[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 3

req-zulfhania-copy

BEHIND THE SECRET [BTS]

‘Di Balik Rahasia, Masih Ada Rahasia’

Starring by.

Kim Taehyung (BTS) | Yura Park (OC) | Park Jimin (BTS)

and member of Bangtan Boys

Special cast. Jung Yujin (THE ARK)

Support casts. Byun Baekhyun (EXO), Halla (THE ARK), Jeon Minju (THE ARK), Nam Woohyun (INFINITE)

Genre. Dark. Angst. Brothership. Romance

Rating. PG-17

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Terinspirasi dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Teaser. #1 – Kim Taehyung ‘BTS’ | #2 – Yura Park ‘OC’ | #3 – Park Jimin ‘BTS’ | #4 – Bangtan Boys [BTS] | #5 – Behind The Secret [BTS]

Previous Chapter. Chapter 1 – Midnight | Chapter 2 – Believe or Not

“Aku—”

Belum sempat Yura bersuara, pintu kembali terbuka. Yura agak mundur ke belakang, demi memberi ruang agar pintu dapat terbuka. Jimin masuk ke dalam dengan membawa tiga gelas kopi di tangannya.

Hyung, orang dari Haruman Fashion sudah tiba disini. Namanya—hei, dia belum selesai memperkenalkan diri— siapa namamu?” kata Jungkook menarik pundak Jimin untuk berhadapan dengan gadis yang bersembunyi di balik pintu.

Yura membungkuk hormat pada lelaki yang baru saja masuk. “Halo. Namaku…” ketika pandangannya bertemu dengan lelaki itu, ia menelan kembali perkataannya.

“Park Jimin?” suara itu keluar dari bibir tipis Yura.

Jimin menahan napas. Matanya mengerjap, lurus menatap Yura dengan dada berdebar. Tiga gelas kopi di tangannya jatuh, membentur lantai. Dan bibirnya gemetar saat ia berkata, “Yu-Yura… Park?”

Chapter 3: Promise

images (3)

.

“Sebesar apapun ombak yang kuhadapi ataupun kalian hadapi, berjanjilah kalau kita tetap akan berlayar bersama.” —– Kim Taehyung

large4

.

“Kau berubah, Kim Taehyung.” —- Park Jimin
.

.

.

Taehyung duduk merenung di atas sofa. Tangannya ditopangkan di bawah dagu. Tatapan matanya lurus ke depan, kosong. Namun tampaknya kilasan-kilasan kisah masa lalu sedang terputar disana. Di atas meja, ponselnya tergeletak begitu saja. Layarnya masih menyala, menampilkan sebuah pesan yang baru beberapa menit lalu ia terima.

Kim Namjoon
Dulu, beberapa hari sebelum debut, kau pernah berjanji kalau kita bertujuh—kau, aku, Yoongi hyung, Seokjin hyung, Hoseok, Jimin, dan Jungkook akan naik kapal yang sama bernama Bangtan Boys. Kita akan berlayar bersama, tak peduli sebesar apapun ombak yang kita hadapi. Tetapi kini, saat kau menghadapi ombak besar itu, kenapa kau tak lagi berlayar bersama kami? Bukankah harusnya kita tetap berlayar bersama, seperti janji yang kau katakan dulu? Hei, Taehyung! Kau tahu, janji dibuat bukan untuk dilanggar, kan? Kembalilah, Taehyung~a, kami menunggumu di studio.

Dua tahun yang lalu.

Sempurna. Ketujuh lelaki di ruang latihan itu menutup tariannya dengan begitu sempurna. Menutup latihan mereka yang sudah dimulai sejak satu setengah jam yang lalu. Jimin dan Hoseok menempati posisi depan sambil berjongkok. Taehyung, Namjoon, dan Jungkook berdiri menempati posisi tengah, dan di belakangnya ada Seokjin dan Yoongi yang mengisi posisi belakang. Formasi 2-3-2 bertahan hingga musik berakhir.

Namjoon bertepuk tangan atas usainya latihan mereka. “Wah, akhirnya! Sempurna! Kalian benar-benar hebat!”

