[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 7

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not | Chapter 3 – Promise | Chapter 4 – Don’t Cry | Chapter 5 – It’s Hurt | Chapter 6 – Jung Yujin = Yujin Park

Tiba-tiba saja terdengar suara berisik di luar ruangan, suara langkah kaki yang menggebu-gebu.

Jimin menoleh ke pintu saat mendengar suara pintu terbuka dan disusul dengan Jungkook yang masuk ke dalam sambil berlari. Wajahnya terlihat amat panik. Dan entah kenapa Jimin mendapat firasat buruk.

Hyung, pengacara yang mengurus pembatalan kontrak Taehyung hyung dengan agensi datang kesini.” kata Jungkook, panik.

Jimin terpekur. “Apa?!”

Chapter 7: Surprise

images (3)

.

“Jangan menyukaiku, Yura Park.” —– Kim Taehyung

.

.yujin-2

.

“Itu terdengar seperti ‘sukai aku, Yura Park’.” —- Yura Park
.

.

“Tolong urus sisanya, Pengacara Nam. Aku percaya padamu.” kata Taehyung dengan ponsel ditempelkan di telinga. “Ya, secepatnya aku akan kesana. Tentu saja setelah urusanku disini selesai. Jadi, tunggu aku, Pengacara Nam, dan terimakasih banyak.”

Taehyung menurunkan ponsel dari telinganya dan mematikan sambungan. Ia kembali duduk di sofa dan pandangannya berubah kosong. Hatinya gusar, berdebar keras, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ini benar-benar sudah di ujung tanduk.

Ponsel Taehyung kembali berdering. Namun ia hanya menatap ponselnya dengan tatapan kosong saat melihat nama ‘Park Jimin’ yang berkerlap-kerlip di layar ponselnya. Ia tidak memiliki niat untuk mengangkat panggilan tersebut. Wajah Jimin yang tersenyum dengan seringai iblisnya kembali terbayang dalam benaknya, dan itu benar-benar menakutkan, ia belum siap untuk berbicara dengan lelaki itu.

“Kau tidak mengangkatnya?” tanya Yura, baru saja keluar dari kamar sambil merapikan penampilannya.

Taehyung mematikan ponselnya. “Ini tidak penting.” ia lalu menoleh pada Yura yang sekarang sedang menguncir rambutnya. “Kau sudah siap?”

Yura mengangguk. “Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana sih? Bagaimana kalau orang-orang nanti melihat kita?”

Taehyung berdiri dari duduknya dan tersenyum pada Yura. “Tidak akan ada yang melihat kita. Dan tentang kemana kau akan kubawa pergi,” ia mengedipkan sebelah matanya pada gadis itu. “tentu saja itu kejutan.”

Yura hanya mengulum senyum melihat kedipan mata Taehyung, menatap lelaki itu dengan tatapan penuh arti.

Sepertinya, malam ini, ia akan bahagia.

——————-

Yura tidak menyangka kalau Taehyung akan membawanya ke sebuah hotel terkenal di daerah Seoul. Seorang pegawai hotel yang tampaknya sudah kenal dengan Taehyung tersenyum ramah dan langsung menunjukkan jalan menuju restoran.

Yura merasa agak aneh ketika masuk ke restoran itu dan tidak melihat seorang pun disana. Hanya beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan, menunggu perintah.

Pegawai hotel yang mengantar mereka menunjukkan meja yang sudah disiapkan untuk mereka, di bagian depan, dekat panggung. Yura juga melihat ada grand piano putih di atas panggung.

Ketika mereka akhirnya duduk berhadapan, Yura baru membuka suara, “Kenapa aku merasa kau sudah mengatur semua ini?”

“Mengatur apa?” tanya Taehyung dengan wajah tanpa dosa.

Yura mengedikkan pandangannya ke tengah restoran. “Tidak ada orang di restoran ini, kecuali pelayan. Jangan-jangan penyebabnya adalah kau.”

