[Oneshot] #T for The Classmate’s Revenge

The Classmate's Revenge

T

For

The Classmate’s Revenge

Starring

VIXX Hyuk | BTOB Sungjae

.

“Perusak tak ubahnya hama yang harus dibasmi.”

.

Hyuk mengetuk-ngetukkan telunjuk di atas lututnya sambil sesekali menoleh ke belakang. Tinggi badan yang berada di atas rata-rata membuatnya tidak terganggu oleh banyaknya siswa yang ada di belakang. Ia menggigit bibirnya dan menambah tempo ketukan jarinya. Siapapun yang melihatnya pasti akan tahu kalau Hyuk sedang cemas menunggu seseorang.

“Kim Namjoo, silakan maju.”

Kecemasan Hyuk seakan bertambah saat siswi bernama Kim Namjoo menaiki panggung untuk menerima medali kelulusan. Rasanya sudah puluhan kali dalam dua menit Hyuk mellihat jam tangannya, namun bangku yang ada di sebelahnya masih tetap kosong.

“Hyuk!” colek pria berambut pirang yang ada di belakangnya, “Mana Sungjae?”

“Aku juga tidak tahu, Ravi. Dia belum datang juga dari tadi.”

“Kau sudah meneleponnya?”

“Sudah, tapi tidak diangkat.”

Hyuk memijat pelipisnya. Ia menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu memutuskan berdiri dan –

“TOLOOONG!!! TOLONG!!!”

– tidak jadi karena teriakan seorang siswi yang membuat perhatian seisi aula tertuju padanya. Siswi itu datang dari arah lapangan voli dan terus menerus berlari dengan kecepatan tinggi menuju ke aula sambil berteriak histeris. Kepala sekolah yang terlihat kesal pun akhirnya meneriaki siswi itu dengan mic.

“Tolong jangan mengacau! Di sini sedang ada upacara kelulusan!”

“Pak, ada mayat, pak!” Siswi itu menunjuk ke arah tempat awal dia berlari.

Seisi aula langsung riuh, bertanya-tanya siapa mayat yang dimaksud oleh siswi berkacamata itu; beberapa siswa lainnya mengatainya tidak waras, dan beberapa lagi membeku di tempatnya saat mendengar kata ‘mayat’.

Termasuk Hyuk.

“Mayat Sungjae sunbaenim , pak! Mayat Yook Sungjae!!!”

Keringat dingin Hyuk mulai membasahi baju seragamnya. Ia berlari membelah lautan manusia untuk menghampiri siswi itu. Semua orang memberinya jalan karena siapapun yang ada di sekolah itu tahu, tidak ada yang lebih dekat dan mengenal Sungjae lebih baik daripada Hyuk.

“Apa kau bilang?”

“Di sana ada mayat Sungjae sunbaenim!!!” Siswi itu masih terus berteriak histeris, kali ini sambil menangis. Hyuk seketika kehilangan keseimbangannya, ia limbung tak tentu arah dan beberapa saat kemudian ia pingsan tepat saat Ravi menghampiri di belakangnya.

“Hyuk? Hyuk bangun! Hyuk!” Ravi menepuk-nepuk pipi Hyuk, namun tak ada reaksi. Kepala sekolah yang sekarang berada di sebelah mereka berdua memerintahkan Ravi untuk membawa Hyuk ke klinik sekolah. Setelah Ravi pergi dengan menggendong Hyuk, kepala sekolah beralih pada siswi histeris itu.

“Tenangkan dirimu dulu, nak. Tunjukkan tempat di mana kamu melilhat mayatnya pada bapak. Ayo!”

Siswi itu melangkahkan kakinya yang gemetar menuju ke TKP . Sembari menangis histeris ia dituntun oleh Kepala sekolah yang sebenarnya adalah orang yang penuh dengan wibawa dan kesabaran. Acara perpisahan sekolah itu menjadi kacau balau dan lautan manusia yang ada terbagi menjadi dua; sebagian berdiam diri di dalam gedung karena merasa jijik, sebagian lagi mengikuti ke TKP.

Dari jarak beberapa meter, aroma darah menguar hingga tercium ke segala penjuru. Kepala sekolah serta merta menutup hidungnya karena baunya yang terlalu memusingkan.

“Itu dia, Pak!”

