[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 9

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not | Chapter 3 – Promise | Chapter 4 – Don’t Cry | Chapter 5 – It’s Hurt | Chapter 6 – Jung Yujin = Yujin Park | Chapter 7 – Surprise | Chapter 8 – Why?

Jimin mendengus lucu mengingat pengakuan Taehyung siang tadi.

“Kekuatan? Jung Yujin adalah kekuatanmu?” tanya Jimin, menatap Taehyung dengan tatapan yang menakutkan. Tatapan yang (dulu) mampu membuat Taehyung merasa kecil dan takut. “Omong kosong! Jung Yujin adalah penderitaanmu, Kim Taehyung! Lihat saja sekarang! Kau menggugat agensi karena dia, kan?”

Kali ini Taehyung yang mendengus lucu. Lupakan tatapan menakutkan itu. Kali ini, ia tidak lagi takut dengan tatapan mematikan Jimin itu. Bahkan kini ia bisa menatap lelaki itu dengan tatapan yang lebih mematikan.

“Kau sama saja seperti para peserta sidang itu.” kata Taehyung. Ia menatap manik Jimin, menembus tepat pada manik lelaki itu. “Segitu bencinyakah kau dengan Yujin? Bahkan hingga dia sudah meninggal, kau masih saja membencinya?”

Jimin mendadak terdiam. Air mukanya berubah.

Lagi-lagi Taehyung mendengus lucu saat melihat perubahan air muka Jimin. “Aku akan membuktikan padamu, aku akan membuktikan pada para peserta sidang, pada semuanya, pada seluruh orang di dunia ini, kalau Jung Yujin tidak seburuk yang kalian pikirkan.”

Taehyung berdiri dari duduknya, maju selangkah, menatap manik Jimin lurus-lurus yang tak berjarak dengan tatapan menantang, namun matanya tampak berkaca-kaca, terlihat jelas kalau sebenarnya ia juga merasa takut dengan apa yang hendak ia hadapi.

“Tunggu saja tanggal mainnya, Park Jimin.”

Chapter 9: Secret

images (3)

.

“Apakah aku telat untuk datang kembali?” —– Kim Taehyung

.

.yujin-2

“Adakah yang kau sembunyikan lagi dariku?” —- Yura Park

.

.
924743_988980147780680_1673223985_n.

“Sampai bertemu di ruang sidang?” — Park Jimin

.

.

Halla menuruti permintaan Yura.

Esoknya, Yura benar-benar tidak mendapat kabar apapun tentang Taehyung dari Halla. Gadis itu tidak lagi membicarakan Taehyung di depannya. Bahkan hingga menjelang hari persidangan lanjutan, Halla tidak pernah menyebut nama lelaki itu. Seharusnya Yura merasa lebih baik setelah itu, karena permintaannya telah dituruti oleh Halla. Tetapi nyatanya, ia malah merasa jauh lebih buruk. Tidak mendengar kabar apapun tentang lelaki itu, justru malah membuatnya semakin rindu. Dan itu benar-benar menyiksanya.

Yura sangat merindukan Kim Taehyung, ia tidak bisa memungkiri hal itu.

——————-

Dan pada pagi buta ini, di hari sidang lanjutan yang akan dilakukan Taehyung siang nanti, tiba-tiba saja Yura kedatangan tamu tak diundang. Tanpa pertanda. Tanpa aba-aba.

“Yura Park.” Kim Taehyung berdiri di balik pintu apartemen Yura.

Tubuh Yura menegang dengan tangan memegang kenop pintu. Napasnya tertahan. Sempurna membeku di depan Taehyung.

“Kau masih ingat denganku?”

