[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 6

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not | Chapter 3 – Promise | Chapter 4 – Don’t Cry | Chapter 5 – It’s Hurt

“Saat hitungan ketiga, kita loncat bersama.” kata Taehyung memberi aba-aba. “Satu…”

Mata Yura kembali berkaca-kaca saat melihat manik Taehyung yang mengarah ke bawah.

“… dua…”

Bibir Yura bergetar saat melihat tubuh Taehyung yang mulai bersiap untuk meloncat.

“… ti-”

Taehyung tak melanjutkan perkataannya saat tiba-tiba saja Yura berjongkok, memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya disana, lalu terisak hebat.

“Apa yang kaulakukan?” kata gadis itu, di sela isak tangisnya. “Kenapa kau harus melakukan ini?”

Mata Taehyung berkaca-kaca saat melihat Yura seperti itu. Ia berjongkok, di sebelah Yura, meraih wajah gadis itu untuk menatap ke arahnya. “Kau tidak ingin meloncat?”

Yura balas menatap manik Taehyung, lalu menggelengkan kepala.

“Kau tidak ingin bertemu Yujin?” tanya Taehyung lagi, kali ini airmatanya mengalir.

Yura kembali membenamkan wajahnya, lalu menangis hebat.

Bibir Taehyung bergetar saat ia membentuk sebuah senyuman. Ia memandang Yura yang terisak dengan pandangan penuh arti. Tangannya lalu bergerak untuk meraih kepala gadis itu, mendekatkannya ke dalam dekapannya.

“Baiklah, kalau begitu, kita tidak perlu meloncat. Kita tidak perlu bertemu Yujin, untuk saat ini.” kata Taehyung, dengan suara bergetar.

Yura tidak menjawab. Tangisnya semakin hebat. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam di dalam dekapan Taehyung. Dan Taehyung mengelus pelan punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang.

“Jangan lakukan lagi, kumohon…” bisik Taehyung lirih di telinga Yura.. “Hiduplah untuk Yujin, dan untuk dirimu sendiri.” Yura Park… tambahnya dalam hati.

Chapter 6: Jung Yujin = Yujin Park

yujin

.

“Bagian mana yang ingin kauketahui?” —– Yura Park

.large4

.

“Kalau kau masih sayang pada dirimu sendiri, jangan dekati dia, Taehyung.” —- Park Jimin
.

.

Yura terbangun dengan kepala dan mata yang terasa berat sekali. Kepalanya amat sangat pening dan matanya terasa begitu lelah, mungkin efek karena ia menangis semalaman. Tadi malam, ia terpaksa tidak berangkat ke kampus lagi, entah untuk yang keberapa kalinya. Ia mengatakan pada Halla kalau ia merasa kurang sehat dan meminta tolong padanya untuk merangkap tugas kuliahnya sehingga Yura tetap mendapatkan nilai atas tugas kuliahnya. Halla tidak keberatan, Yura telah membantu banyak selama ia mengenal gadis itu, jadi ia merasa tidak apa-apa apabila tugas kuliahnya dirangkap untuk dirinya dan juga Yura. Halla juga berkata kalau esok harinya—hari ini, maksudnya—ia akan datang ke apartemennya untuk menjenguk. Yura mengiyakan dan berkata pada Halla untuk jangan terkejut saat tiba di apartemennya nanti.

“Kau sudah bangun?” suara itulah yang pertama kali menyambutnya saat ia membuka pintu kamar.

Yura melihat Taehyung berdiri di balik kompor dengan tangan memegang sendok nasi dan gagang panci yang diletakkan di atas kompor serta celemek yang membungkus tubuhnya. Menatap ke arahnya dengan senyum yang terhias di bibirnya, menyambutnya, mengucapkan selamat pagi untuknya.

Yura tertegun. Sudah berapa lama ia tidak disambut seperti ini saat ia bangun di pagi hari semenjak kepergian ayah dan adiknya.

“Buburnya sebentar lagi siap. Kau tunggu saja di sofa.” kata Taehyung, sambil mengadukkan sendok nasinya di dalam panci.

