사랑이 운다 “Love is Crying” [TwoShoot – 2 End]

love is crying 1

First Shoot

Main cast:
Park Jiyeon, Lay Zhang, Yook Sungjae, Kim Sohyun
Support cast:
Park Gyu Ri, Bae Irene, Yoo Seung Ho, Yoo In Na
Genre:
Romance, Hurt/ Comfort, Songfict, Fantasy, School Life
Length: Two-shot
Rating: PG – 13

This FF has been inspired by K.Will song titled Love is Crying (OST. King 2 Hearts)

Preview

Jiyeon yang telah pulih pasca kecelakaan, bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Zhang Yixing. Laki-laki itu ternyata benar-benar Yixing yang telah menjadi manusia. Namun sayangnya Jiyeon tidak dapat mengingat Yixing. Suatu hari, ia terjatuh ke dalam jurang dan kondisinya koma. Pada saat itulah ia bertemu kembali dengan Yixing yang memutuskan untuk menjadi malaikat lagi.

Don’t plagiat the storyline, Don’t claim as yours
Storyline is mine but the casts belong to their God
Sorry for typos and happy reading

Gyu Ri dan Sungjae terharu melihat Jiyeon yang telah membuka matanya. Senyum sumringah terhias di wajah mereka. Jiyeon tampak bingung melihat mereka berdua tersenyum dan menunjukkan ekspresi kebahagiaan layaknya melihat bayi yang baru lahir.

“Jiyeon-a, kau masih ingat aku?” tanya Sungjae nakal. Dia mengira Jiyeon akan mengalami amnesia seperti di film-film.

Gyu Ri menyenggol siku Sungjae. “Yaak! Apa-apaan kau ini!”

“Anhiyo. Aku hanya merasa sangat senang melihat Jiyeon sudah sadar dan terlihat seperti orang yang sehat. Waah, daebak! Kau benar-benar hebat, Jiyeon-a!” puji laki-laki imut bermarga Yook yang sudah menjadi sahabat Jiyeon sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Apa yang terjadi?” tanya Jiyeon lirih. Ingatannya belum sempurna pasca kecelakaan yang mengakibatkan luka di beberapa anggota tubuhnya. Jiyeon memutar bola matanya, memandang sekelilingnya yang hanya dipenuhi warna putih.

Nyut!
Tiba-tiba kepalanya terasa pening. Ingatan tentang sosok laki-laki tampan di alam bawah sadarnya terbayang sekelebat hingga membuatnya bertanya-tanya ‘Siapakah laki-laki itu?’

Jiyeon menatap kosong pada sebuah vas bunga yang berisi beberapa macam dan warna bunga.

‘Waah daebak! Apakah ini yang dinamakan surga?’

Kalimat yang pernah ia ucapkan terngiang dalam ingatannya. Jiyeon memegang kepalanya dan berusaha mengingat sesuatu yang berkaitan dengan kalimat itu. “Apakah aku pernah ke surga?” tanya Jiyeon pada Gyu Ri dan Sungjae.

“Mwo? Yaak! Kau masih hidup, Jiyeon-a. Kenapa memikirkan surga?” Sungjae menanggapi kalimat Jiyeon dengan serius.

“Eoh, aku masih hidup,” lirih Jiyeon dengan gerakan anggukan kecil. “Eonni, di mana appa dan eomma?”

Gyu Ri termenung. Dia tampak kaget mendapat pertanyaan secara tiba-tiba dari Jiyeon. “Eoh, appa dan eomma baru saja pulang. Mereka butuh istirahat.”

Jiyeon mengangguk kecil sekali lagi. Saat ini dia hanya ingin memulihkan kesehatannya pasca kecelakaan.

“Istirahatlah, Park Jiyeon. Besok kita berangkat ke sekolah bersama. Kau harus lekas sembuh.” Sungjae selalu memberikan semangat pada Jiyeon ketika gadis itu merasa down dan sedang memiliki banyak masalah. “Aku akan di sini menunggumu.”

Bola mata Jiyeon bergerak ke sudut matanya, melirik Sungjae yang tak biasanya mengatakan sesuatu bersifat romantis. Jiyeon tak mau ambil pusing, mungkin kata-kata Sungjae hanya sebagai penghibur dirinya agar

Satu minggu kemudian.

“Ini, ini, ini. Makanlah!” Sungjae memberikan lobak miliknya ke tempat makan Jiyeon.

Sementara itu Jiyeon tertegun melihat semua lobak di tempat makan Sungjae yang telah berpindah di tempat makannya dengan tatanan yang cantik.

“Mwo? Bagus, kan?” Sungjae nyengir senang. “Kau harus makan daging dan sayur-sayuran supaya bekas lukamu lekas pulih.”

Jiyeon mengerutkan keningnya. “Yaak! Bilang saja kalau kau tidak menyukai lobak. Jangan mengatakan alasan ini itu!” Jiyeon mengembalikan lobak yang berbentuk irisan kecil-kecil ke dalam tempat makan Sungjae. “Makanlah! Supaya kulitmu halus.”

Sungjae mengerucutkan bibir tebalnya. Dia mendelik kesal karena Jiyeon mengembalikan irisan lobak yang sangat dibencinya. “Gurae, aku memang tidak su….”

“Sunbaenim!”

“Ohmo!” seru Sungjae yang hampir melempar sepasang sumpit di sela-sela jarinya.

Jiyeon dan Sungjae menatap seorang gadis yang menghampiri meja mereka dan menyerukan kata ‘sunbaemim’.

Gadis itu tersenyum hingga kedua matanya terlihat semakin sipit. “Annyeong!” ucap Kim Sohyun, gadis yang bertemu dengan Sungjae dan Gyu Ri di rumah sakit.

“Sunbae, siapa eonni cantik ini? Neo yeojachingu?”

