[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 5

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not | Chapter 3 – Promise | Chapter 4 – Don’t Cry

Taehyung mendengar Yura lagi-lagi terisak hebat di dalam kamar sambil berkali-kali menyebutkan nama Yujin dan Ibu. Ia tahu apa yang dilakukan gadis itu. Gadis itu sedang menelepon ibunya di Indonesia, negara ibunya, melaporkan berita yang baru saja gadis itu dengar hari ini, entah dari siapa, kalau Yujin telah meninggal seminggu yang lalu. Taehyung memang tidak tahu persis apa yang dibicarakan gadis itu dengan ibunya. Namun mendengar isakan hebat yang keluar dari mulut Yura, Taehyung dapat menduga apa yang mereka bicarakan.

Dan mendengar suara isakan tangis yang amat sangat hebat itu, membuat Taehyung terluka.

Taehyung menyandarkan kepalanya ke pintu kamar Yura dan menggerakkan tangannya menyentuh permukaan pintu kayu tersebut dengan perlahan, membayangkan ia sedang memeluk gadis itu, menenangkannya dari kesedihan yang amat mendalam.

Setetes airmata jatuh dari pelupuk mata Taehyung.

“Jangan menangis, Yura Park. Maafkan aku.” ucapnya lirih.

Chapter 5: It’s Hurt

yujin

.

“Pergi. Aku tak membutuhkanmu.” —– Yura Park

.tumblr_inline_mq4nw8uPfH1qz4rgp

.

“Baiklah, ayo kita terjun bersama.” —- Kim Taehyung
.

.

Hari ini, Yura seperti mayat hidup. Terbangun dengan mata membelalak, memekik tertahan, menyebutkan nama Yujin. Kemudian terdiam, pandangannya lalu berubah kosong, tergugu sesaat, lalu kembali menangis. Memeluk lututnya, membenamkan wajahnya dalam-dalam, meringkuk, dalam kesepian, dalam kesendirian. Merasa sendu. Merasa hidupnya tak bermakna apa-apa lagi.

Taehyung sudah berdiri di balik pintu kamar Yura saat ia mendengar gadis itu meneriakkan nama Yujin. Keadaan lelaki itu tak jauh parahnya dengan keadaan Yura. Ia tidak tidur di kamarnya, ia hanya tidur di sofa. Berkali-kali menatap pintu kamar Yura dengan tatapan kosong. Berjam-jam lebih. Ketika matanya lelah dan hendak untuk terpejam, saat itu juga bayangan Yura kembali hadir dalam benaknya. Maka dari itu ia kembali menatap pintu kamar Yura. Begitu seterusnya. Hingga pagi menjelang. Terjaga semalaman.

Dan pagi ini, ketika matanya sudah mulai terpejam, beranjak ke alam mimpi, ia dikejutkan oleh suara pekikan tertahan. Suara Yura. Menyebutkan nama Yujin. Lantas ia segera berlari, berhenti tepat di depan kamar Yura. Tangannya hendak membuka kenop pintu. Tetapi ia tidak berani. Ia mendadak merasa kecil di hadapan gadis itu. Tak berdaya, hanya karena perasaan bersalah itu. Maka dari itu ia hanya terdiam disana. Menggigit bibir. Membiarkan perasaan bersalah dan rasa sakit itu menyelimuti dadanya.

Hingga pukul 10 pagi, Yura belum juga keluar kamar. Dan hal tersebut benar-benar membuat Taehyung khawatir. Berkali-kali ia mondar-mandir di ruang tengah, melirik pintu kamar Yura, berharap gadis itu keluar, tetapi gadis itu tak juga kunjung keluar.

Ketika jam menunjukkan pukul 11, pintu kamar Yura terbuka.

Dan demi mendengar suara pintu kamar terbuka, Taehyung meloncat berdiri dari duduknya. Menatap lurus ke arah Yura yang baru saja keluar kamar.

Yura keluar dengan penampilan acak-acakan. Wajahnya memerah, basah oleh airmata, matanya membengkak, tampak lingkar hitam di bawah mata gadis itu, hidungnya memerah, rambutnya awut-awutan. Penampilan gadis itu sungguh amat sangat kacau.

