1st Anniversary – Protect The Princess [Chapter 1]

ptp

Title:

Protect The Princess – The 9.5 [Chapter 1]

Written By:

Joonisa, qintazshk, slmnabil, Uniquechildish

Main Cast:

JYJ Jaejoong

Red Velvet Irene

JYJ Yoochun

T-ARA Eunjung

Support Cast Chapter 1:GOT7 Jinyoung, EXO Lay

Genre: Romance, Action, Thriller , Crime

Length: Multi – Chapter

Rating: PG 15

Disclaimer:This FF presented for Indo Club 1st Anniversary. Storyline this chapter is mine. DON’T PLAGIAT!

Happy Reading <3<3

***

 Dendam hanya akan membuat lebih banyak penderitaan

 

 

Yoochun menggeliat pelan saat sang surya menyapa dengan galak dari ufuk timur menembus ke jendela kamarnya. Suara geraman kecil terdengar ketika Yoochun meregangkan otot-ototnya. Yoochun tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menoleh ke jam dinding berwarna hitam putih miliknya dan menyadari sesuatu.

“Astaga! Sudah jam delapan?”

Yoochun melompat dari tempat tidur, menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, dan tiba-tiba langkahnya terhenti saat hidungnya menangkap sebuah aroma yang spontan membuat lapar. Ia mengikuti arah datangnya aroma tesebut dan berakhir di dapur.

“Akhirnya bangun juga.”

Yoochun mencibir mendengar sapaan sekaligus sindiran Jinyoung, adik semata wayangnya yang baru saja melipat apron dan memasukkannya ke dalam lemari. Kakak beradik itu hanya tinggal berdua sepeninggal orang tua mereka lima tahun yang lalu. Jadi, mengenai urusan pekerjaan rumah, mereka membaginya dengan cukup adil. Seperti pagi ini, jika Yoochun bangun kesiangan, otomatis Jinyoung yang akan memasak.

Hyung.”

“Apa?” tanya Yoochun sesaat sebelum memasukkan suapan pertamanya.

“Kau habis mimpi jorok, ya?”

“PFFFTTTT!!”

Jinyoung tergelak saat makanan Yoochun berhamburan kemana-mana. Baginya, mengerjai kakaknya yang selalu terlihat serius itu merupakan hobi yang istimewa.

“Apa tebakanku benar?”

Yoochun mengelap beberapa butir nasi yang menempel di bibirnya sambil menggeleng, “Pertanyaanmu aneh sekali.”

“Habis, saat aku masuk ke kamarmu untuk membuka tirai, kau tersenyum lebaaar sekali saat tidur.”

Yoochun berhenti mengunyah makanannya selama beberapa sekon, memberi jeda pada ingatannya untuk mengingat mimpi tadi malam. Mimpi yang serupa setiap malam, tapi tak sama antara satu dan lainnya.

“Aku memimpikan dia lagi, tapi kali ini sedikit lebih jelas.”

“Lebih jelas?” Jinyoung menggeser kursi makannya, lebih merapat pada Yoochun, “Cantik?”

Yoochun tersenyum simpul, lalu memilih kembali fokus pada sarapannya ketimbang Jinyoung yang antusias berlebihan.

“Aku hanya melihat bibir dan hidungnya saja, tapi itu indah sekali.”

“Yah!” Jinyoung mendadak lemas. “Kalau begini terus kapan kau akan menikah?”

“Apa kau bilang? Hah? Beraninya berkata seperti itu?” Yoochun langsung menjitak kepala adiknya. Baru saja Jinyoung akan membalasnya, tapi ponsel Jinyoung yang ada di atas meja makan tiba-tiba berdering. Yoochun yang tidak sengaja melihat caller ID yang tertera di layar ponsel Jinyoung langsung mengambil ponsel itu.

“I.E? Siapa I.E?”

“Eisshhh serahkan padaku!” Jinyoung berusaha merebut ponselnya dari tangan Yoochun, tapi usahanya gagal karena Yoochun pandai berkelit.

“Pacarmu ya?”

“Cepat serahkan padaku atau aku akan mati!”

“Katakan dulu dia siapa!”

“Gadis yang kusukai. Puas?”

Mulut Yoochun membentuk huruf ‘o ‘ kecil dan matanya melirik genit pada adiknya itu. Dengan cepat ponsel itu berpindah ke tangan ke Jinyoung diikuti dengan langkah cepat Jinyoung mengasingkan diri ke dalam kamarnya. Setelah menutup rapat pintu kamar, Jinyoung menatap layar ponselnya dengan jantung yang rasanya hampir ingin melompati daerah otonominya.

