Doubtless [Chapter – 3]

doubthless

Prev: 1 | 2

Cast:
Jiyeon T-Ara, Seungri Bigbang, Ken VIXX, Seohyun SNSD
Support cast:
Bae Suzy, Lee Donghae, Ham Eunjung, Kim Woobin, Lee Qri
Genre:
Romance, Marriage Life, AU, Friendship
Length: Multichapter
Rating: PG – 13

This storyline and artposter are mine.
NOT ALLOWED to Plagiat / Copy Cut / Take Idea / Bash

Don’t forget to leave Ur feedback!
Sorry for typos somewhere 😀
Happy Reading!

“Aku saja yang membuka pintunya.” Ken bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kaki menuju pintu apartemen Suzy secara perlahan. Tak ada niat dalam hatinya untuk melihat siapa yang berdiri mematung di depan pintu melalui layar Intercom.

Cekleeek!!
Ken membuka pintu yang terpampang jelas di depannya dengan begitu mudah. Tanpa disadari, seseorang tersenyum padanya.

“Annyeong!”

Jiyeon, Suzy, dan Seohyun mengalihkan perhatian mereka pada sosok tamu misterius yang masih belum diketahui identitasnya.

“Seungri-ssi!” seru Ken yang baru menyadari bahwa tamu yang mengetuk pintu tadi adalah Lee Seungri, seorang idol. Lebih tepatnya dia adalah seorang member boyband terkenal, yaitu Bigbang.

Ketiga gadis yang tengah duduk di atas sofa empuk buatan Jepang itu melongo melihat kehadiran Seungri.

“Bagaimana dia bisa tahu tempat ini?” tanya Jiyeon lirih.

“Mollaseoyo. Jangan tanyakan hal itu padaku,” sahut Seohyun.

Suzy menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dirinya juga tak tahu apa-apa terkait kedatangan idol bermarga Lee tersebut.

“Kau tidak memintaku masuk?” tanya Seungri pada Ken. Hanya Ken yang berdiri tepat di depannya. Dia tidak mungkin bertanya pada Jiyeon atau Suzy atau Seohyun yang sedang duduk di dalam apartemen.

Suzy menyusul Ken menuju pintu apartemennya. “Seungri-ssi, bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?”

“Ah, mian. Aku mengikuti Jiyeon-ssi.”

“Mwo?” seru seisi apartemen serentak.

“Daebak! Seorang member Bigbang menjadi penguntit,” ledek Suzy.

“Yaak! Aku bukan penguntit!” seru Seungri tidak terima.

“Seungri-ssi, kau tidak perlu berteriak seperti itu,” timpal Jiyeon.

Seungri ingin melangkah masuk ke dalam apartemen namun sayangnya kaki kanan Ken menghalangi langkah kaki Seungri terayun ke depan.

“Waeyo?” tanya Seungri sedikit kesal.

“Kenapa kau membuntuti kami? Kau ingin menjadikan kami sebagai bahan gosipmu agar namamu terkenal ke segala penjuru negeri?” Ken selalu tidak bersikap ramah pada Seungri yang menurutnya aneh. Ya, Lee Seungri yang mengejar Jiyeon layaknya seorang anak kecil penggila boneka barbie.

“Biarkan aku bicara dengan Jiyeon.”

Seketika itu, Jiyeon mengangkat tubuhnya dan bertumpu pada dua kaki jenjangnya. “Waeyo?”

“Biarkan aku masuk dulu.” Seungri memaksa Ken dan Suzy menyingkir dari hadapannya. “Minggirlah!” teriak Seungri bertambah kesal.

“Seungri-ssi, hentikan tingkah konyolmu itu!” seru Jiyeon.

Seungri memasang tampang melas. “Aku ingin bicara dengan Park Jiyeon. Sebentar saja. Ini penting.”

Mendengar kata ‘penting’ membuat sepasang telinga Seohyun sedikit melebar. “Seungri-ssi, kau adalah idol. Kenapa kau memburu Park Jiyeon? Ah, ayolah, jangan bertingkah konyol seperti itu,” timpal Seohyun yang tidak ingin mendengar keributan lagi di dalam apartemen itu. “Hentikan aksimu itu. Telingaku sudah muak mendengarnya,” lirih Seohyun yang tidak peduli apakah Seungri dapat mendengarnya atau tidak.

