VIJAND [Chapter 3]

Vijand3

VIJAND | Junee Yoo | Mystery, Drama, School-life, A Little Bit Romance | CHAPTER

Starring:

OC as Min Yoon Ji

BTS Jungkook as Jeon Jung Kook

BTS Rap Monster as Kim Nam Joon

BTS SUGA as Min Yoon Gi

RV Irene as Irene Bae

Mysterious Guy

Other BTS members

PROLOG | CHAPTER I | CHAPTER 2

Don’t be silent reader please~

I’ll be really thankful if you can leave your thoughts

Thank You ^^

-VIJAND-

Tidak ada salahnya datang ke sekolah satu jam lebih pagi. Oke, ini sedikit agak berlebihan namun Jeon Jung Kook merasa bangga karena ia berhasil bangun terlalu pagi dan berangkat sekolah seorang diri dengan taksi hingga mendapat omelan dari hyung manajer dan segenap hyung-nya. Lagipula ia sudah tiba di sekolah dengan selamat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sekolah tentu saja masih terlihat sepi dan ia bisa bebas berjalan-jalan hingga ke wilayah kelas seniornya di lantai dua―di mana kehidupan seorang artis yang sudah lebih elit dari junior yang hidup di lantai dasar. Ia tanpa ragu berjalan menuju kelas-S2 hingga langkahnya tiba-tiba melambat karena melihat seorang gadis mencurigakan dari kejauhan sedang berdiri diam di depan kelas-S2. Gadis itu terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan langkahnya atau tidak. Dari perawakannya, gadis itu seperti seorang junior yang sedang memberikan hadiah untuk seonbae favoritnya.

Jung Kook lalu memilih bersembunyi di antara tumbuhan hias yang berjarak beberapa meter dari kelas-S2 untuk mengawasi gadis itu. Beberapa detik kemudian, gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam kelas-S2. Sementara gadis itu berada di dalam kelas, seorang murid laki-laki dengan tubuh tinggi dan wajah menyeramkan berdiri di ambang pintu kelas dengan tatapan galak. Ia menahan napas karena merasa mengenali seonbae seram yang kini menarik keras gadis bermasker itu untuk keluar dari kelas. Ia hendak menghentikannya, namun nyalinya ciut begitu saja begitu menyadari bahwa seonbae itu adalah Kim Nam Joon.

-VIJAND: CHAPTER III-

“Cannon in L”

Min Yoon Ji berlari sekuat tenaganya menuju ruang dance biasa tempatnya menyendiri. Ia segera menutup pintu ruang dance, membuka masker yang sedaritadi digunakannya, dan jatuh terduduk seketika ia sudah merasa aman dengan kondisi di ruangan itu. Ia berusaha menenangkan rasa terkejut yang baru saja menyerangnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Ia hanya bertemu dengan seonbae yang merangkap sebagai asisten Vijand itu―Kim Nam Joon. Entah karena rupa yang menyeramkan, atau karena kekerasan yang digunakan, ia hanya belum terbiasa dengan perlakuan kasar yang baru saja dilakukan lelaki itu padanya.

Dan Min Yoon Ji baru saja menyelesaikan misi pertamanya. Ia kembali memilih untuk menjadi anak penurut demi mengungkap semua kebenaran yang mungkin saling berhubungan dengan apa yang sudah dilakukannya baru-baru ini.

Setidaknya Yoon Ji bisa menghela napas lega karena bebannya baru menghilang satu untuk hari ini. Ia mencoba bangkit kembali dari rasa syoknya menuju ke arah sound system. Seperti biasa, ia memutar lagu klasik favoritnya―Cannon in D dengan volume keras. Tidak akan ada yang mendengarnya karena ruangan itu kedap suara.

Bukannya menari mengikuti irama, Yoon Ji malah duduk bersandar pada dinding dengan memeluk lutut dan kepala tertunduk. Kelopak matanya otomatis tertutup seiring lagu yang semakin lama semakin membuatnya terjatuh ke dalam alam mimpi.

-VIJAND-

Jeon Jung Kook sudah bersiap dengan sejurus omelannya untuk Min Yoon Ji karena mengabaikannya kemarin malam. Ujian divisi dimulai hari ini dan ia baru saja mengambil nomor undian untuk tampil. Untung saja ia mendapat giliran tampil pada hari ketiga, jadi tentu saja ada kesempatan baginya untuk tampil bersama Yoon Ji. Ia ingin memberitahu gadis itu namun lagi-lagi gadis itu tidak ada selama pelajaran. Jadi begitu bel keluar berbunyi, ia tahu harus pergi kemana untuk mencari gadis itu dan firasatnya benar.

