[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 4

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not | Chapter 3 – Promise

Yura memandang Jimin dengan pandangan bertanya. Tatapan ceria Jimin kini berubah gelap saat ia menatapnya. Entah kenapa, Yura mendapat firasat buruk.

“Aku tahu keberadaan adikmu.” kata Jimin, dengan mimik serius.

Senyum Yura sempurna lenyap. Tatapannya berubah kosong.

Jimin menahan rasa sakit saat melihat perubahan air muka Yura. Sebenarnya ia tidak tega untuk mengatakan hal ini pada Yura, orang yang pernah ia miliki saat SMA—meskipun hanya beberapa bulan. Namun, ia harus mengatakannya. Cepat atau lambat, Yura harus mengetahui hal ini.

“Yujin Park… aku tahu dia berada dimana.”

Chapter 4: Don’t Cry

yujin

.

“K-kau pernah bilang kalau wajahku mirip dengan… mo-model terkenal, J-Jung, Jung Yujin, kan?” —– Yura Park

.tumblr_inline_mq4nw8uPfH1qz4rgp

.

“Jangan menangis, Yura Park. Maafkan aku.” —- Kim Taehyung
.

.

.

Lima tahun yang lalu.

Yura menggedor-gedor pintu kamarnya dengan tidak sabaran. Wajahnya merah padam terbakar emosi. Tangannya yang satu lagi menggenggam erat kantong plastik berwarna transparan yang berisi bubuk berwarna putih, entah itu apa. Di belakangnya, berdiri dua orang lelaki—satu lelaki tampak sudah berumur, dan satu lelaki yang lain tampak seumuran dengan Yura—yang menatap Yura dengan tatapan khawatir. Lelaki itu adalah Park Taehyun dan Park Jimin, ayahnya dan pacarnya.

“Yujin! Yujin Park, keluar kau sekarang juga!” teriak Yura. Tangannya masih menggedor pintu kamarnya dengan sekuat tenaga, bahkan tangannya sudah memerah. Tetapi, biarlah. Biarlah tangannya sakit, itu semua tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

“Pergiiiii! Tidak usah pedulikan akuuu!” suara seorang perempuan dari dalam kamar balas berteriak dengan suara parau.

“Bagaimana bisa aku tidak mempedulikanmu, Yujin?! Kau adalah adikku, adik kembaranku! Keluar kau sekarang, Yujin Park, atau akan kuhancurkan pintu kamarmu!”

Ayahnya melangkah maju, meraih lengan Yura dan menyuruhnya untuk menghentikan aksi nekatnya.

“Dia harus dihentikan, appa. Anakmu benar-benar sudah keterlaluan.” kata Yura sambil terisak. Rupanya rasa sakit di dalam hatinya telah membuat pertahanannya jebol. Airmatanya sudah tak bisa ditahan lagi.

“Biar appa yang bicara dengannya.” kata ayahnya.

Yura mundur selangkah, membiarkan ayahnya yang berbicara pada Yujin. Jimin segera meraih lengan Yura dan menuntunnya untuk duduk di sofa serta menenangkan pacarnya itu.

“Yujin~a, keluarlah dari kamarmu.” Ayahnya mengetuk pintu kamar Yujin yang juga adalah kamar Yura dengan ketukan pelan. “Bicaralah dengan appa-mu.”

“Tidak mau!” teriak Yujin dari dalam kamar. “Aku tidak memiliki appa. Aku tidak memiliki eonni. Aku tidak memiliki ibu. Dan aku tidak memiliki keluarga!”

Emosi Yura kembali menyulut, beruntunglah Jimin segera menenangkannya sehingga emosi Yura tidak meledak saat itu juga.

Ayahnya menghela napas berat. “Maafkan appa, Yujin~a.”

Appa, kenapa kau malah meminta maaf?” Yura menatap ayahnya tidak mengerti. Rasanya ia ingin menangis lagi melihat ayahnya seperti itu.