“Bicaralah!” perintah Jiyeon dengan nada datar dan suara yang volumenya sengaja dikecilkan.

“Eoh, kau benar-benar memaksaku menahan marah, Park Jiyeon.” Seungri maju beberapa langkah kemudian menarik lengan Jiyeon ke sudut ruangan. Dia ingin membicarakan sesuatu yang bersifat amat penting.

“Katakan hal penting itu!”

Seungri menatap Jiyeon yang berdiri tepat di depannya dengan ekspresi wajah yang dapat membuat orang ingin meluapkan kekesalan. Beberapa detik kemudian, tangan kanan Seungri merogoh saku celananya dan mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam saku itu.

Sejuta pertanyaan terlintas di dalam benak Park Jiyeon saat dia melihat pria yang diidolakannya berdiri di depan matanya dan sedang ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana. “Apa yang ingin kau keluarkan?”

“Ige.” Seungri menunjukkan sebuah foto yang telah usang karena dimakan usia yang bahkan lebih tua dari usianya sendiri. “Kau mengenal orang ini?” tanya Seungri ketika dirinya menunjukkan sebuah foto usang yang di dalamnya terdapat gambar beberapa orang dengan pakaian lawas dan sudah pasti memakai pakaian tradisional Korea.

Jiyeon mengamati foto yang ditunjukkan oleh Seungri dengan seksama. Dia masih memutar memorinya agar menemukan puing kenangan yang pernah ia miliki bersama dengan sosok orang tua yang terdapat dalam foto tersebut. Dengan tetap mengarahkan pandangan matanya pada foto usang itu, Jiyeon menitikkan sedikit cairan yang wajib keluar saat hati sedang bersedih.

“Kau mengenalinya, kan?” tanya Seungri lirih. Dia dapat mengerti dan merasakan kesedihan yang tiba-tiba menghinggapi hati Jiyeon.

Jiyeon hanya mengangguk. “Haraboji…” lirihnya sambil mengusap airmata yang sempat bergulir jatuh membasahi wajah cantiknya.

“Sebenarny aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi… aku merasa ada sesuatu yang terus menghalangiku untuk melakukan itu,” terang Seungri.

“Apa maksudmu?” tanya Jiyeon pada Seungri yang sering bicara bertele-tele.

“Ikutlah denganku. Aku akan menunjukkannya padamu.”

Jiyeon menatap Seungri tak percaya. “Ke mana?”

“Jiyeon-ssi, aku tidak akan berbuat macam-macam terhadapmu. Aku hanya ingin membawamu ke suatu tempat di mana kau bisa mendapatkan penjelasan dari kata-kataku tadi. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu.”

“Baiklah.” Tanpa pikir panjang, Jiyeon bersedia menerima ajakan Seungri menuju suatu tempat.

“Oppa, kalau kau pulang nanti, jangan menungguku.”

Ken mengangkat sebelah alisnya. “Memangnya kenapa?”

“Aku ingin pergi ke suatu tempat bersama Seungri. Jangan khawatir, aku bisa jaga diri, Oppa.”

“Yaak! Bersama laki-laki ini?” Ken mengarahkan jari telunjuknya pada sosok Seungri yang berdiri di samping Jiyeon.

“Jangan berburuk sangka dulu! Aku tidak akan berbuat macam-macam padanya.”

“Aku pergi,” ucap Jiyeon singkat.

Sementara itu, tiga orang yang terdiri dari satu orang laki-laki dan dua orang perempuan merasa heran melihat sikap Jiyeon yang berubah drastis. Beberapa menit yang lalu, Jiyeon tidak ingin bertemu dengan Seungri karena kejadian di restoran tadi. Tetapi sekarang… gadis itu malah pergi bersama Seungri.

“Ada sesuatu yang mengganjal,” kata Suzy curiga.

“Eoh, kau benar. Semoga Jiyeon baik-baik saja,” tambah Ken.

“Kalian tenang saja. Seungri bukan orang jahat. Pasti ada sesuatu yang harus mereka selesaikan.” Seohyun tetap membela Seungri.

