사랑이 운다 “Love is Crying” [TwoShoot – 1]

love is crying 1

Main cast:
Park Jiyeon, Lay Zhang, Yook Sungjae, Kim Sohyun
Support cast:
Park Gyu Ri, Bae Irene, Kim Dani, Yoo Seung Ho, Byun Baekhyun, Yoo In Na
Genre:
Romance, Hurt/ Comfort, Songfict, Fantasy, School Life
Length: Two-shot
Rating: PG – 13

This FF has been inspired by K.Will song titled Love is Crying (OST. King 2 Hearts)

Preview
Jiyeon adalah seorang siswi di SMA Sekang. Dia baru dipindahkan dari SMA Nam karena dirinya merasa lebih senang menuntut ilmu di SMA barunya.
Suatu hari ia mengalami kecelakaan dan kejadian itu membawanya bertemu dengan malaikat penjaga bernama Zhang Yixing. Jiyeon harus berpisah dengan Yixing karena dirinya sudah sadarkan diri dari keadaan kritisnya.

Don’t plagiat the storyline, Don’t claim as yours
Storyline is mine but the casts belong to their God
Sorry for typos and happy reading

“Jiyeon-a! Palliwa!” teriak seorang wanita paruh baya yang tengah disibukkan dengan aktifitas kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Suara itu berasal dari dapur yang terletak bersebelahan dengan tangga.

Setelah mengenakan seragamnya dengan rapi, Jiyeon buru-buru merias diri ala kadarnya. Dia tidak suka berdandan menor seperti para anggota geng di sekolahnya atau seperti personil Girlband yang sedang tenar saat ini. “Ne, Eomma. Sebentar lagi aku turun!”

Tok tok!
“Saat sedang diburu waktu begini, ada saja yang mengetuk pintu,” gerutu Jiyeon yang masih sibuk memakai sepatunya. “Masuklah, Eonni!” Dia sudah hafal kebiasaan kakaknya di pagi hari. Pasti kakaknya ingin memberikan nasehat berharga pada Jiyeon.

Benar saja, tak lama setelah Jiyeon meneriakkan kata ‘masuk’, seorang gadis yang tak kalah cantik dari Jiyeon memutar knop pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam kamar Jiyeon yang dipenuhi benda-benada berwarna pink.

“Setiap pagi selalu seperti ini.”

“Sudahlah diam saja, Eonni. Kau malah membuatku semakin panik. Hari ini aku tidak ingin mendengar nasehatmu. Tidak ada waktu.” Jiyeon selesai memakai sepatunya kemudian bergegas mengambil tas ransel berukuran kecil.

“Yaak! Kau berani mengacuhkanku, eoh?” Gyu Ri tidak terima diacuhkan begitu saja oleh adiknya itu.

“Eonni, kalau kau mau, sampaikan nasehatmu saat kita sarapan. Oke?” Tak lama kemudian Jiyeon berlari keluar kamarnya dan menuruni anak tangga.

Sedangkan Gyu Ri masih terpaku dengan ekspresi keheranan melihat polah tingkah adik kesayangannya. “Aish! Jinjja!” keluhnya kesal lalu dia menyusul Jiyeon menuju ruang makan.

“Eonni, kau tidak usah mengantarku ke sekolah,” kata Jiyeon saat dirinya baru menghabiskan sarapannya.

“Waeyo? Kau dijemput pria tampan dan beruang, ya?”

Uhuk!
“Apa kau pikir aku sudah dewasa sepertimu? Aku akan melakukan apa yang kau katakan itu saat usiaku sama sepertimu, Eonni. Untuk saat ini aku belum memikirkan pasangan.” Jiyeon membersihkan mulutnya menggunakan tisu yang sudah tersedia di atas meja makan. “Aku berangkat!” seru Jiyeon tanpa berpamitan kepada ibu dan kakaknya terlebih dahulu. Tak seperti biasanya.

“Yaak!” seru Gyu Ri lalu menggelengkan kepalanya pelan. Sejak kapan Jiyeon bertingkah aneh seperti itu? Apa yang terjadi padanya? Apakah dia akan baik-baik daja? Ah, adiknya itu selalu membuat orang khawatir.