Uhukk!
Tiba-tiba Jiyeon tersedak gara-gara mendengar pertanyaan konyol yang terlontar begitu saja dari mulut Sohyun.

“A, anhiyo. Dia sahabatku sejak kecil. Hehe…” Sungjae menggaruk tengkuknya. “Ada apa?”

“Sunbae, tadi pagi aku bertemu dengan laki-laki tampaaaan sekali. OMG! Aku tidak bisa melupakan wajah dan senyumannya.” Sohyun nampak terbawa virus cinta dari laki-laki yang baru saja dilihatnya.

Sungjae menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendesah kasar. Gadis yang baru ia kenal itu telah menganggap hubungan mereka sebagai sahabat yang terjalin sejak lama. “Yaak! Maksudmu siswa baru? Angkatanku?”

Sohyun mengangguk mantab diiringi senyum manis dan puppy eyes-nya.

“Aku tidak mengharapkan ada siswa baru. Yang aku harapkan adalah guru baru,” kata Sungjae yang memutuskan untuk tidak menanggapi kata-kata Sohyun lagi.

“Keunde, Sunbae, menurutku siswa baru itu tidak mengalahkan ketampananmu.”

Uhuukk!
Jiyeon dan Sungjae tersedak gegara mendengar kalimat yang membuat mereka terkejut bukan kepalang, kalimat yang tak disangka-sangka akan meluncur begitu saja dari mulut Sohyun. Mereka berdua mengira Sohyun naksir berat pada siswa baru itu. Tapi ternyata ada kalimat susulan yang begitu mengejutkan.

“Sudahlah. Kita sedang makan. Jangan berbicara terus!” kata Sungjae setelah meneguk air putihnya.

Jiyeon tersenyum kecil dan menyembunyikannya agar tidak dilihat oleh Sohyun dan Sungjae.

“Oooh! Sunbae! Itu dia orangnya!” seru Sohyun melihat sosok yang dia bicarakan beberapa menit yang lalu.

“Nugu?” tanya Jiyeon dan Sungjae.

“Siswa baru,” jawab Sohyun.

Sontak, Jiyeon dan Sungjae menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh jari telunjuk Sohyun. Bola mata mereka bergerak mencari sosok siswa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

“Eoh, kau benar, Sohyun-a. Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku,” lirih Sungjae yang masih menatap siswa tampan yang berjalan keluar kantin.

Jiyeon tak berkedip ketika melihat sosok laki-laki dengan kulit putih, hidung mancung, rambut hitam, dan yang membuatnya betah menatap laki-laki itu adalah senyuman yang ditunjukkan dengan tulus. ‘Laki-laki itu… tidak asing bagiku,’ batinnya.

Hari ini merupakan hari yang menegangkan bagi siswa tingkat dua dan tibgkat tiga. Bagaimana tidak? Pada lembar ke-17 di bulan Februari ini, para guru mengadakan festival sekolah dan salah satu acara andalannya adalah drama teater yang harus diperankan oleh siswa-siswa tingkat dua dan tiga. Sementara itu, siswa tingkat pertama ditugaskan mengikuti Drum-band pada pembukaan dan penutupan festival.

Setiap kelas diwajibkan mengajukan beberapa orang yang akan memerankan tokoh dalam drama. Peran utama akan dipilih dengan jalan audisi supaya siswa yang terpilih memerankan peran utama benar-benar memiliki kualitas akting yang sangat bagus. Untuk menentukan siapa yang dicalonkan oleh masing-masing kelas, ketua kelas mengadakan audisi kecil-kecilan yang diikuti oleh siswa yang berminat menjadi peran utama.

Sebuah kelas yang terletak di ujung lorong lantai tiga tengah ribut sesuka hati mereka. Mayoritas siswa tersebut memiliki minat yang tinggi untuk memerankan tokoh utama dalam drama yang akan disaksikan langsung oleh wali kota Seoul dan Menteri Pendidikan Korsel.

“Aku memilih Jiyeon!” seru Sungjae dengan suara menggelegar hingga siswa yang lain harua menutup telinga mereka.

“Shireo!” Jiyeon bergegas mengambil ponselnya di atas meja kemudian  hengkang dari kelas ribut itu karena kedua gendang telinganya serasa ingin pecah bila mendengar ocehan  teman-temannya.

Jiyeon memasang earphone di masing-masing lubang telinganya. Dia ingin menikmati waktu sendirian dengan mendengarkan beberapa lagu favoritnya yang dapat menenangkan hati dan pikiran yang sedang kacau.

Semilir angin musim panas membawa kenangan masa lalu yang telah dialami oleh Jiyeon beberapa tahun yang lalu. Jiyeon menutup kedua matanya, menikmati lembutnya terpaan angin yang menyapu rata seluruh bagian wajah cantiknya.

Tap tap tap!
Sepasang daun telinga yang tersumbat earphone milik Jiyeon mendengar suara deru langkah seseorang yang berjalan pelan menuju atap sekolah. Baru kali ini dia mendengar kedatangan orang lain saat dirinya sedang bersantai di atap.

“Eoh, mian, aku tidak sengaja. Ku pikir tempat ini kosong,” kata seseorang yang henda berbalik meninggalkan lantai beton itu.

“Chakkaman!” seru Jiyeon yang tengah membuka kedua kelopak matanya. Jiyeon menoleh ke arah siswa yang ingin meninggalkan tempat paling favoritnya itu. “Kenapa malah pergi? Kemarilah! Sekolah ini bukanlah milikku ataupun keluargaku. Kita bebas berada di sini.”

“Gomawo. Ah, kenalkan, namaku Zhang Lay.” Lay mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jiyeon yang berdiri menatapnya tanpa berkedip. “Waeyo?” tanya Lay merasa aneh jika ditatap selekat itu oleh Jiyeon.