Taehyung tidak menjawab, ia hanya tertawa.

Tak lama kemudian, makanan mereka diantarkan. Ada banyak sekali jenis makanan. Mulai dari makanan Korea, makanan Jepang, bahkan makanan Indonesia. Yura sampai bingung ingin memulai makan apa.

“Halla bilang kau suka makanan Indonesia.” kata Taehyung saat melihat Yura lebih memilih makanan Korea dibandingkan yang lainnya.

Yura tersenyum. “Aku akan suka kalau Ibu yang memasaknya.”

Taehyung mengangkat tangan. “Baiklah, aku menyerah kalau begitu.”

Kemudian mereka makan dalam diam. Yura berkali-kali memperhatikan grand piano putih di tengah panggung, dan Taehyung hanya mengulum senyum melihat Yura seperti itu. Hal tersebut benar-benar membuat Taehyung gemas. Sepertinya Halla tidak salah saat mengatakan kalau Yura menyukai alat musik itu.

Saat mereka selesai makan, Yura menunjuk grand piano putih di tengah panggung. “Kau bisa memainkannya?”

“Kau ingin melihatnya?” Taehyung balas bertanya.

Yura mengangguk. Taehyung lalu berdiri dan meraih tangan Yura, mengajak gadis itu untuk duduk di depan grand piano putih, bersebelahan dengannya.

“Lagu apa yang ingin kaudengar?” tanya Taehyung.

“Apa saja.”

Taehyung mengangguk. “Ada seseorang yang sangat menyukai lagu ini. Dan aku akan memainkannya untuknya, hari ini.” ia lalu memposisikan jari-jari tangan di atas tuts piano, dan mulai bermain piano.

Yura memperhatikan jari-jari tangan Taehyung yang menari dengan begitu lihai di atas tuts piano. Menciptakan sebuah melodi yang indah. Terdengar begitu hidup dan damai.

Yura memejamkan matanya, menikmati alunan musik yang dimainkan Taehyung. Ketika ia mulai terhanyut di dalamnya, suara Taehyung terdengar menyanyikan lagu.

Yura menahan napas ketika mengenali lagu itu. Salah satu lagu favoritnya sepanjang masa. Lagu yang sering di-cover oleh beberapa pemusik lainnya yang berjudul Open Arms. Dulu, setiap kali mendengarkan lagu ini bersama keluarganya, ia selalu bermimpi suatu saat nanti ada seseorang yang akan menyanyikan lagu ini khusus untuknya. Dan kini mimpinya menjadi kenyataan. Kim Taehyung sedang menyanyikan lagu itu. Khusus untuknya.

Lying beside you, here in the dark
Feeling your heart beat with mine
Softly you whisper, you’re so sincere
How could our love be so blind
We sailed on together, we drifted apart
And here you are by my side
Living without you, living alone
This empty house seems so cold
Wanting to hold you, wanting you near
How much I wanted you home
But now that you’ve comeback, turned into day
I need you to stay
So now I come to you, with open arms
Nothing to hide, believe what I say
So here I am, with open arms
Hoping you’ll see what your love means to me
Open arms…

Ketika lagu itu berakhir, Yura baru menyadari airmatanya mengalir tanpa sepengetahuannya. Taehyung juga baru menyadari kalau wajah Yura sudah basah oleh airmata.

“Anak bodoh, kenapa menangis?” tanya Taehyung menghapus airmata di pipi Yura dengan jarinya.

Yura tidak tahu harus menjawab apa. Ia diam saja sambil memandangi wajah lelaki di depannya.

Taehyung memandang Yura lurus-lurus. “Aku menyanyikan lagu ini karena aku tak ingin melihatmu menangis lagi. Meskipun ayahmu, adikmu, telah pergi meninggalkanmu, masih ada ibumu yang selalu ada untukmu, meskipun beliau berada jauh darimu. Juga masih ada teman-temanmu disini, yang akan menemanimu, yang tidak akan membiarkanmu dalam kesepian dan kesendirian. Ada Halla, dia sahabat yang baik untukmu. Ada Mister Baekhyun, walaupun menurutmu dia itu diktator sekali, dan juga—”

“Ada kau?” tanya Yura, menyela ucapan Taehyung, menatap dalam manik lelaki itu.