Yura tersenyum. Memilih tak banyak bicara, dan segera duduk di sofa. Memperhatikan Taehyung yang sibuk di dapur dari kejauhan. Wajahnya memerah saat teringat dengan apa yang dilakukan lelaki itu tadi malam.

Tak berapa lama kemudian, Taehyung dan Yura sudah duduk bersebelahan di ruang tengah, menikmati sarapan paginya bersama.

“Kau pasti pintar memasak.” ujar Yura saat menikmati suapan pertamanya.

Taehyung menyengir. “Lebih tepatnya, aku senang bereksperimen.”

Yura menatap Taehyung takjub. “Wow, hebat. Ini sangat gurih untuk pemula sepertimu.”

“Benarkah?” Taehyung tersipu malu.

Yura mengangguk, lalu tertawa. Dan Taehyung tersenyum demi melihat tawa itu. Yang terpenting adalah, hari ini ia bisa melihat gadis itu tertawa seperti biasanya lagi.

“Ah ya, hari ini temanku ingin datang menjengukku. Kau ingin bersembunyi atau berkenalan?”

Taehyung tampak berpikir. “Lihat nanti saja, kalau dia cantik, aku akan berkenalan.”

“Dia sangat cantik. Kau akan terpesona saat pertama kali melihatnya.”

“Aku jadi tak sabar melihatnya.”

Makanan sudah habis. Dua mangkok di atas meja sudah bersih tanpa noda sedikitpun. Yura duduk menyandar di atas sofa, memainkan ponselnya dengan tatapan tanpa ekspresi. Tak jauh di sebelahnya, Taehyung duduk dengan tangan ditopangkan di dagu, memperhatikan Yura tanpa berkedip.

“Kalau dilihat-lihat lagi, kalian memang sangat mirip.”

Yura menoleh, terkejut. “Siapa?”

“Yang kausebut namanya tadi malam.”

“Oh.” Yura membulatkan mulutnya, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada ponsel di tangannya. Tidak, ia tidak akan menangis lagi hari ini. Sudah cukup untuknya kemarin menangis seharian. Hari ini, ia harus lebih kuat. “Dia adik kembarku.”

Taehyung tidak terkejut, ia sudah menduga akan hal itu, bahkan mungkin sepertinya ia sudah tahu.

“Apa yang terjadi?” Taehyung langsung menambahkan, “Kau pernah bilang adikmu kabur dari rumah, apakah itu dia? Itu pun kalau aku boleh tahu.” saat melihat perubahan air muka Yura. Ia memang tidak ingin melihat gadis itu kembali bersedih karena mengingat Yujin, tetapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia amat sangat penasaran.

Yura menutup ponselnya dan menoleh pada Taehyung. “Bagian mana yang ingin kauketahui?”

“Semuanya—kalau kau tidak keberatan.”

Yura menghela napas berat. “Namanya Yujin Park. Kami hanya beda sepuluh menit, aku keluar lebih dulu, maka dari itu aku menyebutnya adikku. Seperti yang kaubilang, kami memang sangat mirip—dari segi wajah. Tetapi selebih itu tidak. Dia pembangkang sekali, beda denganku.”

“Kami masih menetap di Indonesia tahun itu, enam tahun yang lalu, saat ayah dan ibuku bertengkar hebat. Ayah marah dan membawaku pergi ke Korea Selatan. Yujin ingin sekali ikut dengan kami, tetapi ayah tidak mengizinkan, ayah tidak mau mengajak Yujin yang nakal. Yujin nekat terbang ke Korea Selatan sebulan kemudian, sendirian, tanpa sepengetahuan ibu. Dan menemukanku dan ayahku di apartemen ini, entah bagaimana caranya. Yujin memiliki beribu cara untuk menemukan kami, aku juga tidak tahu. Dia memang licik dan penuh dengan obsesi. Aku membencinya…”

Taehyung memperhatikan mata Yura yang mulai berkaca-kaca. Hebatnya, gadis itu tetap melanjutkan ceritanya sambil menahan airmatanya agar tidak jatuh.

