[Twoshot] Last Train 2nd/End

lasttrain-alana 


Title || Last Train   |Author ||  Alana    |MAin Cast ||  Wu Yifan, Park Jiyeon,Cho Kyuhyun     | Genre ||  Romance    | Length || two shot   | Rated || G  |Disclaimer ||  I Own Nothing but the story / Enjoy reading /No bash / and Pis !

 Poster || Thanks To     LeeYongMi’s Art

 


 

>>>  The Last Train  <<<

Jiyeon tertegun di sisi Yifan yang tertidur. Wajah suaminya begitu merah karena pengaruh alkohol. Apakah yang dikatakan wanita bernama Joan itu benar ? Benarkah Yifan mempunyai kelasih sebelum menikahinya.  Lalu kenapa dia mengatakan kalau dia begitu setia padanya.

Jiyeon bersimpuh di samping Yifan. Apakah suaminya ini mendustainya ?

.

.

>>>  The Last Train  <<<

.

.

.

“Joan yang mengantarmu pulang tadi malam.” ujar Jiyeon sambil menghadapinya sarapan. Yifan tidak menanggapi, hanya mendengus dan melahap makanannya hingga suapan terakhir, dan melangkah pergi.

Jiyeon meletakkan garpunya dengan kasar. Menghadirkan suara yang keras. Namun tetap saja tidak menarik perhatian Yifan. Hatinya perih. Merana. Bagaimana mungkin dia bisa diperlakukan seperti ini. Sungguh menyakitkan.

Dadanya bergerak turun naik menahan emosi. Seandainya keadaannya belum terjadi dalam sebuah pernikahan, Jiyeon akan pergi meninggalkan Yifan tanpa jejak. Dia akan menghilang hingga dunia ini tidak mengenalinya.

.

.

.

Jiyeon melangkah di lobby kantornya. Hari ini dia harus menyediakan materi untuk  membuat maket gedung kantor pajak yang akan di bangun di daerah Timur Seaoul, tepatnya di distrik Nowon. Ada pengusaha asal Seoul yang minta di designkan sebuah geung pusat kebugaran yang menghadap ke arah Laut . Dia sudah menyiapkan materi sejak beberapa hari lalu.

“Jiyeon-ssi!” sapa sebuah suara. Dan sepertinya Jiyeon mengenali pemilik suara tersebut. Dia belum melupakannya. Terlebih di saat-saat seperti ini, sepertinya suara itu benar-benar dirindukannya.

Kyuhyun.

Halusinasi. Tidak mungkin dia berada di sini. Jiyeon menoleh ke arah kanannya. Dia , Kyuhyun berjalan mendekati. Wajahnya terlihat segar dengan tatanan rambut yang rapi.

“Jangan bilang kalau kau bekerja di sini ?” tanya Jiyeon langsung. Jiyeon menggeleng. Dia tidak mempercayai penampakan Kyuhyun yang nyata.

“Fiuuh..!”  Jiyeon terlihat lega.

“Ny. Wu !”  sapa Kyuhyun kemudian yang langsung menghilangkan senyum di bibir Jiyeon.

“Uphs! something wrong ?” tanya Kyuhyun.

“Mr. Cho, ada urusan apa kau di sini ?” Jiyeon mengajak Kyuhyun duduk di lobby.

“Aku hanya sedang mempromosikan produk baru . Jiyeon, aku senang bertemu denganmu di sini.”  cetus Kyuhyun langsung.

“Aku tidak tahu harus menjawabmu bagaimana.”

“Tidak usah kau jawab juga tidak apa-apa. Apa Yifan baik-baik saja?”

“Dia selalu baik.”

“Kau terlihat semakin cantik.”

“Kyu, jangan mengolokku !”

“Tidak. Ini kenyataan! Bagaimana nanti kalau kita makan siang bersama. Aku punya banyak cerita untukmu. Tentang Eunso, tentang eommaku, dan pekerjaan baruku yang membuatku sedikit kewalahan.”  Mata Kyuhyun berbinar. Dia menunjukkan tentang hiforianya kehidupan yang sekarang dia jalani. Sepertinya berbanding terbalik dari dirinya.

“Kau sudah menikah ?” tanya Jiyeon tiba-tiba

Kyuhyun terdiam sebentar. Matanya mengulas kesibukan di sekitarnya. Dan sinar matahari yang mulai mencandai kulitnya membuat suasana pagi ini seperti menghangatkan benaknya. Jiyeon terbawa masuk dalam aura kebahagiaan yang ditebarkan Kyuhyun.

“Hanya kau yang ingin kunikahi sebelumnya.”

Deg

Jiyeon menjatuhkan tatapannya ke lantai. Perasaan berdosa itu kembali menaunginya.

“maaf !” ujar Jiyeon lirih. Sepertinya Kyuhyun menguak kembali penyesalan yang selama ini membayangi hidupnya, terlebih kehidupan pernikahannya dengan Yifan sungguh tidak seperti yang dia harapkan.