Yura tidak melihat ke arah Taehyung saat keluar kamar. Gadis itu terus melangkahkan kakinya dengan tatapan kosong, menuju dapur, membuka kulkas, mengambil sebotol air dingin, menutup kulkas, mengambil gelas dari dalam laci, menuangkan air dingin itu ke dalam gelas, meneguknya habis, lalu mengembalikan botol tersebut ke dalam kulkas, lalu mencuci gelas yang baru saja ia pakai, dan meletakkannya kembali ke dalam laci. Kemudian gadis itu kembali melangkah menuju kamar.

Taehyung bergerak, hendak menyapa gadis itu. Namun gadis itu tetap berlalu melewati Taehyung, seolah tak kasatmata Taehyung baginya.

Dan Taehyung hanya terpaku dengan tangan yang sudah terangkat saat hendak menyapa gadis itu. Ia hanya menatap tangannya yang terangkat dengan tatapan miris. Lalu kembali menatap pintu kamar Yura yang tertutup dengan perasaan terluka.

Pintu kamar kembali terbuka. Yura kembali keluar kamar, masih dengan tatapan kosong. Kali ini tangannya membawa handuk dan satu stel pakaian. Gadis itu melangkah menuju kamar mandi. Dan lagi-lagi, ia tidak mempedulikan Taehyung yang berdiri di ruang tengah, menganggap lelaki itu tak kasatmata.

Taehyung hanya terpekur. Menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan perasaan terluka.

“Yura, apa yang terjadi denganmu?” bisiknya, dengan suara lemah.

Yura keluar setengah jam kemudian. Meskipun rambutnya basah, penampilannya lebih rapi dari sebelumnya, dan tubuhnya lebih wangi dari sebelumnya, namun wajahnya masih terlihat amat sendu. Lingkar hitam di bawah itu masih ada, matanya masih membengkak, dan tatapannya masih kosong.

Taehyung kembali memperhatikan saat Yura bercermin. Gadis itu memandang pantulan bayangan dirinya lewat cermin, memakai bedak, memakai lipstik, memakai eyeliner, namun tatapannya masih kosong, gerakannya masih pelan, seperti tak niat untuk melakukan apa-apa, seperti orang yang telah lelah hidup, seperti mayat hidup.

Yura mengambil tas tangannya, lalu melangkah keluar kamar. Mengunci pintu kamar. Saat melihat Yura hendak keluar apartemen, Taehyung barulah bergerak. Mencekal lengan gadis itu. Membuat gadis itu menghentikan langkah.

“Kau mau kemana?” tanya Taehyung, dengan suara lemah.

“Kerja.” jawab Yura singkat, akhirnya. Setelah sekian lama mendiamkan Taehyung, inilah kalimat pertama yang keluar dari bibir tipis Yura.

“Tetapi keadaanmu…” Taehyung memperhatikan Yura dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kau istirahat saja.”

Yura menoleh pada Taehyung, dengan gerakan pelan, menatap lelaki itu dengan tatapan tanpa ekspresi, namun terlihat tajam di mata Taehyung. “Kenapa kau harus peduli padaku?”

“Apa?” Taehyung cukup terkejut dengan pertanyaan Yura, refleks melepaskan lengan Yura dari tangannya.

“Kenapa kau tidak pedulikan dirimu saja?” tanya Yura, dengan suara datar, tanpa ekspresi.

Taehyung tergagap, tak tahu harus menjawab apa.

“Dan sampai kapan kau akan disini?”

“A-aku…”

“Pergi.” kata Yura, dengan intonasi titik. “Aku tak membutuhkanmu.” lalu ia berlalu keluar apartemen.

Meninggalkan Taehyung yang terpaku.

——————-

Jimin duduk merenung di atas sofa. Matanya lurus menatap depan, memperhatikan anjing kecil milik Yoongi yang sedang bermain bola di lantai bersama majikannya, namun nyatanya ia tidak benar-benar sedang memperhatikan. Seorang gadis berponi lurus dengan mata menyerupai biji buah leci saat ini sedang menghantui pikirannya. Wajahnya yang terkejut, syok, akibat perkataan yang ia ucapkan tempo lalu masih begitu terbayang dalam benaknya. Saat tiba-tiba saja ia jatuh terduduk, dengan mata membelalak, dengan tubuh gemetar, terlihat amat menyakitkan di mata Jimin.

“Yujin sudah meninggal, seminggu yang lalu. Dia meninggalkan nama Jung Yujin dan profesi model terkenal saat kematiannya.”

