1st Anniversary – STAY TOGETHER [Chapter-3]

STAY TOGETHER [Chapter-3]

She’s Your Fiance, And Then Who Am I To You?

Written by. zulfhania

Poster by Laykim © Indo Fanfictions Arts

Main Cast .

Baekhyun (EXO)

Joy (RED VELVET)

Woohyun (INFINITE)

Yuna Kim (THE ARK)

Genre . Romance, Angst, Family, Drama

Length. Multi-Chapter

Rated. PG

Writers .

Alana, DessyDS, Zulfhania, Alifially, Shynim, Sashka, EShyun

Disclamer ||

This FF is presented for Indo Club Anniversary

Storyline in this chapter is mine

DON’T PLAGIAT!

Happy reading~

Previous:

Chapter 1: The Story Begin | Chapter 2: It’s Hurt For Me, But It’s Lucky For You


Hari sudah malam saat Joy keluar dari kampusnya. Memang tak biasanya ia di kampus sampai malam hari. Hanya saja, khusus hari ini, ia ingin berlama-lama di kampus. Ia tidak ingin cepat pulang ke rumah. Ia belum siap untuk bertemu Baekhyun, setelah apa yang dilihatnya pagi tadi. Hatinya masih merasa terbakar cemburu saat melihat pria itu bermain tepung bersama Yuna pagi tadi di dapur. Ia merasa belum siap untuk berjumpa dengan pria itu. Ia berpikir, mungkin, dengan berlama-lama di kampus, dapat membuatnya tidak perlu berjumpa dengan pria itu. Ia berharap saat tiba di rumah nanti, pria itu sudah tertidur hingga mereka tidak perlu bertatap muka.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya saat ia melangkah menuju halte bus. Ia merogoh saku roknya, mengambil ponselnya dari dalam sana.

Nam Woohyun
Kau baru saja keluar kampus? Ya Tuhan! Perlukah aku menjemputmu?

Tanpa sadar, Joy tersenyum, agak miris. Pria itu selalu saja bersikap perhatian yang berlebih padanya. Padahal dirinya sendiri tidak pernah seperhatian ini pada pria itu.

Joy lalu memutuskan untuk membalas pesan tersebut

Joy
Tidak perlu berlebihan. Aku hanya perlu naik bus.

Joy menyimpan ponselnya di saku rok, lalu kembali berjalan menuju halte bus. Sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponsenya, tetapi ia memilih untuk mengabaikan. Mungkin itu Woohyun, yang akan memaksakan dirinya untuk menjemput Joy. Tidak, Joy tidak perlu membalas pesan tersebut. Kalau ia membalas, Woohyun akan terus memaksanya untuk membiarkannya menjemput. Itu benar benar tidak perlu. Joy ingin sendirian sekarang.

Sebenarnya Joy kagum dengan kesetiaan Woohyun selama ini. Pria itu selalu menjadi a shoulder to cry on-nya, memberikan pundaknya ketika ia sedang bersedih. Pria itu selalu menjadi tempat curahan hatinya, apapun yang terjadi. Dan pria itu tidak pernah banyak bicara saat ia sedang bercerita, pria itu hanya diam dan mendengarkan, sambil menatap manik matanya lurus dengan tatapan yang begitu dalam. Kalau saja Joy menyukai Woohyun sebagai pria, mungkin ia akan jatuh dalam buaian mata pria itu. Sayangnya, Joy hanya menganggap pria itu sebagai sahabatnya, tidak kurang dan tidak lebih.

Waktu baru saja menunjukkan pukul tujuh malam, namun jalanan sudah terlihat sepi dan amat mencekam, tidak seperti biasanya. Biasanya jam segini masih banyak orang orang yang berlalu lalang, entah itu baru saja pulang kerja, atau memang hanya sekedar nongkrong. Tetapi entah kenapa, malam ini jalanan tampak lebih sepi dari biasanya.

Joy mempercepat langkah kakinya saat ia merasa bulu kuduknya meremang. Ia merasa seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Ia yakin benar kalau ia mendengar suara langkah sepatu di belakangnya. Tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk menoleh ke belakang. Mungkinkah itu Woohyun? Ah, tidak mungkin. Pria itu membutuhkan waktu 15 menit untuk perjalanan dari rumahnya menuju kampus. Dan kalaupun itu memang Woohyun, pria itu tidak pernah menguntitnya seperti ini. Pria itu pasti akan langsung menegurnya dan tidak akan membuatnya berjalan sendirian. Tetapi kalau bukan Woohyun, lalu siapa? Mungkinkah…. pria jahat?