Tap tap tap!
Jiyeon melangkah pelan menuju ruang perpustakaan yang berjarak cukup jauh dari kelasnya. “Bagaimana bisa mereka menyuruh anak penyakitan mengemban tugas sebagai ketua kelas? Ah, dasar pemalas!” Jiyeon tak habis pikir. Teman-temannya senang sekali menyuruhnya melakukan ini itu dengan alasan bahwa dirinya adalah ketua kelas yang mendapatkan jabatan secara mendadak.

“Permisi,” ucap Jiyeon saat menginjakkan kakinya di atas lantai ruang guru.

Seorang guru yang telah selesai merekap nilai siswa-siswanya menoleh ke arah Jiyeon. Dengan terpaksa, guru itu melayani Jiyeon yang hendak mengumpulkan tugas.”

“Gamsahamnida, Seonsaengnim.” Jiyeon membungkukkan badannya.

“Park Jiyeon!” Yoo In Na membaca nametag yang terpasang di atas saku blazer seragam Jiyeon.

“Ne,” jawab Jiyeon singkat.

“Kau tahu Bae Irene?” tanya In Na.

Jiyeon menatap meja Yoo In Na kosong. Dia mengingat-ingat nama Irene.

“Kenapa lama sekali?”

Jiyeon sedikit tersentak tatkala InNa bertanya untuk kedua kali. “Ah, ne. Mungkin saja….”

“Apa maksudmu? Kau tidak mengenal teman sekelasmu?”

“Jongmal mianhae, Seonsaengnim. Saya masih belum dapat menghafal nama dan wajah teman-teman sekelas. Saya masih 3 hari sekolah di sini.”

Yoo In Na heran ada siswi pindahan malah diberikan jabatan ketua kelas. “Kau saja tidak bisa mengingat nama teman sekelasmu, bagaiman kau bisa menjalankan tugasmu sebagai ketua kelas?”

Jiyeon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ah, itu hanya sementara, Saem. Aku menjabat sebagai ketua kelas hanya untuk satu bulan.”

“Eoh, gurae. Semoga kau bisa beradaptasi dengan baik.” Yoo In Na manggut-manggut.

“Ne, gamsahamnida. Saya kembali ke kelas dulu.” Jiyeon memutar badannya dan kembali ke kelas.

Teeeng teeng teeeng!
Bel ketiga sejak tadi pagi telah berbunyi. Tentu saja bel tersebut menandakan kalau pelajaran untuk hari ini telah usai. Hal inilah yang sangat ditunggu oleh para siswa karena tak ada hal lain yang bisa membuat mereka sesenang saat pulang sekolah.

“Jiyeon-a!”

Jiyeon langsung menoleh ke arah seorang gadis yang duduk di bangku dua baris di belakangnya. “Eoh, waeyo?”

“Hari ini biarkan aku  yang membereskan bangki-bangku.”

“Eoh, wae?” tanya Jiyeon yang masih bertanya-tanya dalam benaknya siapa nama gadis itu.

“Tak apa-apa. Aku senang melakukannya. Hari ini aku ada les privat. Jadi, sebelum berangkat ke tempat les, aku ingin membantumu memberesi bangku-bangku.”

“Begitu rupanya. Gurae, gomawo… Irene-a.” Jiyeon baru saja membaca nametag gadis itu. Irene? Jadi, gadis itu bernama Irene? Baik sekali, pikir Jiyeon.

“Hati-hati, Jiyeon-a!” seru Irene seraya melambaikan tangan kanannya pada Jiyeon yang berjalan mundur.

“Eoh, gurae. Gomawo, Irene-a.” Jiyeon membalas dengan lambaian tangan yang serupa dengan yang dilakukan oleh Irene. Tak lama kemudian dia membalikkan badannya dan melangkah maju menuju halaman sekolah.

