[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 8

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not | Chapter 3 – Promise | Chapter 4 – Don’t Cry | Chapter 5 – It’s Hurt | Chapter 6 – Jung Yujin = Yujin Park | Chapter 7 – Surprise

“Ta-Taehyung-ssi mengajukan pembatalan kontrak dengan agensi dan Bangtan Boys. Pria tadi adalah pengacaranya. Hari ini Taehyung-ssi akan disidang karena masalah itu.”

Yura mengernyit. Pembatalan kontrak?

Yura tidak begitu mengerti dengan apa yang diucapkan wanita itu. Ia sama sekali tidak mengenal dunia keartisan, tentu saja ia tidak mengerti. Tetapi, kalau memang Taehyung mengajukan pembatalan kontrak di saat ia sedang vakum dari kegiatan Bangtan Boys, berarti ucapannya waktu itu…

“Aku hanya sedang beristirahat. Kakiku cidera, jadi lebih baik aku vakum dari kegiatan mereka dulu.”

… adalah bohong belaka.

Pertanyaannya adalah… kenapa? Kenapa lelaki itu membohonginya?

“Sejak kematian Yujin-ssi, Taehyung-ssi sudah vakum dari kegiatan Bangtan Boys. Banyak yang mengira gadis itu adalah alasannya kenapa ia memilih untuk keluar dari Bangtan Boys.” tambah wanita itu.

Yura menoleh terkejut, menatap wanita itu dengan tatapan murka. “Yujin?”

Wanita itu mengangguk. “Jung Yujin, model terkenal itu, adalah pacarnya.”

Yura terpekur. “Pa-pacar?”

Chapter 8: Why?

924743_988980147780680_1673223985_n

.

“Bagaimana bisa lelaki itu tertawa di saat seperti ini?” —– Park Jimin

.

.yujin-2

“Kim Taehyung, kenapa kau membohongiku?” —- Yura Park
.

.images (3)

“Tidak semuanya, Jimin. Kau tidak tahu semuanya!” —– Kim Taehyung

.

Suara ketuk palu terdengar dua kali di dalam ruang sidang di gedung Big Hit Entertainment, menandakan sidang telah ditutup dan dilanjutkan di hari mendatang. Belum ada hasil keputusan apapun dari hakim. Pihak agensi pun belum bisa memberikan pernyataan apapun terkait masalah salah satu artisnya yang mengajukan pembatalan kontrak itu. Mereka harus kembali menjalani sidang beberapa hari kemudian untuk mendapatkan kesimpulan.

Satu persatu peserta sidang keluar dari ruangan. Para personil Bangtan Boys pun demikian. Setelah menghela napas berat usai menjalani proses sidang yang terasa amat tegang dan panas ini, mereka melangkah pergi keluar ruangan, kembali ke studionya. Namun tidak untuk Jimin.

Jimin memperhatikan Taehyung yang sedang mendengarkan Pengacara Nam berbicara di balik meja mereka tanpa berkedip. Entah apa yang mereka bicarakan, tampaknya seru sekali. Bahkan sesekali Jimin melihat Taehyung tertawa kecil mendengar ucapan Pengacara Nam. Jimin jadi berpikir, apakah lelaki itu benar-benar bahagia ketika akan meninggalkan Bangtan Boys?

Jungkook yang sudah berdiri di bingkai pintu mendadak berhenti ketika dilihatnya Jimin masih tak bergeming di tempatnya. Ia menghampiri Jimin dan menyenggol lengan lelaki itu.

Hyung.”

Tetapi Jimin sama sekali tidak berniat untuk menolehkan kepalanya sedetikpun. Tatapannya terpaku pada Taehyung. Pada tawa lelaki itu. Pada senyum lelaki itu. Pada kebahagiaan lelaki itu. Dan melihat kebahagiaan Taehyung saat ini benar-benar membuat hatinya sakit tak berperi.

Melihat Jimin sama sekali tidak menoleh ke arahnya, Jungkook akhirnya mengikuti arah pandang Jimin dan saat itu juga air mukanya berubah.