Joy tampak bernapas lega begitu matanya menangkap halte bus tak jauh di depannya. Disana, ada beberapa orang yang sedang menunggu. Setidaknya, ia tidak akan sendirian saat menunggu bus datang.

Joy semakin mempercepat langkahnya, bahkan sepertinya ia sudah setengah berlari, ketika tiba-tiba saja ia merasa ada angin yang meniup daun telinganya, lalu terdengar sebuah suara, tepat di telinganya.

“Kenapa kau berlari?”

Lantas Joy segera menjerit, memejamkan matanya rapat-rapat. Tangannya terangkat, hendak melayangkan tas tangannya ke kepala seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri tak berjarak di belakangnya.

“Hei, hei, ini aku.” kata orang itu, dengan suara panik, berusaha menghentikan tangan Joy yang hendak memukulnya dengan tas tangan itu.

Gerakan Joy mendadak terhenti. Matanya mengerjap, menatap Baekhyun yang sedang menahan tangannya. Tiba-tiba saja dadanya berdentum hebat.

“B-Baekhyun oppa?!” pekiknya, syok.

“Iya, ini aku.” kata Baekhyun, mendorong kepala Joy untuk menjauh darinya. “Dari tadi aku memanggilmu, tetapi kenapa kau malah berjalan semakin cepat?”

“Aku tidak mendengarnya.” kata Joy, matanya mengerjap, masih merasa terkejut. “Kupikir kau orang jahat yang menguntitku.”

Baekhyun mendesis. Tangannya berkacak pinggang, memperhatikan Joy dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menarik ujung rambut gadis itu. “Manamungkin ada pria yang tertarik dengan gadis sepertimu?”

“Aw!” jerit Joy, memukul tangan Baekhyun yang jahil. “Sakit, tahu!” desisnya.

Joy merapikan rambutnya, sambil berusaha menetralkan degup jantungnya yang mulai tak keruan. “Lagian kenapa oppa menguntitku, sih?!”

“Aku tidak menguntitmu. Aku melihatmu keluar dari kampus, lalu aku memanggilmu. Tetapi kau tidak mendengar, malah berjalan semakin menjauh, berlari. Aku pikir kan kau sedang dalam keadaan yang tidak baik.”

‘Aku memang sedang dalam keadaan tidak baik, oppa, setelah melihatmu dengan Yuna eonni tadi pagi.’ batinnya bergemuruh hebat.

Joy lalu tiba-tiba dikagetkan dengan tangan Baekhyun yang menarik lehernya. “Sudahlah, ayo kita pulang. Aku meninggalkan mobilku di kampus.”

Joy hanya menggerutu saat ia diseret kembali menuju kampus, namun diam-diam dalam hati ia menikmatinya.

“Tetapi kenapa oppa belum pulang? Kau kuliah malam?”

“Tidak.” jawab Baekhyun, menggelengkan kepala.

“Lalu?”

Baekhyun tidak menjawab, hanya tersenyum. Lalu ia melirik Joy, “Kau sendiri?”

Joy memalingkan pandangannya dari Baekhyun, “Aku mengerjakan tugas di perpustakaan.” ia berdusta. Ia memang berdiam di perpustakaan, tetapi tidak mengerjakan tugas. Hanya menghabiskan waktunya disana. Menunggu malam menjemput.

“Kalau begitu aku juga.”

Joy mengernyit. “Apanya yang ‘kalau begitu’?”

Lagi-lagi Baekhyun tidak menjawab, hanya tersenyum saja. Membiarkan Joy semakin penasaran.

Suasana kampus tampak amat sepi begitu mereka tiba disana. Mobil Baekhyun terparkir sendirian di halaman kampus. Baekhyun dan Joy berjalan beriringan menuju mobil tersebut.

“Tadi aku melihatmu dan Woohyun di atap kampus.” kata Baekhyun, ketika mobil mulai bergerak perlahan keluar dari kampus. “Kalian mesra sekali.”

Joy menolehkan kepala dengan mata melotot, terkejut dengan perkataan Baekhyun. “Tidak. Kami tidak seperti itu.”

“Seperti itu yang bagaimana?” goda Baekhyun.

“Seperti yang kaupikirkan.”

“Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?”

“Eh?” Joy mendadak mati kutu. “Terserahlah.” lalu memutuskan untuk mengabaikan ucapan Baekhyun.

Pria itu sialan. Membuatnya kembali merasa gugup, ia kan tidak ingin Baekhyun berpikiran macam-macam mengenai hubungannya dengan Woohyun. Ia hanya ingin pria itu tahu kalau hubungannya dengan Woohyun hanyalah sebatas teman.

“Kau sudah memikirkan apa yang akan kaukatakan pada eomma dan appa-ku?”

