The Lost Soul [Chapter 2]

_the lost soul 2

The Lost Soul

A Fanfic By Yuna Lazuardi Lockhart

Genre: Thriller, Angst, Sad romance, Family, Friendship, Psyco, Detective

Chapter, Series
starring by:
  • Choi Siwon , as Choi Siwon
  • Choi Jiwon, as Choi Jiwon
  • Jessica SNSD, as Jessica Giovelle
  • Leeteuk, as Arlane Dennis Giovelle
  • Heechul, as Casey Giovelle
  • Sungmin, as Vincent
  • Yesung, as Jeremy
  • OC’s Yeollane Giovelle
  • Other cast.

Disclaimer: FF ini murni berasal dari pikiranku dan dituangkan kedalam karya orisinil milik ku. Semua cast milik agensi, keluarga fans, dan Tuhan, tapi Siwon milik saya (?) So, don’t copy plagiat or claim this FF as yours!

|| Teaser || Chapter 1 ||

Happy reading~!!

***

“Ketika aku melihatmu, aku tahu bahwa aku jatuh cinta padamu. Lalu ketika aku kehilanganmu,aku tahu bahwa jiwaku akan pergi bersamamu…”

Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap tengah menatap komputernya dengan serius. Lelaki itu tampak memijat keningnya yang terasa penat, dan sudah tak terhitung berapa kali ia menghela nafas. Dengan sabar pemuda itu terus menatap layar komputernya sambil mengulang sebuah rekaman CCTV yang entah sudah berapa kali diputarnya. Dalam rekaman yang hanya berdurasi kurang lebih satu menit itu tampak seorang kakek dihampiri oleh sesuatu yang tak kasat mata dan tiba-tiba saja ia berteriak histeris bersamaan dengan gambar yang tiba-tiba saja gelap, disusul dengan berhentinya rekaman tak lama setelah itu.

“Bagaimana, Jeremy ?” seorang pria paruh baya berdiri dibelakang Jeremy sambil menyesap kopinya.

Pemuda bernama Jeremy itu menggeleng, “Aku tidak bisa menemukan apapun, Sir.” Ucapnya frustasi.

“Hampir tiga jam aku duduk disini dan berkali-kali memutar rekaman CCTV itu, tapi tak satupun informasi yang kudapat selain gambar Mr.Hardwick yang tengah duduk tenang, lalu tiba-tiba ia berteriak dan video berakhir tiga detik setelahnya…” Keluh Jeremy.

“Apa kau sudah men-slow motion rekaman itu ?”

“Sebanyak aku memutar rekaman itu, Sir…” Jeremy menatap atasannya.

“Baiklah, kau bisa istirahat sekarang…”

“Terimakasih, Sir.” Jeremy membungkuk dan keluar dari ruangan.

Sepeninggal Jeremy, pria paruh baya itu tersenyum. “Bagus. Pelaku yang tak terlihat…” ia menghela nafas, kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

“Hello, Mr. Choi ?” sapa pria tua itu.

“Mr. Thunder…” sahut suara disebrang.

“Bagaimana kabarmu ?”

“Langsung saja, Sir. Aku tahu pasti ada sesuatu yang setidaknya cukup penting.”

“Rupanya kau cukup mengenalku…” Mr. Thunder tertawa.

“Tentu saja…” terdengar tawa renyah yang sama dari sebrang.

“Aku berharap mendapatkan bantuanmu. Apa kau keberatan ?” pria paruh baya itu menyulut api di rokoknya.

“Tentu tidak. Bantuan seperti apa yang kau inginkan, Sir ?” tanya Mr. Choi.

“Aku ingin kau memecahkan suatu kasus.”

“Apa itu ?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya lewat ponsel. Kalau kau ada waktu, kita bertemu di kantorku dan aku akan menjelaskannya disana.” Pria itu menaikan sebelah alisnya.

“Kapan ?”

“Waktunya kuserahkan padamu. Kau bisa menghubungiku jika sudah memiliki waktu luang…”

“Aku menebak, kasusnya penting dan rahasia ?”

