[oneshoot] Better Late Than Never

better late than never by qintazshk

qintazshk’s present

⌊ Better Late Than Never ⌋

Kim Junmyeon and Bae Joohyun [Suho-Irene]

T  | Romance [fluff maybe]   | Oneshoot

enjoy this fanfiction and create your imagination ^^

“Ya baiklah, oppa. Sampai ketemu besok!”

Seorang laki-laki dengan tubuh tegap yang aku panggil oppa itu melambaikan tangannya –jangan lupakan senyum senang yang tersungging di mulutnya yang biasanya selalu datar itu- lalu menghilang setelah ia masuk ke dalam lift.

Setelah mengunci pintu dorm, aku memutuskan untuk segera masuk ke ruang tengah.Dengan segera aku mendudukkan diriku -yang didapati sudah kelelahan dengan kantung mata yang menghitam dan rambut kusut- setelah penampilan kami hari ini di satu-satunya sofa yang aku suka di ruang tengah dorm Red Velvet ini. Sofa berwarna merah ini memberi ketenangan tersendiri apalagi ketika dorm sepi.

KREK!

Suara itu tidak terlalu kentara mengganggu, hanya saja bisakah kau bayangkan di dorm atau rumahmu sendirian pada pukul, astaga! Ini sudah lewat tengah malam dan suara itu terdengar menakutkan.

“Apa ada orang di sana?”

Aku dapat mendengar suaraku sendiri tercekat dan bergetar. Perlahan tapi pasti, aku bangkit dan melangkahkan kaki menuju pintu depan karena aku yakin suara itu berasal dari daerah sana.

BUGH!

YA! Siapa di sana?! Jawab aku!”

Suaraku yang biasanya hanya dipakai untuk berbicara dengan nada suara normal dan tentu saja rap saat perform menggelegar di seluruh penjuru dorm. Aku melangkahkan kaki lagi. Kali ini lebih yakin daripada sebelumnya.

“Joohyun?”

Suara laki-laki. Lembut dan sepertinya aku sudah sangat mengenal suara ini. Tidak mungkin manajer oppa masih di sini, ‘kan? Aku yakin ia sudah sampai di kamarnya yang ada di lantai bawah.

“Aw!”

Suara laki-laki itu merintih. Pergerakan yang terjadi di lemari tempat kami menaruh jaket-jaket membuatku berspekulasi bahwa orang itu ada di dalam sana. Dalam lemari yang gelap dan pengap.

Siapa pun orang ini aku akan memukulnya karena sudah mengagetkanku tadi. Aku berjanji.

Kuputar kenop pintu lemari itu pelan-pelan dan lampu yang di atasku langsung menyala terang.

Saengil chukkae hamnida. Saengil chukkae hamnida. Saranghaneun nae Joohyun. Saengil chukkae hamnida!”

“Junmyeon!”

Ya, Kim Junmyeon yang kini sedang memakai kaus abu-abu panjang kesukaannya dan celana jeans berdiri di hadapanku dengan kue cokelat dengan dua lilin yang menyala di atasnya. Aku merapihkan rambut kecokelatannya yang sedikit acak-acakan dan ia tersenyum. Senyum di wajahnya itu benar-benar membuatku… entahlah. Rasanya menyenangkan melihat ia tersenyum selebar ini.

“Cepat tiup lilinnya.”

Junmyeon melangkah lebih dekat padaku dan mengulurkan kuenya di hadapanku.

Make a wish, babe.”

Aku membalas senyumnya lalu menundukkan kepalaku untuk berdoa. Apapun yang menjadi keinginan Junmyeon adalah keinginanku juga. Kabulkan doanya, Tuhan.

FUH!

“Wuah, Bae Joohyun sudah berumur dua puluh lima tahun, everybody!” tangannya yang satu memegang kue ulang tahunku sedangkan tangannya yang bebas mengacung di udara. Junmyeon bersorak riang seolah kami sedang di tempat ramai walau nyatanya hanya kami berdua di dorm.

“Hem, apa permintaanmu?”

Junmyeon mengambil secuil kue yang di tangannya dan memberi sesuap padaku. Ugh, kue cokelat ini enak sekali.

“Rahasia. Hanya Tuhan saja yang tahu.”

