[Multichapter] 1,2,3 (Hana, Dul, Set) [Chapter 1]

123

1,2,3 (Hana, Dul, Set)

Luhana120

| Oh Sehun (EXO), Kim Taehyung (BTS), Yook Sungjae (BTOB), Byun Hana (OC) |

| Romance, Comedy, School Life |
| Teen |

| Sorry for typos and mainstream idea |

|Chapter 1|

.

“A girl with two stunning eyes, among three boys.”

.

“Kau mestinya tahu, ketua tak akan menyukai wakilnya.”

Kalimat itu memenuhi otak jenius milik Sehun. Dia seakan gila jika kalimat itu memasuki kepalanya lagi. Ia khawatir jika ucapan itu benar. Lelaki tampan itu menghancurkan seisi kamar, hanya untuk mencari kesimpulan dari pernyataan sialan itu.  “Oh Tuhan, aku tak bisa berfikir.”

Sehun terdiam sejenak. Ucapan salah satu teman sekelasnya tadi pagi di sekolah sungguh membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih. Ia mengambil bukunya, berusaha menghilangkan stress—maklumilah, ia anak yang sangat pandai.

Sehun mencoba fokus mengerjakan soal fisika yang paling difavoritkannya. Memasukkan segala rumus ke dalam otaknya, dan membuang pernyataan sialan itu jauh-jauh. Aku tak bisa mengerjakan ini,”

Salahkan dirinya yang terlalu paranoid untuk menghadapi seorang gadis yang sungguh, tak sepantar untuknya. Ia tengah jatuh cinta dengan gadis bermarga Byun. Dilihat dari anggota keluarganya, ia adalah orang yang cukup berada. Byun Hana. Gadis tomboy—bahkan sahabat-sahabatnya meragukan jenis kelaminnya, pandai, cukup tinggi, lucu, tetapi pelupa, dingin, pemalas, dan tentu saja cantik menurut Sehun. Entah apa yang membuatnya jatuh cinta kepada teman sekelasnya sekaligus ketua kelasnya itu.

“Apa yang salah dariku?”

Dert dert

Ponsel Sehun bergetar. Ada pes­­­­an masuk. Tentunya Sehun mengabaikannya dan lebih memusatkan pikirannya kepada Hana. Sehun bukan tipe orang yang mudah terganggu oleh getaran ponsel ketika ia sedang memikirkan sesuatu, dan juga ia adalah tipe orang yang tak memperdulikan ponselnya. Ia tak peduli jika banyak pesan menumpuk di ponselnya.

“Sehun-! Kau tak mau makan? Kau belum makan dari pagi, sayang.”

“Ya, Bu! Tunggu aku!”

Laki-laki dengan postur tubuh yang tak terlalu tinggi itu segera ke ruang makan, menyusul ibunya yang telah duduk manis menunggunya. “Kau memikirkannya lagi?”

Seakan mengerti, Ibu Sehun melontarkan pertanyaan yang sangatlah tepat. Sebagai anak, Sehun tak mungkin membohongi orang tuanya. Ia tak pernah berbohong. “Ya,”

“Kau tak bosan memikirkan gadis itu?” Ibu Sehun bertanya dengan lembut, menunggu balasan dari putra semata wayangnya.

“Dia selalu berulah hingga aku tak bisa melupakannya.”

“Dia gadis baik ‘kan?”

Sehun segera mengunyah makanan dimulutnya, lalu menelannya. “Aku tak akan menyukai gadis yang tak baik, Ibu.” Ibu Sehun menyuapkan makanan ke mulutnya, kemudian bergumam cukup lama.

“Kau kenal baik bukan? Ajak dia kemari, Ibu ingin tahu, gadis macam apa yang kau sukai.”

Sehun terbatuk seketika. Ibunya segera memberinya segelas air, lalu putranya langsung meneguk air itu hingga habis. “Jangan bercanda, Ibu. Untuk mendekatinya saja jantungku serasa ingin berlari dari tempatnya.”

Ibu Sehun tertawa cukup keras. Baru kali ini ia melihat anaknya yang selalu tenang, selalu diam, selalu dingin, menjadi lelaki yang mudah panik dan stress. “Kau terlalu berlebihan. Intinya, Ibu ingin bertemu dia. Lusa. Jangan lupakan itu.”

