[Oneshoot] Choice

jiyeon

Choice — sekuel of Risau |by: siluetjuliet | Oneshot: 2k+wc

Cast: Park Jiyeon (T-ARA) | Other Casts: Song Mino (Winner), Zhang Yixing (EXO), Nam Taehyun (Winner) | Rating: PG+15 (for bad words) | Genre: Romance, Angst

Rules : no plagiarism !

.

Summary:
Nyatanya, bertahan pada apa yang sudah kau pilih bukanlah perkara yang mudah….

.

Senyumku tersungging ketika cahaya sein mobil milik Taehyun terberkas dari kejauhan—melaju mendekat ke arah tempatku berpijak. Kulihat siluet pria di dalam mobil itu tengah menekan klakson. Ia, Nam Taehyun, bahkan tidak menghentikan bunyi klaksonnya meski kini ia dan mobil sedannya telah  berhenti tepat di depanku.

Mencoba menggodaku rupanya.

Segera ku masuki mobilnya lalu dengan serta merta menjambak rambutnya, tak lupa memaki sahabatku yang tingkah usilnya keterlaluan ini. “Berisik, bodoh!”

“Galak sekali sih? Datang bulan ya?”

Uhuk! Selamat untukmu tuan Nam, kau berhak mendapat sebuah pelototan super mengerikan dariku. “Bukan begitu bodoh! Bagaimana jika himpunan tetanggaku terganggu akibat polusi suara yang kau ciptakan itu? Memangnya kau mau dikeroyok, huh?”

“Tenang saja, aku ‘kan tampan, mereka tak akan tega menge—AUW! Sakit bodoh!” segera kubungkam mulut cerewetnya dengan meninju ubun-ubunnya.

Karena kesal, Taehyun memilih untuk diam dan mulai melajukan sedannya menuju kampus. Sayang, sikap pendiam Taehyun hanya berlaku sementara. Belum ada lima menit, ia kembali mengeluarkan suara—bertanya lebih tepatnya.

Tumben memintaku menjemputmu? Kemana Mino?”

“Tak apa, aku hanya ingin berangkat bersama Nam Taehyun, sahabatku yang tampan.” Pertanyaan Taehyun kujawab dengan gurauan, karena aku tidak ingin ia tahu alasan sebenarnya mengapa aku menolak ajakan rutin ‘antar-jemput’ dari Song Mino.

Cih, itu berita lama Ji. Jangan menggoda calon suami orang,” Taeyun melebarkan kelima jemari kirinya di hadapanku—menunjukkan cincin polos yang melekat di jari manisnya,”lagipula kau bukan tipeku Ji.”

“Sialan!” kupukul lagi kepalanya untuk kali kedua dengan kekuatan ekstra.

“Sakit Ji—“ ringisnya sambil mengusap kepala,“—Oh ya, kau punya pacar ya? Sejak kapan? Darimana kau mengenalnya? Apa dia rekan kerjamu? Kenapa tidak cerita?”

“Ya ampun Nam Taehyun! Kau ini bertanya atau menginterogasi?” tanyaku kesal.

Both. Jawab saja pertanyaannya, Ji.

Merasa tak punya pilihan, aku terpaksa menjawab pertanyaan Taehyun agar setidaknya, ia tidak menurunkanku di tengah jalan.“Ya. Aku punya pacar.”

Alih-alih mengucapkan selamat, Taehyun malah tergelak. “Shit! Kau Menertawaiku?”

Habisnya, mustahil sekali gadis keras kepala sepertimu untuk punya pa—AUW… BERHENTI MEMUKULKU, JI!”

Taehyun seketika mematut mode diam dalam aksinya, kemungkinan takut aku memukulnya lagi. Keadaan mendadak hening. Mulut woodpecker taehyun sepenuhnya menghilang. Hingga aku tak tahan, dan membuka suara terlebih dahulu. “Namanya Yixing, Zhang Yixing. Dia sangat baik padaku, Tae….”

Taehyun melirikku dari ekor matanya. “Kau menyayanginya?” tanyanya dengan sangat hati-hati.

“Ya… aku menyayanginya, tentu saja….”

“Lalu, bagaimana dengan Mino?”

Ugh! Pertanyaan apa itu barusan?

“Maksudku… Mino juga sangat baik padamu, dan dia juga menyayangimu. Apa Mino tahu soal ini? Soal, kau punya pacar….”