Jiyeon tersadar dari lamunannya. “Ah, ne. Mian. Aku Park Jiyeon,” ucap Jiyeon seraya menjabat tangan Lay.

Deg!
Ingatan itu datang lagi. Dua kali ini Jiyeon merasakan ada yang aneh dengan dirinya sendiri. Kepalanya terasa ringan dan kepingan kenangan yang entah berasal dari mana, terus berputar di kepala Jiyeon seakan tak ingin lepas dari ingatannya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Jiyeon yang sebenarnya ragu untuk menanyakan hal tersebut pada orang yang baru ditemuinya.

Lay tersenyum tipis, menampilkan sebuah cekungan manis di pipi kanannya yang membuat siapa saja ingin memilikinya. “Aku rasa… kita belum pernah bertemu.”

“Jinjja? Eoh, gurae. Mungkin ingatanku yang sedang memburuk. Ah, mian.” Jiyeon merapikan earphone nya dan menyimpannya di dalam saku blazernya. “Kau siswa baru itu, kan?”

Lay mengangguk dan masih tersenyum.

“Gurae. Semoga kita menjadi teman baik.” Tak lama kemudian Lay dudukdi samping Jiyeon. Mereka berdua tampak menikmati semilirnya angin yang berhembus pelan dan terasa nyaman. “Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak mengikuti pemilihan tokoh drama?”

Jiyeon menghela nafas panjang. “Tidak apa-apa. Aku merasa belum pantas. Lagipula aku baru saja kecelakaan. Jadi, aku tidak yakin bisa memerankan peran itu.” Sebenarnya Jiyeon ingin sekali memerankan tokoh drama yang akan diadakan oleh sekolah. Hobi aktingnya membawa dirinya pada sebuah cita-cita seorang aktris profesional. “Kenapa kau juga tidak ikut?”

“Aku? Ah, anhi. Aku tidak bisa akting. Yang bisa ku lakukan hanya jalan-jalan dan tersenyum.”

Jiyeon tertawa kecil mendengar pengakuaan Lay yang menurutnya lucu, tak kalah lucu dari lawakan seorang pelawak terkenal. Tanpa disadari, Jiyeon sangat menikmati waktu bersama Lay. Mereka berbincang, bercanda, bercerita hingga keduanya merasa semakin nyaman.

“Kau bilang tadi bahwa dirimu pernah mengalami kecelakaan?”

Pertanyaan Lay sukses menghentikan tawa Park Jiyeon.

“Mwo?”

“Bagaimana keadaanmu pasca kecelakaan itu?” tanya Lay lagi.

Jiyeon memutar bola matanya dan berusha mengingat apapun yang dapat diingatnya terkait kecelakaannya 3 minggu lalu. “Aku hanya mengalami pergeseran tulang. Tetapi… kata Gyuri eonni, aaku sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari. Hal itu yang menyebabkan keluargaku sangat khawatir.”

Lay manggut-manggut.

1 bulan kemudian

“Yaak Jiyeon-a! Temani aku latihan, eoh?” Sungjae berlagak manja di depan Jiyeon yang tengah asyik membalik-balikkan lembaran majalah sekolah edisi bulan ini. Ia duduk di samping gadis yang diajaknya mengobrol sejak 10 menit yang lalu.

“Yook Sungjae! Kau bisa latihan sendiri. Aku sudah tidak berminat pada drama itu.”

Kata-kata Jiyeon bagaikan halilintar yang menyambar hati Sungjae di siang bolong. Laki-laki imut itu terdiam dan tak berkutik sedikit pun. Dia akan menutup mulutnya rapat-rapat dan bersikap acuh pada orang yang ada di sekitarnya jika hati dan perasaannya merasa tidak tenang atau tersakiti. Selang beberapa menit kemudian, Jiyeon menyadari perubahan sikap Sungjae yang bertolak belakang dengan sikapnya beberapa menit yang lalu.

“Sungjae-a, mianhae. Bukannya aku tidak mendukungmu memerankan tokogmh utama pria dalam drama itu. Hanya saja aku….”

“Gurae, aku tahu. Mian telah memintamu untuk menemaniku.” Sungjae bersiap mengangkat bokongnya untuk berdiri tegak dan enyah dari hadapan Jiyeon. Namun tanpa ia kira, Jiyeon memegang tangannya dan menatapnya sendu.

“Jongmal mianhae, Sungjae-a.”

“Kau tidak perlu minta maaf. Aku akan berusaha sendiri.” Sungjae melepaskan tangan Jiyeon yang memegang tangannya erat.

Jiyeon tak bisa berbuat apapun. Dia hanya mendesah pelan dan menundukkan kepalanya, menyesali keluarnya kata-kata yang telah menyakiti hati Sungjae. “Sungjae-a!” panggil Jiyeon.

Yook Sungjae menghentikan langkahnya dan memutar badan 90 derajat. “Wae?” tanyanya singkat.

“Aku akan membawakanmu batu pegunungan yang indah saat wisata alam nanti.”

Jiyeon berhasil menahan kepergian Sungjae.

“Batu gunung? Kau benar-benar ingin berpartisipasi dalam acara wisata alam?”

Jiyeon memgangguk. “Eoh. Aku akan ikut acara tersebut. Kau pasti mengerti kalau aku lekas merasa bosan saat di rumah. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk ikut wisata alam. Tenang saja, aku janji padamu bahwa diriku pasti bisa jaga diri. Kau juga harus berjanji seperti itu.”

“Andwae! Kau baru saja kecelakaan, Jiyeon-a. Kau pikir semua yang telah kau alami saat itu adalah permainan takdir? Kau tahu betapa khawatirnya keluargamu dan diriku saat kau tak sadarkan diri selama beberapa hari? Apakah kau pernah membayangkan kekhawatiran kami, Park Jiyeon? Kenapa semudah itu kau ingin melukai dirimu lagi?”