“Baiklah ! Sepertinya aku ingin bertemu dengan Mr. Ko dulu. Aku ada janji dengannya jam 9.  “

Jiyeon berdiri mengikuti kYuhyun yang tersenyum datar ke arahnya. Apakah Kyuhyun masih bersimpati padanya. Jiyeon mendesah berat. Tidak perlu menceritakan apapun padanya tentang kehidupannya. Jiyeon berharap semoga Kyuhyun mendapatkan kebahagiaannya.

Jiyeon melangkah di sisi Kyuhyun hingga mencapai pintu lift. Berdiri bersama kerumunan orang dan sesekali melirik dan tersenyum.

“Makan siang. Jangan lupa !” bisik Kyuhyun.  Jiyeon menunduk. Apa yang akan terjadi setelah makan siang. Ujar batinnya.

.

.

.

#Jiyeon pov,

Siang.

Aku berusaha untuk merampungkan semua pekerjaanku. Aku merasa begitu bersemangat dengan pekerjaanku hari ini. Apakah karena Kyuhyun. Pertemuan pagi ini sungguh mengejutkan, juga seperti angin segar yang membawa semua penatku.

“Kau mau ke mana ?” tanya Chaerim. Teman satu teamku yang mengurusi bagian design.

“Lunch.” jawabku tanpa petunjuk lain. Dia melesat ke arah jam delapan menuju pintu lift yang kebetulan terbuka. Jantungku berdebar. Dia sadar betul akan bagaimana ini diartikan dalam kehidupan seorang wanita yang sudah berkeluarga bertemu dengan mantan kekasih. Sebuah janji makan siang. Yeah, right !  batinku meragukan sesuatu yang akan terjadi.

Kakiku melangkah keluar gedung. Kyuhyun menantiku dengan senyuman. Sungguh mengundang sekali. Dia terlihat bahagia dan aku pun kenapa jadi berbunga-bunga. Senyuman diwajahku tercetus tanpa perintah. Otakku sungguh kehilangan kesadaran. Aku mengandalkan naluri. Dia, Kyuhyun adalah laki-laki yang baik. Dan aku masih merasa bersalah padanya. Seharusnya aku tidak melakukan hal ini.

“Apa menungguku lama ?” aku menghambur dalam kesan ceria matanya.

“Agh, tidak terlalu lama. Hanya sedikit kesemutan saja berdiri di sini .” ujarnya menjawab.

“Maaf !” Balasku

“Lapar.”  ujarnya sabil memegangi perutnya.

“Ayo kita makan !”

“Di mana ?”

Aku tidak rewel untuk urusan makanan. Cukup berada di restorant cepat saji dengan menu praktis pengganjal perut, namun tidak terlalu mengenyangkan. Aku paling tidak suka dengan makanan berat yang mengandung banyak karbohidrat . Semua itu menyebabkan perutku terlalu kenyang. Dan yang pasti jika perut sudah kenyang maka akan menyebabkan mata menjadi mengantuk. Gawat urusannya kalau sampai mengantuk. Aku belum sempat membuat laporan stastistik mingguan untuk minggu ini.

Aku menoleh ke arah Kyuhyun yang terlihat lahap menyantap hotdognya. Saus tomat membayang di sudut bibirnya. Aku menunjuknya dengan sedikit gemas.

“Di sini ?” tanyanya sambil mencoba untuk mengelapnya. Aku menggeleng, menunjuk ke arah yang tepat.

“Let me …!”  aku menghapusnya dengan tissue. Kyuhyun menatapku lekat .

“Ji, …”  Kyuhyun menarik nafasnya. Seperti ingin mengatakan sesuatu namun di tahannya di dada. Kenapa dadaku jadi berdebar-debar.

” Apa ? ” tanyaku. Semoga itu bukan sebuah ungkapan perasaan.

“Apa kau …”  Kyuhyun terdiam lagi.

“Aku baik-baik saja.” jawabku. Dan menunduk adalah hal yang tepat. Dia bisa membaca sinar mataku yang menggambarkan kesedihan.

“Aku ,..emh entahlah! ‘ Da berhenti lagi.

“Apa?” kejarku.

“Aku melihat Yifan dengan seseorang , mungkin tadi malam, di sebuah club malam. ”  Kyuhyun berhenti bicara saat aku meletakkan pisau dan garpuku.

“Semalam ?”

“Ya.”

Lalu aku menatapnya. Menghela nafasku dan tersenyum.

“Mungkin kau salah orang. Yifan tidak kemana-mana sepulang bekerja.”  ujarku bohong.  Dan Kyuhyun tahu.

“Ow, berarti aku salah melihat orang.”  ujarnya. Aku mengangguk lemah.

Dan terdiam. Aku sibuk memperhatikan pejalan kaki di luar sana .  Melemparkan semua kegugupanku karena mungkin Kyuhyun sedang bersorak senang karena ketidak bahagiaanku.

