[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 10

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not | Chapter 3 – Promise | Chapter 4 – Don’t Cry | Chapter 5 – It’s Hurt | Chapter 6 – Jung Yujin = Yujin Park | Chapter 7 – Surprise | Chapter 8 – Why? | Chapter 9 – Secret

Jimin, dengan ekspresi tidak percaya, melihat gadis itu melangkah ke tengah ruang sidang dan berhenti disana. Gadis itu membalik tubuh, lalu tersenyum menatap para peserta sidang. Jimin sempat melihat gadis itu melirik Taehyung sekilas dan Taehyung memberikan anggukan kepala padanya.

“Selamat siang, aku Yura Park.” Gadis itu membuka suara. “Kalian tidak perlu khawatir ataupun terkejut, karena aku bukanlah Jung Yujin. Tetapi aku berdiri disini atas nama Jung Yujin. Karena aku akan memberikan kesaksian pada kalian. Tentang Jung Yujin.”

Jimin mendengus lucu saat melihat Taehyung tersenyum ke arah Yura. Jadi, lelaki itu menggunakan oranglain untuk membersihkan nama Jung Yujin? Dan tidak tanggung-tanggung, orang yang digunakannya itu adalah… kakak kembaran Yujin! Keterlaluan! Tanggal main apaan?! Omong kosong! Ini sih namanya tanggal main-main! Jimin tidak tahu kalau ternyata Taehyung memang sepengecut itu.

“Untuk saat ini, anggap saja aku ini pengacara keduanya Kim Taehyung, Pengacara Park.”

Chapter 10: After Court

yujin

.

“Benar, akulah kakaknya. Akulah si brengsek itu.” —– Yura Park

.

.tumblr_inline_mq4nw8uPfH1qz4rgp

.

“Hentika, Yura-ssi. Bukan itu yang ingin kita bicarakan.” —- Kim Taehyung
.

924743_988980147780680_1673223985_n

.

“Karena kau telah menginjak granat, Yura.” —– Park Jimin

.

Hari ini, peserta sidang yang datang banyak sekali. Hampir seluruh kursi sudah terisi penuh sehingga tidak boleh ada lagi yang masuk. Para personil Bangtan Boys tampak sudah menempati posisi depan, bersama pihak agensi. Hanya Kim Taehyung yang belum terlihat.

Beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu datang. Taehyung masuk ke dalam ruang sidang bersama Pengacara Nam, oh, tetapi tunggu dulu. Ada seorang gadis berponi lurus dengan mata bulat menyerupai biji buah leci yang mengekor langkah mereka. Beberapa peserta sidang menahan napas begitu mengenali wajah gadis itu sebagai Jung Yujin, kemudian terdengar suara bisik-bisik, decakan, dan suara berisik lainnya membicarakan gadis itu dan juga Taehyung. Sungguh, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Jung Yujin belum mati?

Taehyung, Pengacara Nam, dan gadis berwajah mirip Jung Yujin itu duduk di sisi kanan ruang sidang. Tepat saat itu seorang hakim bersama hakim pengganti dan sekretaris masuk ke dalam ruangan dan mengisi kursi di depan, menghadap para peserta sidang. Hakim itu menoleh sejenak ke arah Taehyung yang duduk dengan wajah gugup di sebelah Pengacara Nam disana, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada peserta sidang.

“Sebelum sidang dilanjutkan, Kim Taehyung-ssi ingin menyampaikan suatu hal. Silahkan, Taehyung-ssi!” kata hakim itu.

Taehyung berdiri dari duduknya. Ia tidak melangkah ke tengah ruangan, melainkan hanya berdiri disana. Ia menghela napas sejenak sebelum menatap peserta sidang satu persatu.

“Selamat siang, aku Kim Taehyung.” sapa lelaki itu. “Hari ini aku akan mengklarifikasi alasanku yang keluar dari Bangtan Boys karena Jung Yujin. Dan sebelum kalian berpikir buruk mengenai Jung Yujin, ada seseorang yang akan menyampaikan suatu hal pada kalian.”

Taehyung menoleh ke arah Yura, dan gadis itu langsung berdiri dari duduknya. Ia mengatur pernapasannya sejenak, lalu melangkah ke tengah ruang sidang. Suara bisik-bisik dari peserta sidang kembali membuat suasana di dalam sidang menjadi berisik saat gadis itu melangkah ke tengah ruangan. Gadis itu berdiri di tengah ruangan, tersenyum tipis menatap para peserta sidang. Ia juga sempat melirik Taehyung sekilas dan lelaki itu memberikan anggukan kepala padanya.

