Descending – Prolog

joonisa-art-by-jihyuniee-artdesign1

DESCENDINGProlog

By Joonisa

Casts:

VIXX Leo ; F(x) Krystal

EXO Kai, F(x) Victoria, Red Velvet Seulgi, GOT7 JB, and many more

Drama, Tragedy, A bit Thriller, Crime, Romance| Chaptered |PG-15

Disclaimer: I just own the plot and the idea. Lupakan perbedaan umur.

Poster thanks to : jihyuniee @ High School Graphic

ENJOY!

.

.

.

Leo menatap lurus ke luar jendela. Matahari sudah tidak tampak malu-malu kala itu; tidak adanya bayang-bayang pepohonan dan rasa panas yang memaksa masuk melewati jedela kamar Leo sudah dapat menjadi bukti.

“Jung Leo!”

Leo menutup matanya, menarik nafas panjang, lalu membuka matanya kembali tanpa menoleh sedikit pun ke sumber suara. Ia sudah sangat tahu siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Hanya satu orang yang berani melakukannya, yaitu Im Jae Bum.

“Dipanggil ayah dan ibu, disuruh makan siang ‘tuh!”

Leo tersenyum miring. Arti ‘ayah dan ibu’ masih ambigu untuknya, tapi ia tidak akan pernah mau membahas ataupun mendebatkan perihal itu, apalagi dengan Jae Bum. Leo menolehkan kepalanya saja.

“Apalagi yang mau dibahas?”

“Entahlah.” Jae Bum mengendikkan bahu sembari berjalan ke arah Leo. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Leo sampai akhirnya atensinya tertuju pada sesuatu yang ada di atas meja kerja Leo. Belum sempat Jae Bum mengambilnya, Leo dengan sigap menyeret tangan Jae Bum untuk keluar dari kamarnya.

“Lima menit lagi aku akan turun. Aku mau ganti baju.”

BLAM!

Jae Bum spontan bergidik saat pintu menutup dengan keras tepat di depan wajahnya. Ia mengumpat sambil mengusap pergelangan tangannya yang sedikit berdenyut setelah diseret oleh Leo.

“Dasar anak Jung sialan! Sakit tahu!”

Jae Bum pun turun ke lantai bawah untuk kembali ke meja makan tanpa ia tahu kalau Leo mendengar semua umpatan yang ditujukan padanya. Leo menunduk, menatap pias kaki-kakinya tanpa tujuan. Ia bergerak malas ke arah lemari pakaian dan mengenakan cardigan berwarna hitam. Ia berhenti sejenak di depan cermin saat melihat bekas luka sayatan yang ada di lengan kirinya.

Luka itu kini berwarna cokelat gelap, agak memudar dibandingkan delapan tahun yang lalu saat Leo mendapat luka itu. Namun apa yang menyebabkan luka itu sama sekali tidak memudar di ingatan Leo. Memori itu terlampau jelas di ingatannya bagaikan sebuah film yang sewaktu-waktu bisa saja berputar kembali tanpa Leo inginkan.

Leo menutup perlahan luka itu dengan kardigannya. Ia menatap tajam pada pantulannya di cermin seraya berbisik lirih.

“Jung.. Anak Jung… cih

.

.

.

Krystal berlari secepat yang ia bisa mengejar pintu lift yang terbuka. Ia sadar sepatu dengan hak lima senti sukses membuat larinya tidak maksimal. Susah payah ia menjaga keseimbangan sampai akhirnya ia menarik nafas panjang dengan lega saat pintu lift menutup dengan posisi ia sudah ada di dalamnya. Krystal sudah akan menekan tombol tujuh, tapi ternyata tombol itu sudah menyala, menandakan bahwa orang satu-satunya yang berada satu lift dengannya juga akan menuju ke lantai yang sama.

Tanpa menghiraukan teman satu liftnya, Krystal menghadap ke salah satu cermin yang mengelilingi lift itu untuk menyisir rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin. Setelah menyisir rambut, ia mengeluarkan lip tint, lalu memulasnya ke permukaan bibir. Setelah pulasan dirasa sudah merata, Krystal mengeluarkan sebotol cologne dari dalam tasnya dan menyemprotkannya di beberapa bagian tubuhnya.

Baby cologne?

Krystal menoleh pada teman satu liftnya, yang ternyata adalah seorang gadis, sedang memasang ekspresi yang-benar-saja ke arahnya. Krystal mengangguk sambil terkekeh pelan.

“Aku… suka aromanya.”

“Umurmu berapa sih?”

Bukannya menjawab, Krystal malah memperhatikan gadis itu lamat-lamat. Baju, tas, jam tangan, sepatu, semuanya jelas barang-barang bermerek terkenal keluaran designer Eropa. Krystal tahu betul hal itu karena sebelumnya ia pernah kerja part time di sebuah butik mahal. Rasa percaya dirinya lantas terkikis dan diam-diam Krystal memasukkan parfumnya ke dalam tas.

“Du.. dua puluh lima.”

“Ke lantai tiga mau bertemu siapa?”

“Oh itu.. sebentar,” Krystal mengambil sebuah kartu nama yang ada di dalam tasnya, “Jung Leo.”

“Jung Leo?” Tanya gadis itu bingung. Beberapa saat ia terlihat seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia menepuk pundak Krystal beberapa kali.

“Kalau Si Jung itu sudah mulai menunjukkan tanda-tanda ia akan menelanmu, segera lepas sepatumu dan berlari secepat mungkin. Oke?”

TING!

Pintu lift terbuka dan gadis itu melenggang keluar dengan santai sementara Krystal hanya bisa diam terpaku di tempatnya berdiri.

“A.. pa.. aku akan bertemu dengan singa jadi-jadian?”

 

To Be Continue…

 

Halooo semua… i’m back with a piece of vixx thingy hahaha XDXD

Barusan suka vixx gara-gara nonton Hitmaker niatnya mau nyari sungjae, pertamanya suka hyuk, trus pas nonton weekly idol suka sama Ken, dan entah kenapa sekarang jadi suka sama Leo yang super irit ekspresi, irit bicara, namun menebarkan aura misterius kemana-mana hahaha XDXD. Mungkin karena memang aku sukanya tipe cowok yang ga banyak omong, yah kaya-kaya Mark, Thunder, Leo (astaga ini bias semua)

Sebenarnya ini genre ff favorit aku, romance-thriller. Semoga idenya masih terus mengalir dan Leo virusnya masih menempel di saya serius nih XDXD

Comentnya diharapkan sekali yah.. Saengkyuuu 😀

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s