Lelaki bodoh! Ingin rasanya Yura membenturkan kepala lelaki itu ke tembok. Untuk menyadarkan lelaki itu. Kalau sejak lelaki itu pergi dari apartemennya, ia selalu mengingat lelaki itu. Ia selalu memikirkan lelaki itu. Ia selalu merindukan lelaki itu. Dan kini, ketika akhirnya ia bertatap muka dengan lelaki itu, lelaki itu malah bertanya masihkah ia ingat dengannya? Benar-benar lelaki bodoh!

“Apakah aku telat untuk datang kembali?”

Dan demi mendengar pertanyaan itu, tubuh Yura berubah lemas. Matanya berkaca-kaca, memandang Taehyung dengan rasa rindu yang menggebu-gebu di dalam dadanya. Bibirnya bergetar saat berkata, “Kau kemana saja?”

Taehyung tidak menjawab. Hanya balas menatap Yura dengan tatapan bersalah.

“Aku merindukanmu, Kim Taehyung.”

——————-

Lucu juga. Untuk dua orang yang pernah berbicara akrab, tertawa bersama, menghabiskan waktu bersama, kini, ketika akhirnya bertemu kembali hanya ada kecanggungan yang terjadi di antara mereka. Duduk berjauhan. Saling melirik dengan diam-diam. Dan tak ada pembicaraan sama sekali.

Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin Yura tanyakan pada Taehyung. Tetapi ketika pada akhirnya ia bertemu dengan lelaki itu, nyata di depan matanya, seluruh pertanyaan itu menguap. Ia tidak bisa mengatakannya, lidahnya kelu.

Taehyung terlihat amat lelah. Wajahnya tidak sesemangat biasanya, tidak seperti terakhir kalinya mereka bertemu. Kini, wajah itu penuh dengan guratan kelelahan. Seperti ada banyak beban yang saat ini menggantung dalam pikirannya. Dan demi melihat itu semua, Yura tidak sanggup bertanya. Tidak, untuk saat ini.

Taehyung pun berpikir demikian. Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin ia sampaikan pada Yura. Tetapi ketika pada akhirnya ia bertemu dengan gadis itu, nyata di depan matanya, seluruh perkataan yang hendak ia ucapkan itu menguap. Ia tidak bisa mengatakannya, lidahnya kelu.

Yura terlihat amat lelah. Wajahnya tidak sesemangat biasanya, tidak seperti terakhir kalinya mereka bertemu. Kini, wajah itu penuh dengan guratan kelelahan. Seperti ada banyak beban yang saat ini menggantung dalam pikirannya. Dan demi melihat itu semua, Taehyung tidak sanggup berkata. Tidak, untuk saat ini.

Yura bangun dari duduknya dengan gerakan pelan. Membuat Taehyung mengangkat kepala dan memandang gadis itu dengan tatapan heran.

“Kau ingin minum apa? Kopi?”

Taehyung menggeleng, lalu tersenyum. “Apakah ada yang lain? Beberapa hari terakhir ini aku selalu minum kopi dan itu membuat tubuhku terasa lelah.”

Yura tidak segera menyahut. Terdiam sejenak sambil memperhatikan wajah Taehyung tanpa ekspresi. Dan demi melihat ekspresi Yura yang seperti itu, Taehyung bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu?

Yura kemudian melangkah menuju dapur sambil berkata, “Kau memang terlihat lelah. Apakah sidang membuatmu kehilangan waktu tidurmu?”

Taehyung terpekur. Lantas menatap punggung Yura yang semakin menjauh dengan tatapan terkejut. “K-kau… mengetahuinya?”

“Aku ke studiomu hari itu.” kata Yura tanpa menoleh ke arah Taehyung. Sementara tangannya mulai sibuk membuatkan minuman untuk Taehyung, suaranya kembali terdengar, “Dan aku bertemu denganmu. Sayangnya, kau tidak melihatku. Kau terlalu sibuk. Orang-orang bilang, kau akan menjalani sidang karena gugatan pembatalan kontrak yang kau ajukan pada agensi.”