Musik Cannon in D seperti kemarin mengalun memenuhi ruangan. Sementara itu Min Yoon Ji terlihat duduk di sudut ruangan dengan kepala tertunduk. Gadis itu tidak terlihat baik-baik saja. Bahu gadis itu terguncang pelan setiap kali hendak menarik napas. Jung Kook yang merasa khawatir mendekati gadis itu tanpa suara dan duduk di hadapan gadis itu. Entah mengapa niatnya untuk mengomeli gadis itu sirna sudah, tergantikan oleh rasa prihatin dan penasaran dengan masalah yang dihadapi gadis di depannya ini.

Lagu Cannon in D sudah terulang tiga kali semenjak kedatangan Jung Kook di ruangan ini dan Yoon Ji belum saja bergerak sedikit pun di depannya. Gadis itu benar-benar tertidur pulas. Jung Kook menghela napas, lalu tersenyum kecil. Tiba-tiba tangannya terangkat perlahan ke udara mendekati kepala gadis itu yang tertunduk. Jemarinya dengan pelan terselip di antara helaian rambut gadis itu, lalu menyelipkannya di telinga Yoon Ji sampai wajah gadis yang tertidur itu terlihat jelas.

Senyum Jung Kook mengembang, lalu di tengah alunan musik Cannon in D yang kesekian kalinya, ia terdiam dengan wajah berseri. Wajah Yoon Ji benar-benar cantik walaupun sedang tertidur. Kelopak mata sempurna gadis itu tertutup rapat, rambutnya yang tergerai begitu saja, dan kedamaian yang dalam dari wajah gadis itu terus membuatnya terpaku untuk beberapa saat sampai ia menyadari sesuatu…

Ia baru saja berpikir bahwa gadis itu cantik?

-VIJAND-

“Jadi, apa yang terjadi selama aku tidur?”

“Ya?” Jung Kook berhenti mengunyah makan siangnya dan merasa salah tingkah mengingat kelakuannya yang memandangi gadis itu di sepanjang tidurnya. “Ti-tidak ada apa-apa, kok.”

“Benarkah? Lalu mengapa kau berada di depanku ketika aku bangun?”

“Memangnya kenapa? Ada banyak hal yang aku ingin bicarakan padamu. Karena itu aku datang tapi kau sedang tidur.”

“Kalau begitu bilang saja sekarang.”

“Aku…”

“Hei-Yo!” seorang seonbae tiba-tiba datang dengan aura gelapnya yang membuat kedua orang tadi tersentak sejenak. “Bolehkah aku duduk di sini?”

Yoon Ji mengerjap. Di depannya―Kim Nam Joon sudah duduk santai seraya menatapnya aneh dengan lolipop di mulutnya. Sementara itu, Jung Kook terlihat menatap Nam Joon dengan tatapan geram, seolah-olah ada sinar kebencian yang sedang dikeluarkannya. Oke, suasana benar-benar berubah menjadi mengerikan, dan seorang gadis tidak berdaya seperti Yoon Ji tidak mengerti untuk mengatasi hal seperti ini.

Nam Joon lalu beralih pada Jung Kook. Ia menatapnya rendah, lalu menyapanya dengan tawa hambar. “Jung Kook, aku rasa kita bertemu lagi, huh? Apa kabarmu?”

Jung Kook menggertak, lalu meletakkan sumpitnya keras. “Untuk apa aku berbicara pada seorang pecundang seperti hyung?”

Bertemu lagi? Hyung? Yoon Ji benar-benar tidak mengerti akan hal ini. Kedua lelaki di depannya ini ternyata sudah saling mengenal? Bahkan Jung Kook memanggil Nam Joon dengan sebutan ‘hyung’. Yoon Ji tidak bisa berpikir lebih jauh lagi karena tiba-tiba Jung Kook menariknya untuk beranjak dari bangku saat itu juga dan membawanya menjauh dari Nam Joon.

“Hei, ada apa dengan kalian?” seruan Nam Joon membuat Jung Kook dan Yoon Ji menghentikan langkah dan mencoba mendengar pembicaraan Nam Joon tanpa menoleh sedikirpun padanya. “Aku bahkan belum berbicara pada Min Yoon Ji…”

Yoon Ji tersentak. Ia hendak melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman Jung Kook, namun lelaki itu malah mempererat genggamannya―tidak mengijinkan gadis itu pergi.

“Kerja yang bagus hari ini, Min Yoon Ji. Sampai bertemu nanti sore!”

Yoon Ji menelan ludah. Setidaknya itu kalimat terakhir dari Nam Joon sebelum lelaki seram itu pergi. Moodnya sukses dibuat rusak oleh lelaki itu. Mengingat perbuatan buruk yang sudah dilakukannya hari ini membuat dirinya kembali muak dengan hidupnya sekarang ini.

“Min Yoon Ji, sebenarnya apa yang ter―”

Yoon Ji melepaskan tangannya dengan paksa, lalu mencoba memasang ekspresi senormal mungkin di hadapan Jung Kook―tidak peduli tatapan bingung lelaki itu yang menuntut beberapa penjelasan daripadanya.

