1st Anniversary – Protect the Princess [PART 2]

req-qintazshk

qintazshk with Joonisa, slmnabil, Uniquechildish and dohayee’s present 

⌊ Protect the Princess⌋

RV’s Irene, JYJ’s Jaejong and Yoochun, T-ARA’s Eunjung

add EXO’s Suho

PG-17 [for cursing and others]  | Romance-Action | Chaptered | Poster by Laykim @ Indo Fanfictions Art [thank you so muuuch kak ❤

Presented for 1st Anniversary Indo Fanfiction! ❤

enjoy this fanfiction and create your imagination ^^

“Kau sudah selesai mengerjakan tugasmu, Eunjung?”

Lelaki dengan rambut blonde-nya itu melangkahkan kakinya lamat-lamat mengitari meja satu-satunya yang ada di ruangan itu. Iris matanya yang berwarna htam pekat itu menatap dalam-dalam perempuan yang menjadi lawan bicaranya.

“Astaga, oppa. Aku tidak akan berlibur kalau urusanku masih belum selesai. Sekarang tinggal giliran oppa. Lakukan yang terbaik, seperti yang aku lakukan, Jaejong oppa.”

“Cih,” –lelaki bernama Jaejong itu mendecak sebal- “kau baru membunuh dua orang saja sudah berlagak seperti yang sudah membunuh dua ratus orang. Jangan bertingkah-“

“Aku ini adikmu dan sifat ini aku dapatkan darimu, oppa.” Eunjung menghela napas kasar tak sabaran. Ia lalu bangkit dari kursi yang sedang didudukinya dan segera pergi menuju pintu.

“Lakukan apa pun yang mau kau lakukan sepuasmu, oppa. Aku tidak mau terlibat lagi.”

Tidak, ucap Eunjung dalam hati. Ia menahan napasnya kuat-kuat. Tak terima jika kakak laki-laki yang sangat disayanginya melihat air matanya, walaupun itu hanya sedetik. Eunjung tidak akan rela.

“Tidak setelah aku membunuh Lay.”

 

 

Puluhan orang sibuk berlalu lalang di hadapan gadis bernama Bae Irene itu bahkan tidak sekalipun membuatnya tertarik. Iris matanya yang berwarna cokelat itu bersinar redup. Pandangan matanya kosong menatap ke hadapan layar laptop yang ada di hadapannya. Bibirnya yang diwarnai lipstick merah muda sesekali terbuka, mendesah putus asa.

“Siapa pun pasti curiga kalau Irene ikut andil dalam kasus pembunuhan Lay dan Jinyoung.” Bisikan dari seorang perempuan yang menjadi rekan kerja Irene itu, tak kunjung ia hiraukan.

“Pasti bukan. Ia bahkan menangis saat harus melaporkan berita kematian mereka.” Perempuan yang satu lagi menyahut, berusaha membela Irene yang ia yakini tak bersalah dalam kasus pembunuhan yang terjadi kemarin.

“Ia pintar berakting makanya-“

“Joohyun-a?”

Seorang laki-laki yang muncul dengan rambut hitam legamnya yang sedikit menutupi iris matanya yang cokelat tiba-tiba saja muncul di hadapan Irene. Bahkan suara laki-laki itu tak membuat Irene berpaling dari layar laptopnya.

“Joohyun, aku memanggilmu.”

Irene mendongakkan kepalanya lalu tersenyum kikuk setelah suara lelaki yang cukup lantang itu menghampiri gendang telinganya.

“Sejak kapan kau datang?”

Irene kali ini sudah sepenuhnya bangkit dari duduknya dan memeluk kilat laki-laki di hadapannya yang memberinya senyum paling tulus yang pernah Irene lihat sejak kejadian pembunuhan kedua temannya. Irene memutuskan untuk membalas senyuman itu dengan senyuman yang lebih ‘pantas’.

“Tidak penting sudah berapa lama sejak aku sampai. Ayo, kita makan siang, Bae Joohyun. Aku tahu kau lapar.” Lelaki itu menatap lekat perempuan yang sedang menampakkan wajah aku-tidak-lapar-nya.

“Aku sudah menolak dipanggil Joohyun lagi, Kim Junmyeon.”

“Kalau begitu kau harus berhenti memanggilku Junmyeon.” Lelaki bernama Junmyeon itu menyentuh puncak kepala Irene, mengacak rambut panjang Irene yang berwarna kecokelatan. “Panggil aku Suho dan aku akan memanggilmu Irene.”