Kriiing!
Jiyeon tersentak kaget mendengar nada deringnya yang tiba-tiba berubah. “Siapa yang mengganti nada deringku seperti bunyi alarm? Ah, ini pasti ulah eonni.”
Dibacanya nama seseorang yang tengah meneleponnya. SEUNG HO. Kedua matanya terbelalak selebar-lebarnya melihat nama seseorang yang mendapatkan tempat istimewa di hatinya. “Seung Ho oppa?” gumamnya tak percaya kalau dirinya mendapat telepon dari Yoo Seung Ho.

“Yoboseo…” ucap Jiyeon saat kakinya berhenti melangkah di tepi jalan raya.

“Neo eodikka?”

“Eoh, aku? Aku masih di depan sekolah. Sebentar lagi menyeberang. Ada apa?”

“Aku butuh bantuanmu sekarang, Jiyeon-a. Datanglah kemari, aku tunggu di taman.”
Klik!

Jiyeon merengut. “Dia mematikannya secara sepihak untuk kesekian kalinya. Tidak apa-apa, aku senang kalau Seung Ho oppa menelepon. Rasanya seperti sedang berada di surga.”

Tanpa Jiyeon sadari, lampu hijau untuk pejalan kaki telah menyala selama beberapa detik. “Lampu hijau menyala!” serunya yang langsung menjadi pusat perhatian orang-orang sesama pejalan kaki yang berjalan mendahuluinya. Jiyeon hanya bisa tersenyum malu.

“Agassi! Awas!” teriak seseorang dari arah tepi jalan.

Jiyeon menolehkan kepalanya ke arah orang itu. “Waeyo?”

Brraaaakk!!
Semua mata tertuju pada sebuah mobil pribadi berwarna putih yang menabrak seseorang.

Pada saat yang bersamaan, Irene baru saja sampai di tempat penyeberangan. Tugas menata bangku-bangku dapat diselesaikan dengan cepat karena tugas itulah yang disukai Irene, aneh. Kedua mata Irene terpaku pada sebuah benda yang disebut dengan ‘mobil’. Mobil itu menabrak tiang rambu lalu lintas dan keadaannya ringsek di bagian depan.

“Ada orang yang tertabrak!” seru seseorang dengan langkah cepat ke arah mobil yang menabrak itu.

Irene terperangah menyaksikan kecelakaan yang barusaja terjadi begitu saja di depan matanya. Ia berlari hendak menolong seseorang yang tertabrak mobil sedan itu. Tubuh korban tabrakan itu terbaring dan terjepit di bawah mobil dengan berlumuran darah di sekujur tubuhnya.

“Agassi, kau melihat korbannya?” tanya seorang ahjussi yang ingin segera menolong Jiyeon.

Irene mengangguk. Saat mengamati korban itu lebih seksama, airmatanya meleleh dan terasa hangat saat membasahinkulit wajahnya. “Park Jiyeon! Andwae!” jerit Irene saat melihat korban kecelakaan itu yang ternyata adalah Jiyeon.

Rumah Sakit National Seoul
Lampu ruang operasi berganti warna dari warna merah berubah menjadi qarna hijau yang menandakan bahwa operasi telah selesai. Beberapa orang dokter keluar dari ruang operasi dengan tergesa-gesa. Mereka harus melakukan operasi di ruang yang lainnya.

Seorang dokter wanita didampingi oleh seorang perawat yang merupakan asistennya, berjalan ke arah keluarga Park yang telah menunggu selesainya proses operasi sejak bebarap jam yang lalu. Irene juga nampak di ruang tunggu yang terletak tepat di depan ruang operasi.

“Bagaimana keadaan putri kami, Dok?” Tuan Park panik tingkat tinggi. Begitu pula dengan nyonya Park dan Gyu Ri.

Dokter bingung merangkai kata-kata yang tepat untuk disampaikan kepada keluarga Park. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya dokter itu menjawab, “Kondisi putri Anda masih belum dapat ditentukan. Bahkan kami belum bisa memprediksi perkembangannya. Intinya, kondisi putri Anda saat ini sangat kritis.”

Mendengar penjelasan dokter yang singkat itu, membuat nyonya Park terduduk lemas dan berurai airmata.

“Eomma…” lirih Gyu Ri.