“Maafkan appa yang selama ini terlalu sibuk bekerja. Maafkan appa yang selama ini tidak memperhatikanmu dan Yura. Maafkan appa.” ucap ayahnya lirih. “Seandainya Yujin ingin memberikan kesempatan untuk appa, appa akan kembali. Appa akan memperhatikan anak-anak appa. Appa akan menuruti seluruh keinginanmu, Yujin. Kau bilang ingin menjadi model, kan? Baiklah, appa akan memfasilitasimu hingga kau menjadi model terkenal. Appa juga akan memfasilitasi kakakmu hingga Yura menjadi desainer terkenal.”

Yura menangis hebat di atas sofa. Jimin hanya memandang pacarnya itu dengan pandangan terluka.

“Maka dari itu, Yujin~a,” ayahnya mengelap wajahnya yang telah basah oleh airmata. “Kembalilah. Hindari barang-barang terlarang itu, dan kembalilah pada appa. Appa juga akan kembali padamu.”

Yura menggigit bibir. Memandang miris kantong plastik berisi bubuk-bubuk putih di tangannya. Kantong plastik milik Yujin, adik kembarnya, yang ia temukan di dalam tas Yujin. Kantong plastik yang baru Yura ketahui kalau isinya adalah ganja, barang terlarang itu.

Pintu kamar terbuka. Yura lantas terlonjak dari duduknya dan melihat seorang gadis yang berwajah mirip dengannya berdiri di ambang pintu kamar, bedanya penampilan gadis itu acak-acakan. Matanya memerah. Lingkar hitam melingkari bawah matanya. Hidungnya juga memerah. Bibirnya kering, berwarna lebih hitam dari biasanya, mungkin itu efek karena ia terlalu banyak merokok. Wajahnya tampak pucat, dan tubuhnya terlihat kurus kering dan tampak rapuh.

“Yujin~a,” suara itu keluar dari bibir tipis Yura dan ayahnya.

Yujin menatap ayahnya dan Yura secara bergantian dengan tatapan yang tak terkendali.

“Kembali?” terdengar suara Yujin. “Kaubilang kembali padamu?” tanyanya, pandangannya terhenti pada ayahnya. Ia tersenyum menyeringai, senyum iblis, senyum yang bukan milik Yujin. Ayahnya, Yura, dan bahkan Jimin tidak bisa mengenali senyum itu, senyum itu tampak menakutkan dan mengerikan. “Omong kosong! Aku tidak percaya padamu!”

“Yujin! Kau berbicara dengan appa-mu! Sopanlah sedikit!” Yura kembali murka.

Yujin melirik Yura dan tertawa devil. “Kau siapa? Tidak usah sok peduli denganku. Pedulikan saja pacarmu itu, dan biarkan aku hidup dengan duniaku sendiri.”

Yura merasa tertampar. Ia melirik Jimin yang berdiri di sebelahnya dan tak bisa berkata apa-apa. Yujin benar, Yura terlalu mempedulikan Jimin sehingga tidak memperhatikan Yujin kalau adik kembarannya itu telah kehilangan arah hidup selama ini. Ternyata bukan hanya ayahnya yang menelantarkan Yujin, tetapi dirinya juga.

“Kalian…” Yujin menatap Yura dan ayahnya secara bergantian dengan tatapan tidak mengerti. “Setelah aku melewati masa-masa sekarat seperti ini, kalian baru peduli padaku? Selama ini kalian kemana saja?” tatapannya berhenti pada ayahnya. “Sibuk bekerja?” lalu beralih pada Yura. “Sibuk pacaran?” lalu ia tertawa. “Hahaha, omong kosong, kalau kalian berkata akan kembali padaku. Aku tidak peduli, aku tidak membutuhkan kalian lagi.”

Yujin melangkah melewati ayahnya, menyenggol pundak ayahnya dengan keras hingga lelaki itu limbung, lalu berhenti tepat di depan Yura, menatap manik kakak kembarannya itu dengan tatapan benci, lalu merampas kantong plastik berisi ganja dari tangan Yura, dan berlari keluar rumah.

Yura seketika panik. “Appa, Yujin mengambil barang itu.” teriaknya, lalu mengejar Yujin. Jimin juga berlari mengikuti Yura.

Ayahnya yang mendadak ikut panik segera berdiri dan berlari menyusul Yura.