Dengusan kasar dari bibir Irene membuat Suho tertawa keras-keras. Tawanya yang mengundang beberapa perhatian orang-orang, memaksa Irene –dengan tatapan tajam mereka- untuk menangkupkan tangannya di mulut Suho agar gemelegar suara tawa Suho tidak terlalu kentara terdengar. Namun, bukannya hilangnya suara tawa Suho yang didapat Irene, tapi ia mendapati dirinya sendiri yang ikut tertawa kegirangan.

DOR!

Dengan cepat, Suho segera meraih lengan Irene dan menggenggamnya erat.

Mata Suho awas mengamati keadaan area kantor Irene yang terlihat berantakan. Puluhan pria berbaju serba hitam dengan cepat menyerbu area itu, memaksa rekan kerja Irene untuk keluar dari tempat itu.

“Lari, Irene!”

Suho menarik lengan Irene dan membawanya serta Irene segera pergi dari ruangan yang sudah dikepung oleh laki-laki yang sedang mencari keberadaan Irene. Tanpa menunggu lagi, Suho segera membawa Irene berlari bersamanya menuju tangga darurat.

Langkah demi langkah yang Suho dan Irene rajut bersama membawa mereka dengan cepat menuju lantai empat. Lima lantai sudah terlewat dan hingga kini, mereka masih bisa bernapas lega karena tak ada satu pun senapan yang mengenai tubuh me-

DOR!

“Argh!”

Tubuh kelelahan Suho ambruk. Lengan kanannya mencengkram kuat lengan kirinya. Timah panas itu berhasil menembus permukaan kulitnya. Membuat tetesan darah mengucur dari lubang kecil itu.

“Suho! Kau tidak apa-apa?”

Suho ingin mengeluh sebentar saja kalau ia sedang tidak baik-baik saja. Namun mengingat nyawa gadis di hadapannya sedang dalam bahaya membuat Suho mengangguk cepat.

“Kau harus dibawa ke ru-“

“Tidak.” Suho menggigit bibir bawahnya, menahan perih saat jarinya berusaha mencungkil peluru yang bersarang di otot lengannya. Dengan cekatan, Suho merobek kemeja putihnya dengan kasar lalu melilitkannya di tangannya yang terkena luka tembak. “Ini luka tembak biasa.”

“BIASA?!”

Jeritan Irene ditambah dengan wajah khawatirnya –yang menurut Suho sangat berlebihan- membuat Suho tertawa pelan.

“Oh Tuhan, jangan tertawa Suho. Sejak kapan kau sudah biasa dengan luka tembak seperti ini? Apa kau melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui? Kau menyembunyikan sesuatu?”

Suho terkikik pelan lalu bangkit dari duduknya. “You sound like a worry wife about her husband, don’t you?”

You wish!” Irene memukul lengan Suho gemas. “Tapi ‘kan mungkin saja. Oh astaga, kau sudah menjadi kekasihku berapa lama, Irene?”

“Huh,” –Irene mendenguskan napas sebal- “jangan ungkit-ungkit itu lagi.”

Tahu-tahu, derap langkah berat yang terdengar dari lantai atas membuat Suho kembali mengamit lengan Irene.

“Kita harus lari. Ayo!”

Tanpa menunggu lagi, Suho dan Irene kembali berjalan menuruni tangga darurat. Tiga lantai lagi untuk sampai ke lantai satu dan Suho mulai kehabisan tenaga.

“Berhenti kalian!”

PRANG!

Suho menarik tubuh mungil Irene ke dalam pelukannya agar perempuan itu tidak terluka terkena pecahan kaca yang baru saja pecah. Lengannya yang kekar menutupi puncak kepala Irene dan pundaknya.

“Langsung masuk mobilku saat kita sampai, oke?”

Irene mengangguk dan kembali berlari bersama Suho dengan puluhan orang berlarian di belakang mereka. Sesampainya di basement, Irene segera masuk ke mobil sedan hitam milik Suho, mengambil alih kemudi sementara Suho melawan beberapa lelaki kekar itu.

Satu pukulan telak mengenai perut Suho, membuat Irene yang sedang menatap laki-laki itu menjerit tertahan. Sekuat tenaga, Suho bangkit dan balas memukul lelaki tadi. Setelahnya, ia segera berlari menuju mobilnya yang sudah siap meluncur menembus angin malam.

“Jalan!”

Kaki mungil Irene segera menggapai pedal gas setelah mendengar teriakan Suho. Mobil sedan itu baru saja benar-benar pergi ketika Suho masuk sembari menutup pintu mobilnya kencang yang tanpa ampun memekkakkan telinga.

