Boy’s Problem [Chapter 1]

boyslmnabil

a teen romance-comedy story by slmnabil

starring Kim Jongin of EXO and Kim Yura [OC/ You]

poster by Jungleelovely @posterchannel

previous

BOY’S PROBLEM – LITTLE CHAOS

tumblr_mvbpi4dfkr1s6e6p6o1_400

“Jika kau tak ingin dirugikan, setidaknya tarik satu orang untuk merugi bersamamu.”

8db7a82ff770ae273e31777e07422e17

“Ruang hukuman. Sial, aku memasukinya karena Kim Yura.”

Mobil sport putih memasuki pelataran kediaman keluarga Kim, menggerus dedaunan kering yang belum sempat terjamah. Ini masih pagi, namun sosok di balik kemudi sepertinya tidak cukup sabar untuk menunggu. Ia menekan klakson kuat-kuat.

Dongsaeng! Suamimu marah!” ujar Youngkwang-kakak Yura- mendueli.

Kelopak matanya sontak terbuka. Sial, ia ketiduran lagi. Awalnya Yura hanya akan berbaring sampai kakak laki-lakinya keluar dari kamar mandi, ia bahkan menyalakan alarm. Namun si bodoh itu mematikannya dengan meninggalkan note kecil bertuliskan ‘Tidurlah selamanya.’

Yura bangkit melawan gravitasi. Ia menanggalkan pakaian tidurnya kemudian menggantinya dengan seragam sekolah tanpa memodifikasinya seperti biasa. Melenggang masuk ke kamar mandi sejenak untuk membasuh wajahnya, sebelum melesat ke tempat rias membawa beberapa perbekalan. Sedetik kemudian ia sudah menghilang di balik pintu, dengan ransel yang belum ia ubah isinya.

“Mom, mantelku!” katanya sembari menuruni beberapa anak tangga. Mendengar itu Youngkwang cepat-cepat mengambilkan mantel Yura dari lemari, namun begitu melihat siapa yang menyerahkannya Yura lebih memilih berjalan sendiri ke sana.

“Sialan kau!”

“Mom, siapa itu yang bicara?!”

Kakak beradik itu bisa saja mulai adu jotos jika Nyonya Kang tidak datang menengahi. “Kau bisa terlambat sekolah, Sayang. Dan Youngkwang berhenti mengganggu adikmu,” katanya sembari menyerahkan kotak makanan untuk Yura.

Yura mengambil langkah keluar setelah memukul kepala Youngkwang dan mengatakan,“Dia bodoh jadi beritahu lebih jelas, Mom. Aku pergi!”

Yura berlari-lari kecil sambil sesekali berjingkat saat ada kubangan air. Ia menarik gagang pintu mobil lalu melemparkan ransel dan tas riasnya ke dalam, Kai –yang sepertinya sudah terbiasa- siap menangkapnya.

“Makannya jangan biarkan Hyung meminjam kamar mandimu,” kata Kai sembari mengamati Yura yang baru masuk ke mobil.

Gadis itu terlihat berantakan, ia bahkan belum menyisir rambutnya. Yang menjadi pusat perhatian Kai adalah seragamnya, Yura memakainya secara normal dan dikancingkan sempurna. Mungkin sudah enam bulan ini gadis dengan marga sepertinya itu bergaya ala cowboy.

“Kau harus berkomplot denganku, Kai,” ujarnya sembari memasang rol rambut di poninya.

Kai menyalakan kemudi, bersiap meninggalkan pelataran menuju sekolah. “Komplotan apa?”

“Komplotan untuk membunuh Kim Youngkwang.”

Dan ia tidak bisa tidak tertawa. Kai tahu Yura memang seperti ini, namun melihat kekonyolannya setelah hampir tiga tahun pun masih saja membuatnya tak habis pikir. Kekonyoloan Kim Yura yang tak ada habisnya.