“Jadi, apakah kita harus latihan untuk ujian sekarang?”

-VIJAND-

“Jangan panggil aku ‘bos’ lagi.” Pinta sebuah suara di ujung sana.

Irene Bae mencoba menopang satu tangannya yang gemetar menggenggam ponsel dan mencoba mengeluarkan suara senormal mungkin. “Kenapa? Bukannya jabatanmu lebih tinggi dariku?”

“Lebih baik hentikan saja semua ini, Irene-a~”

“Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba mengatakan itu?”

“Jika kau masih menyayangiku, turutilah perkataanku.”

Irene terdiam untuk beberapa saat, ia baru saja dikalahkan oleh sebuah kalimat yang sukses membuat jantungnya tiba-tiba berpacu keras.

Tidak butuh tanggapan dari Irene, suara berat di ujung sana kembali berbicara. Kali ini lebih mengerikan dari kalimat sebelumnya, membuat Irene harus menenangkan seluruh dirinya dari rasa takut. Ia melempar ponselnya begitu saja, lalu duduk meringkuk dengan hati terkejut. Sementara itu, kalimat terakhir yang dikatakan orang itu masih terus terngiang dalam benaknya.

“Aku akan segera kembali.”

Lalu aku harus bagaimana, Kim Seok Jin?

-VIJAND-

Musik tiba-tiba berhenti begitu saja. Hanya ada suara pekikan Min Yoon Ji yang salah mengambil langkah di akhir tariannya. Kakinya hampir saja terkilir jika Jung Kook tidak dengan sigap menopang tubuhnya dan kini ia malah berada dalam pelukan lelaki itu. Ia cepat-cepat bangkit walaupun kakinya masih terasa lemas dan jantungnya masih berpacu cepat karena terkejut.

Jung Kook terkekeh pelan, lalu tersenyum lebar―memperlihatkan barisan gigi kelincinya. “Kau menari dengan sangat bagus. Tidak salah memilih partner sepertimu.”

“Aku tadi melakukan kesalahan, bagaimana bisa kau menyebut itu bagus?”

“Kau tidak puas? Apakah kau mau mengulanginya lagi? Kau tidak perlu terburu-buru karena kita mendapat giliran dua hari lagi.”

Yoon Ji tidak menanggapi. Ia segera mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu seraya berbicara pada Jung Kook. “Aku rasa tidak perlu mengulanginya karena aku memang sedang buru-buru saat ini.”

Ketika membuka pintu ruang dance, Yoon Ji mendapati seorang lelaki sedang berdiri seperti hendak menunggu seseorang. Ia berpikir sejenak dan mengira lelaki itu adalah seorang junior dari kelas reguler yang ingin memakai ruang dance. Ia pun dengan percaya diri mengajaknya berbicara.

“Hei, kau junior dari kelas reguler, kan?”

Lelaki itu terlihat kebingungan mendengar suara Yoon Ji. Ia menoleh ke kanan-kiri, lalu ke arah Yoon Ji seraya menunjuk dirinya sendiri dengan alis terangkat.

“Ya. Aku berbicara denganmu. Apakah kau ingin memakai ruang dance kami? Tapi sepertinya ada orang yang sedang menggunakannya…”

Hyung!” Jung Kook baru saja keluar dari ruang dance dan menyapa lelaki yang tadi Yoon Ji ajak bicara. Yoon Ji mengernyit lalu mengalihkan pandangannya bergantian ke arah Jung Kook dan lelaki tadi.

Hyung?!

“Oh, Min Yoon Ji, kau belum pergi?” tanya Jung Kook yang baru menyadari keberadaan Yoon Ji.

Yoon Ji tidak merespon dan hanya menatap ke arah lelaki di samping Jung Kook dengan bingung. Jung Kook yang menyadari tatapan gadis itu segera memperkenalkan lelaki di sebelahnya.

Hyung di sampingku ini namanya Park Ji Min.” Jung Kook lalu menoleh ke arah Ji Min dan hendak memperkenalkan Yoon Ji. “Dan hyung, ia adalah temanku, Min―”

“Oh, astaga…” sela Yoon Ji. “Sepertinya aku harus pergi. Maafkan aku, mungkin kita bisa bicara lain kali.” Yoon Ji membungkuk sopan ke arah Ji Min dan segera berlari meninggalkan dua lelaki yang menatapnya dengan aneh.

-VIJAND-

Hyung,” panggil Jung Kook yang sedaritadi memperhatikan Ji Min yang terus mengamati kepergian Yoon Ji dengan senyum yang terkesan ambigu. “Apa artinya itu?”

Ji Min tersentak. “Apa?”

Jung Kook menyipitkan matanya. “Kau baru saja tersenyum tanpa berhenti memandangi Yoon Ji.”

“Ya?” Ji Min mengerjap, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. “Memangnya mengapa jika aku tersenyum?”