“Selamat siang, aku Yura Park.” Yura membuka suara. “Kalian tidak perlu khawatir ataupun terkejut, karena aku bukanlah Jung Yujin. Tetapi aku berdiri disini atas nama Jung Yujin. Karena aku akan memberikan kesaksian pada kalian. Tentang Jung Yujin.”

“Untuk saat ini, anggap saja aku ini pengacara keduanya Kim Taehyung, Pengacara Park.” tambahnya.

Kembali terdengar suara bisik-bisik dari peserta sidang.

“Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba ada pengacara kedua?”

“Apakah hakim sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut? Seharusnya kan hanya ada satu pengacara.”

“Dan kenapa pihak dari agensi hanya diam saja? Bukankah seharusnya mereka protes?”

“Aneh sekali sidang kali ini.”

Yura berusaha untuk tersenyum, meski dengan bibir yang bergetar, lalu melanjutkan, “Selama ini kalian mengenal Jung Yujin sebagai seorang model yang ceria, sampai-sampai kalian berpikir dia terlalu bahagia dengan pekerjaannya, sampai-sampai kalian berpikir dia tidak mempedulikan yang lain selain pekerjaannya. Memang benar, Jung Yujin sangat mencintai pekerjaannya. Itu mimpinya sejak dulu, menjadi seorang model yang terkenal. Dia akan melakukan apapun agar bisa menjadi model terkenal.”

“Tetapi ternyata dia salah langkah untuk memulai segalanya.” Yura terdiam sejenak, tatapannya berubah kosong, teringat dengan adiknya. “Yujin bukan anak tunggal, dia memiliki kakak. Sebenarnya dia memiliki kakak. Hanya saja dia tidak pernah mengakuinya di depan publik, karena dia tidak ingin mengingat masa lalunya yang menyakitkan. Dia juga tidak pernah mengakui siapa keluarganya pada publik, karena dia benar-benar ingin pergi jauh dari masa lalunya yang menyakitkan.”

Para peserta sidang kembali berbisik-bisik, saling bertanya satu sama lain kenapa gadis itu bisa mengetahui kisah Jung Yujin. Mereka satu sama lain mulai mengira-ngira siapa gadis itu sebenarnya.

“Dulu, saat dia masih tinggal bersama keluarganya, dia adalah seorang yang kesepian. Ayahnya terlalu sibuk bekerja dan kakaknya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Dia tidak tinggal bersama ibunya, karena ibunya tinggal di negara lain dan sama sekali tidak pernah menghubunginya semenjak kepindahannya ke Seoul. Dia, Jung Yujin, sempurna kesepian selama masa hidupnya. Kemudian suatu hari, ada salah seorang temannya saat SMA mendekatinya. Seorang teman itu tahu kalau selama ini Yujin bermimpi menjadi seorang model, dan seorang teman itu juga tahu kalau Yujin selama ini kesepian, maka dari itu, seorang teman itu mengajaknya menjadi seorang model. Dengan cara yang salah.”

Yura terdiam sejenak, mengontrol perasaannya sebelum melanjutkan, “Orang itu memberikan barang terlarang itu pada Yujin. Orang itu bilang, kalau Yujin mengkonsumsi barang-barang itu, Yujin akan menjadi seorang model yang terkenal. Ya, memang. Barang itu bisa membuat Yujin menjadi seorang model. Tetapi dengan cara yang salah. Dan Yujin tidak tahu akan hal itu. Orang itu membohongi Yujin, dan Yujin… Yujin… semudah itu percaya dengannya. Sebenarnya dia ingin bertanya pada keluarganya, tentang kebenaran barang itu, tetapi dia terlalu kesepian. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mengikuti saran temannya itu.”

Sementara itu, mata Yura tampak berkaca-kaca, ia benar-benar sudah tidak sanggup mengontrol perasaannya. Ia sendiri tidak percaya dengan perkataannya. Taehyung yang memberitahunya akan hal itu di apartemen tadi, itulah hal yang masih ia sembunyikan dari Yura. Lelaki itu terpaksa memberitahukannya padanya, agar tak ada lagi hal yang ia sembunyikan dari gadis itu tentang Yujin. Dan benar saja, memang selama ini Yura tidak mengetahui akan kenyataan yang tersembunyi itu. Dulu, ia berpikir bahwa Yujin-lah yang pertama kali menyentuh barang itu, tanpa adanya tangan oranglain. Tetapi ternyata… ia salah mengira. Mungkin memang benar, kalau selama Yujin masih tinggal bersamanya, ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa sama sekali memperhatikan Yujin kalau adiknya itu amat sangat kesepian.