Taehyung tidak menyahut. Ia sempurna terpekur di atas sofa. Pandangannya berubah kosong. Ia benar-benar tidak tahu kalau ternyata Yura sudah mengetahuinya. Padahal, hari ini, ia merelakan waktunya datang ke apartemen Yura sebelum sidang siang nanti, untuk mengatakannya pada gadis itu. Untuk memberitahunya tentang hal yang selama ini ia sembunyikan pada gadis itu. Untuk menjelaskan padanya kenapa ia berbuat hal seperti itu. Tetapi ternyata terlambat, ada oranglain yang sudah memberitahu gadis itu.

“Orang itu juga bilang kalau,” Yura berhenti sejenak, menghela napas, lalu kembali melanjutkan, “alasan kau membatalkan kontrak adalah Jung Yujin, pacarmu.”

Taehyung menolehkan kepala ke arah Yura dengan tatapan syok. Entah untuk yang keberapa kalinya pagi ini ia terpekur. Ia segera berdiri dari duduknya, lagi-lagi menatap Yura dengan tatapan bersalah.

Gerakan Yura terhenti tiba-tiba. Mendadak ia merasa dadanya bergemuruh hebat. Pada akhirnya perasaan cemburu dan kecewa itu kembali membuncah dalam dadanya. Membuat perasaannya kembali tidak menentu. Padahal, ia sudah berusaha mungkin untuk menahannya.

“Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, termasuk tentang Yujin. Tetapi tidak apa-apa. Aku tidak akan bertanya. Aku mengerti. Aku—”

“Yura…” Taehyung melangkah mendekati Yura, menatap gadis itu dengan tatapan bersalah. Tatapan itu menembus tepat pada manik Yura, dan entah kenapa demi melihat tatapan itu, Yura langsung panik.

“Tidak apa-apa, Taehyung. Tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa bersalah begitu. Aku tidak apa-apa.”

“Yura…” Taehyung sudah berdiri di depan Yura, masih saja menatap gadis itu dengan tatapan bersalah.

“Meskipun aku tidak tahu apa motifmu menyembunyikan identitas aslimu di depanku, menyembunyikan kenyataan kalau kau kenal dengan Yujin—bahkan berpacaran dengannya, aku tidak apa-apa. Aku mengerti. Kau pasti memiliki alasan. Aku sungguh tidak apa-apa.”

“Yura…”

“Aku memang sempat kecewa padamu. Aku memang sempat marah padamu. Aku seperti merasa dibodohi, dibohongi, seperti hidup dalam sandiwara kehidupanmu. Tetapi sekarang aku tidak apa-apa. Aku sungguh tidak apa-apa, Taehyung.” Yura masih saja mengoceh.

“Yura…”

“Kau tidak perlu menjelaskan padaku kalau itu menyakitkan bagimu. Aku mengerti. Aku sungguh tidak apa-apa sekarang. Aku—”

“Yura…” Taehyung akhirnya meraih kedua bahu Yura. Membungkam seluruh ucapan gadis itu. Menatap manik gadis itu lurus-lurus, dengan mata berkaca-kaca. Dadanya bergemuruh hebat, oleh perasaan bersalah itu.

Yura sempurna terdiam. Matanya nanar saat balas menatap manik Taehyung yang berair.

Taehyung menggigit bibir. Tangannya menggenggam erat kedua bahu Yura hingga buku-buku jarinya memutih, meninggalkan bekas merah di kulit pualam gadis itu. Seharusnya Yura merasakan sakit, tetapi nyatanya ia tidak merasakan sakit itu. Ada yang lebih sakit di hatinya, saat melihat tatapan Taehyung itu.

“Maaf.” hanya itulah yang keluar dari bibir tipis Taehyung, dengan suara lemah, seakan tak ada lagi yang bisa dikatakannya untuk menjelaskan segalanya. “Sudah membohongimu selama ini, aku benar-benar minta maaf, Yura.”