Yura membelalakkan mata saat melihat adik kembarannya itu mengendarai mobil ayahnya yang terparkir di garasi apartemen. Yujin belum bisa mengendarai mobil, dan hal itu dapat membahayakan keselamatan Yujin kalau gadis itu nekat mengendarainya.

Yura dan Jimin menggedor-gedor pintu mobil, menyuruh Yujin untuk tidak nekat mengendarai mobil.

“Turun kau sekarang juga, Yujin, kau bisa mati!” teriak Yura dan Jimin.

“Sudah kubilang jangan pedulikan aku!” Yujin balas berteriak, sambil mengambil ancang-ancang untuk menginjak pedal gas.

Kemudian semuanya seakan berlalu dengan begitu lambat. Ayahnya baru tiba di garasi apartemen dan berniat untuk menghentikan Yujin dengan menahan kap mobil dengan kedua tangannya. Namun sayang, tepat ketika ayahnya tiba di depan kap mobil, Yujin menginjak pedal gas hingga membuat mobil itu mendadak melaju kencang. Yura dan Yujin memperhatikan sendiri bagaimana tubuh ayahnya terpelanting jauh dengan begitu keras setelah bertubrukan dengan kap mobil.

APPAAAAAA!” teriak Yura, berlari menghampiri ayahnya dengan langkah gemetar.

Sementara Yujin, dengan kaki gemetar dan mata melotot, syok telah menabrak ayahnya sendiri, keluar dari mobil dan segera berlari menjauhi tempat kejadian perkara. Pergi jauh-jauh. Tanpa menoleh ke belakang lagi. Tanpa pernah kembali lagi.

——————-

“Halla! Halla!”

Yura menggedor-gedor pintu apartemen Halla dengan tidak sabaran. Wajahnya merah padam menahan tangis. Raut wajahnya amat sangat panik dan matanya bisa saja meloncat keluar saking paniknya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jimin beberapa menit yang lalu. Ia harus bertanya pada Halla, siapa tahu sahabatnya itu tahu. Siapa tahu Halla mengetahui sesuatu.

Pintu apartemen terbuka dan tampaklah seorang gadis dengan mata sipit dan rambut lurus panjang sepinggang berdiri di balik pintu.

“Yura!” Halla langsung memekik saat tiba-tiba saja tubuh Yura ambruk. Untung saja ia sempat menahan tubuh Yura.

“Yura, kau tidak apa-apa?” tanya Halla khawatir, menempelkan kedua tangannya pada wajah Yura yang pucat.

“Ha-Halla,” terputus-putus, Yura tetap berbicara, menatap Halla dengan mata memerah. “K-kau pernah bilang kalau wajahku mirip dengan… mo-model terkenal, J-Jung, Jung Yujin, kan?”

Eoh?” Halla sempat linglung, sedikit bingung dengan pertanyaan Yura, tetapi kemudian ia mengangguk saat mengingat ia memang pernah berkata demikian saat pertama kali bertemu dengan Yura di bangku kuliah tiga tahun yang lalu. Menurutnya, Yura memang sangat mirip dengan Jung Yujin, model terkenal itu, hampir tidak ada bedanya sama sekali malah. Tetapi waktu itu Yura tidak begitu mendengarkan dan hanya cuek saja. “I-iya, memang kenapa?”

“K-kau punya salah satu majalahnya? Bo-boleh aku melihatnya?”

Yura dibawa oleh Halla ke kamarnya yang penuh dengan berbagai macam poster artis yang tertempel di sekeliling dinding kamar. Di ujung ruangan terdapat dua buah rak buku dimana disanalah Halla menyimpan dan mengoleksi tabloid-tabloid miliknya.

Halla membawa salah satu majalah ke hadapan Yura.

“Hanya majalah ini yang kupunya. Ini Jung Yujin—mendiang Jung Yujin, maksudku. Dia baru saja meninggal seminggu yang lalu, ditemukan tewas di bawah jembatan layang. Ada yang bilang dia sakaw sebelum akhirnya loncat dari atas jembatan.” katanya.