Tap!
Dengan mantab, Jiyeon memegang tangan Sungjae untuk kedua kalinya. “Sungjae-a, tolong mengertilah diriku. Jebal…” lirih Jiyeon. Majalah di tangannya sudah tergeletak di atas bangku yang dipakai olehnya tadi.

“Kenapa aku harus mengerti? Lakukan saja semaumu. Aku tidak akan peduli apapun yang terjadi padamu. Lagipula, kenapa kau meminta ijin padaku? Aku bukan siapa-siapa bagimu. Tahukah kau? Saat dirimu terbaring di rumah sakit dengan ditemani cairan infus dan yang lainnya, aku serasa ingin mati. Bukan kau yang aku harapkan pergi, tetapi diriku sendiri. Kenapa saat itu bukan aku saja yang mengalaminya. Hah! Sudahlah! Lupakan semua kata-kataku!”

“Yook Sungjae!” panggil Jiyeon dengan suara yang cukup lantang. Sungjae pergi meninggalkan Jiyeon sendirian. “Sungjae-a!” Harus Jiyeon akui, laki-laki bermarga Yook yang sangat akrab dengannya itu memang orang yang keras kepala namun hatinya baik, bahkan lebih baik dari ibu Peri dalam cerita dongeng. Jiyeon terduduk di atas bangkunya tadi. Dia sangat menyesali perkataan yang tidak seharusnya keluar dari mulutnya begitu saja. Bagaimanapun juga, Sungjae selalu baik padanya.

“Annyeong!”

Jiyeon tersentak kaget. “Oh My God! Kau mengagetkanku.”

“Mian,” ucap Lay singkat. “Ada apa? Kau kelihatan murung sekali.”

Jiyeon menggeleng pelan. “Gwaenchana.”

“Yook Sungjae… hmm, bukankah dia mendapatkan peran utama pria dalam drama sekolah?”

“Ehemm. Dia berhasil melakukannya. Awalnya Sungjae mengira kalau aku juga ikut casting. Tapi ternyata perkiraannya salah. Dia tahu betul apa yang aku sukai dan yang sering ku lakukan. Aku sangat menyukai akting. Jadi, dia juga melakukan hal yang sama denganku. Entahlah. Itu yang Sungjae lakukan. Hari ini Sunghae memintaku menemaninya latihan tetapi aku malah menolaknya. Bukan hanya itu, aku juga mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.” Jiyeon terlihat murung dan sedih. “Aku… ingin kembali ke masa-masa itu. Lebih dari satu bulan yang lalu, aku mengalami kecelakaan hingga koma selama 2 hari. Sungjae dan keluargaku sangat khawatir. Aku ingin kembali ke rumah sakit itu, ingin terbaring lagi, kalau perlu… aku ingin pergi selamanya.”

Sama halnya dengan Jiyeon, kini Lay terlihat sedih dan kecewa. “Kenapa kau ingin pergi selamanya?”

“Karena setelah aku koma, tak ada sesuatu pun yang bisa ku lakukan. Aku sendiri juga tidak tahu. Kau lihat, kan? Aku tidak ikut casting drama, nilaiku menurun, pikiranku kacau, aku seperti orang lain bagi diriku sendiri,” jelas Jiyeon yang tengah menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah cantik miliknya yang dipoles natural itu.

‘Kau adalah alasanku menjadi manusia. Tapi… jika itu yang kau inginkan, aku mungkin akan menyerah. Seharusnya takdir tidak mempertemukan kita berdua,’ batin Lay sedih.

Jiyeon mengusap air mata yang mengalir tanpa permisi. “Oh ya, teman-teman cerita kalau kau berasal dari China. Apakah keluargamu ada di sana?”

Lay mengangguk.

“Oh, begitu ya. Aku juga punya seorang teman yang berasal dari China.”

“Nugu?”

Pertanyaan singkat dari Lay mampu membuat Jiyeon terbungkam. Gadis itu tertegun memikirkan apa yang baru saja ia katakan. China? Tak ada seorang teman pun yang berasal dari China. Satu-satunya teman yang berasal dari China adalah laki-laki yang tengah berbincang dengannya. “I, itu hanya… ah, aku lupa. Ternyata aku tidak punya teman dari China. Hanya kau… mmm, temanku yang berasal dari China.” Jiyeon nampak kikuk di depan Lay. Apa yang salah pada dirinya? Ini bukanlah tipe kepribadiannya. Jiyeon tidak akan mudah malu berada di depan orang asing apalgi orang yang baru saja menjadi temannya sebulan terakhir.

“Tidak apa-apa. Aku maklumi kalau kau lupa hal itu.” Lay tersenyum hingga mampu membuat Jiyeon terperangah menatap lesung di pipi kanannya. “Waeyo?” tanya Lay yang menyadari kalau Jiyeon tengah menatapnya.

“Eoh? Anhiyo. Mian, aku merasa akhir-akhir ini ada yang salah pada diriku.” Jiyeon memukul kepalanya sendiri dengan tangannya.

Keesokan harinya, siswa dan siswi yang tidak berpartisipasi dalam drama sekolah tengah bersiap-siap masuk ke dalam bus yang tak lama lagi akan dipenuhi oleh siswa dan siswi campuran kelas 1 sampai kelas 3.

“Eonni! Palli! Duduklah denganku, eoh?” Sohyun menepuk sebuah bangku di dalam bus dan tersenyum pada Jiyeon yang baru saja menginjakkan kakinya di dalam bus.

Jiyeon senang sekali melihat perlakuan Sohyun yang terlalu baik padanya. “Eoh, gomawo.” Dia mulai melangkah ke tempat Sohyun, tepat di bagian tengah bus.