Kai melirik gadis di sampingnya yang mulai bergelut dengan alat-alat rias. Yura hanya memakai pelembab dan lip ice, jadi ia tidak membutuhkan waktu yang lama seperti gadis kebanyakan.

“Kita akan menjadi pembunuh kalau begitu.”

Kali ini Yura menjejalkan bulat-bulat roti isi yang Ibunya siapkan, mulutnya terlihat mengembang dengan remah-remah di ujung-ujungnya.

“Membunuh orang bodoh itu tidak bisa disebut kesalahan. Harusnya diberi penghargaan karena membantu menciptakan perdamaian dunia,” sahut Yura dengan mulut terisi penuh.

“Tapi kakakmu sama sekali tidak bodoh. Dokter bedah, bukan?”

“Dokter, pantatku. Mom membeli lisensinya, asal kau tahu saja Kim Youngkwang itu benar-benar bodoh.”

Kai berdeham, menghentikan mobilnya saat lampu menyala merah. Ia mencuri pandang ke arah Yura yang sudah menyelesaikan sarapannya dan terlihat lebih tenang. “Kau yakin tidak sedang membicarakan dirimu?” tanyanya tak yakin.

“Jadi kau mau mengatakan aku bodoh?”

“Jujur saja Ibumu membeli kunci jawaban ujian kenaikan kelas bukan? Kau yang mengatakannya padaku.”

Yura mendesah berat. Ia tidak bisa marah karena memang begitulah kenyataannya. Gadis ini sudah menyerah dengan pendidikan akademisnya, ia bilang dirinya tak berbakat di sana. Jadi ia lebih memutuskan untuk menjadi seniman, Yura mengikuti klub teater di sekolahnya dan ia terbukti berhasil.

Tapi Kai masih saja mengkhawatirkannya hingga detik ini, karena bagaimanapun yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya adalah ilmu bukan?

“Yura, dengarkan aku. Kau harus mulai serius belajar, sebentar lagi kita menjadi mahasiswa sebelum kemudian terjun langsung sebagai pekerja publik. Ibumu tidak bisa membantumu selamanya, am I right?”

Yura menumpukan sikunya di dashboard dan menyandarkan kepalanya di sana, ia menatap Kai lamat-lamat. “Karena itulah calon suamiku harus pintar jadi aku tidak perlu belajar, okay?” katanya disusul wink yang membuat Kai mual tiba-tiba.

“Ah itu menjijikan, lihat ke depan.”

Kai melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih dari sebelumnya. Tubuh Yura hampir saja terlempar ke depan jika saja ia tidak berpegangan kuat-kuat. Isi perutnya seperti dikocok dan ingin di keluarkan.

“Kai jangan cepat-cepat,” kata Yura sembari mengeluarkan buku catatan dari ranselnya. “Aku belum mengerjakan tugas Bahasa, jadi ayo kita datang terlambat.”

“Kau gila? Mungkin untuk siswa nakal sepertimu tidak apa-apa, tapi aku siswa terpandang kau tahu.”

“Jujur saja, memangnya tidak membosankan mengikuti aturan seperti itu? Aku seperti di penjara selama hampir tiga tahun ini.”

Yura menutup bukunya kembali dan mengembalikannya ke ransel. Sebagai gantinya ia mengeluarkan ponsel dan earphone sebelum melemparkan ranselnya ke kursi belakang. Ia membuka screenlock-nya, langsung menampilkan sebuah halaman yang dibukanya sejak semalam. Kai mencuri lihat.

“Kau membuka situs itu lagi?!” tanyanya terkejut.

“Eoh, memang kenapa? Aku harus belajar dengan serius kau tahu, untuk persiapan masa depan kita.”

“Haruskah kau melakukannya sejauh itu?”

Yura mengangguk yakin. “Mungkin terlihat mudah dan melakukannya begitu saja bukan? Tapi kau tahu ini lebih rumit dari yang kau pikirkan.”

