1st Anniversary – STAY TOGETHER [Chapter 5]

REQ JENK LANA - STAY TOGETHER

STAY TOGETHER [Chapter 5]

 

Catastrophe

Written by Shynim

Poster by Laykim © Indo Fanfictions Arts

 

Main Cast.

Baek Hyun (EXO)

Joy (Red Velvet)

Woo Hyun (Infinite)

Yuna Kim (THE ARK)

Supported Cast.

Irene (Red Velvet)

Genre. Romance, Angst, Family, Drama

 

Length. Muti-Chapter

Rated. PG

Writers.

Alana, DessyDS, Zulfhania, aliafially, Shynim, Sashka, Eshyun

Disclaimer :

This FF presented for Indo Club Anniversary.

Storyline in this chapter is mine

 

DON’T PLAGIAT!

Previous:

Chapter 1: The Story Begin | Chapter 2: It’s Hurt For Me, But It’s Lucky For You | Chapter 3 : She’s Your Fiance, and then Who Am I to You? | Chapter 4 : Tell Me What is Love, is it like Time and Fallen Leaves

Happy Reading~


 

 

 

 

Dalam sekian tahun hidupnya sampai saat ini, Joy mengerti bagaimana rasanya kehilangan, tersakiti, dan mencoba untuk tegar. Namun, ada masanya saat perasaan sakit itu menjalar dalam hatinya hingga tidak dapat terbendung lagi. Sejujurnya ia sedikit tidak mengerti dengan perasaan tidak wajar ini. Kenapa hanya dengan mencintai bisa membuat otaknya memproses jantungnya untuk terus berdegup cepat, teremas-remas, bahkan melompat-lompat kegirangan. Walau ia tahu, reaksi jantungnya di dominasi oleh rasa sakit yang selalu ia rasakan, saat melihat kakak sepupunya duduk berdua dengan Yuna.

 

Sudah hampir seminggu ini ia tidak ingin bertegur sapa dengan Baek Hyun. Dalam sendirinya, ia selalu menghakimi perasaan aneh yang datang tanpa permisi di hatinya. Kalau saja perasaan ini tidak ada, mungkin ia tidak akan menangis selama seminggu dan menyiksa dirinya untuk tidak mengobrol dengan Baek Hyun. Kalau perasaan ini tidak ada, mungkin ia masih tetap ceria menjadi ‘sepupu’ dari Baek Hyun. Nyatanya, banyak kata ‘kalau’ dan ‘bagaimana’ yang muncul di otaknya.

 

Setelah seminggu yang lalu, ia berusaha untuk pulang dari rekreasi singkatnya dengan Woo Hyun. Hampir membuat jantungnya copot karena terus mencari-cari Baek Hyun yang kunjung tak terlihat di matanya. Nyatanya, saat ia benar-benar melihat siluet lelaki itu, ia tidak dapat lagi merasakan jantungnya. Ia tidak ingin mengingatnya lagi. Tapi, mau bagaimanapun ia ingin melupakannya, memori itu tidak akan terhapus.

 

“Masih melamunkan hal yang sama?” ujar seseorang dari arah sampingnya. Joy menengok, dan menemukan Woo Hyun yang mengulas senyum sambil menempatkan pantatnya di kursi kosong sebelahnya.

 

“Tidak, aku berpikir untuk pergi.” Jelasnya langsung.

 

Mata Woo Hyun membelalak. Pikirannya melayang, mau pergi kemana gadis ini? Bahkan ia tidak punya rumah untuk tinggal.

 

“Aku mempunyai sedikit tabungan.” Joy menjelaskan lagi, tahu akan arti dari tatapan Woo Hyun yang di tujukan padanya.

 

“Kenapa?” bisik Woo Hyun.

 

Joy mendesah. Setelah berkali-kali mengalami patah hati yang menyiksa. Hanya itu jalan yang ia pikir pantas untuknya.

 

Tinggal bersama dengan keluarga Byun hanya membuat perasaannya selalu terombang-ambing tidak jelas. Apalagi, dengan anak lelakinya yang sudah membuat hatinya persis seperti gempa Nepal.