Tap!
Kedua manik mata Jiyeon terbelalak hingga menampilkan sepasang iris berwarna coklat tua miliknya. Ia merasakan seseorang memegang tangannya erat dan mungkin sebentar lagi tangan kanannya ditarik oleh orang itu. Kepala Jiyeon menoleh ke arah belakang. Benar saja, Yook Sungjae berdiri dengan badan sedikit membungkuk agar kepalanya tidak terbentur layar tv di dalam bus.

“Turunlah!” Sungjae menarik tangan Jiyeon.

“Yook Sungjae!” pekik Jiyeon sedikit panik karena Sungjae menarik tangannya agar turun dari bus padahal sebentar lagi bus itu akan berangkat menuju daerah pegunungan yang menjadi lokaai wisata alam. “Yaak! Lepaskan tanganku!” Jiyeon berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pegangan tangan Sungjae yang begitu erat. “Yook Sungjae!”

“Mwo?” Sungjae membalikkan tubuhnya dan menatap Jiyeon nanar. “Dengarkan aku! Bisakah kau menuruti kata-kataku sekali saja dalam hidupmu? Kau tahu? Aku mempunyai firasat buruk tentangmu. Apakah kau ingin membuatku mati berdiri?”

Jiyeon bengong dan tak dapat mengatakan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan yang sangat sulit dijawabnya. “S, Sungjae-a, ada apa denganmu? Aku bisa jaga diri. Jangan khawatir. Banyak teman yang akan menjagaku,” kata Jiyeon dengan bangga. Ia percaya bahwa teman-temannya akan menjaganya saat mereka menikmati wisata alam selama 3 hari.

Sungjae tak henti-hentinya menatap Jiyeon. “Andai saja kau mau menuruti kata-kataku….”

“Yaak! Jangan bicara seperti itu! Aku janji padamu. Begitu aku pulang dari acara ini, aku akan langsung meluncur ke rumahmu dan memberikan oleh-oleh spesial untuk sahabatku tersayang.” Jiyeon menunjukkan puppy eyes nya.

“Iish!” Sungjae mengacak tatanan rambut Jiyeon. “Aku akan berhenti memerankan tokoh ini.”

“Sungjae-a, apa yang kau bicarakan? Lanjutkan apapun yang kau lakukan. Hmm, anggap saja kau melakukannya demi aku, eoh?”

Yook Sungjae tetap tak ingin melepas kepergian Jiyeon yang akan mengikuti acara wisata alam. Dia tak dapat berpartisipasi dalam acara tersebut karena diwajibkan mengikuti latihan untuk acara drama sekolah.

“Boleh kah aku memelukmu?”

“Tentu saja,” jawab Jiyeon.

Dengan senang hati, Sungjae memeluk Jiyeon selama beberapa detik. “Siapa yang akan menjagamu, Jiyeon-a?”

“Aku yang akan menjaganya.”

Jiyeon dan Sungjae mengarahkan pandangan mereka pada sosok laki-laki berkulit putih bersih dan mengenakan setelan kaos hitam dan celana jeans abu terang.

“Aku akan menjaganya untukmu,” kata Lay.

“Yaak! Apa-apaan ini? Aku bukan anak kecil.”

“Gurae, aku percaya padamu. Tolong jaga Jiyeon. Jangan sampai dia terluka sedikit pun karena aku akan membunuhmu jika hal itu terjadi.”

Lay menahan tawanya dan hanya menampilkan senyum khas. “Eoh, aku janji.”

Tempat tujuan siswa-siswa SMA Sekang merupakan sebuah daerah pegunungan yang terkenal akan jurang yang terjal. Namun demikian, pemandangan di tempat itu sangat indah bagaikan pemandangan surga. Udara di sana sangat segar dan menyejukkan, membuat siapapun betah berlama-lama tinggal di tempat yang memiliki suhu lebih rendah dari kota Seoul. Deretan pepohonan yang berbaris rapi di sisi kanan-kiri jalan tak lepas dari pandangan para siswa meski hanya sedetik.

Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, akhirnya keluarga besar SMA Sekang sampai di sebuah pondok sederhana. Tak hanya ada satu pondok melainkan ada beberapa pondok yang berjajar rapi menghadap ke arah hutan pinus.

“Waaah, daebak! Pemandangan yang sangat indah,” puji Sohyun pada tempat yang baru pertama kali ia kunjungi.

“Aku pernah ke suatu tempat yang tak kalah dengan tempat ini,” ujar Jiyeon tanpa menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Sohyun terbelalak terkejut. “Jinjjayo? Eodi?”

“Eoh? M, mwo?” Jiyeon tergagap.

“Eonni tadi mengatakan kalau ada tempat yang tak kalah dengan tempat ini. Eodiseo? Aku juga ingin ke sana, Eonni.” Sohyun memasang aegyo andalannya agar Jiyeon bersedia menceritakan tentang tempat yang ia bicarakan.

Jiyeon tampak bingung. Dia tak tahu harus apa yang harus diceritakan pada Sohyun. Mulutnya terbuka begitu saja saat menanggapi kata-kata Sohyun tadi. Jiyeon sendiri bahkan tidak dapat mengingat tempat indah yang ia bicarakan.

“Aku akan mengajakmu ke sana lain waktu,” sahut Lay.

Jiyeon merasa sedikit lega karena kali ini Lay membantunya menjawab pertanyaan Sohyun.

“Oppa, kau tahu dari mana?”

“Aku juga pernah ke sana. Sebenarnya aku pernah menjadi penjaga tempat itu.”

“Jinjjayo? Uwah, daebak! Aku ingin ke sana,” seru Sohyun senang. “Andai saja Sungjae sunbaenim ada di sini. Pasti akan terasa sangat menyenangkan.

Jiyeon dan Lay sontak menoleh ke arah Sohyun yang tengah melamun.

“Kau menyukai Sungjae?” tanya Jiyeon dengan ekspresi polos dan menunjukkan ketidakpercayaannya pada kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh Sohyun.