“Tentang?”

“Aku yang akan bertunangan dengan Yuna.”

Oh tidak! Joy benar-benar berharap bumi menelan tubuhnya saat ini juga. Kenapa Baekhyun harus mengingatkan hal itu?!

“Kurasa belum.” jawabnya setelah beberapa saat terdiam.

“Kapan kau akan mengatakannya?” tanya Baekhyun, lagi.

“Belum tahu.”

Baekhyun memutar kemudi ke arah kiri, dimana satu-satunya jalan yang akan membawanya menuju rumah.

“Kuharap secepatnya ya, Joy.” kata Baekhyun, terdiam sebentar, lalu kembali berkata, “karena aku sudah mengatakannya pada Yuna. Aku ingin pertunangan kami berjalan secepatnya.”

Joy sudah tahu itu, Baekhyun tidak perlu mengingatkan.

“Akan kuusahakan.” ucapnya.

Baekhyun tersenyum puas. “Aku berhutang banyak padamu.”

Joy tidak menyahut, hanya memalingkan pandangannya ke luar jendela mobil. Hatinya kembali sendu.


Joy melangkah mondar-mandir di dalam kamarnya dengan gelisah sambil menggigit ujung jari tangannya. Dahinya kadang berkerut, kadang tidak, memikirkan sesuatu.

“Apa yang harus kukatakan? Apa yang harus kukatakan?” hanya suara itulah yang sedari tadi keluar dari mulutnya.

Setelah Baekhyun memarkirkan mobilnya tadi di garasi rumah, Joy langsung keluar dan menuju kamarnya. Ia tidak mengucapkan terimakasih pada Baekhyun, bahkan ia tidak menoleh ke arahnya sedikitpun. Entahlah, ia juga tidak tahu kenapa bersikap seperti itu. Hanya saja, ia tidak ingin bersama pria itu lebih lama lagi, ia tidak bisa lagi menahan airmatanya yang sudah menggunung di pelupuk mata.

Niatnya adalah ketika ia tiba di kamar ia ingin segera tidur, memejamkan matanya, segera terjun ke dunia mimpi, menghilangkan segala beban pikirannya hari ini. Namun sayang, semakin ia berniat untuk tidur, semakin pula suara Baekhyun yang meminta pertolongannya bermain di telinganya. Jadilah sekarang, Joy berjalan mondar-mandir di kamarnya, memikirkan perkataan apa yang akan ia katakan pada kedua orangtua Baekhyun untuk mendapatkan persetujuan mereka dalam hubungan pria itu bersama Yuna.

Baekhyun itu memang merepotkan, selalu saja membuatnya stres seperti ini. Untungnya, Joy menyukai pria itu. Kalau tidak suka sih, mana mau Joy rela-rela menghabiskan waktunya untuk membantu pria itu.

Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk, lalu terbuka. Joy menolehkan kepala dan melihat kepala Nyonya Byun menongol dari balik pintu.

“Joy, saatnya makan malam.” kata wanita itu.

Ah, tepat sekali!

Joy menjentikkan jarinya, lalu melangkah mendekati Nyonya Byun. “Bibi, kebetulan sekali, ada yang ingin kubicarakan padamu.” ia menarik lengan wanita itu, menutup pintu kamar, lalu menuntunnya menuju kasur.

“Apa itu?” tanya Nyonya Byun, penasaran.

“Bibi, apakah menurutmu Yuna eonni pantas untuk kau jadikan seorang menantu?”

“Eh?” Nyonya Byun terkejut, tidak menyangka Joy akan bertanya seperti itu.

“Yuna eonni benar-benar wanita yang sempurna untuk Baekhyun oppa, Bibi. Sebelumnya aku tidak pernah melihat Baekhyun oppa mencintai seorang wanita sebesar itu. Kurasa Yuna eonni adalah cinta terakhirnya.” Joy harus menguatkan hatinya saat ia berkata demikian. Dalam hatinya ia menjerit, tidak membenarkan perkataan yang baru saja ia katakan. Cinta terakhir? Bunuh saja Joy kalau memang begitu kenyataannya.

“Menurutmu begitu?” tanya Nyonya Byun, tidak merasa yakin.

“Benar sekali!” ujar Joy mantap, berusaha menarik hati Nyonya Byun agar tertarik dengan ucapannya. “Apakah Bibi tidak dapat melihat tatapan mata Baekhyun oppa saat sedang menatap Yuna eonni? Oh, Ya Tuhan, kalau aku jadi Yuna eonni pasti aku akan merasa luluh saat itu juga. Tatapannya dalam sekali, penuh kasih sayang dan kelembutan.”

“Jadi?”