Suzy dan Ken pun melirik Seohyun.

“Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya,” tambah Seohyun yang tidak ingin mendapat tatapan intimidasi dari Suzy dan Ken.

Jiyeon dan Seungri telah sampai di suatu tempat yang berjarak cukup jauh dari apartemen Suzy.

“Kenapa kau membawaku ke tempat ini? Rumah siapa? Rumahmu?” 3 pertanyaan diajukan oleh Jiyeon sekaligus.

Setelah menutup pintu mobil, Seungri masih tak menjawab pertanyaan Jiyeon.

Jiyeon melihat polah tingkah Seungri yang sok sibuk merapikan bajunya. “Yaak! Jawab pertanyaanku! Jangan membuatku terlihat bodoh di depanmu!”

“Ada sesuatu yang ingin aku jelaskan padamu. Ini rumahku, lebih tepatnya kediaman keluargaku. Jadi, kau harus menjaga sikapmu dan jangan membuatku malu.” Penjelasan singkat dari Seungri diucapkan dengan nada dingin dan datar, tanpa ada penekanan kata tertentu. “Dengarkan saja apa yang disampaikan padamu. Jangan membantah dan jangan banyak bertanya,” lanjut Seungri.

Semakin lama, Jiyeon semakin bingung melihat sikap Seungri. Laki-laki yang berjalan di depannya adalah seorang idol terkenal namun terkadang ia tak nampak seperti seorang idol.

“Eomma! Aku pulang!” seru Seungri saat baru saja menapaki lantai rumahnya yang terbuat dari keramik mahal.

Jiyeon berjalan di belakang Seungri dengan tatapan kagum saat matanya menangkap kilauan benda-benda kaca yang terpajang di setiap sudut rumah Seungri. Kursi kelas internasional tertata rapi di dalam ruang tamu. Lantai yang sangat bersih dan berkilat tampak seperti lantai es untuk bermain sky. Penvahayaan rumah itu sungguh menyedapkan mata. Tak hanya lampu yang memiliki cahaya terang terpampang di setiap ruangan, lampu dengan cahaya redup pun tak luput dipajang di setiap ruangan rumah itu. Yah, itulah yang dinamakan rumah mewah.

Tap tap tap!
Jiyeon dapat mendengar suara langkah seseorang yang berjalan cepat mendekat ke arahnya. Bukan, lebih tepatnya ke arah Seungri karena orang itu pasti keluarga Lee.

“Surgaku sudah pulang…” sambut ibu kandung Seungri dengan senyum ramahnya. Nyonya Lee sering memanggil Seungri dengan kata Surgaku.

Jiyeon hanya melihat ibu dan anak yang berpelukan erat di depan matanya.

“Eomma, ini gadis yang kau cari.” Seungri meminta Jiyeon untuk memberi salam pada ibunya.

“Annyeonghaseo… Park Jiyeon imnida.”

Nyonya Lee senang sekali melihat Jiyeon berperilaku sopan terhadap orangtua. “Aku ibunya Seungri. Senang sekali bisa bertemu denganmu, Park Jiyeon.”

Jiyeon menundukkan kepalanya. “Senang bertemu denganmu juga, Nyonya Lee.”

“Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu. Panggil saja eomonim.” Nyonya Lee merangkul bahu Jiyeon. Hal ini membuat Jiyeon bingung ingin melakukan apapun.

“Ne, gomawo, Eomonim.”

Nyonya Lee, Seungri dan Jiyeon berjalan pelan menuju ruang makan yang di atas meja berbentuk elips telah tersaji beberapa jenis makanan lezat khas Korea.
“Ayo makanlah dulu!”

Keramahan nyonya Lee ini disambut dengan senyuman oleh Jiyeon. Sampi saat ini Jiyeon masih belum dapat menangkap maksud dari kebaikan keluarga Seungri. Untuk menghormati nyonya Lee yang sudah menghidangkan makanan dengan susah payah, Jiyeon pun menurut. Ia duduk di salah satu kursi menghadap meja makan, disusul Seungri yang duduk di sampingnya.

“Makanlah dulu! Nanti baru kita bicarakan sesuatu.”

Kalimat itu terngiang di telinga Jiyeon. ‘Membicarakan sesuatu?’ batinnya.