“W, wae? Ah, a, anhiyo. Itu tidak benar. Hehehe….” Sohyun berusaha menutupi perasaannya pada Sungjae.

“Yaak! Ceritakan saja! Jangan malu-malu!” bujuk Jiyeon.

“Anhiyo, Eonni. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Sungjae sunbaenim. Ah, bagaimana kalau kita berkeliling, Eonni?” Sohyun menggapit lengan kiri Jiyeon dengan mudahnya dan mengajak Jiyeon pergi berkeliling tempat mengasyikan itu. Tak lama kemudian mereka berdua berjalan menjauhi rombongan yang tengah menata barang-barang bawaan mereka.

Sohyun menghela nafas dalam-dalam, mencoba menghirup segarnya udara pegunungan yang jauh berbeda dengan udara di kota-kota padat penduduk seperti Seoul.

“Sohyun-a, apakah kau pernah ke berjalan-jalan seperti ini?” tanya Jiyeon yang tengah asyik memanjakan kedua indera penglihatannya memandang deretan pepohonan dan bunga yang bermekaran di sepanjang jalan yang mereka lalui.

“Eoh, pernah. Kalau tidak salah, di depan sana ada tebing yang cukup curam, Eonni.” Sohyun menunjuk lurus ke depan.

“Benarkah?” Jiyeon mengikuti arah yang ditunjuk Sohyun.

“Eoh. Ayo kita ke sana! Di sekeliling tempat itu terdapat banyak macam bunga, Eonni. Pasti sangat indah.”

Jiyeon pun menuruti ajakan Sohyun untuk mendekati tebing yang bisa dikatakan cukup curam. Meskipun tebing itu curam, banyak pengunjung yang senang berada di sekitar tebing tersebut. Pemandangan di tempat itu sangat indah. Tak ada ruginya jika orang-orang mengabadikan momen keberadaan mereka di tempat itu bersama bunga-bunga beraneka warna yang nampak cantik.

“Sohyun-a! Tolong aku!”
Sohyun mencari asal suara yang meminta pertolongan. Suara Jiyeon… ya, benar. Itu suara Jiyeon.

“Eonni! Jiyeon eonni!” teriak Sohyun memanggil Jiyeon dengan suara lantang. “Eonniii!”

“Sohyun-a, tolong aku, jebal….”

“Eonni, eodiseo? Jangan bercanda. Aku lelah mencarimu di mana-mana. Eonni, jebal, jangan membuatku kesal!”

“Jebal, Sohyun-a. Keluarkan aku dari tebing ini!”

Mendengar kata ‘tebing’ membuat Sohyun berlari ke tepi jurang dan mengarahkan kedua bola matanya ke arah jurang di depannya. Eonni!” Sohyun kaget bukan kepalang melihat Jiyeon bergantungan pada dinding tebing. Mungkin Jiyeon terpeleset dan terjatuh hingga harus bertahan memegang akar sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi jurang.

“Sohyun-a….”

“Tunggu sebentar. Aku akan menolongmu.”
Sohyun sangat panik melihat Jiyeon yang bergelantungan di dinding tebing. Sohyun berusaha menghilangkan rasa panik yang menjalarinya kemudian ia mengulurkan tangan kanannya pada Jiyeon dan berharap gadis itu memegang tangannya yang telah terulur.

“Tidak bisa. Sohyun-a, aku ta…. Aaaakhh!”

Bruuuk!!

Sohyun terpaku menatap tubuh Jiyeon yang terjatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Beberapa detik kemudian dia tersadar. “Eonni! Jiyeon eonni!” teriak Sohyun sekeras mungkin. Harapannya mendapat jawaban dari Jiyeon telah pupus. Tak ada suara dari tempat jatuhnya gadis malang bernama Park Jiyeon.

“Eonni! Jiyeon eonni!” teriaknya lagi. Airmata telah membasahi wajah panik Sohyun. Tubuhnya bergetar meskipun ia telah berusaha menenangkan diri. Sohyun terduduk lemas. Tiba-tiba ingatannya berputar mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan saat dirinya mengalami hal yang serupa dengan Jiyeon 2 tahun yang lalu. Sohyjn merasakan sesak di dadanya. Dia mencengkeram kerah baju seragamnya.

“Sohyun-a, gwaenchana?” Lay datang setelah mendengar teriakan Sohyun yang baru saja terhenti karena gadis itu tengah mengalami syok.

Sohyun mengalihkan tatapannya pada sosok Lay secara perlahan. Airmata terus meleleh dan membuat kedua manik matanya terlihat sembab. “Eonni… Jiyeon eonni….” Jiyeon menunjuk ke dalam jurang.

Rumah sakit Seoul.
Tubuh Sohyun masih bergetar saat menunggu Jiyeon siuman dari komanya. Sohyun termenung dnegan tubuh bergetar karena syok yang dialaminya setelah menyaksikan jatuhnya Jiyeon ke dalam jurang sedalam 300 meter. Beruntung Jiyeon masih dapat menghela nafas ketika tim penyelamat datang untuk menyelamatkan gadis malang itu. Sohyun, satu-satunya saksi atas kejadian yang menimpa Jiyeon masih merasakan guncangan hebat dalam benaknya.

Tap tap tap!
“Di mana Jiyeon? Katakan di mana Jiyeon!” teriak Sungjae yang baru datang setelah mendapat kabar bahwa Jiyeon terjatuh ke dalam jurang. Sungjae menarik kerah baju seragam Lay dan langsung mendorong tubuh kekar itu ke dinding hingga Lay tersungkur jatuh di atas lantai. “Kau sendiri yang berjanji padaku untuk menjaga Jiyeon. Sekarang lihat! Apa yang telah terjadi padanya? Tidak kah kau tahu? Jiyeon baru saja pulih dari lukanya setelah kecelakaan 3 bulan yang lalu. Sekarang tubuhnya harus tergeletak lagi di atas ranjang itu!” Sungjae memukul dinding sebagai pelampiasan kemesalannya pada Lay yang dianggapnya telah lalai menjaga Jiyeon.