 

“Kurasa… ini pilihan yang benar,” Joy menatap nanar pohon aneh di depannya, “tidak mungkin aku terus berada disana, sedangkan aku selalu merasa….” Joy membuang napasnya kasar. Ia sudah tidak berniat lagi untuk melanjutkannya.

 

Woo Hyun tersenyum kecut. “Lalu, apa rencanamu setelah itu? Mencari kerja? Bagaimana dengan tempat tinggal?”

Joy mengangkat bahunya acuh. “Aku tidak peduli akan bekerja apa, yang penting selalu ada uang dalam dompetku… mengenai tempat tinggal, aku sudah membicarakannya dengan si kurus Irene untuk berbagi apartemennya denganku.”

 

Menyentuh bahu Joy, Woo Hyun lantas mengusapnya dengan sayang. “Kau bisa bekerja di restauran temanku.”

 

Kepala Joy beralih ke arah Woo Hyun, matanya membelalak senang. “Serius?”

 

Mengangguk, Woo Hyun pun terkekeh melihat reaksi Joy. “Jadi… kapan kau akan pindah?”

 

“Secepatnya, kalau perlu malam ini juga tidak apa-apa,” jawab Joy dengan yakin.

 


 

“Sayang… kau serius? Kau bisa terus tinggal bersama kami disini,” Bibi Byun terisak, “apa kau kurang nyaman? Atau kami berbuat salah padamu?”

 

‘Ya, aku kurang nyaman. Tidak, hanya putramu yang membuat kesalahan besar dalam hidupku.’ Teriak Joy dalam hati.

 

“Tidak Bibi, aku hanya… ingin mandiri, ya aku ingin menjadi gadis yang mandiri. Tidak mungkin aku terus bergantung pada keluarga ini.”

 

Bibi Byun semakin terisak. “Astaga sayang… Joy… kau sama sekali tidak menyusahkan kami. aku senang dengan keberadaanmu. Begitupun Pamanmu dan Baek Hyun.”

 

Joy tersenyum miris mendengarnya. ‘Ya, tapi aku tidak senang dengan suasana hatiku selama aku berdekatan dengan Baek Hyun.’ Teriak Joy lagi dalam hatinya.

 

“Tolong Bi… restui kepindahanku. Lagipula, aku akan terus menjengukmu disini.”

 

Bibi Byun sesunggukan, suaminya mengusap-usap punggung istrinya dengan sabar. Lalu matanya beralih ke Joy.

 

“Tidak bisakah kau tinggal sebentar sampai kelulusanmu, Joy?” pinta paman dengan lembut.

 

Lantas Joy menggeleng dengan tegas. “Tidak paman, aku sudah yakin dengan keputusanku.”

 

Paman mengangguk dengan lesu. Joy langsung berdiri begitu beberapa barangnya selesai di angkut ke mobil pinjaman teman Woo Hyun.

 

“Aku pergi sekarang, Bi… Paman… terima kasih untuk selama ini.” Pamit Joy.

 

Bibi Joy untuk sekian kalinya menangis saat Joy mengutarakan kalimat itu. Lantas ia bangun, memeluk Joy dengan erat. Joy baginya sudah seperti anaknya sendiri. Melepasnya sekarang membuat hatinya teremas-remas sakit.

 

“Bi… temanku sudah menunggu.” Joy berusaha melepas pelukan bibinya sambil mengulas senyum. Bibi Byun mengangguk lalu ia menyelipkan tangannya ke tangan Joy. Mata Joy membelalak sambil menggeleng-geleng.

 

“Tidak bi, aku tidak akan menerima apapun lagi dari bibi, sudah cukup selama ini aku menyusahkan kalian.” Joy lantas mengembalikan amplop yang diberikan bibi Byun padanya. Joy keluar dari rumah ini tidak untuk menyusahkan mereka lagi. Dengan bibi Byun memberinya uang pegangan sama saja tidak ada gunanya Joy keluar dari sini.