Kepala sekolah beserta semua yang ada di sana mengikuti telunjuk siswi itu dan menemukan tubuh Sungjae yang kaki dan kepalanya hampir putus. Seragam yang seharusnya berwarna putih bersih kini berubah menjadi merah karena darahnya sendiri. Beberapa siswi yang ikut ke TKP pingsan, membuat kericuhan menjadi semakin tak terkendali. Kepala sekolah pun syok dibuatnya sampai beliau berlutut karena tak kuasa untuk menegakkan kaki.

“Ini jelas-jelas pembunuhan.”

.

.

.

2 jam yang lalu

“Sungjae!”

Sungjae menoleh ke kanan dan mendapati Jackson sedang berlari kecil ke arahnya. Jackson mengangkat tangannya dan mereka pun ber- hi five dengan senyum lebar mengembang di wajah masing-masing.

“Kudengar kau mendapat penghargaan khusus di acara kelulusan, benar begitu?” Tanya Jackson sambil mengacak rambut Sungjae. Sungjae membalasnya dengan jitakan, kemudian keduanya tertawa.

“Benar. Kau mau datang untukku?”

“Ah, itulah yang ingin kukatakan!” Jackson terlihat panik, “Hari ini ada upacara kelulusan di sekolah Youngji. Bagaimana ya, sepertinya aku tidak bisa datang.”

Sungjae memajukan bibirnya seolah tak terima, tapi detik kemudia ia tertawa sambil meninju ringan lengan Jackson, “Tidak apa, yang penting aku sudah mengundangmu ya!”

Okay! Ngomong-ngomong, bukannya sekolahmu arahnya ke sana?” Jackson menunjuk arah yang berlawanan dari Sungjae. Sungjae mengayunkan ponsel yang ada di tangannya, mengisyaratkan kalau ia ada janji dengan seseorang yang penting. Jackson mengangguk paham lalu keduanya berpisah di persimpangan jalan sambil melambaikan tangan.

Sungjae mempercepat langkah setelah melihat arlojinya. Ia tak boleh sampai terlambat ke sekolah, pikirnya. Beberapa belokan ia lalui dengan berlari kecil sampai akhirnya ia berada di sebuah belokan yang ia yakini benar. Namun betapa terkejutnya Sungjae setelah menyadari kalau ternyata tempat yang ia tuju adalah sisi lain dari sekolahnya sendiri. Sekolah Sungjae terlampau besar sehingga Sungjae yang sudah tiga tahun sekolah di sana saja bisa tidak tahu tempat ini. Belum habis rasa heran Sungjae, alisnya kembali bertaut saat melihat seseorang yang tidak asing muncul di depannya dengan menggunakan jubah besar menutupi kepala dan membawa sebuah karung besar di punggung .

“Kau yang meneleponku?”

Orang itu mengangguk tanpa suara.

“Kurang kerjaan? Kita kan baru saja bertemu, lagipula kenapa pakai jubah sega – “

Sungjae sudah akan melangkah mendekat namun seketika ia mengurungkan niatnya saat orang itu mengeluarkan sebuah benda mengerikan dari dalam karung yang dibawanya.

“A.. apa yang kau – “

“Apakah pantas seorang pelaku pelecehan seksual sepertimu mendapat penghargaan tertinggi di hari kelulusannya?”

Orang itu melangkah maju mendekati Sungjae namun Sungjae bereaksi sebaliknya, ia melangkah mundur menjauhi orang itu dengan kaki yang gemetar luar biasa.

“He… hei.. bukankah kita sama-sama akan merahasiakan hal itu?” Suara gemetar Sungjae mendominasi keheningan mencekam di antara mereka berdua. Orang itu tetap pada pendiriannya, ia mengintimasi Sungjae dengan langkahnya yang cepat sampai akhirnya dinding kokoh milik sekolah yang membuat nyawa Sungjae berada di ujung tanduk.

“Merahasiakan kejahatan? Aku lebih baik mati, kau tahu itu!”

Entah keberanian darimana yang didapatkan oleh Sungjae saat ini sehingga ia berani menjambak rambut orang itu sampai terjatuh ke tanah.

“Kalau begitu kau saja yang mati. Bunuh saja dirimu sendiri!”

Hanya dengan satu gerakan cepat, orang itu mengayunkan golok besar – benda yang ia masukkan ke dalam karung tadi – dan mengenai kaki Sungjae. Cipratan darah tak terelakkan ada di mana-mana. Teriakan Sungjae tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakannya saat kedua kakinya nyaris putus.

Nyaris.

Hanya tersisa beberapa sentimeter bagian yang masih menyatu.