“Kurasa ia tahu,” jawabku tanpa berani menatap Taehyun.

Aku dapat mendengar helaan napas berat dari lelaki yang sedang mengemudi di sisiku ini. “Ji, setidaknya perhatikan juga perasaan sahabatku yang satu itu….”

“Siapa? Mino, maksudmu? Jadi menurutmu, aku harus meninggalkan kekasihku demi bersama Mino, begitu?”

“Bisa jadi,” ujar Taehyung sembari memasang kuda-kuda untuk menangkis pukulanku, “tapi jika kau memang sangat menyayangi kekasih barumu itu, maka berikan ketegasan pada Mino, Jiyeon-a.” Aku urung memukulnya, dan membiarkan diriku hanyut dalam saran-saran picisan yang dilontarkan oleh Taehyun.

“Kurasa, selama ini kau tidak tegas. Menggantung perasaan Mino seenak pusarmu sendiri. Terlebih, ketika penyataan perasaannya sudah terumbar jelas, namun selalu kau abaikan.”

Taehyun mencuri pandang sesekali untuk melihat kondisiku yang mungkin tampak sangat buruk dengan ekspresi kekosongan yang terlalu kentara di wajahku yang lupa kupoles bedak.

“Jiyeon-a, kau harus memi— “

“Taehyun, bisakah kita putar arah? Aku ingin pulang.”

“—lih, eh… Kau sudah gila ya? Kau mau bolos kuliah? Hari ini mata kuliah Prof. Jeon, kau tahu kan kalau itu mata kuliah yang penting?“

“Kalau begitu, turunkan saja aku disini.”

“Ji, jujur ya, apa kau marah atas celotehanku barusan?”

“Tidak. aku hanya, mendadak merasa tidak enak badan.”

“Tapi Ji— “

“Tae, berhentilah bicara, atau kau akan kuhajar!”

***

Disinilah aku berakhir, di balik gelungan selimut yang nyatanya tak juga menghangatkan. Enggan menyentuh apapun, termasuk ponselku, meski lampu notifikasinya telah berkedip ribuan kali–menggodaku untuk sekadar membuka fitur perpesanan di dalamnya.

Karena, aku tahu pasti apa isi di dalamnya, dan dari siapa pesan-pesan itu datang. Dari kekasihku tentunya. Sekadar untuk mengingatkan agar aku tak melewatkan makan malam.

Terkadang, pesan-pesan dari Yixing terasa pias, kala eksistensinya tak mampu kusanding.

Memangnya, apa yang bisa kau harapkan dari seorang Zhang Yixing yang berada ribuan kilometer jauhnya, Ji?

Rapalan pertanyaan itu terus berkecamuk dan nyaris merusak jaringan neuron yang mengabdi pada otakku. Padahal, jawaban yang kutemukan akan selalu sama; aku tidak bisa berharap apapun.

Aku tak bisa berharap ia—Yixing—menghabiskan setiap makan malamnya bersamaku, atau bahkan mengumbar kemesraan layaknya kekasih yang sedang kasmaran; menonton bioskop bersama, misalnya.

Oh, ayolah! Aku hanya bisa melakukan hal-hal picisan seperti itu paling cepat tiga bulan sekali.

Sejauh itu jarak yang memisahkan kami, bahkan memakan waktu lebih dari dua belas jam perjalanan jika ingin bertemu. Melapas rindu pun dirasa sulit, karena sekadar berinteraksi lewat video call sekalipun, tak lantas membuat hubungan ini berjalan mulus bak paha para member girlband masa kini.

Aku—mungkin dia juga—sangat rentan untuk jatuh pada pesona yang lain.

Tapi, aku telah menerima ajakan berpacaran dari Yixing. Aku memilih Yixing dari awal, kurasa segalanya akan mudah jika bersama Yixing. Ibuku menyukai Yixing, pula Yixing sangat baik dan dewasa. Sebut saja aku terlampau percaya diri, namun aku juga yakin dengan pasti bahwa Yixing mencintaiku.

Akupun yakin bisa besanding dengan Yixing selamanya, namun nyatanya, bertahan pada apa yang sudah kau pilih bukanlah perkara yang mudah….

Segalanya baik-baik saja, sebelum perhatian intens Song Mino mengacaukan suasana hatiku.

Pada akhirnya, aku lelah memikirkan hal yang sama belakangan ini. Risau yang tak kunjung reda, malah semakin menggelora akibat celotehan si berengsek Taehyun.