Irene yang masih duduk di atas kursi tunggu, tak mampu mendengarkan penjelasan dokter yang menyatakan bahwa Jiyeon dalam keadaan sekarat. Airmatanya tak pernah surut sejak dirinya melihat tubuh Jiyeon terbaring di bawah mobil sedan berwarna putih yang menabraknya beberapa jam yang lalu. Senyum dan hangatnya sikap Jiyeon masih teringat dalam ingatannya. Baju seragamnya yang berlumur darah Jiyeon pun tak dihiraukannya. Irene tetap setia menunggu proses operasi selesai di ruang tunggu bersama keluarga Park. Ia berharap Jiyeon akan baik-baik saja namun ternyta… dokter malah mengatakan hal yang sebaliknya. Iaa melirik ke arah nyonya Park yang terisak dalam tangisnya. Gyu Ri memeluk ibunya erat-erat dan tak ingin melepaskan pelukan itu.

“Eonni… aku turut sedih atas musibah yang menimpa keluarga eonni,” kata Irene dengan menahan isak tangisnya.

Gyu Ri hanya menyunggingkan senyum datarnya sebagai respon atas pernyataan bela sungkawa  dari Irene.

“Kami akan segera memindahakannya ke ruang ICU untuk menerima perawatan yang seharusnya ia dapatkan. Keluarga diizinkan melihat keadaan pasien jika sudah dipindahkan ke ruang ICU,” jelas dokter yang turut menangani operasi Jiyeon.

1 jam dilalui keluarga Park yang sangat mencemaskan keadaan Jiyeon dengan menunggu dan menunggu hingga gadis cantik itu sadarkan diri. Apa yang akan terjadi pada putri cantik mereka?

“Eomma, makanlah dulu,” bujuk Gyu Ri yang melihat ibunya lesu, lemas, dan lunglai. Tamak seperti mayat hidup yang pucat dan tidak bertenaga.

“Nanti saja. Aku ingin melihat Jiyi membuka matanya. Baru setelah itu aku akan makan,” kata nyonya Park dengan tatapan kosong mengarah pada ranjang tempat Jiyeon tergeletak tak berdaya dan mata tertutup.

Irene baru saja selesai membersihkan diri. Dia datang ke ruang ICU dan melihat keluarga Park sedang menunggu di depan ruang itu.

“Annyeonghaseo,” ucap Irene seraya membungkukkan badannya.

“Eoh, Irene-a, annyeong…” balas Gyu Ri. Sedangkan tuan dan nyonya Park masih terdiam di atas kursinya dengan tatapan kosong.

Irene membawa sebuah tas plastik yang berisikan sesuatu. “Eonni, aku bawakan makanan.” Ia menyerahkan tas plastik yang nampak berat itu kepada Gyu Ri.

“Irene-a, kenapa kau repot-repot begini?” Gyu Ri menatap Irene dengan lembut.

“Anhiya, Eonni. Ini hanya makanan. Makanlah! Tuan dan nyonya Park juga harus makan supaya Jiyeon dapat melihat kalian dalam keadaan sehat jika dia sudah sadar nanti.”

Gyu Ri tersenyum ramah. “Jongmal gomawo, Irene-a. Kalau begitu, ayo kita makan bersama-sama,” ajaknya sambil membuka bungkusan plastik dari Irene.

“Aku sudah makan, Eonni. Makanan ini untuk Eonni dan keluarga. Oh ya, bagaimana dengan keadaan Jiyeon? Apakah sudah ada perkembangan?” tanya Irene yang baru saja mendudukkan diri di atas kursi yang terletak di samping Gyu Ri.

Gyu Ri menggeleng.

“Mianhae, Eonni. Aku sangat berharap Jiyeon segera sadar. Aku… benar-benar ikut sedih.” Irene tertunduk sedih membayangkan malangnya nasib Jiyeon.

“Gomawo, Irene-a…” ucap Gyu Ri.

Malam hari pun tiba. Jiyeon masih tergeletak di atas ranjang yang disediakan oleh pihak rumah sakit khusus untuk pasien. Selang infus dan cairan merah yang disebut darah masih terpasang lengkap di kedua tangannya. Sepasang matanya tak dapat lagi terlihat indah karena tertutup rapat dan belum terbuka hingga malam ini.