Taehyung menundukkan kepala, tak berani melihat Yura. Perasaan bersalah itu kembali bersarang di dalam dadanya, dan ia tidak sanggup untuk melihat Yura seperti itu.

“Dan benar, Yujin menjadi seorang model beberapa tahun kemudian. Seorang model yang amat ceria, yang amat mencintai pekerjaannya sampai-sampai dia tidak menyadari kalau sebenarnya banyak orang yang tidak menyukainya, tanpa menyadari kalau sebenarnya dia tetaplah seorang yang kesepian.”

Yura menolehkan kepala ke arah Taehyung, tetapi lelaki itu sama sekali tak melihat ke arahnya. Bibirnya berusaha untuk tersenyum, meski bergetar saat kemudian ia melanjutkan, “Tetapi semuanya berubah setelah dia bertemu dengan Kim Taehyung.”

Taehyung mengangkat kepala, dan menemukan sepasang manik mata milik gadis itu menatap lurus-lurus pada maniknya, tatapan itu menembusnya. Hingga semakin membuatnya merasa bersalah, merasa terluka.

“Lelaki itu membuatnya tak lagi merasa kesepian.” tambah Yura. “Lelaki itu membuatnya merasa dicintai, memiliki tempat untuk berbagi, memiliki tempat untuk bersandar, memiliki tempat untuk dijadikannya tujuan saat dia sudah tak tahu lagi harus pergi kemana.”

Airmata Yura mengalir saat ia melanjutkan, “Bahkan kakaknya merasa cemburu dengan kenyataan itu.” ini adalah kalimat pertamanya yang keluar dari skenario, bahkan Taehyung sampai terkejut dengan ucapan Yura itu.

Terdengar napas tertahan dari para peserta sidang, lagi-lagi mereka saling berbisik.

“Jadi gadis itu benar adalah kakaknya?”

“Apa katanya tadi? Cemburu? Gadis itu menyukai Taehyung?”

“Yang benar saja! Gadis itu menyukai pacar adiknya sendiri?”

“Ini benar-benar gila.”

Dan demi mendengar itu semua, Yura kembali menatap peserta sidang, menyeka airmatanya, lalu tersenyum miris ke arah mereka. “Benar, akulah kakaknya. Kakak kembarannya, yang tidak menyadari kalau adiknya kehilangan arah selama ini, yang tidak menyadari kalau adiknya kesepian selama ini, dan yang menyukai pacar adiknya sendiri. Akulah si brengsek itu.”

Mendadak Taehyung berdiri dari duduknya, menatap Yura dengan perasaan bersalah. “Hentikan, Yura-ssi. Bukan itu yang ingin kita bicarakan.”

Yura mengangguk mendengar ucapan Taehyung. “Ya, seharusnya aku tidak mengatakan itu.” ia kembali menatap para peserta sidang, dengan mata berkaca-kaca. “Yang ingin aku sampaikan adalah… Kalian boleh memandang Yujin dengan tatapan sinis dan tidak suka. Kalian boleh membicarakan Yujin dengan suara sinis dan tidak suka. Tetapi tolong, jangan menghina Yujin. Yujin sudah meninggal, sudah pergi jauh meninggalkan dunia ini, tanpa pernah bisa kembali lagi, meskipun dia pernah melakukan keburukan di dunia ini, tetapi sampai hatikah kalian menghina Yujin?”

Air muka para peserta sidang berubah. Mereka satu sama lain merasa resah, mulai merasa bersalah setelah mendengar pernyataan terakhir dari Yura.

Yura menghela napas sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada beberapa orang dari pihak agensi, bahkan tatapannya sempat bertemu dengan Jimin yang duduk di barisan sana.

“Untuk pihak agensi, Taehyung-ssi tidak bermaksud untuk mengkhianati kalian karena Jung Yujin. Bukan berarti juga dia pengecut karena menghindari masalah itu hanya karena kematian Yujin. Dia hanya membutuhkan waktu, untuk benar-benar sendiri, untuk memulai semuanya dari awal, tanpa lagi teringat dengan Yujin. Jadi, kuharap kalian bisa mengambil keputusan yang bijak dalam menangani masalah ini.”