“Kau benar…”

“Baiklah. Aku akan menelpon jika sudah menemukan waktu yang tepat.”

“Terimakasih…”

“Tidak masalah, Sir. Sampai jumpa…”

“Klik.” Sambungan terputus.

Mr. Thunder menyunggingkan senyumannya lagi, lalu pria itu menyeruput kopinya dalam diam.

“Jeremy…?” panggil Mr. Thunder.

“Ya, Sir ?”

“Kumpulkan lima… Tidak. Dua anggota CIA terbaik dan adakan persiapan rapat.”

“Hanya dua ? Kau yakin Mr.Thunder ? Untuk kasus sepenting ini ?”

Pria paruh baya itu mengangguk mantap. “Semakin banyak orang yang terlibat akan semakin sulit memecahkan kasus ini.”

“Bukankah akan semakin baik jika semakin banyak orang berbakat yang mengerjakan kasus ini, Sir ?” Jeremy mengerutkan keningnya.

“Untuk tipe kasus seperti ini, kita hanya membutuhkan sedikit orang yang benar-benar berbakat…” Mr. Thunder menghisap rokoknya.

“Tapi… Kenapa…?” Kerutan dikening Jeremy tampak semakin jelas.

“Semakin banyak orang yang kita pakai, akan semakin kecil persentase untuk memecahkan kasusnya, apa lagi untuk menangkap pelakunya…” pria paruh baya itu terhenti.

“Mungkin kau benar, dengan adanya banyak orang berbakat akan lebih mudah dan cepat untuk memecahkan kasusnya dan menangkap pelakunya. Tapi, jika terlalu banyak orang, si pelaku akan lebih waspada dan akan mempersiapkan banyak perangkap dan rencana yang justru akan menyulitkan kita untuk menemukannya…” jelasnya.

“Tapi lima bukan angka yang besar ‘kan ?” Jeremy tampak belum puas.

“Mungkin untuk kriminal tingkat menegah seperti perampok bank atau pembunuh berantai, ini bukanlah jumlah yang fantastis… Tapi, untuk seorang pembunuh berdarah dingin yang selalu mengetahui situasi dan kondisi, serta memiliki kemampuan diluar batas, itu sudah menjadi angka yang cukup besar. Terlebih aku sudah menyewa detektif swasta kelas satu…” Ucap Mr. Thunder panjang lebar.

“Tapi hal seperti itu tidak masuk akal, Sir…”

“Tak ada yang masuk akal jika kau berpengalaman menangani kasus kelas berat.”

“Tapi kau tidak boleh lupa bahwa kita baru saja membentuk kelompok dengan sepuluh anggota untuk pemecahan kasus perampokan bank dunia, Sir…?”

“Tentu, aku tak akan lupa. Lagi pula terlepas dari terpecahkan atau tidaknya kasus ini, itu tidak menjadi masalah bagi kita. Karena yang dibunuhnya adalah koruptor yang mengeruk setengah dari kekayaan negara.”

“Lalu mengapa kita mengejarnya ? Bukankah seharusnya kita berterimakasih, Sir ?”

“Meskipun Mr. Hardwick adalah koruptor yang telah dipastikan akan dihukum mati, pembunuh-pembunuh itu tidak memiliki hak apapun atas nyawa Mr. Hardwick. Kenapa ? karena Mr. Hardwick sudah menjadi milik negara.”

“Tapi, di zaman modern seperti sekarang bahkan tahanan dengan hukuman diatas seratus tahun sekalipun bukanlah hak milik negara. Kalau pun benar sesuatu seperti yang kau katakan itu ada, maka ini melanggar HAM…”

“Kau salah, Jeremy… Mereka tetap salah satu asset milik negara. Dan kau juga tidak boleh melupakan bahwa kita memiliki hak khusus untuk melanggar HAM terhadap kriminal tingkat A.”

“Tapi…”

“Kau hanya belum mengerti, Jeremy…” potong Mr.Thunder.

“Oh, baiklah. Jadi maksudmu dengan membunuh Mr. Hardwick secara tidak langsung mereka sudah merusak sesuatu yang telah menjadi milik negara…?” Jeremy mengalah.