“Bagaimana bisa lelaki itu tertawa di saat seperti ini?” ujar Jimin lirih.

Jungkook mendesah. “Kita bisa memikirkan itu nanti, hyung. Sekarang ayo ke studio.”

Jimin tersenyum miris. “Mau memikirkannya sekarang ataupun nanti itu sama saja, Jungkook. Sama-sama menyakitkan.”

Jungkook tidak menjawab. Diam-diam membenarkan perkataan Jimin.

Jimin bangun dari duduknya beberapa menit kemudian, memutuskan untuk tidak mempedulikan Taehyung, lalu melangkah keluar ruangan, disusul oleh Jungkook.

Setelah mereka berdua keluar ruangan, barulah Taehyung menolehkan kepalanya ke arah mereka. Tawanya berhenti saat memperhatikan punggung Jimin dan Jungkook yang semakin menjauh. Ia menundukkan kepala, lalu menghela napas berat.

Pengacara Nam yang melihatnya hanya tersenyum dan menepuk punggung Taehyung berkali-kali, menguatkan lelaki itu. “Semua akan baik-baik saja.”

“Aku sudah mengecewakan banyak orang.”

“Itu sudah pasti.” sahut Pengacara Nam. “Tetapi aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik, Taehyung.” ia menepuk pundak Taehyung, lalu berlalu keluar ruangan. “Ayo kita pergi.”

Taehyung memperhatikan punggung Pengacara Nam yang menjauh dengan tatapan nanar.

‘Kau tidak tahu, Pengacara Nam. Aku juga sudah mengecewakanmu.’

——————-

Suasana di luar gedung Big Hit Entertainment tampak ricuh saat melihat Kim Taehyung bersama pengacaranya yang dikawal oleh beberapa orang dalam penjagaan ketat keluar dari gedung dengan wajah yang amat tenang. Ketenangan mereka itulah yang kemudian menarik perhatian banyak orang. Beberapa orang yang berkumpul di luar, termasuk para wartawan, berlari mendekat ke arah mereka dengan wajah haus akan berita. Mereka masing-masing menyodorkan mikrofon, meminta penjelasan.

“Bagaimana dengan sidang pertamamu, Kim Taehyung-ssi?”

“Apakah sudah ada keputusan dari hakim?”

“Apakah kau benar-benar akan keluar dari Bangtan Boys?”

“Bagaimana karirmu setelah keluar dari Bangtan Boys, Kim Taehyung-ssi?”

“Apakah kau akan solo karir?”

“Lalu bagaimana tanggapan dari teman-teman personil Bangtan Boys?”

“Apakah hubunganmu dengan mereka masih tetap baik-baik saja setelah sidang tadi?”

“Apakah mereka juga mengira kau mengajukan pembatalan kontrak karena Jung Yujin?”

“Mengenai Jung Yujin, benarkah kau tidak tahu kalau selama hidupnya gadis itu mengkonsumsi barang-barang terlarang itu?”

“Benarkah Jung Yujin menyembunyikannya darimu?”

“Apakah hubungan kalian berdua baik-baik saja sebelum kematiannya?”

“Tolong beri kami penjelasan, Kim Taehyung-ssi!”

Taehyung tidak menjawab. Ia terus melangkah menuju mobilnya, dibantu oleh Pengacara Nam dan beberapa orang dalam penjagaan ketat. Ia hanya tersenyum, matanya menyiratkan permintaan maaf pada beberapa wartawan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Ia juga tak lupa memberikan lambaian tangan pada para penggemarnya yang berkerumun di belakang para wartawan, mengucapkan terimakasih lewat tatapan matanya karena telah datang untuk sekedar melihat dan mendukungnya.

Pengacara Nam berhenti sejenak di samping mobil, berdiri menghadap para wartawan dan tersenyum meminta maaf pada mereka.