Benda hitam itu meluncur cepat keluar dari basement meninggalkan puluhan lelaki kekar itu tak peduli.

“Kau tidak apa-apa, Suho-ya?

Suho tersenyum geli mendengar panggilan Irene yang menurutnya lucu. Ayolah, ini mungkin pertama kalinya Irene memanggilnya seperti itu. Setidaknya dalam ingatan Suho. Ia lalu mengangguk ketika pandangannya bertemu dengan sinar mata Irene yang meredup.

“Kau masih ingat alamat yang aku tunjukkan kemarin, ‘kan? Kita ke sana.”

 

 

“PERGI KALIAN!!”

Teriakan pemuda dengan rambut blonde itu tidak dihiraukan anak buahnya. Kelakuan anak buahnya itu membuat ia geram. Dengan segera, ia meraih senapannya dan mengacungkan benda itu ke hadapan anak buah sekaligus kaki tangan kepercayaannya.

“Kenapa kau meloloskan wanita itu?”

Lelaki berambut blonde yang bernama Jaejong itu menatap marah pria yang di hadapannya. Yang ditatap hanya menatapnya balik tanpa ketakutan.

“Ia dilindungi seseorang. Agen rahasia lain yang tidak kau ketahui, Kim Jaejong.”

Rahang Jaejong mengeras setelah mengetahui fakta bahwa ada satu hal yang tidak ia ketahui tentang targetnya kali ini. Kenyataan ini membuatnya marah. Baru kali ini ia kedapatan tidak mempunyai semua informasi mengenai korbannya.

“Orang ini bukan Yoochun, seperti yang kau kira. Orang lain.”

“Kalau begitu,” –Jaejong menaruh senapannya dan kembali duduk di kursi kebesarannya- “habisi orang itu dan bawa Irene dengan segera. Lelaki itu mati dan Irene hidup. Mengerti?”

Semua anak buah Jaejong yang berada di situ mengangguk cepat sebelum Jaejong berubah pikiran lalu kembali meraih senapannya dan menembak salah satu dari mereka. Detik berikutnya, ruangan itu sudah lenggang, menyisakan Jaejong yang duduk terdiam di kursinya.

Oppa!

Pintu kayu itu berdecit pelan ketika Eunjung tanpa permisi masuk ke dalam ruangan Jaejong. Lelaki itu hanya berdecak sebentar lalu kembali menatap layar ponselnya. Mengabaikan Eunjung yang sedang terengah-engah mengambil napas setelah berlari dari kamarnya menuju ruangan gelap itu.

“Aku punya berita penting.”

“Aku akan mendengarkan asal berita itu mengenai Irene. Kalau tidak, kau bisa meninggalkan ruangan ini segera, adik manis.” Jaejong menyunggingkan senyum tipis. Pandangan matanya bertubrukan dengan tatapan Eunjung yang seolah mengejeknya.

“Ini tentang Irene, tentu saja.”

Eunjung tersenyum lebar penuh kemenangan ketika kakaknya menatap dirinya antusias. Eunjung sadar sepenuhnya kalau hanya hal yang berkaitan dengan Irene-lah yang penting untuk kakaknya sekarang. Setidaknya sampai kakaknya berhasil melakukan rencananya.

“Kita masih dalam rencana awal, ‘kan? Kalau iya, Irene sudah dalam genggaman tanganmu, oppa.

“Maksudmu?”

“Bodoh.” Eunjung menatap kakaknya tak percaya, tetapi Jaejong tak menanggapi makian adiknya itu. “Ia masuk ke dalam jebakanmu. Kalau oppa bergerak cepat, oppa bisa mendapatkan keduanya.”

“Keduanya? Maksudmu…-“

“Iya. Irene sudah bersama Yoochun.”

 

 

Bintang-bintang bersinar terang saat ini. Berbanding terbalik dengan keadaan Irene yang sedang tidak semangat mengagumi bintang-bintang yang biasanya ia sukai. Desahan napas kelelahan keluar dari bibirnya, begitu juga Suho.

“Ini rumah siapa, Suho?” spontan, Irene bertanya ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah yang sama sekaali tidak Irene kenali.

“Dia rekanku di kantor. Ia akan membantu kita untuk meloloskanmu dari kejaran orang-orang tadi.” Suho meraih tas biru besarnya lalu membawanya. Sementara tangan satunya menggenggam Irene, membawa perempuan itu masuk ke dalam rumah sederhana yang sudah sangat ia kenal.