Aigoo, hyung kebiasaan. Omong-omong, kita akan menjenguk Yoon Gi hyung, kan sekarang?”

“Tentu saja. Aku bahkan sudah membawa bunga untuk Yoon Gi hyung.” Kata Ji Min seraya mengangkat kantong plastik hitam yang ditentengnya.

Dari balik kantong plastik itu, samar-samar Jung Kook melihat bunga mencurigakan yang terbalut koran. Ia segera mengambil kantong plastik itu dari tangan Ji Min dan terkejut setengah mati melihat bunga krisan putih di dalam sana.

HYUNG! Apakah kau serius?” Jung Kook mengeluarkan bunga itu dengan kasar dan menunjukkannya di depan wajah Ji Min. “Bagaimana bisa hyung membeli bunga krisan putih untuk Yoon Gi hyung?!”

“Apa? Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan pada florist bahwa aku membutuhkan bunga untuk menjenguk orang.”

Jung Kook menatap Ji Min aneh. “Aigoo, lalu bagaimana dengan bunga ini? Kita harus membeli bunga baru.”

“Baiklah, baiklah. Berikan padaku.” Ji Min merampas bunga krisan putih di tangan Jung Kook dan membungkusnya dengan rapi kembali ke dalam kantong plastik. “Sepertinya aku bisa menggunakan bunga ini untuk mengunjungi makam kakekku.”

-VIJAND-

Sepanjang perjalanan bus, Yoon Ji tidak henti-hentinya menatap layar ponselnya dengan fokus. Keningnya semakin berkerut ketika jemarinya mulai menyentuh layar untuk memeriksa pesan masuk beberapa waktu terakhir ini.

Aneh. Pikirnya. Seharian ini orang misterius itu tidak mengiriminya pesan untuk melakukan hal-hal aneh lagi. Ia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri. Untuk apa ia mengkhawatirkan orang misterius itu? Seharusnya ia merasa bebas karena hidupnya tidak perlu diatur-atur setidaknya untuk hari itu. Lalu, jika orang misterius itu tidak menghubunginya, bisakah ia tidak datang ke markas Vijand hari ini saja?

Bus berhenti di Daerah Yangpyeong. Butuh waktu beberapa menit untuk memutuskan turun atau tidak hingga pintu bus kembali tertutup dan Yoon Ji tiba-tiba berteriak keras pada supir dan meminta untuk membuka pintu bus kembali. Walaupun ia tidak yakin dengan dirinya sendiri, ia merasa bahwa tidak ada salahnya datang ke markas sekarang.

Yoon Ji melangkahkan kakinya dengan hati-hati tanpa suara ketika dirinya sudah berada di gang sempit menuju kafe. Ia memasang mata dan telinganya mengamati keadaan sekitar, takut jika tiba-tiba Nam Joon muncul dan memojokkannya di dinding dengan wajah mengerikan. Ia terus melangkahkan kaki hingga tidak sadar bahwa dirinya sudah ada di depan kafe tanpa dicegat oleh Nam Joon.

Dengan ragu, Yoon Ji kembali berjalan memasuki kafe sambil tetap mengawasi sekitarnya, dan tak disangka kini dirinya sudah berada di depan ruangan Vijand di lantai dua. Ia menempelkan telinga ke daun pintu dan mendapati suasana di dalam sunyi. Ia kembali menoleh ke kanan ke kiri, jemarinya perlahan menyentuh kenop pintu, dan dalam hitungan detik, pintu di depannya terbuka begitu saja―menampakkan suasana ruangan yang gelap.

Jantung Yoon Ji berdetak dua kali lebih cepat ketika ia memberanikan diri masuk ke ruangan itu. Rasa penasaran terus membuat kakinya melangkah hingga terhenti di depan sebuah rak penyimpanan yang berada di bagian terdalam ruangan itu. Tangannya secara otomatis tertarik ke arah album foto di depannya. Dengan jemari bergetar, ia membuka album foto itu secara hati-hati dan melihat foto pertama dalam album itu.

Yoon Ji mengerut heran ketika mendapati sebuah foto yang sama persis dengan foto yang diberikan Ho Seok seonbaenim padanya beberapa hari lalu. Ah, tentu saja Irene mempunyai foto itu karena itu kenangannya bersama teman-teman trainee-nya. Ia membuka lembar berikutnya dan mendapati beberapa kertas memo yang terlihat lusuh. Ia segera membaca memo itu yang ternyata berisi pembicaraan antara dua orang, dan Yoon Ji menduga bahwa dua orang itu adalah Irene dan Nam Joon.

Tidak ada orang yang tahu, nuna. Aku akan membantumu.

 

Mengapa kau berusaha keras seperti itu? Aku masih punya Seok Jin yang bisa membantuku. Kau tidak cukup dewasa untuk ini.

 

Memangnya kenapa? Aku hanya tidak yakin Seok Jin hyung akan membantu nuna dengan tulus.