Mata Yujin terbelalak, terhenyak, melihat sampul majalah tersebut adalah foto seksi adik kembarannya, Yujin Park. Tidak mungkin. Ini pasti salah.

Tetapi ucapan Jimin beberapa menit yang lalu kembali terngiang di telinganya, membuat perasaannya terguncang hebat, kemudian tangisnya meledak seketika.

“Yujin Park… aku tahu dia berada dimana.”

“Di-dimana?”

“Sungai Han. Abunya sudah dibuang di Sungai Han.”

“A-abu?”

Jimin menatap Yura prihatin saat berkata, “Yujin sudah meninggal, seminggu yang lalu. Dia meninggalkan nama Jung Yujin dan profesi model terkenal saat kematiannya.”

Yura sempurna terpekur.

——————-

Taehyung sedang merebus ramen ketika mendengar suara pintu terbuka. Ia melirik jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul dua siang dan mengernyit bingung saat melihat Yura menutup pintu apartemen dan melangkah masuk ke dalam apartemen dengan langkah gontai.

“Kau sudah pulang?” tanya Taehyung dari dapur.

Yura menoleh terkejut ke sumber suara. Begitu melihat Taehyung berdiri di balik kompor dengan celemek yang membungkus tubuhnya dan menyadari kalau ia sedang menyimpan orang asing di apartemennya, wajahnya kembali berubah sendu.

Taehyung semakin mengernyit bingung saat gadis itu tidak membalas sapaannya. Tidak seperti biasanya.

“Bukankah kau bilang jam kerjamu sampai jam 4 sore?” tanya Taehyung, lagi.

Dan lagi lagi pula, tak ada sahutan dari Yura. Gadis itu melempar tas tangannya dan membanting tubuh kecilnya ke atas sofa, mengambil bantal sofa, dan meletakkan kepalanya yang terasa berat di atas sana, lalu ia termangu. Kembali terdiam.

Taehyung melirik Yura sekilas sebelum mematikan kompor. Ia membawa panci panas berisi ramen hangat itu ke tengah ruangan.

“Aku baru saja membuat ramen. Kau lapar? Ayo kita makan!” kata Taehyung, meletakkan panci tersebut di atas meja bundar, lalu kembali ke dapur untuk mengambil dua mangkok. Sepertinya ia memang benar-benar tidak tahu diri, sudah menganggap apartemen gadis itu adalah miliknya sendiri.

Yura masih terdiam dalam posisinya yang memeluk bantal, menatap kosong apapun di depannya. Tidak mempedulikan Taehyung yang saat ini sedang menyumpitkan beberapa helai ramen ke dalam mangkok untuk Yura.

“Ini, makanlah.” Taehyung meletakkan mangkok di atas meja, tepat di depan mata Yura.

“Aku tidak lapar.” jawab Yura akhirnya, dengan suara lemah.

“Eiiyy!” Taehyung yang baru saja akan menyuap sumpit pertamanya langsung mendesis. “Kau terlihat pucat. Kau harus makan.”

Taehyung meraih kembali mangkok milik Yura, dan hendak menyuapkan ramennya ke mulut Yura.

“Ayo, makanlah.” ujarnya, mendekatkan sumpit ke mulut Yura.

Yura mendorong sumpit tersebut dari mulutnya. “Aku tidak mau makan.”

Taehyung menghela napas dan menatap Yura khawatir. “Wajahmu pucat, kau harus makan. Ayo, makanlah, satu suap saja tidak apa-apa.” ia kembali mendekatkan sumpit ke mulut Yura.

“Tidak mau.” kembali, Yura mendorong sumpit tersebut. Oh, tolonglah, ia tidak ingin diganggu.

“Ayolah.” tak mau menyerah, Taehyung tetap mendekatkan sumpit ke mulut Yura.

Yura mulai kesal, dan ia mendorong tangan Taehyung dari mulutnya dengan begitu keras hingga sumpit dan mangkok di tangan Taehyung terjatuh, pecah berkeping-keping di lantai.

“Sudah kubilang aku tak mau makan!” teriaknya saat mendorong tangan Taehyung.

