[Ficlet] Different : I Need U

11421602_516709061809453_1234941091_n

Diffrent : I Need U

Author : Jinho48

Genre : Sad Romance, Friendship

Cast :

  • Min Yoongi of BTS
  • Lee Jinhyo OC
  • Mark Tuan of GOT7

Length : Ficlet Series

Summary : “Kau segalanya untukku. Aku membutuhkanmu. Rasanya berbeda jika tanpamu. Mengapa dirimu? Mengapa dirimu yang ku cinta? Maafkan aku. Aku masih mencintaimu.”

#

^3^

#

“Sialan! Kapan mereka akan berhenti menggonggong? Membuat kepalaku pening saja.” Keluh seseorang dari balik selimut tebalnya.

Suara pecahan benda-benda kramik terdengar hingga ke kamarnya. Juga di sertai dengan teriakkan penuh caci, maki, dan umpatan kasar yang membahana. Rasanya yang mendengar semua itu ingin bunuh diri seketika karena suara-suara itu memekakan telinga. Dengan kesal orang itu menyibak selimutnya. Ia turun dari kasur king size-nya lalu mengambil jaket hitam kulit yang tersampir di balik pintu kamarnya.

Dia bergegas menuruni tangga. Tujuannya saat ini adalah keluar dari neraka sialan ini. Ia melewati ruang tengah tanpa mengucapkan apapun. Kedua orang dewasa yang tengah berdebat tadi langsung terdiam menyadari kepergian anak semata wayangnya. Sang ayah tersulut amarah. Beliau menahan anaknya lalu memberi bogeman mentah tepat di pipi kirinya.

DUG BRUK

Anak itu berdesis menahan nyeri sedangkan sang ayah menatapnya tajam dengan nafas terengah. “Mau kemana kau? Apa belum puas kau mempermalukan kami dengan apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau jadi berandalan? Kenapa kau jadi sampah yang tak berguna, Yoongi-ya?!” cecar ayah Yoongi dengan nada marah.

Yoongi hanya diam. Ia sangat malas meladeni ayahnya untuk saat ini. “Kau punya mulut tidak? JAWAB AKU, ANAK SIALAN!” teriak ayah Yoongi penuh emosi.

“Lihatlah anak kesayanganmu ini, Lee Chaerin! Inikah hasil didikanmu selama ini? Apa saja yang kau ajarkan pada anak ini hingga dia menjadi anak kurang ajar dan tak berguna seperti ini, huh? Ini semua adalah salahmu, Rin!”

YA! Kenapa kau menyalahkanku? Kau juga salah, Jiyoung-ah! Selama ini kau hanya memikirkan pekerjaan dan sekretaris busukmu itu. Kau tidak pernah memantau perkembangan Yoongi secara langsung. Ku akui bahwa setahun belakangan aku tidak terlalu memperhatikanya tapi itu semua ada alasannya. Aku membantu ibuku mengelola butiknya. Beliau sudah terlalu tua untuk bekerja. Apa kau tahu itu? Kau itu ayahnya. Dimana sosokmu sebagai ayah? DIMANA, KWON JIYOUNG?!”

Cih! Ayah? Aku bukan ayahnya. Dia hanya anak haram yang kau bawa sebelum menikah denganku. Bahkan di akte kelahirannya terpampang jelas nama Min Jaesuk sebagai ayahnya. Aku tidak salah apapun disini. Aku bukan ayah anak sial ini. Kaulah yang salah. Seharusnya kau tidak melahirkan anak sial seperti dia, Chae…”

BRAK

Chaerin dan Jiyoung sama-sama terdiam. Sebagai ibu, dia merasa sangat bersalah. Dia jatuh terduduk karenanya. Air mata perlahan membasahi wajah cantiknya. Sementara sang suami hanya diam mematung di tempatnya. Dia merutuki kebodohannya. Tak seharusnya dia berucap seperti itu. Pasti kata-katanya tadi telah menyakiti hati Yoongi. Dalam diam ia pun menangis. Ia pun memilih untuk pergi dari rumah. Chaerin hanya menatap kepergian suaminya tanpa berujar sepatah kata pun.

Seorang pria tengah membeli kopi hangat di sebuah kedai kopi yang ada di pinggir Sungai Han. Dia memperhatikan para remaja yang tengah bermain basket di depan kedai itu. Beberapa kali ia tersenyum kecil melihat celeberasi yang di lakukan anak-anak itu atau melihat mereka tertawa bersama karena sebuah kesalahan kecil saat bermain. Hingga maniknya menangkap sosok yang di kenalnya tengah berjalan gontai seperti mayat hidup.

Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri orang itu. Dan ia cukup terkejut melihat orang itu yang tengah menangis dengan keadaan wajah yang babak belur. Wajahnya begitu pucat, rambutnya acak-acakkan, dan keringat dingin membasahi keningnya. Pria itu berusaha menghentikan orang itu namun tidak ada tanggapan darinya. Akhirnya ia mengikuti sosok itu dari belakang.

“YOONGI!” teriak pria itu ketika melihat Yoongi tiba-tiba limbung dan hampir saja terjatuh ke sungai jika tidak segera di tahan olehnya.

“Hey, sadarlah! Kau baik-baik saja? Ini aku Mark. Kau bisa mendengarku?” ujar Mark sembari menepuk pipi Yoongi namun pemuda itu malah memejamkan matanya yang terasa berat.

“Jinhyo-ya…” lirih Yoongi sebelum benar-benar tak sadarkan diri

Saat membuka matanya, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang asing baginya. Kelopaknya mengerjap beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk ke retinanya. Dia menatap kesekeliling dan melihat sosok musuhnya sedang tertidur pulas di sofa. Dengan hati-hati ia turun dari kasur lalu berjalan menuju balkon. Dia mengamati keadaan si sekitar situ kemudian dia nekat meloncat dari pagar pembatas balkon dan mendarat dengan mulus di pohon yang ada di depan. Ia lantas menuruni pohon itu dengan perlahan.

Sampai di bawah ia segera berlari menjauhi tempat itu. Saat ini dia ingin ke suatu tempat untuk terakhir kalinya. Setelah berlari sejauh 2 kilometer, ia berhenti di samping sebuah rumah megah. Ia memanjat dinding pembatas yang ada lalu loncat ke dinding rumah itu. Dia terus memanjat hingga sampai di balkon sebuah kamar. Perlahan ia mendekati jendela kamar itu dan memeriksa keadaan jendela itu. Pria itu tersenyum, masih sama rupanya, batinnya.

Dia membuka jendela itu lalu masuk ke dalam kamar. Dengan perlahan ia mendekati sosok yang tengah tertidur pulas di kasur. Pria itu tersenyum sembari mengusap rambut orang itu lembut. Lantas ia beranjak ke meja belajar dan mengambil kertas serta pulpen. Dia menulis surat untuk si pemilik kamar itu. Setelahnya ia menaruh surati itu di meja belajar. Lalu dia kembali mendekati orang tadi dan ia mengecup keningnya sebelum pergi dari tempat itu.

‘Selamat tinggal, Jinhyo-ya. Saranghae. Semoga kau bahagia.’ Batin pria itu sebelum meloncat dari balkon. Ia berlari menjauh tempat itu.

Di dalam kamarnya Yoongi hanya diam. Ia telah menyiapkan semua yang ia butuhkan untuk mengakhiri hidupnya. Dia sudah bosan dengan kehidupannya ini. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi. Yoongi tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya lagi. Ia juga tak ingin mengganggu Jinhyo dan Mark lagi. Kemudian ia menuangkan bensin ke sekeliling kamarnya. Ia duduk di kasurnya lalu menyalakan pemantik api dan memainkannya.

“Jinhyo-ya…”

“Kau segalanya untukku. Aku membutuhkanmu. Rasanya berbeda jika tanpamu. Mengapa dirimu? Mengapa dirimu yang ku cinta? Maafkan aku. Aku masih mencintaimu. Ku harap kau selalu bahagia.” Monolognya dengan suara lirih.

Perlahan ia menjatuhkan pemantik api itu hingga api berkobar di sekeliling Yoongi. Pemuda itu menelepon ibunya. Dia menyuruh sang ibu keluar dari rumah. Setelah itu dia membuang ponselnya keluar jendela. Ia menangis dan api semakin mendekatinya hingga perlahan membakar seluruh tubuhnya.

“MIN YOONGI!” suara teriakkan itulah yang terakhir di dengar olehnya. Itu teriakkan pujaan hatinya. Ya, teriakkan dari Lee Jinhyo. Pemuda itu masih bisa tersenyum di saat terakhirnya hidup karena gadisnya.

END

Please RCL. Mian for typo. Gomawo~ ^^

2 thoughts on “[Ficlet] Different : I Need U

  1. Yahh yahh yahhh… Itu kenapa sugar gue matii?? Huaaa….. Kgk rela gue…. :’3 kenapa harus sugaaaa….. Kan dia manis, kgk cocok buat bunuh diri -,-“.. Huhuhu… Bikin nyesek ah ffnya.. Tapi gue suka.. Keep writing yeahhh

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s