menunggumu Dok.”

Wanita itu tersenyum, menampakkan deret giginya yang cemerlang. Ah, dan jangan lupakan senyum matanya. “Lama tidak berjumpa Seulgi, bagaimana keadaannya?”

“Kai terlihat senang akhir-akhir ini, tapi aku tidak tahu kesenangan itu baik untuk kesehatannya atau tidak.”

Mereka berjalan menuju kamar Jongin di lantai dua sambil berbincang. Tiffany- nama sang dokter- sedikit teralihkan saat melihat seorang wanita cantik berkursi roda melintas dari arah kiri ruangan besar itu. Sedang Seulgi masih saja sinis tiap kali Hyena muncul dalam pandangannya.

“Sejak kapan ada dapur?” tanya Tiffany bingung sekaligus tak percaya. Ia juga termasuk ‘pemakan spesial’ oleh karenanya melihat ruangan yang dianggapnya tak penting semacam dapur membuatnya penasaran.

“Dok, kau lebih tertarik pada dapurnya daripada wanitanya?”

Jongin, dari pangkal anak tangga muncul dengan pakaian putih panjang dan celana katun hitam. Gaya santai ala rumahan yang disempurnakan oleh rambutnya yang ia biarkan berantakan. Jongin memang lebih sering menghabiskan waktu di rumah akhir-akhir ini.

“Begitulah. Bagaimana kabarmu, Kai?”

Jongin tersenyum. “Never better,” timpalnya. “Ayo Dok, banyak yang ingin aku ceritakan.”

Artinya Seulgi tidak bisa ikut lebih jauh. Jongin tidak pernah membiarkan Seulgi untuk bergabung dengan konseling rutinnya, meski percuma karena dia tahu Seulgi selalu menguping pembicaraannya. Tapi, memang tidak ada yang perlu disembunyikan dari rekannya –dalam anggapan Jongin- itu.

Tiffany menepuk punggung Seulgi sebelum menyusul Jongin yang sudah mendahuluinya ke ruangan di ujung lorong.

Mereka duduk berhadapan, dengan cangkir berisi ‘cairan merah kental’ dan beberapa ‘stick’ sebagai jamuan. Tiffany dapat menangkap aura yang dikeluarkan pria di hadapannya ini jauh lebih cerah dibandingkan konseling-konseling sebelumnya. Dan ia penasaran sekali kenapa.

“Karena dapurnya atau wanitanya?”

Jongin tertawa kecil. “Aku belum pernah memperlihatkan fotonya ya? Dia Hyena, Jeon Hyena. Kau tahu maksudku kan, Dok?”

Tiffany tampak sedikit terkejut, ia terlihat senang. Memang benar Jongin selalu mengatakan tentang Hyena, istrinya yang hanya ia lihat ketika sedang tidur selama dua tahun. Kepada dirinya jugalah Jongin menceritakan semua kejadian yang pernah ia lalui dalam kehidupannya. Tiffany mengetahui Jongin luar-dalam.

“Pantas kau tidak memintaku menghapus tentangnya, istrimu sangat cantik.”

Jongin menunduk, ia seperti sedang kasmaran. “Dia hanya meninggalkan kenangan yang indah Dok, tak ada alasan untuk melupakannya.”

Sebenarnya sesi terpenting dari konseling ini adalah penghapusan ingatan tertentu, seperti yang Tiffany katakan sebelumnya. Dokter T akan menceritakan segalanya tentang sosok Kim Jongin kepada kalian, jadi pastikan untuk menjaganya sebagai rahasia. Atau Jongin akan mengurungmu di lantai bawah tanah.

Kim Jongin, nama pasienku. Aku bertemu dengannya dua tahun yang lalu. Saat itu Minggu malam tahun 2089, dan cuacanya sedang berkabut. Keadaan belum se-stabil sekarang, karena kanibalisme baru saja terjadi.

Pasangan saling memangsa, orang tua menjejalkan anaknya bulat-bulat, bahkan manusia memakan dirinya sendiri. Malam itu benar-benar mengerikan.