“…tetapi aku juga menyayanginya.” tambah Yura. “Kami memang sempat berjarak, dulu. Apalagi setelah ayah akhirnya mendapatkan pekerjaan. Ayah sibuk bekerja semenjak itu, mengabaikanku dan Yujin. Kami kehilangan arah, tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku, sayangnya, Yujin tidak. Dia menyentuh barang-barang terlarang itu.”

Yura mendengar Taehyung menahan napas, tetapi lelaki itu menyuruhnya untuk mengabaikannya dan tetap melanjutkan cerita.

“Aku tidak tahu sejak kapan dia menyentuh barang-barang itu. Aku baru mengetahuinya setelah setahun semenjak kepindahan kami ke Korea Selatan. Yujin sakaw, karena barang terlarang itu. Dia mengamuk, menyalahkan aku dan ayahku, mengira kami sama sekali tidak mempedulikannya sehingga dia berada di jalan yang salah. Yujin ingin menjadi model, aku tahu itu, dia pernah mengatakannya padaku. Tetapi ayah tidak pernah mendukung. Ketika akhirnya ayah mendukung, Yujin sudah berubah. Barang-barang terlarang itu sudah mengubah Yujin kami yang nakal menjadi Yujin yang sangat nakal.”

Lagi lagi, Yura melihat Taehyung yang tampak gelisah saat mendengar ceritanya.

“Yujin menabrak ayah dengan mobilnya, aku tahu dia tidak sengaja, aku sungguh sudah memaafkannya atas kesalahannya tersebut. Tetapi aku tidak bisa memaafkan saat dia justru kabur meninggalkanku dan ayah. Dia kabur setelah menabrak ayah. Dia meninggalkanku, ayah juga meninggalkanku. Mereka berdua meninggalkanku, sendiri, disini.”

Yura tidak butuh dikasihani, maka dari itu ia sangat bersyukur saat melihat Taehyung tidak menatapnya dengan tatapan prihatin.

“Setelah mereka pergi, aku tak pernah lagi melihat Yujin. Yujin sempurna menghilang dari kehidupanku. Dan aku baru tahu kemarin, kalau ternyata dia telah berhasil menjadi model sejak empat tahun yang lalu. Model terkenal, dengan nama baru, Jung Yujin. Tetapi sayang, saat aku mengetahuinya, dia telah pergi. Meninggalkanku lagi, tanpa sempat aku berjumpa dengannya.”

Yura berhasil menyelesaikan ceritanya tanpa setetespun airmata yang jatuh. Meskipun pelupuk matanya sudah berair, ia bersyukur dapat menahannya dengan begitu baik. Namun justru ia merasa heran melihat wajah Taehyung yang berubah pucat pasi. Tatapan lelaki itu berubah kosong dan tampaknya ia sedang tidak baik-baik saja.

“Kau tidak apa-apa?” Yura menyentuh lengan Taehyung, dan lelaki itu segera tersadar.

Taehyung menatap Yura, lekat-lekat, namun Yura seperti melihat sorot mata itu tampak terluka dan menyedihkan. “Kau pasti melalui hal yang berat selama ini, bukan?”

Yura tidak menjawab, hanya menghela napas. Lalu ia mendadak mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Taehyung dengan intens.

“Kau sendiri? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya.

Taehyung mengerjapkan mata. “A-apanya?”

Yura mengedikkan pandangannya pada Taehyung. “Dirimu, malam itu.” katanya. “Kenapa kau dikejar wartawan? Kenapa kau mengajakku berlari? Dan kenapa kau lebih memilih tinggal di apartemenku dibandingkan kembali ke dunia keartisanmu?”

Taehyung terdiam. Mendadak, pandangannya berubah kosong.

“Aku sudah lama ingin bertanya hal itu padamu, tetapi selalu kutahan. Dan karena aku sudah menceritakan tentang diriku, kurasa saatnya aku mendengarkan ceritamu.”

Kemudian terdengar suara pintu diketuk, membuat Taehyung dan Yura sama-sama menoleh ke arah pintu, lalu saling berpandangan.