Lay masih terduduk bersandar pada dinding setelah jatuh tersungkir akibat didorong oleh Sungjae. Batinnya menangis. Dia lah yang sangat merasa sedih atas kejadian yang menimpa Jiyeon. Lay rela meninggalkan tugasnya sebagai malaikat demi menjadi manusia seperti Jiyeon. Jiyeon lah satu-satunya alasan yang membawanya kembali ke dunia setelah beberapa lamanya dia merelakan diri mengabdi sebagai malaikat. Lay menangis dalam batinnya, menangisi kebodohannya yang menyebabkan Jiyeon terluka untuk kedua kalinya. Dia memang bodoh dan tak berguna sama sekali.

“Apa yang bisa kau lakukan sekarang, huh? Dokter sudah angkat tangan dan menyerah. Kesempatan Jiyeon untuk hidup hanya 15 persen. Kau benar-benar manusia tidak berguna!” Sungjae menendang tubuh Lay dengan kaki kanannya seperti ia mengusir seorang gelandangan yang sengaja tidur di depan tokonya.

“Oppa! Keumanhe! Tolong jangan bersikap seperti ini. Aku mohon…”

Tap tap tap!
“Sohyun-a.”

Sohyun menoleh. Tampak Irene telah berdiri di sampingnya.

“Eonni…” lirih Sohyun. “Semua ini salahku, Eonni. Seandainya aku tidak membiarkan Jiyeon eonni mengitari tempat itu, hal ini tidak akan terjadi.”

“Sabarlah, Sohyun-a! Tenanglah! Ini bukan salahmu. Semua ini adalah kehendak Tuhan.”

Keadaan hening dan tenang. Tak ada tangisan dan teriakan di ruang tunggu. Sohyun dan Irene duduk berpelukan sambil sesekali menyeka airmata mereka. Sungjae memilih berdiri diam bersandar pada dinding, berhadapan langsung dengan pintu ruang IGD, tempat Jiyeon membaringkan diri. Sementara itu, Lay berdiri di depan pintu. Melihat betapa pucatnya kulit putih Jiyeon yang dibalut baju pasien dan selimut. Beberapa peralatan canggih masih bekerja aktif dan terpasang di tubuh Jiyeon. Lay menatap gadis itu dengan perasaan sedih.

Lay pov
Park Jiyeon, kau lah yang membuatku semangat menjalani hidup sebagai seorang manusia. Tapi… karena kebodohanku, aku malah membuatmu kembali ke tempat itu. Tempat di mana kita bertemu. Sadarlah, Jiyeon-a. Sadarlah, aku mohon. Hatimu begitu sakit melihatmu terbaring di dalam sana. Kau telah mengalaminya, kau harus bangun! Carilah jalan yang pernah kau lalui dulu. Aku… mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Karena itulah aku bertekad menjadi manusia hanya untuk melihat senyumanmu dan melihatmu menjadi seorang wanita dengan kesempurnaan seperti bidadari. Apa gunanya aku menjadi manusia jika kau tak ada di sini? Apa yang harus aku lakukan agar bisa membawamu kembali ke dunia? Jika ini memang harus terjadi, aku rela mendapat hukuman menjadi malaikat atau bahkan peri untuk selamanya asalkan aku bisa membawamu kembali menjalani kehidupanmu di dunia.

Baru beberapa lamanya aku melihat sosok Jiyeon. Saat melihat senyumandan kecantikannya, hatiku terasa tenang. Aku melakukan apapun yang dilakukannya. Dia memutuskan untuk ikut acara wisata sekolah, aku pun melakukannya hanya untuk menjaganya. Tetapi… hal itu terjadi lagi.

Hari itu, saat pertama kali aku melihat Jiyeon di alam bawah sadarnga, aku telah jatuh cinta padanya hingga ku putuskan untuk menjadi manusia, sama seperti dirinya. Aku sadar hal ini tak semestinya terjadi. Namun karena rasa cintaku yang begitu dalam, aku bertekad melakukan sesuatu yang mempertaruhkan keberadaanku di alam semesta ini. Jika aku gagal menjadi manusia maka aku akan kembali menjadi malaikat untuk selamanya hingga akhir zaman.

Aku tahu apa yang dirasakan Sungjae. Bahkan hatiku lebih sakit daripada hati Sungjae. Aku harus mencari cara untuk membawa Jiyeon kembali. Ya, aku akan melakukan apapun demi Jiyeon. Aku… mencintaimu, Park Jiyeon. Selalu… dan selalu mencintaimu meskipun kau tak mengenaliku sebagai Zhang Yixing.
Lay pov end.

Lay menarik knop pintu dan membuka daun pintu perlahan. Melihat perbuatan Lay itu membuat Sungjae geram. Ia hendak menarik kerah belakang baju Lay namun Irene berhasil menghentikannya.

“Jangan membuat keributan!” lirih Irene.

Sungjae mengerutkan kedua alisnya.

“Biarkan saja. Dia tidak akan menyakiti Jiyeon.” Irene berusaha meyakinkan Sungjae agar membiarkan Lay masuk ke dalam ruang IGD.

Lay telah berdiri di samping ranjang Jiyeon. Seperti 2 bulan yang lalu. Kedua mata indah milik Jiyeon tertutup rapat. Lay membelai wajah cantik Jiyeon dengan lembut. Rasa cintanya pada gadis bermarga Park itu terlalu dalam dan tulus. Lay menyentuh tangan Jiyeon dan menggenggamnya erat. Kedua mata Lay terpejam. Ia berkonsentrasi melakukan sesuatu yang diyakininya dapat membawa Jiyeon pada kehidupan manusia.