Aku tidak tahu, harus bagaimana. Mino pemuda yang baik terlampau baik, tapi janji ini telah terikat bersama Yixing. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

Aku lelah. Memejamkan mata, adalah satu-satunya pilihan yang kupunya saat ini, untuk sekadar menarik diri dari riuhnya dunia—duniaku yang rumit.


Tok… Tok…

Sialan! Siapa yang berani mengusik waktu tidurku?

Maksud hati ingin mengabaikan ketukan pintu yang menginterupsi waktu istirahatku, namun telinga ini jengah juga lantaran ketukannya semakin intens terdengar.

Kulajukan tungkai dengan malas demi membukakan pintu bagi si empunya jemari yang mengetuk pintu barusan. Dengan senang hati aku ingin menghajar tamu sialan ini, jika saja orang ini bukan….

“Mino….“

“Hai, kau pasti belum makan malam ‘kan?”—senyum Mino terkembang seraya mengangkat sebuah bungkusan dalam genggaman tangannya—“Nih, kubawakan makanan untukmu.”

Aku masih membeku di tempat. Mino terlampau memesona. Dengan balutan outfit kasualnya, ia tetap nampak memukau, apalagi ditambah perhatian sederhananya—membawakan makan malam, bukan hanya mengingatkan, seperti yang Yixing lakukan—sungguh, membuat benteng pertahananku hampir roboh.

“Ji… Hei, Ji!”

“E—eh… ya?”

“Kau tidak memersilakanku masuk ke dalam?”

“O—oh, tentu saja. Masuklah!”

Sialan, kenapa aku berubah menjadi gadis gagap begini?!

Untung saja Mino tak menyadari ‘serangan gagap mendadak’ yang menjangkitiku. Mino melangkah santai masuk ke dalam rumahku yang lengang.

“Kau sendirian?” tanyanya yang hanya kuulas dengan senyum simpul dan anggukan singkat. “Ya, ibu dan adikku sedang pergi ke pernikahan saudara di luar kota.“

Bibir Mino hanyak membentuk lingkaran kecil usai mendengar penjelasanku, kemudian ia berjalan menuju pantry untuk mengambil minuman. Mino terbiasa ‘melayani’ dirinya sendiri ketika berada di rumahku. Wajar saja, sudah lebih dari tiga tahun kami bersahabat, ia tak lagi sungkan untuk sekadar mengambil minum, atau bahkan memasak di dapurku.

Aku duduk di sofa, hingga Mino kembali membawa segelas air dan sepiring makanan dan menyodorkannya padaku, lalu mengambil posisi duduk di sampingku.

“Kau kabur dari kelas Prof Jeon ya?” kubuka obrolan sembari menyendokkan nasi ke dalam mulutku.

“Begitulah, karena kudengar dari Taehyun kalau kau sedang tidak enak badan, jadi aku datang kesini saja membawakanmu makan malam—“

Cih, jawaban apa itu barusan? Err… manis sekali, andai saja Yixing juga melakukan hal yang sama….

“—tak perlu terlalu khawatir Ji, kita ‘kan mahasiswa kelas malam, sesekali membolos tak masalah ‘kan?”

“Mbb—mhemangnya hiapa hang hawatir?”

“Hei, Hei… kunyah dulu makananmu, baru bicara!” Mino mengacak rambutku diiring kekehan ringan, kemudian jemarinya menyusuri pipiku, membersihkan sekeping nasi yang menempel disana. Aku terhenyak dengan sukses, mati-matian berusaha menelan sebongkah nasi yang masih menyangkut di kerongkongan.

Kini, aku semakin sulit bernapas, karena jemari Mno tengah bergelayut pada pada ujung daguku. Dengan sedikit impuls, ia membuatku mendongak—menatap bebas pada wajah tampannya.

“Kau aneh,” ujarnya

“Aneh apanya?”

“Pipimu, kenapa tidak merona?”

Huh?” kutelengkan kepala atas kegagalan paham yang tengah kurasakan.

“Biasanya, gadis normal akan tersipu jika seorang pria membersihkan makanan yang menempel di mukanya—seperti ini.” Mino kembali menyapukan jemarinya—mengusap ujung bibirku, guna mengambil sekeping nasi yang bersarang di sana.

Tidak tersipu katanya? Nampaknya aku layak mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik. Aktingku tidak buruk ternyata, Mino saja tidak tahu kalau aku hampir terkena gagal jantung atas perlakuan cheesynya ini.