Tanpa diketahui oleh keluarga yang setia menunggu perkembangan kondisi Jiyeon, mereka tak tahu yang terjadi pada Jiyeon di alam bawah sadarnya.

Tap tap tap!
Terdengar suara langkah kaki seseorang yang diayunkan dengan teratur tanpa adanya perubahan kecepatan laju kaki itu. Pemandangan yang terlihat putih bersih tanpa adanya suatu benda yang nampak, membuat bingung seorang gadis berambut panjang dan berparas cantik yang tengah menyelusuri tempat aneh serba putih itu.

“Di manakah ini?” Gadia bernama lengkap Park Jiyeon itu mengedarkan pandangannya berulang kali, berharap menemukan seseorang atau minimal sesuatu yang mimiliki warna selain warna putih. Semakin lama, Jiyeon semakin jenuh dan pusing karena ke mana pun ia melangkah  warna putih selalu menjadi pemandangan di tempat itu. “Yaak! Tempat apa ini?” tanya Jiyeon entah ia tujukan kepada siapa pertanyaan itu. Jiyeon masih memutar bola matanya sebelum rasa letih hinggap di tubuhnya.

Jiyeon berjalan tanpa arah. Bagaimana ia bisa tahu arah mana yang harus dituju? Semua serba putih dan membuatnya bosan berada di tempat itu. Ingin rasanya Jiyeon menangis meraung-raung agar suaranya dapat didengar oleh seseorang yang mungkin ada di tempat itu.

“Sia-sia aku berjalan ke sana kemari. Tak ada sesuatu atau seseorang yang bisa ku temukan,” keluh Jiyeon seraya menekuk kedua lututnya dan berjongkok di tempatnya berdiri. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Eomma…” lirihnya.

“Ibumu tidak ada di sini.”

Deg!
Jiyeon tersentak kaget. Tiba-tiba ada suara seorang laki-laki yang terdengar sangat nyaring di kedua telinganya. Jiyeon menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Dua detik kemudian, dia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang mendatanginya.

“N, nuguya?” tanya Jiyeon ragu dan dengan kedua mata terbelalak lebar.

Laki-laki tampan yang mengenakan pakaian setba putih itu tersenyum sangat manis pada Jiyeon. “Ah, aku lupa. Perkenalkan, namaku Zhang Yixing.”

“Mwo?” Jiyeon menautkan kedua alisnya saat mendengar sebuah nama yang diucapkan oleh laki-laki berparas tampan itu. “Namamu seperti nama orang China. Apakah kau memang orang China?” tanya Jiyeon polos.

Laki-lako bernama Zhang Yixing itu tersenyum kecil. “Anhi. Aku hanya menyukai nama ini. Untuk itu lah aku memilih Zhang Yixing untuk namaku sendiri. Wae? Kau bingung?

Jiyeon menggeleng. “Anhi. Aku merupakan gadis yang cerdas. Penjelasan seperti itu sama sekalu tidak membuatku bingung.”

“Baguslah!”

“Mwo?”

“Kau ingin berkeliling?”

“Ke mana?” tanya Jiyeon yang merasa sangat yakin kalaupun mereka jalan-jalan, hanya ada warna putih yang setia menemani.

“Akan ku tunjukkan sesuatu padamu. Ttarawa!”

Tanpa berkomentar dan bertanga lagi, Jiyeon mengiyakan ajakan Yixing dan berjalan di belakangnya.

“Yixing-ssi, sebenarnya tempat macam apa ini? Kenapa semuanya serba warna putih? Aku tidak suka warna putih.”

“Sudahlah, jangan banyak bertanya. Kau membuat image-ku sebagai malaikat penjaga semakin menurun,” sahut Yixing yang berjalan santai diikuti Jiyeon di belakangnya.

Jiyeon menghela nafas semaunya lalu menghembuskannya asal. Dia masih penasaran dengan semua yang dialaminya saat ini. Bagaiman dirinya bisa nyasar ke tempat aneh itu? “Yixing-ssi, sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku?”