Taehyung tidak menjawab, hanya tersenyum tipis, namun senyum itu tampak getir, terlihat jelas kalau sebenarnya ia sendiri meragukan akan hal itu.

Tetapi bagi Yura, ia sudah cukup bahagia hanya dengan senyuman itu.

——————-

Usai dari restoran, Taehyung membawa Yura ke taman belakang hotel. Taman itu luas sekali dengan kolam air mancur di tengah-tengahnya. Lampu-lampu taman dinyalakan sehingga walaupun hari sudah malam, taman itu tidak terlihat gelap. Lampu-lampu di dalam kolam air mancur juga dinyalakan sehingga mereka bisa melihat dasar kolam dengan jelas.

Yura melihat sekeliling taman dengan bingung. Tidak ada oranglain di taman itu. Meski sepi sekali, Yura menikmati kesunyian itu. Tetapi…

“Kenapa kau membawaku kesini?” ia mengeluarkan pemikirannya.

Taehyung mengangkat tangan dan menunjuk ke langit. “Lihatlah ke atas.”

Yura memandang ke langit yang gelap dengan dahi berkerut. Tidak ada apa-apa disana. Ia baru saja akan membuka mulut untuk bertanya ketika ia mendengar bunyi desingan lalu letupan. Saat itu juga matanya melihat cahaya warna-warni di langit. Bunyi desingan dan letupan itu terdengar lagi, sambung-menyambung.

DBUM! Kembang api menyala, meletup di udara, menghiasi langit malam kota Seoul, menciptakan bunga-bunga api di langit.

Mata Yura terpaku pada letupan-letupan bunga api itu. Ini pertama kalinya ia melihat kembang api sebanyak itu secara langsung dan merasa takjub sampai-sampai dadanya terasa sesak.

Taehyung tersenyum melihat reaksi Yura seperti itu. Sekali lagi, Halla tidak salah saat mengatakan kalau Yura menyukai kembang api. “Bagaimana? Perasaanmu sudah baikan?”

Yura menoleh dan melihat Taehyung berdiri di sampingnya. “Kau tidak perlu melakukan semua ini, Taehyung-ssi. Tetapi bagaimanapun juga, terimakasih banyak.”

“Sudah kubilang kalau aku tidak ingin melihatmu bersedih. Kau sudah banyak membantuku—termasuk menerimaku tinggal di apartemenmu. Jadi kurasa akan lebih baik kalau aku membantu meringankan sedikit bebanmu. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, seperti sekarang, itu saja.”

Yura balas menatap Taehyung dengan tatapan penuh arti.

“Aku bahagia, Taehyung. Sangat bahagia.”

——————-

“Malam ini benar-benar menyenangkan.” kata Yura, melempar tubuhnya di atas sofa. “Tidak apa-apa kalau aku bolos kuliah lagi malam ini, yang penting aku bahagia.”

Taehyung tersenyum, melepas jaketnya dan menyampirkannya di sandaran sofa. “Yang terpenting adalah kesehatanmu, Nona Park.”

Yura memperhatikan Taehyung yang berjalan menuju kamarnya, lalu kembali keluar dengan membawa kotak berbentuk persegi panjang berwarna ungu berhiaskan pita merah. Ia meletakkan kotak itu di atas meja bundar dan mendorongnya ke arah Yura.

“Apa ini?” Alis Yura berkerut.

Taehyung duduk di sebelah Yura. “Buka saja.”

Yura membuka kotak itu dan ia menemukan sebuah pena antik di dalamnya.

“Selamat ulangtahun.”

Yura menatap Taehyung dengan tatapan bingung.