Mino tidak lagi tertarik menggerayangi wajahku. Ia menyandarkan bahunya di sandaran sofa, sementara aku beranjak menuju dapur untuk menaruh piring kotor—bekas makan malamku—sekalian mencucinya.

Di tengah aktivitas mencuci piring yang kulakukan, sayup kudengar ponsel yang ku taruh di meja dekat sofa yang di duduki Mino berdering.

“Jiyeon-ah, lelakimu menelepon nih… kuangkat ya?”

“MINO ANDWAE!

Dalam hitungan detik aku melesat marampas ponselku yang ternyata telah berada dalam genggaman Mino, lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku.

Lho, tidak diangkat?” Tanya Mino.

“Tidak usah, nanti saja.”

Huh, kau takut karena ada aku?” cibirnya.

“Bukan begitu, aku hanya tidak ingin Yixing Oppa cemburu!” aku bersedekap, kesal.

“Lalu, bagaimana denganku?”

“Denganmu? Memangnya ada apa denganmu, Song Mino?”

Mino menarik tanganku hingga aku terduduk di sisinya, mempertipis jarak antara kami. Bisa kudengar degupan jantungnya—mungkin milikku juga—yang berdentum tak stabil.

“Aku juga cemburu, apa kau peduli padaku Park Jiyeon?”

Gulp

“Jangan berpura-pura tidak tahu Ji!”

“….”

“Aku menyukaimu jauh lebih dulu, sebelum lelaki itu datang dalam hidupmu, tapi apa yang kudapat? Ribuan pernyataan cintaku bahkan tak kunjung mendapat jawaban—ah, kau abaikan lebih tepatnya.”

“….”

“Jiyeon-ah—“ Mino mencengkeram bahuku seiring iris nyalangnya mengintimidasiku.

“—pernahkah kau memandangku sebagai pria sungguhan? Maksudku, bukan sebagai sahabat atau teman dekat atau tetek bengek yang lainnya. Selama tiga tahun kiita saling mengenal, adakah aku di hatimu, Park Jiyeon?”

“A—aku….”

I’M BULLETPROOF, NOTHING TO LOSE, FAR AWAY…. FAR AWAY~

Belum, aku belum menyelesaikan penjelasanku, dering ringtone ponsel berisik dalam kantong celanaku keburu menginterupsi konversasi penting antara diriku dan lelaki di hadapanku—Song Mino.

“Pacarmu menelepon lagi tuh! Angkat dulu sana, aku tidak akan mengganggu.”

Mino berpaling, mungkin ia ingin segera melangkahkan kaki keluar dari kediamanku ini. Hatiku berkecamuk, hingga akhirnya aku memilih untuk mengabaikan panggilan telepon dari Yixing dan meraih lengan kokoh Song Mino.

“Persetan dengan panggilan telepon ini! Tetaplah disini. Pembicaraan kita belum selesai, Mino-yah….

***

Mino mengacak rambutku lagi—kurasa ini merupakan salah satu hobinya yang menjengkelkan.

“Kau benar-benar minta digigit, Song! Berhenti mengacak rambutku!”

“Wow, tak kusangka nona Park yang satu ini benar-benar agresif rupanya.”

“Banyak mulut! Sana cepat pulang, sudah malam! Kau tidak ingin jadi santapan para pembegal di luar sana yang mengincar motor besar kesayanganmu itu, ‘kan?”

Mino lagi-lagi tertawa—tawa yang menginfluensi—seiring taungkai kami melangkah bersama menuju ke pintu depan.

“Baiklah, aku pulang ya. Jangan lupa mengunci pintu, dan jika terjadi sesuatu, kau tahu bagaimana caranya menghubungiku ‘kan?”

“Iya, iya. Lama-lama kau ketularan si mulut berisik Nam Taehyun. Sudah seperti nenek-nenek tua kau ini, Song! Cerewet sekali.”

“Baiklah, baiklah. Aku pulang sebelum kau benar-benar menggigitku. Bye Ji!”

“Oh ya, Mino… terimakasih,” ujarlu tulus, yang diirngi usapan lembut di kepalaku—oleh Mino.

“Tidak masalah. Bye!”

Mino menaiki motor besarnya dan benar-benar menghilang dari hadapanku dalam kurun waktu yang singkat. Aku kembali ke dalam rumah, mendudukkan diri di sofa kesukaanku, tak lupa mengeluarkan ponsel yang sedari tadi kusimpan dalam saku.