“Apakah orang itu sebegitu bencinya padaku sampai-sampai ia ingin membunuhku?”

Perkataan lirih dari bibir tipis Irene membuat Suho menoleh cepat. Lelaki itu lalu membawa Irene ke dalam pelukannya ketika mata indah Irene mulai meneteskan air mata.

“Bukan kau yang ia benci. Kau tidak perlu takut.”

Air mata yang tumpah dari mata Irene membuat kaus abu-abu Suho menjadi basah. Tetapi, toh Suho tidak peduli. Ia hanya peduli pada satu hal dan hal itu kini berada di pelukannya. Aman bersamanya.

“Ada yang harus aku lakukan di sini sampai besok pagi. Kita tidur di sini, tidak apa, ‘kan? Atau kau mau kita tidur di apartemenku saja?”

Opsi yang diberikan Suho membuat Irene terdiam. Opsi yang kedua terdengar lebih menjanjikan mengingat sudah puluhan kali Irene datang ke apartemen milik Suho. Tetapi mengingat lengan Suho yang tertembak tadi membuat Irene mau-tak mau lebih memilih opsi pertama.

“Ah, kalian sudah datang.”

Suara berat di dekat Suho dan Irene membuat mereka melepaskan pelukan mereka dan menatap seorang laki-laki yang sedang berdiri di hadapan pintu masuk dengan senyum di bibirnya.

“Nah, ini Yoochun.” Suho menjabat tangan lelaki yang dipanggil Yoochun itu lalu memintanya bersalaman dengan Irene. “Kau sudah mendengar banyak tentang Irene. Jadi, aku yakin aku tidak perlu menceritakan apa-apa lagi, bukan?”

“Iya. Senang bertemu denganmu, Irene-ssi.

“Begitu pula aku.” Irene membalas senyum Yoochun lalu kembali berdiri di dekat Suho.

“Masuklah. Sepertinya ada yang butuh pertolongan saat ini.”

Suho menutup pintu di hadapannya pelan sekali. Berusaha tidak menimbulkan suara apa pun agar seseorang yang sedang tidur di dalamnya tidak terbangun.

“Dia sudah tidur?”

YA!”

“Apa, sih? Kenapa kau terkejut seperti itu?”

Suho mengelus dadanya, tepat di tempat jantungnya berada. Jantungnya kini berdetak cepat setelah mendengar suara Yoochun yang mengagetkannya. Penyebabnya malah menampakkan wajah tidak berdosa seolah-olah ia tidak bersalah.

“Kau mengagetkanku, hyung.” Suho berjalan diikuti Yoochun di belakangnya.

Yoochun melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah lalu kembali menghisap cairan hitam pekat kesukaannya sembari melipat kakinya. Suho yang melihat aktivitas Yoochun hanya bisa tersenyum tipis.

Hyung harus mulai mengurangi konsumsi kopi. Terlalu banyak kafein di dalamnya.”

“Kau ini agen rahasia Negara, sama sepertiku. Bukan seorang dokter yang kerjanya hanya mengoceh soal kesehatan.” Yoochun menatap Suho sebal.

“Setidaknya aku harus melakukan apa yang biasa Jinyoung lakukan. Mengingatkanmu makan, memberi peringatan saat kau pulang terlalu larut, atau…,” –Suho kembali menatap Yoochun ragu- “menyeretmu keluar dari ruanganmu kalau kau terlalu sibuk.”

Tahu-tahu saja ruangan itu lenggang. Baik Suho atau pun Yoochun tidak ada yang ingin mengeluarkan suara bahkan dehaman untuk mengisi kekosongan yang tercipta di antara keduanya.

“A-aku minta maaf, hyung.

“Tidak apa. Ia baru tiga hari pergi tapi aku sudah merindukannya.”

Suho merasa dadanya tertohok oleh kata-kata Yoochun. Ia harusnya bisa mengontrol bibir tipisnya yang pucat agar tidak mengungkit nama Jinyoung jika sedang bersama Yoochun. Kemana perginya hati Suho?

Kecanggungan itu membuat Yoochun berdeham pelan. Suho menyandarkan punggungnya di sofa yang ia duduki sembari menatap kertas-kertas yang ada di genggamannya.

“Kemana kau akan membawa pergi Irene?”

Suho mengernyit heran ketika mendengar keraguan dari suara Yoochun.

“Entahlah…,” Suho tidak ingin merasa ragu untuk menjawab pertanyaan Yoochun, tapi entah mengapa ia ragu pada teman baiknya sendiri sekarang. “apartemenku mungkin masih aman untuk ditinggali.”