Taehyung, Jimin, Jungkook, Yoongi, Seokjin, dan Hoseok juga bertepuk tangan. Memberikan selamat kepada diri mereka sendiri.

Taehyung langsung membanting tubuhnya di atas sofa, mengambil botol mineral di atas meja, dan menenggak isinya sampai habis. Jimin juga mengambil posisi duduk di atas sofa, di sebelah Taehyung. Sementara Jungkook, Seokjin, Yoongi, dan Hoseok duduk menggelepar di atas lantai sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang penuh peluh. Hanya Namjoon yang masih berdiri sambil mengatur pernapasannya yang tidak teratur.

“Guys,” Namjoon kembali bersuara. Keenam teman lainnya mendengarkan. “Beberapa hari lagi adalah debut stage kita. Hari yang sangat kita tunggu.”

“Yeeiiiy!” Taehyung bersorak, bertepuk tangan untuk dirinya dan juga teman-temannya. “Aku benar-benar tidak sabar.”

“Aku pun begitu, Taehyung.” sahut Namjoon. Ia memperhatikan satu persatu teman satu grupnya sebelum kembali berkata, “Kita akan memulai merajut mimpi dan harapan kita bersama disana, di atas panggung sana nanti, jadi tetap semangatlah untuk kalian. Istirahat yang banyak. Jaga kesehatan. Dan jangan lupa minum vitamin. Kita hidupkan Bangtan Boys beberapa hari lagi di depan para penikmat musik di Korea Selatan dan seluruh dunia.”

Lagi lagi, ruang latihan dipenuhi oleh sorakan dan suara tepukan tangan dari ketujuh lelaki di dalam ruangan.

“Begini teman-teman,” Taehyung mendadak bersuara. Keenam temannya mendengarkan. “di antara kalian, mungkin aku yang masih belum mahir melakukan apa-apa. Aku tidak pintar nge-rap seperti Yoongi hyung dan Namjoon hyung, suaraku juga biasa saja tidak sebagus Seokjin hyung dan Jimin, dan tarianku pun tidak begitu bagus seperti Hoseok hyung dan Jungkook.”

“Eiiiyy~ jangan merendahlah!” Keenam temannya menyela.

Taehyung agak tertawa. “Hei, aku serius.”

Jimin yang duduk di sebelah Taehyung segera merangkul pundak lelaki itu dan menepuknya pelan. “Kau berbakat, Taehyung. Kau hanya belum menyadarinya.”

“Benarkah?”

Hoseok menyetujui. “Kalau kau tidak berbakat, kau tidak akan mungkin ditarik oleh agensi untuk bergabung bersama Bangtan Boys, Taehyung~a.”

Taehyung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa tersipu.

“Maka dari itu, teman-teman,” Taehyung melanjutkan. “aku merasa masih harus banyak belajar disini, bersama kalian. Jadi kuharap kalian tetap disini bersamaku, tidak saling meninggalkan satu sama lain. Aku juga berjanji kalau aku akan tetap berlayar bersama kalian, Bangtan Boys, kapalku. Kapal yang akan membawaku menuju muara, melewati ombak dan badai bersama. Sebesar apapun ombak yang kuhadapi ataupun kalian hadapi, berjanjilah kalau kita tetap akan berlayar bersama.”

“Eiiyyy, berhentilah berbicara bijak, Kim Taehyung!” teriak Yoongi. Ia mengusap-usap telinganya yang memerah. “Kupingku terasa panas mendengar kau mengucapkan kalimat menjijikkan seperti itu.”

Hoseok juga menggelengkan kepalanya dan berdiri dari duduknya. “Ah, sepertinya aku tidak mengenal Taehyung yang duduk di depanku. Lebih baik aku kabur saja.”

Jungkook tertawa dan memperhatikan Taehyung dengan tatapan melucu. “Sepertinya kau terlalu lelah, hyung.”

Hanya Seokjin, Namjoon, dan Jimin yang tidak berkomentar. Mereka bertiga hanya tersenyum memandang Taehyung dengan pandangan penuh arti. Seokjin dan Namjoon memberikan acungan jempol untuknya. Sementara Jimin meraih kepala Taehyung dan mengacak rambutnya dengan penuh kasih sayang.