Wajah Yixing menghiasi layar handphoneku, memberikan gelenyar aneh tersendiri tiap kali menatap senyumnya yang terpampang di layar. Gelenyar cinta, begitu namanya.

Lelaki tampan dengan lesung pipit yang membuatku ketagihan memandangi gambar dirinya setiap hari. Tak lupa akan rangkaian perhatian tak kasat mata yang selalu hangat menyapa di setiap hariku. Mungkin ia tak sehebat Mino dengan segudang perlakuan chessynya. Tapi lelaki ini—Yixing, ­adalah lelaki yang tak pernah membuatku absen merindukannya barang sedetikpun.

Aku mencintai Yixing, dan akan selalu begitu.

Lalu, bagaimana dengan Mino?

Akan kuceritakan nanti pada kalian.

Sekarang, ijinkan aku menghubungi kekasihku terlebih dahulu, karena sudah sepuluh panggilan tidak terjawab, serta dua puluh lima pesan darinya telah kuabaikan.

“Halo, Oppa.”

Halo. Jiyeon-ah, apa kau baik-baik saja?”

“Aku baik Oppa.”

Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Seharian ini kau tidak memberi kabar padaku, aku sedikit khawatir. Apa kau sudah makan malam, sayang?”

“Hm… sudah.”

“Sayang, kau kenapa?”

“huh? Tidak apa-apa kok.”

“Kurasa kau tidak sedang baik-baik saja, sayang. Apa ada sesuatu?”

“Tadinya…”

“Maksudnya?”

“E—eh, tak apa kok Oppa, lupakan saja.”

“Ji….”

“Ya?”

“Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku ‘kan?”

“T—tidak.”

“Ada apa?”

“Apanya?”

“Kau, tidak sedang berpikir untuk mengakhiri hubungan kita ‘kan?”

Darahku berdesir kencang berhimpun di otak, membuat kepalaku berdenyut hebat. Tidak, sungguh aku tidak beniat mengakhiri hubungan ini dengan Yixing, sama sekali tidak.

“Aku mencintaimu, Oppa,” ujarku parau, seiring dadaku terasa sangat sesak. Tak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan dia—Zhang Yixing.

“Kau terdengar sangat depresi nona Park. Hahaha….”

“Aku sungguh-sungguh, Oppa.”

“Ji, kau menangis?”

“Tentu saja aku menangis! Aku merindukanmu, dan rasanya sakit.”

“Maafkan Oppa, Oppa juga merindukanmu.”

“Aku tahu, bukan salah Oppa. Tak perlu meminta maaf.”

“Bagaimana jika kutebus perasaan rindumu itu?”

“Mana mungkin, kau tak akan bisa menebus—“

“Bukakan pintunya, aku di depan rumahmu.”

“E—eh? Apa?”

“Aku serius sayang! Apa kau tega membiarkan kekasihmu menunggu di luar?”

Aku begegas bangkit dari sofa dan membuka pintu. Benar saja, sosok Yixing tengah berdiri di balik pintu. Di tangan kanannya terselip setangkai mawar—yang disinyalir dipetik dari kebunku sendiri—dan tangan yang lain tengah berfungsi untuk menempelkan telepon genggam pada telinganya.

“Hai, merindukanku tuan putri?”

Pertanyaan konyolnya kujawab dengan pelukan erat. “Sayang, kau tidak menyuruhku masuk dulu?”

Kuabaikan pertanyaannya, dan memilih untuk hanyut dalam pelukan yang kuciptakan. Yixing menyerah untuk bertanya lantas membalas pelukanku.

Dalam hanyutan pelukan ini, samar kulihat siluet Mino berdiri di ambang pagar. Maniknya menatap nanar sebelum kemudian ia melangkah gontai—meninggalkanku dalam pelukan Yixing.

***

.

“Maafkan aku Mino-yah, aku tak bisa.”

“Tak apa, harusnya aku sadar dari awal. Kau tak pernah menyukaiku Ji. Salahkan sifat keras kepalaku ini.”

“Aku tidak bisa kehilangan Yixing, Mino-yah.

“Aku tahu, tapi…. Kita masih bisa jadi sahabat ‘kan Ji? Itupun kalau kau tidak keberatan.”

“Tentu saja, kau sudah paten masuk daftar sahabat terbaikku, urutanmu bahkan berada di atas Eunjung dan Taehyun.”