“Apa kalian akan terus melarikan diri dari semua ini?”

“Aku dan Irene hanya lari dari kejaran Jaejong. Ia seharusnya tidak menjadikan Irene sebagai sasarannya. Bukan Irene orang yang tepat untuk ia jadikan pelampiasan.” Suho tahu nada suaranya terdengar marah walaupun sesungguhnya ia ingin terdengar tenang.

“Kalau Jaejong berhasil mene-“

“SUHO!”

 

 

“Jadi selama ini kau yang memonitori kegiatan Yoochun?”

Jaejong menatap sekilas adiknya yang duduk di kursi penumpang lalu kembali menatap jalanan Seoul yang lenggang pada saat tengah malam. Beberapa tetes hujan mulai turun membasahi aspal hitam pekat itu.

“Kau pikir aku berhasil membunuh Jinyoung karena apa, oppa? Semua CCTV itu memberi seluruh informasi. Alat penyadap yang aku pasang pun aku rasa bermanfaat, sangat.”

Sekali lagi, Eunjung merasa menang kali ini. Perasaan yang Eunjung rasakan saat Jaejong tersenyum bangga padanya membuat ia senang. Ia sungguh tidak peduli walaupun kakaknya berbangga atas dirinya karena hal buruk. Ia hanya tahu rasa senang ketika kakak sematawayangnya yang tidak pernah tersenyum beberapa tahun terakhir itu kini tersenyum, walaupun masih terlihat aneh.

“Mereka masih ada di rumahnya?”

Jaejong berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak menatap layar laptop yang sedang dipandangi Eunjung.

“Laki-laki yang ingin oppa temui juga ada di sana.” Jemarinya Eunjung dengan lihainya menari-nari di atas papan ketik. Menuliskan kode-kode rumit yang Jaejong bersumpah tidak ingin ia pelajari sampai kapan pun.

“Kau yakin?”

“Iya. Lelaki ini sama dengan yang menyelamatkan Irene di kantornya tadi siang. Aku yakin seratus persen dan…,” –Eunjung menatap mobil yang ia tumpangi lalu menatap kakak lakinya aneh- “laki-laki itu bisa tertangkap kalau oppa menyetir lebih cepat.”

“Kalau aku menyetir dengan gayaku, anak buahku yang tengil itu tidak akan bisa mengejar.”

“Seenaknya!” Eunjung menjitak keras kepala Jaejong tanpa ampun. “Mereka mungkin tidak terlatih menghadapi kelakuan oppa yang menyebalkan, tapi mereka terlatih untuk mengendarai mobil dengan cepat.”

Sedetik kemudian, mobil hitam Jaejong yang diikuti mobil-mobil lainnya di belakang, melaju dengan kecepatan di atas angka seratus menuju rumah yang sudah Jaejong kenali. Rumah yang sudah Jaejong pijaki selama lebih dari dua tahun.

Rumah yang penuh dengan kenangan akan siapa ia sekarang. Saksi bisu kedekatannya dengan Yoochun. Jaejong hanya berharap Yoochun akan membuang seluruh kenangan itu ke tempat sejauh-jauhnya. Jaejong ingin memiliki kenangan itu seutuhnya tanpa Yoochun ikut ke dalamnya.

“Semuanya bersiap!”

Teriakan dari Eunjung membuat Jaejong tersadar.

“Anak buahmu sudah siap semua, oppa. Sekarang,” Eunjung menutup layar laptopnya lalu menaruh benda persegi panjang itu di kursi belakang. “kau siap, oppa?

Jaejong merasakan ada kehangatan yang adiknya salurkan lewat tangannya yang dengan nyamannya bersandar di bahunya yang kokoh. Jaejong ragu untuk menjawab, tapi ia harus.

“Aku selalu siap. Kajja!”

 

 

Suho berlari kencang menuju ruangan tempat ia mendengar teriakan itu. Teriakan keras dari suara Irene membuatnya tidak menunggu lagi barang sedetik untuk bergegas menghampirinya. Teriakan itu membuatnya khawatir setengah mati.

Suho menemukan Irene sedang berdiri tegap di hadapan lemari ketika ia baru saja membuka pintu. Perempuan itu terus saja menutup mulutnya menatap pandangan di hadapannya.

“Ada apa, Irene? Kau bermimpi buruk?”

Suho mengelap keringat yang meluncur di pelipis Irene dengan jempolnya dengan perlahan.

“Kau yakin Yoochun teman baikmu?”