“Halo?”

Halo? Lay?

“La… Lay?” Kambing imajiner yang berada di kamar Jinyoung mendadak bersuara. Kaki Jinyoung terasa membeku di tempat.

“Irene, ini aku, Jinyoung. Bukan Lay.”

Oh? Jinyoung? Astaga maafkan aku, sepertinya aku salah pencet nomor. Tapi karena sudah terlanjur, jadi ya sudahlah aku minta tolong padamu saja.

Jinyoung tersenyum lebar. Ia berdeham beberapa kali untuk menjaga martabat dan harga diri.

“Minta tolong apa?”

Temani aku untuk liputan hari ini. Kita akan mewawancara saksi kasus pembunuhan.”

Mata Jinyoung membelalak, “Ka.. kasus pembunuhan?”

Iya. Kenapa? Tidak mau, ya?

“Oh… mau. Aku mau saja. Baiklah, sebentar lagi aku berangkat ke kantor. Kita bertemu di sana saja.”

Oke. Bye.”

KLIK!

“Aish dasar! Dia selalu menutup telepon semaunya!”Jinyoung memaki dan mencibir pada ponselnya. Sedetik kemudian makian dan cibiran itu berubah menjadi siulan dan senandung riang khas anak muda yang sedang mengekspresikan eksistensi cinta.

Jinyoung meraih jaket yang tergantung rapi di lemari, menyampirkan ransel merah kesayangannya di bahu, berhenti sejenak di depan cermin untuk menyempurnakan tampilan Maha Karya Sang Pencipta, lalu bergegas keluar dari kamarnya sampai-sampai Yoochun yang berdiri sambil melipat tangan tidak dipedulikannya. Yoochun yang melihat hal itu langsung menahan tangan Jinyoung.

“Kapan kau akan membawa Irene ke sini dan mengenalkannya padaku, bocah?”

“Aku buru-buru, hyung. Nanti tuan putri marah. Dadah!” Jinyoung melepas tangan Yoochun dan berlari secepat kilat menuju ke mobil.

“Hei, kau berutang penjelasan padaku! Ingat itu! Dasar anak kecil!”

“Temukan dulu wanita yang ada di dalam mimpimu, setelah itu giliranku! Oke?”

Jinyoung mengeluarkan kepalanya dari jendela kemudian menjulurkan lidah pada Yoochun. Ia lalu memacu mobilnya dan meninggalkan Yoochun yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Yoochun melangkah satu demi satu menuju ke dalam rumah. Sembari melangkah ia melihat sekelilingnya. Secara kasat mata, Yoochun hanya akan terlihat seperti orang yang kurang bersemangat. Tapi jika diperhatikan dengan seksama, Yoochun melihat titik-titik tertentu yang diarahkan oleh nalurinya sebagai seorang secret agent.

Setiap hari Yoochun menemukan sedikitnya tiga buah CCTV mini yang diselipkan oleh seseorang atau mungkin orang-orang – yang sebenarnya Yoochun juga tidak tahu itu siapa – entah itu di sela-sela rumput teki, daun anggrek, bahkan ada juga di bawah lampu taman. Kali ini Yoochun menemukan satu CCTV mini menempel di tiang listrik depan pagar rumahnya. Ia berjalan cepat menghampiri CCTV itu dan mencabutnya dengan brutal.

“Orang yang paling tidak ada kerjaan di dunia ini adalah orang yang memasang CCTV di sini! Kurang ajar!”

Yoochun menginjak-injak CCTV mini itu sampai tak berbentuk lalu menyiramnya dengan selang penyiram tanaman.Kegiatan siram-menyiramnya terinterupsi oleh bunyi ponselnya sendiri. Tanpa melihat sang penelepon, Yoochun sudah tahu siapa yang menelepon karena ia sudah mengatur nada dering khusus untuk orang yang satu ini.

Sibuk?” tanya seseorang di seberang telepon.

“Sibuk menyiram hasil pekerjaan orang yang kurang kerjaan!” Sahut Yoochun ketus.

Ckckck. Aku bertanya satu kata, kau menjawab delapan kata. Sopan sekali partner kerjaku ini.

Yoochun memutar bola matanya seolah malas untuk berbasa basi, “Ada apa? Tugas baru?”