Yura terpekur, menatap Taehyung dengan tatapan terluka. Giginya bergemelutuk, marah. Pada akhirnya ia tidak bisa menahan amarahnya saat mendengar permintaan maaf itu. Ternyata ia tidak bisa lagi berpura-pura untuk merasa tidak apa-apa, karena nyatanya ia memang tidak baik-baik saja.

“Brengsek kau, Kim Taehyung. Kenapa kau melakukan ini padaku?” ucapnya dengan suara tertahan.

——————-

Langit mulai berubah terang saat Yura dan Taehyung kembali duduk bersebelahan di atas sofa. Kali ini dua gelas teh hangat terletak di atas meja. Uapnya mengepul di udara. Memberikan sentuhan hangat pada suasana yang begitu dingin di antara mereka berdua.

“Aku mengalami hari yang berat hari itu, malam itu, malam dimana pertama kalinya kita bertemu.”

Taehyung bercerita, dan Yura mendengarkan.

“Sudah seminggu sejak kematian Yujin saat itu, tetapi para wartawan terus saja bertanya padaku mengenai hal itu. Mereka seakan tidak puas bila hanya bertanya sekali. Mereka terus saja mengincarku, mengejarku, tanpa tahu perasaanku, tanpa tahu kalau aku pun merasa terguncang hebat karena kematiannya. Aku tidak sanggup. Dan aku ingin mengakhirinya, malam itu juga, aku ingin bersatu dengan abu Yujin.”

Taehyung menoleh ke arah Yura, dan menatap gadis itu dengan tatapan terluka.

“Malam itu, sebelum aku bertemu denganmu, aku berdiri di jembatan Sungai Han. Sama sepertimu waktu itu. Aku juga pernah mengalami hal sepertimu, Yura. Ingin mengakhiri hidup, untuk bertemu dengan Yujin, bersatu bersama abunya. Tidak hanya sekali. Tetapi berkali-kali. Hampir tiap malam aku berdiri disana. Berharap aku bisa membiarkan diriku terjatuh. Mati membeku disana. Tetapi aku tidak pernah bisa melakukannya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak pernah bisa melakukannya. Sampai akhirnya malam itu, aku bertemu denganmu.”

Yura hanya menatap Taehyung dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Dari awal aku bertemu denganmu, malam itu, aku memang sudah mengenalimu. Awalnya aku memang tidak begitu yakin, tetapi setelah kau mengatakan kalau kau blasteran Indonesia-Korea Selatan, ibumu tinggal di Indonesia, ayahmu sudah meninggal, dan adikmu kabur dari rumah. Aku langsung mengetahuinya. Dan demi hal tersebut, aku merasa… memiliki harapan kembali untuk tetap hidup.”

“Tetapi hari itu, ketika kau baru mengetahui kematian Yujin, ketika aku melihatmu menangis, terisak hebat, aku baru tersadar, kalau bukan hanya aku yang kehilangan Yujin. Aku sadar, kalau ada yang lebih merasa kehilangan Yujin dibandingkan aku. Selama ini aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan perasaanku, tanpa memikirkan perasaanmu. Tanpa berpikir kalau bukan aku yang merasa kehilangannya. Tanpa berpikir bahwa mungkin kau lebih terluka daripada aku.”

“Maka dari itu, ketika aku melihatmu berdiri di jembatan Sungai Han malam itu, aku benar-benar merasa bersalah karena tidak pernah memberitahumu dari awal. Melihatmu berdiri disana, aku seperti menemukan diriku yang dulu, yang ingin mengakhiri hidup hanya untuk bertemu dengan Yujin, dan aku mengerti perasaan itu. Tetapi aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi padamu. Yang aku pikirkan adalah kau harus hidup. Kau harus tetap hidup, untuk Yujin, dan untuk dirimu sendiri.”

Taehyung terdiam sejenak. Ia tampak sedang mengontrol perasaannya, dan Yura hanya memandangnya tanpa ekspresi.