Yixing menghentikan langkahnya lau membalikkan badannya menghadap Jiyeon yang berdiri di belakangnya dengan tatapan polos. Yixing tersenyum jahil melihat ekspresi polos si gadis berkulit putih itu. “Kalau dilihat-lihat, wajahmu tampak seperti gadis culun.”

“Yaak!” Jiyeon terpancing emosi.

“Haha… anhi, aku hanya bercanda.”

Jiyeon mendelik kesal tetapi dia tetap senang karena kedatangan Yixing dapat menghibur dan menghilangkan kejenuhannya akan tempat yang serba putih itu.

Yixing langkah kakinya menapaki lantai kabut yang ada di bawahnya. Jiyeon tidak melihat ke bawah sehingga ia tidak tahu apa yang kini diinjak oleh kedua kaki jenjangnya.

Untuk beberapa saat lamanya, Yixing dan Jiyeon menyusuri tempat berkabut putih yang berujung pada sebuah tempat yang sangat indah.

Kembali ke dunia nyata di mana Jiyeon masih belum sadarkan diri padahal sudah 2 hari tergeletak di atas ranjang di ruang ICU. Keluarga Park dengan sabar menunggu perkembangan kondisi Jiyeon. Mereka bergantian menjaga Jiyeon di rumah sakit.

Tap tap tap!
“Noona!”

Gyu Ri menoleh ke sebelah kanannya. “Oh, Yook Sungjae?”

Sungjae berusaha mengatur nafasnya yang masih sedikit terengah-engah. “Mian, aku baru datang.”

“Eoh, gwaechana.”

“Bagaimana keadaan Jiyeon? Kenapa dia belum sadar hingga saat ini?” Sungjae sering memberondongi Gyu Ri dengan pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan rapi di memori otaknya.

Gyu Ri menaikkan kedua bahunya. “Kami juga tidak tahu. Dokter mengatakan kalau kondisi Jiyeon mengalami perkembangan sangat kecil. Hanya berkisar 1% setiap 5 jam sekali.”

Sungjae terduduk lemas. “Bagaimana mungkin bisa begini? Kalau Jiyeon tidak segera sadar, siapa yang mau bermain denganku?”

“Yaak! Kalimatmu barusan membuatku bergidik. Bagaimana kau bisa dengan entengnya mengatakan hal itu dalam situasi memprihatinkan seperti ini?” Gyu Ri sedikit kesal pada sahabat adiknya yang selalu bicara sesuka hatinya.

Sungjae tersenyum nakal. “Mian.”

“Bagaimana dengan kegiatanmu sebagai personil boyband, Sungjae-a?”

“Waow, tumben sekali noona menanyakan hal itu padaku? Baiklah, aku akan menjawabnya. Kegiatanku menyenangkan. Tetapi saat aku mendengar kabar tentang Jiyeon yang sedang kritis, aku merasa kegiatan yang menyenangkan itu berubah menjadi kegiatan yang membosankan.”

“Wae?”

Sungjae memasang ekspresi seriusnya. “Karena Jiyeon sedang berjuang untuk bertahan hidup. Aku tidak bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan kegiatanku, Noona.”

Senyum tersungging di bibir tipis Gyu Ri. “Gomawo, Sungjae-a. Jiyeon pasti sangat senang memiliki sahabat sepertimu.”

Sungjae ikut tersenyum. “Jiyeon-a, sedang apa kau di sana? Cepatlah kembali ke sisi kami!” Sungjae tersenyum garing.

“Jeogi, bisakah aku bertanya?”
Tiba-tiba seorang gadis datang menghampiri Sungjae dan Gyu Ri yang asyik mengobrol di ruang tunggu.

“Eoh, tentu saja. Ada yang bisa kami bantu?” tanya Gyu Ri dengan sangat ramah.

Sungjae menatap gadis itu lalu mengerutkan dahinya. Gadis itupun balik menatap Sungjae.

“Sunbae!” pekik gadis itu.

Sungjae tersentak kaget meskipun tatapan matanya tak beralih dari gadis berambut panjang dan cantik itu. “Oh, sunbae? Kau memanggilku sunbae?” Sungjae membelalakkan mata sipitnya.