Sementara ini belum. Kau masih bisa jalan-jalan santai atau pergi ke tempat pijat refleksi. Atau mungkin juga kau bisa melakukan kencan buta di akhir pekan nanti.

“Kau mau menyindir atau mengejek? Kututup teleponnya!”

KLIK!

Yoochun memasukkan ponsel ke sakunya. Serpihan CCTV mini yang sudah ia remukkan sudah habis disiramnya ke saluran pembuangan air. Yoochun menatap lekat-lekat serpihan CCTV mini yang larut bersama air, meninggalkan sebuah pertanyaan yang terbagi menjadi atom-atom dan mengganggu setiap partikel intuisi dalam dirinya.

“Siapa sebenarnya yang mengawasiku? Dan untuk apa?”

.

.

.

Jinyoung memarkir mobilnya dengan tingkat kelurusan yang sempurna. Saat ia melepas sabuk pengaman, ia melihat presensi yang bagaikan vitamin untuknya. Memberi semangat sekaligus pereda rasa lelah di setiap hari-harinya. Presensi yang tidak dapat diabaikannya walau sekecil apapun itu. Rambut hitam panjang bak bintang iklan shampo yang tertiup semilir angin membuat pesona sosok itu semakin menggila untuk membuat waktu Jinyoung berhenti selama beberapa saat.

“Irene!”

Jinyoung berlari kecil menghampiri Irene yang sedangasyik menyedot caramel macchiato di bangku taman Stasiun TV JTBA. Melihat Jinyoung datang, Irene mengambil beberapa lembar kertas yang ada di sebelahnya beserta satu gelas caramel macchiato.

“Ini untukmu.” Irene menyerahkan keduanya ke tangan Jinyoung. Jinyoung menerimanya dengan wajah bingung.

“Apa ini?”

“Bahan untuk liputan kita nanti dan segelas kopi karena kita mungkin akan liputan sampai malam.”

Mulut Jinyoung spontan membuka. Hampir saja dia berteriak ‘yes yes yes!’ sambil melompat ke atas pohon kalau saja tidak ada Irene di sana. Liputan sampai malam mengandung arti kalau dia akan bersama Irene seharian. Itu lebih baik daripada kencan, menurut Jinyoung.

“Kenapa bengong? Ayo!” Irene menggamit lengan Jinyoung, menyuruhnya untuk bergegas. Batin Jinyoung bersorak berkali-kali atas apa yang diperbuat Irene padanya. Bibirnya pun tak bisa dicegah untuk membuat lengkungan manis di wajahnya.

Irene melepaskan lengan Jinyoung saat mereka akan masuk ke dalam mobil dinas. Tepat saat Jinyoung menyusul masuk, ia melihat seseorang yang dikenalnya sedang menjemput seorang wanita menggunakan motor sport di seberang jalan.

“Irene.” Panggil Jinyoung tanpa mengalihkan pandangannya dari pengendara motor sport itu.

“Ya?”

“Lay tidak ikut liputan bersama kita?”

“Tidak. Katanya sih ada urusan mendadak. Memangnya kenapa?” Tanya Irene penasaran. Ia pun mengikuti arah pandang Jinyoung tapi wajahnya buru-buru dipalingkan Jinyoung ke arah lain.

“Oh, tidak. Tidak apa-apa,” Jinyoung menutupi salah tingkahnya dengan terkekeh.

“Ada apa sih?”

“Kubilang tidak apa-apa. Pak supir, ayo jalan! Nanti kami terlambat liputan!”

Jinyoung tidak peduli dengan cibiran kecil Irene karena tidak menjawab pertanyaannya. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah keberadaan seseorang di seberang jalan tadi. Dia yakin itu adalah Lay karena mereka teman satu tim saat bekerja, otomatis Jinyoung langsung bisa mengenali Lay meskipun dari jarak sejauh itu.

Urusan mendadak macam apa sampai dia berani meninggalkan pekerjaan? Siapa sebenarnya wanita itu?

.

.

.

Seorang wanita beperawakan tinggi, berambut pendek sebatas bahu, berkulit putih, dan menggunakan jaket tebal berwarna cokelat tua tengah mengetuk-ngetukkan ujung heels yang dikenakannya. Tangannya dilipat di depan dada, menandakan kalau toleransi kesabarannya sedang rendah. Ponsel yang ada di tangannya tiba-tiba bergetar.