“Baiklah, aku tidak memaksa.” Junmyeon terseyum hangat lalu merangkul pundakku. Tahu-tahu, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan cepat lalu berbisik tepat di telingaku, “Selamat ulang tahun, Bae Joohyun.”

Aku dapat merasakan pipiku memanas setelah ucapan selamatnya tadi. Oh, ayolah Bae Joohyun. Itu hanya ucapan selamat.

“Terima kasih.” Ujarku tulus lalu cepat-cepat menyunggingkan senyum, tapi sedetik kemudian aku menatapnya heran. “Kenapa kau bisa masuk kemari?”

“Ah, soal itu… tadi aku meminta bantuan manajermu. Kau kira hyung pemarah itu mau dengan sukarela mengantar sepatumu yang tertinggal kalau bukan karena permintaanku?”

Lihatlah wajahnya yang angkuh itu. Mata cokelatnya mendelik tajam dan ia menaikkan dagunya tinggi-tinggi. Mengesalkan sekali anak ini.

“Kau tahu, aku sudah berjanji kalau aku akan memukul siapa pun yang menjadi pengganggu tadi.” Aku mendengus kasar sedangkan Junmyeon malah tertawa tenang. Kalau tahu orang itu adalah Junmyeon, aku tidak akan berjanji tadi.

“Lalu, kenapa kau tidak memukulku saja sekarang?” Junmyeon melepaskan rangkulannya, mengambil langkah untuk berdiri di hadapanku lalu tersenyum lembut padaku. “Pukul aku saja. Dimana pun.”

“Dimana pun? Kau yakin?” ketahuilah bahwa aku sudah berpikiran untuk memukul kepalanya sekarang. Daerah yang ia sama sekali tidak mau ada orang lain yang memukulnya. Terlalu menakutkan, katanya. Dasar penakut.

“Janji tetap janji. Kau harus menepatinya.”

BINGO!

Ini adalah sisi dari Junmyeon yang aku suka. Manly dan bijaksana. Hidup dengan prinsip-prinsip yang baik yang pada akhirnya ia tularkan padaku. Benar-benar sesuai dengan sifatku yang menurut orang-orang di agensi berbanding terbalik dengan Junmyeon, kadang-kadang. Sebenarnya, label weird akan selamanya melekat pada kami.

“Siap-siap, ya. Tutup matamu.”

Junmyeon dengan penuh percaya diri –kau bisa melihat kilat matanya yang seolah berkata bahwa ia percaya padaku. Sayangnya aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini.

TUK!

Lenganku sukses memukul kepalanya. Tidak keras namun tidak juga pelan. Hanya saja aku rasa … pukulannya pas untuk ukuran laki-laki seperti Junmyeon.

“Aw! Kau kejam sekali, Joohyun. Tadi itu-“

Belum selesai Junmyeon menuntaskan ucapannya, aku sudah mengecup bibirnya cepat sebelum ia mulai mengomel lagi.

“Kau yang menawarkan. Aku hanya mematuhi ucapanmu saja. Masih sakit?” Aku berjinjit –walau ia termasuk pria yang tidak terlalu tinggi di Negara kami, tapi tetap saja ia masih lebih tinggi untukku- agar bisa melihat kepala Junmyeon dan mulai menelaah bagian yang tadi aku pukul. Setidaknya tidak ada darah yang mengalir, itu pertanda baik.

“Baiklah. Aku anggap ciuman tadi menyelesaikan segalanya.”

Walau ia masih terlihat kaget akan hal tadi, tapi sepertinya ia sudah mulai menerimanya. Ya, ia yang selalu menciumku lebih dulu.

“Kau tahu, aku minta maaf karena terlambat datang. Lagipula, better late than never, right, honey?”

“Kim Junmyeon, bisakah kau berhenti memanggilku babe atau honey. Aku geli setiap kali kau mengucapkan panggilan-panggilan itu.” Dasar pembohong kau, Bae Joohyun. Sudah tahu kau menyukainya malah menyangkal. Oh, baiklah, itu hanya cara licikmu saja agar Junmyeon terus memanggilmu seperti itu.

“Kau bilang kau menyukainya waktu itu.”