Yura sempurna terpekur. Tubuhnya mendadak melemas dan ia terjatuh ke aspal begitu saja, tiba-tiba. Untungnya, Jimin dapat menahan lengannya. Tetapi tetap saja, tubuh Yura masih terlihat amat lemas. Bahkan Jimin dapat merasakan tubuh gadis itu yang bergetar.

“Yura, kau tidak apa-apa?” tanya Jimin, merasa khawatir.

“K-kau pasti bohong, kan, Jimin?” tanya Yura, mencengkeram lengan Jimin. Matanya menatap manik Jimin dengan tatapan yang terlihat amat sangat menyakitkan.

“Yura…” Jimin tak bisa berkata apa-apa saat melihat reaksi Yura.

Yura menggelengkan kepala. “Tidak mungkin, tidak mungkin Yujin-ku, kan, yang meninggal? Kau pasti salah dengar, kan? Kau pasti mengada-ngada, kan?” tanyanya, dengan suara parau.

Jimin menggigit bibir. “Aku juga berharap aku salah dengar, Yura Park.”

Yura menjambak rambutnya, dengan mata melotot, seperti kehilangan kontrol. “Aku harus bertanya pada Halla, dia… dia pasti tahu sesuatu.”

“Halla?” Jimin melihat Yura berusaha bangun dari duduknya, tangannya menggapai-gapai udara, mencoba mencari pegangan. Ia lalu menutup bagasi mobil, berjalan menuju bangku kemudi sambil meraba-raba mobilnya. Dan demi melihat Yura seperti itu, airmata Jimin mengalir. Ia bergegas mendekati Yura, membantu gadis itu berjalan menuju bangku kemudi.

“Perlu kuantar?” tawar Jimin, menatap manik Yura yang nyalang.

Yura tidak menjawab tawaran Jimin. Karena, “aku harus bertemu Halla, aku harus bertemu Halla.” hanya itulah yang keluar dari bibir tipisnya.

“Aku harus bertemu Yura!” Jimin tiba-tiba bangun dari duduknya, mengagetkan Yoongi yang sedang bermain bersama anjing kecilnya.

“Siapa? Yura?” tanya Yoongi, menatap Jimin dengan bingung.

Jimin tidak menjawab. Ia langsung berlalu keluar ruangan tanpa mempedulikan Yoongi. Meninggalkan lelaki itu yang masih dilanda kebingungan.

“Yura? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.”

——————-

Taehyung duduk di atas sofa dengan gelisah. Berkali-kali ia melirik jam dinding dan pintu apartemen dengan khawatir. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, tetapi Yura belum kunjung pulang. Yang ia tahu gadis itu hanya bekerja sampai pukul 4 sore, sebelum kuliah pada pukul 7 malam nanti. Lalu kemana gadis itu sekarang?

Sebenarnya kalau saja Yura tidak pergi dengan keadaan seperti itu, Taehyung tidak akan sekhawatir ini. Pasalnya, Yura benar-benar tampak seperti mayat hidup. Ia tidak yakin kalau gadis itu akan baik-baik saja di luar sana.

Setelah berpikir lama, akhirnya Taehyung memutuskan untuk menyusul Yura. Entahlah kemana, yang penting ia harus mencari gadis itu.

Taehyung memakai masker hitam dan topinya lalu melangkah keluar apartemen. Tidak dikunci, Taehyung tahu itu. Gadis itu menyuruhnya untuk pergi, maka dari itu gadis itu meninggalkan kunci apartemennya. Tetapi namanya juga gadis itu sedang tidak dalam keadaan benar. Walaupun Taehyung pergi hari ini, tetap saja Taehyung dapat kembali lagi kesini, karena gadis itu meninggalkan kunci apartemennya pada Taehyung.

Taehyung menurunkan topinya saat berlalu melewati beberapa orang di dalam gedung apartemen, menyembunyikan wajahnya. Ketika ia hendak turun dari tangga—apartemen Yura memang terletak di lantai 2, tak sengaja ia melirik ke arah jendela di sebelah tangga dan tertegun saat melihat mobil travel hitam yang terparkir di depan gedung. Memang, travel hitam itu hanya travel biasa, tidak begitu menarik perhatian banyak orang. Tetapi untuk seorang Kim Taehyung, travel itu tidak bisa diabaikan begitu saja oleh matanya. Karena travel hitam itu adalah travel milik Bangtan Boys.