OPPA

Decihan pelan terdengar dari bibirnya yang merah. Seakan bosan melihat nama itu, nada malas pun terdengar saat ia menjawab teleponnya.

“Ada apa?”

Eunjung, dia bukan sasaran kita yang berikutnya. Apa kau pikun mendadak?

Wanita yang dipanggil dengan nama Eunjung itu pun “Aku hanya ingin bermain sebentar. Permainan ini bermanfaat, jadi Oppa tenang saja.”

Ini bukan waktunya bermain, sayang. Kembalilah ke jalurmu, oke?

“Ini permainan ‘sekali tepuk, dua lalat mati’. Aku yakin Oppa sering mendengarnya.”

Mwo?”

Eunjung langsung mematikan sambungan telepon itu ketika melihat seorang pria dengan motor sport berhenti di depannya. Ia sedikit terkejut saat pria itu membuka helmnya.

“Lay?”

Lay mengangkat kedua alisnya dengan senyum sedikit dipaksakan. Masih tanpa suara, ia menyerahkan sebuah helm pada Eunjung.

“Tumben naik motor? Biasanya naik mobil.” Eunjung mencoba berbasa-basi. Lay menarik nafas, kemudian menghembuskannya keras-keras.

“Aku bersedia bertemu denganmu dan meninggalkan pekerjaankku hari ini bukan untuk menjawab pertanyaan remeh semacam itu. Mau naik atau tidak?”

Eunjung mengigit bibir demi menahan emosinya setelah pendengar jawaban Lay yang ketus. Dengan kasar ia merebut helm yang ada di tangan Lay dan naik ke atas motor dengan wajah yang ditekuk. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Lay, namun Lay menahannya.

“Tidak usah terlalu erat!”

Eunjung mengepalkan tangannya. Ia memilih untuk tidak berpegangan sama sekali dan melipat tangannya di depan dada.

“Kenapa kau membenciku seperti ini?”

Sebuah senyum simpul menghiasi bibir Lay, “Karena kau layak dibenci.”

Air mata jatuh membasahi pipi Eunjung. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Lay berubah menjadi sedingin ini padanya. Padahal menurutnya Lay adalah pria terlembut yang pernah ia temui.

“Baiklah kalau begitu. Ayo jalan.”

Lay memacu motornya dengan kecepatan sedang. Saat ini perasaannya tengah berkecamuk antara marah dan sakit. Marah karena ia harus bertemu dengan Eunjung yang saat ini ia benci, sakit karena harus bertemu dengan Eunjung yang dulu sangat ia sayangi.

“Perempatan belok kanan.”

Lay mengarahkan motornya sesuai instruksi Eunjung. Selama perjalanan Lay sibuk menata pikiran dan hatinya. Matanya menatap jalan, tapi tatapan itu sama sekali tidak memiliki jiwa.

“Lay, belok kiri.”

.

.

.

“Saksi pembunuhan kali ini seorang pengacara?” tanya Jinyoung pada Irene saat mereka baru saja turun dari mobil. Nama sebuah firma hukum tertera di sebuah ruko kecil itu.

“Benar. Pokoknya kita harus mewawancarainya sampai menemukan jawaban!”

Jinyoung melirik Irene yang menjawab pertanyaannya dengan menggebu-gebu. Ambisi Irene saat meliput berita memangg mengalahkan dirinya. Itu adalah salah satu poin plus bagi Jinyoung. Ia suka gadis yang bersemangat.

“Baiklah, ayo naik.”

Jinyoung mempersilakan Irene untuk menaiki tangga ruko itu. Saat tiba giliran Jinyoung untuk naik, matanya menemukan Lay berada di sebuah café di seberang jalan bersama dengan wanita yang dilihatnya sebelum berangkat meliput berita.

“Irene,” Jinyoung menepuk bahu Irene, “aku izin sebentar untuk menelepon seseorang. Kau duluan saja dengan kameramen.”

“Oh, oke.”

Jinyoung menuruni anak tangga lalu masuk ke mobil. Dengan gerakan yang cepat ia memencet tombol panggilan cepat nomer satu. Hanya dengan satu nada sambung, panggilan Jinyoung sudah diangkat.

“Ada apa, Jinyoung-ah?”

.

.

.

Yoochun membalik halaman majalah gadget sambil menyeruput espresso double shot kesukaannya. Musik yang ada di café milik salah seorang kenalannya itu membuatnya betah berlama-lama menghabiskan waktu santai yang diberikan oleh bosnya. Sesekali Yoochun menggoyang pelan tubuhnya mengikuti irama lagu sambil menyanyikan liriknya. Rasanya ia benar-benar hidup sekarang.