Sebelum Yura bersuara, Taehyung segera melanjutkan, “Pasti tidak mudah bagimu menjadi seorang perancang busana, harus ada ide-ide baru mengenai desain busana yang akan kaubuat. Kuharap pena itu dapat membantumu dalam membuat desain barumu. Memang hanya pena biasa, tetapi kuharap kau suka.”

Yura menatap pena di tangannya dengan mata berbinar, lalu beralih pada Taehyung. “Aku suka. Terimakasih.” kemudian wajahnya berubah bingung. “Tetapi, ulangtahun? Ulangtahunku besok, bukan hari ini.”

Taehyung tersenyum lebar dan menunjuk ke arah jam dinding. “Sudah lewat tengah malam. Jadi hari ini adalah hari ulangtahunmu.” katanya. “Kau bahkan tidak sadar ya? Berarti kejutan yang kusiapkan berhasil.”

Yura tertegun, lalu tertawa, “Astaga, jadi makan malam tadi, kembang api, dan pena ini, semua itu untuk merayakan hari ulangtahunku?”

“Jangan lupa, aku juga sudah menyanyikan lagu untukmu di restoran tadi. Itu juga harus dihitung.”

“Bagaimana kau bisa tahu ulangtahunku? Bahkan Halla saja tidak tahu.”

Taehyung tidak menjawab, hanya mengulum senyum. Dadanya berdebar, teringat dengan Yujin-nya. ‘Selamat ulangtahun untukmu juga, Yujin~a…’

“Tetapi kenapa harus dirayakan malam ini? Kita bisa merayakannya besok, maksudku hari ini, eh, besok. Ah, pokoknya bisa dirayakan pada harinya.”

Taehyung menatap Yura dengan perasaan tidak enak. “Sebenarnya pagi nanti aku harus pergi ke suatu tempat, jadi aku tak bisa merayakan ulangtahunmu pada harinya.”

Air muka Yura berubah kecewa. “Kau akan pergi?”

Taehyung mengangguk. “Ada suatu urusan yang harus kukerjakan.”

“Apakah kau akan kembali kesini?”

“Oh?” Taehyung tak menyangka Yura akan bertanya seperti itu. “Tidak tahu.”

Yura terdiam, lalu kembali bersuara, “Kau bilang kau akan menemaniku disini.”

Taehyung memijit pelipisnya pelan, mendadak ia merasa pusing. “Kau salah paham, Yura. Bukan seperti itu maksudku.”

“Jadi, maksudmu, kau tidak ingin menemaniku?”

Taehyung menggeleng. “Tidak, Yura. Jangan aku.”

“Kenapa?”

“Ini terlalu cepat, Yura.”

“Bagiku tidak, Taehyung.”

“Jangan…” Taehyung menggelengkan kepala, ia menatap Yura dengan tatapan memohon. “Jangan menyukaiku, Yura Park.”

Yura terdiam sejenak. Namun begitu teringat dengan perkataan Taehyung untuk jangan percaya pada perkataannya, ia langsung tersenyum penuh arti, dadanya berdebar. “Itu terdengar seperti ‘sukai aku, Yura Park’.” katanya kemudian.

“Yura…” Taehyung semakin menatap gadis itu dengan tatapan bersalah. Ia harus mengatakannya, sekarang atau tidak sama sekali. “S-sebenarnya aku…”

“Aku menyukaimu.” sela Yura, membungkam ucapan Taehyung, menatap lelaki dengan tatapan penuh arti. “Jadi, kembalilah kesini saat urusanmu sudah selesai, Kim Taehyung.” ucapnya, lalu melangkah menuju kamar.

Meninggalkan Taehyung yang tertegun.

——————-

“Yura! Yura!”

Minju memperhatikan Yura yang duduk termangu di balik meja kerjanya. Berkali-kali ia memanggil nama gadis itu, namun gadis itu tetap tak bergeming di tempatnya. Gadis itu hanya menatap kosong pena di tangannya.