“Sidang masih akan dilanjutkan beberapa hari mendatang. Kami belum bisa memberikan informasi apa-apa. Tetapi kami membutuhkan dukungan yang terbaik dari kalian untuk Kim Taehyung. Dan mengenai Jung Yujin, tolong jangan bahas masalah itu sekarang. Terimakasih.” ujarnya, kemudian masuk ke dalam mobil.

Kemudian mobil melaju menjauhi gedung.

Sayangnya, Taehyung sama sekali tidak menyadari kalau seorang gadis berponi lurus dengan mata bulat menyerupai biji buah leci berdiri di antara para penggemar yang berkumpul disana. Memandang mobil yang menjauh dengan pandangan tanpa ekspresi, dengan perasaan yang amat tidak menentu.

“Kim Taehyung, kenapa kau membohongiku?” ucapnya lirih.

——————-

Hari ini, entah untuk yang keberapa kalinya Yura pulang kerja lebih awal. Minju yang menyampaikan izinnya pada Mister Baekhyun. Bukannya tak berani, Yura hanya malas mendengar suara yang menggelegar dari mulut Mister Baekhyun. Walaupun ia tahu, ia pasti juga akan mendengar suara menggelegar itu dari luar ruangan Mister Baekhyun.

“APA LAGI YANG TERJADI PADANYA, SIH?! KENAPA DIA SELALU SAJA MERASA SAKIT SETELAH KUSURUH PERGI KE BIG HIT ENTERTAINMENT?! APA PERLU KUPECAT SAJA DIA, HAH?!” begitulah kira-kira suara menggelegar Mister Baekhyun yang ia dengar dari luar ruangan lelaki itu.

Yura jadi merasa kasihan pada Minju yang keluar dari ruangan Mister Baekhyun dengan wajah pucat pasi. Untungnya saja wanita itu tidak begitu mempermasalahkan dan menyuruhnya untuk cepat pergi dari kantor sebelum Mister Baekhyun melihat.

Dan disinilah Yura sekarang. Kembali berdiri disini. Di balik pagar jembatan Sungai Han. Memandang permukaan Sungai Han yang tenang, dalam kesendirian.

“Yujin~a…” suaranya terdengar lirih di antara suara deru angin. Matanya tak lepas menatap permukaan Sungai Han, seolah-olah ia sedang menatap Yujin. Yujin-nya yang disana. “Wanita itu bilang kau adalah pacarnya Kim Taehyung, benarkah itu?”

Semilir angin pagi menampar wajahnya, menerpa rambutnya. Anak-anak rambutnya menutupi sebagian wajahnya, sempurna menutupi airmatanya yang mulai menggenang di pelupuk mata.

“Apakah kau bahagia dengannya, Yujin~a?” tanyanya, kali ini suaranya terdengar bergetar. “Apakah… sebelum kematianmu… Kim Taehyung bisa membahagiakanmu?”

Setetes airmata jatuh dari pelupuk matanya. Ia menggigit bibir.

“Apakah… Kim Taehyung sangat mencintaimu?”

“HEI, apakah kau gila?! Apa yang sedang kaulakukan, hah?!”

Yura teringat dengan suara itu. Suara yang menghentikan aksi bunuh dirinya disana, malam itu, beberapa hari yang lalu, setelah ia mendengar kematian Yujin, adik kembarannya.

“Tidak! Kumohon, jangan lakukan.”

Suara itulah yang menahan aksi bunuh dirinya. Terdengar begitu memohon, seakan tak ada lagi yang bisa diucapkan orang itu untuk menghentikan aksi nekatnya. Seakan tak ingin kehilangannya.

“Baiklaaaaah! Ayo kita terjun bersama!”

Suara itu jugalah yang akhirnya mengajaknya untuk melakukan aksi nekat bersama. Terdengar amat frustasi, namun tak punya pilihan lain.

“Aku akan membawamu bertemu dengan Yujin.”

Suara itu yang—orang itu bilang—akan membawanya bertemu dengan adiknya. Meloncat ke Sungai Han untuk bersatu dengan abu adiknya. Mati membeku bersama. Orang itu bilang… akan menemaninya bertemu dengan adiknya. Sederhana, tetapi menyentuh hatinya. Demi dirinya, orang itu rela mati.