 

Kau bicara apa? Lebih baik fokus pada masa traineemu ketika aku keluar dari Ru Ent.

 

Aku juga akan keluar bersama nuna. Bisakah kita pergi bersama?

 

Jika kau terus memaksa, baiklah.

 

Nuna, terima kasih~ >< aku janji akan melindungi nuna.

 

Tidak perlu respon berlebihan.

 

Percakapan terhenti di situ. Yoon Ji yang belum puas membaca mencoba membalik sisi kertas. Satu kalimat tertulis di sana, dan ia tahu bahwa si penulis adalah Kim Nam Joon.

Nuna, aku mencintaimu.

Klik!

Suara saklar lampu yang tajam menggelegar memenuhi ruangan. Hanya dalam beberapa detik saja ruangan itu berubah menjadi terang dan Yoon Ji refleks menjatuhkan album foto itu penuh perasaan terkejut.

“Sedang mencari kebenaran, huh?”

Yoon Ji terpaku di tempat. Jantungnya mencelos ketakutan, jemarinya mengepal bergetar hebat, dan rongga dadanya mulai dipenuhi rasa sesak. Tanpa menolehkan kepala ke sumber suara, ia sudah menduga bahwa Nam Joon sedang mengamatinya dengan pandangan menusuk dari belakang.

-VIJAND-

Jeon Jung Kook segera meletakkan bunga yang baru dibelinya bersama Ji Min begitu sampai di ruang rawat Yoon Gi.

“Sejak kapan barang-barang ini ada di kamar rawat Yoon Gi hyung?” gumam Ji Min seraya memandangi berbagai meja dan rak, serta sebuah ranjang di samping ranjang rawat Yoon Gi.

“Mungkin milik keluarga Yoon Gi hyung yang menemaninya di sini.” Tanggap Jung Kook seraya mengemas kembali sisa bunga mawar yang tidak diletakkannya pada vas. Ji Min segera menanyai mengapa sisa mawar itu tidak diletakkan dalam vas saja. Sementara itu, Jung Kook hanya menanggapinya dengan kata ‘tidak perlu’ sambil tersenyum malu.

“Kau ingin memberikannya pada seseorang?” tanya Ji Min lagi.

Jung Kook hanya tertawa malu sambil terus berkata tidak. Ji Min mendesak, namun Jung Kook selamat kali ini karena berhasil menghindari desakan Ji Min lantaran seorang perawat tiba-tiba memasuki ruangan dan mendekati tubuh Yoon Gi dengan khawatir.

Badan Ji Min menegak dan bersama dengan Jung Kook refleks mendekati tubuh Yoon Gi dan bertanya pada perawat itu, “Ada apa?”

Perawat itu tampak memberengut heran, ia lalu menoleh ke arah Jung Kook dan Ji Min. “Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi dokter baru saja berkata bahwa pasien atas nama Min Yoon Gi seharusnya sudah sadar sejak dua hari yang lalu.”

Kedua lelaki itu mengerutkan kening lebih lagi seiring mencerna kata-kata perawat barusan. “Lalu, sebenarnya apa yang terjadi?”

“Aku baru saja ingin menanyakan itu,” kata si perawat. “Sepertinya pasien ini mengalami overdosis obat tidur.”

Jung Kook dan Ji Min hanya menganga tidak percaya. Bagaimana bisa orang koma mengkonsumsi obat tidur? Atau…

“Apakah kalian wali dari pasien?”

“Tidak.” Jawab kedua lelaki itu serentak.

“Aku curiga jika ada orang yang sengaja menyuntikkan obat tidur itu pada pasien.” Si perawat menghela napas berat memandangi kedua lelaki itu dengan curiga, lalu mulai mencatat hasil pemeriksaan Yoon Gi pada catatannya.

“Mengapa memandangi kami seperti itu. Kami adalah sahabatnya, untuk apa kami melakukan ini―”

“Baiklah, baiklah. Jika wali pasien datang, pastikan untuknya menghubungi perawat.”

Si perawat segera beranjak pergi tanpa mempedulikan kedua lelaki yang terlihat bodoh sedang memandangi satu sama lain.

“Tapi kita tidak tahu siapa wali dari Yoon Gi hyung.”

-VIJAND-

Min Yoon Ji merasakan jantungnya sudah terlepas dari bagian tubuhnya. Ia membiarkan dirinya dihimpit di tembok dengan kasar. Sementara itu, tanpa suara air matanya mulai mengalir dan rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Ia kira ia bisa berterimakasih dengan cara yang baik karena lelaki di depannya itu sudah menyelamatkannya dari masalah sore tadi, namun sebaliknya, kini lelaki itu malah membuatnya ketakutan setengah mati.

“Jika kau ingin berterimakasih lakukan misi itu!”