“Aduh, baby-ku memang luar biasa. Kami memegang janjimu, Kim Taehyung.”

Taehyung terpekur di tempat. Kilasan kisah masa lalu itu sudah berhenti terputar di otaknya, namun bayangan wajah keenam temannya masih tampak begitu nyata di depan matanya. Dadanya bergemuruh, batinnya berteriak menyebutkan satu persatu nama teman-temannya seiring dengan semakin jelasnya wajah mereka dalam bayangannya. Wajah Seokjin yang keibuan–yang selalu mengomeli ini-itu karena ia terlalu banyak bertingkah, wajah Namjoon yang kebapakan–yang selalu menasehati ini-itu dengan petuahnya yang bijak dan amat menyejukkan hati, wajah Yoongi yang tampak imut meskipun mulutnya mengeluarkan sederet kalimat kotor dan sumpah serapah padanya, wajah Hoseok yang sok imut saat ia mengeluarkan aegyo-nya, wajah Jungkook yang amat imut ketika sedang tertawa melihatnya bertingkah konyol, dan wajah Jimin yang menatapnya penuh kelembutan dan kasih sayang saat mengacak rambutnya. Oh, astaga! Taehyung menjambak rambutnya keras-keras, berusaha menghentikan otaknya yang terus memikirkan mereka. Sial, Taehyung benci mengakui kalau ia merindukan mereka.

“Sialan!” umpat Taehyung kesal saat ia sudah mencapai puncak kerinduannya.

Ia menyambar ponsel, topi, dan masker di atas meja dan segera berlari menuju luar apartemen. Bodoamatlah dengan gadis pemilik apartemen ini. Teman-temannya lebih penting saat ini bila dibandingkan dengan gadis itu. Terlebih Jimin, ia sangat merindukan temannya yang satu itu. Tetapi…

“Kau berubah, Kim Taehyung.”

Mendadak, Taehyung menghentikan langkah. Tangannya yang sudah memegang kenop pintu mendadak membeku. Sebuah suara yang pernah ia dengar dari mulut Jimin tiba-tiba saja bermain di telinganya.

“Berubah seperti apa yang kaumaksud?” tanya Taehyung, balas menatap Jimin yang duduk agak jauh darinya. Taehyung duduk di kursi di balik meja, sementara Jimin duduk di atas sofa.

“Kau tidak lagi seperti Taehyung yang kukenal.” jawab Jimin.

“Oh, Jimin, kumohon, bicaralah yang benar.”

“Yujin benar-benar telah mengubahmu, Taehyung. Gadis itu keparat.”

Taehyung menggebrak meja dengan keras dan menghampiri Jimin dengan mata melotot. “Apa kaubilang? Keparat? Beraninya kau mengatakan Yujin keparat?!”

Jimin mendengus lucu. Ia memandang Taehyung dengan tatapan remeh. “Lihat saja, kau sudah berubah menjadi monster gara-gara gadis itu.”

Emosi Taehyung menyulut. Tangannya yang terkepal meraih kerah Jimin. Dan tepat saat itu Yoongi dan Hoseok masuk ke dalam ruangan.

“Hei, apa yang kalian lakukan?” tanya Yoongi, sukses membuat Taehyung dan Jimin menoleh ke arahnya. “Bermain?”

Jimin tersenyum menyeringai. Tangannya bergerak menurunkan tangan Taehyung dari kerahnya, lalu merangkul pundak Taehyung dengan bersahabat, seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka barusan.

“Ya, kami sedang bermain.” kata Jimin, lalu menatap Taehyung dan mengedipkan sebelah matanya pada lelaki itu. “Iya, kan, Taehyung?”

Tetapi Taehyung masih dapat melihat dengan jelas tatapan Jimin yang meremehkannya itu.

Taehyung kembali terpekur. Ia lupa. Ia lupa dengan kejadian itu. Jimin, lelaki itu, sahabatnya, bermuka dua.