“Hiduplah untuk Yujin, dan untuk dirimu sendiri!”

Suara itulah yang akhirnya membuatnya tersadar. Suara itulah yang menyemangatinya untuk kembali hidup. Pemilik suara itulah yang menjadikannya alasan untuk tetap bertahan hidup. Orang itu membuatnya tersentuh, dengan cara yang sederhana, begitu sederhana.

Tetapi ternyata, semuanya tidak sesederhana yang ia bayangkan.

“Jung Yujin, model terkenal itu, adalah pacarnya.”

Tubuh Yura merosot ke bawah saat teringat dengan perkataan wanita itu. Tangannya menggenggam erat pagar jembatan besi hingga buku-buku jarinya memutih. Perasaan kecewa itu kembali membuncah dalam dadanya.

Kenapa? Kenapa? Kenapa? Dulu, ada banyak sekali pertanyaan kenapa dalam benak Yura ketika pertama kali bertemu dengan lelaki itu.

Kenapa lelaki itu mengajaknya berlari? Kenapa lelaki itu dikejar wartawan? Kenapa lelaki itu lebih memilih tinggal di apartemen Yura dibandingkan kembali ke dunia keartisannya? Kenapa lelaki itu menyuruhnya untuk tidak percaya dengan setiap perkataannya? Kenapa lelaki itu perhatian sekali padanya? Kenapa lelaki itu cepat akrab dengannya? Kenapa lelaki itu tidak ingin melihatnya bunuh diri hanya karena adiknya? Kenapa lelaki itu menawarkan diri untuk terjun ke Sungai Han bersamanya? Kenapa lelaki itu tampak pucat saat ia menceritakan kisah adiknya? Kenapa lelaki itu bisa mengetahui tanggal ulangtahunnya, bahkan Halla yang sahabat dekatnya saja tidak tahu? Kenapa lelaki itu menyuruhnya untuk tidak mencintainya? Dan kenapa lainnya yang tidak mungkin Yura sebutkan satu persatu.

Ternyata alasannya hanyalah satu: Jung Yujin. Yujin Park, adik kembarannya. Atau yang baru Yura ketahui adalah… adik kembarannya itu adalah pacar lelaki itu.

Yura kini tahu, lelaki itu mengajaknya berlari karena ia akhirnya bertemu dengan gadis yang mirip dengan pacarnya. Lelaki itu perhatian padanya karena ia mirip dengan pacarnya. Lelaki itu ingin terjun ke Sungai Han bersamanya karena pada akhirnya ia memiliki alasan untuk bertemu dengan Yujin, bersatu dengan abu pacarnya. Lelaki itu tampak pucat saat Yura bercerita karena ia mendengarkan kehidupan buruk pacarnya. Lelaki itu mengetahui tanggal ulangtahunnya karena Yura adalah kakak kembaran pacarnya, pasti ia tahu dari Yujin. Dan lelaki itu menyuruhnya untuk tidak mencintainya karena… lelaki itu sudah mencintai adik kembarannya.

Pertanyaan-pertanyaan itu kini terjawab. Dan itu sungguh menyakitkan bagi Yura, amat menyakitkan. Ia pikir, lelaki itu melakukannya karena dirinya, karena dirinya adalah Yura, bukan karena dirinya adalah kembaran Yujin.

Dan kini, ketika akhirnya seluruh pertanyaan kenapa itu terjawab. Pertanyaan kenapa lainnya muncul dalam benak Yura. Hanya satu kenapa.

Kenapa lelaki itu membohonginya?

Yura benar-benar tidak bisa menebak apa yang membuat lelaki itu tidak pernah jujur padanya, selama ini. Yura merasa dibohongi. Yura merasa dibodohi. Yura merasa selama ini telah hidup dalam sebuah sandiwara orang itu. Sandiwara yang amat sangat tidak lucu dan memainkan perasaannya, hatinya.