Taehyung terpekur, menatap pecahan kaca mangkok di atas lantai dengan tatapan syok. Tak menyangka kalau gadis itu akan memberontak seperti itu.

Tak hanya Taehyung, bahkan Yura pun terpekur saat melihat mangkok di tangan Taehyung itu terjatuh dan pecah di lantai. Ia hanya menatap kosong pecahan mangkok itu sebelum akhirnya bergerak untuk memungutnya.

Taehyung segera bergerak membantu Yura saat gadis itu memungut pecahan mangkok di lantai.

“Biar kubantu.” kata Taehyung, berjongkok di sebelah Yura.

“Biar aku saja.” kata Yura, mendorong Taehyung untuk menjauh.

“Tidak, biar aku saja. Aku yang memecahkannya.” bantah Taehyung.

“Aku yang memecahkannya.” kata Yura, mulai kesal lagi.

“Tetapi, kan, aku—”

“Aku yang mendorong tanganmu hingga mangkok itu jatuh, berarti aku yang memecahkannya. Kau diam saja dan biarkan aku yang membersihkan!” bentak Yura akhirnya, dengan suara yang terdengar bergetar.

Taehyung tertegun saat mendengar suara Yura yang terdengar seperti menahan tangis.

“Tolong,” Yura berusaha mengontrol dirinya, namun suaranya tetap masih terdengar bergetar saat berkata, “diamlah.”

Taehyung melihat punggung Yura bergetar, dan tangan gadis itu perlahan bergerak mengambil pecahan mangkok di lantai dengan gemetar, namun entah kenapa bisa terjadi, tangan gadis itu malah tergores oleh pecahan mangkok yang tajam itu saat hendak mengambilnya. Taehyung refleks berteriak dan meraih tangan itu dan memperhatikan sendiri bagaimana darah segar mengalir dari sayatan pada jari telunjuk gadis itu.

“Kau bisa terluka!” teriaknya.

Taehyung tertegun saat melihat wajah gadis itu memerah menahan tangis, kepalanya tertunduk, memperhatikan darah yang mengalir dari goresan lukanya, ia menggigit bibir dan berusaha keras menahan isakan saat akhirnya airmata jatuh dari pelupuk matanya. Gadis itu, ternyata, sedang menangis.

Yura terisak melihat ujung jarinya yang terluka, rasanya sakit. Tetapi itu semua tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Ini semua belum apa-apanya dibandingkan dengan rasa kehilangan yang mendera dadanya. Siang tadi, setelah dari apartemen Halla, ia berusaha kuat untuk tidak menangis lagi. Ia berusaha kuat untuk menahan tangisannya, menahan lukanya, rasa sakitnya, rasa kehilangannya, rasa rindunya, pada adik kembarannya. Tetapi ternyata tidak bisa, ia tidak bisa menahannya lagi.

Yura menutup mulutnya dengan tangannya dan terisak hebat. Hatinya terluka, hatinya berduka, ia tidak sanggup menahan lagi.

“Yu-Yujin… Yujin~a…” ucapnya di sela sela isak tangisnya. “Tidak mungkin… meninggal… tidak… mungkin… Yujin~a…”

Taehyung, entah untuk yang keberapa kalinya hari ini, terpekur. Tubuhnya mendadak melemas. Napasnya tertahan dan ia tidak tahu lagi caranya bernapas kembali. Tatapannya mengarah pada Yura yang terisak hebat. Terluka, hatinya amat sangat terluka melihat gadis itu menangis. Juga terluka, karena ia diingatkan kembali dengan kematian Yujin. Yujin-nya.

Setetes airmata jatuh dari pelupuk mata Taehyung. Ia segera membalik tubuhnya, membelakangi Yura yang terisak, membiarkan airmatanya mengalir tanpa terlihat oleh gadis itu, dan menangis bersama dengan gadis itu dalam diam.

Hari ini, biarkanlah, perasaan bersalah itu kembali menyelimutinya.

——————-

Yura menggenggam erat ponsel di tangannya yang ia tempelkan di telinga. Perasaannya tidak menentu saat ia mendengar nada sambung dari seberang ponsel sebelum akhirnya suara seorang wanita menyahut.

“Halo?”