“Huh? Apa aku harus meragukannya?” Suho menggeleng tak percaya. Ucapan Irene terlalu membingungkan.

“Lihat itu!”

Irene menunjuk horor isi lemari di hadapannya. Suho bisa saja tidak mengintip isi lemari itu, tapi ia yakin sekali itu penting setelah mendengar teriakan Irene tadi.

Mata Suho membulat sempurna. Figura dan beberapa lembar foto itu seolah menghancurkan benteng kepercayaannya terhadap Yoochun. Teman baiknya selama satu setengah tahun terakhir ini jelas-jelas sudah mengkhianatinya.

“Kenapa?”

Suho menatap Yoochun penuh kebencian. Tahu-tahu, Suho sudah menghampiri Yoochun dan menarik kerah kemeja Yoochun erat-erat. Sangat kuat sampai Yoochun terbatuk karena sibuk mencari oksigen.

“Kau berkhianat!”

Teriakan Suho membuat Yoochun menatapnya tanpa ekspresi.

“K-kau sudah tahu hubuganku dengan Jaejong sekarang.”

BUGH!

Sudut bibir Yoochun kini meneteskan darah. Si empunya bibir hanya bisa meringis lalu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

“Apa kau memberitahukan semua yang terjadi padaku dan Irene padanya?” Pertanyaan yang keluar dari bibir tipis Suho lebih pantas disebut geraman. Giginya bahkan sampai bergemelatuk saking kesalnya menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubunnya.

“Tidak, tapi ia memasang CCTV dan alat penyadap lainnya di rumah ini.”

Suho benar-benar naik pitam kali ini. Bagaimana bisa Yoochun berkata bahwa ia akan berusaha melindungi Suho dan Irene semampunya kalau dirinya sendiri adalah biang keladi di balik semua ini?

“Aku adalah rekan Jaejong dua tahun silam sebelum aku pindah menjadi agen rahasia Negara bersamamu.” Penuturan Yoochun disertai batuk itu membuat Irene kesal.

“Pada tahun itu pula keluarga Irene punya masalah dengannya dan,” Yoochun tidak tahu ia sanggup apa tidak melanjutkan ucapannya. “aku berjanji akan membunuh Irene di saat yang tepat.”

“BRENGSEK!”

Satu pukulan lagi melayang dari tangan Suho. Kali ini pukulannya yang keras tepat mengenai abdomen Yoochun sampai-sampai objek yang dijadikannya pelampiasan rubuh di tempat.

Sebelum Suho sempat melayangkan pukulan berikutnya, Irene sudah terlebih dahulu menarik kekasihnya itu menjauh dari Yoochun. Irene tidak ingin hal yang lebih buruk terjadi pada siapa pun. Tidak setelah fakta mengejutkan ini.

Suho tidak ingin mengingat bahwa lelaki yang baru saja dipukulnya adalah teman baiknya. Yoochun yang baik adalah masa lalu untuk Suho. Yoochun yang terbaring lemah dengan bibir mengeluarkan darah sekarang adalah yang sebenarnya. Yoochun yang pantas Suho layangkan tatapan kebencian. Serigala yang bersembunyi di balik bulu domba itu kini sudah tampak, membuat Suho memandangnya remeh.

“Bereskan barang-barangmu, Irene. Kita harus segera pergi sebelum Jaejong sampai.”

Perkataan yang menggebu-gebu dari bibir Suho membuat Yoochun ingin berdiri dan menjelaskan detilnya lagi pada pria yang masih ia anggap teman baiknya. Tetapi. Yoochun tahu ini terlalu terlambat. Kepercayaan Suho padanya sudah ikut melayang bersamaan dengan angin malam.

Suho beranjak dari kamar itu menuju ruang tengah untuk mengemas barangnya. Meninggalkan Irene yang sibuk menatap punggungnya yang menjauh dan Yoochun yang terbaring di ubin putih yang dingin itu.

Sebelum Suho kembali, Irene mendekati Yoochun dan mengulurkan lengannya.

“Bangunlah. Walaupun aku membencimu, bukan berarti aku tidak kasihan melihatmu begini.”

Yoochun meraih uluran tangan Irene dan bangkit sepenuhnya.

“Terima kasih dan… maaf.”

“Kata-kata itu sangat tidak diperlukan sekarang.” Irene menarik napas kuat-kuat sembari menahan tangis. “Aku yang seharusnya meminta maaf karena seharusnya aku memastikan adikmu, Jinyoung, sampai dengan selamat. Bukan malah membiarkan ia dan Lay merenggut nyawa di tempat dan dengan cara yang tidak pantas.”