Aku berhasil melarikan diri dari rumah, mengendari mobil alphard hitam menyusuri jalanan yang bermandikan darah. Jendela kututup rapat-rapat untuk mengurangi bau anyir yang menusuk-nusuk rongga hidungku.

Aku bersyukur sekali karena sudah menghabiskan makan siangku di penerbangan dari Roma tadi. Dan setibanya di rumah, keluargaku sudah menjadi gila. Mereka saling memangsa. Sama halnya dengan manusia yang saling berkelahi di tepian jalan komplek perumahan, mereka terlatih tanpa pernah mencoba sebelumnya. Seperti naluri alamiah untuk mempertahankan hidupnya.

Aku sedikit teralihkan dengan kerusuhan ini sampai tak sadar mobil yang kukendarai menabrak seseorang yang kebetulan melintas. Ada keinginan untuk keluar dan memastikan keadaannya, aku masih memiliki sisi kemanusiaan, hanya saja aku takut. Namun tiba-tiba, orang yang kutabrak merangkak ke kaca depan mobilku.

It was Jongin, and he cried.

Aku terkejut, tentu saja. Sementara manusia lain sibuk saling memangsa, pria ini menangis tampak putus asa. Dan sialnya naluriku sebagai psikiater membuatku membuka pintu mobil, menarik Jongin masuk.

Kami melarikan diri dari Korea, menuju rumah pamanku di Amsterdam. Syukurlah, saat itu di sana belum tersebar kanibalisme dan masih cukup banyak makanan. Aku dan Jongin, selamat untuk beberapa waktu.

Jongin hampir terbunuh beberapa kali, ia melakukan percobaan bunuh diri. Jadi kami memasungnya saat itu. Karena itulah aku tahu, malam dirinya menangis adalah malam ia memangsa putrinya sendiri. Jongin menjadi gila, dan akulah yang mengobatinya.

Aku melakukan penghapusan memori, kejadian malam itu dan eksistensi putrinya yang kubuat memang seolah tak ada di dunia ini. Memorinya hanya sampai pagi sebelum Hyena mengatakan ia mengandung.

Dan Jongin semakin membaik dari hari ke hari. Ia menanyakan keberadaan Hyena, namun aku tidak bisa berbuat banyak dan hanya mengatakan bahwa istrinya ada di Korea. Tapi pria itu benar-benar pergi, sedang aku tak tahu wanita itu masih hidup atau tidak.

Tahun berikutnya Ayahku menghubungi Paman, ia bilang Korea mendapatkan banyak pasokan makanan berkat hubungan luar negerinya, dan ia memintaku kembali. Awalnya aku tidak mau, tapi mendengar hanya Ayah yang tersisa dari keluargaku, aku memutuskan untuk pulang.

Jongin tidak menghubungiku selama beberapa bulan, sampai aku bertemu Seulgi- tetangga Jongin di Korea setelah kepulangannya dari Amsterdam. Ia panik, mencari bantuan di jalan raya. Aku yang menghampirinya waktu itu, dan ternyata ia membuatku kembali bertemu dengan Kim Jongin.

Ingatannya kembali, dan penyebabnya karena Seulgi adalah ‘pecandu’, bahkan setelah awan gelap itu pergi ia masih haus akan makanan special itu. Sialnya ia mengajak Jongin melakukan hal yang sama, dan ia ingat soal putrinya. Jongin melakukan percobaan bunuh diri lagi. Jadi aku melakukan prosedur yang sama, penghapusan memori.

Ini semakin buruk, saat kanibalisme mulai muncul lagi di Korea, dan Jongin salah satunya. Mau tidak mau , prosedur yang sedikit berbeda kuterapkan padanya. Penghapusan memori jangka panjang, namun aku tidak tahu sampai berapa lama.

Aku masih mengunjunginya setelah beberapa bulan berlalu, Jongin semakin baik. Ia menceritakan kegiatan malamnya akhir-akhir ini, tentang mengunjungi Hyena dan menciumnya. Aku tertawa saja mendengarnya.