“Sebenarnya aku ingin mengatakan semuanya padamu sebelum aku pergi dari apartemenmu. Aku ingin jujur padamu kalau sebenarnya aku mengenalimu, mengenali Yujin—bahkan berpacaran dengannya. Tetapi malam itu kau mengatakan… suka… padaku…” Taehyung terdiam sejenak, sekilas melirik perubahan air muka Yura, lalu menggelengkan kepala. “Aku tak sanggup mengatakannya. Aku tak sanggup untuk jujur padamu. Aku tak ingin menyakiti perasaanmu. Aku tak ingin membuatmu lebih terluka lagi karena aku. Maafkan aku, Yura.”

Yura menggigit bibir. Ia menengadahkan kepala saat dirasanya airmatanya mulai menggunung di pelupuk mata. Ia hanya bertanya-tanya di dalam hati, kenapa lelaki itu meski membicarakan tentang perasaannya? Ia tidak perlu diingatkan akan hal itu. Cinta tak berbalas itu menyakitkan.

“Tidak apa-apa, Taehyung. Aku mengerti.” sahut Yura, dengan suara bergetar. Ia menghela napas sejenak, berusaha mengontrol perasaannya, lalu tersenyum pada Taehyung. “Aku tahu memang seharusnya dari awal aku tak berharap padamu.”

Lagi-lagi, Taehyung menatap Yura dengan perasaan bersalah. Dan itu membuat Yura mendesah panjang.

“Berhentilah menatapku dengan tatapan seperti itu, Taehyung. Aku benar-benar tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa bersalah.”

Taehyung menggigit bibir, lalu mengangguk. “Ya. Aku tidak akan memberikanmu tatapan seperti itu lagi.” ia menghela napas sejenak. “Tetapi kau harus tahu, Yura. Segala hal yang kulakukan padamu ketika itu, tentang bagaimana aku mencegahmu mengakhiri hidup, memberimu kejutan saat ulangtahun, bukan karena aku melihatmu sebagai kembaran Yujin.” ia menatap Yura lurus-lurus. “Tetapi aku melakukannya karena aku melihatmu sebagai Yura Park.”

Yura tersenyum, lalu mengangguk. “Aku mengerti.” lalu senyumnya melenyap, tergantikan dengan helaan napas panjang. “Kau pasti melalui banyak hal yang berat selama ini, Taehyung.”

Taehyung tidak menjawab, hanya terdiam.

“Karena tidak menyadari permasalahan yang terjadi padamu selama ini, aku benar-benar minta maaf, Kim Taehyung.” kata Yura. Ia lalu bergerak mengambil secangkir teh di atas meja dan menyerahkannya pada lelaki itu.

“Minumlah. Agar kau lebih tenang.”

Taehyung terdiam sejenak, menatap Yura tanpa berkedip, lalu meraih cangkir dari tangan Yura dan menyesapnya pelan. Dan ia merasa lebih baik setelah itu.

“Tetapi…” Yura kembali bersuara. “bolehkah aku bertanya suatu hal padamu?”

Taehyung hanya balas menatap Yura dengan pandangan bertanya. Yura balas menatap Taehyung dengan tatapan ragu, berpikir apakah ia perlu menanyakannya atau tidak. Tetapi ini sudah di ujung tanduk. Ia sudah terlanjur meminta izin pada lelaki itu.

“Apakah… sebelum kematian Yujin… dia bahagia denganmu?”

Taehyung terdiam beberapa saat sebelum memutuskan untuk menjawab, “Aku tidak benar-benar tahu tentang hal itu. Tetapi aku selalu melihat dia tersenyum setiap kali bersama denganku.”

“Benarkah?”

Taehyung mengangguk. “Itu memang terlihat sederhana. Tetapi aku melihat segala hal yang membebaninya langsung menghilang begitu saja setiap bertemu denganku.”