“Jadi…” Joy menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “kenapa Bibi tidak mempersiapkan pertunangan untuk mereka?”

Nyonya Byun tidak menjawab, hanya menatap Joy.

“Kalau memang mereka belum siap untuk menikah sekarang, setidaknya mereka sudah dalam janji ikatan pertunangan.” lanjutnya.

“Bagaimana dengan kuliahnya?” tanya Nyonya Byun.

“Ah, Bibi seperti tidak kenal anak Bibi sendiri saja. Dia pasti akan semakin semangat kalau Yuna eonni sudah di sisinya. Bibi percaya saja padaku, mereka itu saling mencintai.”

Joy tersenyum pahit di dalam hati saat mengucapkan kalimat terakhir tersebut.

“Kalau begitu, bagaimana denganmu?”

“Denganku?” Joy agak terpekur, lagi-lagi ia merasa dadanya berdentum hebat. Demi menyembunyikan perubahan ekspresinya, Joy mengibaskan tangannya dan tertawa, “Kenapa jadi aku? Tentu saja aku akan mendukung hubungan mereka.”

Nyonya Byun mengangkat alis, meminta pengakuan dari Joy. Ia tahu gadis itu sedang menyembunyikan rasa sakitnya.

Joy akhirnya berhenti tertawa. Menenangkan hatinya sejenak, lalu menggenggam tangan Nyonya Byun. “Aku…” ia menatap lekat manik mata wanita itu. “akan melakukan yang terbaik untuk Baekhyun oppa, apapun itu. Aku akan selalu berdoa yang terbaik untuknya, Bi…”

Nyonya Byun hanya menatap Joy dengan tatapan prihatin sekaligus terharu. Gadis ini benar-benar kuat sekali.


“Ini untukmu.”

Joy hanya menatap sebatang coklat di tangan Baekhyun dengan tatapan horor. “Aku tidak menerima sogokan.”

Baekhyun tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang putih, lalu mengacak rambut Joy. “Ini ucapan terimakasih, tahu!”

Bibir Joy maju satu senti. Ia mengangkat kepala, balas menatap Baekhyun. “Bagaimana?”

Baekhyun kembali tersenyum, lalu menganggukkan kepala. “Mereka sudah bilang setuju, pagi tadi mereka mengatakannya padaku.” katanya, lalu mencubit hidung Joy hingga gadis itu megap-megap. “Kau memang yang terbaik, Joy.”

Joy memukul tangan Baekhyun dengan keras, lalu terengah-engah ketika akhirnya tangan Baekhyun lepas dari hidungnya. Ia menatap Baekhyun yang tertawa dengan hati teriris.

“Lalu kapan? Sudah direncanakan?”

Baekhyun mengangkat bahu. “Appa bilang secepatnya.” ia lalu menoleh pada Joy. “Kurasa aku harus memberitahu Yuna sekarang. Sekali lagi, terimakasih banyak, baby-ku.” katanya, mengacak rambut Joy lagi.

“Aiiissh!” Joy menyingkirkan tangan Baekhyun dengan risih. Lalu ia melihat Baekhyun sudah disibukkan dengan ponsel di tangannya, menghubungi Yuna.

Joy menundukkan kepala, merasakan hatinya yang begitu sakit. Setetes airmata jatuh dari pelupuknya, tanpa ia sadari, namun segera ia seka sebelum Baekhyun melihatnya.

“Kau sudah melakukan yang terbaik, Joy. Tidak apa-apa.” ucapnya pada dirinya sendiri, mencoba untuk tersenyum di tengah rasa sakitnya.


Akhirnya hari pertunangan itu tiba.

Joy berdiri termangu di ambang pintu, melihat Baekhyun yang sedang sarapan bersama orangtuanya dan juga Yuna Kim. Baekhyun tampak gagah dan tampan dengan setelan jas hitamnya. Yuna juga tampak anggun dan cantik dengan setelan gaun putih tanpa lengannya. Dan ia merasakan hatinya kembali patah di beberapa bagian melihat mereka yang tampak begitu serasi duduk bersebelahan disana.

“Joy! Joy! Kok malah melamun, sih? Cepat mandi sana!” Suara Nyonya Byun dari meja makan membuyarkan lamunan Joy dan ia tersadar kalau sedari tadi ia memperhatikan Baekhyun tanpa berkedip.

Baekhyun menoleh dan senyumnya langsung merekah begitu melihat Joy dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Hei, Joy! Sini, sini! Ayo kita sarapan bersama! Mandinya nanti saja.” seru Baekhyun, mengibaskan tangannya.