Namun suatu malam ia bilang Hyena tidak di rumah, ia menemui Key dan pria itu menghajarnya habis-habisan karena Kim Ahra. Untuk yang ketiga kalinya, memorinya kembali kuhapus dengan ilmu yang kupelajari lebih dalam lagi. Katanya prosedur yang kali ini bisa menghapusnya secara permanen, namun aku tidak tahu kebenarannya.

Bagaimanapun kuharap itu yang terakhir, karena sampai detik ini, saat kami berbincang seperti ini Jongin masih belum mengetahuinya, meski sudah banyak nyawa yang ia habisi. Yang Jongin tahu hanyalah aku dokternya yang bertugas menjaga pikirannya tetap stabil. Prosedur penghapusan itu Jongin juga tahu, tapi ia tidak pernah bertanya apa itu.

Namun, aku tidak tahu Hyena yang sekarang tinggal satu atap dengannya bisa melakukan apa.

Tiffany menatap Jongin lekat-lekat. “Kau mau membaginya denganku? Bagaimana Hyena bisa berada di rumah ini?”

“Hyena ingin tinggal di sini, kau tidak tahu sebahagia apa rasanya.”

Raut khawatir tidak bisa disembunyikan Tiffany dari wajahnya. Mana mungkin Hyena tahu soal penghapusan ingatan itu? Kecuali…ia melihat catatan di balik foto itu.

“Kai, foto pertama kita di Amsterdam, di mana kau menyimpannya?”

Hyena menatap lamat-lamat refleksi-refleksi dalam benda persegi panjang yang dipajang di meja panjang samping daun pintu. Syukurlah ia sempat mereparasi dengan figura usang temuannya di laci, kalau tidak tamatlah sudah.

Ada tiga orang, Jongin, pria paruh baya, dan di antaranya ada wanita itu. Wanita yang disebut-sebut Dokter oleh mereka.

Jadi orang itu ya?

Hyena masih ingat betul apa yang ia temukan saat melukai kakinya, ini adalah sebuah foto mereka bertiga berlatar rumah berdesain minimalis. Ia juga masih bisa merasakan emosi yang dirasakannya saat membaca deret kata di baliknya.

Penghapusan memori pertamamu! Hiduplah dengan baik, Kai!

Pantas Jongin tenang-tenang saja meski tinggal satu atap dengan dirinya. Pria itu tidak ingat apa-apa tentang Kim Ahra, setidaknya itulah yang dapat Hyena tangkap.

Namun malam itu, saat pertama kali ia melihat Jongin lagi, kenapa Kim Jongin begitu santainya berbicara tentang putrinya? Apakah penghapusan ingatannya masih samar-samar?

Tapi yang sangat Hyena pertanyakan adalah, apa jadinya Jongin jika ingatannya tidak dihapus? Akankah ia menjadi gila atau semacamnya? She had no idea. Dan apakah Hyena memperdulikannya? Yang satu itu… kalau boleh jujur ia juga tak tahu.

Awalnya Hyena merasa seperti dirinya akan meledak, dan dengan tinggal bersama pria itu lagi pikirnya ia bisa menghancurkan Jongin perlahan. Tapi mengapa beberapa hari di tempat ini ia tidak melihat sisi mengerikan seorang Kai? Segala yang ia lihat adalah Kim Jongin, Jonginnya yang dulu.

Ia terlalu banyak tersenyum, dan cara Jongin memperlakukannya…. Hyena menyukainya. Jongin menyediakan kursi roda untuknya, membuatkan dapur sekaligus alat-alat dan bahan-bahan masaknya meski Hyena tahu lelaki itu bisa saja terganggu. Jongin yang disebut-sebut sebagai Kai, tidak ada niatan untuk kembali menjadi seorang yang normal. Mungkin dia sudah kecanduan, just like morphine, right?

Mengerikan ya? Dunia ini?

Dulu sekali, saat seorang Jeon Hyena dan Kim Jongin masih berkencan, seperti halnya pasangan muda yang lainnya, mereka juga pernah merasakan apa itu berpisah dan saling melupakan. Namun kalian tahu, bahkan belum genap 8 jam sejak perpisahan mereka, Jongin sudah menghubunginya lagi. Ia begitu mudahnya kembali. Dan seharusnya tidak sulit meninggalkan titel Kai.