 

Bahu bibi Byun meluluh. Kekerasan kepala Joy memang tidak ada yang bisa menandinginya. Bahkan, hampir beberapa kali ia menyerah dengan kekerasan keponakannya itu. Dan ia harus menyerah sekali lagi kali ini.

 

“Baik… baik… kau boleh pergi sekarang Joy… tidak apa-apa… pergi saja….” Bibi Byun mulai terisak kembali. Joy merasakan matanya memanas, sedetik saja, air matanya akan jatuh. Sementara Woo Hyun dan pamannya yang melihat merasa mendapat tontonan drama yang sangat mengharukan.

 

Joy melangkah keluar, buru-buru Woo Hyun mengambil satu tas besar yang di pegang Joy. Dan membawanya ke mobil. Dalam kejauhan, Joy masih mendengar suara isakan bibinya. Walau bagaimanapun ia sudah menganggap bibinya sebagai ibunya sendiri, di asuh sejak kecil hingga sekarang membuat ikatan batin mereka sedikit terhubung.

 

“Kau tidak apa-apa?” kata Woo Hyun. Ia menghampiri Joy, dan menuntunnya menuju mobil.

 

Namun, dalam pertengahan jalan, Joy melihat siluet yang familiar di matanya. Laki-laki itu sedang mencium kening Yuna dengan sayang. Lama sekali, hingga Woo Hyun–dengan jantung berdebar-debar–menyadarkan Joy dari lamunannya.

 

“Ayo, sebaiknya kita pergi sekarang,” bisik Woo Hyun.

 

Tepat saat Joy mengangguk, Baek Hyun melepas ciumannya dan bergegas menggandeng tangan Yuna serta melangkah ke arahnya. Raut senang Yuna, tiba-tiba membuat perasaan teremas dalam dada Joy datang lagi. Belum lagi Baek Hyun yang terus memasang senyum perseginya.

 

“Iya, sebaiknya kita pergi sekarang, sebelum kawasan ini berubah menjadi YellowStone,” lirih Joy yang di bumbui candaan.

 

Woo Hyun mengembangkan senyumnya, ia mengacak-ngacak rambut Joy dengan gemas. Lantas ia membuka kursi penumpang untuk Joy. Tepat saat itu, Baek Hyun membelalakan matanya dan berlari ke arah tempat mereka berdiri.

 

“Joy!” teriaknya, “kau ingin pergi kemana malam-malam begini?” lanjutnya lagi.

 

Joy menghembuskan napasnya, dan berusaha memasang seulas senyum di wajahnya.

 

“Aku akan pindah dari sini,” lirihnya.

 

Mata sipit Baek Hyun kembali membelalak lebar. “APA? KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU DULU?” Kini suara Baek Hyun meninggi.

 

Joy memejamkan matanya, lalu ia merasakan bahunya di sentuh oleh sebuah tangan yang lembut. Saat ia membuka matanya, ia melihat Yuna tersenyum tipis ke arahnya.

 

“Kenapa malam-malam begini? Kau bisa pergi besok,” katanya.

 

Joy menggeleng. “Tidak, temanku sudah menunggu.”

 

Baek Hyun mencekal tangan Joy. “Kau harusnya memberitahuku dulu, besok saja, oke?”

 

Lagi, Joy menggeleng dengan tegas. “Tidak, Oppa. Aku akan berangkat sekarang,” Joy mengulum senyum, “aku pamit.”

 

Joy kemudian memasuki mobil, disusul oleh Woo Hyun dengan tergopoh-gopoh meraih pintu kemudi. Baek Hyun mengetok-ngetok jendela mobil dengan kasar. Raut wajahnya cemas, mengkhawatirkan segala kemungkinan yang akan di alami oleh Joy ketika pindah dari rumahnya. Bisa saja Joy sakit-sakitan atau kesepian. Belum lagi, ia tidak tahu dimana tempat tinggal baru Joy nanti. Apakah bagus, bersih, atau jangan-jangan kumuh?

 

“Joy, telepon aku sesampainya di sana, oke?”