“Jadi benar, kau pelakunya?”

Alis Yoochun berjengit mendengar kata ‘pelaku’ dari sepasang anak manusia yang duduk di meja sebelah. Kata itu telah berhasil membangkitkan naluri secret agent nya. Namun detik berikutnya ia merasa hidupnya saat ini tidak dalam keadaan cuti seperti yang dikatakan bosnya.

“Sial, kenapa di hari liburku aku masih mendengar kata-kata itu?” Yoochun menggerutu, lalu mengambil headset yang ia simpan di saku jaket dan memasukkannya ke telinga. Kepalanya bergoyang-goyang saat lagu Bruno Mars – Uptown Funk memasuki ruang dengarnya. Saat ia akan menaikkan volumenya, ponselnya berbunyi.

“Ada apa, Jinyoung-ah?” sahut Yoochun setelah mengangkat telepon. Selama beberapa detik, tidak ada suara dari si penelepon.

“Jinyoung? Halo?”

“Hyung…”

“Ya?”

“Kalau kita melihat hal yang mencurigakan sebanyak dua kali, haruskah kita mengikutinya?”

Alis Yoochun bertaut mendengar pertanyaan adiknya, “Tentu saja. Kalau hal itu muncul beberapa kali, itu bukan kebetulan, namun itu adalah sebuah petunjuk.”

“Be… benarkah?”

“Hmmm.” Yoochun mengangguk samar, “Memangnya kau llihat apa?”

“Oh, itu – tidak, tidak ada. Ya sudah, terima kasih.”

KLIK!

Yoochun menatap ponselnya dengan bingung. Ia kembali melanjutkan untuk membaca majalah sambil mendengarkan musik kesukaannya tanpa menyadari bahwa ada sesuatu yang besar sedang terjadi di dekatnya.

.

.

.

Jinyoung tertegun selama beberapa saat. Kata-kata dari Yoochun masih berputar jelas di kepalanya.

Kalau hal itu muncul beberapa kali, itu bukan kebetulan, namun itu adalah sebuah petunjuk.

“Petunjuk?” gumam Jinyoung saat otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Ia langsung keluar dari mobil begitu mendapat sebuah ide yang dirasanya cukup membantu mengatasi rasa penasaran dan firasat tidak enak ketika melihat Lay.

Jinyoung menyeberang jalan setelah lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Ia menuju ke cafe di mana ia melihat Lay. Namun bukannya masuk ke cafe, Jinyoung malah menuju ke tempat parkiran motor. Ia berlari kecil sambil melihat satu-persatu motor yang terparkir di sana, sampai akhirnya ia menemukan motor yang digunakan oleh Lay.

Jinyoung mengeluarkan sebuah benda yang ia letakkan di kantong ransel paling depan. Benda berbentuk bulat, berwarna hitam, dan berukuran sebesar kancing diletakkannya di bawah jok motor milik Lay.

“Beruntungnya aku memiliki kakak seorang agen rahasia,” ucap Jinyoung dengan bangga. Ia melangkah dengan riang untuk kembali ke tempat liputannya. Saat ingin menyeberang, ia melihat Irene yang bertolak pinggang lengkap dengan ekspresi marah sedang menunggunya di seberang jalan. Bukannya takut, Jinyoung malah tersenyum menanggapinya.

“Bahkan ketika marah pun dia cantik. Dasar kau, Irene!”

.

.

.

BIP! BIP!

Jinyoung spontan merogoh ke dalam sakunya, takut kalau suara ponsel miliknya bisa membangunkan Irene yang ada di sebelahnya. Ia melambaikan tangan ke wajah Irene untuk memastikan kalau gadis itu tidak terbangun. Saat ia yakin Irene masih tertidur pulas, Jinyoung melihat notifikasi di ponsel yang sudah ia hubungkan dengan alat pelacak yang ada di bawah motor Lay. Alat pelacak itu menunjukkan kalau ia berada di tempat yang sama selama lebih dari satu jam.

“Di mana ini?” Jinyoung melihat ponselnya dengan seksama, “sepertinya ini daerah bekas gudang pabrik tekstil.”

“Nona Irene, kita sudah sampai di rumahmu.” Ucap sopir yang duduk paling depan. Irene terbangun kemudian mengucek mata sebelum melihat ke arah jam tangannya.