Yura tersenyum tipis, merasa lega dengan kenyataan itu. “Syukurlah kalau begitu.”

Taehyung hanya menatap Yura tanpa ekspresi, tanpa membalas senyuman gadis itu. Dan hal tersebut membuat senyum Yura melenyap.

“Ada apa dengan ekspresimu? Kau bohong padaku?”

Taehyung diam sejenak, lalu menggeleng.

“Lalu?”

“Kau benar-benar tidak apa-apa?”

“Tentang?”

“Semuanya. Termasuk tentang kenyataan bahwa aku menyembunyikan hubunganku dengan Yujin darimu.”

Yura terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Tidak apa-apa. Sudah kubilang aku tidak apa-apa, Taehyung.”

Taehyung tidak tersenyum, hanya balas menatap Yura tanpa ekspresi. Ia tahu benar, sebenarnya gadis itu hanya berpura-pura baik-baik saja. Ia mengerti perasaan gadis itu.

“Beri aku waktu.” katanya kemudian.

“Untuk?”

“Benar-benar melihatmu.”

Yura tersenyum, agak kaku. “Tidak perlu cepat-cepat, Taehyung. Kau selalu punya banyak waktu.”

“Tetapi, Taehyung…” Yura kembali bersuara. “adakah yang kausembunyikan lagi dariku?”

Taehyung agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu.

“Aku ingin mempercayaimu lagi, Taehyung. Jadi, bisakah… aku percaya padamu?”

Taehyung terdiam sejenak, teringat dengan perkataannya waktu itu pada gadis itu untuk jangan percaya padanya. Kemudian ia tersenyum, agak ragu, lalu menganggukkan kepala.

“Mm.” gumam lelaki itu.

Yura tersenyum demi mendengar gumaman lelaki itu. Ia berdiri dari duduknya dan menghela napas lega. “Sepertinya aku tidak pernah bernapas selega ini setelah kepergianmu, Taehyung.”

Taehyung hanya tersenyum tipis mendengarnya. Entah kenapa perasaan bersalah itu kembali hadir.

Yura melangkah mendekati jendela dan membuka gorden. Sinar matahari yang baru saja mulai merangkak naik langsung menembus kaca jendela, memberikan seberkas cahaya di dalam ruangan yang agak pengap itu.

Yura melirik jam dinding, lalu menoleh pada Taehyung. “Kau ada sidang, bukan, hari ini?”

Taehyung agak terkejut. Lupa kalau hari ini adalah hari sidang lanjutannya. “Benar. Aku hampir melupakannya.” ia segera bergegas bangun dari duduknya.

Yura pikir lelaki itu akan segera bergegas keluar dari apartemennya, tetapi ia malah melihat lelaki itu berjalan menghampirinya, berhenti tepat di depannya, dan menatap maniknya dalam-dalam. Dada Taehyung berdebar keras saat ia berkata, “Sebenarnya ada satu hal yang belum kuberitahu padamu.”

Yura mengerjapkan mata, agak terkejut. “Apa itu?”

“Aku akan mengatakannya, tetapi nanti. Dan sampai pada hari aku mengatakannya padamu nanti, bisakah… hari ini, kau membantuku?

“Bantu apa?”

“Membersihkan nama adikmu.”

——————-

Yura memperhatikan pantulan bayangan dirinya sendiri lewat cermin. Wajahnya tampak gugup dan dadanya berdebar amat sangat keras sampai-sampai ia merasa tubuhnya lemas. Sudah berkali-kali ia mengontrol pernapasannya demi merasa lebih baikan, tetapi tampaknya hal itu tidak berguna. Ia masih tetap merasa gugup. Kim Taehyung memang benar-benar keterlaluan. Kalau saja bukan karena adiknya, ia tak akan mau melakukan hal ini. Tetapi tidak apa-apa, semua ini juga untuk dirinya, dan juga adiknya.