Tubuh Taehyung merosot ke bawah. Seiring dengan dadanya yang bergemuruh hebat. Kali ini bukan karena rasa rindu, melainkan karena rasa sakit. Rasa sakit yang begitu mendera hatinya, mencabik-cabik hatinya. Membuat hatinya amat sangat terluka. Wajah Jimin yang menatapnya penuh kelembutan dan kasih sayang kini menghilang dalam bayangannya, tergantikan oleh senyum seringai Jimin yang amat sangat menyeramkan. Membuatnya takut. Membuatnya meringkuk. Membuatnya merasa kecil. Dan membuatnya merasa kesepian.

Hari ini, Taehyung menangis lagi dalam kesendirian.

——————-

“Ah, jadi kau adalah teman semasa SMA-nya Jimin?” tanya Namjoon. Tangannya bergerak mengambil pakaian dari tangan Yura. “Siapa namamu tadi? Yura Park?”

Yura tersenyum malu. “Iya, kami pernah menjadi teman semeja saat kelas 2.” katanya, melirik sekilas ke arah Jimin yang kini sedang mencoba pakaian yang dibawakan Yura dari Haruman Fashion.

Sementara Jimin sama sekali tidak menoleh ke arah Yura. Ia menatap bayangan dirinya lewat cermin di depannya dan memfokuskan dirinya dengan pakaian yang baru saja dikenakannya.

“Benarkah?” Jungkook yang sudah selesai mencoba pakaiannya memekik histeris. Ia menatap Yura dengan tatapan ingin tahu. “Tetapi kenapa Jimin hyung tampak terkejut saat pertama kali melihatmu tadi, noona? Apakah dia menyukaimu?”

“Hei!” Jimin berteriak protes pada Jungkook.

Yura tak langsung menjawab, ia hanya mengulum senyum. Ia mengambil satu-satunya pakaian yang masih tersisa di atas rak pakaian beroda dan membaca nama yang tertera di balik pakaian tersebut.

“Kim Taehyung.” eja Yura. Tak ada yang bergerak maju untuk mengambil pakaian dari tangan Yura, dan Yura baru menyadari kalau keenam lelaki di dalam ruangan sudah mengambil pakaiannya masing-masing.

“Taehyung-ssi belum datang?” tanya Yura, menatap satu persatu lelaki di dalam ruangan.

Namjoon menggaruk lehernya dengan kikuk dan menjawab, “Dia agak telat. Letakkan saja pakaiannya disini.”

“Oh, maaf. Pakaiannya akan kubawa kembali ke kantor.” kata Yura, menyimpan kembali pakaian milik Taehyung ke atas rak beroda. “Mister Baekhyun hanya menyuruhku untuk membawa pakaian ini untuk dicoba, bukan untuk diambil. Nanti bilang saja pada Taehyung-ssi untuk datang ke kantor kami kalau ingin mencoba pakaiannya.”

Hoseok menoleh pada Yura. “Jadi kau akan mengambil pakaian ini lagi?”

Yura mengangguk. “Kami akan menukar pakaian kalian kalau memang pakaian yang kalian kenakan kurang cocok, jadi kalian perlu mengembalikannya pada kami. Mungkin sekitar 6 atau 7 hari lagi pakaian kalian akan kami antarkan kesini lagi.”

Noona, bagian lengan pakaianku terlalu lebar.” kata Jungkook, memperlihatkan bagian lengan pakaiannya yang memang agak lebar.

Yura mencatat laporan dari Jungkook di note kecil yang dibawanya. Selain itu, Yoongi juga melaporkan kalau celana miliknya terlalu panjang. Selebihnya, mereka sudah cocok dengan pakaiannya.

“Mister Baekhyun akan menghubungi kalian lagi nanti. Aku pamit dulu.” kata Yura, membungkuk hormat pada keenam lelaki di dalam ruangan, kemudian keluar dari ruangan sambil mendorong rak beroda.

Jimin hanya memperhatikan punggung Yura yang semakin menjauh dari pandangannya dan akhirnya hilang ditelan pintu. Melihat gadis itu, nyata di depan matanya sekarang, entah kenapa malah membuat perasaan berharap itu kembali hadir di dalam hatinya. Cinta pertama itu, cinta malu-malu itu.