Kenapa travel itu bisa terparkir disana? Apakah mungkin, seseorang sudah mengetahui keberadaannya disini dan hendak menjemputnya? Oh, tidak mungkin! Pengacaranya saja tidak tahu kalau ia ada disini.

Sementara itu, di dalam travel hitam yang terparkir tepat di depan sebuah gedung apartemen yang tampak sederhana, Park Jimin duduk di bangku tengah sambil memperhatikan gedung apartemen tersebut.

“Sebenarnya apa yang ingin kaulakukan disini, Jimin-ssi? Sudah dua jam lebih kita disini tetapi kau tak kunjung melakukan apa-apa.” kata manajer pribadinya yang duduk di balik kemudi.

“Sebentar, hyung. Tunggu sebentar lagi.” kata Jimin, matanya menatap lurus pada pintu masuk gedung apartemen, berharap seseorang yang ia tunggu keluar dari sana.

Beberapa jam yang lalu, ia mengunjungi kantor Haruman Fashion. Tetapi salah satu dari mereka mengatakan kalau Yura Park tidak datang kerja hari ini, juga tidak memberi kabar sama sekali. Maka dari itu Jimin meminta alamat tempat tinggalnya. Yang tak ia sangka adalah alamat tempat tinggal Yura masih sama seperti dulu, saat gadis itu masih menjadi pacarnya saat SMA.

Dan disinilah Jimin sekarang, duduk di dalam mobilnya yang terparkir tepat di depan gedung apartemen milik Yura. Sudah dua jam berlalu semenjak ia tiba disana, tetapi Jimin sama sekali tidak memutuskan untuk keluar dan mengunjungi apartemen itu, melainkan hanya menunggu. Menunggu gadis itu keluar dari apartemennya, dan Jimin dapat melihat keadaan gadis itu dari kejauhan.

Tetapi yang menjadi masalah adalah, sudah dua jam berlalu Jimin disana, tetapi Yura sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.

“Mau sampai kapan kita disini, Jimin-ssi? Kau harus latihan bersama Bangtan Boys.”

Jimin melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore, lalu menghela napas kecewa. Sepertinya ia memang tidak bisa melihat keadaan gadis itu sekarang.

“Ya sudahlah, hyung. Kita pulang saja.” katanya kemudian.

Taehyung melihat travel hitam yang terparkir di bawah bergerak melaju, menjauh dari apartemen. Saat itulah ia baru dapat bernapas dengan lega.

Dengan begini ia bisa keluar sekarang untuk mencari gadis itu.

——————-

“Yura Park tidak datang kerja hari ini.” kata seorang wanita yang duduk di balik meja resepsionis.

Taehyung terkejut. “Tidak kerja?”

Wanita itu mengangguk. “Dia juga tidak memberi kabar apa-apa.”

Wajah Taehyung langsung berubah panik. Tanpa mengucapkan sepatah katapun pada wanita itu, lelaki bertopi hitam itu segera melangkah keluar gedung Haruman Fashion. Berlari tanpa arah.

“Yura Park, kau dimana?”

——————-

Jalanan sepi.

Langit gelap.

Angin musim dingin bertiup kencang.

Yura merapatkan jaket yang dikenakannya, tetapi tubuhnya tetap saja menggigil. Bukan karena angin, karena saat ini ia sama sekali tidak bisa merasakan apapun. Sepertinya saraf-sarafnya sudah tidak dapat berfungsi. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bersuara, dan tidak bisa merasakan apapun.

Kecuali rasa sakit di hatinya. Rasa kehilangan itu, ia bisa merasakan yang satu itu.

‘Yujin meninggal.’

Dari sekian juta kalimat di dunia ini, kenapa ia harus mendengar kabar menyakitkan itu?! Bertahun-tahun lamanya ia hidup terpisah dengan adiknya. Lalu, ketika akhirnya ia bertemu dengan adiknya, mendapat kabar tentang adiknya, adiknya justru sudah tidak lagi bernyawa. Rasanya sakit sekali. Bagai sebuah palu godam yang menghantam tepat di hatinya. Tanpa pertanda. Tanpa aba-aba. Bahwa ia akan ditinggalkan oleh adiknya. Adik yang ia benci, namun juga ia sayangi. Adik yang seringkali menyakiti hatinya, perasaannya, namun juga adik yang seringkali ia lukai perasaannya.