“Aku mandi dulu saja.” kata Joy, segera pergi dari hadapan Baekhyun sebelum lelaki itu melihat airmatanya yang sudah menggenang di pelupuk mata.


Siapa yang menyangka acara pertunangan Yuna Kim bersama Byun Baekhyun akan semeriah ini. Banyak di antara para tamu adalah orang-orang yang biasa Joy lihat di televisi. Maklum sih, Yuna Kim adalah seorang model terkenal yang saat ini kepopularitasannya sedang melejit bagai roket. Belum lagi dengan Byun Baekhyun, lelaki idola di kampus karena kemahirannya dalam bermain piano. Walaupun saat ini Baekhyun belum terjun di dunia keartisan seperti Yuna, tetapi ia sudah mengantongi kepopularitasannya di kampus sebagai seorang pianis. Yah, jadi tidak heranlah kalau acara pertunangan mereka akan segini hebohnya.

Joy berdiri dengan kaki gemetar di antara para tamu. Tangannya menggenggam erat gagang gelas berisi cairan merah. Matanya mengarah pada sosok Yuna Kim yang berdiri dengan begitu anggunnya di dekat meja minuman sana, bersama dengan beberapa wanita yang tampaknya beberapa di antaranya pernah Joy jumpai di sampul majalah. Yuna benar-benar terlihat amat bercahaya berdiri disana, dengan senyum yang amat cantik dan mempesona, seperti menyihir jutaan para tamu disini. Dan Joy, ia merasa seperti kecil sekali apabila dibandingkan dengan gadis itu. Sudah terlihat dengan begitu jelas kenapa Baekhyun selalu melihat ke arah Yuna Kim. Gadis itu selalu tidak pernah pudar pesonanya.

Joy berjengit kaget saat melihat tatapannya bertemu dengan Yuna. Ia langsung merasa gusar saat melihat Yuna pamit dengan teman-temannya, lalu berjalan menuju arahnya.

“Joy, kenapa kau berdiri sendiri disini?” tanya Yuna, setibanya di sebelah Joy.

“Mm, tidak apa-apa, eonni.” kata Joy. “Hanya…”

Yuna memegang lengan Joy dan menatap gadis itu dengan tatapan lembut. “Kau terlihat gugup.”

“Ah, tidak kok.” Joy menurunkan tangan Yuna dari lengannya dengan agak tertawa, lebih tepatnya memaksakan diri untuk tertawa. “Dimana Baekhyun oppa? Dari tadi aku belum melihatnya.”

Yuna menghela napas. “Tadi dia izin ke toilet. Aku juga tidak mengerti kenapa dia belum juga kembali.”

Joy hanya membulatkan mulutnya. Matanya mengarah ke pintu keluar, entah kenapa ia mendapat firasat kalau Baekhyun ada disana. Ia menimbang-nimbang sesaat, berpikir apakah ia perlu mencari Baekhyun atau tidak.

“Eonni, aku pergi mencari angin dulu.” pamit Joy, memutuskan untuk mencari Baekhyun.

Yuna hanya tersenyum kecil. “Angin tidak perlu dicari, Joy, nanti juga akan datang sendirinya. Seperti cinta.”

Rasanya Joy ingin muntah mendengar Yuna berkata seperti itu.

Joy berlalu melewati kerumunan para tamu dengan susah payah sambil mengucapkan ‘permisi’ berulangkali. Tak sengaja, ia menyenggol seorang pria yang membawa kamera ketika melewati penerima tamu.

“Maaf.”

“Tidak apa-apa.” kata pria itu sambil membenarkan tas talinya yang merosot. Begitu ia mengenali siapa gadis yang menbaraknya, pria itu sempurna terkejut. “Joy?”

Joy yang sudah berlalu tanpa menunggu pria itu memberi respon kembali menolehkan kepala dan juga terkejut melihat pria itu. “Woohyun?”

Woohyun tersenyum, tidak menyangka kalau ia akan bertemu Joy saat pertama kali ia datang.

“Kau datang?” tanya Joy, lalu matanya memicing ke arah pria itu. “Memangnya kau diundang?”

Woohyun agak tertawa, ia menunjukkan kamera yang dikalungkan di lehernya. “Aku fotografer disini.”

Mata Joy membulat terkejut. “Benarkah? Kok bisa?”

Woohyun mengulum senyum. “Tentu saja bisa. Aku kan orang dalam.”

Joy meledakkan tawa. “Ya, ya. Aku percaya. Oh ya, kau melihat Baekhyun oppa?”

Senyum Woohyun menghilang saat Joy bertanya demikian. “Tidak.” jawabnya singkat. “Aku harus bertugas sekarang.”

