[Ficlet] This Person (Freelance)

 unnamed

Nama author : AZAPUT

Casts : A-JAX’s Seungyub and KARA’s Youngji

Judul : This Person
Genre : Romance, Hurt/Comfort, AU
Length : 1000+ words
Rating : PG – 13

 Don’t Plagiat!

Don’t Bash!

Pernah dipublish di blog pribadi

                Pemuda itu menyerahkan secarik kertas berisi puisi-puisi yang ia ciptakan untuk gadis yang duduk di sebelahnya. Gadis tersebut tersenyum, parasnya yang cantik, matanya yang berkilauan, membuat pemuda berwajah tampan itu pun jatuh cinta padanya.

                “Ini bukan puisi seperti biasanya, entahlah tapi ini khusus kubuatkan untukmu,”

“Bacakan untukku,” ucap gadis tersebut sambil menyisir rambut cokelatnya dengan jari-jarinya.

 

                Day by day…

                When the first time, I met you. I felt really awkward. You were sit under the tree.

                Your hair, your eyes, your smile, your lips. I like all about you.

                Your beautiful eyes, your angel eyes. I love you.

                I always pray for you. I always pray to God, to give your real angel eyes. I always pray that someday you will see me. In front of you. And you will know my face. And falling in love with me too.

                I love you, Heo Youngji.

 

                Terimakasih… Terimakasih banyak,” senyum Youngji, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku juga, Lee Seungyub.”

Pemuda bernama Seungyub itu pun, memeluk gadis di depannya. Ia memeluknya erat seperti enggan melepasnya kembali. Seungyub mengecup ringan rambut gadisnya itu.

“Mau aku antar pulang?” tawar Seungyub pada Youngji.

Youngji mengangguk, ia melingkarkan lengannya pada lengan Seungyub. Seungyub tersenyum, walau ia tahu gadis di sampingnya tidak bisa melihat senyumnya yang menawan.

Dalam perjalanan dari taman yang dipenuhi pepohonan rimbun itu mereka berdua masih melanjutkan pembicaraan mereka.

“Kau mau menikah denganku?” tanya Youngji ragu—kalau –kalau pria yang di sampingnya saat ini menolaknya mentah-mentah.

Seungyub mengangguk, lalu berkata, “Tentu, nanti kita akan hidup bersama dengan anak-anak kita kelak.”

Youngji semakin erat melingkarkan lengannya pada lengan Seungyub. “Terimakasih.. terimakasih,”

Seungyub berhenti berjalan, lalu berdiri di depan Youngji sembari meraih kedua tangan Youngji. “Hidupku untuk kebahagiaanmu,”

Youngji lagi-lagi tersenyum. Ia merangkum wajah Seungyub, meraih, lalu mendekatkan wajahnya, mendaratkan bibirnya tepat di bibir Seungyub. Hangat. Dan rasanya seperti kupu-kupu bertebangan dalam perutnya.

Seungyub meletakkan tangannya di pinggang Youngji, merapatkan jarak mereka berdua. Ia melumat pelan bibir Youngji. Kemudian akhirnya melepaskannya tautan bibir mereka.

“Aku tidak mau kau kehabisan oksigen,” ucap Seungyub, disambut tawa dari bibir Youngji.

“Tidak lucu, Seungyub,”

Seungyub mengusap perlahan rambut Youngji. “Tetap saja kau tertawa.”

 

++++

 

“Kau tahu? Aku sudah menemukan pendonor mataku,”

Seungyub tersenyum. “Syukurlah, Tuhan mendengar doaku.”

Youngji merangkum wajah Seungyub, “Aku akan melihat wajahmu, wajah halusmu ini, aku penasaran seperti apa wajahmu.”

“Tentu saja sangat tampan,” ujar Seungyub, berhasil membuat Youngji tertawa lalu mencubit pelan lengan Seungyub.

“Lapar?”

“Tidak terlalu, ada apa? Kau ingin makan sesuatu?”

“Tidak, tidak apa-apa,” sahut Youngji lalu bersandar di bahu besar Seungyub.

“Kapan kau akan menerima donor matamu?”

“Beberapa minggu lagi, dan kuharap kau datang untukku, ya?”

Seungyub mengangguk.

“Kau diam. Kuartikan sebagai, kau akan datang,” senyum Youngji, lalu ia memejamkan matanya. Menikmati udara sejuk yang menerpa wajahnya. Di tempat yang sama, di tempat yang sudah seperti menjadi milik mereka berdua.

 

++++

 

“Kau harus kuat, Youngji!”

                “Kau akan melihat wajah tampanku, kau harus bertahan!”