Yura menghela napas kecewa. “Kurasa aku harus kembali dibuat penasaran dengan ceritamu.” ia bangun dari duduknya. “Halla sudah datang.”

Taehyung menghela napas lega, bersyukur teman gadis itu datang tepat pada waktunya.

Membuatnya tidak perlu menjawab setiap pertanyaan gadis itu barusan.

——————-

Halla duduk dengan gusar di atas sofa. Matanya tak henti-hentinya melirik ke arah Taehyung yang duduk bersandar tak jauh di sebelahnya. Masih merasa tak percaya.

Beberapa menit yang lalu, Yura membukakan pintu untuknya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam. Betapa terkejutnya Halla saat melihat seorang lelaki yang wajahnya sering ia jumpai di televisi dan beberapa tabloid kini sedang berbaring di atas sofa di dalam apartemen Yura dengan begitu santainya. Bahkan ia sampai berdiri mematung di depan pintu saking tidak percayanya dengan apa yang ia lihat di depan mata.

“Bukankah sudah kuingatkan untuk jangan terkejut saat tiba di apartemenku?” kata Yura saat melihat Halla yang tak bergerak sedikitpun.

“Oh, jadi kau yang bernama Halla?” seru Taehyung, bangun dari tidurnya, mengambil posisi duduk. Memperhatikan Halla dari ujung rambut hingga ujung kaki., lalu melirik Yura. “Benar kata temanmu, kau memang cantik. Aku cukup terpesona.”

Halla speechless. Sempurna membeku. Sementara Yura hanya tertawa melihat tingkah temannya yang mendadak mati kutu.

“Dia orang yang ramah dan bersahabat. Duduklah.” kata Yura, lalu menarik Halla untuk duduk di atas sofa, sofa yang sama dengan yang diduduki Taehyung.

Oh, rasanya Halla sedang bermimpi.

“Kau berhutang cerita padaku, Yura.” bisik Halla saat Yura menariknya.

Dan disinilah Halla sekarang. Duduk bersebelahan dengan Taehyung, di dalam apartemen Yura.

“Bagaimana keadaanmu, Yura?” tanya Halla, memperhatikan wajah Yura yang masih terlihat pucat.

Yura mengangguk. “Sudah lebih baik.” ia mengedikkan pandangannya pada Taehyung. “Bersyukurlah ada dia disini.”

“Memangnya apa yang Taehyung-ssi lakukan?”

Yura tertegun mendengar nama yang disebutkan Halla, namun kemudian ia kembali tersenyum, menatap Taehyung dengan tatapan penuh arti. “Tidak ada. Hanya membuatku merasa nyaman.”

Dan entah kenapa Taehyung merasa sangat nyaman saat ditatap seperti itu oleh Yura. Seperti ditatap oleh Yujin-nya.

Halla melihat Yura dan Taehyung saling berpandangan dengan tatapan yang benar-benar sulit untuk didefinisikan. Oh, sepertinya Halla harus menyingkir dari sini sekarang juga.

“Aku ke toilet dulu.” kata Halla, memilih untuk menghindar dari ruang tengah, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Setelah Halla masuk ke dalam kamar mandi, Yura baru bersuara, “Jadi namamu Taehyung?”

Taehyung tersenyum, balas menatap Yura. “Jadi namamu Yura?”

Yura langsung mengerucutkan bibirnya. “Ah, itu tidak adil. Sekarang kau sudah tahu namaku.” katanya, berpura-pura ngambek.

Taehyung tertawa demi melihat tingkah Yura yang begitu menggemaskan. “Kau juga sudah tahu namaku.”

Yura hanya tersenyum. “Namamu seperti nama ayahku.”

Taehyung mengangguk. “Aku tahu itu.”

Yura menoleh terkejut. “Kau tahu nama ayahku?”

“Eh?” Taehyung seketika salah tingkah. “Hanya mengira saja.”

Yura mendengus lucu. “Kau benar-benar orang yang sok tahu, Taehyung-ssi.”

Taehyung hanya tertawa, lebih tepatnya memaksakan diri untuk tertawa.