Yura menghembuskan napas keras, mengontrol ekspresinya serta debaran dadanya. Ia tidak boleh terlalu lama berada di toilet ini. Taehyung pasti sudah terlalu lama menunggunya di luar.

Yura membereskan alat make-up-nya yang bertebaran di meja wastafel, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil. Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna, ia pun keluar dari toilet.

Di luar toilet, ia tidak hanya menemukan Taehyung yang berdiri disana. Melainkan juga… Park Jimin.

“Semoga hari ini tidak ada pertengkaran lagi, Kim Taehyung.” kata Jimin, yang entah sejak kapan sudah berdiri berhadapan dengan Taehyung di luar toilet.

Yura melihat Taehyung tersenyum lalu berkata, “Tenang saja, Park Jimin. Sidang kali ini, agensi tidak akan lagi bertengkar denganku.”

“Seberapa yakin dirimu mengatakan itu?”

“Cukup yakin.” jawab Taehyung. Ia menoleh ke arah pintu toilet wanita dan menemukan Yura sudah berdiri di sana, menatapnya tanpa ekspresi. Dan demi melihat Yura berdiri disana,

Taehyung tersenyum. “Sudah selesai?”

Yura mengangguk. Sekilas melirik Jimin.

Jimin mengikuti arah pandang Taehyung dan matanya sempurna membulat saat tatapannya bertemu dengan Yura.

“Yu-Yura Park?”

Taehyung menolehkan kepala dengan ekspresi terkejut ke arah Jimin demi mendengar lelaki itu menyebutkan nama lengkap Yura. Jimin mengenal Yura?

Yura tersenyum, kakinya melangkah maju. Mendekati Taehyung dan Jimin.

“Halo, Park Jimin.” sapa gadis itu.

Kali ini Taehyung menolehkan kepala dengan ekspresi terkejut ke arah Yura demi mendengar gadis itu menyebutkan nama lengkap Jimin. Yura juga mengenal Jimin?

“S-sedang apa kau disini?” tanya Jimin, kaku. Meskipun ia adalah seorang artis, seorang penyanyi, seorang publik figur yang biasa berdiri di hadapan orang banyak saat tampil, ternyata ia tetaplah seorang manusia biasa yang merasa gugup saat berdiri di depan seseorang yang disukainya.

“Menurutmu?” Yura malah balas bertanya, sekilas ia melirik Taehyung yang masih berekspresi terkejut.

Jimin tampak berpikir, masih dengan ekspresinya yang gugup. “Mengantar pakaian?”

Yura hanya tertawa lucu mendengar jawaban Jimin.

“Kalian saling mengenal?” tanya Taehyung, tiba-tiba, menatap Yura dan Jimin bergantian.

Yura hendak menjawab, tetapi Jimin terlebih dahulu menyela, “Kau sendiri mengenal Yura?”

Taehyung tidak langsung menjawab. Mendengar Jimin menyebut nama Yura dengan begitu ringannya membuat perasaan Taehyung mendadak kacau. Entah kenapa itu terdengar seperti lelaki itu telah lama mengenal Yura.

“Bagaimana bisa kau mengenal kakak kembaran Yujin? Memangnya Yujin pernah memberitahumu tentang keluarganya?” tanya Jimin, dengan suara yang terdengar meremehkan.

Yura yang mendengar suara Jimin yang ganjil itu langsung tersentak kaget. Entahlah, ia seperti mendengar nada tidak suka dalam suara Jimin. Ia melihat kedua lelaki di depannya saling menatap dengan tatapan yang ganjil—Jimin menatapnya dengan remeh, Taehyung menatapnya dengan tajam. Merasakan suasana yang mendadak berubah ganjil di antara mereka, Yura segera menyahut, “Selalu ada banyak cara, Park Jimin.”

Jimin menoleh pada Yura, lalu ia melihat gadis itu menarik lengan kemeja Taehyung agak menjauh dari Jimin.