“Aku bilang aku menyukai skinship, bukan panggilan mesra seperti itu.” Tanpa sadar aku mengerucutkan bibirku berpura-pura kesal. Ingat, pura-pura.

“Maksudmu,” Junmyeon menaruh kuenya di atas lemari tempat kami menaruh sepatu yang ada di belakangku. “skinship seperti ini?” Setelahnya, Junmyeon memelukku erat. Aku dapat merasakan diriku sendiri tersenyum lebar seolah tidak ada hari esok untuk tersenyum.

“Ya, begini lebih baik.”

“Jadi, bagaimana perayaan ulang tahunmu hari ini? Menyenangkan?”

“Sangat-“ belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Junmyeon melepaskan pelukannya lalu menatapku kesal. Hey, apa maksudnya itu?

“Harusnya kau bilang menyedihkan. Aku ‘kan tidak ada di sana.”

“Kau ini ya, Junmyeon. Aku belum bilang apa-apa tapi kau sudah menyimpulkan sendiri.” Aku menatap matanya intens lalu mengenggam tangannya sembari mengajaknya ke ruang tengah.

“Terima kasih kedatanganmu walau, ya, seperti yang kau bilang terlambat. Tapi ucapanmu tepat jam dua belas kemarin sudah sampai dan…,” aku menatap boneka teddy bear berukuran sedang dan buku catatan kecil yang ada di meja,” kadonya pun juga begitu. Terima kasih.”

Aku berjinjit dan kembali memeluknya. Lebih erat dari yang sebelumnya ia lakukan.

“Sebegininya kau suka shinship, Joohyun-a?

“Kau tahu, skinship lebih baik daripada panggilan-panggilan menggelikan itu.”

“Tidak! Skinship itu lebih menggelikan!” ujar Junmyeon keras-keras. Ia melepaskan pelukannya dan menatapku tak terima. Dia ini kekanak-kanakan sekali.

“Tapi kau suka skinship denganku, ‘kan?”

Aku tersenyum jahil padanya dan aku malah melihat rona merah di pipinya.

“Astaga, penggemarmu harus melihat rona pipimu itu, Kim Junmyeon!” dengan cepat aku merogoh saku celanaku dan mengambil ponselku. Momen pipi merah merona Junmyeon ini harus diabadikan.

YA! Jangan lakukan itu!”

Junmyeon tak kalah cepatnya berusaha mengambil ponselku agar usahaku untuk memotretnya gagal. Aku pun tak berniat begitu saja menyerahkan ponselku padanya. Aku berlari cepat mengitari ruang tengah agar ia tak mengambil ponselku.

Chagi-ya, berhenti berlari! Aku lelah!”

Aku dapat mendengar suara Junmyeon melemah karena ia bernafas dengan penuh perjuangan.

Come and chase me, Junmyeonie.”

Well, bagian itu adalah kesukaannku di lagu baru kami. Apalagi pada situasi seperti ini, rasanya pas sekali untuk menjahili Junmyeon yang-

Mission complete.”

Junmyeon memelukku erat dari belakang, membuatku sedikit tersentak ke depan dan beruntunglah Junmyeon memelukku karena itu aku tidak jatuh.

“Aku sudah menangkapmu.” Helaan nafas Junmyeon terdengar begitu kentara di telingaku tapi aku tidak keberatan. Tidak setiap hari aku bisa mendengar suara Junmyeon sedekat ini dan mencium aroma tubuhnya yang begitu maskulin.

“Ya, aku menyukai skinship denganmu.”

Hai!

YEAY akhirnya nulis fanfiction jugaaa /tebar confetti/ so, yeah, this is my [uh] comeback ff and i choose this sweet couple ^^ Lagi jatuh cinta sama couple ini jadi ya terima aja dulu lah yaa :p Posternya itu sebenernya terlalu angst buat f ini ya ngga sih? 😀 buat yang mungkin aja masih ada yang nungguin ff aku yang lain, please be patient yaa i’ll update so soon ^^ aku ngga akan mungkin ninggalin ff aku gitu aja kok 🙂

last but not least, HAPPY BIRTHDAY LEADER BAE JOOHYUN! ❤ seperti kata Junmyeon, better late than never, right? 🙂 

Papoi! ❤

Advertisements

One thought on “[oneshoot] Better Late Than Never

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s