Kali ini Yura mengalihkan pandangannya pada Taehyung. “Dan untuk Kim Taehyung-ssi.” Taehyung balas menatap manik gadis itu. “Kuharap kau tidak lagi hanya memikirkan perasaanmu. Pikirkan perasaan agensi, pikirkan perasaan teman-temanmu di Bangtan Boys, pikirkan perasaan penggemarmu, dan pikirkan perasaan…” Yura terdiam sejenak. “perasaan oranglain.” tambahnya.

“Aku mewakili Jung Yujin, meminta maaf sebesar-sebesarnya pada pihak-pihak yang selama ini telah dirugikan olehnya. Maafkan segala kesalahan adikku, segala kebohongannya, segala keburukannya, dan berhentilah menghinanya.” Yura lalu membungkuk hormat pada pihak agensi dan para peserta sidang, juga pada Taehyung hingga membuat lelaki itu terpana. “Aku Yura Park, terimakasih banyak atas waktunya.” lalu ia berjalan menuju kursinya kembali.

Jimin memperhatikan Yura yang kembali duduk di kursinya dalam diam. Di sebelah gadis itu, Taehyung tampak terdiam, sama sekali tidak menolehkan kepalanya pada gadis itu. Dan Yura hanya menghela napas berat, lalu menundukkan kepala.

“Baiklah, dengan begini, sidang mengenai gugatan pembatalan kontrak Kim Taehyung terhadap agensi, dibuka.” Hakim mengetuk palu sekali ke atas meja, pertanda sidang kembali dibuka. “Silahkan kepada Pengacara Nam untuk membuka pernyataan pertama.”

Pengacara Nam berdiri dari duduknya, berjalan ke tengah ruangan. Dan tepat saat itu Jimin melihat Taehyung mengangkat kepalanya menatap Yura yang tertunduk. Dengan gemetar, tangan lelaki itu bergerak untuk meraih tangan Yura dan menggenggamnya, seolah mengatakan pada gadis itu kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan Yura tersenyum lega melihatnya.

Tetapi untuk seorang Park Jimin, saat melihat itu semua, ia merasa hatinya… tidak baik-baik saja. Hatinya cemburu.

——————-

Sidang kemudian berlanjut tanpa terjadinya pertengkaran antara Kim Taehyung dan pihak agensi. Semua berjalan dengan lancar, tenang, dan damai, tanpa adanya emosi, hingga akhirnya sidang ditutup dengan mengeluarkan hasil akhir.

Setelah hampir selama sebulan sidang dilakukan, keputusan sidang akhirnya ditentukan. Pihak agensi telah menyetujui Taehyung untuk membatalkan kontrak, tetapi dengan satu syarat. Karena Bangtan Boys akan menyelenggarakan konser besar akhir bulan ini dan tiket telah terjual lebih dari jutaan kopi, agensi memberikan syarat untuk Taehyung tetap mengikuti konser tersebut. Konser tersebut akan bertambah tajuk. Selain merupakan konser terbesar kedua Bangtan Boys setelah hari mereka debut, konser tersebut juga merupakan konser perpisahan untuk Kim Taehyung. Agensi akan mempersiapkan konser tersebut sedemikian rupa untuk melepaskan kepergian Taehyung dan memuaskan penggemar untuk konser terakhir Taehyung. Kalaupun nanti setelah konser selesai, Taehyung benar-benar akan pergi dari Bangtan Boys, agensi akan merelakannya. Namun, kalaupun nanti Taehyung berubah pikiran untuk tetap bertahan bersama Bangtan Boys, agensi akan dengan senang hati menerimanya kembali. Akhirnya dengan waktu berpikir yang cukup lama, Taehyung pun mengiyakan syarat tersebut. Penandatanganan sudah dilakukan di dalam sidang. Dan sidang dinyatakan selesai.

Yura keluar dari ruang sidang dengan mata terbelalak. Tangannya meraba-raba dinding tembok, mencari pegangan. Hingga akhirnya di luar ruang sidang, tidak menemukan lagi adanya pegangan, tubuhnya meluruh ke bawah. Taehyung yang sedari awal sudah memperhatikannya dari belakang dengan tatapan khawatir segera berlari mendekati gadis itu, meraih bahu gadis itu meskipun sudah telat.

“Yura, kau tidak apa-apa?” tanya Taehyung, berjongkok di sebelah gadis itu dengan tatapan panik sekaligus khawatir.