But life goes on, you know. Kepribadian seseorang bisa berubah, begitu pula Jongin dan dirinya. Rasanya untuk kali ini, mereka berdua sama-sama berkembang menjadi manusia mengerikan. Jongin dengan kanibalnya, dan Hyena dengan rasa ingin membunuh Jongin.

Aku hanya akan menutup mata, terlepas bagaimana Jongin di masa lalu, aku tidak akan membiarkan dendamku begitu saja. Mulai saat ini, manusia itu bernama Kai.

“Boleh aku menemuinya? Istrimu?”

Hyena menajamkan inderanya. Ia jadi ingat kata-kata Seulgi tentang menguping, tapi yah bagaimana lagi tempat ini terlalu hening bagi dirinya untuk tidak mendengarkan.

“Hyena tidak dalam kondisi bisa bersosialisasi dengan baik. Nanti, aku janji akan mempertemukannya denganmu, Dok.”

Suara Jongin terdengar semakin samar, itu tandanya mereka tidak lagi berada di depan kamarnya. Dan Hyena kehilangan kesempatan untuk mencari tahu, ingatan apa yang dihapus sebenarnya.

“Kau kenapa?”

Hyena mendongak begitu suara berat yang begitu akrab menyapa gendang telinganya, milik Jongin.

“Tidak ada apa-apa,” timpalnya gemetar sembari menyisir rambutnya dengan jari. Irisnya berpendar ke penjuru ruangan, seperti mencari spot yang baik agar tak bertemu pandang dengan Jongin.

“Bohong, kau menyisir rambutmu seperti itu jika sedang gugup. Ceritakan, ada apa sebenarnya?”

Ia tidak melakukan apa-apa, namun rasanya seperti tertangkap basah saat mengutil. Sial, mata elang itu belum ada matinya juga.

“Aneh saja, kenapa kau baik padaku.”

Jongin tertawa ringan, baiklah yang pertama untuk hari ini. Sinyal bagi Hyena agar ia bersiap karena mungkin Jongin akan melakukan hal itu sepanjang hari.

“Karena kau cantik sekali hari ini.”

Aku butuh oksigen, tolong. Gosh kenapa dia berlutut?

Jongin berbicara lagi, “Jeon, mau berkecan?” katanya.

Mau tak mau pandangan mereka bertemu. “Kenapa tiba-tiba kencan?”

“Karena…karena….” Jongin menggantung kalimatnya. Ia menatap lamat-lamat wanita di hadapannya, seperti mencari sesuatu yang bisa dijadikannya alibi. “Pakaianmu, bukankah persediannya sudah habis?”

“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Lagipula akan merepotkanmu.”

Hyena menempatkan ruas-ruas jarinya ke benda lingkaran di sisi-sisi kursi penopangnya, berancang-ancang untuk menarik diri menjauh dari Kim Jongin. Membayangkan pria itu mendorong-dorongnya seperti karung beras, ah memalukan sekali.

Hyena mengerjap, tak ada pergerakan berarti. Look like she struggling under his control. Jongin menahan roda pemutarnya. “Kalau itu wanitaku, apa lagi yang perlu kupikirkan? Ayo, beli banyak pakaian dan aku harus memberimu gizi. Lihat pipimu, tirus sekali.”

Pria itu meluruskan tungkainya sebelum berjalan setengah putaran ke gagang pendorong kursi. Tanpa berkata macam-macam Jongin mendorong kursi, membuat karet rodanya bergesekan dengan lantai kayu. Jongin menuntunnya keluar dari sarang, dan Hyena tidak tahu arah jalan pikiran pria itu. Jongin bisa saja mencelakainya, siapa yang tahu ia tiba-tiba hilang kendali?

“Kalian mau kemana?” Itu yang Seulgi tanyakan saat Jongin tengah mengangkat tubuh mungil Hyena ke mobil audy hitamnya.