Suasana hening di dalam kediaman keluarga Lee membuat Jiyeon semakin salah tingkah. Dia tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna karena nanti suaranya akan menggema di seluruh sudut rumah mewab itu. Selesai makan, Jiyeon menunggu nyonya Lee di ruang tamu, ditemani oleh Seungri yang menyibukkan diri membaca majalah sport kesukaannya.

Setelah beberapa menit menunggu nyonya Lee yang ingin mengatakan sesuatu, akhirnya sekarang Jiyeon dapat bernafas lega karena wanita paruh baya itu sedang berjalan mendekatinya yang sedang duduk di salah satu sofa mewah di dalam ruang tamu.

Nyonya Lee mendudukkan tubuhnya di samping Jiyeon. Wanita itu membawa sebuah kotak berwarna merah yang sukses membuat Jiyeon penasaran.

“Ada sesuatu yang akan ku tunjukkan padamu.” Nyonya Lee membuka kotak berwarna merah yang ia bawa.

Jreeeng!!
Jiyeon membelalakkan kedua mata indahnya melihat dua buah cincin yang berkilau dan sebuah kalung permata yang pasti harganya mencapai jutaan won.

“Semua ini adalah milikmu.”

“N, nde? Eomonim… bagaimana bisa ini menjadi milikku?”

“Tentu saja bisa karena sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga kami.”

“M, mwo? Apa maksudnya?”

Seungri menatap Jiyeon dengan dingin lalu melanjutkan aktifitasnya lagi, membaca majalah yang ia sukai.

Nyonya Lee hanya tersenyum. “Ceritanya panjang. Kau ingin mendengarnya?”

Jiyeon mengangguk pelan.

“Baiklah, aku akan menceritakannya secara singkat. Dulu waktu kakekmu dan kakek Seungri masih muda, mereka selalu bersama-sama. Tinggal di tempat yang sama, menuntut ilmu di sekolah yang sama, semua mereka lakukan secara bersama-sama. Suatu hari, saat mereka tengah memikirkan masa depan, kakekmu pernah berkata ‘Seandainya kita bisa bersama selamanya hingga anak cucu secara turun temurun, aku pasti akan bahagia di atas sana’. Kakekmu membayangkan betapa bahagianya persahabatan yang terjalin melebihi saudara bisa awet selamanya hingga anak cucu mereka. Saat memikirkan hal itu, kakek Seungri malah berkata ‘Aku akan menjodohkan anak kita nantinya. Tapi jika anak kita sesama jenis, perjodohan itu berlaku untuk cucu kita nantinya’. Karena anak dari kakekmu adalah laki-laki, dan anak dari kakek Seungri juga laki-laki maka perjodohan itu berlaku untuk cucu mereka, yaitu kau dan Seungri.”

“N, ne? M, mworago?” Jiyeon terkejut. Ia tak menyangka dan tak pernah bermimpi akan berjodoh dengan Seungri yang notabennya adalah idola yang sangat ia puja-puja meski akhir-akhir ini Seungri sempat mengecewakannya.

“Begitulah intinya. Kami selaku orangtua juga tak pernah menolak perjodohan kalian. Mungkin orangtuamu belum bisa membicarakannya padamu.” Nyonya Lee mengambil secangkir teh yang terhidang manis di depannya.

Jiyeon masih tak habis pikir, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ini nyata, bukan mimpi belaka. “Eomonim, Anda bercanda, kan?”

Nyonya Lee menggeleng. “Anhi,” jawab Ny. Lee dengan senyum. “Aku senang bisa bertemu denganmu. Kita akan membicarakan pesta pernikahan kalian secepatnya.”

“Andwae!” seru Jiyeon dan Seungri serempak. Mereka tak menyadari hal itu.

“Waeyo? Kalian kompak sekali…” kata Ny. Lee.

“Eomma, jangan membicarakan masalah pesta pernikahan. Aku seorang idol. Bagaimana reaksi fansku jika mengetahui kabar bahwa aku menikah secara mendadak? Kasihan para hyung-ku nantinya jika fans kami memgamuk dan protes pada agensi.”

“Benar, Eomonim,” timpal Jiyeon.