Mata Yura masih terbelalak. “Apa yang baru saja kulakukan? Apa yang baru saja kulakukan?” hanya itulah yang keluar dari bibir kecilnya.

Taehyung menghela napas berat, lalu menatap Yura lurus-lurus. “Semua akan baik-baik saja. Kau sudah melakukan yang benar, Yura. Terimakasih banyak.”

“Aku takut, Taehyung.” ucapnya, dengan suara bergetar.

“Apa yang kau takutkan?”

Yura menggeleng. “Aku tidak tahu.” matanya kembali berkaca-kaca. “Aku tidak tahu apa yang kutakutkan. Tetapi aku takut sekali.”

Taehyung meraih bahu Yura dan mendekatkannya ke dalam dekapannya. “Tidak apa-apa, Yura. Hanya berdiri saja di sampingku. Kau tenang saja.”

Yura mengangguk dalam dekapan Taehyung. Airmatanya mengalir, membasahi kemeja yang dikenakan Taehyung.

Jimin berdiri di bingkai pintu sidang. Memperhatikan Yura dan Taehyung tak jauh di dekatnya. Napasnya memburu, tangannya terkepal erat di samping kemeja. Menatap sepasang makhluk adam dan hawa itu dengan tatapan tidak suka.

Jimin bersumpah, kalau ia tidak akan pernah membiarkan Taehyung menyentuh Yura-nya.

——————-

Ternyata apa yang ditakutkan Yura benar-benar terjadi.

Esok harinya, ketika ia keluar dari gedung apartemen, tampak beberapa wartawan sudah berdiri di depan gedung sana. Menyerangnya dengan berbagai cahaya blitz dari kamera. Dan mereka bergegas menghampiri gadis itu sambil menyodorkan mikrofon di tangannya.

“Yura Park-ssi, benarkah kau adalah kakak dari Jung Yujin?”

“Bagaimana kalian bisa hidup terpisah? Apa yang terjadi di antara kalian berdua?”

“Apakah ini ada hubungannya dengan Kim Taehyung-ssi?”

“Mengenai Kim Taehyung-ssi, benarkah kau adalah gadis yang kami temui di Myeong-dong beberapa tempo lalu bersama lelaki itu?”

“Apakah benar kau adalah gadis yang berlari bersama Kim Taehyung-ssi malam itu?”

“Apa yang sebenarnya kaulakukan bersamanya ketika itu?”

“Apakah kau adalah selingkuhan Taehyung-ssi?”

“Apakah kau benar-benar menyukai Taehyung-ssi hingga membantunya dalam persidangan kemarin?”

“Ataukah kau hanya ingin menebus kesalahanmu pada Jung Yujin untuk membersihkan namanya?”

“Bagaimana perasaan Taehyung-ssi kepadamu? Apakah dia membalas perasaanmu?”

“Ataukah dia menyukaimu hanya karena kau berwajah mirip dengan pacarnya?”

“Tolong berikan kami penjelasan, Yura Park-ssi!”

Yura terpekur di tempat demi mendengar seluruh pertanyaan itu. Jangankan mendengar pertanyaan itu, dengan melihat para wartawan berkumpul di depannya dan menyodorkan mikrofon padanya saja sudah membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Tatapannya berubah ketakutan, dan rasanya ia lupa caranya bernapas. Tubuhnya membeku di tempat, sementara para wartawan itu semakin mendesaknya. Para wartawan itu menatapnya dengan tatapan memangsa, tanpa peduli dengan perubahan air muka Yura, terus mendesak gadis itu, memberinya beribu pertanyaan tanpa memberikan kesempatan untuk Yura menjawab. Dan mendadak Yura merasa sangat ketakutan. Ia mundur selangkah. Punggungnya menabrak pintu gedung apartemen.

Astaga, apa yang sebenarnya terjadi disini?

Tiba-tiba saja, entah darimana asalnya, Yura merasa ada yang meraih tangannya, menggenggamnya erat, lalu menariknya keluar dari kerumunan orang-orang yang haus akan berita itu. Yura belum mendapatkan kesadarannya ketika lelaki bertopi hitam—yang entah datang darimana, menariknya menjauh dan membawanya masuk kembali ke gedung apartemennya. Ia masih terlalu syok dengan kehadiran wartawan sehingga saat tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya, ia terlalu sulit untuk berekspresi maupun melawan. Jadi ia hanya membiarkan saja lelaki bertopi hitam itu menariknya menjauh dan membawanya masuk kembali ke gedung apartemennya.