Woohyun masuk ke dalam tanpa menoleh ke arah Joy lagi. Joy hanya memperhatikan punggung Woohyun dengan kebingungan. Ia mengangkat bahu, lalu kembali mencari Baekhyun.

Joy tidak tahu, kalau Woohyun kembali menoleh ke arahnya saat gadis itu melangkah kembali ke luar. Woohyun memperhatikan punggung Joy yang semakin menjauh dengan hati terluka.

“Kapan kau akan melihat ke arahku, Joy?” katanya lirih.


Joy menemukan Baekhyun duduk di tangga darurat. Tempat itu lumayan sepi, tidak banyak orang yang lewat. Orang-orang lebih memilih naik lift atau eskalator daripada naik-turun tangga.

“Pestanya bukan disini, oppa.” Joy menuruni anak tangga.

“Hei, Joy.” Baekhyun menggeser bokongnya, mempersilakan Joy untuk duduk di sebelahnya.

“Kau mengagetkanku saja.”

“Ada masalah?”

Baekhyun hanya tersenyum. “Tidak. Hanya saja tiba-tiba aku merasa sesak berada di dalam.” ia menoleh pada Joy. “Aku ingin bertanya padamu.”

Joy menahan napas, sambil menguatkan hatinya, berharap apa yang dibicarakan Baekhyun tidak menyangkut dengan perasaannya ataupun yang berhubungan dengan Yuna. Ia akan merasa rapuh saat itu juga kalau Baekhyun membicarakan hal tersebut.

“Menurutmu, apakah pertunangan ini terlalu mendadak?” tanya Baekhyun. Joy tidak menjawab, lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa. “Tadi pagi, aku merasa sangat yakin dengan pertunangan ini. Tetapi begitu berada di dalam ruangan tadi, aku merasa… entahlah, tiba-tiba aku takut merasa kehilangan…”

“Kehilangan apa?”

“Kamu.”

“Eh?” Joy merasa ada dentuman keras di dadanya. “Kok aku?”

Baekhyun tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan wajah Joy lekat-lekat tanpa berkedip, dan hal itu membuat perut Joy tergelitik, seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Ia sungguh tidak tahan ditatap seperti itu oleh Baekhyun. Maka dari itu ia menarik ujung rambut Baekhyun demi memecahkan lingkaran udara aneh di antara mereka. Lalu, seperti biasanya, Baekhyun akan membalas menarik hidung Joy. Mereka tertawa, melakukan hal kekanakan yang begitu konyol. Tetapi tetap saja, mereka menikmatinya karena itu terasa menyenangkan untuk mereka.

“Hal seperti ini nih yang akan aku rindukan.” kata Baekhyun.

Joy mengusap-usap hidungnya yang memerah. “Oppa melow sekali sih. Nanti juga kalau kau sudah menikah, kau akan lupa padaku dengan sendirinya.”

“Aku tidak akan melupakanmu, Joy.” sela Baekhyun.

Joy setengah mati menahan mual di dalam perutnya. Ya Tuhan, ia benar-benar sudah tidak tahan. Ia harus pergi dari sini sekarang juga kalau ia tidak mau pingsan di depan Baekhyun.

“Sudahlah, yuk, masuk ke dalam.” ajak Joy, bangun dari duduknya, lalu menarik tangan Baekhyun membantunya berdiri.

“Kuharap setelah kami menikah nanti, kita tetap terus seperti ini ya, Joy. Sepertinya aku tidak bisa hidup tanpamu.” kata Baekhyun tersenyum, senyumnya membius hati Joy.

“Ha ha ha…” Joy tertawa sarkatis, membuat Baekhyun menarik hidung Joy lagi.

Joy mendorong Baekhyun, lalu tertawa. Baekhyun membalas. Dan mereka saling dorong dan tertawa.

“Byun Baekhyun, kau kemana saja?”

Tiba-tiba saja Yuna Kim sudah berdiri di depan mereka dengan tangan terlipat di depan dada, menatap lurus manik mata Baekhyun dengan tatapan marah.

Joy segera menciut, memilih mundur dan menjaga jarak dari Baekhyun. “Biasa, Yuna eonni. Baekhyun oppa demam panggung.”

Yuna mendengus lucu. “Kau ini masih saja seperti itu.” ia lalu meraih lengan Baekhyun dan menggandengnya dengan begitu mesra. “Ayo, ke dalam.”

Dengan langkah gontai dan tak bertenaga, Joy mengikuti mereka di belakang. Ia tersenyum pahit saat melihat Baekhyun menoleh ke arahnya selama sedetik dan mengucapkan ‘Love you’.

Rasanya, Joy ingin mati sekarang juga.