“Jam 11,” gumam Irene sembari menguap. Jinyoung bermaksud mencandai Irene dengan menutup hidungnya seolah-olah mulut Irene bau. Melihat hal itu Irene langsung memelintir perut Jinyoung.

“Awww!!!” Jinyoung memegangi perutnya setelah dipelintir oleh Irene, “Irene, itu sakit sekali! Astaga!”

Irene tergelak melihat ekspresi kesakitan Jinyoung yang menurutnya lucu, “Makanya, jangan mengolokku duluan. Aku turun dulu ya, sampai ketemu besok.”

“Oke, sampai besok Irene.”

Irene turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah. Mobil pun beranjak dari kediaman Irene menuju ke rumah Jinyoung. Namun baru melewati dua belokan, Jinyoung menepuk pak sopir.

“Pak, saya turun di sini saja.”

Pak sopir lantas menepikan mobilnya dan berhenti, “Kenapa turun di sini?”

“Saya harus menemui seseorang dulu. Terima kasih ya pak sudah menemani kami hari ini. Jangan lupa, kamera dan peralatan lainnya yang ada di bagasi belakang langsung disimpan di ruang logistik.” Pesan Jinyoung panjang lebar. Pak sopir mengacungkan jempolnya dengan mantap.

“Siap!”

Jinyoung tersenyum lalu turun dari mobil. Tanpa membuang waktu ia berlari menuju ke halte bus sambil terus melihat ponselnya.

“Harusnya lokasinya tidak jauh dari sini.”

Tak lama waktu berselang, bus yang ditunggu Jinyoung sudah datang. Ia masuk ke bus itu dan mengambil tempat duduk di dekat jendela. Sesekali ia melihat ke luar jendela untuk memastikan kalau lokasi yang ia tuju sesuai dengan GPS.

“Semoga Lay tidak sedang dalam bahaya.”

.

.

.

“Arrgghhh!!!”

Lay menjerit sekuat tenaga saat sebuah pipa besi menghantam kepalanya. Genangan darah yang semakin banyak keluar dari tubuhnya tidak dapat ditahannya lagi. Ia tidak berdaya untuk melawan karena tubuhnya sudah terlalu lemah. Bahkan untuk berdiri pun rasanya mustahil untuk dilakukan.

“Eun… Eunjung…” ucap Lay tertatih-tatih dengan tangan menggapai-gapai ke arah Eunjung yang sedang asyik mengayunkan pipa besi itu.

“Seharusnya kau sudah mati, Lay. Bahan kimia yang digunakan untuk melumpuhkan gajah sudah aku perbanyak dosisnya. Apa kau masih ingin menelan sisanya?”

Lay yang sudah pucat seperti mayat menggeleng lemah.

“Kau tahu permainan ‘sekali tepuk dua lalat mati’?”

Tubuh Lay menggelepar di atas lantai semen yang penuh dengan darahnya sendiri. Tangannya menarik-narik rambutnya untuk mengalihkan rasa sakit namun upaya itu tidak berhasil. Eunjung menarik dagu Lay hingga terangkat ke hadapan wajahnya.

“Tujuanku membunuhmu yang pertama adalah karena kau memutuskan hubungan kita lalu kemudian menyukai Irene. Kau tahu, aku benci sekali padanya.”

Pandangan Lay semakin buram. Wajah Eunjung yang ada di depannya pun terlihat menggelap di matanya.

“Tujuan kedua, untuk memancing seorang teman dekatmu yang merupakan umpan utama kambing hitam yang sesungguhnya. Kurasa sebentar lagi dia datang.”

Eunjung menghempaskan Lay ke lantai, lalu berbalik dan berdiam diri selama beberapa saat. Sebuah smirk yang membuat siapa saja yang melihatnya takut terukir di bibirnya ketika ia mendengar suara lantai semen yang beradu dengan alas sepatu kets. Semakin lama derap langkah kaki itu semakin nyaring terdengar.

“LAY? LAAAYYY? Kau di mana? LAAAYYY?”

Bekas gudang pabrik tekstil yang temaram itu menampakkan bayangan Jinyoung yang berlarian kesana kemari. Eunjung menjentikkan jarinya beberapa kali sampai akhirnya Jinyoung menemukannya.

“Kau datang lebih cepat dari perkiraanku, tuan Park.”