Lelaki itu menutup pintu dengan cukup keras, lalu membanting tubuh Yura ke tembok. Punggung Yura terhantam dengan cukup keras, namun agaknya Yura tidak merasa sakit. Ia sempurna masih syok dengan kejadian di depan gedung apartemennya tadi. Bahkan ia tidak bisa berpikir kenapa lelaki bertopi hitam itu bisa datang ke apartemennya, tepat pada waktunya.

“Kau ini bodoh atau tolol?! Kenapa kau malah diam saja, hah?!” bentak lelaki itu, murka.

Yura masih belum bisa mengendalikan ekspresi ketakutannya saat ia mengangkat kepala, balas menatap lelaki bertopi hitam itu dengan tatapan nanar, lalu berkata, “Lalu apa yang harus kulakukan?” dengan suara bergetar, terdengar begitu ketakutan. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

Yura sepenuhnya benar, ia memang tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia sudah berpikir untuk berlari, kabur begitu saja. Tetapi jangankan untuk berlari, untuk melangkah saja sepertinya kakinya tidak sanggup. Kakinya benar-benar lemas, tak sanggup untuk digerakkan. Namun kalau ia hanya diam saja disana, ia bisa mati saat itu juga karena terdesak-desak oleh para wartawan itu. Dan kalaupun ia ingin menjawab seluruh pertanyaan itu, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ini terlalu mendadak dan benar-benar di luar dugaannya.

“Kau hanya perlu menghindar, Yura! Berlari sejauh mungkin! Mereka itu pemburu! Dan sejak saat ini—maksudku, setelah sidang kemarin— kau adalah buruan mereka!”

“Kenapa aku?” tanya Yura, masih dengan suara bergetar dan tatapan yang nanar. Tampaknya ia benar-benar syok sekali dengan kehadiran wartawan.

Lelaki itu menatap Yura dengan perasaan yang meletup-letup di dadanya. Tatapan marahnya kini tergantikan dengan tatapan khawatir. “Karena kau telah menginjak granat, Yura.” ucapnya, dengan suara tertahan.

Yura hanya terdiam, tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu.

“Kehadiranmu yang tiba-tiba di sidang kemarin, kejujuranmu tentang kau adalah kakak dari Yujin, pembelaanmu terhadap Yujin untuk membersihkan namanya, dan pernyataan ‘tersirat’ tentang perasaanmu pada Taehyung, adalah bom yang kaulayangkan pada media. Secara tidak langsung, kau telah menyatakan perang kepada para wartawan itu. Kau telah menginjak granat, Yura.”

Yura terpekur. Dadanya mendadak berdebar keras sampai sampai ia merasa kakinya lemas. Tubuhnya juga lemas, hingga akhirnya tubuhnya merosot saat itu juga ke bawah. Ia jatuh terduduk. Matanya terbelalak, namun tatapannya tampak terlihat kosong. Ia sempurna terpekur mendengar jawaban Jimin.

Sementara Jimin, lelaki bertopi hitam itu, menatap Yura dengan perasaan tidak menentu. Napasnya terengah-engah, merasa lelah setelah berbicara dengan Yura. Dan kini, demi melihat perubahan air muka Yura, dadanya langsung berdentum amat keras, tak sampai hati melihat keadaan Yura seperti ini.

Jimin memejamkan matanya sejenak, berusaha untuk mengontrol perasaannya, mengontrol emosinya. Setelah beberapa menit, ia menghela napas berat, lalu memutuskan untuk berjongkok di depan Yura. Tatapannya berubah melembut saat menatap gadis yang terpekur itu.

“Kenapa kau melakukan itu, Yura?” tanyanya, dengan suara bergetar. “Kenapa kau datang ke persidangan itu? Tidak tahukah resiko apa yang akan kauhadapi setelah persidangan itu?”

Yura tidak langsung menjawab, lebih tepatnya tidak tahu ingin menjawab apa. Karena ia sendiri tidak tahu kenapa kemarin ia melakukan hal tersebut saat di persidangan. Bahkan ia saja merasa syok hebat dengan perlakuannya kemarin.

Jimin diam sejenak, memperhatikan wajah Yura dengan pandangan terluka, lalu kembali bertanya, “Apakah karena Kim Taehyung?”

Lagi-lagi Yura tidak menjawab. Dadanya berdebar keras, antara mengiyakan dan tidak mengiyakan pertanyaan lelaki itu.