“Aku tak percaya, gadis itu benar-benar mirip dengan Jung Yujin.” kata Hoseok, setelah Yura keluar dari ruangan.

Jungkook menyenggol lengan Hoseok, dan mendelik ke arah Jimin yang duduk terdiam di atas sofa dengan tatapan yang masih mengarah ke pintu keluar.

Hoseok langsung terdiam, lupa kalau tak seharusnya ia membicarakan nama gadis itu saat Jimin masih berada dalam jangkauan mereka.

Tetapi sebenarnya, Jimin tidak mendengar ucapan Hoseok barusan. Ia terlalu memperhatikan Yura sehingga suara Hoseok yang lebih terdengar seperti bisik-bisik itu tidak terdengar sampai di telinganya. Begitu Yura tidak terlihat lagi oleh matanya, Jimin langsung terlonjak dari duduknya, teringat sesuatu, lalu berlari keluar ruangan, mengejar gadis itu. Ia harus segera mengatakannya pada Yura, cepat atau lambat, gadis itu harus tahu tentang apa yang selama ini ia sembunyikan.

Jungkook dan Hoseok terkejut saat melihat Jimin bangun dari duduknya dengan gerakan mendadak dan segera berlari keluar ruangan. Yoongi, Namjoon, dan Seokjin memandang punggung Jimin yang semakin menjauh dengan pandangan bingung.

“Sepertinya Jimin menyukai gadis itu.” ujar Hoseok.

“Persis seperti yang kuduga.” komentar Jungkook.

——————-

Yura baru saja memasukkan rak beroda ke dalam bagasi mobil saat ia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Yura menoleh dan menemukan Park Jimin sedang berlari ke arahnya.

“Ada yang tertinggal?” tanya Yura saat Jimin tiba di sebelahnya.

Napas Jimin terengah-engah saat ia mengatakan, “Ya, aku melupakan sesuatu.”

Yura tersenyum jahil. “Apa itu? Kau lupa mengatakan kalau kau rindu padaku?”

Jimin mendengus lucu. “Sialan. Seharusnya kau yang rindu padaku. Aku masih merasa sakit hati saat kau meninggalkanku tanpa alasan.” katanya. Yura hanya tersenyum tipis, merasa bersalah, teringat dengan masa itu. “Tetapi bukan itu yang ingin kukatakan.”

Yura memandang Jimin dengan pandangan bertanya. Tatapan ceria Jimin kini berubah gelap saat ia menatapnya. Entah kenapa, Yura mendapat firasat buruk.

“Aku tahu keberadaan adikmu.” kata Jimin, dengan mimik serius.

Senyum Yura sempurna lenyap. Tatapannya berubah kosong.

Jimin menahan rasa sakit saat melihat perubahan air muka Yura. Sebenarnya ia tidak tega untuk mengatakan hal ini pada Yura, orang yang pernah ia miliki saat SMA—meskipun hanya beberapa bulan. Namun, ia harus mengatakannya. Cepat atau lambat, Yura harus mengetahui hal ini.

“Yujin Park… aku tahu dia berada dimana.”

—tbc

NEXT CHAPTER: DON’T CRY

“K-kau pernah bilang kalau wajahku mirip dengan… mo-model terkenal, J-Jung, Jung Yujin, kan?” — Yura Park

“Jangan menangis, Yura Park. Maafkan aku.” — Kim Taehyung


I’m comeback with part three \m/
adakah yang menunggu? hehe :3
aku nggak mau banyak cincong deh kali ini, happy reading aja yaa buat kalian 😀 Jangan lupa tinggalkan jejak. Like aja juga udah cukup kok, apalagi komentar ^^

4 thoughts on “[Multichapter] Behind The Secret (BTS) — Chapter 3

  1. Omaygat! Jadi tujuan itu adeknya yura? Trus knp jimin ngatain Yukji itu wanita keparat? Trus kasus yg dihindari Taehyung itu apa? Ada kaitannya sama yujin? Trus klo Taehyung tau yura itu kakak nya yujin gmn? Astaga…. Rumit amat

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s