Yura tampak berpikir saat teringat sesuatu. “Sepertinya aku pernah mendengar namamu. Apakah nama lengkapmu Kim Taehyung?”

Taehyung menoleh terkejut. “Darimana kau tahu?”

Yura membulatkan mulutnya. “Oh, jadi itu benar kau? Berarti kau adalah personil grup Bangtan Boys?”

Lagi-lagi Taehyung terkejut. “Darimana kau tahu?”

Yura berdecak. “Ya Tuhan, dunia memang benar-benar sempit.” ia menatap Taehyung dengan intens. “Beberapa hari yang lalu aku baru saja mengantarkan pakaian ke studio mereka. Ada tujuh pakaian, tetapi hanya ada enam orang di dalam studio. Lelaki bernama Kim Taehyung tidak datang, karena dia sedang bersembunyi disini.”

“A-aku tidak bersembunyi!” Taehyung mendelik.

“Itu terdengar seperti ‘aku memang bersembunyi’.”

Taehyung mengernyit.

“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau apapun yang kaukatakan adalah kebohongan?” balas Yura.

“Aish, gadis ini!” desis Taehyung, ia bahkan lupa dengan perkataan yang pernah ia ucapkan waktu itu.

Yura tersenyum jahil. “Lalu, kenapa kau tidak datang? Kudengar Bangtan Boys akan menggelar konser akhir bulan depan.”

“Kau bilang kau tidak tahu tentang dunia artis? Tetapi kenapa sekarang kau malah terdengar seperti kau tahu segalanya tentang Bangtan Boys?”

“Aku kan hanya tidak sengaja dengar. Lagipula Mister Baekhyun yang memberitahuku.”

Taehyung terdiam sejenak, mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan, “Aku hanya sedang beristirahat. Kakiku cidera, jadi lebih baik aku vakum dari kegiatan mereka dulu.”

Yura membulatkan mulutnya dan mengangguk. “Begitu rupanya.”

Taehyung menatap Yura tanpa berkedip. Lagi lagi, rasa bersalah itu kembali membuncah di dalam dadanya. Ia berdusta, lagi.

Halla keluar dari kamar mandi semenit kemudian. Yura bangun dari duduknya dan berkata ingin mandi dulu. Jadilah hanya Halla dan Taehyung yang berada di ruang tengah. Dan tentu saja, suasana canggung meliputi mereka berdua.

“Ta-Taehyung-ssi, aku boleh bertanya satu hal padamu?” tanya Halla ragu-ragu, membuka keheningan setelah lima menit hanya terdiam.

Taehyung mengangguk. “Aku juga ingin bertanya satu hal padamu.”

“Apa itu?”

“Kau dulu saja.” kata Taehyung.

“Apakah kau vakum dari Bangtan Boys karena Jung Yujin?” tanya Halla.

Taehyung tidak langsung menjawab, wajahnya berubah kebas. Melihat hal itu, Halla langsung mengibaskan tangannya.

“Tidak perlu dijawab tidak apa-apa, kok. Aku tahu itu berat bagimu.”

Taehyung mendesah panjang, memijit kepalanya yang berdenyut, lalu memutuskan untuk menjawab. “Iya.”

Halla membulatkan mulutnya, sudah menduga akan hal tersebut.

“Kau pasti sangat menyayangi Yujin-ssi ya.” kata Halla. “Aku benar-benar tidak menyangka kalau selama ini Yujin-ssi mengkonsumsi barang-barang terlarang itu. Apakah kau mengetahuinya? Atau selama ini dia menyembunyikannya darimu?”

Taehyung tidak menjawab.

“Bagaimanapun juga aku turut berdukacita atas kematiannya, Taehyung-ssi.” kata Halla. “Tetapi, kau tidak akan keluar dari Bangtan Boys, kan? Banyak media yang menyebar rumor seperti itu.” tambahnya.

Taehyung terdiam sejenak, lalu tersenyum, dan menoleh pada Halla. “Kau bilang kau hanya akan bertanya satu hal, kan? Jadi aku tidak menerima pertanyaan lain.”

Halla cukup terkejut, kemudian mengangguk dengan salah tingkah. “Ah, iya, benar.”