“Apakah Taehyung yang menyuruhmu?”

Yura masih tidak menjawab. Ia ingin menganggukkan kepala, tetapi ia tidak bisa melakukannya. Taehyung tak sepenuhnya menyuruhnya, lelaki itu hanya membutuhkan bantuannya, dan Yura hanya mengiyakan. Jadi kalau dikatakan itu merupakan sebuah perintah, itu tidak benar. Maka dari itu Yura hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan lelaki itu.

Jimin memejamkan matanya kembali saat melihat Yura sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Setelah mengontrol dirinya, perasaannya, serta emosinya, ia menghela napas berat (lagi), lalu duduk di depan gadis itu, memutuskan untuk bersikap melembut pada gadis itu.

“Yura…” Jimin menatap gadis itu dengan tatapan melembut. “Taehyung hanya memanfaatkanmu.”

Yura menggeleng, balas menatap Jimin dengan tatapan terluka. “Tidak, Jimin. Dia tidak memanfaatkanku.”

“Lalu ini apa namanya?”

“Dia hanya meminta tolong padaku.” suara Yura mulai bergetar. “Selama ini dia mengalami hal yang berat, aku hanya ingin menolongnya.”

Jimin mengangguk. “Baiklah, katakanlah seperti itu. Katakanlah kau memang menolongnya, tetapi, setelah kau menolongnya, apakah dia balas menolongmu?”

Yura tidak langsung menjawab, terpekur sejenak.

“Wartawan itu tidak main-main, Yura. Mereka akan langsung bergerak tanpa pertanda dan aba-aba untuk berburu mangsanya. Taehyung berpengalaman akan hal itu, jadi seharusnya dia tahu kalau hari ini kau akan diburu oleh mereka. Tetapi kemana lelaki itu?” ia menatap Yura dengan tatapan khawatir. “Dia tidak datang. Dia bahkan tidak menolongmu.”

Yura menggigit bibir, menahan perasaannya yang mendadak kacau.

“Mungkin dia belum tahu.”

“Omong kosong! Dia tahu, Yura. Aku tahu dia pasti tahu. Tetapi dia memilih untuk menghindar. Menghindari wartawan, juga menghindarimu. Kemarin, dia hanya memanfaatkanmu, Yura. Untuk membersihkan nama pacarnya. Untuk membersihkan namanya. Untuk menyelamatkannya dari persidangan itu.”

Mata Yura mulai berkaca-kaca saat berkata, “Dia bilang semua akan baik-baik saja. Aku percaya padanya.” dengan suara bergetar.

“Lalu, apakah kau baik-baik saja dengan semua ini? Lihatlah wajahmu, Yura. Kau terlihat pucat. Kau tampak tidak baik-baik saja dengan semua ini.”

“A-aku baik-baik saja.” ucapnya, terdengar bergetar.

“Kalau kau baik-baik saja, suaramu tidak mungkin terdengar bergetar seperti itu, Yura. Suaramu bahkan terdengar seperti menahan tangis.”

“Aku benar-benar baik saja, Park Jimin.” Yura mulai kehabisan napas. “A-aku… baik-baik saja.”

“Berhentilah keras kepala, Yura.”

“Selama Taehyung yang mengatakannya, aku akan tetap baik-baik saja, Jimin.”

Dan demi mendengar ucapan itu, hati Jimin benar-benar terluka. Suaranya tertahan saat ia berkata, “Kau tidak bisa mengandalkan Taehyung, Yura.”

“Lelaki itu… Kau tidak boleh percaya padanya.” tambahnya.

——————-

Ternyata ucapan Jimin ada benarnya. Mungkin Yura memang tidak bisa terus menerus mengandalkan Taehyung. Dan mungkin juga tak seharusnya Yura percaya pada lelaki itu. Karena sudah beberapa hari setelah sidang selesai, berkali-kali ia diburu oleh para wartawan, Taehyung tidak pernah datang.

Meskipun berkali-kali Yura meyakinkan dirinya sendiri kalau Taehyung akan datang, menolongnya dari para wartawan itu, menepati janjinya untuk berada di sampingnya, Taehyung tetap tidak kunjung datang.

Lelaki itu sempurna menghilang (lagi). Dengan segala janji palsu yang pernah ia ucapkan.

Dan Yura sempurna merasa terluka.