Tangannya mencengkeram bagian depan jaket, sementara tangan lainnya mencengkeram erat pagar besi jembatan di depannya. Pagar besi itu terasa dingin sekali, tetapi nyatanya ia tidak dapat merasakan apapun walaupun ia mencengkeram pagar besi itu hingga buku-buku jarinya memutih.

Matanya kosong menatap ke bawah. Permukaan Sungai Han terlihat tenang sekali. Pasti airnya dingin sekali. Ia pasti akan langsung mati kedinginan bila terjun kesana. Mati beku.

Ia hanya perlu membiarkan dirinya jatuh ke bawah. Menyatu bersama abu adiknya. Merasakan ketenangan di dalamnya sampai semua rasa sakit dan rasa kehilangan di hatinya menghilang.

Benar. Ia hanya perlu membiarkan dirinya jatuh. Setelah itu tubuhnya akan membeku. Rasa sakit di hatinya juga membeku.

Dan ia tak merasakan apa-apa lagi setelahnya.

——————-

Taehyung menumpukan kedua tangannya pada lututnya dengan napas terengah-engah. Peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya. Berjam-jam lamanya ia berlari tanpa arah, tetapi tak kunjung juga ia temukan sosok gadis itu. Dari langit masih terang hingga berubah gelap, ia tak juga menemukan Yura. Segala tempat yang menjadi kemungkinan Yura berada disana sudah ia kunjungi, tetapi tetap saja ia tak menemukannya. Yura tidak ada dimana-mana.

Kali ini Taehyung berharap Yura berada disini, di tempat terakhir yang ia kunjungi, Sungai Han.

Tempat itu sepi, tidak seramai biasanya. Taehyung bersyukur bisa dengan leluasa menjelajahi tempat itu tanpa perlu khawatir orang-orang akan melihatnya. Namun langkah kakinya terhenti ketika ia menemukan seseorang yang berdiri di balik pagar jembatan, hendak memanjat naik ke atasnya. Meskipun jarak mereka masih terbilang cukup jauh, tetapi Taehyung dapat dengan jelas mengenal sosok itu.

“Yura Park!” teriaknya tertahan, kemudian berlari ke arah sosok itu, dengan kecepatan penuh.

Yura, dengan tangan gemetar, mencengkeram erat pagar besi, sementara kakinya, dengan gemetar pula, mulai memanjat pagar tersebut. Tatapannya nanar, fokus menatap air yang begitu tenang di bawah sana. Tanpa menyadari kalau Taehyung sedang berlari ke arahnya.

Ia baru tersadar ketika tiba-tiba saja tubuhnya ditarik menjauh dari pagar oleh sebuah tangan.

“HEI, apakah kau gila?! Apa yang sedang kaulakukan, hah?!” bentak Taehyung, mengguncangkan tubuh gadis itu dengan sisa tenaganya.

Yura terperanjat. Tubuhnya terhempas kuat dari pagar besi. Dan matanya berubah nyalang saat menatap Taehyung yang berdiri di depannya. “Apa pedulimu?! Tidak usah pedulikan aku!” teriaknya, dengan suara tertahan.

Taehyung menatap Yura dengan mata membelalak. Peduli? Gadis itu bertanya peduli padanya lagi? Jawabannya sudah sangat jelas iya! Gadis itu tidak tahu, sejak pertama kalinya ia bertemu gadis itu, menatap maniknya, melihat wajahnya, ia sudah memutuskan untuk peduli pada gadis itu. Ketika ia melihat gadis itu tersenyum, ia akan ikut tersenyum. Ketika ia melihat gadis itu tertawa, ia akan ikut tertawa. Ketika ia melihat gadis itu terluka, ia akan ikut terluka. Namun, ketika ia melihat gadis itu bertingkah seperti ini, ia benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan.

“Sadarlah! Jangan lakukan itu.” kata Taehyung, dengan suara tertahan.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Diam? Apakah aku harus diam saja di saat adikku sudah pergi? Kau pikir itu mudah bagiku?” tanyanya, dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca.