Mr. Thunder mengangguk. “Kurang lebih seperti itu. Kau akan mengerti nanti.”

“Baiklah. Aku permisi, Sir…” pamit Jeremy.

Jeremy melangkahkan kakinya menuju keluar dari ruangan. Dengan perlahan pemuda itu memikirkan kembali kata-kata yang baru saja dikatakan Mr.Thunder. Sambil melirik arloji ditangannya, Jeremy masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar.

Ini tak masuk akal. Pasti ada yang salah, aku yakin itu. Biar bagaimanapun dalam pemecahan kasus penting seperti ini, dibutuhkan banyak orang berbakat yang bisa berkerjasama dengan baik. Mungkinkah Mr. Thunder menyembunyikan sesuatu ?” bisik Jeremy dalam hati.

***

 

Arlane Dennis Giovelle menyunggingkan senyum manisnya saat melihat sebuah rumah besar berlantai dua di Roudland Avenue. Ia menatap pada rumah itu dengan mata elang birunya yang tajam. Dengan teliti Dennis melihat setiap gerak-gerik rumah itu. Bukan hanya itu, telinganya juga tengah difokuskan untuk mendengar suara sekecil apapun yang berasal dari rumah itu. Dilihatnya seorang wanita paruh baya dengan anggunnya duduk di balkon lantai dua sambil menyesap teh melati diantara bunga bugenvil yang menjuntai.

Dengan langkah kaki yang sangat ringan, perlahan dan tanpa meninggalkan bunyi, Dennis beranjak dari tempatnya berdiri dan melompati pagar setinggi satu setengah meter. Setelah kakinya menapak pada tanah, pemuda itu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Mata biru pria itu dengan seksama menatap lekat-lekat foto seorang wanita yang tergambar di kertasnya dengan wanita anggun yang duduk menikmati angin malam.

Dennis tersenyum, lelaki itu kemudian naik ke atap lewat sebuah pohon pinus besar yang terpampang di halaman rumah. Lagi-lagi pemuda itu meringankan seringan mungkin langkah kakinya agar tidak terdengar. Suara langkah kaki yang menyatu dengan hembusan angin itu terus mengendap hingga tepat diatas balkon.

Srreeeett…

Dennis melompat dan berdiri tepat didepan wanita paruh baya itu. Wanita itu tersentak. Namun, dengan tenang ia menatap Dennis seolah tak terjadi apapun disana, seolah Dennis memang sudah ditunggunya. Wanita itu tersenyum, lalu sebuah eyesmile tergambar jelas disana. Jujur, ketenangan wanita itu cukup membuat Dennis terkejut. Akan tetapi tidak bagi wanita yang tampak berkelas itu.

“Atas perintah siapa ?” tanya wanita itu seraya menyesap kembali tehnya.

Dennis tak menjawab, hanya menatap tajam wanita itu.

Lagi-lagi wanita itu tersenyum, “Atas perintah siapa ?”

“Huh ?”

“Maksudku, atas perintah siapa kau datang ?” tanya wanita itu lagi pada Dennis.

“Apa anda perlu tahu, Mrs. Andersond ?” Dennis balik bertanya.

“Karena aku targetnya, berarti iya.” Wanita yang dipanggil Mrs. Andersond itu tersenyum.

“Anda tahu tujuanku datang kemari ?” lagi-lagi dennis mengabaikan ucapan Mrs. Andersond.

Mrs. Andersond mengangguk. “Kalau aku tidak tahu, untuk apa aku bertanya…”

“Kalau anda sudah mengetahuinya, mengapa anda masih bertanya, Mrs. Andersond ? Toh aku akan tetap melakukannya…” Dennis mengendikan bahu.

“Tapi aku yang akan jadi korbannya, aku berhak tahu.”

Dennis menghela nafas. “Suamimu…”

“Apa ?”

“Suamimu…” ulang Dennis.