“Berarti saatnya aku yang bertanya padamu,” kata Taehyung. Ia melirik pintu kamar mandi sekilas. “Kau tahu apa saja kesukaan Yura? Aku ingin memberi kejutan untuknya.”

Halla tertegun sesaat. Setelah terdiam sesaat, ia lalu menjawab pertanyaan Taehyung. Dan Taehyung mendengarkannya dengan mimik serius sambil sesekali mencatat apa yang dikatakan Halla di note dalam ponselnya.

Taehyung tersenyum puas, menatap daftar kesukaan Yura di ponselnya dengan mimik bahagia. Melihat hal tersebut, sebuah pikiran buruk melintas di benak Halla.

“Taehyung-ssi, kau tidak sedang mendekati Yura hanya karena dia mirip dengan Jung Yujin, kan?” tanya Halla.

Dan Taehyung sempurna terpekur demi mendengar pertanyaan itu.

——————-

Jimin berdiri di tengah ruangan. Ia menghentakkan kakinya berkali-kali, mengikuti dentuman musik yang terputar di ruangan. Matanya mengarah pada dinding yang didominasi cermin di hadapannya, lebih tepatnya pada pantulan bayangan dirinya yang saling menatap. Begitu musik mulai memasuki verse 1, tubuh Jimin bergerak mengikuti irama. Tangannya bermain di udara seiring dengan gerakan kakinya yang lincah.

I need you girl, wae, honja saranghago honjaseoman ibyeolhae
I need you girl, wae, dachil geol almyeonso jakku niga pillyohae
I need you girl, neon areumdawo
I need you girl, neomu chagawo
I need you girl (i need you girl)
I need you girl (i need you girl)

Jimin ikut bernyanyi seiring dengan gerakannya yang semakin lincah mengikuti irama musik. Walau peluh mulai membasahi tubuhnya, tetapi ia terus menari dan menari. Ia memperhatikan setiap gerakan demi gerakan yang ia lakukan lewat cermin. Ia tetap harus menari.

Menari adalah hidupnya. Ia merasa tidak hidup kalau sehari saja tidak menari. Menari, bagai merupakan panggilan jiwa baginya. Bertahun-tahun lamanya ia menari, belajar bersama teman-temannya, dipuji oleh teman-temannya, dipuji oleh pacarnya (dulu), membuat semangatnya semakin membara. Setelah bergabung bersama Bangtan Boys, ia tidak pernah berhenti berlatih. Ia tetap menari. Apapun yang terjadi, ia tetap harus menari. Walaupun ia menyadari semangatnya tidak semembara dulu, sejak pembicaraannya dengan Taehyung waktu itu, setahun yang lalu.

Jimin sedang latihan menari ketika tiba-tiba saja Taehyung masuk ke dalam ruang latihan dengan wajah yang amat sangat ceria.

“Jimin! Jimin! Aku mendapatkan nomornya!” teriak Taehyung.

Jimin berhenti menari. Ia memperhatikan Taehyung yang berjingkrak-jingkrak kesenangan dengan memegang selembar kertas kecil berwarna kuning di tangannya. Lelaki itu berlari mengelilingi ruangan sambil merentangkan tangannya lebar-lebar, berseru kesenangan. Jimin hanya tertawa lucu melihat tingkah konyol Taehyung.

“Hei, berhentilah!” kata Jimin, tak berhenti tersenyum melihat tingkah Taehyung.

“Kau lihat, Jimin. Aku bahagia sekali hari ini.” kata Taehyung, masih berlari kesenangan.

“Ya, ya. Aku tahu. Maka dari itu berhentilah, dan bagilah kebahagiaanmu itu padaku.” katanya.

Taehyung langsung berlari mendekati Jimin dan berhenti persis di depan lelaki itu, lalu memperlihatkan kertas kecil di tangannya tepat di depan mata Jimin.

Jimin mengernyit saat melihat beberapa angka tertulis di kertas tersebut.

“Nomor apa itu?” tanyanya.

Taehyung menurunkan kertasnya, memperlihatkan wajahnya yang amat sangat bahagia.
“Nomor ponsel Yujin.”