“Kau bisa belajar dari Ibumu, dia kan sudah berpengalaman. Atau kekasih Hyung, sekali lihat saja kau bisa tahu dia hebat.”

“Kai, aku harus melakukannya dengan gayaku sendiri.”

Kai mengerang frustasi. “Tapi cara berias itu di penjuru dunia pun sama saja Kim Yura! Dan kau tidak perlu terobsesi menjadi feminin seperti itu!”

Husband just shut your mouth. Jangan ganggu aku dan fokus saja mengemudi, aku tidak mau meninggal sebelum menikah denganmu.”

Yura memasang earphonenya dan mulai bergelut dengan tutorial berias yang sudah lama di dalaminya. Menurut Yura ia melakukannya untuk Kai, karena pria itu bilang ia menyukai gadis feminin. Namun sebenarnya intinya bukan disitu, Kai menyukai segala macam gadis dan ia tidak punya kriteria khusus.

Kai hanya membodohi Yura saja, dan gadis itu termakan oleh bualannya. Melihat Yura yang sampai rela merubah dirinya seperti ini, terkadang membuat Kai sedih. Satu-satunya pihak yang perlu disalahkan adalah dirinya sendiri, sesuatu yang tumbuh di dalam diri Kai. Namun ia belum cukup berani untuk menceritakannya pada orang lain, kecuali…

“STOP!”

Iris kecoklatan milik Kim Yura terbelalak bersamaan dengan mulutnya yang terbuka lebar. Napasnya memburu dan ia melindungi tubuhnya defensif. Yura menoleh ke arah Kai yang terlihat sama terkejutnya.

“Kau hampir membunuh kita berdua.”

Begitulah, sepertinya Kai terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tidak sadar mobil yang dikemudikannya hampir menabrak dinding lapangan parkir sekolah.

“Kalau tidak mau menikah denganku bilang saja, tidak perlu seekstrim ini.”

Kai menyentuh wajah Yura, menengokkannya ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang terluka. “Kau baik-baik saja.”

“Kau harus mendapat hukuman, Kai.” Yura mengambil jeda sejenak. “Keluar, bukakan pintu untukku, lalu gendong aku di punggungmu sampai ke ruang kelas.”

Kai tahu manusia satu ini akan menjadi liar jika keinginannya tidak terpenuhi, dan ia tidak mau menanggung resiko yang tidak diketahui jelas apa itu. Tahun lalu, Youngkwang bilang Yura hampir berparade di lampu merah karena Ayahnya tidak mengijinkannya menonton Fifty Shades of Grey yang notabene tontonan dewasa. Akhirnya satu keluarga menemani Yura menontonnya yang didominasi ‘pertunjukan jangan dilihat’ dengan Youngkwang sebagai pemeran utama.

“Baiklah, anggap saja menemani orang bodoh itu perbuatan mulia.”

Kai melakukan persis seperti yang Yura katakan, sehingga saat ini Yura berakhir tersenyum seperti orang gila di punggungnya. Dan ia terus saja meracau hal-hal yang tidak jelas, membuat Kai dengan asal berpikir kalau-kalau otaknya sedikit bergeser.

“Kakiku tidak bisa digerakkan, karena ada sesuatu yang salah dengan otakku. Kau tahu otak mengendalikan segalanya.”

“Kai kalau kau lelah katakan saja, otakku bisa kureparasi kilat.”

“Kai kenapa rambutmu menjadi cokelat? Terakhir kulihat merah muda… dalam mimpiku! Kena kau!”

Dan gadis sinting ini masih mengatakan banyak hal lain yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya. Oh! Mau tahu yang lebih gila? Saat mereka hampir sampai ke ruang kelas, di koridor jajaran loker Kim Yura berubah menjadi nenek sihir!