Acara pertunangan berlangsung dengan sempurna. Sesi tukar-menukar cincin baru saja usai dengan diakhiri oleh Baekhyun yang mengecup mesra kening Yuna dengan penuh kasih sayang.
Joy berdiri tak jauh di depan mereka dengan tangan yang meremas ujung gaunnya. Hatinya terbakar cemburu sampai-sampai ia merasa dadanya sesak. Joy memalingkan wajah, memilih untuk tidak melihat ke arah mereka lagi. Dengan langkah ragu, ia meninggalkan acara, tanpa siapapun yang mengetahuinya.

Ketika Joy keluar dari ruangan, Woohyun keluar dari tempat persembunyian dengan tangan memegang kamera. Ditatapnya punggung Joy yang semakin menjauh dengan tatapan prihatin sekaligus terluka. Di tangannya, di layar kamera, tampak gambar seorang gadis yang sedang menahan tangis, airmatanya mengambang, bibir bawahnya digigit, urat keningnya menegang. Wajah gadis itu menunjukkan kepedihan, rasa sakit, dan putus asa.

Gadis itu adalah Joy.

Woohyun yang memotretnya beberapa menit lalu, sebelum gadis itu keluar ruangan.


“Apa yang kaulakukan disini?”

Joy menoleh dan melihat Woohyun berjalan ke arahnya lalu mengambil posisi duduk di sebelahnya, di tangga darurat, tempat dimana ia duduk bersama Baekhyun tadi.

“Tidak ada. Hanya ingin saja.” jawab Joy. “Kau sendiri?”

Woohyun melonggarkan dasi yang ia pakai. “Di dalam sesak sekali. Aku butuh oksigen lebih banyak.”

Joy tersenyum, agak pahit. “Ya. Di dalam memang sesak sekali.”

Woohyun menoleh dan menemukan wajah Joy yang kembali bersedih. Ia tahu arti ‘sesak’ yang dimaksud oleh gadis itu. Sesak dalam arti yang lain, bukan arti yang sesungguhnya.

“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Woohyun, teringat dengan gambar wajah Joy yang baru saja ia potret beberapa menit yang lalu di kameranya.

Joy tertawa, palsu. “Kau ini bertanya apa, sih? Tentu saja aku baik-baik saja.”

Woohyun hanya tersenyum mendengarnya, tersenyum miris. ‘Tawamu tampak menyakitkan, Joy…’

Woohyun memperhatikan Joy tanpa berkedip, kemudian sebuah ide melintas dalam benaknya. “Agar kau tidak bersedih lagi, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?”


“Iya, iya, ini aku baru saja keluar dari kamar.” kata Joy sambil menutup pintu kamar, sementara tangannya yang lain memegang ponsel yang ditempelkan di telinga. “Kau dimana? Sudah di depan?”

Joy bergegas menuju ruang tengah, meletakkan tas tangannya di atas sofa, lalu berjalan ke arah ruang makan. Niatnya adalah ia ingin mengambil selembar roti tawar untuk mengganjal perutnya agar tidak kelaparan, karena Woohyun sudah menunggunya di depan rumah. Namun yang terjadi adalah ia melihat suatu pemandangan yang amat membuat hatinya kembali tercabik-cabik. Karena di depan sana, di meja makan, tampak Baekhyun dan Yuna sedang duduk berhadapan, saling bersuapan dengan begitu mesra. Tidak ada Tuan Byun maupun Nyonya Byun. Hanya Baekhyun dan Yuna disana.

“Oh?” Baekhyun baru menyadari kehadiran Joy dan memperhatikan gadis itu yang berdiri mematung dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Joy? Kau rapi sekali? Kuliah?”

Yuna juga menoleh ke arah Joy dan menemukan gadis itu sudah berpakaian rapi dengan dress merah polkadot tanpa lengannya.

“Aku akan segera keluar.” bisiknya pada Woohyun di balik ponsel, lalu mematikan sambungan. Ia menatap Baekhyun dan Yuna bergantian. “Hm, aku pergi kuliah dulu.”

Baekhyun tersenyum jahil. “Aih, tidak mungkin kau kuliah dengan pakaian seperti itu. Kau akan berkencan? Ya, kan?”

Joy mendengus lucu. “Apapun katamu.” ia mengambil kembali tas tangannya, mengalungkannya di ketiak, dan berlalu pergi.

“Dia berkencan, aku tahu itu.” kata Baekhyun, menyimpulkan, dengan suaranya yang amat sangat sok tahu.

Joy menolehkan kepala, agak sebal dengan ucapan sok tahu Baekhyun itu. Namun air mukanya berubah terkejut saat ia menangkap sesuatu yang berkilau tertabrak oleh cahaya lampu yang melingkar pada seutas tali di leher pria itu.