Setetes lagi air mata turun dari mata Irene. Yoochun menahan dirinya sekuat mungkin untuk tidak mengusap air mata itu dan memilih untuk menatap air hujan yang turun di luar.

“Kau sudah selesai, Irene?”

Perkataan lembut dari Suho di ambang pintu kamar membuat Irene menghapus air matanya cepat.

“Sebentar.”

Irene berjalan menuju meja tempat ia menaruh dompet dan ponselnya dan memasukkan kedua benda penting itu ke dalam tas ransel cokelatnya. Suho menghampirinya dan membantu perempuan itu memasukkan barang-barangnya  ke dalam tas. Suho lalu membawa tas ransel itu di bahunya dan segera melangkah.

“Terima kasih banyak untuk semuanya, Yoochun hyung.

Nada suara Suho yang sarkatik itu berhasil membuat dada Yoochun terasa nyeri.

Suho yakin ia tak perlu menunggu balasan dari Yoochun. Maka dari itu, ia segera menarik lengan Irene dan segera melangkah ke luar. Namun, langkahnya terhenti ketika merasakan sebuah lengan menahannya.

“Aku bisa membantumu keluar dari sini dengan selamat.”

“Oh, apa kau lupa kau juga mengatakan hal yang sama padaku setelah aku menceritakan kejadian berbahaya yang terjadi pada Irene beberapa waktu lalu, hyung? Kau mengatakan kalimat meyakinkan itu juga. Persis seperti sekarang.”

Irene sungguh lelah. Sudah berapa banyak hubungan pertemanan yang hancur karenanya? Sialnya, mereka mengorbankan itu semua hanya karena mereka ingin menjaganya. Bahkan, akal sehat Irene sekali pun tidak pernah dapat memahami hal itu. Tidak akan pernah.

“Kali ini aku sungguh-sungguh. Percayalah-“

“Percaya? Kau mencoba menggali kuburanmu sendiri dengan kata percaya sementara kau berkhianat, hyung. Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.”

Yoochun baru saja hendak mengatakan sesuatu pada Suho, tetapi Suho dan Irene sudah melangkah keluar dari kamar itu tanpa menghiraukannya.

Kaki kurus dan mungil milik Irene dan Suho dengan linchanya menuruni tangga di rumah Yoochun. Yoochun mengikuti mereka di belakang. Berusaha menyamakan langkahnya yang lemah dengan Suho dan Irene.

DOR!

Irene berani bersumpah kalau ia sangat membenci suara senapan yang ditembakkan. Sudah puluhan kali ia mendengar suara memekakkan itu hanya dalam kurun waktu dua hari.

          “Kau mendegar itu, Bae Irene?”

Mata Yoochun terbelalak. Suara itu sangat dikenalinya. Suara lelaki yang berat dan penuh intimidasi yang keluar dari sebuah pengeras suara di luar sana membuat Yoochun menarik napas. Suara itu milik Jaejong.

“Kekasihmu akan aman kalau kau menyerahkan dirimu sekarang.”

Irene menatap Suho lekat-lekat. Irene selalu menyukai sensasi di perutnya ketika pandangannya bertemu dengan Suho. Ia selalu suka itu.

“Keluarlah dan tidak ada lagi yang terluka selain kau, Irene. Aku berjanji.”

“Tidak, Irene.” Suho mendapati suaranya sendiri yang putus asa. “Don’t you dare do that.”

Kali ini, bukan lagi Suho yang menghapus air mata yang meluncur di pipi Irene. Saat ini, Irene yang melakukan hal itu untuk Suho.

“Aku punya jalan rahasia. Kita bisa lewat sana.”

Perkataan Yoochun membuat Irene yang sedang kalut itu kini menatapnya penuh harap.

“Aku punya terowongan yang akan membawa kalian keluar dari rumahku. Kalian harus pergi sekarang sebelum Jaejong berhasil menerobos masuk.”

Tatapan tidak percaya yang dilayangkan Suho membuat Yoochun kesal. Ia sungguh kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak pernah melakukan perjanjian dengan Jaejong waktu itu.

“Percayalah. Terowongan ini akan membawa kalian menuju taman dekat sini. Ayo!”

“Kekasihmu itu Kim Suho. Agen rahasia terbaik milik Negara. Kau sudah menghancurkan karir kekasihmu dengan membawa ia ke dalam masalahmu, Irene.”

Irene berusaha keras untuk mengacuhkan perkataan Jaejong dan lebih memilih melangkah mengikuti Suho dan Yoochun menuju dapur.