Berawal dari ocehan yang tak mengenal akhir, Yura menarik perhatian gadis-gadis di lantai 3 yang notabene didominasi penggemar Kai. Mereka tentu tahu tentang Kim Yura yang mengejar Kai dengan tidak tahu malunya selama dua tahun, pun dengan lelaki itu yang tak melarang Yura melakukan hal itu.

“She’s a real bitch!”

Kalimat itulah kira-kira yang membangkitkan arwah nenek sihir yang sudah lama tidak disapanya. Yura melompat dari punggung Kai, dan dalam satu gerakan ia menarik rambut Taeyeon si ketua fanclub sekolah.

“Dasar mulut besar!”

Melihat perkelahian tiba-tiba itu penggemar Kai yang lain mulai memasuki arena, mereka menjegalnya agar Taeyeon bisa menghabisinya dengan bebas. Namun bukan Kim Yura namanya kalau ia tidak membalikkan serangan. Yura itu…Taekwondo sabuk hitam, for your information.

Kai hanya bisa terpaku, melihat gadis yang menyebut dirinya Kai’s Wifey ini melumpuhkan lawannya satu per satu. Membuatnya dengan liar berpikir bahwa kalaupun mereka menikah, ia tidak perlu mengkhawatirkan Yura jika ingin keluar rumah sendirian.

“HEN-TI-KAN! KIM YURA STOP!”

Saat itulah Kai bisa melihat akhir dari pergulatan ini, begitu ‘sahabat karib’ Kim Yura memasuki arena gadis itu terlihat tidak bisa lagi berbuat banyak. Yura hampir saja melarikan diri, jika Guru Na tidak lebih dulu menarik kerah seragamnya dari belakang.

Proporsi Guru Na yang tidak main-main, membuat Yura tidak bisa menggunakan keahliannya pada wanita 30 tahunan ini. Walaupun ia mengatakan berat badannya turun 5 kilogram bulan kemarin, tentu saja bukan apa-apa dengan 90 kilogram sisanya.

“Masuk ke ruang hukuman sekarang juga! Right now!”

Yura berteriak menuntut keadilan. “Kenapa hanya aku?! Zombie-zombie ini yang memulainya!” Ia menunjuk Taeyeon dan kawanannya. “Ah dan jangan lupakan manusia tampan ini.”

“KAI? Maksudmu KIM-JONG-IN yang seksi ini?” sahut Guru Na tak percaya sedang Yura terlihat mengangguk santai sembari bersilang lengan di depan dada.

“Dia melihat perkelahian namun tidak berusaha melerai, dan itu lebih buruk daripada membuang mayat ke laut setelah dimutilasi.” Alis Yura berjungkit. “Kau tidak lupa kan siapa yang mengatakan itu di tahun kedua, Guru Na Seyoon?”

Guru Na terlihat menarik napas panjang, seperti dia akan membuat keputusan terbesar –yang lebih besar dari tubuhnya- seumur hidupnya. “Kalian semua termasuk pangeran tampan sekolah kami, masuk ke ruang hukuman.”

“RIGHT NOW!” bubuh Yura dengan kata-kata andalan Guru Na.


Dari semua orang Yura adalah senior yang perlu dihormati. Dia sudah menjadi reguler sejak di tingkat dua, benar -benar pembuat masalah. Bisa dibilang setelah Kim Jongin-calon suaminya, Chanyeol, Sehun, dan Baekhyun -sahabat gank, Guru Na adalah sahabat Yura di sekolah, sekaligus satu-satunya wanita yang Yura mau berteman dengannya.

Gadis itu terlihat santai saja di bangku paling tengah dalam ruangan ini, bahkan meja dan kursinya sudah dihiasi bubuhan artistik seorang Kim Yura.  Dua bangku di depan samping kirinya terlihat Kim Jongin yang frustasi karena memasuki ruang hukuman untuk pertama kalinya. Yura tersenyum puas.