Gadis itu mengangguk mantab. “Ne, aku memanggilmu dengan sebutan sunbae. Kau lupa padaku? Aku Kim Sohyun, hoobae-mu saat di bangku SMP,” terang Sohyun seraya menjulurkan tangan kanannya pada Sungjae.

Sungjae tersenyum menunjukkan keramahannya pada gadis yang tak kalah cantik dari Jiyeon itu. “Eoh, aku… sedikit lupa. Pantas saja wajahmu tidak asing bagiku.”

“Jinjja?” Kedua mata Sohyun terbelalak. “Wua, senangnya.”

“Annyeong… Kim Sohyun imnida,” sapa Sohyun pada Gyu Ri yang sedari tadi menatap aneh padanya.

“Annyeong, Park Gyu Ri imnida,” balas Gyu Ri.

“Oh ya, siapa yang sedang sakit?” tanya Sohyun pada dua orang yang berdiri di depannya.

“Sahabatku, adiknya Gyu Ri noona,” jawab Sungjae singkat.

Sohyun mengangguk kecil. “Oh, aku turut berduka cita, Gyu Ri-ssi.”

“Gomawo,” sahut Gyu Ri. “Oh ya, ada yang bisa kami bantu? Sepertinya tadi kau ingin meminta bantuan.”

“Oh iya, Gyu Ri-ssi. Aku datang ke sini untuk menyampaikan pesan dari seorang guru untuk salah satu siswinya yang baru saja mengalami kecelakaan. Beliau mengatakan kalau siswi itu dirawat di ruang ICU.”

“Siapa namanya?” tanya Sungjae.

“Park Jiyeon.”

“Mwo? Park Jiyeon adalah adik Gyu Ri noona.”

Sohyun tercengang. “Jinjja?” Bola mata Sohyun mengarah pada sosok Gyu Ri. “Yoo In Na seonsaengnim mengirim bingkisan dan pesan ini untuk Park Jiyeon.” Sohyun menyerahkan bingkisan rumah dan sebuah pesan tertulis pada sebuah kartu berwarna putih gading.

Gyu Ri menerima bingkisan yang diberikan oleh Sohyun dengan senang. Dia membuka kartu yang berisi pesan itu kemudian membacanya. “Jongmal gomawo, Sohyun-ssi,” ucap Gyu Ri setelah membaca pesan itu.

“Cheonmanayo,” jawab Sohyun dengan senyum manisnya.

Park Jiyeon masih berjalan mengikuti langkah kaki Yixing menuju sebuah tempat yang sangat indah.

“Wuaaah, daebak!” seru Jiyeon saat melihat pemandangan yang sangat indah dan belum pernah dia lihat. “Apakah ini yang dinamakan surga?”

“Yaak! Kau belum meninggal. Surga jauh lebih indah dari tempat ini,” kata Yixing yang tengah menatap Jiyeon.

Jiyeon senang sekali melihat pemandangan pegunungan yang memiliki banyak sekali jenis tumbuhan, baik berbentuk tanaman bunga dan tumbuhan lain. Pohon yang menghasilkan buah-buahan terlihat sangat indah karena warna warni buah menghiasi hijaunya daun yang nampak segar. “Daebak!” puji Jiyeon saat melihat pemandangan menakjubkan yang sulit sekali dijelaskan dengan rangkaian kata-kata.

“Kau senang?” tanya Yixing.

“Eoh, pasti,” jawab Jiyeon disertai anggukan mantabnya. Dia sangat menikmati pemandangan itu. Burung-burung berwarna kuning emas beterbangan di atas kepalanya. Kupu-kupu beraneka macam warna terbang bercanda ria membawa kelopak-kelopak bunga yang tak kalah indah dari kupu-kupu itu sendiri.

Yixing tak lelah menarik kedua sudut bibirnya saat melihat ekspresi Jiyeon. Gadis itu terlihat sangat cantik saat wajahnya terkena bias pancaran cahaya yang tak diketahui darimana asalnya. “Sekarang tubuhmu telah mengalami perbaikan di beberapa organ. Kau bisa kembali ke dalam tubuhmu, Park Jiyeon.”