Air muka Jimin langsung berubah. “Yu-Yujin?”

“Jung Yujin. Model majalah yang datang ke studio kita beberapa minggu yang lalu. Kau tentu ingat, kan, aku pernah bilang padamu kalau aku tertarik dengan gadis itu? Tadi aku bertemu dengannya lagi, dan dia memberiku nomor ponselnya. Dia menyuruhku untuk menghubunginya nanti malam, Jimin. Dia memberi sinyal padaku! Aku tak menyangka itu.”

Jimin tidak berkomentar. Justru ia sempurna terdiam.

Tentu saja ia tidak lupa dengan Jung Yujin. Yujin. Ya, Yujin yang itu, adik kembaran mantan pacarnya saat SMA. Yujin yang sangat nakal, Yujin Park. Mereka memang bertemu beberapa minggu yang lalu, di studio mereka. Yujin datang untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan agensinya selama sebulan ke depan. Jimin terkejut sekali saat mengenali Yujin yang berdiri di dalam studionya itu. Jimin juga melihat Yujin terkejut saat melihatnya. Oh, tentu saja. Gadis itu pasti masih ingat dengan Jimin, pacar kakak kembarannya, Yura Park. Tetapi gadis itu hanya diam, seolah-olah tidak mengenali Jimin. Dan Jimin pun demikian.

Barulah ketika mereka berdua bertemu empat mata saat di depan toilet, Jimin menyapa gadis itu.

“Apa kabar?” sapa Jimin, saat itu. “Lama tidak bertemu, Yujin Park.”

Yujin mendengus lucu saat mendengar kalimat sapaan Jimin. “Maaf, Tuan, namaku Jung Yujin.”

“Nama barumu, lebih tepatnya.” kata Jimin. Ia menatap Yujin dengan tatapan tidak suka. “Nama lamamu adalah Yujin Park. Adik dari Yura Park, dan anak dari Park Taehyun.”

Air muka Yujin berubah tidak suka. “Jangan sebut nama itu di depanku.”

“Kenapa? Kau tak suka? Salah satu dari nama yang kusebutkan tadi adalah orang yang telah kaubunuh, Yujin.”

“Kau ingin mencari mati ya?” tantang Yujin, menatap Jimin tajam.

“Kenapa kau kabur waktu itu?” Jimin mengalihkan topik.

“Jadi kau mulai peduli padaku?” tanya Yujin sinis.

Jimin mendengus lucu. “Aku tidak peduli denganmu. Tetapi aku peduli dengan kakakmu. Dia mencarimu, Yujin.”

“Kalau begitu tidak usah pedulikan aku. Pedulikan dia saja! Dan anggap saja aku ini tak kasatmata bagimu. Aku juga akan menganggapmu begitu. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal.” kata Yujin yang mendadak murka. Ia lalu berlalu melewati Jimin.

Jimin, berhasil mencekal lengan Yujin hingga langkah gadis itu terhenti.

“Barang-barang terlarang itu,” Jimin menoleh, menatap Yujin. “kau masih menggunakannya?”

Yujin menoleh, menatap manik Jimin dengan tajam yang hanya berjarak tidak lebih dari 10 sentimeter. “Tentu saja.”

Yujin mengenyahkan tangan Jimin dari lengannya dengan gerakan pelan. “Barang-barang itulah yang membawaku menjadi model terkenal seperti ini. Kenapa? Kau ingin melaporkannya pada polisi?”

Jimin tidak menjawab, hanya menatap Yujin dengan tatapan benci setengah mati.

“Kau perlu bukti dulu, Park Jimin. Baru setelah itu kau bisa menghancurkan karirku.” Yujin menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. “Tidak akan semudah itu. Karena aku memiliki banyak pelindung sekarang. Dan kau,” ia menepuk-nepuk pundak Jimin, seolah ada debu disana. “hanyalah setitik debu bagiku.”

Setelah itu, Yujin benar-benar berlalu meninggalkan Jimin, dengan senyum seringai iblis yang tersungging di bibirnya. Jimin benar-benar tidak menyangka kalau adik kembaran dari mantan pacarnya saat SMA itu sangatlah licik.