“Baiklah, sederhana saja untuk hukuman kali ini. Tulis kalimat, aku bersalah dan tidak akan mengulanginya di satu rim kertas dengan ukuran tulisan kecil tanpa ada spasi. Ada yang ingin ditanyakan?”

Yura menunjuk tangan, membuat Kai merasa dipermainkan karena seorang reguler berpura-pura seperti ini pertama kali untuknya. “Boleh saling membantu?”

“Tidak.”

“Boleh disingkat?”

“Tidak.”

“Boleh menyontek?”

“Menyontek untuk yang seperti ini?”

“Kalau seperti ini?”

Yura menuliskan sesuatu di kertas dengan tinta hijau terang dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Kira-kira ia menulis seperti ini, Aq b3rs@l@h Guru N4! @q m3nc!nta!mu, ppuing~ppuing.

“KIM YURAAAA!!” Teriakan Guru Na seakan menciptakan gempa lokal di ruang hukuman.

Dengan tidak tahu malunya Yura bangkit dan mengambil beberapa langkah mendekati Kai sembari menunjuk daun pintu dengan dagunya, sebelum menyahuti, “GURU NAAA!!”

Kai tahu apa maksudnya, Yura menyuruhnya keluar saat ia mengalihkan perhatian. Namun pria itu terlihat geram duluan karena ulah kekanakkan Kim Yura.

“Yasudah kalau tidak mau, selamat bersenang-senang Suamiku!” ujarnya sebelum melompati beberapa bangku dan melesat keluar dari ruang hukuman.

She’s totally crazy!

Jarinya seperti tidak bisa digerakkan lagi, Kai mengakui bahwa tugas menulis essai Guru Kang jauh lebih ia pilih dibanding masuk ke ruang hukuman ini lagi. Kim Yura sialan memang, kalau saja mulut besarnya tidak asal bicara ia akan tidur siang di rumah saat ini.

Ponsel di saku mantelnya bergetar menandakan pesan masuk. Sebenarnya Kai tidak berniat memeriksanya lebih lanjut, tidak. Namun begitu menangkap refleksi pengirimnya ia tidak memiliki alasan kenapa harus mengabaikannya.

tumblr_nhwukmfb9c1r32pc1o3_250

“Suamiku, semangatlah! Your pretty wifey will come to rescue her handsome husband in 5 minutes.”

Entah kenapa, Kai tidak bisa tidak tersenyum karenanya.

-tbc-

NEXT CHAPTER PREVIEW : STUPID PRINCESS

tumblr_n9a2oshtip1r8sro0o1_500

“Aku tidak tahu, adikku sebodoh ini.”

Advertisements

6 thoughts on “Boy’s Problem [Chapter 1]

  1. hai pengunjung baru nie 🙂
    aduh sumpah yura itu aneh bin ajaib, kai betah yah punya calon istri kaya gitu…
    jadi sebenernya kai itu udah suka sama yura yah??
    apa yg di sembunyikan kai??

  2. rada bengong waktu di awal, “yura suami mu datang” eh? siapa? kai? eh bener… kukira kai bakal kayak irie naoki gitu~~ wkwkwk ….
    tapi jadi inget school 2015 baca ini, tapi karakter yura aku suka banget … gila ==”

  3. Lucunya. Si Yura bikin gemes, kaget juga ada cewek kayak dia. Wkwkwk. Karakternya Yura aku suka banget. Dan ternyata prediksiku ttg karakter Kai yang nyebelin keliru, ya. Hohoho XD

    Dan pesan dari Yura ke Kai itu apa banget lah. Entah mau ngakak atau garuk2 tanah asking anehnya sikap si Yura yang satu itu. Wakakaka XD

    Lanjuuut!

  4. Wkwkwkw…ada gitu manusia seanbsurt Yura di dunia fana ini…koplak, kupikir aq aja yg suka bikin cerita gaje… Keren-keren! Lanjutkan !

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s