‘Sebenarnya, aku tidak mengenalimu.’

Seharusnya dari awal Yura tahu, kalau ada yang salah dari kalimat yang pernah diucapkan lelaki itu.

Seharusnya Yura tahu, kalau dari awal bertemu, lelaki itu sudah mengenalinya.

——————-

Beberapa hari kemudian, sidang kedua Kim Taehyung bersama agensi kembali dilanjutkan.

Yura tidak berangkat kerja. Ia tidak keluar dari apartemen seharian. Sempurna mendekam di dalam apartemen. Ia tidak berangkat kerja. Ia tidak berangkat kuliah. Hanya menyibukkan diri dengan menyelesaikan rancangan busananya, seharian. Tanpa memikirkan yang lain.

Malamnya, ia mendapat kabar dari Halla kalau hasil sidang belum bisa ditentukan.

——————-

Sidang ketiga kembali dilanjutkan.

Yura berangkat kerja dan memberikan hasil pekerjaannya pada Mister Baekhyun. Mister Baekhyun memujinya, tetapi Yura sama sekali tidak terlihat bahagia, tatapan matanya tampak kosong. Ia hanya tersenyum berterimakasih, lalu berlalu keluar ruangan. Kemudian ia kembali menyibukkan diri dengan menyusun rancangan busana selanjutnya. Seharian. Bahkan ia sampai tidak makan, tidak ingin membiarkan waktunya terlewat sedetikpun. Ia sempurna menekuni kegiatan desainnya.

Malamnya, ia kembali mendapat kabar dari Halla kalau terjadi pertengkaran hebat antara agensi dan Kim Taehyung di dalam sidang, sementara hasil sidang belum bisa ditentukan.

——————-

Sidang selanjutnya kembali dilanjutkan beberapa hari kemudian.

“Yura, ayo kita makan.” ajak Halla setelah sesi kuliah pada malam itu berakhir.

“Aku tidak lapar.” jawab Yura lemah.

Halla menghela napas. “Kau harus makan, Yura. Berat badanmu turun drastis.”

“Aku sedang tidak ingin makan.” kata Yura, lalu hendak bangun dari duduknya.

“Taehyung-ssi dan pihak agensi kembali bertengkar. Nama Jung Yujin disebut di dalam sidang.”

Gerakan Yura terhenti. “Yujin?”

Halla mengangguk. “Taehyung-ssi sudah mengakuinya. Memang gadis itulah alasannya keluar dari Bangtan Boys.”

Yura terdiam sejenak. Rasa cemburu, kecewa, dan marah kembali menelusup ke dalam dadanya, bersarang disana.

“Sebenarnya aku sudah mengetahuinya sejak Taehyung-ssi masih tinggal di apartemenmu. Aku pernah bertanya padanya, dan dia menjawab iya. Tetapi saat itu aku belum tahu kalau kau menyimpan perasaan padanya, aku juga belum tahu kalau ternyata kau adalah kembaran dari mendiang Yujin, jadi aku tidak memberitahumu.” kata Halla.

Ia menoleh pada Halla dan tersenyum berterimakasih pada gadis itu. “Terimakasih, Halla.”

“Untuk apa?”

“Sudah menjadi tabloid berjalan tentang Taehyung untukku selama ini, terimakasih banyak.” jawabnya. “Tetapi setelah ini, berhentilah membicarakan dia di depanku.”

“Memangnya kenapa?”

Yura memandang Halla dengan pandangan terluka. “Karena aku merindukannya, Halla.” katanya.

Air muka Halla berubah prihatin.

“Semakin sering kau membicarakannya, rasa rinduku padanya semakin besar, dan itu benar-benar menyakitkan. Jadi, kumohon, jangan bicarakan dia lagi di depanku.”

Kemudian Yura benar-benar melangkah keluar kelas, meninggalkan Halla.

——————-

Suara langkah sepatu itu semakin terdengar jelas di telinganya, dan pada akhirnya ia melihat sepasang sepatu hitam berhenti tepat di depannya.