Jinyoung menyipitkan matanya, mencoba untuk fokus karena gudang itu minim pencahayaan dan jarak antara mereka berdua hampir tujuh meter. Setelah ia bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di sana, Jinyoung diam-diam mengeluarkan ponsel dari saku belakang celananya dan menekan tombol panggilan cepat nomor satu. Setelah itu, ia melepas ranselnya dan melemparkannya ke sembarang arah bersama dengan ponsel itu.

“Siapa kau? Di mana temanku?”

Eunjung terkekeh, “Maksudmu dia?”

Tubuh Lay yang sudah tidak bernyawa terguling beberapa kali karena ditendang oleh Eunjung. Jinyoung terbelalak melihat keadaan Lay yang terbilang menggenaskan. Pucat, kotor, dan berlumuran darah. Air mata Jinyoung tak dapat ditahannya lagi. Ia meraih tubuh Lay dan menangis sejadi-jadinya.

“Lay, bangun! Kau masih hidup kan? Lay? LAAAAYYYY!!!!”

“Aish berisik!!!” teriak Eunjung sambil menutup telinganya, “tidak usah melankolis begitu, dasar cengeng!”

Jinyoung menatap Eunjung penuh amarah, “siapa kau? Kenapa kau membunuh temanku? KENAPA?”

“Untuk memancingmu agar kau ke sini.” Jawab Eunjung enteng. Jinyoung bangkit dan mendorong Enjung sampai menubruk gulungan kain yang sudah usang.

“Kalau kau ada perlu denganku, kenapa tidak langsung saja menemuiku? Kenapa harus menggunakan Lay?”

“Aku ada dendam pribadi dengan Lay yang tidak perlu kau tahu.” Jawab Eunjung santai. Tanpa sepengetahuan Jinyoung, Eunjung mengeluarkan sebuah suntikan dari saku belakang celananya dan tanpa basa-basi, ia menusukkannya ke leher Jinyoung tanpa sempat mendapat perlawanan. Jinyoung mengaduh kesakitan dan terhuyung beberapa langkah ke belakang.

“Pelumpuh gajah yang kedua selesai. Dosisnya lebih banyak dari Lay.” Eunjung menepuk-nepuk bajunya yang berdebu. Hanya perlu beberapa detik, cairan yang ditusukkan ke leher Jinyoung sudah mulai bereaksi. Jinyoung merasakan sakit yang luar biasa menjalari tubuhnya.

“Ap.. apa itu? Pelumpuh… gajah?”

Eunjung tidak menghiraukan pertanyaan Jinyoung. Ia malah terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Sampai di pintu depan, ia menemukan benda yang ia cari yaitu ransel dan ponsel Jinyoung.

“Ini dia.”

Eunjung terbahak ketika melihat ponsel Jinyoung yang masih tersambung dengan Yoochun. Ia memutus panggilan itu dan menginjak ponsel Jinyoung dengan ujung sepatu hak tingginya. Selesai menghancurkan ponsel, Eunjung beralih pada ransel Jinyoung. Ia mengaduk-aduk isi ransel dan membuka semua resleting sampai akhirnya ia menemukan benda hitam sebesar kancing yang menyala-nyala.

“Sebagai adik seorang agen rahasia, kau tidak buruk juga ya, Park Jinyoung.”

Eunjung menginjak benda itu sampai hancur tak bersisa. Belum selesai, Eunjung pergi ke arah Lay dan menempelkan telapak tangannya pada genangan darah di sekitar tubuh Lay. Ia kemudian mengusap darah Lay itu ke sisi lantai semen yang lain membentuk sebuah tulisan.

“Selesai!”

Eunjung melihat ‘hasil karya’ yang dibuatnya dengan tatapan dan senyum puas. Ia kemudian melambaikan tangan pada Jinyoung yang sedang berjuang dengan maut.

“Kau dan kakakmu yang cerdas pasti akan bisa mengartikan ini. Ini hanya sebuah petunjuk mudah. Aku pergi dulu, dadah!”

Kesadaran yang masih tersisa membuat Jinyoung beringsut dari tempatnya semula untuk melihat apa yang ditulis Eunjung. Alisnya berkerut saat membacanya.

“9.5?”

Jinyoung memegangi dadanya yang terasa luar biasa sakit sambil berpikir tentang arti 9.5 . Ia memejamkan kedua matanya selama beberapa saat. Hanya butuh waktu beberapa detik, ia sudah berhasil menemukan jawabannya.