“Tapi, Bu—”

“Sst! Ibu tak menerima protes, Sehun-a.”

Ibu ingin melihat ia sekarang, yang berbeda dari 11 tahun yang lalu. Haha, kenangan kotor.

Sehun pasrah. Perintah dari ibunya yang tak mungkin ia tolak harus ia laksanakan. Mungkin ia akan stress lagi. Laki-laki bermarga Oh itu segera menghabiskan makanannya dan pergi ke kamarnya. Di kamar ia berencana akan berteriak sekeras mungkin.

“IBUUUUUUUUU!!! ARH! AKU TAK BISA LAKUKAN INI!!!!”

“Ini… Ini gila! Tidak, aku tak bisa lakukan ini,”

“Oh Tuhan, bantulah hambamu ini!”

“Bagaimana caranya? Oh aku stress sekarang!”

Taehyung terus berceloteh tak jelas sembari kembali menghancurkan kamarnya. Mungkin ia harus dilarikan ke rumah sakit jiwa terdekat karena ucapannya semakin ngelantur.

“Taehyung! Taehyung! Bantu aku! TAEHYUUUUNG!!!!”

“PONSEL! AKU BUTUH PONSEL! TAEHYUUNG!!!”

“HANAAAAA! KAU MEMANG GADIS YANG—ARRRGHH!”

-|||-

Pagi yang cerah. Hana mengawali harinya dengan kembali tidur pulas setelah mematikan alarmnya yang memakai lagu Now dari Trouble Maker. Maklumilah, dia memang gadis yang mesum. Sama dengan beberapa temannya. Zizi, Hyunmi, Ara, Yumi, Eunra, Jiseok, dan Chanri. Terlebih lagi, ia suka meng-cover dance sensasional lagu itu dengan Chanri. Gerakannya persis pula. Mengesankan.

“Ya! Byun Hana! Bangun dari tidurmu sebelum aku tendang kau!”

Baekhyun, kakak Hana yang tak pernah akur tetapi sangat menyayangi adik menyebalkannya membangunkan Hana dengan cara yang cukup kurang ajar.

“Diam bodoh. Kau mengganggu tidur tambahanku.”

“Itulah akibatnya jika kau masih sering bermain laptop hingga pukul sebelas malam! Tak ada tambahan untukmu! Cepat bangun dan mandi!”

“Bukan urusanmu, Byun Baekhyun.”

“Byun Hana! Kau mau aku menghabiskan jatah sarapanmu, hah?”

“Tidak, terima kasih. Aku bangun sekarang, serakah.”

Hana terpaksa bangun dengan malas karena kakaknya yang menurutnya menyebalkan itu akan menghabiskan sarapannya. “Jam berapa sekarang?”

Gadis itu melirik jam, dan bergumam.

Oh, setengah tujuh.

Satu detik

Dua detik

Tiga—

“APA?! Setengah tujuh?! Oh, shit, aku terlambat!” Hana berlari ke arah anak tangga menuju lantai dua. Bergegas mengambil pakaian dan langsung memasuki kamar mandi dengan sedikit membanting pintunya. Beberapa detik kemudian, ia keluar dari kamar mandi. Disaat terdesak seperti ini, ia akan menggunakan taktik tercepatnya. Rekor sementara, ia mampu mandi hanya 20 detik. Taktiknya rahasia, ia tak akan membagi ke siapapun, termasuk Author dan pembaca sekalian.

Hana turun dari lantai dua, kemudian segera menata bukunya, dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu memakai sepatu. “Oppa! Bisakah aku meminta bantuanmu sedikit? Suapi aku! Ppali!

“Ti—”

“Kau mau aku merusak ponselmu, hah?”

“Baiklah-baiklah. Aku suapi kau.” Baekhyun mendekati Hana yang sedang memakai sepatu. Kemudian mengarahkan secuil roti ke mulut adiknya itu. Gadis yang duduk di kelas 10 semester kedua itu mengunyahnya dengan cepat. Secuil demi secuil, dan akhirnya, Hana selesai sarapan sekaligus selesai memakai sepatu bertali yang baru ia jemur kemarin.

