[Ficlet] Midnight Date

tumblr_mq6fqyiXWi1s7lc3ho1_500

—MIDNIGHT DATE—
by babyaurora

starring Krystal Jung and Kai | +1000 words | romance, fluff, slight!sad | for teenager
.

At the window of my room are the sounds of pebbles hitting the glass.
From below, you’re signaling to me. I don’t even think and give into temptation.

.

Soojung mendesah pelan ketika dentang pukul 12 malam yang ditimbulkan jam besar ruang tengah menyapu udara sunyi kamarnya. Berkali-kali gadis itu menguap—bahkan sampai mengeluarkan air mata, namun kelopaknya tetap dituntut untuk terus terbuka. Soojung enggan untuk terlelap. Jika ia terlelap maka kecil kemungkinannya untuk kembali terjaga saat Jongin menjemputnya nanti.

Tepat. Soojung menunggu Jongin melempari jendela kamarnya dengan kerikil kecil sambil mendekap setoples biskuit. Menanti Soojung untuk memanjat turun melalui ranting terdekat, lalu belari ke taman dan menghabiskan laju waktu disana. Hanya berdua, dibawah tudungan langit kelam bertabur bintang.

Seharusnya suara berisik kecil kerikil sudah terdengar di telinga Soojung sejak dua puluh menit yang lalu. Namun sampai saat ini, hanya suara jangkrik dan detakan jarum jam yang mampir di pendengaran Soojung. Gadis itu meremas ujung piyamanya pelan, kemudian menguap—lagi.

Soojung sudah meminum 3 cangkir kopi sekaligus tadi siang, omong-omong. Rupanya kafein dalam takaran yang cukup banyak itu tidak mampu menumpas kantuknya. Jika setelah ini dia tertidur dan terlambat kelas Literatur besok, dia siap menimpakan kesalahan pada Jongin.

Huh, siapa suruh ingkar janji, rutuk Soojung dalam hati. Demi Tuhan, dia ingin sekali memejamkan kedua matanya lalu melabuh dunia mimpi tanpa harus menghitung domba. Posisinya sudah sempurna kala itu. Berbaring di kasur sambil berselimut—tidak lupa mendekap boneka beruang putih kesayangannya. Kalau saja dia tidak menunggu Jongin, barangkali dia sudah bermain di Neverland dengan Peter Pan dan Tinkerbell—oh, The Lost Boys juga.

Lagi-lagi Soojung menguap. Kantuk dan lelahnya sudah berkumpul menjadi beban di kelopak mata. Memaksa untuk menutupi sepasang iris gelap Soojung. Pelupuk Soojung juga sudah makin basah. Astaga, kenapa dia rela seperti ini hanya untuk menunggu si tengik Jongin itu?

Setelah puluhan menit dihabiskan dengan kantuk, akhirnya Soojung memutuskan untuk menyerah. Peduli setan dengan Jongin. Biar saja dia itu menghabiskan kerikil halaman rumah Soojung. Gadis itu tidak akan bangun bahkan kalau Jongin melempar jendela kamarnya dengan batu bata sekalipun. Pokoknya sekarang Soojung mengantuk berat, tahu. Dia juga terlalu kesal dengan Jongin sampai-sampai tidak mau pusing-pusing memikirkan konsekuensi perbuatannya nanti. Bodo amat.

Sialnya, baru juga 5 detik kelopak Soojung menutup, telinganya sudah menangkap bunyi ketukan kecil di permukaan kaca jendela. Soojung membuka matanya lantas bangkit dengan gusar. Kau manusia keparat, Jongin.

Oh, ya, dia sudah menyiapkan ribuan sumpah serapah lainnya setelah turun ini.

Soojung membuka jendela dan mendapati Jongin dibawah sana sedang tersenyum jenaka. Tangannya memegang beberapa kerikil—dan satu toples oreo. Soojung tidak tahu harus balas tersenyum atau mempertahankan wajah ngantuknya. Yang pasti dia ingin sekali membuat memar di sekitar mata Jongin.

“Kau brengsek, Jongin.” Soojung memutuskan untuk berdecak sebelum—yeah, seperti maling terlatih dia mengeluari jendela tanpa kesusahan. Lalu memanjat ranting terdekat dan melompat dengan santainya. Padahal kamarnya berada di lantai dua, dan Soojung mendarat sempurna tanpa harus ditangkap oleh Jongin.

“Maaf. Nyonya Song ingin aku membantunya menyelesaikan laporan keuangan bulan ini.” Jongin melontarkan alasan sambil menggaruk tengkuknya. Soojung meresponnya dengan delikan tajam. “Dan kau menurutinya?” tanya Soojung.

Jongin mengangkat bahu. “Harus bagaimana lagi?” Kemudian lelaki itu meraih telapak Soojung yang mungil. Wajah Jongin mengatakan ‘sekarang?’ disusul oleh anggukan kecil Soojung. Sekarang keduanya berjalan menjauhi halaman rumah.

“Aku nyaris tertidur menunggumu, tahu.” Keluh Soojung. Gadis itu meruncingkan bibirnya.