Ketika akhirnya ia mendengar suara ibunya, ia kembali tak bisa menahan tangisnya. “I-ibu?”

“Yura, ada apa? Kenapa kau menangis?” suara ibunya terdengar khawatir.

“Yu-Yujin…”

“Yujin? Ada apa? Kau bertemu dengannya? Bagaimana kabarnya, Yura? Dia baik-baik saja?”

Yura menggeleng, setetes airmata kembali mengalir disusul dengan tetesan airmata yang lain.

“Dia meninggal Bu, sakaw, bunuh diri…”

Di luar kamar, Taehyung berdiri di balik pintu kamar Yura dengan mata terpejam. Tangannya terkepal erat di sebelah kemejanya. Bibirnya digigit kuat-kuat. Dadanya berdebar keras, berdentum-dentum, entah karena apa. Rasa sakit, perasaan bersalah, mungkin saja. Rasa sakit itu tidak kunjung menghilang saat pertama kalinya ia melihat Yura menangis tadi. Perasaan bersalah itu tidak kunjung menghilang saat pertama kalinya ia mendengar nama Yujin disebut berulangkali oleh Yura tadi. Ia ingin berteriak, menangis, sekeras-kerasnya, di atas tebing, mengeluarkan seluruh emosi terpendamnya, kesalahan terbesarnya, lalu ia akan membiarkan dirinya sendiri jatuh dari atas tebing, melayang jatuh ke bawah, merasakan gravitasi, hingga akhirnya tubuhnya hancur membentur tanah, dan saat itu juga rasa bersalah dan rasa sakit yang mendera dadanya akan menghilang, seperti dirinya, yang akan pergi dari dunia yang menyakitkan ini.

Taehyung mendengar Yura lagi-lagi terisak hebat di dalam kamar sambil berkali-kali menyebutkan nama Yujin dan Ibu. Ia tahu apa yang dilakukan gadis itu. Gadis itu sedang menelepon ibunya di Indonesia, negara ibunya, melaporkan berita yang baru saja gadis itu dengar hari ini, entah dari siapa, kalau Yujin telah meninggal seminggu yang lalu. Taehyung memang tidak tahu persis apa yang dibicarakan gadis itu dengan ibunya. Namun mendengar isakan hebat yang keluar dari mulut Yura, Taehyung dapat menduga apa yang mereka bicarakan.

Dan mendengar suara isakan tangis yang amat sangat hebat itu, membuat Taehyung terluka.

Taehyung menyandarkan kepalanya ke pintu kamar Yura dan menggerakkan tangannya menyentuh permukaan pintu kayu tersebut dengan perlahan, membayangkan ia sedang memeluk gadis itu, menenangkannya dari kesedihan yang amat mendalam.

Setetes airmata jatuh dari pelupuk mata Taehyung.

“Jangan menangis, Yura Park. Maafkan aku.” ucapnya lirih.

—tbc

NEXT PART: IT’S HURT

“Pergi. Aku tak membutuhkanmu.” — Yura Park

“Baiklah, ayo kita terjun bersama.” — Kim Taehyung


Astagaaaa~ ini full angst banget T_T buru-buru-cari-tisu
Aku membutuhkan komen, kritik, dan saran atas chapter yang super-galau ini. Terimakasiiiiih :”)
Btw, happy reading ya ^^

3 thoughts on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 4

  1. Mau nyalahin yujin, tp bukan sepenuhnya salah yujin. Mau nyalahin yura dan keluarga, bukan sepenuhnya salah yura dan keluarga. Mau nyalahin Taehyung, bukan sepenuhnya salah Taehyung. Tp emg yg paling mencurigakan mah si jimin. Tp ga tau juga. Mollaso! Ga tau siapa yg bisa disalahin. Eh ada Deng, semuanya salah sang author! Kenapa kejam bgt

  2. Yaampunn kelakuan yujin bgtu amattt -_- bner” dehhh, yura kesiannn bgtt, bpaknya ditabrak yujin, yujin kbur, trus pas udh mw ktmu yujin, yujinnya dh meninggal, taehyung adduhh taehyungg perhtian bgttt cieeee, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s