 

Dari dalam mobil, Joy mengacungkan jempolnya sambil menganggguk. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke depan. Beberapa saat kemudian, mobil melaju meninggalkan rumah keluarga Baek Hyun.

 

Yuna meremas bahu Baek Hyun, menyalurkan ketenangan untuk tunangannya itu.

“Dia akan baik-baik saja,” kata Yuna menenangkan.

 

Baek Hyun mengangguk lemas. “Ya, dia akan baik-baik saja.”

 

Pandangan Baek Hyun beralih ke arah Yuna. Ia mengulum senyumnya, lantas membawa Yuna ke pelukannya.

 

“Kau akan menginap disini?” bisik Baek Hyun di telinga Yuna.

 

Yuna mengangguk. Ia menepuk-nepuk punggung Baek Hyun dengan sayang. Ia sama khawatirnya dengan Baek Hyun. Memikirkan keadaan Joy, yang sudah ia anggap sebagai adiknya.

 

Sementara Baek Hyun, ia merasa jantungnya berdebar-debar sangat cepat, dan… perasaan itu datang lagi. Perasaan khawatir yang sangat berlebihan terhadap Joy. Joy takut gelap, bagaimana kalau nanti disana mati listrik dan tidak ada siapa-siapa yang menemaninya? Baek Hyun menghembuskan napasnya lagi.

 

Ada yang salah dengan sepupunya itu. Ia merasa Joy berubah, entah apa itu alasannya. Joy yang ia kenal belakangan ini terlalu pendiam. Ia ingin Joy kembali seperti dulu. Joy yang ceria dan selalu tersenyum. Joy yang selalu ada untuknya.

 


 

Joy melamun. Pikirannya mengawang-awang. Ia sama sekali tidak bergairah untuk melakukan apapun saat ini. Apapun yang ia lakukan, rasanya salah, sangat salah.

 

Sudah genap dua minggu sejak malam itu. Malam keluarnya ia dari rumah hangat keluarga Byun. Saat ini, ia sudah hidup mandiri, tinggal satu atap dengan Irene, melakukan apapun sendiri, mencuci, membeli makan, bahkan mencari uang.

 

Woo Hyun menepati janjinya untuk merekomendasikan Joy bekerja di restauran temannya, dan sudah seminggu ini ia aktif bekerja di restauran ini. Dan berarti sudah dua minggu juga ia tidak bertemu dengan Baek Hyun, dalam kampus pun, ia meminimalkan kemungkinan untuk bertemu dengan kakak sepupunya itu. Ia belum siap untuk menanggung rasa sialan yang sering datang itu

 

“Joy!” teriak Yeri.

 

Ia terbangun dari lamunannya, lalu menengok ke arah Yeri yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

 

“Jangan melamun, kerja yang benar. Lihat air itu,” dagu Yeri terarah ke wastafel, “kau membuangnya cuma-cuma, lebih baik kau ke depan, layani pelanggan, biar aku saja yang mencuci.”

 

Bahu Joy meluluh, lagi-lagi karena melamun kerjanya menjadi tidak benar.

 

“Baik, terima kasih Yeri,” kata Joy.

 

Yeri mengembangkan senyumnya, sedikit miris melihat Joy sering melamun saat mencuci piring. Yeri mendekati dirinya ke arah Joy, lalu menepuk pundak Joy.

 

“Sebaiknya, lain kali kau jangan mencuci piring. Sudah sana.”

 

Joy mengangguk, ia tersenyum ke arah Yeri dan berjalan keluar dari dapur. Ia mengambil note kecil untuk mencatat pesanan pelanggan. Lantas ia menghampiri meja yang baru terisi oleh empat orang.

 

“Selamat siang,” sapa Joy, “sudah tahu ingin memesan apa?”

 

Empat orang itu mengangguk, lalu salah satunya menengadahkan kepalanya, berniat untuk memberitahu pesanannya. Namun, tiba-tiba suasana menjadi hening untuk Joy. Bahkan ia tak sempat untuk membelalakan matanya.

 

“Joy,” lirih orang itu.

 

Joy memaksakan diri untuk tersenyum. “Baek Hyun Oppa,” lirihnya.