“Membeli beberapa perlengkapan,” timpal Jongin tanpa balas menatap Seulgi. Ia memutar langkah mengitari bagian depan mobil dan menarik gagang pintunya sebelum mengatakan, “Dan kau tidur duluan saja, tidak perlu menungguku,” yang disusul suara debuman yang cukup kencang saat Jongin menutup pintu.

Hyena menunggu sampai Jongin benar-benar melajukan audy miliknya, hanya saja mesin-mesin di bawah sana tak kunjung beroperasi.

“Apa?” tanya Hyena gugup, kentara sekali dari suaranya yang terdengar gemetar.

Hyena pernah mendengar kalau para pria lebih suka menggunakan bahasa tubuh dibanding melisankannya, ia tak percaya Jongin juga salah satunya. “Your seatbelt, Madam.”

Jongin mengulurkan lengannya, menarik sabuk pengaman dari arah samping kanan Hyena. Epidermis mereka sempat bersinggungan, dan rasanya Hyena benar-benar bisa kehilangan pasokan oksigen jika Jongin seenaknya saja menyentuhnya seperti itu.

Tapi Jongin hanya tersenyum saja. Sialan memang.

Tahu rasanya menjadi manusia terbodoh di muka bumi ini? Seperti ketinggalan berita terbaru idola kesayanganmu sedang orang lain sudah menggila sejak lama. Hyena tahu betul perasaan macam apa itu.

“Aku tidak tahu akan setenang ini.”

Mall-mall besar beroperasi sebagaimana mestinya, para ibu mengantarkan anaknya ke sekolah, pejalan kaki yang menunggu lampu menyala hijau, bahkan rumah makan sekalipun tampak dipadati pengunjung.

“Memang apa yang kau harapkan? Saling membunuh? Darah?” Jongin mencecarnya dengan pertanyaan, menoleh ke arah Hyena sembari menunggu mobil di depannya melaju.

Hyena tidak bisa menjawab, takut-takut kalau Jongin bisa saja tersinggung. Namun ya, ia kira seluruh penjuru negeri akan porak poranda. Ia sering melihat asap pembakaran dari sisi timur rumahnya, jadi pikirnya Korea benar-benar kacau.

“Hei sepertinya kau harus lebih sering keluar, wawasanmu buruk sekali,” cibir Jongin. “Kasino Key berhasil membuat kesepakatan dengan La Food dan seminggu yang lalu pasokan makanan besar-besaran di kirim ke Seoul.”

Hyena menimpali. “Tapi Key tidak pernah mengatakan apapun,” yang rupanya membuat Jongin menancap gasnya lebih cepat saat lampu merah berganti hijau. Hyena hampir saja terlempar ke depan kalau ia tidak berpegangan lebih kuat.

Baiklah, aku meragukan lisensi mengemudinya sekarang.

“Lalu, apa yang mereka lakukan dengan makanannya?”

Jongin berdeham sejenak sebelum berkata, “Mereka menyebarkannya, ke restaurant yang memang sudah bekerja sama sejak awal atau yang berani membayar dengan harga tinggi. Seperti yang kau lihat restaurant bisa beroperasi kembali.”

“Memangnya masih ada yang mau membelinya?”

“Jika sejatinya mereka anak baik maka ia bisa kembali menjadi anak baik, namun jika sudah kecanduan mereka bisa melanjutkan rutinitas barunya.”

“Jadi maksudmu tidak ada kanibal lagi?”

Jongin mengurangi kecepatan mobilnya, Hyena terlalu banyak bertanya hari ini untuk ukuran seorang wanita yang sebut saja bisa berada dalam bahaya, karena kalian tahu ia berada di suatu ruangan yang sama dengan seorang kanibal.

Hyena tidak terlihat takut, mungkin ia terbawa kebiasaan. Jika sedang bepergian seperti ini biasanya wanita itu tidak berhenti bicara sejak awal perjalanan sampai tiba di tempat tujuan, dan Jongin akan menimpali setiap perkataannya. Namun jika jawabannya semakin singkat, Hyena akan mengamuk dan pura-pura tertidur.

Dan Jeon Hyena masih tetap sama.