Tangan Yoochun meraih sebuah tuas dan segera mendorongnya. Tiga keramik yang berada di dinding dapur itu bergeser. Pergeseran itu memperlihatkan sebuah terowongan gelap yang Suho tidak tahu ujungnya.

Yoochun menyodorkan sebuah senter besar pada Suho. Mulutnya menggumamkan kata ‘pergi’ dengan lirih.

“Kalian berjalanlah terus dan kalian akan sampai di taman.”

“Aku sudah mengepung rumahmu, Yoochun. Keluarlah dan bawa target kita ke hadapanku. Aku akan sangat menghargai itu.”

Yoochun mendorong punggung Suho. Masa bodoh dengan ucapan tidak masuk akal Jaejong itu.

“Sekarang atau tidak sama sekali, Suho.”

Baik Suho mau pun Irene masih ragu untuk melangkah memasuki terowongan itu. Bukan gelap gulita yang mereka permasalahkan. Masalahnya adalah Yoochun berlagak seolah ia akan menyerahkan dirinya pada Jaejong. Itu tindakan gila.

“Kau juga harus pergi bersama kami.”

“Masuklah, Suho!”

Yoochun mengabaikan perkataan Suho. Telinganya sedang sibuk mendengar derap langkah yang sedang mendekati pintu depan rumahnya.

“Sekarang!”

“Kau juga, hyung!”

“Tidak, cepatlah!”

Yoochun sibuk mendorong Suho dan Irene untuk melangkah sedangkan telinganya sudah mendengar gedoran-gedoran di pintu masuk rumahnya. Yoochun hampir berhasil menarik tuas itu agar pintu terowongan tertutup. Sedikit lagi.

“Sekarang!”

BRAK!

to be continued 

Hi!

Maafkan karena part dua ini lamanya minta ampun -_- dan maaf juga karena masukin Suho di sini 🙂 tanganku gatel gara-gara ada Irene sih. Terserah aja Suho-nya mau diapain nanti. Mau dinikahin sama Irene juga boleh xD/ini apa/ Makasih buat kak Joonisa untuk awesome storyline-nya 🙂 Semangat yaaa buat slmnabil untuk part selanjutnya dan juga Uniquechildish dan dohayee ^^semoga ide kalian ngga segila dan sengarang aku hohoo

Papoi! ❤

Advertisements

8 thoughts on “1st Anniversary – Protect the Princess [PART 2]

  1. weleh rupanya komenku yang kubuat habis baca ff ini beneran ga masuk -_- hape sama jaringannya lagi eror, maap eyaaa qin XD
    Hiihiihihi ada surene-couple di sini.. Suho tugasnya ngaterin Irene menuju ke tujuannya, nice plot dan twistnya tambah banyak di sini hahaha suka suka 😀

    Semangat buat yang ngelanjutin dan sukses buat ff action-crime-dark ini hahaha *tiba2 jadi penyuka ff genre action hahaha*

  2. Ceritanya keren abiss, surene couple I like it. Baru pertama kalinya baca ff yang kaya gini, biasanya baca ff yang comedi gak suka ff yang kaya gini, tapi pas dibaca ini ff keren banget sumpah daahhh apalagi surene couple, next…

    • wuhuu ngga nyangka duuuh
      SURENE SHIPPER DETECTED xD
      waah seneng deh kalo kamu akhirnya berani baca ff yang /aduh/ aku sendiri ngerasa kurang puas, tapi AKU PUAS MENEMUKAN SURENE SHIPPER ^^
      ngga nyangka ff ini dibilang keren bleeeh
      thank you yaaa ❤

  3. Reblogged this on Perfect? Can't Stop! and commented:

    mission done!
    memang molor sih, banget malah. tapi aku masih seneng sih karena ini pertama kalinya nulis FF satu part dengan 3,5k words! /applause/
    dan yang paling penting (keduanya) adalah I ADD SURENE COUPLE HEREEEE ❤ gatel sih ya mau gimana lagi. enjoy!

  4. Daebak…. jaejoong kok jadi jahat gtu? Sebenarnya ada apa dengan Jaejoong, Yoochun n Suho. Kupikir Irene bakal sama Yoochun kok malah jadi sama Suho?
    Ditunggu lanjutannya ya…..

    • mungkin Jaejong lelah jadi anak baik :p
      jiwa shipper ini ngga bisa pergi kak, tetiba aja tuh nama Suho udah ada di sana, aku tak kuasa menahan -__-
      huhuu thank you kaak ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s