Taehyung masih bersorak kesenangan saat putaran film nyata itu berhenti terputar di benak Jimin. Taehyung menatap kertas kecil di tangannya tanpa berkedip, dengan tatapan penuh harap, ia sempurna bahagia hari ini.

Jimin, dengan gerakan pelan, meraih kertas di tangan Taehyung dan meremasnya.

“Jangan hubungi dia.” katanya, dengan suara tertahan.

Taehyung menatap Jimin dengan tidak mengerti. Ia merebut kembali kertas di tangan Jimin yang sudah menjadi gumpalan tak berbentuk.

“Apa yang kaulakukan, sih? Ini kertas keramat, tahu!”

“Dia berbahaya untukmu, Kim Taehyung! Jangan berhubungan dengannya!” bentak Jimin tiba-tiba.

Taehyung tampak terkejut dengan bentakan Jimin. “Kau kenapa sih, Jimin? Kenapa tiba-tiba kau membentakku seperti itu?”

Jimin kembali merebut kertas di tangan Taehyung, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil dengan emosi yang meletup-letup di dadanya.

“Hei, Park Jimin! Kau gila! Apa yang kaulakukan?!” Taehyung mendadak murka.

Jimin menatap Taehyung, tepat pada manik matanya, dengan mata berkaca-kaca, dengan tatapan penuh kekhawatiran.

“Kalau kau masih sayang pada tubuhmu, kalau kau masih sayang pada nyawamu, kalau kau masih sayang pada dirimu sendiri, jangan dekati dia, Taehyung. Jangan dekati Jung Yujin!” ucapnya, dengan suara tertahan, dengan intonasi titik.

Musik berhenti. Jimin juga berhenti menari. Tubuhnya ambruk di lantai, napasnya terengah-engah. Bukan hanya karena ia lelah menari, tetapi lebih karena lelah menghadapi sikap Taehyung. Selama ini ia mencoba yang terbaik untuk Taehyung, mengingatkannya dan terus mengingatkannya kalau Yujin bukanlah gadis yang baik untuknya. Namun sayangnya, Taehyung tak pernah mendengarkan. Lelaki itu malah kembali bertemu dengan Yujin beberapa minggu kemudian, kali ini mereka bertukar nomor telepon. Dan sejak saat itu mereka sering berhubungan. Berkali-kali Jimin kembali mengingatkan untuk jangan mendekati gadis itu. Tetapi Taehyung terlalu tuli untuk mendengarkan keburukan Yujin. Taehyung, terlalu mencintai gadis itu.

Tiba-tiba saja terdengar suara berisik di luar ruangan, suara langkah kaki yang menggebu-gebu.

Jimin menoleh ke pintu saat mendengar suara pintu terbuka dan disusul dengan Jungkook yang masuk ke dalam sambil berlari. Wajahnya terlihat amat panik. Dan entah kenapa Jimin mendapat firasat buruk.

Hyung, pengacara yang mengurus pembatalan kontrak Taehyung hyung dengan agensi datang kesini.” kata Jungkook, panik.

Jimin terpekur. “Apa?!”

—tbc

NEXT CHAPTER: SURPRISE

“Jangan menyukaiku, Yura Park.” — Kim Taehyung

“Itu terdengar seperti ‘cintai aku, Yura Park’.” — Yura Park


Chapter 6 is hereeee!
adakah yang menunggu? hehe, UAS baru aja selesai untuk minggu ini, masih ada 4 matkul lagi buat minggu depan, jadi aku sempetin untuk publish chap ini sekarang.
And, now, eottokhae? Sudahkah jalan pikiran kalian terbuka mengenai apa yang terjadi pada Taehyung? Mm, kalo belom, silakan tunggu next chapter-nya minggu depan. Terimakasih banyaaak 😀 and, happy reading, guys ^^

6 thoughts on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 6

  1. Jdi jimin itu sbnernya gk jahat ma taehyung?! Dia jahat bwt ngelindungin taehyun dri yujin?? Next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s