Joy menyipitkan mata, memperjelas penglihatannya pada suatu benda yang ada di leher Baekhyun. Dan begitu ia mengenali benda tersebut, ia menahan napas, mendadak tubuhnya membeku, amat sangat terkejut.

Benda yang melingkar di seutas tali di leher Baekhyun itu…. adalah cincin pemberiannya saat pria itu berulangtahun.

Baekhyun…. memakai cincin pemberiannya untuk dijadikan kalung.

—tbc

Chapter 3 is here! akhirnya kelar dan dapat dipos juga, cihuuuuy

di chapter ini ada beberapa kalimat dan scene yang aku kutip dari novel DIA karya Nonier, selebihnya adalah kalimat milikku. Hm, agak biasa aja sih scene disini, abis bingung banget mau ditambah kayak gimana, yang penting di chap ini adalah…. akhirnya yuna dan baekhyun bertunangan! hmm, gimana nasib Joy setelah itu yaa,

Oke, chap selanjutnya kuserahkan pada Alifially. SEGERA DITINDAK LANJUTI! copas kalimat kak lana :p

Oh iya, selamat ulangtahun buat INDO FANFICTION! Semoga makin sip ya—mau blognya, adminnya, writersnya, designernya, dan readersnya, dan semoga gaada yg silent reader lagi disini yaa hihi…

Advertisements

12 thoughts on “1st Anniversary – STAY TOGETHER [Chapter-3]

  1. ahh Joy kasihan =,= tapi kenapa sikap baekhyun diakhir cerita itu kalau baekhyun pakai kalung yang disematkan itu Ada cincin pemberian dari Joy pas waktu baekhyun ultah?

  2. kyaaaa kyaaaaa aku nggak tau ini manis apa nyesek dua-duanya nyatu wkwk. huaa aku suka.. dan aku harus ngelanjutin hm hm hm semoga bisa mengimbangi ya :”

  3. Huaaaaaa Zul cepet amat ngepost. Hahahhaa Chapter ini nyesek. Kasian sih ngeliat joy yg di siksa batinnya. :’) cinta bertepuk sebelah tangan memang tdk ada enaknya. Nyeseknya lbh bnyk dri pda senengnya. Hahaha
    Oke oke… untuk chap ini kyknya gk ada krng deh. Feelnya dpet bgt. Hahaha
    Dan buat author selanjutnya hwaiting untuk next chapter nya. 😀

    • haha iya nih kak daripada nunda nunda ntar malah lupa lagi hehe
      iya ya kak aku baru nyadar kalo di chap ini banyak bgt scene nyeseknya, gak kerasa kalo lagi nulis tuh hihi
      ahaha makasih kak dessy :3 aku malah jadi penasaran selanjutnya bakal kayak gimana, baekhyun nyebelin sih hihi

  4. Hadeuh….. ini Baekhyun ngapain sih. Dah maksa2 Joy buat bilang k ortunya terus tunangan dan sekarang malah pake benda pemberian Joy. Kasihan Joy. Dahlah Joy ma Woohyun ja. Woohyun ga kalah ganteng kok hee…hee….
    Semangat ya untuk lanjutannya. Fighting!!!!

  5. OMG udah keluar chp.3…O.Ov..
    Zul, ini kerasa banget mirisnya buat Joy, apalagi Woohyun nya..aq ngerasa bener telak buat Joy, and Baekhy sempurna jadi Baekhy yg kita harapkan../apa coba/ . kamu kalo nulis rapi, gada typos Zul..sukses! Miris banget, nonjok perasaan Joy merana, aq suka pas bagian Woohyun…” Kapan kau akan melihat ke arahku Joy!” itu dalem banget, maknanya…aq jadi ngerasa ..ada apa dengan mereka berempat ini…hahaha, padahal udah tahu. Yak, tapi jalan ceritanya yg bikin nyesek. Ini ga sad, tapi menyakitkan..angstnya keliatan. Suka banget…keren. Oke sip untuk selanjutnya ditunggu !

    • haha iya kak biar gaada tanggungan lagi setelah ini wkwk
      aku sendiri baru nyadar loh kak pas baca ulang, ternyata chap ini lebih banyak nyeseknya, joy tegar banget :”)
      waaaaks~ kalimat woohyun itu entah kenapa tiba2 melesat dlm pikiranku /azeeek/
      walaupun udah tau jalan ceritanya kayak gimana tapi tetep aja penasaran ya kak, soalnya bukan cuma kita sendiri yg nulis fic ini hihi
      okaaaay, makasih kak lanaaaa 😀

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s