“Terima kasih, aku tak sudi membalasnya. Ayah, ibu! Aku berangkat! Nenek! Aku berangkat!” Hana menyambar tasnya dan segera menaiki motor sportnya. Gadis itu tancap gas ke sekolah dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam karena ia terlambat.

Karena jarak yang tak terlalu jauh, juga dengan kecepatan yang tak bisa dibilang lamban, Hana dapat tiba di sekolah hanya dalam waktu 10 menit. Disana, Hana merasa bingung. “Sepi sekali?”

Gadis itu bergumam. Diliriknya jam tangan yang ia pakai. Dan betapa terkejutnya dia. “Hell, aku lupa jika jam sialan itu lebih cepat satu jam,” Hana mendumel kesal. Ia tak pernah datang sepagi ini. Yang benar saja, sekarang jam 5.40. Sedangkan sekolah masuk pukul 6.45.

“Aku harus berbuat apa sekarang? Menyebalkan,”

Hana memutuskan untuk memarkirkan motonya kemudian berjalan ke kelas. Sekolah tentunya masih sepi, karena di sekolah tak ada murid yang terlalu rajin untuk datang pagi-pagi buta seperti ini.

“Hana-a!” Suara berat yang memanggil membuat Hana berhenti dan membalik badannya. Hana memicingkan mata dibalik kacamatanya, berusaha untuk melihat dengan jelas. Terlihat lelaki yang cukup tinggi untuk Hana dan kemungkinan itu adalah teman sekelasnya. “Taehyung?”

“Tunggu tunggu tunggu! Pelankan larimu—”

BUKK

Terlambat. Taehyung yang berlari terlalu kencang ke arah Hana dan terlambat untuk menghentikan laju kakinya membuatnya terjatuh menindih Hana. Gadis itu meringis kesakitan.

“Kau keterlaluan, Taehyung! Menyingkir dariku!” Taehyung pun berdiri dan membantu Hana untuk berdiri. Hana membersihkan blazer seragamnya yang kotor dan melirik ke Taehyung dengan sinis. Sedangkan yang dilirik hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.

“Oh, maaf. Aku tak sengaja.”

“Ada apa kau memanggilku?”

“Aku hanya memastikan jika ini benar kau. Kau tak pernah datang sepagi ini, sayang.”

“Jangan remehkan aku—Hei! Siapa yang kau panggil sayang, hah?!”

“Siapa lagi orang disini selain kau?”

“KIM TAEHYUNG!!! KEMARI KAU!!”

Taehyung berlari sekencang mungkin, mencuri start duluan. Hana mengejar Taehyung yang sepertinya mustahil ia dapatkan. Salahkan kakinya yang lebih pendek dari Taehyung. Hana mulai lelah. Jika lelah, gadis itu akan menjadi gadis yang paling malas di seluruh dunia. Hana berhenti dan menuju bangku yang tersedia di depan kelasnya. Ia terduduk lemas sambil melepas sepatunya. “Kau tak memakai kaus kaki lagi?”

“Bukan urusanmu.” Hana meletakkan sepatunya di rak sepatu yang telah dinamai oleh sekretaris kelas. Kemudian memasuki kelas, di ikuti Taehyung di belakangnya.

“Kau jahat.”

“Kau menyebalkan.”

“Kau tidak seru.”

“Memang.”

Hana meletakkan tasnya dan duduk di kursinya. Mengeluarkan buku PKN dan mempelajarinya dengan mata yang setengah tertutup. Gadis itu masih ingin tidur tambahan. Jika tak ada ujian hari ini, tentunya Hana akan tertidur pulas.

“Sistem politik… Apa-apaan ini,”

Hana membaca buku PKN setebal novel roman dengan rasa kantuk yang sungguh menggodanya. Hanya butuh beberapa detik lagi untuk melihatnya terbang ke alam mimpinya.

“Bangun, Putri Tidur! Kau harus belajar PKN! Kau mau harus mengulang jika nilaimu dibawah 75?”

Taehyung duduk di sebelah Hana yang nyaris membuat pulau menjijikkan. Hal itu pun membuat Hana cukup kaget. Gadis yang sungguh imut jika sedang tidur itu tersadar dengan emosi yang mulai meluap.