“Penjahatlah yang seharusnya mati,” orang itu tersengal; sebagian karena emosi, sebagian karena golok itu terlampau berat. “Kau tahu, siapa gadis yang hampir saja kau perkosa kalau saja aku tidak datang? DIA ITU ADIKKU! JOY ITU ADIKKU!”

Alih-alih menjawab, dengan seluruh tenaganya yang tersisa, Sungjae meraih kaki orang itu lalu menciumnya. Dengan ekspresi jijik orang itu menendang wajah Sungjae hingga terguling beberapa kali.

“Kau pikir aku akan memaafkanmu setelah kau mencium kakiku?”

“Ma… maaf…”

“Kali ini aku tidak akan memaafkanmu, kau tahu itu. Orang-orang selalu mengira dirimu adalah malaikat padahal sesungguhnya kau tak lebih dari orang cabul!”

“CUKUP! HARUSKAH AKU MEMBUAT PENGAKUAN DOSA?”

Orang itu terdiam saat Sungjae berteriak padanya. Namun berselang lima detik, golok itu kembali terayun dan mengenai selangka milik Sungjae.

Nyaris putus. Lagi.

“Buatlah pengakuan dosa di hadapan Tuhan, bukan di hadapanku.”

Tanpa memastikan apakah Sungjae masih hidup terlebih dahulu, orang itu menyeret jasad Sungjae. Mungkin orang ini mewarisi tenaga gajah ampai-sampai ia sanggup melempar jasad Sungjae melewati tembok sekolah. Setelah melakukan hal itu, ia melepas jubah hitam penuh cipratan darah yang masih melekat di tubuhnya lalu membakarnya dengan pemantik yang sudah ia sediakan di sakunya.

“Perusak tak ubahnya hama yang harus dibasmi.”

.

.

.

14 Jam yang lalu

“Joy.”

Panggilan di luar pintu kamarnya itu hanya dianggap angin lalu oleh Joy. Tidak ada reaksi yang berarti dari gadis itu, membuat orang yang memanggilnya itu mengulang hal yang sama.

“Joy, boleh oppa masuk? Kau tidak sedang ganti pakaian,’kan?”

“Tidak.”

Pintu pun dibuka oleh Joy sendiri yang terlihat tidak karuan, baik ekspresi maupun penampilannya. Rambut yang acak-acakan, wajah sembab, mata bengkak, dan air mata yang ia lap dengan piyamanya membuatnya seperti seorang gelandangan.

“Ada apa?”

“Apa yang harus oppa lakukan agar Joy yang ceria bisa kembali?”

Joy menatap presensi yang ada di depannya, lalu menutup wajah dengan telapak tangan dan mulai menangis lagi. Kali ini lebih keras sampai bahunya bergetar hebat. Orang itu meraih Joy ke dalam pelukannya, membiarkannya menangis hingga beban tak kasat mata hilang dari pundak Joy.

Tentu saja, masalah yang dihadapi Joy tidak bisa hanya diselesaikan dengan tangisan.

“Maafkan oppa karena tidak bisa menjagamu, Joy.”

“Tidak, ini bukan salah oppa. Ini salahku yang terlalu mudah terpedaya.”

“Bukan, ini salah oppa. Harusnya oppa memberitahukan padamu semua teman-teman pria oppa, yang mana yang baik dan yang mana yang bajingan.”

Joy memeluk oppanya semakin erat dan tangisnya pun semakin keras. Sang oppa turut larut dan menangis sesergukan, namun segera dihentikannya karena bagaimana pun juga adiknya harus dikuatkan oleh orang yang kuat.

“Oppa, aku takut dia kembali. Aku takut.”

Suara Joy bergetar. Sang oppa meraih bahu Joy, kemudian menatapnya dalam-dalam seolah menancapkan tiang harapan yang kuat untuknya.

“Oppa berjanji, oppa akan melakukan apapun agar si brengsek itu tidak kembali lagi ke dalam hidupmu dan merusaknya lagi. Oppa berjanji, Joy.”

“Tapi orang itu bilang – “

“Percayalah pada oppa, Joy! Kumohon!”

Joy menggigit bibirnya. Ia mengenal oppanya dengan baik, karena itulah ia sulit memercayai kata-kata yang diucapkan oleh oppanya itu. Dia orang yang lembut, tidak pernah mencari masalah, tidak pernah berkelahi, rajin belajar, dan semua pujian yang Joy miliki ada pada sang oppa. Bagaimana mungkin ia akan menyingkirkan orang itu sedangkan berkelahi saja – setahu Joy – tidak pernah dilakukan olehnya?

“Baik. Aku akan percaya padamu, Sanghyuk oppa.”