Deg!
Jiyeon menoleh ke arah Yixing dan seketika itu, ekspresi wajahnya berubah drastis. “A, apa maksudmu? Aku tidak bisa tinggal di sini?”

Yixing menggeleng. “Tempatmu bukan di sini.”

Tiba-tiba pandangan mata Jiyeon teralih pada seekor kelinci yang melompat di bawah kaki Yixing. Yixing pun tersenyum dan berjongkok menatap kelinci berwarna putih bersih yang nampak sedang menderita karena telinganya mengeluarkan darah. Tangan kanan Yixing membelai bulu kelinci dengan lembut. Saat itu juga, luka di telinga kelinci lucu itu sembuh seketika.”

Jiyeon kembali terkagum-kagum melihat keajaiban yang terjadi di depannya. “Kau bisa menyembuhkan binatang?”

Yixing mendongakkan kepalany menatap Jiyeon. “Dulu sekali… aku adalah Healing Angel. Tapi sekarang aku menjadi Guardian Angel.”

“Healing Angel? Guardian Angel?”

“Eoh,” jawab Yixing singkat. “Lihatlah! Ada sebuah jalan setapak di sana. Pergilah selagi belum telat!” Yixing mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah jalan setapak yang tertutup kabut putih. Jalan itu diapit oleh tumbuhan perdu di kanan-kirinya.

“Pergi ke mana?”

“Sudahlah, jangan bayak tanya. Jangan khawatir, aku akan menyusulmu.”

Jiyeon memandang Yixing dan jalan setapak itu bergantian.

“Palliwa!”

Jiyeon tak dapat mengatakan apapun. Dia semakin bingung melihat sikap Yixing. “Gurae, aku pergi. Segeralah menyusulku! Aku akan menunggumu.”

Chu…
Yixing mengecup pipi kanan Jiyeon hingga membuat gadis itu terpana dan malu mendapat kecupan secara tiba-tiba. “Yaak! Pergilah!”

Jiyeon menuruti perintah Yixing. Dengan pelan, dia melangkahkan kakinya sejengkal demi sejengkal hingga akhirnya jarak diantara dirinya dan Yixing semakin jauh. Yixing pun melambaikan tangannya.

“Jiyeon-a, bangunlah sekarang, huh! Sungjae ada di sini. Kau pasti ingin bertemu dengannya.” Gyu Ri menatap kelopak mata Jiyeon dan berharap manik mata adiknya akan terbuka lebar. “Sungjae-a!” seru Gyu Ri panik. Dia melihat kelopak mata Jiyeon bergerak.

“Waeyo?” Sungjae langsung berlari mendekati ranjang Jiyeon.

“Aku melihat kelopak matanya bergerak. Jiyeon sadar!” Gyu Ri meneteskan airmatanya karena merasa terharu melihat adiknya telah melewati masa kritis.

Benar apa yang dikatakan oleh Gyu Ri. Jiyeon membuka kedua matanya perlahan.

Sungjae tersenyum senang. “Welcome, Park Jiyeon!”

Bersambung ke part berikutnya.

Thanks for reading

Advertisements

7 thoughts on “사랑이 운다 “Love is Crying” [TwoShoot – 1]

  1. kerenn , yixing emg bsa nyusul jiyeon ? ahh mudah2 an bisa , trus sungjae cuman shabt ya , trus seungho yg jiyeon mau ktemu tp gk jd gara2 kclakaan mana ? ishhh
    irrene baik bgt , trus sohyun sbg apa yaa
    pnasarann next dtunggu thor . fighting 🙂

  2. Perusuh datang lagi Jeng Lay. Ga bisa tidur nih makanya baca epep ja.
    Hadeuh…. bareu kemarin bilang suka ma Sungjae dah muncul dah di ff ini.
    Lay jadi malaikat? Q bayangin dulu ya……
    Pasti Jeng Lay kelepek2 deh liat Lay jadi malaikat.
    Q tunggu part selanjutnya. Keep Writing:-)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s