“Sampai bertemu di ruang sidang, Park Jimin.” kata Yura sambil menarik lengan kemeja Taehyung. Dan Taehyung hanya mengikuti saja tanpa sama sekali mengalihkan pandangannya dari Jimin.

Sementara Jimin, matanya semakin membulat ketika melihat tangan Yura yang dengan begitu ringannya menarik lengan kemeja Taehyung, terlebih ketika akhirnya ia melihat Taehyung menurunkan tangan Yura dari lengan kemejanya lalu menggenggam tangan gadis itu. Semua itu dilakukan oleh Taehyung sambil berjalan menjauh dan tanpa sama sekali mengalihkan pandangannya dari Jimin sehingga Jimin dapat melihat dengan jelas tatapan Taehyung yang menusuknya itu.

Oh, man! Pertanda apa ini? Perang? Cinta segitiga?

Tetapi kemudian Jimin terpekur saat teringat dengan perkataan Yura.

Sampai bertemu di ruang sidang?

——————-

Jimin, dengan ekspresi tidak percaya, melihat gadis itu melangkah ke tengah ruang sidang dan berhenti disana. Gadis itu membalik tubuh, lalu tersenyum menatap para peserta sidang. Jimin sempat melihat gadis itu melirik Taehyung sekilas dan Taehyung memberikan anggukan kepala padanya.

“Selamat siang, aku Yura Park.” Gadis itu membuka suara. “Kalian tidak perlu khawatir ataupun terkejut, karena aku bukanlah Jung Yujin. Tetapi aku berdiri disini atas nama Jung Yujin. Karena aku akan memberikan kesaksian pada kalian. Tentang Jung Yujin.”

Jimin mendengus lucu saat melihat Taehyung tersenyum ke arah Yura. Jadi, lelaki itu menggunakan oranglain untuk membersihkan nama Jung Yujin? Dan tidak tanggung-tanggung, orang yang digunakannya itu adalah… kakak kembaran Yujin! Keterlaluan! Tanggal main apaan?! Omong kosong! Ini sih namanya tanggal main-main! Jimin tidak tahu kalau ternyata Taehyung memang sepengecut itu.

“Untuk saat ini, anggap saja aku ini pengacara keduanya Kim Taehyung, Pengacara Park.”

–tbc

NEXT CHAPTER: AFTER COURT

“Benar, akulah kakaknya. Akulah si brengsek itu.” — Yura Park

“Hentikan, Yura-ssi. Bukan itu yang ingin kita bicarakan.” — Kim Taehyung

“Karena kau telah menginjak granat, Yura.” — Park Jimin


Chapter 9 is hereeeee!
Menurutku, di chapter ini Yura keren banget! Berusaha kuat di depan Taehyung saat cowok itu menceritakan kisah yg sebenernya, padahal sebenernya di dalem hati dia merasa sakit banget dengan segala kebohongan Taehyung selama ini. Dan lagiii~ dia masih mau untuk percaya sama Taehyung. Astaga, Yura! Nah, kalo menurut kalian gimana tentang chapter ini? ^_^
Happy reading guys! 🙂

2 thoughts on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 9

  1. “Sementara Jimin, matanya semakin membulat ketika melihat tangan Yura yang dengan begitu ringannya menarik lengan kemeja Taehyung, terlebih ketika akhirnya ia melihat Taehyung menurunkan tangan Yura dari lengan kemejanya lalu menggenggam tangan gadis itu.” For the God sake, my heart beat stopping for a second.
    Apa apaan ini? Kok aku gak rela ya jimin tersakiti. Yya! Asli dah, I don’t know how to say. Semua rumit di kepala aku. Ditambah dg rasa penasaran yg makin memuncak.

  2. Heeummm, yura mw memberi kesaksian?! Jdi greget ma taehyung -_- si jimin blg tae pengecut, sbnernya msih penasaran apa alasan taehyung klwr -_-

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s