Seungri berusaha keras mencari jalan keluar agar masalah pernikahan dapat diselesaikan tanpa melibatkan banyak orang. Karirnya bisa hancur jika menikah secara mendadak dengan gadis pembawa berita yang tidak begitu dikenalnya. Meskipun Jiyeon adalah gadis yang baik dan cantik, dia tetap saja bisa merubah nasib Bigbang nantinya. Para sasaeng akan membully Jiyeon atau lebih parahnya mereka akan membuat Jiyeon stres dan depresi. Selain itu karir Bigbang dan saham YG entertainment bisa anjlok seanjlok-anjloknya.

Malam semakin larut. Setelah bicara membahas masalah pernikahan dengan Ny. Lee, Jiyeon undur diri karena orangtuanya pasti khawatir jika dia tidak segera pulang. Seungri, laki-laki yang bertanggung jawab mengantar Jiyeon pulang hanya terdiam selama perjalanan menuju kediaman keluarga Park dan berkonstrasi memegang kendali mobilnya.

“Jangan berpikir macam-macam,” lirih Jiyeon dengab pandangan lurus ke depan tanpa melirik sedikit pun ke arah Seungri.

Tak ada respon. Seungri enggan membuka mulutnya untuk menanggapi Jiyeon.

“Turunkan aku di depan saja. Kau tidak perlu mengantarku sampai ke rumah.”

Kali ini Seungri melirik Jiyeon yang membuang muka menghadap ke jendela mobil di sebelah kanannya. Jiyeon dapat melihat ekspresi Seungri dan apa saja yang terpampang di layar jendela mobil itu.

“Bukankah dirimu yang berpikir macam-macam? Kau pasti senang dengan adanya perjodohan ini.”

Laki-laki bernama Seungri itu sangat menyebalkan bagi Jiyeon. “Sama sekali tidak. Aku menyesal telah menjadi penggemarmu. Mulai sekarang aku akan menjadi penggemar TOP, bukan dirimu lagi.”

“Tcih! Aku ingin mengajukan sesuatu padamu. Jika nanti kita menikah, aku ingin kita membuat sebuah kesepakatan.”

“Kesepakatan? Nikah kontrak?” tebak Jiyeon.

Beberapa hari kemudian.

Hari ini adalah hari pernikahan Seungri dan Jiyeon. Tak ada yang mendengar kabar tentang pernikahan itu selain pihak keluarga keduanya. Pernikahan ini harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi jika tidak ingin menghancurkan karir Seungri dan Jiyeon. Seungri menghendaki nikah kontrak dengan Jiyeon. Dia tidak mungkin hidup berlama-lama dengan gadis pembawa berita selebriti.

Setelah mengucap janji sehidup semati, Jiyeon dan Seungri meninggalkan gereja dan pergi menuju apartemen Seungri yang terletak di tengah kota Seoul.

“Saat tinggal bersama nanti, aku harap kau tidak berbuat macam-macam. Pernikahan ini bukanlah pernikahan sesungguhnya karena aku belum siap menghadapi sesuatu yang bernama ‘pernikahan’.” Seungri tidak ingin Jiyeon terlalu berharap bahwa hubungan mereka berdua bisa seharmonis hubungan suami-istri pada umumnya. Pernikahan karena perjodohan sangat dekat dengan kegagalan sehingga dia Jiyeon dan Seungri tidak berharap pernikahan ini akan berhasil.

Beberapa menit telah berlalu. Akhirnya sepasang suami-istri yang baru menikah telah sampai di sebuah apartemen elit. Orangtua Seungri menginginkan anak dan menantunya tinggal di lingkungan yang aman dan elit. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan harga mahal untuk sebuah apartemen meski mereka harus merogoh kocek lebih banyak untuk membiayai pembelian apartemen itu.

Cekleeek!!
Seungri membuka pintu apartemen miliknya yang dulu ia sewa, sekarang telah dibeli oleh orang tuanya.

Tik!
Semua lampu dinyalakan, begitu juga dengan pendingin ruangan dan segaka peralatan elektronik lainnya.

“Kamarmu di sana. Aku di sini.” Seungri menunjuk ke arah  dua buah ruangan yang berdekatan.

“Eoh,” sahut Jiyeon.