Akhirnya Minju bergerak mendekati Yura dan menyentuh lengan gadis itu hingga gadis itu terlonjak kaget.

“Kau dipanggil Mister Baekhyun, Yura.” kata Minju.

“Oh, astaga. Aku tidak mendengar.” kata Yura panik. Ia meletakkan pena di tangannya ke dalam laci sebelum bergegas menuju ruangan Mister Baekhyun.

“Kau terlalu sibuk memperhatikan penamu, Yura.” komentar Minju.

Yura hanya menyengir sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan Mister Baekhyun.

“Kenapa kau datang lama sekali, Miss Yura?” seru Mister Baekhyun setelah Yura masuk ke dalam ruangannya.

Yura hanya tersenyum meminta maaf lalu duduk di balik meja kerja Mister Baekhyun.

“Manajer dari Bangtan Boys tidak bisa mengambil pakaian untuk artisnya hari ini. Jadi kau saja yang mengantarkan pakaian itu kesana. Pakaian mereka sudah jadi dan siap untuk mereka pakai.”

Yura mengangguk patuh, dan tanpa banyak bicara berlalu keluar ruangan sambil mendorong rak pakaian beroda.

“Oh ya, Miss Yura.” Mister Baekhyun menghentikan langkah Yura. “Kalau kau tidak bertemu mereka, letakkan saja di studionya.”

“Sepertinya mereka ada acara hari ini.” tambah Mister Baekhyun.

——————-

Yura agak kaget saat tiba di gedung Big Hit Entertainment yang mendadak penuh dengan orang-orang. Yura tidak mengenali mereka, tetapi tampaknya mereka adalah artis. Ia juga melihat beberapa wartawan disana. Bahkan di depan gedung tampak beberapa gadis muda yang berkumpul dengan membawa poster bergambar tujuh lelaki yang sepertinya adalah Bangtan Boys. Yura tidak begitu tertarik dengan mereka, maka dari itu ia langsung menuju lantai atas dimana disanalah studio Bangtan Boys berada setelah meminta izin resepsionis yang berjaga.

Persis seperti yang Mister Baekhyun katakan, ternyata tidak ada satupun orang di dalam studio. Yura melangkah masuk dengan ragu, mendorong rak beroda ke dalam ruangan, dan meletakkan ketujuh pakaian dari atas rak ke atas meja.

Saat Yura keluar dari studio, ia melihat beberapa orang sedang bergegas turun ke lantai bawah. Satu di antaranya ia mengenalnya sebagai Park Jimin, mantan pacarnya saat SMA sekaligus salah satu personil dari Bangtan Boys. Mister Baekhyun bilang Bangtan Boys ada acara, lalu kenapa Jimin ada disini?

Merasa penasaran, ia pun mengekor langkah orang-orang itu. Ternyata, mereka masuk ke dalam ruangan di lantai dasar yang tampaknya tertutup sekali. Beberapa orang tampak berjaga di depan. Yura hanya mengintip dari balik tembok. Ia melihat Jimin tampak bertengkar dengan salah seorang pria yang baru saja datang. Pria itu mencoba menenangkan emosi Jimin, namun tampaknya Jimin amat sangat murka. Hingga akhirnya seorang lelaki—Yura masih ingat dengan lelaki itu, dia adalah Jungkook, salah satu personil Bangtan Boys— menarik Jimin menjauh dan membawanya masuk ke dalam ruangan tersebut. Tak berapa lama kemudian, dari arah pintu masuk gedung, seorang lelaki berkacamata dan bermasker hitam berjalan menuju ruangan tersebut dengan gerakan gagah, dikawal oleh beberapa orang dalam penjagaan yang begitu ketat.

Lelaki itu memang memakai kacamata hitam dan masker, tetapi Yura dapat mengenali dengan jelas siapa lelaki itu. Tanpa berpikir, ia langsung keluar dari tempat persembunyiannya, hendak mendekati lelaki itu yang kini berbicara dengan pria yang tadi bertengkar hebat dengan Jimin. Namun sayang, seorang wanita tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.