Rahang Taehyung mengeras. Menatap gadis itu dengan perasaan terluka. Bukan hanya gadis itu yang merasa kehilangan Yujin, tetapi ia juga. Bukan hanya gadis itu yang merasa sakit begitu tahu kematian Yujin, tetapi ia juga. Bukan hanya gadis itu yang sulit untuk merelakan kepergian Yujin, tetapi ia juga. Gadis itu tidak sendirian, Taehyung ingin memberitahu itu, tetapi tidak bisa. Jadi yang ia lakukan hanyalah mencengkeram lengan gadis itu kuat-kuat, menyalurkan rasa sakitnya pada gadis itu.

“Bukan seperti ini caranya.” jawab Taehyung, akhirnya, dengan suara lemah.

“Lalu, bagaimanaaaa?” tanya Yura, menjerit. Airmatanya mengalir. “Lima tahun. Lima tahun aku hidup terpisah dengannya. Dan sekarang, di saat aku sudah mengetahui keberadaannya, dia sudah pergi. Meninggalkanku. Selamanya. Segitu bencinyakah Yujin padaku? Hingga dia tidak ingin melihatku? Bahkan ketika dia akan meninggalkanku? Aku ingin sekali melihatnya! Aku ingin berjumpa dengannya! Aku ingin bersamanya! Aku ingin bersama Yujin!”

Taehyung menengadahkan kepalanya saat dirasanya airmatanya mulai menggenang di pelupuk mata. Berusaha untuk tidak menangis di hadapan Yura.

“Jadi, tolong,” Yura melepaskan tangan Taehyung dari lengannya, dan menatap manik lelaki itu lekat-lekat. “Biarkan aku pergi. Biarkan aku bertemu dengan Yujin.”

“Tidak!” Taehyung kembali menahan lengan Yura saat gadis itu kembali mendekat ke pagar besi. “Kumohon, jangan lakukan.”

“Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.” mulut Yura mengoceh dengan sendirinya. Tangannya kembali melepaskan tangan Taehyung dari lengannya, lalu ia kembali melangkah mendekati pagar besi.

“Masih banyak yang bisa kaulakukan.” kata Taehyung dengan suara bergetar, kembali menahan lengan Yura.

“Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.” oceh Yura, kembali melepas tangan Taehyung dari lengannya, dan begitu seterusnya yang mereka lakukan. Taehyung akan menahan lengan Yura, lalu Yura melepasnya lagi, lalu berjalan mendekati pagar besi, lalu Taehyung akan kembali menahan lengan Yura, lalu Yura melepasnya lagi, lalu, berjalan mendekati pagar, lalu, lalu, lalu…

Sampai akhirnya Taehyung mendadak murka, kesabarannya sudah habis. “Baiklaaaaah!” bentaknya, menarik lengan Yura untuk menjauh dari pagar besi.

Yura terhenyak dengan perlakuan Taehyung.

Taehyung menatap Yura dengan mata nyalang. Dadanya berdebar keras saat akhirnya ia berkata, “Baiklah, ayo kita terjun bersama.”

Mata Yura membulat terkejut. Terlebih ketika ia melihat Taehyung memanjat pagar besi tersebut, lalu menoleh ke arahnya dan mengulurkan tangan padanya.

“Ayo, kita terjun bersama.” kata Taehyung, dengan suara bergetar, namun matanya nyalang menatap Yura di bawahnya.

Biarkan saja. Biarkan Yura tahu kalau bukan hanya gadis itu yang merasa kehilangan Yujin. Biarkan Yura tahu kalau bukan hanya gadis itu yang merasa lelah untuk hidup. Kalau Yura mau tahu, ia, sudah memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya begitu tahu kematian Yujin. Ia sudah berulangkali berdiri disini tiap tengah malam semenjak kematian Yujin. Berharap ia dapat membiarkan tubuhnya terjun ke bawah. Menyatu bersama abu Yujin. Mati beku disana. Tetapi ia tidak bisa, selalu ada sesuatu yang menggagalkannya. Terakhir kali ia melakukannya, ia malah ketahuan oleh para wartawan malam itu, malam dimana ia bertemu Yura pertama kalinya.

Tetapi malam ini, setelah melihat Yura bersikap seperti itu, ia mendapat kekuatan, ia mendapat keberanian, untuk terjun ke bawah sana. Untuk meloncat ke bawah sana. Untuk bersatu bersama Yujin. Yujin-nya.