 

“Kau ingin memesan apa?” lanjut Joy masih tetap memaksakan tersenyum.

 

“Joy, kita harus bicara.” Alis Baek Hyun bertaut, wajahnya sangat serius.

 

Sementara ketiga temannya yang lain saling melempar pandang heran.

 

“Ini Joy yang sering kau bicarakan?” Salah satunya membuka suara.

 

Baek Hyun menengok ke arahnya dan mengangguk. Lalu beralih lagi ke arah Joy.

 

“Kita benar-benar harus bicara, Joy.”

 

“Tidak bisa, aku sedang bekerja, Oppa.” Joy menggeleng tegas. Lalu Baek Hyun berdiri, tangannya langsung menggenggam lengan Joy.

 

“Aku akan meminta izin ke atasanmu nanti, temanku akan mengurusnya. Kita harus bicara. Sekarang,” kata Baek Hyun tegas.

 

Baek Hyun membicarakan sesuatu ke temannya, lalu setelah itu membawa Joy keluar dari restauran itu dengan tergesa-gesa. Ia menggenggam lengan Joy dengan erat, dalam hatinya ia merasa lega melihat Joy baik-baik saja. Namun, ia juga merasa miris melihat Joy yang harus bekerja untuk melangsungkan hidupnya.

 

Saat melihat ada bangku taman, Baek Hyun langsung mendudukan Joy dengan kasar. Selanjutnya ia duduk di samping Joy dengan menatapnya intens.

 

“Bilang padaku, kenapa kau tidak meneleponku malam itu?”

 

Joy menutup matanya, ia merasakan matanya memanas. Tapi, ia tidak ingin menangis di depan Baek Hyun.

 

“Aku lupa.” Bohongnya.

 

Baek Hyun menggeram gusar. “Bohong, kalau kau lupa, kau bisa meneleponku besoknya. Aku menunggumu Joy! Aku khawatir!”

 

“Sekarang beri aku alamatmu tinggal saat ini.” Baek Hyun mengambil ponselnya dan membuka note untuk mengetik alamat Joy.

 

“Ini, tolong ketikkan disini.” Baek Hyun menyodorkannya kepada Joy.

 

Namun, Joy menggeleng. Air matanya mulai berjatuhan, lama-lama isak tangisnya terdengar. Baek Hyun langsung khawatir, raut wajahnya yang mulanya mengeras, kini meluluh melihat air mata Joy. Ia buru-buru memeluk Joy. Namun, Joy menepis pelukan Baek Hyun. Dahi Baek Hyun mengerut melihat respon Joy yang tidak biasa.

 

“Joy, ada apa denganmu?” bisik Baek Hyun.

 

Lalu pikirannya melayang ke Woo Hyun. Ia langsung berpikir, mungkin ini karena Woo Hyun.

 

“Kau begini karena Woo Hyun, kan? Apa yang dia lakukan padamu? Dia menyakitimu?” Baek Hyun melemparkan semua pertanyaan ke Joy.

 

Joy makin terisak dibuatnya. “Oppa… cukup.”

 

Baek Hyun mendekat. “Apa?” tanyanya.

 

Joy menengadah, melihat raut Baek Hyun yang khawatir.

 

“Cukup… jangan seperti ini. Kau…,” Joy menghela napasnya, “kau yang membuatku seperti ini.”

 

“Apa maksudmu?”

 

Setelah beberapa lama mereka terdiam, Joy menghembuskan napasnya lalu menatap mata Baek Hyun.

 

“Tidak, bukan apa-apa. Sekarang kau tidak usah menemuiku lagi, Oppa. Aku baik-baik saja. kau tidak usah Khawatir.”

 

Baek Hyun menggeram. “Apa? Tidak khawatir bagaimana? Sudah dua minggu ini kau tidak ada kabar Joy! Aku dan Yuna mencarimu, Ayah dan Ibu juga mencarimu. Kau bahkan tidak meninggalkan alamat tempat tinggalmu pada kami. Nomor teleponmu tidak bisa di hubungi, bagaimana bisa kau bilang aku tidak perlu khawatir?”