Taehyung mengangkat kepala dengan gerakan pelan. Matanya sayu, saat melihat Jimin berdiri di depannya, tepat menatap manik matanya dengan tatapan nanar.

“Benarkah hanya karena itu?” tanya Jimin, dengan suara bergetar.

Taehyung tidak menjawab. Teringat dengan pengakuannya di dalam sidang tadi.

“Benarkah hanya karena kematian Yujin?” tanyanya lagi. “Apakah kau sepengecut itu, Kim Taehyung?”

Taehyung mendengus lucu mendengar kata ‘pengecut’ yang keluar dari mulut Jimin. Ia kembali menundukkan kepalanya. Matanya nanar menatap bawah, namun tampak berkaca-kaca. “Kau tak tahu apa yang terjadi, Park Jimin.”

Jimin juga menatap Taehyung dengan mata berkaca-kaca, sambil berusaha menahan perasaannya yang terguncang hebat sejak usai sidang tadi. “Aku tahu, Taehyung. Aku tahu semuanya.”

“Tidak semuanya, Jimin. Kau tidak tahu semuanya!” teriak Taehyung akhirnya, frustasi. Ia kembali mengangkat kepala, menatap Jimin dengan murka. “Jadi berhentilah bertanya, kumohon.”

“Kau yang seharusnya berhenti, Kim Taehyung.” kata Jimin, dengan suara bergetar. “Agensi tidak akan pernah setuju untuk mengeluarkanmu. Alasan apapun yang keluar dari mulutmu, itu semua percuma. Percuma saja kau bertengkar dengan mereka. Itu malah semakin memperburuk namamu dan nama Jung Yujin.”

“Memang karena itu.” ucap Taehyung, di dalam sidang itu.

Seluruh mata peserta sidang langsung mengarah padanya.

“Aku mengakui. Jung Yujin, memang adalah alasanku untuk berhenti.” lanjutnya.

“HEI, KIM TAEHYUNG!” pihak dari agensi menggebrak meja, merasa marah mendengar pengakuan Taehyung. Seharusnya Taehyung tidak mengatakan hal demikian di dalam sidang. Masalah seperti itu bisa menjadi urusan di luar sidang.

Suasana di dalam sidang menjadi semakin panas setelah Taehyung mengeluarkan pengakuannya atas penggugatan kontrak dengan agensi. Tak hanya pihak dari agensi yang tampak marah, bahkan para personil Bangtan Boys pun tampak menghela napas panjang, berusaha keras menahan emosinya. Para peserta sidang pun tampak berbisik-bisik, membicarakan Taehyung dengan suara sinis dan tatapan tidak suka.

“Nah, benar, kan?”

“Akhirnya dia mengakuinya juga.”

“Benar-benar pengkhianat.”

“Tidak tahukah dia kalau agensi mengeluarkan uang banyak demi menjual namanya dan nama Bangtan Boys? Dan dia keluar hanya karena seorang gadis yang bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini?”

“Bahkan hubungan mereka berdua tidak pernah diakui oleh publik.”

“Dia tidak tahu diri.”

Jimin menatap mereka dengan tatapan tidak suka. Ingin rasanya ia melabrak orang-orang itu yang seenaknya saja langsung mengambil kesimpulan sendiri tentang Taehyung. Tetapi ia tidak bisa melakukannya, lidahnya kelu, dan ia harus diam. Ia tidak mungkin melakukannya saat sidang sedang berlangsung. Ia harus menjaga baik nama Bangtan Boys.

Taehyung, dengan wajah kebasnya, balas menatap beberapa orang dari pihak agensi. “Jung Yujin… aku belum bisa menerima kematiannya. Jadi, biarkan aku keluar dari Bangtan Boys.”

“Kalau kau masih merasa terguncang dengan kematiannya, kau boleh vakum dari kegiatan Bangtan Boys selama beberapa saat hingga perasaanmu membaik, Kim Taehyung. Tetapi tolong jangan mengakhiri kontrak.” kata pihak dari agensi.