Yura menatap Taehyung dengan tatapan tidak mengerti. “Apa yang kaulakukan?”

Taehyung tersenyum, pahit. “Aku juga tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan di dunia ini. Jadi,” ia mengedikkan pandangannya pada tangannya yang terulur ke arah gadis itu. “ayo kita pergi bersama.”

“Kau serius?” tanya Yura, tidak percaya.

Taehyung mengangguk. Kembali mengedikkan tangannya.

Yura, dengan langkah ragu, melangkahkan kakinya mendekat. Tangannya gemetar meraih uluran tangan itu. Kakinya gemetar saat memanjat pagar tersebut. Kini ia sempurna berdiri di atas pagar besi, bersama Taehyung di sebelahnya, menggenggam tangannya.

“Aku akan membawamu bertemu dengan Yujin.” kata Taehyung, dengan suara bergetar. ‘Dengan begitu aku pun akan bertemu dengannya…’

Yura menatap Taehyung dengan ragu.

“Saat hitungan ketiga, kita loncat bersama.” kata Taehyung memberi aba-aba. “Satu…”

Mata Yura kembali berkaca-kaca saat melihat manik Taehyung yang mengarah ke bawah.

“… dua…”

Bibir Yura bergetar saat melihat tubuh Taehyung yang mulai bersiap untuk meloncat.

“… ti-”

Taehyung tak melanjutkan perkataannya saat tiba-tiba saja Yura berjongkok, memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya disana, lalu terisak hebat.

“Apa yang kaulakukan?” kata gadis itu, di sela isak tangisnya. “Kenapa kau harus melakukan ini?”

Mata Taehyung berkaca-kaca saat melihat Yura seperti itu. Ia berjongkok, di sebelah Yura, meraih wajah gadis itu untuk menatap ke arahnya. “Kau tidak ingin meloncat?”

Yura balas menatap manik Taehyung, lalu menggelengkan kepala.

“Kau tidak ingin bertemu Yujin?” tanya Taehyung lagi, kali ini airmatanya mengalir.

Yura kembali membenamkan wajahnya, lalu menangis hebat.

Bibir Taehyung bergetar saat ia membentuk sebuah senyuman. Ia memandang Yura yang terisak dengan pandangan penuh arti. Tangannya lalu bergerak untuk meraih kepala gadis itu, mendekatkannya ke dalam dekapannya.

“Baiklah, kalau begitu, kita tidak perlu meloncat. Kita tidak perlu bertemu Yujin, untuk saat ini.” kata Taehyung, dengan suara bergetar.

Yura tidak menjawab. Tangisnya semakin hebat. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam di dalam dekapan Taehyung. Dan Taehyung mengelus pelan punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang.

“Jangan lakukan lagi, kumohon…” bisik Taehyung lirih di telinga Yura.. “Hiduplah untuk Yujin, dan untuk dirimu sendiri.” Yura Park… tambahnya dalam hati.

—tbc

NEXT CHAPTER: JUNG YUJIN = YUJIN PARK

“Bagian mana yang ingin kauketahui?” — Yura Park

“Kalau kau masih sayang pada dirimu sendiri, jangan dekati dia, Taehyung.” — Park Jimin


Finally, chapter 5 is hereeee!
Mm, chapter ini masih angst banget, galau banget, butuh banget komentar atas chap yang penuh dengan angst ini, dan semoga pada chap ini dapat membuka jalan pikiran kalian apa yang sebenernya terjadi dengan taehyung :”) hhh~ #menghelanapasberat
Well, besok udah mulai UAS, so, hiatus dulu yaa, mungkin sekitar Kamis atau Sabtu akan kupublish chap selanjutnya. And, happy reading, guys ^^

3 thoughts on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 5

  1. Huaaaaaaaaa…… Gilak. Ga tau harus ngomong apa. Gilak. Kok gak jadi bunuh diri sih? Kan kasian Yujin. Dia pasti kedinginan di sungai han sendirian. Dia pasti kesekian bgt. Kenapa gak jadi nemenin dia? Tp jangan deng, ntar ffnya langsung end. Kan jadi gak seru

  2. Adduhhh yura apa di kepalamu smpe” mw trjun?! Taehyung jga -_- tpi untungnya gk jdi, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s