“Bukan begitu. Mereka bisa memilih, menjadi seorang yang normal atau tetap bertahan dengan makanan spesial itu, karena kau tahu kanibalisme sudah menjadi konformitas. But you, you still pure, my lucky girl.” Jongin mengerlingkan maniknya.

“Kau juga bisa, Jongin.”

Hyena tidak tahu apakah menghasut Kim Jongin untuk kembali ke karakter sejatinya bisa membuat ingatannya kembali, kendati ia tidak tahu apa yang akan menimpa Jongin namun Hyena yakin itu adalah sesuatu yang tidak baik bagi Jongin. Ia ingin mencoba saja.

“Aku tidak ada niatan untuk kembali Hyena.”

So you’re scared huh?

Jongin melanjutkan, “Sekarang keluar,” katanya. Hyena mengerjap beberapa kali, memastikan apakah Jongin benar-benar mengatakan dua kata itu kepadanya. Namun kemudian Jongin tersenyum, “Sudah sampai, Sayang.”

Kalian tahu, Kim Jongin selalu berhasil membuat Hyena terpana. Ia mungkin bisa membuatnya mati berdiri. Hyena masih belum berkutik saat Jongin keluar terlebih dulu sebelum membukakan pintu sisi kanan tubuhnya, siap dengan kursi roda yang sengaja dibawanya.

Jongin tidak pernah meminta izin untuk menyentuh Hyena, dan sebenarnya sampai detik ini pun ia tidak membutuhkan persetujuan wanita itu. Ia santai saja menempatkan lengannya di leher dan lutut Hyena, memindahkan berat tubuhnya ke lengan berototnya sebelum mendudukan Hyena di kursi rodanya.

“Tunggu!” Hyena berseru sebelum Jongin mendorongnya ke pintu masuk.

Ia memutar lehernya ke belakang dan sedikit mendongak, membuat Jongin melakukan pergerakan untuk menyeimbanginya. “Kau tidak malu?”

“Jangan mengatakan hal-hal yang tidak perlu,” sahut Jongin.

Hyena tidak tahu respon macam apa yang Jongin berikan, ia bukan seorang pembaca ekspresi lagipula. Namun tiga tahun hidup bersama Kim Jongin membuatnya secara asal menarik kesimpulan kalau pria itu sedikit terganggu dengan perkataannya tadi. But why? Hyena baru saja menanyakannya jika Jongin tidak membawanya paksa memasuki area pusat perbelanjaan.

Tempat seperti ini masih saja padat pengunjung, membuat Hyena benar-benar merasa konyol karena spekulasi-spekulasinya yang tak berdasar fakta. Ia menganggap semua orang itu sudah menjadi tak waras, hanya dirinya lah yang masih pantas disebut manusia. Ternyata kepantasan bukanlah sesuatu yang boleh ia nilai.

Hyena bisa merasakan langkah Jongin yang melambat saat pasangan siswa sekolahan melintas. Mereka saling bergurau dengan posisi jemari yang saling mengait, luapan kebahagiaan yang tidak dapat disembunyikan.

“Aku iri.”

Hyena tersenyum. “Aku tahu,” timpalnya singkat. Ia memang jelas menyadarinya, dulu Jongin pernah merajuk hebat karena ingin melakukan hal semacam itu.

“Dude, do something about your desire.”

Hyena menyingkirkan lengan Jongin yang berusaha melingkari bahunya.

“Kau yang lakukan sesatu, kau! Kau yakin gender kita tidak tertukar? Para gadis biasanya selalu memimpikan macam-macam tentang romance.”

“Heol! Sekarang kau bahkan membandingkanku dengan gadis lain?”timpal Hyena.

Dan mereka akan mulai bertengkar.

“Ah, akan lebih baik jika Ahra bersama dengan kita sekarang,” kata Hyena saat melintasi sebuah toko pakaian anak.

Mendengar itu Jongin memperlambat langkahnya. “Ahra? Siapa dia? Temanmu?”

“Kau tidak ingat? Kim Ahra, dia putrimu.”

“Putri?”

tbc

Advertisements

One thought on “Cannibal [Chapter 5]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s