[Ficlet] Aku, Kamu, dan Dia

AKD

Aku, Kamu, dan Dia by S. Sher (@scailissher) || Main Cast(s):  Nam Taehyun (Winner), You/A Girl, & Another Girl || Genre(s):  Romance, Sad, Hurt  || Point of View:  First Person (Taehyun) || Length: Ficlet || Rating: PG – 17 || Disclaimer:  Nam Taehyun and another real characters belong to the company, their self and God. Original characters and plot are mine.

Note: Rambling.

Kenapa kamu tidak mengerti bahwa sesungguhnya dia peduli?

– Aku, Kamu, dan Dia –

Ada dia, gadis pencuri hatiku. Gadis dengan rambut hitam pekat sepunggung yang tergerai indah, membingkai wajah manis ditemani mata seteduh pohon rindang, pun dihias oleh sepotong bibir yang pasti melengkung ketika menyapaku. Seseorang pemilik medan magnet untuk otakku, yang berhasil menerbangkan ribuan kupu-kupu di perutku, dan selalu menjadi gravitasi mataku. Dia, seorang kekasih yang suka duduk manis di hati ini.

Dan ada kamu, kamu yang sudah terlambat.

Ada apa denganmu ketika aku menyukaimu, ketika aku mengisi hati ini dengan dirimu, ketika aku meminta menata ulang hubungan kita menjadi kekasih? Kala itu yang kamu minta untuk kita tetap di lajur teman, tanpa tambahan apa pun. Hatiku sakit, tapi aku berusaha menerimanya, semua hubungan ini dijalani oleh kita berdua jadi aku tak punya hak untuk memaksa. Lebih baik aku menjaga dirimu, gadis yang aku sayangi dari dekat daripada harus rela kehilangan ketulusanmu demi label kekasih.

Lantas ada apa dengan dirimu sekarang? Saat aku berkata aku bisa mengerti segalanya, bahwa aku telah menjatuhkan hati untuk gadis lain, untuk kenyataan di mana hatiku dan dia telah menautkan definisi cinta, kenapa kamu sedih pula marah? Pengkhianat, begitu katamu, merasa diriku akan pergi jauh demi seorang gadis baru. Aku tidak berkeinginan meninggalkanmu, harusnya kamu tahu. Atau, kamu marah akan kita yang hanya sekadar teman sedangkan kami bisa jadi kekasih?

“Nam Taehyun, bajingan! Katanya kamu menyayangiku, lalu apa maksud dari gadis pencuri hatimu!?” raungmu di tengah deraian air mata yang mengalir bebas menuruni pipi.

Hari ini aku datang menerjang hujan, melupakan semua tugasku di kantor hanya untuk sampai ke sini, ke apartemenmu. Seseorang bilang kamu butuh aku. Lihat, hanya untuk dirimu, aku di sini, mengabaikan beberapa hal demi dirimu. Akan tetapi, tidak kusangka sambutan pertama selagi tungkaiku menginjak kamar adalah makian pula lemparan bantal.

“Taehyun, aku mohon jangan tinggalkan aku, kamu janji untuk selalu menemaniku.” Kali ini dengan ucapan yang lebih pelan—juga ketiadaan barang yang bisa dilempar lagi—suaramu memasuki telingaku, turun, menohok hatiku.

“Aku tidak berniat menjauh, aku masih di sini. Dia bukan berarti pertanda kata kita menghilang,”  ucapku sambil berdiri di seberangmu sekaligus menatap lurus ke arah iris dilapisi air mata itu.

“Tapi aku tak suka dengan sikapmu!” Lagi, suaranya naik satu oktaf. “Aku tidak suka melihat binar matamu untuk dirinya, setiap nada suaramu yang memiliki namanya, atau seluruh perasaan yang telah kamu tumpahkan untuknya! Karena… seakan-akan alasanmu hidup adalah dia.  Sedangkan apa aku untukmu!?”

Aku pernah menyadari tatapan jengahmu ketika mataku menatap dia penuh kebahagian atau balasan setengah hatimu ketika aku menceritakannya. Akan tetapi, aku tidak menyangka perasaan benci yang kamu bangun demi semua perasaan sayangku kepada dia. Untuk apa ketidaksukaanmu ini? Lupakah kamu jika semua hal itu pernah aku berikan untukmu? Kenapa kamu sempat membuang hal yang kamu sayangi ini kemudian memintanya kembali kala aku sudah tidak memilikinya?

“Sahabatku.” Sungguh aku tidak tahu seberapa beracunnya satu patah kata itu.

“Hanya itu!? Setelah semua yang kita jalani, hanya itu makna diriku untukmu!?”

“Kamu yang membiarkannya menjadi seperti itu.”

Aku agaknya tidak mengerti jika rangkaian ucapanku hanya menjadi bilah pedang tak kasat mata yang siap berperang dengan jiwamu, tapi salahkah aku sepenuhnya jika kamu senang memancing diriku? Aku semata-mata cuma memberikan hasil.

“Oh, aku mempertanyakan seperti apa dia yang berhasil merubahmu seperti ini.”

Jujur, aku tidak mengerti. Siapa disini yang sejatinya berubah, aku? Kamu? Atau kita?

Kamu adalah gadis penuh kedewasaan, selalu siap menanggalkan perasaan iri yang tak penting, juga seseorang pemilik lidah penuh kehati-hatian. Lalu apa ini? Kemana seluruh sifat dewasamu, kemampuan mengenyahkan rasa iri, pula lisan yang selalu terjaga? Sudah rela kamu menghancurkan itu semua demi dia?