                “Aku selalu disampingmu,”

                “Aku mencintaimu, Heo Youngji. Sangat,”

Youngji mengingat semua perkataan Seungyub yang pemuda itu sampaikan kepadanya. Suaranya yang khas memenuhi kepala Youngji. Youngji menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Operasi akan segera dimulai. Dokter menghitung mundur, sampai sesuatu yang runcing menembus kulit Youngji. Beberapa saat kemudian, cairan yang masuk ke tubuhnya bereaksi, Youngji merasa sangat mengantuk, lalu ia akhirnya tertidur.

 

                Beberapa jam kemudian…

“Syukurlah, kau selamat,” ucap Seungyub mengusap-usap rambut Youngji yang masih terlelap, kedua matanya ditutupi perban yang melilit di kepalanya.

Seungyub mencium kening Youngji singkat, lalu ia meletakkan boneka Panda kesayangan gadisnya itu, dan keluar dari kamar perawatan Youngji.

 

Setelah Seungyub keluar dari kamar Youngji. Dua orang masuk ke kamarnya, seorang wanita dan pria berumur 50-tahunan. Mereka berdua tersenyum bahagia, melihat keadaan Youngji yang semakin membaik pasca operasi beberapa jam yang lalu.

Perban di matanya baru bisa dibuka setelah beberapa hari pasca operasi sampai dokter memutuskan untuk membukanya.

“Youngji, kau sudah bangun?” tanya Ibu sembari meremas tangan Youngji yang masih lemah.

“Syukurlah kau sudah siuman, Ayah dan Ibu sangat mengkhawatirkanmu,”

Youngji menunjukkan senyumnya samar. “Operasinya berjalan lancar bukan?”

“Tentu saja, tentu. Ibu sangat berterimakasih pada Tuhan dan Dokter yang membantumu,”

“Terimakasih, Ibu… Ayah…, aku menyangimu, aku mencintai kalian berdua, boleh aku memeluk kalian?”

Ayah dan Ibu memeluk Youngji, mereka bertiga menangis atas kebahagiaan yang diperoleh dari putri tunggal mereka.

 

++++

 

“Youngji, kau sudah siap untuk melihat dunia yang sudah tidak sabar menantimu?” tanya Dokter yang terdengar antusias di telinga Youngji.

Youngji mengangguk mantap. Ia benar-benar siap. Tapi, beberapa hari terakhir ini, Youngji merasa ada yang mengganjal. Dimana Seungyub, mengapa ia tidak datang kembali semenjak hari operasi itu.

“Baiklah,”

Dokter mulai membuka perbannya perlahan, membuat jantung Youngji semakin memburu. Ia agak takut dan tentu saja tidak sabar, ia ingin segera melihat keindahan dunia.

“Coba buka matamu,”

Youngji perlahan membuka matanya, sinar matahari pagi masuk dalam penglihatannya, sedikit silau, namun berhasil membuatnya tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca. Ia sangat bahagia, sampai ingin menangis.

“Youngji, coba lihat wajahmu yang cantik itu,” ujar Suster memberikan Youngji cermin bulat padanya.

Youngji tersenyum lagi, ia mengusap wajahnya. Menyadari bahwa yang dikatakan Seungyub itu memang benar adanya. Dirinya memang benar-benar cantik.

“Ibu, apa Seungyub tidak kesini?” tanya Youngji pada Ibunya.

Ibu hanya mengerutkan keningnya. “Seungyub? Bukankah ia teman masa kecilmu?”

“Panda ini, ya Panda ini pemberiannya waktu kalian masih kecil dulu, kau tidak ingat?”

“Seungyub? Teman masa kecilku?”

Ibu mendekati dimana Youngji berada. “Ya, dulu ia sangat akrab dengamu, sampai kami berpikir untuk menjodohkan kalian berdua. Tapi, ia harus pindah ke luar negeri, dan memberimu boneka Panda ini.”

Ayah menundukkan wajahnya, “Dan itulah pemberian terakhirnya untukmu, ia menjadi korban kecelakaan pesawat, ia meninggal di usianya yang sangat belia.”

“Memangnya ada apa?” tanya Ibu heran.

“Tidak. Tidak apa-apa,” tubuh Youngji gemetar, kebahagiaannya yang tadi lenyap dengan fakta yang dikatakan Ayah dan Ibunya.

Youngji meraih boneka Pandanya erat. Air matanya tak bisa ia bendung lagi.

                Orang ini, dia belum mati, dia masih ada disini. Di dalam Panda ini, di dalam hatiku. Ia akan selamanya menemaniku.Aku mencintaimu, Lee Seungyub.Lebih baik aku buta selamanya, agar bisa tetap bersamamu , Lee Seungyub. Penglihatan ini, hanya bisa melihat keindahan dunia, tanpa dirimu di dalamnya. Aku merindukanmu, sangat.

 

 

 

 

 

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s