 

Sesaat, Joy merasa hatinya menghangat. Mengingat paman dan bibinya yang khawatir terhadapnya. Ia tahu, ia sudah mengingkari janjinya untuk sering datang ke rumah keluarga Byun. Tapi, ia belum siap. Ia sudah katakan itu, ia belum siap untuk menanggung rasa sakit itu lagi.

 

“Maaf,” lirih Joy.

 

Ia langsung berdiri. Namun, tangannya di cekal oleh Baek Hyun.

 

“Kita belum selesai bicara Joy,” katanya.

 

“Aku harus bekerja, Oppa.”

 

Joy berusaha melepaskan cekalan tangan Baek Hyun. Namun, Baek Hyun bersikeras untuk tidak melepaskan cekalan tangannya pada Joy. Ia sangat ingin berbicara panjang lebar dengan sepupunya ini. Ia merindukan Joy.

 

“Kita harus….” omongan Baek Hyun terhenti saat deringan ponselnya berbunyi. Ia buru-buru mengangkat ponselnya tanpa melepas cekalan tangannya pada Joy.

 

“Hallo,” sapa Baek Hyun saat mengangkat panggilannya.

 

“…”

 

“APA?” mata Baek Hyun membelalak, “…baik, aku… aku akan segera kesana.”

 

Tiba-tiba Baek Hyun berdiri, cekalan tangannya pada Joy terlepas. Raut wajahnya sangat khawatir sesaat setelah panggilan itu berakhir.

 

“Maaf Joy, kita akan bicara lain kali. Yuna… dia pingsan saat pemotretan. Maaf Joy, aku harus pergi.”

 

Saat itu juga Baek Hyun pergi dari sana dengan berlari. Sementara dirinya terpaku disana. Dalam hati ia mengutuk perasaan familiar itu. Perasaan itu datang lagi. Namun, kini, mengapa rasanya lebih sakit dari yang terakhir kali?

 

Lagi, air matanya menetes. Lama-lama menjadi lebih deras. Ia menepuk-nepuk dadanya yang semakin sakit. Dan lagi, Baek Hyun lebih memprioritaskan tunangannya. Tunangan yang ia cintai. Bukan dirinya, hanya sebagai sepupu yang tidak berarti apa-apa.

 


 

Hi!

Maaf ya kalau telat, pendek, dan gak terasa feelnya. Aku memang sulit untuk membangun feel dengan tema Angst seperti ini T.T Jadi, maaf kalau mengecewakan~

Selamat Ulang tahun Indo Fanfiction!!! yuhuuuu~~ Semoga kedepannya aku lebih banyak berkontribusi untuk bog ini huhu /sadar diri

Oke, selanjutnya FF estafet ini akan di lanjutkan oleh Sashka. Semangat!!

Advertisements

16 thoughts on “1st Anniversary – STAY TOGETHER [Chapter 5]

  1. Hi, maaf baru muncul. Aku baru buka wp dan ngeliat udah muncul chapter 5. Feelnya udah dapet. Baekhyun juga kalang kabut, biar rasa sih, tapi di endingnya Joy nyesek lagi. Yang sabar ya Joy! Nanti juga kena batunya si Baekhyun. Masih ga tahu nih akan sama siapa Joy nya. Sama Woohyun apa sama Baekhyun. Hahaha…itu sih Kak Eshyun nanti endingnya. Fighting ! Dua chapter lagi kan !

  2. aaaaaa suka aku, rasanya pas baca bikin nangis kak hahaha aahhh iya kapan nih kak lanjutannya udah ngak sabaran nih aku buat baca lanjutannya 😀

  3. Astaga ini ini iniii~
    yaampun kerasa banget betapa paniknya baekhyun waktu joy pergi, kamu kapan sadar sih baek kalo kamu suka sama joy T_T good job, syifa! (y)
    okaaaayy, chapter 5 done, selanjutnya siapa yaaa? dua chapter terakhir niih, semangat semangaaat!! 😀

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s