“Aku akan kembali ke agensi dan latihan bersama para hyungku. Kau bisa di sini semaumu.” Seungri terburu-buru.

Jiyeon mendesah kesal. “Apa gunanya keeikah jika harus seperti ini? Jia bukan karena permintaan kakeknya, Jiyeon pun enggan menerima perjodohan itu.

Sepeninggal Seungri yang buru-buru pergi ke kantor agensi, Jiyeon bingung dan tak tahu apa yang bisa dilakukannya. “Apa yang harus kulakukan? Aku akan menata dan merapikan barang-barang di apartemen ini saja. Hari ini aku libur, besok juga libur. Yaaak! Menyebalkan! Seharusnya pernikahan membawa kebahagiaan tersendiri. Aku malah… aish! Lupakan Jiyeon-a! Aku rindu sekali pada Ken oppa dan Suzy.” Jiyeon terduduk lemas di atas sofa empuk milik Seungri. “Sofa pun memiliki aroma pemiliknya.” Indera penciuman milik Jiyeon mencium aroma maskulin yang berasal dari sofa yang didudukinya. Pasti parfum mahal Seungri melekat di sofa itu saat Seungri tiduran di atasnya.

Karena tak ada yang bisa dilakukan, akhirnya Jiyeon memutuskan untuk bersih-bersih dan menata benda-benda yang ada di dalam apartemen itu. Apartemen elit yang mungkin harganya lebih mahal dari apartemen milik Suzy itu ternyata cukup luas jika dihuni oleh dua orang. Jiyeon berkeliling melihat-lihat sekeliling apartemen itu. Setiap sudut apartemen dihiasi oleh foto Seungri dan Bigbang. “Apa jadinya kalau fotoku juga ada di sini,” gumamnya. “Jangan! Kalau member Bigbang main ke tempat ini, mereka akan mengetahui rahasia yang kami simpan dan lama kelamaan akan bocor. Andwae!”

Kriiiing!!
“OMG!” seru Jiyeon saat sedang menata sprei ranjang King Size milik Seungri. Dia kaget bukan kepalang mendengar bunyi dering dari ponselnya yang tersimpan manis di dalam saku celana jeansnya.

Jiyeon mengambil ponselnya lalu membaca sebuah nama yang tercantum di layar ponsel itu. LEE SEUNGRI. Dahinya berkerut saat membaca nama itu. Seungri lah yang sedang menghubunginya. “Eoh, yoboseo….”

“Yaak! Park Jiyeon, tolong carikan dompetku di depan tv.”

“Depan tv?” Jiyeon segera meluncur ke ruang santai di mana ada sebuah tv 42 inchi duduk manis di atas meja kecil yang memang khusus untuk meletakkan tv. Jiyeon mencari di segala tempat namun tak kunjung menemukan dompet Seungri. “Matikan teleponnya dulu. Aku tidak bisa mencarinya dengan maksimal. Nanti kalau sudah ketemu akan aku hubungi.”

Seungri menurut. Dia memutuskan sambungan teleponnya sesuai dengan permintaan Jiyeon.

“Iish! Ada-ada saja. Kenapa bukan hidungnya yang ketinggalan? Ya Tuhan, aku lupa tidak menanyakan warna dompetnya.” Jiyeon menepuk dahinya sendiri.

10 menit kemudian.
“Akhirnya ketemu,” lirih Jiyeon saat menemukan dompet milik suaminya yang ternyata jatuh di bawah nakas di dalam kamarnya. Jiyeon membolak-balikkan dompet berwarna biru tua itu. Ia penasaran sekali isi dompet milik Seungri. “Tidak ada salahnya kalau aku membuka dompet ini. Dia kan suamiku.”

Jiyeon membuka kancing dompet mahal yang ada di tangannya. Ia membuka dompet itu perlahan-lahan.

Deg!
Begitu dompet dibuka, foto Seungri dan seorang gadis terpajang indah di dalamnya. “Seohyun….” lirih Jiyeon tak mengedipkan matanya sedetik pun saat melihat foto mesra Seungri dan Seohyun di dalam dompet itu. “Apa hubungan mereka berdua? Bukankah Seungri belun pernah memiliki kekasih?”