.

.

.

1 minggu yang lalu

Oppa, datanglah ke Coffe Bay pukul empat sore ini. Aku akan menunjukkan pria yang saat ini dekat denganku.

Hyuk mengerutkan alis saat membaca pesan singkat dari adiknya, Joy. Namun sejurus kemudian ia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Anak itu masih ingusan, kenapa sudah memikirkan pacaran? Dasar.” Gerutu Hyuk sambil meneruskan menyalin bahan untuk paper tugas sekolah. Saat ia sedang serius menggarap tugas, sebuah pukulan yang cukup membuat kepala Hyuk oleng mendarat di kepalanya. Tidak perlu ditebak siapa yang melakukannya karena Hyuk sudah tahu dengan akurat.

“Hei, aku pulang duluan ya, ada janji.”

“Memangnya tugasmu sudah selesai, Yook Sungjae?”

“Sudah dong. Ini tugas mudah.” Sungjae melambai-lambaikan kertas tugasnya yang sudah penuh berisi jawaban. Hyuk melirik sekilas tugas teman baiknya itu, lalu mengembuskan nafas panjang seolah jengah dengan apa yang dilihatnya.

“Beruntung sekali ya, kau diberi otak jenius seperti Albert Einstein.”

“Iya dong. Siapa dulu, Sungjae!”

“Jenius tapi mesum.”

“Sial!” Sungjae menjitak gemas kepala Hyuk, namun Hyuk menanggapinya acuh tak acuh. Ia meneruskan mengerjakan tugas sambil melambaikan tangan pada Sungjae, membuat Sungjae mati gaya.

“Akan kukenalkan padamu kalau sudah habis kupakai! Dah!”

Sungjae berlari ke luar kelas tanpa menghiraukan Hyuk yang menatap cemas pada teman baiknya itu. Di kepala Hyuk, ia sendiri tidak menyangka kenapa harus berteman dengan manusia macam Sungjae yang akan memberikan wanita ‘bekas pakai’ untuknya.

Dan di dalam hati Hyuk, ia memaki Sungjae habis-habisan.

.

.

Hyuk berdiri di depan Coffe Bay sembari celingukan melihat ke dalam jendela. Beberapa kali ia mondar-mandir, namun Joy tidak tampak batang hidungnya di dalam kafe itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomer Joy.

“Huh? Ponselnya mati?”

Hyuk mencoba untuk menelpon Joy sekali lagi dan hasilnya tetap sama. Ponsel Joy tidak bisa dihubungi. Rasa cemas dan khawatir pun menguasai Hyuk, namun ia tetap berusaha untuk tetap tenang sambil berkeliling di sekitar kafe untuk mencari Joy.

Tidak perlu berjalan jauh, Hyuk sudah menemukan Joy di belokan belakang kafe Coffe Bay. Namun apa yang dilihatnya saat ini bagaikan petir di siang bolong yang menyambar di atas kepalanya. Ia melihat Joy –

“YOOK SUNGJAE!”

Dan Sungjae. Joy menangis, memberontak, dan meronta-ronta di bawah Sungjae. Sementara Sungjae yang terkejut dengan kehadiran Hyuk segera bangkit sambil tertawa-tawa.

“Oh, hai, Han Sanghyuk! Sedang apa di sini?” Sungjae berjalan ke arah Hyuk yang masih syok melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya.

“Kau.. sedang.. apa?”

“Anu, itu, eh, tidak! Tidak ada! Hanya gejolak anak muda saja, yah kau tau kan bagaimana aku? Anak itu benar-benar sok alim, kau tahu tidak! Dia bahkan mengaku padaku dia belum pernah berciuman! Konyol sekali, kan? Mana mungkiin! HAH!”

Hyuk menatap Sungjae seolah tak percaya. Sungjae mengatakan hal itu seolah-olah ia tidak melakukan sesuatu yang salah. Ia mengatakannya dengan pongah dan bangga.

“Mungkin saja.” Ucap Hyuk pada akhirnya. Ia mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar saat melihat keadaan Joy yang sudah seperti korban pemerkosaan.

“Cih, dasar sok polos. Kurasa kalian berdua lebih cocok. Buatmu saja.” Sungjae menepuk bahu Hyuk lantas pergi meninggalkannya. Baru beberapa langkah berjalan, Sungjae berbalik dan kembali menghampiri Hyuk yang masih bergeming dari tempatnya berdiri.

“Hyuk, untuk kejadian hari ini, tolong jangan bilang siapa-siapa ya.”