——————-

Nama Yura Park kini menjadi bahan perbicangan yang umum di Korea Selatan. Hampir di setiap tabloid membahas gadis itu dengan segala kisah hidupnya bersama Jung Yujin maupun Kim Taehyung. Kisah hidupnya, kisah hidup Yujin, dikupas secara tuntas dalam setiap tabloid. Entah darimana segala berita itu berasal. Padahal Yura tidak pernah menjawab setiap pertanyaan wartawan. Ia pun tidak pernah menerima tawaran untuk diajak wawancara. Sudah banyak mata-mata di sekitarnya yang membuntutinya kemanapun ia pergi. Bahkan Haruman Fashion, kantornya, kini bukan lagi menjadi tempat yang aman untuknya. Banyak mata yang mengarah padanya, dengan tatapan ingin tahu, sinis, tidak suka, maupun tatapan lainnya yang tak bisa Yura definisikan. Sejak persidangan itu, dimana ia menjadi pengacara kedua Kim Taehyung, hidupnya tidak pernah sama lagi seperti dulu.

Sejak saat itu, ia merasa hidupnya kembali kacau.

——————-

Dua puluh hari kemudian, lelaki brengsek itu kembali berdiri di depan pintu apartemennya. Yura memang marah, Yura memang merasa terluka, ia ingin mencaci, memaki, membentak, memarahi, serta memukul lelaki itu demi meluapkan emosi tertahannya selama lelaki itu tidak ada di sampingnya, namun begitu lelaki itu muncul di depannya, nyata di depan matanya, menatap maniknya dengan tatapan yang begitu dalam, segala emosinya menguap, tergantikan oleh perasaan rindu yang tak tertahankan.

“Kau baik-baik saja?” itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir pucat Taehyung.

Pertahanan Yura jebol. Ia melangkah maju, melayangkan tangannya ke arah dada bidang Taehyung, memukul lelaki itu, berkali-kali, dengan gerakan pelan, namun terlihat menyakitkan di mata Taehyung. Mata gadis itu memerah, airmata telah membasahi kedua belah pipinya.

“Kau kemana saja, Kim Taehyung?” tanyanya, dengan suara bergetar, dengan suara yang terdengar menyakitkan.

Taehyung sampai terluka mendengarnya.

“Kau bilang kau akan di sampingku. Kau bilang semuanya akan baik-baik saja. Tetapi kemana kau selama ini? Kenapa kau menghilang dari hadapanku? Kenapa kau tidak pernah datang? Kenapa kau hanya mengucapkan janji palsu padaku?” isaknya.

“Maaf.” kata Taehyung, dengan suara menyesal. “Maaf karena membiarkanmu sendirian menghadapi masa sulit.”

Taehyung menggigit bibir, menatap Yura dengan tatapan bersalah, membiarkan dadanya terus dipukuli oleh gadis itu, membiarkan gadis itu meluapkan seluruh emosi terpendamnya padanya.

“Kenapa… kenapa kau melakukan ini padaku?” isak gadis itu.

Diam sejenak sebelum Taehyung menjawab.

“Aku sakit, Yura.”

Dan demi mendengar jawaban lelaki itu, gerakan tangan Yura terhenti. Airmatanya berhenti mengalir saat ia menatap Taehyung yang balas menatapnya tanpa adanya keraguan ataupun mengandai-andai.

“Setelah hari persidangan itu, aku sakit parah.”

—tbc

NEXT CHAPTER: TRIANGLE LOVE

“Tak bisakah kau melihat ke arahku lagi?” — Park Jimin

“Maafkan aku, Park Jimin. Tetapi aku sudah mencintai oranglain.” — Yura Park

“Maaf bila nantinya kau terluka, Yura Park.” — Kim Taehyung


Chapter 10 is hereeee!
Sumpaaah aku gak kuat banget liat Yura disiniii 😦 *duh,baper._.v
Okeey, happy reading, guys 🙂

3 thoughts on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 10

  1. Ketimbang dibilang pengacara kedua, menurut ku yura lebih cocok dibilang saksi(?) Yaa, jimin…dia jahat atau nggak sih? Btw, bromance nya kok aku blm merasakan ya? Atau aku yg gak peka? Hmmmm…. Si Taehyung sakit parah? Sakit apa? Ini ga akan berakhir dg Taehyung mati dan Yura kembali pada Jimin kan???

  2. Haaahh?! Taehyung skit apa?! Yaampun -_- jimin itu net think aja yah klo diliat” kkkkkk~ kukira taehyung bneran ninggalin yura tnpa alasan -_- next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s