Mata hijau Mrs. Andersond membesar, sekilas tampak setetes air mata akan jatuh dari sana. “Begitu, ya… Rupanya dia sangat membeciku hingga mengirimkan pembunuh bayaran kelas satu sepertimu…” Mrs. Andersond bergumam.

“Kau mengenalku ?” tanya Dennis.

“Tentu saja. Aku adalah pimpinan dari kelompok mafia wanita. Tidak mungkin aku tidak mengenal kelompok pembunuh Teratai Perak. Kau putranya kan’ ?”

“Well, itu mengejutkan… Apa bisa kita mulai saja ?” tanya Dennis kemudian.

“Kau akan membunuhku ?”

“Tentu saja. Suami anda membayarnya untuk itu.” Dennis mengalihkan pandangannya.

“Berapa dia membayarmu ?” Mrs. Andersond menarik nafas berat.

“Sejumlah seluruh kekayaan anda jika aku berhasil membunuh anda, Nyonya…” Jawab Dennis jujur.

“Begitu rupanya…” lagi-lagi ia bergumam.

“Bagaimana jika aku membayarmu lebih, dengan syarat jika kau mau pergi untuk membunuh suamiku ?” tanya Mrs. Anderson.

Dennis menggelengkan kepalanya, “Kami bekerja dengan sistem kontrak, jadi aku tidak bisa melanggar kontrak. Bagi kami, ini adalah bisnis. Kami tidak akan pernah mau bertaruh nyawa untuk melakukannya jika tak ada yang menguntungkan…” jelas Dennis.

“Kenapa…? Aku akan membayarmu lebih.” Ucap Mrs. Andersond lagi.

“Tidak bisa. Karena denda atas pelanggaran kontrak kami adalah nyawaku sendiri.”

“Begitu, ya ?”

“Baiklah. Bunuh aku, tapi jangan rusak tubuhku seperti yang kau lakukan pada korban lain…” Mrs. Andersond memberikan sebuah sarung tangan dan sebilah pisau pada Dennis.

Dennis menatap Mrs. Anderson tiba-tiba. “Kenapa…?”

“Karena aku tidak mau mati dengan mengenaskan…” jawab Mrs. Andersond.

“Bukan itu maksudku. Tapi, mengapa anda tidak mencegahku ?” Dennis menatap lekat-lekat Mrs. Andersond.

“Tak ada gunanya mencegah atau menghalangimu. Sekeras apapun aku berusaha, kau tetap akan membunuhku…”

“Bukankah masih ada persentase kegagalan untuk ku jika saja anda mau melawan…?” Dennis mengendikan bahunya.

“Aku sudah kalah, nak. Aku kalah dari suamiku sendiri.” Mrs. Andersond tersenyum.

“Kalah dalam hal apa ? Dan kekalahan seperti apa yang mampu membuat anda, seorang kepala mafia wanita, menyerahkan nyawa pada seorang pembunuh bayaran seperti aku ?”

“Kekalahan total. Aku sudah kalah dalam segala hal.”

“Tapi… Kenapa ?” Dennis mengerutkan keningnya.

“Karena aku mencintai suamiku. Karena aku begitu bodohnya untuk jatuh cinta pada suamiku. Dan karena aku begitu tak berdaya ketika dia menghianatiku lalu mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhku…” Mrs. Anderson menangis, air matanya jatuh perlahan bersamaan dengan setetes air hujan yang mulai turun di kelamnya langit malam.

“Maafkan aku, Mrs. Anderson…”

“Aku adalah kepala mafia. Dan semua bawahanku adalah perempuan. Sementara suamiku, ia adalah seorang kepala polisi. Awalnya, kami bertemu sebagai musuh. Dan tak ku sangka, aku justru jatuh hati padanya saat kami bertemu secara langsung dalam keadaan baku tembak. Saat itu betapa bahagianya aku ketika ia menyatakan perasaannya padaku. Akhirnya, beberapa bulan kemudian kami menikah. Awalnya rekan kerja kami saling bermusuhan dan dokter memvonis kami tidak bisa memiliki anak, tapi saat itu adalah saat-saat paling membahagiakan untuk ku. Kau tahu kenapa ? Karena saat itu aku benar-benar merasakan cinta dari suamiku…” Mrs. Andersond terhenti.