Hyuk menatap Sungjae – sekali lagi – dengan tatapan tak percaya. Hatinya mencelos dan hancur di beberapa tempat.

“Kalau kau mengatakan hal ini pada siapapun, kau akan mati. Oke?” Sungjae mengedipkan sebelah matanya pada Hyuk yang membuat Hyuk mual seketika. Ia pergi meninggalkan Hyuk (dan Joy) dengan langkah ringan dan tak tampak ada rasa bersalah sedikit pun, membuat Hyuk geram.

“Kau yang akan mati, Yook Sungjae!”

.

.

.

Hari kelulusan, 10.15 KST

Hyuk mengerjap-ngerjapkan matanya kala seberkas sinar yang menyilaukan tertangkap oleh netranya. Tubuhnya terasa lemah dan sulit digerakkan. Hanya jemari tangan yang mampu berpindah dari tempatnya semula.

“Kau sudah sadar, Hyuk?” Tanya Ravi yang semenjak tadi menungguinya di klinik sekolah. Hyuk memberi anggukan lemah sebagai jawaban.

“Pasti kau sangat terkejut dengan kematian Sungjae sampai-sampai pingsan begini.”

Hyuk mencoba bangun dengan tenaga yang sudah mulai pulih. Ravi ingin membantunya, namun ditolak dengan halus oleh gelengan kepala Hyuk.

“Sebenarnya aku pingsan bukan karena terkejut Sungjae meninggal.”

Ravi sengaja memillih diam untuk membiarkan Hyuk memberi penjelasan. Suasana di dalam kllinik hening selama beberapa saat sebelum akhirnya Hyuk membuka suara lagi.

“Aku pingsan karena terlalu lama menunggu kegemparan yang sekarang sedang terjadi, sampai-sampai aku tidak makan sedari pagi.”

Ravi menautkan alis saat menyadari ada yang janggal dari kalimat yang diucapkan Hyuk, “menunggu kegemparan? Maksudmu, kau sudah tahu kalau Sungjae dibunuh? Kau sudah tahu kalau Sungjae meninggal?”

Hyuk mengangguk, “siapapun di sekolah ini tahu, tidak ada yang mengenal Sungjae lebih baik daripada aku. Jadi, tentu saja aku tahu dengan pasti apa yang terjadi pada Sungjae, siapa yang membunuhnya, dan penyebab kenapa pembunuhan itu bisa terjadi.”

Ravi berjengit. Ada rasa takut yang menjalar pada dirinya saat menatap Hyuk.

“Hyuk – apa maksud perkataanmu?”

“Apapun firasatmu saat ini, aku hanya bisa mengatakan kalau itu semua benar.”

Ravi perlahan berjalan mundur menjauhi tempat tidur yang ditempati Hyuk. Ia menggapai-gapai gagang pintu dan bersiap untuk berlari, namun satu pertanyaan dari Hyuk menahan langkahnya.

“Ravi, apa yang akan kau lakukan kalau seseorang memerkosa adik perempuan kesayanganmu?”

“Tentu saja aku akan membunuh orang itu!” Jawab Ravi tanpa ada keraguan sedikit pun, tapi setelah ia sadar dengan apa yang ia ucapkan, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan diiringi dengan tawa hampa dari Hyuk.

“Jadi… adikmu…”

“Seperti itulah yang terjadi, Ravi. Silakan laporkan hal ini pada polisi. Tenang saja, aku tidak akan kabur.”

-fin-

 

Note:

Hyuk-ah, Sungjae-ah, maafkan kalian sudah dinistakan di sini ya. Jangan salahkan siapa-siapa #plakk

FF ini juga dipublish di blog pribadiku

https://authorjoonisa.wordpress.com/2015/07/02/a-z-oneshot-collection-t-for-the-classmates-revenge/

Mind to review? Like? Comment? 😀

13 thoughts on “[Oneshot] #T for The Classmate’s Revenge

  1. kak nisaaaaaaaa kenapa kak nisa tega membuat sungjae yang cengegesan nggak karuan jadi orang yang kayak gitu ;; oke, aku kirain ceritanya bakalan jadi konyol ala-ala big byung gitu taunya sadiss (nggak baca category genre, hehe) nice ff kak ;u; nyaman dibaca dan nggak bikin bingung. keren c:

    • Haha miaaaaannn sungjae sama hyuk dibikin nista kaya begitu T T
      Tapi klo nonton school 2015, sungjae di sana juga ga karuan kok.. aduh bandel abis.. XD
      Makasih yaaaa udah baca trus makasih komennya juga 😀

  2. Kak Nisaaa, okay aku speechless, antara kaget ini kenapa bales dendam sampe mutusin leher orang atau ngeliat Hyuk ama Sungjae yang aslinya random gak jelas tiba-tiba bisa begini xD LOL.