“Maaf, kau tidak boleh kesana.” sela wanita itu.

Yura menunjuk lelaki berkacamata yang kini melangkah masuk bersama pria itu. “Kim Taehyung…”

“Ya, Kim Taehyung-ssi akan menjalani sidang sekarang. Orang asing dilarang—” ketika wanita itu bertatapan dengan Yura, wanita itu menelan kembali perkataannya. Matanya membelalak sempurna, ketakutan. “Ju-Jung Yujin-ssi?”

Yura menatap wanita itu tidak mengerti. “Sidang?”

Melihat wanita itu yang tampak ketakutan, Yura segera menambahkan, “Aku Yura Park, orang dari Haruman Fashion yang mengantarkan pakaian untuk Bangtan Boys. Kami berdua memang mirip, tetapi aku bukan Jung Yujin.”

“Apa yang terjadi? Taehyung-ssi? Sidang apa?” tambah Yura.

“O-oh?” Wanita itu tergagap, masih tidak percaya kalau gadis di hadapannya bukanlah Jung Yujin yang ia kenal. “Ta-Taehyung-ssi mengajukan pembatalan kontrak dengan agensi dan Bangtan Boys. Pria tadi adalah pengacaranya. Hari ini Taehyung-ssi akan disidang karena masalah itu.”

Yura mengernyit. Pembatalan kontrak?

Yura tidak begitu mengerti dengan apa yang diucapkan wanita itu. Ia sama sekali tidak mengenal dunia keartisan, tentu saja ia tidak mengerti. Tetapi, kalau memang Taehyung mengajukan pembatalan kontrak di saat ia sedang vakum dari kegiatan Bangtan Boys, berarti ucapannya waktu itu…

“Aku hanya sedang beristirahat. Kakiku cidera, jadi lebih baik aku vakum dari kegiatan mereka dulu.”

… adalah bohong belaka.

Pertanyaannya adalah… kenapa? Kenapa lelaki itu membohonginya?

“Sejak kematian Yujin-ssi, Taehyung-ssi sudah vakum dari kegiatan Bangtan Boys. Banyak yang mengira gadis itu adalah alasannya kenapa ia memilih untuk keluar dari Bangtan Boys.” tambah wanita itu.

Yura menoleh terkejut, menatap wanita itu dengan tatapan murka. “Yujin?”

Wanita itu mengangguk. “Jung Yujin, model terkenal itu, adalah pacarnya.”

Yura terpekur. “Pa-pacar?”

—tbc

NEXT CHAPTER: WHY?

“Bagaimana bisa lelaki itu tertawa di saat seperti ini?” — Park Jimin

“Kim Taehyung, kenapa kau membohongiku?” — Yura Park


Chapter 7 is hereeeee!
akhirnyaaa bisa di publish juga chapter selanjutnya setelah seminggu nggak update. Oiya, kabar gembira nih, UAS-ku udah selesai #fiyuuuuhhh~ akhirnya libur juga :”)
Pada akhirnya sampai juga pada bagian romance di chapter ini. Dan maaaaf bangeet kalo mengecewakan, banyak banget scene scene yang aku kutip dari novel ‘Summer in Seoul’ karena sumpah, nggak ada ide banget buat bagian romance-nya, hehe, tapi nggak semuanya juga aku kutip kok ^^
Dan pada akhirnya pulaaa~ Yura mengetahui siapa Taehyung sebenarnya, kira-kira apa yang terjadi pada Yura dan Taehyung selanjutnya yaa? Silakan menebak-nebak selagi menunggu chapter berikutnya 🙂
Happy reading and happy holiday, guys! ^^

4 thoughts on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 7

  1. Huaaahhh yura sudah tw taehyung pcrnya yujin?! Heumm bgaimna reaksinya…adduhh taehyung so sweet bgttt, bner” dehhh yura smpe dibuat trhipnotisss aawwww so sweettt, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s