“Jung Yujin adalah kekuatanku, aku tak bisa melanjutkannya kalau tidak ada dia.”

“SEPENGECUT ITUKAH DIRIMU, KIM TAEHYUNG?!” pihak dari agensi kembali terbakar emosi, seiring dengan semakin kerasnya suara bisik-bisik para peserta sidang yang membicarakan Taehyung—dan Jung Yujin—dengan suara sinis dan tidak suka.

“Omong kosong macam apa itu?”

“Dia benar-benar gila.”

“Dia sudah buta.”

“Untuk apa dia keluar hanya karena gadis pengguna barang-barang terlarang itu? Benar-benar menjijikkan.”

“Jung Yujin benar-benar sudah merusaknya.”

“Sudahlah, keluarkan saja dia dari Bangtan Boys.”

“Dia sudah tidak pantas lagi menjadi personil Bangtan Boys.”

“Aku baru tahu ternyata Kim Taehyung sepengecut ini.”

Taehyung hanya tersenyum miris mendengar gertakan dari pihak agensi dan juga bisik-bisik dari para peserta sidang. “Ya. Anggap saja begitu. Anggap saja aku ini pengecut.”

Jimin mendengus lucu mengingat pengakuan Taehyung siang tadi.

“Kekuatan? Jung Yujin adalah kekuatanmu?” tanya Jimin, menatap Taehyung dengan tatapan yang menakutkan. Tatapan yang (dulu) mampu membuat Taehyung merasa kecil dan takut. “Omong kosong! Jung Yujin adalah penderitaanmu, Kim Taehyung! Lihat saja sekarang! Kau menggugat agensi karena dia, kan?”

Kali ini Taehyung yang mendengus lucu. Lupakan tatapan menakutkan itu. Kali ini, ia tidak lagi takut dengan tatapan mematikan Jimin itu. Bahkan kini ia bisa menatap lelaki itu dengan tatapan yang lebih mematikan.

“Kau sama saja seperti para peserta sidang itu.” kata Taehyung. Ia menatap manik Jimin, menembus tepat pada manik lelaki itu. “Segitu bencinyakah kau dengan Yujin? Bahkan hingga dia sudah meninggal, kau masih saja membencinya?”

Jimin mendadak terdiam. Air mukanya berubah.

Lagi-lagi Taehyung mendengus lucu saat melihat perubahan air muka Jimin. “Aku akan membuktikan padamu, aku akan membuktikan pada para peserta sidang, pada semuanya, pada seluruh orang di dunia ini, kalau Jung Yujin tidak seburuk yang kalian pikirkan.”

Taehyung berdiri dari duduknya, maju selangkah, menatap manik Jimin lurus-lurus yang tak berjarak dengan tatapan menantang, namun matanya tampak berkaca-kaca, terlihat jelas kalau sebenarnya ia juga merasa takut dengan apa yang hendak ia hadapi.

“Tunggu saja tanggal mainnya, Park Jimin.”

—tbc

NEXT CHAPTER: SECRET

“Apakah aku telat untuk datang kembali?” — Kim Taehyung

“Adakah yang kau sembunyikan lagi dariku?” — Yura Park

“Sampai bertemu di ruang sidang?” — Park Jimin


I’m comeback with part eiiight!
Oh my god! ini pertama kalinya aku nulis fanfic sepanjang ini wkwk~ curcoldikit
Hhhhhh~ #menghelanapasberat# sepertinya permasalahan yang dialami Taehyung bersama Yura dan Jimin semakin sulit, apa yang terjadi selanjutnya yaa? Yuk ditunggu next chapternya 🙂
Happy reading ^^

3 thoughts on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 8

  1. Heeummm taehyung”, adduhhh yura dhhh twww smwnyaa, kesian kn jdi nyesek si yura isshh taehyung, itu sidang ribet bgttt -_- nyesek member bts next chap-nya ditunggu HWAITING!!!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s