    Ini keren kak, banget! Cuman pas part deskripsi adegan Joy Sanghyuk aku agak gimana gitu baca oppanya, enak kakaknya mungkin? Tapi overall ini bagus 😀 Jarang-jarang yang bikin ff crime kayak gini. Lagian Sungjae masa adek temen sendiri gak tau, pfft.

    Keep writing kak! 🙂


    Sher.

    • Hai sher makasih ya udah mampir dan ninggalin komen dan saran juga.. saranmu aku tampung ya.. bner juga sih, mending kakaknya aja ya.. ^^
      Iya.. sanghyuk itu sengaja nyembunyiin joy biar joy ga digarap sama sungjae yg playboy bingit itu.. dan sungjae jg ga prnh tanya XD
      Okeee sher

  3. Omg gila fic ini sumpah beyond imagination aku banget! 😆😆

    Kirain revenge nya cuma pukul-pukul-manja /? doang soalnya hyuksungjae ini anaknya emang kelewat cengengesan. TAPI TERNYATA, wah sungjae milih pacar gak liat liat background dulu sih😥😥😑

    Ff nya flow nya nyantai dan bikin pembaca jd gak kebingungan. Tp kurang srek sih sama Ravi. Mending pake nama asli dia aja, Wonshik. Tp gpp lah gak ngurangin keseruan ff ini kok wkwkekke

    Maaf bgt ya aku komen panjang lebar gini hehehe anyway, your newest reader, nita 97l! 😊😊😊😊

    • Huahaha pukul2 manja(?) iya sih emang, dua makhluk ini imut banget trus cengengesan juga.. rasanya ga tega gitu ngasih yg sadis2.. tapi apa daya imajinasi berkata lain /apacoba/
      Ooh gitu ya… mending pake wonshik aja gitu? Oke deh, lain kali klo bikin yg ada ravi aku ganti pake wonshik.. eh profil pict kamu itu wonshik kan yah? Muehehe
      Waaah ga papaaaa aku malah seneng klo ada yg ngomen panjang2 di box komen.. terima kasih ya nita ^^
      Salam kenal, nisa 91 line

      • Iya kak gila aja mereka yang kekanakkanakan gitu kakak ubah yang satu jd mesum yg satu jd bloody/? gitu huahahaha

        Iya kak biar lebih “natural” kesannya. Kalo make Ravi jd nama murid kan terlalu gaul *apa ini* *digorok ravi*. Iya kak! Aku fans-hidup-mati nya ravi wkwkwkkw kakak starlight juga ya???
        Ok kak sama sama ^^ dan aku td jalan-jalan ketemu profil kakak, kakak orang banjarmasin yak? ._.

        • Iya ya bener juga sih.. nnti ff selanjutnya aku ganti wonshik aja deh haha..
          Iyaaaa aku starlight baruuu yg udah di GAME SET sama Leo XD .. semua anak vixx sbnernya suka sih.. sama ravi jg suka, aku akan mengenalkan ravi sama adek perempuan aku hehehe..
          Iyaaa aku org banjarmasin.. kamu org mana?

          • Hehe itu tips aja sih kak wkwk.

            Wah kalo udah kena game set nya leo bakalan parah nih wkwk. Aduh kak jangan dikenalin ravi sama adeknya kakak,ravi sudah aku booking kak *digorok massa*.
            Aku juga bjm kak hihihi, kakak dimananya?? :3

            • Huehehe iya nih aduh pdhl mau berpaling ke hongbin tapi udah kena game set sama leo aku lemah XD
              Misalnya harus ngenalin salah satu member, aku bakalan ngenalin ravi.. kan misalnya aja XD
              OH YA KAMU DI BANJARMASIN JUGA? AAAAAAAA YA KAH? #hebohbanar
              Aku di kayutangi.. kamu di mananya?

              • iyasih ini si hongbin kalah pesona sama leo wkkwkw susah ngelawan si pinkeu prince ini soalnya lol
                Oh kak kirain beneran kak aduh aku udah cenat-cenut/? tadi wkwkkw.
                Aku di ayani kak pal 3. Wkwkkw ternyata ketemu author yg satu kota wawawah ini kebetulan bgt kak wkwkwk :3

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s