Kriiiing!
Ponselnya berdering lagi. Ini kedua kalinya Jiyeon dikejutkan oleh bunyi dering ponselnya. “Eoh, aku sudah menemukannya.”

“Gurae, kau bisa mengantarkan dompetku?”

“Eoh. Di mana?”

“Jeogi, personil Anda tahu di mana ruang make up personil Bigbang?” tanya Jiyeon pada seseorang yang mengenakan seragam hitam dan memakai kartu identitas.

“Ne. Lurus saja, nanti akan ada ruang yang bertuliskan Bigbang. Mereka ada di sana semua.”

“Gamsahamnida,” ucap Jiyeon seraya membungkukkan punggungnya.

Jiyeon berjalan lurus menyusuri lorong yang ditunjukkan oleh staf tadi. Dia berjalan tenang dan sedikit ragu hingga membuat kakinya tampak segan melangkah maju. Sesampainya di depan ruangan yang bertuliskan nama Bigbang, Jiyeon menghentikan ayunan langkahnya. Dia berdiri mematung di depan pintu.

Tit tit tit!
Tuuuuut! Tuuuuut!

Ceklek!
Jiyeon tersentak kaget karena tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang dari dalam ruangan. “Jeo…” Sepasang mata indah milik Jiyeon terbelalak melihat sosok laki-laki yang baru saja membuka pintu.

“Sepertinya aku pernah melihatmu.”

“Ne… eoh, aku… Park Jiyeon, penyiar berita selebriti di….”

“Oh iya, aku ingat. Aku pernah melihatmu saat menyaksikan siaran langsung wawancara Seungri,” terang TOP yang telah berpenampilan super keren karena sebentar lagi Bigbang akan memulai konser mereka.

Jiyeon baru ingat kalau dirinya pernah membawakan siaran langsung acara wawancara dengan Seungri. “Ah, ne. Itu aku. Hmm, TOP-ssi, bolehkah aku minta tolong padamu?”

“Mwonde?”

“Tolong berikan dompet ini pada Seungri. Tadi ada seseorang yang menitipaknnya padaku karena dia melihatku dalam acara wawancara yang kau sebutkan tadi.”

“Tentu saja. Akan ku berikan pada Seungri.” TOP menerima dompet yang diserahkan oleh Jiyeon padanya.

“Gamsahamnida, TOP-ssi. Aku pamit.” Jiyeon membalikkan badannya dan melangkah semakin jauh dari ruang make up grup Bigbang. Sebenarnya ia sangat ingin melihat penampilan Seungri di atas panggung setelah sekian lama dia hiatus

gosip miring tentangnya yang telah tidur dengan seorang gadis tak dikenal. ‘Apakah aku harus memikirkan hal itu juga? Bukankah semua itu sudah berlalu?’ batinnya sambil menikmati langkah kakinya menuju halaman gedung yang menjadi tempat konser comeback Bigbang.

“Vi, kau beruntung memiliki kenalan cantik dan baik,” ujar TOP pada Seungri yang baru selesai mengenakan kostumnya.

“Kenalan?” tanya Seungri bingung.

“Ige. Ada seorang gadis cantik yang menitipkannya padaku.” TOP menyerahkan dompet Seungri dengan senyum nakal. “Kenalkan aku padanya.”

Seungri masih belum mengerti maksud TOP. “Hyung, siapa yang kau bicarakan?”

“Yaak! Kau berpura-pura tidak tahu, eoh?” Kedua mata TOP melotot hingga membuat Seungri enggan menatapnya. “Gadis penyiar berita itu.”

“Mwo?”

“Kenalkan padaku!”

“Hyung, apakah tidak ada gadis lain yang menarik perhatianmu?”

“Issh! Aku hanya ingin mengenalnya, bukan mengajaknya berkencan. Kau ini! Mana mungkin aku mengajak sembarang gadis berkencan di sembarang tempat? Karir kita bisa hancur gegara skandal yang berat seperti itu.” TOP merangkul bahu Seungri yang langsung mendapat penolakan terang-terangan.

“Jangan merangkul bahuku! Kostumku bisa berantakan nantinya.” Seungri menjauhkan diri dari TOP. “Aku akan mengenalkanmu padanya lain waktu jika aku ingat, oke?”