Yoon Ji menelan ludah dan menundukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir deras. Mengingat misi Vijand yang baru saja diberikan Irene padanya membuat hidupnya tambah menyedihkan.

Tapi Yoon Ji tidak mau menyerah dan menjadi kelinci ketakutan. Jika ia berani berbicara, akankah kebenaran akan berani terungkap?

“U-untuk apa?” Yoon Ji berusaha menahan suaranya agar tidak terpecah menjadi tangisan. Beberapa detik kemudian, ia merasakan lelaki di depannya itu menatapnya tajam.

“Sudah jelas karena kau bergabung dengan Vijand.” Jawab Nam Joon geram.

“Apakah kau perlu berjuang sekeras ini untuk membuatku melakukannya? Mengapa.. mengapa kau melakukan hal seperti ini hah?”

“Tsk, gadis ini.” Nam Joon tiba-tiba mendekap bahu Yoon Ji dengan kuat dan menggoncangkan tubuh gadis itu keras. “Kau seharusnya sadar diri! Jangan bicara omong kosong.”

“Apa ini semua demi Irene? Kau mencintainya, kau mengikutinya, karena itu kau bisa berubah menjadi monster seperti ini.”

PLAK.

Badan Yoon Ji bergetar begitu sebuah tamparan mendarat di pipinya. Ia perlahan jatuh terduduk di hadapan Nam Joon. Tangisnya coba ia tahan, tapi isakan mulai keluar dari mulutnya.

“Di awal, kau bilang akan membantuku. tapi―”

“Jangan berharap aku akan membantumu mencari apa yang kau inginkan dari nuna-ku.” Nam Joon lalu melemparkan selembar foto polaroid pada Yoon Ji. “Ingatlah misi itu. Aku akan terus mengawasimu.”

Tangis Yoon Ji pecah. Ia membiarkan foto itu melayang lemah hingga tergeletak begitu saja di sampingnya. Di foto itu―tampak seorang Jeon Jung Kook dengan manisnya tersenyum ke arah kamera.

-VIJAND-

Kim Nam Joon menunggu Irene dengan cemas malam itu. Sejak kembali dari markas Vijand, gadis itu tiba-tiba menghilang. Padahal gadis itu terlihat baik-baik saja tadi sore, ia tidak banyak bicara. Hanya memberikan foto Jung Kook pada Yoon Ji lalu mengakhiri pertemuan. Setelah itu malah menyuruh Nam Joon untuk pulang lebih dulu karena ia ada urusan.

Nam Joon mencoba menghubungi Irene, namun ponsel gadis itu malah tidak aktif. Karena terlalu khawatir, ia memutuskan untuk menunggu kedatangan gadis itu dengan duduk di luar pintu apartemennya tanpa mempedulikan cuaca dingin.

Setelah setengah jam, gadis yang ditunggu-tunggunya pun datang. Kali ini dengan penampilan berbeda, Irene terlihat membawa dua kantong plastik besar belanjaan. Nam Joon yang menyadari kedatangannya segera menghampiri gadis itu dan membantunya membawa barang belanjaan.

“Untuk apa kau duduk di luar?”

Nam Joon tersenyum. “Aku mengkhawatirkan nuna.”

Irene menyipitkan mata, lalu ikut tersenyum. “Mwoya~ aku hanya pergi berbelanja beberapa bahan makanan.”

Nam Joon terlihat terkejut, lalu segera menyemburkan pertanyaan penasaran. “Tumben sekali. Memangnya ada apa? Apakah ada yang datang?”

Irene tidak langsung menjawab, ia membuka pintu apartemen, lalu membiarkan Nam Joon yang penuh barang masuk terlebih dahulu.

“Akan ada tamu spesial.” Jawab Irene seraya menutup kembali pintu apartemen. “Karena itu kita harus memperlakukan tamu itu dengan baik.”

Nam Joon mengernyit heran. “Tamu spesial?”

“Tentu. Ia sangat spesial.” Irene mendekati belanjaan yang baru diletakkan Nam Joon di atas meja dapur dan mulai mengecek barang-barang yang sudah dibelinya. “Kita tidak boleh membuatnya kecewa.”

“Siapa? Siapa tamu spesialnya?”

Irene menoleh ke arah Nam Joon. Senyum cerah yang tadi diperlihatkannya pada Nam Joon memudar seketika begitu gadis itu menyebut nama seseorang yang membuatnya tak kalah muram.

“Dia adalah bos kita. Kim Seok Jin.”

-VIJAND-

Jeon Jung Kook menarik napas dalam-dalam, lalu memasukkan bunga mawar yang ingin diberikannya di saku belakang celananya. Kakinya lalu melangkah menuju ruang dance untuk mencari gadis itu―Min Yoon Ji dengan hati berdebar.