“Siapa yang lebih penting untukmu, aku atau dia?” tanyamu sembari melayangkan pandangan nyalang penuh rasa menuntut.

Oh, itu adalah satu kalimat terakhirmu hari ini yang berhasil meruntuhkan seluruh kesabaranku.

“Aku meninggalkan fettucini carbonara dengan salmon kesukaanmu di meja. Nanti, aku akan kembali ketika kamu sudah tenang karena aku tidak tertarik membahas ini lagi,” tandasku sebelum meninggalkan kamar.

Apa hak seorang manusia mengatur kehidupan manusia lainnya? Apa hakmu untuk mengendalikan hidupku? Aku tidak tertarik untuk memilih sementara keduanya adalah bagian penting dalam ceritaku.

Beritahu aku, kenapa hanya kamu yang tidak mengerti disaat dia sudah? Dia sangat memahami betapa berharganya jiwa penuh kasihmu untukku, dia sudah membiarkan aku menyisihkan waktu untukmu, dan dia pula tetangga lantai bawahmu yang menyuruhku datang ke sini, menyelamatkanmu. Aku memohon dengan sangat, sadarlah bahwa dia peduli padaku, padamu, pada kita, karena jika tidak, tali hubungan kita sudah lesap dihanguskan rasa cemburu. Berulang-kali aku menjelaskan, kamu masih juga tidak mengerti. Kenapa?

Diriku membuka pintu apartemenmu untuk dihadiahi sesosok gadis yang menunggu dengan rasa khawatir di luar sini, kini dia sedang menatapku penuh tanda tanya, sudah baik? Belum sempat aku menjawab, tangismu yang pecah memenuhi udara telah memberikan jawaban pasti, tidak.

“Maaf,” ujarku. Untuk kamu dan dia.

Sungguh, aku meminta maaf atas diriku yang hanya bisa mengucapkan maaf akan hatimu yang teriris pilu.

– Aku, Kamu, dan Dia –

Di suatu malam yang sepi ketika jarum jam menunjukan pukul 00:30, berarti udah ganti hari, iya itu intinya baru kamaren malem gak bisa tidur terus menghasilkan dua midnight thought yang salah satunya seperti ini hahaha. I dedicated this story to my ownself soalnya dia itu berarti aku. Ya, aku masih bingung ini cerita monologue apa gimana, Taehyunnya curhat tapi gak berani ngomong langsung…

3 thoughts on “[Ficlet] Aku, Kamu, dan Dia

  1. sheeeerr, daku menepati janji untuk rusuh dilapakmu..
    semoga dikau sudah siapin kantung muntah eeeaaaa x)

    aduh, pas ngebaca fiksi kamu pertamanya, yah as usual lah ya kamu kan daridlu emang awsem…
    wehehey, setiap part yang kamu buat,, bahasa kamu nyantai, tapi bener. bener-bener makjleb,

    and this part ya:
    Akan tetapi, aku tidak menyangka perasaan benci yang kamu bangun demi semua perasaan sayangku kepada dia. Untuk apa ketidaksukaanmu ini? Lupakah kamu jika semua hal itu pernah aku berikan untukmu? Kenapa kamu sempat membuang hal yang kamu sayangi ini kemudian memintanya kembali kala aku sudah tidak memilikinya?
    —>> uhuk, keselek.. langsung baper, kamu mah gitu orangnya..

    ficlet emang spesialisasi kamu deh ya, aku ga byk komentar macem-macem, lagian soal tanda baca yg lain2 aku mah ngga terlalu faham juga//brb belajar dulu sm sunbae2 di indoclub review// hehehe.. pokoknya aku suka isinya!! pake bangeeettt sukanya!! duh, kesian banget pangeran berponi belah tengah kita.. hiks ^^

    sudah siap kantung muntahnya?
    AKU SUKA. KAMU KEREN. KAMU GILAK, JENIUS KAMU NAK! bah, keren kali kau lah pokoknya!

    //langsup kedip2 minta duit receh//

    • LAH KAK AKU SHOCK INI PANJANG BANGET!!! Niatnya mau bales lewat hape tapi gak kuat nulis ini kakak berasa nulis cerita di komen XD Niatnya mau make bahasa berat tapi sepertinya emang gak pas buat aku jadi ya begitulah rambling absrud hahaha.

      MAAFKAN AKU LHO KAK KALO SAMPE BAPER. Aku tidak berniat untuk mencuri kisah hidup orang (?) mau buat oneshot selalu gak kuat jadinya ficlet terus 😦 #curhat. Lho kakak udah di indoclubreview pasti ngerti juga lah 😀 Ini isinya apa ya? Hahaha. AH KAK JANGAN SEBUT-SEBUT PANGERAN KITA… itu pangeranku aja #slap.

      Kakak juga ffnya keren-keren ah ;;) Makasih kak udah rusuh ❤ hahaha.

      • ini kurang panjanng, tadinya aku mau input komen’nya chapteran 10 episode, tapi ga jadi, tangan keburu melepuh duluan x)

        kamu tanggung jawab aku dibikin baper terus, beliin magnum! huhuhuhu…

        eh btw, mengenai pangeran kita..
        aku buka gmail kook ga ada ya ituuu colab’an kita, lah aku mau baca + nerusin jadi kaga bisa.. gimana caranya munculin page yang kaya kemarin wkatu kita online bertiga itu.. GIMANA CARANYA SHEEERR???

        ((udah tua bangka, maklumin kalo kudet parah — nyusahin lagi)) huwahahaha..

        😥

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s