‘Hm. Syukurlah.”

“Mino-yah, cobalah untuk membuka hati pada gadis lain.”

“Yah, kurasa aku harus benar-benar mencobanya mulai dari sekarang.”

“Berjuanglah, Song Mino!”

“Kau tahu, Yixing beruntung gadis setia sepertimu. Katakan padaku jika ia menyakitimu, akan kucari pria itu untuk kuhajar.”

“Tak perlu repot, Yixing tak akan menyakitiku. Ia mencintaiku.”

“Berhentilah bicara tentang cinta. Aku mulai muak, omong-omong.”

“Oh, Maafkan aku.”

“….”

“Mino-yah, maafkan aku.”

***

Nyatanya, bertahan pada apa yang sudah kau pilih memang bukanlah perkara yang mudah….

Namun, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin, ‘kan?

***END***

.

Author’s blablas:
absurd bin random! Oneshot terpanjang yang pernah kubuat (kayaknya) aduh, aku udah lama gak nulis, begitu balik random sekali mana kacau lagi. Hahaha x)

Gatau ah mau ngomong apa, mau balik ke dalam lampu aladin dulu aja la, malu nih //wussh//ngilang//

16 thoughts on “[Oneshoot] Choice

  1. hahahaa pas bca rada” ktwa sndri eon hihi. Jiyi sm Yixing sosweet suka ngeliht couple itu eon goodfanfic^^

  2. INI TAEHYUN MAU NIKAH SAMA SIAPA, TOLONG, SAYA HARUS APA!?!?

    Kembali ke cerita… Kak yakin ini angst? Bukan comedy? Kakak ada bakat tau di comedy :” dari paha mulus anak GB sampet I’M BULLETPROOF, ini lucu kan ya? Apa humorku aja yang absurd? HAHAHA.

    Terus… MINO PULANG KAMU NAK. JANGAN GANGGUIN JIYEON SAMA YIXING. Tapi sedih sih :’) Suka sama yang, “Berhentilah bicara soal cinta, aku mulai muak…” GAK TAU, TAPI SUKA BANGET SAMA LINE ITU DALAM CERITA INI. PAS BANGET SEPAS PASNYA! Untung endinnya Lay baik-baik :”

    Keep writing kak ♥

    • taehyun mau nikah sama sheryl tgl17mei2015 /ngaco/

      gak kok.. bukan selera humor kamu yg buruk.. memang kemampuan nulis kakak yg payah.. berusaha nyempil2 ini humor di fiksi angst. rupanya aku blm bs move-on dari crack fiction. haha

      btw sher. aku ngecomot line yg kamu tulis di kolaban kita: Akan kuceritakan nanti pada kalian.
      ^^line ini keren sekali.. maap ya asal ngecomot seenak jidat. huhu..

      aku juga kebetulan lg muak ngomongin cinta2an, omong-omong. buwahahaa.

      thankseu udah mampir cyin♥

      • Sheryl udah ditag sama Om Jaejoong abis wamil :”) #slap #abaikan.

        ENGGAK KAK. Aku suka sama comedy yang nyempil-nyempil gitu XD Mungkin angstnya jadi agak terombang-abing, tapi selow aja lah ya~ hahaha.

        Keren apanya sih kak? :”) Itu line efek mentok LOL. Aku malah gak sadar tadi… LHO LHO KAK? ADA APA DENGAN KAKAK!?

        Sama-sama sist 😀

  3. Rebecca Christy….. i lope u. Huwaaaaa ini sweet banget.
    Awalnya ku kira Jiyeon bakal nistain my honey bunny sweety. Ternyata dy emang setia BGT.
    Gud job! Aku suka pake bingit. Hah, untung aja aku liat2 FF tadi. Pas liat nama YIXING, langsung aku klik deh. Waaah, memuaskan.

    • enggak laaah, kesian yixing nya huhuhuhu..
      aduh aku bahagia kakak admin mampir di fiksa nista akuh, uwooh~~

  4. yeeehhh jiyeon setia *\o/* meskipun kasian sama Mino…. huuu mino sama aku ajh yukk #plak backsound nya cocok lagu Fatin memilih setia tuhh *cegitu* kekeke~ daebakk (y)

  5. ternyata pada akhirnya jiyeon tetap memilih yixing, dan ga milih mino 😀
    jdi semoga aja mino bisa membuka hatinya untuk cwe lain 🙂

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s