“Tapi yang aku tidak tahu adalah kalau pada akhirnya dia tetap akan menjadi musuhku. Sekitar dua tahun yang lalu, tepat dihari ulang tahun pernikahan kami yang ke sepuluh, ia mengajukan surat cerai padaku secara tiba-tiba. Karena curiga, aku meminta salah satu bawahanku untuk menyelidikinya. Dan sejak saat itu, kami selalu berperang. Kelompok kami selalu membuat kekacauan dan pihak kepolisian yang dipimpin suamiku selalu berusaha membereskannya. Aku tahu hari ini akan segera tiba cepat atau lambat. Hari dimana kami mengakhiri peperangan kami dengan kemenangan atau kekalahan…” Mrs. Andersond tersenyum getir, sementara hujan mulai turun deras.

“Mengapa anda menceritakannya, Mrs. Andersond ?”

“Mungkin karena aku ingin melepaskan beban berat yang menghimpitku selama dua tahun terakhir, tepat sebelum kematianku…”

“Boleh aku bertanya, Mrs. Andersond ?”

Mrs. Andersond mengangguk.

“Kalau memang suami anda mencintai anda, mengapa kalian melakukan hal yang tak masuk akal seperti ini ? Terutama jika mengingat usia pernikahan kalian saat itu, suami anda tidak mungkin hanya ingin menjebak anda, kan ?” Dennis mengeluarkan nalarnya.

“Kau harus mengingat ini, nak. Tak ada satupun yang masuk akal dalam dunia hitam.” Mrs. Andersond berdiri.

“Mungkin jika ia benar-benar mencintaiku, kami tidak akan menjadi seperti ini. Kami akan bahagia bersama selamanya sampai tua, dan kau tidak mungkin mendapatkan pekerjaan semahal ini. Tapi sayangnya dia tidak mencintaiku. Dia hanya berpura-pura mencintaiku selama sepuluh tahun untuk melihat kematianku…” lanjutnya.

“Maaf kalau pertanyaanku menyinggung anda, Mrs. Andersond..”

“Kau tak bersalah. Aku yang telah salah mengira tentang suamiku sendiri.”

“Mrs. Anderson…?”

“Kau pemuda yang baik. Mengapa melakukan pekerjaan seperti ini ?” Mrs. Andersond mengalihkan pembicaraan.

Dennis tersenyum, “Entahlah, membunuh sudah seperti sebuah hobi untukku. Jadi, dengan bekerja sebagai pembunuh bayaran kuanggap kalau aku tengah menekuni hobiku.”

Mrs. Andersond mengambil nafas panjang, “ Kalau begitu, bunuh aku dan selesaikan tugasmu…”

“Anda yakin ? Anda bisa memanggil pengawal pribadi anda untuk menggagalkan pembunuhan ini.”

“Bunuh saja aku.”

“……”

Dennis tersenyum. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menerima sebilah pisau dari Mrs. Andersond. Dengan perlahan jemari Dennis menelusuri sisi-sisi pisau sambil menggoreskan sedikit pada jarinya untuk memastikan bahwa pisau tersebut cukup tajam. Kemudian dengan tenang Mrs. Andersond duduk dikursinya dan menyesap tehnya hingga gelasnya kosong. Wanita itu duduk tanpa rasa takut sedikitpun. Kemudian, hanya dalam waktu sepersekian detik, sebilah pisau telah mencancap tepat di dada kiri Mrs. Anderson. Pisau itu bahkan telah menembus jantung dan mematahkan rusuk hingga ujungnya terlihat di punggung wanita paruh baya itu.

“Well, tugasku selesai.” Ucap Dennis sambil memberikan checklist pada buku tugasnya.

 

***TBC***

Advertisements

4 thoughts on “The Lost Soul [Chapter 2]

        • whoahh thankyou atas pujiannya. aku juga masih perlu banyak belajar^^ silahkan baca yang banyakk^^ aku seneng hehehe

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s