Setelah berusaha semaksimal mungkin untum kembali ke dunianya, akhirnya Lay berhasil menginjakkan kakinya di sebuah lantai berwarna putih yang terasa dingin. Warna putih menyelimuti tempatnya saat ini. Lay tersenyum tipis. Usahanya telah berhasil. Ia telah berhasil menjadi malaikat, kembali pada tugas mulianya membawa nyawa-nyawa yang tersesat untuk kembali ke dunia.

Lay berjalan ke sana kemari, mencari sosok Jiyeon yang mungkin masih berada di tempat itu. “Dia belum meninggal. Malaikat pencabut nyawa tidak mungkin membawanga pergi secepat ini. Dia pasti ada di tempat ini.” Lay tak putus asa mencari seorang gadis bernama Park Jiyeon hingga beberapa lama.

Saat hendak melangkahkan kaki menuju jalan ke sebuah tempat yang pernah didatanginya bersama Jiyeon, Lay melihat seorang gadis cantik berambut panjang dan kulit putih bersih tengah melihat sekelilingnya dengan ekspresi bingung.

“Itu dia,” lirih Lay. Ia segera menghampiri Jiyeon yang tengah berjalan di depannya sejauh 20 meter.

“Jiyeon-a!” Lay menghampiri Jiyeon.

“Eoh, Zhang Yi….” Jiyeon memutus kalimatnya. Ia telah mengingat dua nama yang serupa. Zhang Yixing dan Zhang Lay. “Ya Tuhan! Zhang Yixing?”

Lay mengangguk pelan dan tersenyum.

“Zhang Lay?”

Lay mengangguk lagi. “Ya, aku Zhang Yixing dan Zhang Lay. Aku telah memutuskan menjadi manusia, sama seperti dirimu. Namun… aku harus kembali ke tempat ini untuk membawa seseorang yang sangat berharga bagiku. Aku tidak ingin orang itu berada di tempat yang membosankan seperti ini.”

“Apa maksudmu?” tanya Jiyeon bingung.

“Anggap saja aku sebagai penggemar rahasiamu. Tidak usah berlama-lama. Ayo kita pergi!” Lay memegang tangan Jiyeon dan menariknya ke suatu tempat.

Sesampainya di suatu temoat yang sangat indah, Lay berhenti dan menatal Jiyeon nanar. “Jiyeon-a, berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu berhati-hati dan tidak akan kembali ke tempat ini jika waktumu belum tiba.”

Jiyeon sedikit mengerti maksud ucapan Lay. Ya, dia sudah dua kali berada di tempat aneh itu dan bertemu dengan malaikat bernama Zhang Yixing untuk kedua kalinya. “Aku berjanji. Kau ikut denganku, kan?”

“Mian, aku harus berada di sini selamanya.” Lay tampak sedih dan ingin sekali menitikkan airmatanya. Ia memeluk Jiyeon hingga membuat gadis itu bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan Zhang Yixing?

“Kau akan ikut denganku, Zhang Yixing.”

“Mianhae. Aku tidak bisa. Beberapa waktu yang lalu aku telah memutuskan menjadi manusia namun akhirnya aku gagal. Kini… diriku harus kembali menjadi malaikat. Aku mencintaimu, Park Jiyeon. Sangat sangat mencintaimu. Ini adalah perpisahan kita untuk selamanya.”

Jiyeon menangis. Ia tak percaya bahwa dirinya tak akan lagi bertemu dengan Yixing. “Andwae! Aku akan datang ke tempat ini hanya untuk bertemu denganmu. Aku janji.”

“Jangan pernah kembali ke tempat ini. Jangan mencoba untuk kembali ke sini. Tempatmu bukan di sini Jiyeon-a. Pergilah sebelum waktumu habis. Semua orang telah menunggumu di sana.”

Jiyeon berjalan pelan menjauhi Lay dengan perasaan amat sedih. Jarak beberapa meter telah dilalui Jiyeon. Tak sekalipun ia menoleh ke belakang, melihat Yixing untuk terakhir kali.

Tap!
Jiyeon berhenti melangkahkan kakinya. Dia membalikkan badan dan berlari ke tempat semula di mana Yixing masih berdiri di sana.

“Jiyeon-a…” lirih Yixing saag melihat Jiyeon kembali ke tempatnya.

Jiyeon tersenyum dalam sedihnya. Dia berhambur menuju tempat Yixing.

Bruuk!!
“Aku mencintaimu, Zhang Yixing. Aku mencintaimu sejak pertama kali kau menciumku.” Jiyeon mendekatkan wajahnya dengan wajah tampan Zhang Yixing. Kedua matanya terpejam. Dengan perlahan, bibir tipisnya menyentuh bibir mungil Yixing dan melumatnya lembut. Setelah itu, dia melepaskan ciumannya.

“Gomawo, Jiyeon-a. Kembalilah ke duniamu!”

Jiyeon menggeleng dan menempelkan bibirnya pada bibir Yixing. Malaikat tampan itu membalas ciuman Jiyeon. Ia melumat bibir Jiyeon dengan lembut. Sesekali diapitnya bibir bawah Jiyeon dengan bibirnya. Menimbulkan sensasi kenikmatan yang luar biasa.

End

Terimakasih telah berkenan membaca cerita fantasy super absurd ini. Huehehe…
Cerita berlanjut dengan judul yang berbeda. Apakah Jiyeon akan berada di tempat Yixing? Apakah dia akan kembali ke dunia? Atau dia malah pergi bersama malaikat pencabut nyawa? Tunggu seri twoshoot selanjutnya.
Annyeong….

Advertisements

7 thoughts on “사랑이 운다 “Love is Crying” [TwoShoot – 2 End]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s