Seperti biasanya, jika tidak latihan, gadis itu tertidur dengan memeluk lutut di sudut ruangan. Lagu favoritnya―Cannon in D terus mengalun menemani dirinya. Jung Kook tersenyum kecil, lalu mendekati gadis itu tanpa suara. Di ambilnya bunga mawar di saku belakangnya, hendak memberikan bunga itu pada Yoon Ji. Namun Jung Kook hanya bisa diam, terpaku di depan Yoon Ji yang masih tertidur. Tiba-tiba hatinya merasa sedih melihat keadaan gadis di depannya.

Alih-alih memberikan bunga itu pada Yoon Ji, Jung Kook akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Yoon Ji dalam diam. Diletakkannya bunga mawar di sampingnya, sementara itu matanya tidak bisa teralih dari Yoon Ji. Banyak hal yang membuatnya tertarik, banyak hal yang membuatnya penasaran. Salah satunya adalah mengapa gadis itu tidak pernah masuk kelas dan hanya berdiam diri di sini setiap hari?

“Min Yoon Ji…”

Jung Kook mengerjap terkejut. Apakah ia baru saja memanggil gadis itu?

“Oh? Jeon Jung Kook.” Respon Yoon Ji dengan kepala yang masih tertunduk.

Jung Kook tidak langsung menjawab. Jemarinya mencoba mengambil mawar yang ada di sampingnya, tapi…

“Bicaralah jika ada yang ingin kau bicarakan.”

Jung Kook kembali meletakkan bunganya dengan kecewa. Nada bicara gadis itu tidak terlihat senang, dan terdengar frustasi.

“Ah, ti-tidak ada. Aku hanya sedang bosan.” Jung Kook mencoba mengalihkan pembicaraan. “Tapi apakah kau tahu suatu hal?”

“Hmm, apa itu?”

“Kemarin aku mengunjungi hyung-ku yang sedang sakit,” akhirnya Jung Kook memilih untuk menceritakan sesuatu pada gadis itu. “Ia mengalami koma yang panjang, dan seharusnya ia sudah sadar sekarang. Tapi nyatanya ia masih tertidur, dan dokter baru saja mengatakan bahwa ia mengalami overdosis obat tidur…”

Min Yoon Ji tiba-tiba menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Jung Kook dengan ekspresi merengut. Jung Kook membalas pandang gadis itu. Ia baru menyadari bahwa wajah gadis itu sembap, bahkan lingkaran hitam dimatanya tidak bisa menyembunyikan ekspresi gadis itu yang penuh masalah.

Jung Kook mencoba melanjutkan ceritanya. “Kemarin aku menjenguknya bersama Ji Min hyung. Dan perawat malah menuduh kami karena menyuntikkan obat tidur pada Yoon Gi hyung. Apakah itu terlalu berlebihan?”

“Y-Yoon Gi?”

“Ah, kau adalah trainee baru Ru Entertainment. Kau pasti belum mengenal―”

Yoon Ji tiba-tiba beranjak berdiri dengan terhuyung. Gadis itu hampir saja terjatuh jika Jung Kook tidak menahannya. Dan tiba-tiba saja gadis itu malah menitikkan air mata.

“Aku harus pergi sekarang.”

Mulai lagi. Gadis itu selalu pergi tiba-tiba jika berada di sampingnya. Itulah salah satu hal yang membuat Jung Kook penasaran dengan masalah gadis itu. Sebenarnya ada apa?

Kajima.” Jung Kook perlahan mencengkram lengan gadis itu.

Yoon Ji dengan keras segera mensetakkan tangan Jung Kook dan berbicara frustasi pada lelaki itu sementara air matanya terus mengalir. “Aku harus menemui oppa. Ia sedang dalam bahaya, seharusnya aku tidak meninggalkannya sendiri. eotteohke.”

Oppa? Tunggu dulu… Jung Kook mencoba memikirkan hal yang terakhir dibicarakannya tadi hingga membaut gadis itu bereaksi cepat. Yoon Gi hyung. Ia baru saja membicarakan Min Yoon Gi, dan Min Yoon Ji segera bereaksi terkejut terhadap perkataannya.

Min Yoon Gi. Min Yoon Ji.

Jung Kook terkesiap. Ia mendekap kedua bahu Yoon Ji dan menatap gadis itu lurus-lurus. “Mengapa kau tidak menceritakannya padaku? Kau pasti memiliki banyak masalah. Mengapa?”

Yoon Ji sudah menduga pikiran Jung Kook. “Apakah akan berguna jika aku menceritakan semuanya padamu?”

“Ya?” Jung Kook terdiam. “Mengapa bertanya begitu? aku akan berusaha membantumu kapan pun.”

Yoon Ji membuang muka sambil bergumam pelan. “Terlambat.”

“Tidak ada kata terlambat. Aku bisa membantumu dengan informasi yang ku tahu.”

Yoon Ji tidak menjawab. Badan gadis itu kembali terhuyung dan kali ini benar-benar terjatuh dalam pelukan Jung Kook, tak sadarkan diri.