“Tak bisakah kau menutup mulutmu dan membiarkan aku tidur? Kau menyebalkan!”

“Kau harus belajar, sayang. Kau tak ingin mengulang ujian ‘kan?”

“Aku memang tak ingin, dan aku tak ingin dipanggil ‘sayang’ olehmu. Camkan itu, bocah.”

Hana beranjak dari bangkunya dan meninggalkan temannya yang membuatnya bad mood itu keluar kelas. Di pintu ia bertabrakan dengan Sehun yang baru saja datang. “Sorry.”

Degupan jantung Sehun terasa ketika pundaknya bersentuhan dengan pundak mungil milik Hana. Sehun merasa Hana tak perlu meminta maaf. Yang tak dapat Sehun hindari adalah tatapan mata tajam dari gadis itu yang tertuju tepat ke matanya.

Sial, gadis itu menang lagi.

Sehun berjalan tertunduk menuju kursinya. Dan ia melihat Taehyung—sahabatnya—duduk di sebelah kursi Hana. “Hi dude!” Taehyung menyapa Sehun yang menatapnya intens. Ia tak merasakan apapun. Salahkan Sehun lagi, ia tak pernah bercerita ke sahabatnya sendiri jika ia menyukai Hana. Persetan dengan Taehyung dan kursi itu, Sehun lebih tertarik untuk menanggapi jantungnya yang ingin meloncat keluar.

“Hai.” Balas Sehun.

“Kau sudah belajar PKN?”

“Tentu. Jangan samakan aku denganmu, Tae.”

“Haha, kau meremehkanku.”

Kelas makin ramai. Semua siswa kelas 10B telah hadir. Hana yang saat itu menjabat sebagai ketua kelas sedang bercanda ria dengan sahabat-sahabatnya.

“Haha! Ibu menyukai Kai?! Ahahahahaha! Lelucon macam apa ini?”

“Tutup mulutmu, Hana.”

“Ini lucu, Ibu! Mungkin kau harus ke dokter mata setelah ini.”

Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikannya. Tentu saja itu Sehun. Melihat tawaan gadis itu, ia teringat perintah dari ibunya.

Aku harus mengajaknya untuk ke rumahku besok. Dengan alasan apa? Tak mungkin jika aku langsung mengutarakan maksudku.

Pikiran Sehun berkecamuk. Dapat diprediksi jika sebentar lagi lelaki yang tak bisa dibilang tampan tetapi cantik itu akan mengalami stress.

“Kau memperhatikan siapa?”

Pertanyaan Taehyung seketika membuat Sehun sadar dari lamunannya dan mengedarkan pandangannya ke hal lain. “Tidak apa-apa. Aku hanya melamun tentang PKN nanti.”

Kring kring kring kring kring

Bel tanda masuk berbunyi. Semua murid segera memasuki kelas masing-masing dan menunggu guru datang. Tepat sekali, jam pelajaran pertama adalah PKN.

“Selamat pagi, anak-anak.”

“Selamat pagi, seonsaengnim.”

“Baiklah. Hari ini ujian? Untuk absen genap dan ganjil silahkan suit untuk menentukan siapa yang ujian duluan.”

Wanita paruh baya itu menyiapkan soal-soalnya. Sebagai perwakilan, Youngmin mewakili ganjil dan Zelo mewakili genap melakukan suit. Dan yang menang adalah Youngmin, jadi nomor absen ganjil akan ujian pada jam ke dua.

“Pai pai, Hana! Fighting!” Hyunmi dan Zizi menyemangati sekaligus mengejek Hana dengan senyuman yang sungguh lebar. Dan sungguh tepat pula, Sehun dan Hana adalah absen genap, tak lupa juga Taehyung.

Park saem mulai membagikan soal. Ketika melihat soalnya, semua yang ada diruangan mengeluh. Tapi, tidak dengan Sehun, Taehyung, dan Hana. Mereka bertiga terlihat sangat santai. Maklum, orang yang cerdas.

“Jika salah satu dari kalian ada yang menyontek, kalian semua yang ada disini akan mendapat nilai nol di rapor.”