Di sampingnya, Jongin terkekeh pelan. “Aku datang di saat yang tepat, kan?” balas Jongin yang justru membuat Soojung semakin ingin memukul wajahnya.

“Apanya ‘tepat’? Terlambat 5 detik lagi, maka kau hanya akan berakhir menunggu di halaman sampai pagi.”

“Siapa bilang aku akan menunggumu, ew?”

“Keparat sekali, Jongin.”

Tawa Jongin begitu nyaring ditengah sepinya udara malam. Dan jujur saja, Soojung suka mendengarnya. Gadis itu sebenarnya enggan mengakui, tapi—rasanya dia jadi tidak ngantuk lagi semenjak kehadiran Jongin.

Jongin kerap membuat kekesalannya memuncak, tapi tak ayal juga, lelaki itu mampu mengembalikan mood Soojung secepat macan menerkam rusa.

Soojung kadang benci dengan dirinya yang tak mampu berlama-lama merajuk pada Jongin. Apa daya, dirinya terlalu menyukai Jongin. Dan Jongin juga menyukainya sehingga si gelap itu punya cara sendiri untuk menghentikan rajukan Soojung.

“Soojung?” panggil Jongin, masih terus menyusun langkah bersama Soojung. Si gadis menoleh—separuh mendongkak. “Apa?”

“Orangtuamu masih belum menyetujui, ya?”

Hening sebentar sebelum Soojung menyahut. “Hm, masih belum.” Ia menunduk memandangi ujung kakinya yang hanya dibalut sandal rumah—Soojung lupa berganti, biarlah. “Tapi percayalah, Jongin. Suatu saat nanti pasti mereka setuju.” Lanjut Soojung dengan lembut seolah yang mengatai Jongin brengsek tadi bukan dirinya.

Untuk yang kedua kalinya, Soojung mendongkak. Kali ini pandangannya bertemu dengan mutiara gelap milik Jongin. Jantungnya bereaksi cepat dalam hal ini. Rasanya Soojung dapat mendengarnya berdentum kencang dibalik sternum. Hal yang biasa terjadi jika Jongin berada disekitarnya.

“Iya, aku tahu.” Kata Jongin sambil mengulas senyum tipis, lalu mengacak pelan surai Soojung. Gadis itu balas tersenyum. Dia tidak marah saat surai gelapnya dimainkan oleh Jongin.

“Teruslah bersamaku sampai saat itu, Soojung.” Jongin berucap lagi. Laki-laki itu masih memandang lekat paras Soojung yang tertimpa sinar dari lampu jalanan.

Tanpa sadar, hawa malam semakin menusuk ke dalam pori-pori mereka. Menyebar dingin di sekujur tubuh. Oh, yah, ini bulan Oktober. Dan di masa seharusnya anak baik bergelung dibalik selimut, Soojung dan Jongin malah menumpas udara yang kian dingin di pinggir jalan sepi.

Namun baik Jongin dan Soojung mengacuhkannya. Mereka bahkan tidak menggigil kendati sama-sama hanya mengenakan piyama dan sweater tipis. Ada kehangatan yang bersumber dari genggaman tangan mereka.

Soojung menghentikan langkah mereka. Gadis itu terdiam, masih mempertahankan senyumnya. “Pasti. Kau juga, Jongin. Jangan pernah menyerah untuk mengambil hati orangtuaku.” Tutur Soojung. Lawan bicaranya mengangguk kecil.

“Ayo lanjut. Tamannya sudah dekat.”

Keduanya melanjutkan langkah menuju destinasi kencan mereka. Yah, Soojung dan Jongin berkencan saat dinihari. Di taman sepi tanpa ada pasangan lainnya. Hanya ditemani kerlipan bintang dan setoples biskuit. Diiringi musik dari nyanyian jangkring featuring desau angin malam. Dibawah rembulan, bukan kilau mentari.

Tak apa. Keduanya tidak memusingkan sama sekali perihal tersebut. Hah, untuk bertemu diluar jam kuliah saja mereka sudah cukup sulit. Makanya bisa menghabiskan waktu berduaan secara diam-diam saja, itu sudah cukup untuk Soojung dan Jongin.

Sesederhana itu saja, namun tak ada yang mampu menandinginya. Setidaknya untuk Soojung dan Jongin. Dan malam itu kembali mereka lakur dengan berbincang di bawah cahaya bulan hingga waktu nyaris menunjuk pagi.

.

Under the moonlight at this hour, where are we going?
A secret date.

.

7 thoughts on “[Ficlet] Midnight Date

  1. I feel you, Soojung, I feel you.
    Emang cowok tuh sukanya bikin nunggu sampe ketiduran ((ceritanya curhat)) ((slapped))
    Huhu suka banget sama ceritanya ❤❤❤ manis, tapi tetep kerasa sakitnya juga 😄

    • cowok tuh ya biar bikin kzl tapi teteup aja disayang heu :(( okeyy makasih sudah baca dan komen yaa~~ mwaa <3<3

    • manis kayak authornya dong yaaa /dimusuhin/
      jongin emang sayang banget sama soojung sampe rela jemput tengah malem :’) #shipper
      makasih udah baca dan komen yaaa ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s