-VIJAND-

Dua tahun lalu,

Irene Bae bingung dengan dirinya sendiri. Kisah hidupnya terlalu rumit, terlebih lagi kisah cintanya. Di saat ia hatinya berlabuh pada seseorang, jiwanya malah terperangkap oleh sebuah ikatan yang dulu membuatnya bahagia, kini malah membuatnya terkekang. Di antara ikatan dan hatinya yang berlabuh, ia harus memilih salah satu. Merasa bebas atau merasa bersalah.

Atau kedua-duanya?

Malam itu Min Yoon Gi terus meminta pertanggungjawaban Irene atas pertemuan rahasia dengan Seok Jin. Irene tidak mengerti mengapa lelaki yang mengikatnya itu berubah menjadi terlalu protektif sejak dirinya dekat dengan sosok Seok Jin. Hal itu membuatnya muak dan jenuh pada kekasihnya sendiri.

Irene menghentakkan tangannya dengan kasar begitu ia dan Yoon Gi sampai di sebuah gudang penyimpanan di gedung Ru Entertainment. Yoon Gi yang hanya diam pelan-pelan menutup pintu gudang agar tidak ada yang memperhatikan pertemuan mereka.

“Mengapa kau berubah seperti ini Yoon Gi-ya.”

“…”

“Kau begitu cepat marah.”

“Dan kau berubah menjadi wanita murahan?”

“A-apa katamu? Min Yoon Gi!”

“Terlalu mudah jatuh pada laki-laki lain dan dekat dengan mereka, apakah itu bukan definisi dari wanita murahan?”

Mendengar itu tentu saja Irene mendaratkan sebuah tamparan pada Yoon Gi. Rahangnya mengatup keras, berusaha menahan amarah yang mungkin lebih dahsyat lagi.

“Aku mengatakan hal seperti itu, tapi…” Yoon Gi tersenyum miris. “Aku masih mencintaimu? Sungguh, kenyataan yang konyol.”

“Kita akhiri saja.”

“Jadi kau lebih memilih Seok Jin hyung?”

Irene hendak pergi, namun dengan cepat Yoon Gi meraih tangan mungil gadis itu dan mengatakan kata-kata terakhirnya. “Aku memang bodoh, tapi aku terus menunggumu. Semoga kau bahagia.”

Pintu ditutup kembali dengan keras sepeninggal Irene. Yoon Gi jatuh terduduk, menyandarkan punggungnya dengan penuh pada daun pintu. Ia meratapi kesedihannya di sana sendirian, di tengah pengapnya udara, di tengah dinginnya malam.

“Aku tidak melakukannya.. a-aku…”

Nam Joon mengerjap mendengar suara lenguhan Irene yang masih tertidur. Gadis itu terlihat gelisah dan meronta di dalam lelapnya. Awalnya ia membiarkannya saja karena berpikir gadis itu pasti sedang mengigau, namun makin lama gadis itu malah berteriak ketakutan. Ia segera mendekati gadis itu untuk membangunkannya, lagipula matahari sudah menampakkan diri dan mereka perlu bersiap-siap untuk menyambut kedatangan seseorang.

Nuna, apa yang terjadi?”

Irene yang baru saja terbangun masih belum sepenuhnya mengumpulkan jiwanya. Ia lalu duduk meringkuk ketakutan, satu tangannya meraih tangan Nam Joon di sampingnya. Tiba-tiba suara tangisan keluar dari mulut gadis itu, Nam Joon bertambah khawatir.

“Nam Joon-a, aku tidak melakukannya huh? Benar, kan?”

Nu-nuna, apa yang nuna bicarakan.”

“Kim Nam Joon, aku takut.”

-VIJAND-

Drrt. Drrt.

Jung Kook tersentak pelan dan mendapati ponsel Yoon Ji bergetar di atas meja. Ia memandang ke arah Yoon Ji sejenak dan melihat gadis itu masih belum sadar, ia lalu menoleh ke arah Yoon Gi hyung yang tentu saja belums sadar. Setelah memastikan suasana aman, ia mendekati ponsel Yoon Ji dan membaca pesan pendek yang terlihat pada layar kunci.

1 pesan diterima.

Aku akan segera kembali.

Jung Kook tercekat pelan dan mengamati nomor tak dikenal yang familiar baginya. Ia segera mengambil ponselnya dan menyamakan nomor ponsel seseorang dengan nomor ponsel yang baru saja mengirim pesan pada Yoon Ji.

Hyung akan segera kembali…?” lirihnya pelan.

-TBC-


Review for Chapter 4:

3 pesan diterima.

Jangan lakukan semua apa yang Vijand perintahkan.

Aku akan segera kembali.

Dan aku akan menemuimu. ^^


Comment juseyo~

I want make the next chapter even better if you want to take the time to leave a comment or a like. Thank you~^^

One thought on “VIJAND [Chapter 3]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s