Ancaman yang sungguh keji bagi pelajar macam mereka. Pelajaran PKN itu sangatlah sulit. Banyak bacaan yang harus baca dengan teliti dan menghafalnya. Sungguh pelajaran yang menyiksa.

Soal telah dibagikan. Semua makhluk yang ada di kelas itu segera mengerjakan soal yang berjumlah 30. Melihat soal-soal itu, Hana menguap dengan setengah mengantuk. “Soal sialan ini membuat aku tak bisa dapat tidur tambahan.” Hana mengerjakan soal yang menurutnya mudah itu. Sungguh mengesankan, ia sangatlah malas tetapi bisa mengerjakan 30 butir soal dengan cepat dan bisa dipastikan benar.

“Nomor 30…”

Jigeum naege wa malhaejwo
uriege naeireun eobseo
mangseoliji ma
deo neutgijeone now
deo meolli deo meolli
nal mieonaeji malgo
uri duri jigeum yeogiseo
sarajigi jeone~
Tell me now now now…

Hana terkejut setengah mati. Lagu favoritnya itu adalah lagu yang paling ampuh untuk membuatnya lupa akan apa yang telah ia hafalkan. Dan sialnya, itu terjadi padanya sekarang. Saat ia nyaris menulis jawabannya di kertas, suara itu melewati telinganya dan membuat jawaban yang akan ia coretkan itu menghilang terbawa angin.

“Sialan kau, Kim Taehyung.”

Hana benar-benar akan mengutuk Taehyung menjadi batu. Ia melirik Taehyung yang ada di sampingnya dengan bengis dan sadis. “Kumpulkan lembar jawaban kalian.”

Teman-teman Hana segera beranjak dari duduknya untuk mengumpulkan jawaban mereka. Sedangkan Hana masih berkutat dengan soal nomor 30.

“Ayolah, satu soal saja…”

Gadis itu memutar otak untuk mencari jawaban. Tetap saja, ia tak dapat menemukan penyelesaian. “Persetan dengan jawaban yang benar, aku harus mengumpulkan lembar jawaban ini,” Hana menjawab nomor 30 dengan asal, kemudian segera mengumpulkannya.

Setelah mengumpulkan kertas itu, Hana segera keluar dari kelas. “YA! KIM TAEHYUNG!”

“Apa?”

“Kemari kau!”

TAK

Jitakan yang cukup keras Hana daratkan di kening milik Kim Taehyung. Lelaki itu meringis kesakitan. “Ya! Apa yang kau lakukan?!”

“Salahmu bodoh! Awas saja jika jawabanku nomor 30 salah! You’ll die, Mr. Kim!” Hana segera beranjak pergi, tetapi Taehyung menahannya.

“Apa maksudmu?”

“Ini salahmu menyanyikan lagu Now dari Trouble Maker, dan membuat pelajaran PKN yang melekat di otakku menghilang!”

“Hei, kau mendengarnya?”

“Pada saat itu hening dan kau duduk tak jauh dariku, bodoh! Tentu saja aku mendengarnya! Dan aku peringatkan kau sekali lagi, jika jawabanku nomor 30 salah, kau akan mati. Remember that, nerd.”

“Tapi—”

“Diam kau! Aku benci padamu,”

Gadis itu pergi dengan rasa kesal yang teramat sangat. Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Hana selalu pergi ke tempat ini sebagai pelarian stressnya.

“Ugh, ayolah, Byun Hana… Hanya satu nomor, tak masalah kan?”

“Tapi… Bagaimanapun juga, jika hanya nomor 30 yang salah… Itu hampir saja sempurna!”

“Argh, akan kubunuh kau, Kim Taehyung!”

Hana berceloteh sendiri layaknya pasien rumah sakit jiwa. Ia melirik jam tangannya sejenak, kemudian memutuskan untuk kembali ke kelas karena jam pelajaran PKN tersisa 20 menit. Ia sedikit berlari ke kelas, tetapi ia menabrak seseorang hingga jatuh. “Maaf,”

Hana membersihkan seragamnya tanpa melihat siapa yang ada di depannya. Ia beranjak pergi, tetapi orang itu menahannya. “Tunggu.”

TBC

Advertisements

One thought on “[Multichapter] 1,2,3 (Hana, Dul, Set) [Chapter 1]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s