“9 itu I dan 5 itu E. I.E…” gumam Jinyoung terpatah-patah. Bulir air mata langsung jatuh ke pipinya karena ia tahu betul siapa I.E itu.

“Irene… Irene…”

Jinyoung merayap dengan tenaganya yang tersisa ke arah Lay. Ia mengambil darah Lay yang sudah mulai mengental di lantai dengan telapak tangannya dan mengusapkan ke tulisan 9.5 yang dibuat oleh Eunjung untuk menutupinya. Namun sayang, belum semua tulisan itu tertutup, Jinyoung menghembuskan nafas terakhirnya.

Ia meninggal tepat di sebelah Lay.

.

.

.

Yoochun menguap lebar sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Ia tersenyum sambil menghirup segarnya udara pagi yang masuk dari jendela kamarnya. Beberapa kali Yoochun mengucek mata sebelum ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja kerja.

“Jinyoung? Kenapa dia menelepon?”

Yoochun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke kamar Jinyoung. Saat membuka kamar Jinyoung, ia tidak menemukan siapapun di sana.

“Anak itu tidak pulang rupanya.”

Yoochun pergi menuju ruang tengah dan menyalakan TV. Ia memilih channel beberapa kali sampai tulisan JTBA muncul di kanan atas.

Breaking News.”

Yoochun terperangah melihat penyiar wanita yang muncul. Ia belum pernah melihat wajah penyiar itu sebelumnya di TV, tapi entah kenapa ia merasa wajah itu tidak asing.

“Rasanya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya?”

Yoochun melanjutkan menonton berita yang dibawakan penyiar itu.

Telah terjadi pembunuhan berencana… di sebuah gudang…”

Penyiar wanita itu tertunduk dan tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Yoochun mengamatinya dengan seksama. Penyiar wanita itu menangis sesergukan beberapa kali sebelum ia melanjutkan membacakan berita.

“Telah terjadi sebuah pembunuhan berencana di sebuah gudang bekas pabrik tekstil. Korbannya adalah dua orang reporter kami dari stasiun TV JTBA.”

“Pantas saja dia menangis.” Yoochun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Korbannya adalah Reporter Lay dan Reporter Park Jinyoung dari divisi sosial.”

Remote TV yang ada di genggaman Yoochun langsung terjatuh saat mendengar nama adiknya termasuk salah satu korban pembunuhan. Tanpa membuang banyak waktu, Yoochun mengambil kunci mobil sambil melacak lokasi terakhir ponsel Jinyoung dengan ponselnya. Setelah masuk mobil, ia menginjak gas kuat-kuat dan memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.

“Sekian breaking news kali ini. Saya, Reporter Irene, melaporkan dari tempat kejadian.”

Tanpa siapapun yang tahu, termasuk Yoochun dan Jinyoung, ada yang tersenyum di depan layar monitor besar yang terhubung dengan CCTV yang sudah ia pasang di dalam rumah Yoochun. Saat melihat kekacauan Yoochun di pagi hari, tawa keras langsung keluar dari bibirnya.

“Kambing hitam sudah masuk perangkap. Eunjung, silakan berllibur untuk sementara.”

To Be Continue…


Haloooo semuaaaa maaf baru post hari ini, maaf banyak typo, maaf ceritanya ga action-action amat, dan untuk qintaszhk , selamat melanjutkan ya 😀

Komennya ditunggu ^^

Advertisements

13 thoughts on “1st Anniversary – Protect The Princess [Chapter 1]

  1. Hallo kaaak,
    Aku baru aja masuk daftar kelompok kakak
    Sangat menantang sekali ini ff nya pas aku liat genre nya hahaha karena ga pernah nulis ff crime dan action:(
    Semoga kelompok kita berhasil ya kak 😉

  2. nisaaaa ini keren, duh kenapa pada mati…
    ati2 loh kamu dimarahin kak lia, suaminya (re: Lay) kamu matiin disini, hahahaa.
    keep writing…

  3. OH GOOOOOOD /SCREAM/
    INI GIMANA AKU NGELANJUTINNYA KAK? -____-

    aku suka ceritanyaaaa yaampun. enak banget buat dibaca dan diksi-nya duh kaaak ajarin dikit dooong huhuu
    gatau kak mau ngomenin apalagi pokoknya ini kereeeeen
    asli ini aku speechless banget pas udah selesai.

    makasih banyak kak tantangannya HAHAAA
    keep writing yaa ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s