TOP tersenyum puas. “Oke, Magnae!”

10 menit berjalan kaki membuat Jiyeon merasa lelah apalagi suasana hatinya sedang tidak bagus. “Bagaimana mungkin aku meninkah dengan seseorang yang sama sekali tidak menganggapku sebagai istrinya? Kenapa aku merasakan sakit hati? Ah, tidak mungkin. Seungri adalah orang yang baik dan tidak pernah mempermainkan wanita seenak jidadnya. Dia pasti akan memperlakukanku dengan baik. Saat itu terjadi, aku juga akan memerlakukannya dengan baik,” gumam Jiyeon saat dirinya melewati sebuah mini market. Jiyeon menoleh ke sebelah kanan. Ia melihat box es krim yang tampak menggoda. “Pasti enak sekali kalau sekarang menikmati manis dan dinginnya es krim.” Jiyeon mengayunkan kakinya ke arah mini market.

“Selamat datang!” sambut seorang kasir yang kelihatan lebih muda darinya.

Jiyeon hanya membalasnya dengan senyuman. “Es krim, di manakah dirimu?” lirih Jiyeon saat mencari keberadaan box es krim yang menjadi tujuan utamanya.

“Park Jiyeon!”

Jiyeon langsung membalikkan badan dan melihat siapa yang memanggilnya. Seorang laki-laki maskulin dengan tinggi badan sekitar 180 sentimeter dan memakai jaket berbahan jeans sedang menatapnya dengan memamerkan senyum mautnya.

“N, nuguya?” Jiyeon tak berkedip melihat penampilan laki-laki yang memanggil namanya tadi.

“Kau lupa padaku? Aish, sudah ku duga.”

“Apakah kita sudah saling mengenal?” tanya Jiyeon polos.

Pletaakk!!

Jiyeon mengusap ubun-ubunnya yang dipukul oleh laki-laki tak dikenal itu. “Aku juru kamera, Pabbo!”

“Mwo?” Jiyeon malah menunjukkan ekspresi lugunya. “Aaah, aku ingat. Kau Kim Woo Bin yang menjadi juru kamera saat aku mewawancarai Lee Seungri, kan?”

“Ah, loadingmu lama sekali. Hampir saja aku pergi kalau kau tidak mengingatku. Ingatanmu sangat buruk!” ejek Woo Bin.

“Itu karena kau memukul kepalaku.”

“Kau sudah dengar gosip terbaru?”

“Gosip apa?” tanya Jiyeon

Woo Bin mendekatkan wajahnya ke telinga Jiyeon untuk membisikkan sesuatu. Setelah selesai membisikkan beberapa patah kata, Jiyeon bengong dan tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya terasa kaku dan lemas.

TBC

Sorry kependekan. Aku kepikiran sama FF lain yang kejar tayang. Hihihi…

Sorry lagi, alurnya aku cepetin karena baru nyadar kalo ini udah chap 3 tapi belum masuk ke konflik yang sebenarnya

Semoga gak mengecewakan. Komen atau gak, terserah kalian aja.

Tinkyu udah baca ^^

Advertisements

8 thoughts on “Doubtless [Chapter – 3]

  1. omaigot .. aq ktinggalan ff ni… ternyata dah nongol part 3 next3.. huaaah. jiyi nikah ma seungri oppa knp g ma gd kkkk.. wuah itt bisik2 apa y ampe jiyi cengo…

  2. kok seungri jadi gini sikapnya ke jiyeon? tapi gapapa deh seru. hehehe. wah gosip apa tuh? gosip tentang seungri yah? sama siapa? haha. next!! fighting^^

  3. Huaaa akhirx publish.. ish jiyi bkm tau apa seungri seohyun prnh berhub? Huh.. mdh2an top n woobin bs bkn seungri cemburu ya.. kwkwwkwk plak.. next dong..

  4. Baru mau komen alurnya kkok secepat MRT ternyata dibawahnya sudah ada notesnya. Ternyata perjodohan euy…… cit.. cuitt….
    Hadeuh TOP mata keranjang amat sih. Liat cewek cantik dikit minta dikenalin.
    Ditunggu lanjutannya. Keep writing:-)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s