“Ji, aku dan Eunso ada janji bertemu hari Sabtu ini di sebuah cotage di salah satu pulau di daerah teluk. Sebenarnya aku tidak ingin memaksa, tapi apakah kau mau ikut? Tentu saja jika kau tidak keberatan, atau mungkin bersama Yifan. ” bicaranya begitu hati-hati.

“Akan kupertimbangkan. ” jawabku

“Apakah nomormu masih sama ?”

“Coba saja sendiri !”

Kyuhyun berhenti menghubungiku sejak aku meninggalkan Seoul. Dia kemungkinan sudah mematikan hasratnya untukku.

Kyuhyun tersenyum, dan dia menyuapkan potongan terakhir hotdognya.

“Done !” ucapnya santai sambil menyeka lagi mulutnya dengan tissue.

“Aku harus segera kembali ke kantor. ”  ujarku sambil berdiri.

“Aku antar !”

“Tidak usah!”

“Kau berjanji, aku boleh mengan…tar…mu ke ..ma..na..sa..ja !”  Kyuhyun terbata-bata mengingat hal yang telah berlalu. Sesuatu yang pernah aku janjikan. Aku mulai tersenyum dingin. Pias, dan mataku berkaca-kaca.

“Kyuh…maafkan aku !”  Aku berdiri dan melangkah mundur.

“Kapan kita bertemu lagi ?” Laki-laki itu begitu berharap. Bolehkah ? Bisikku dalam hati sambil menggeleng.

Wajah Kyuhyun yang terlihat hampa. Taukah, akupun merasa sedih melihat kesan hampa itu.

.

.

.

Beberapa hari Yifan tidak pulang. Malam ini adalah malam ke tiga dia tidak memberi khabar. Apa yang harus aku lakukan? Pasrah ? dia menyiksaku lahir dan batin. Membuatku merasa buruk sebagai pribadi. Dan menjatuhkan harga diriku sebagai istri, wanita terlebih manusia. Dia sepertinya begitu menikmati oerannya sebagai player saat ini.

“Yi..Yifan !”  sapaku di ponsel.

“Aku sedang sibuk ! Nanti saja !” jawabnya dingin. Hatiku sakit mendengarnya. Dia sepertinya tidak menyukai aku menghubunginya, bukan karena dia sibuk.

“Kapan kau akan pulang ?”

“Kalau urusanku sudah selesai ?” jawabnya ketus. Sudah bencikah dia padaku?

“Apa kau sehat? suaramu terdengar serak.”

“Aku baik-baik saja !”

“Baiklah. Aku memasak untukmu. Sebaiknya kau cepat pulang. Aku menunggumu.”  ujarku dengan harapan kosong. Dia tidak mungkin mempercepat kepulangannya meski aku merengek dan menangis sekalipun. Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Begitulah yang ada di dalam pikiranku sekarang ini.

Klik.

Ponsel ditutup tanpa pesan apapun. Ini menggelikan sekali. Untuk apa aku hidup seperti ini.

Sebuah pesan masuk. Kyuhyun. Aku menyeringai sambil merebahkan diriku di kasur. Dia selalu ada di saat Yifan tidak ada.

# Kau sedang apa ?#

~ Tidur ~  balasku

# Ini masih sore #

~ aku tidak punya kegiatan lain ~

# Jiyeon, apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku #

~ Tentang apa ? ~

# Yifan #

~ Aku tidak apa-apa. ~

# Jiyeon, aku tidak berdusta waktu mengatakan aku melihat Yifan bersama wanita lain.#

~Aku tau. Tapi ini urusan rumah tanggaku, Kyu ~

# Dan aku melihatnya lagi sekarang. Apa aku harus menghajarnya ?#

Lama aku terdiam. Apakah yang dikatakan Kyuhyun itu benar. Berarti Yifan memang tidak sibuk. Dia berada di club malam lagi. Dan mungkin bersama Joan, wanita itu. Jantungku berdebar.

# Aku sudah berada di sampingnya di counter bar, tapi dia tidak mengenaliku. Dia mabuk’#

Aku semakin resah.

~ Jangan lakukan apapun padanya ~

~ Kumohon ~ lanjutku sekian detik kemudian.

Lalu tidak ada jawaban dari Kyuhyun. Apakah dia benar menghajar Yifan. Tidak mungkin. Jangan !

Sekian menit aku menunggu, namun Kyuhyun tidak juga membalas. Aku mulai keyakutan. Jangan-jangan mereka berkelahi di dalam club malam itu. Membuat ketibutan dan mungkinberada di kantor polisi saat ini.

Satu jam.  Dua jam. Aku bahkan tidak jadi mengantuk. Kuhubungi oonsel Kyuhyun berkali-kali tidak diangkat. Semua rasa kantukku menguap bersama gelisahku. Aku sangat tidak menyukai perasaan semacam ini. Siapa yang aku khawatirtkan ? Kyuhyun atau suamiku sendiri ?

Derttt..derttt..dertt…

Ponselku berbunyi.

Kyuhyun.

“Apa kau menghajarnya ? Kyuh ?”  Aku langsung menyerbunya. Namun sepertinya suasana di sana bukan seperti di dalam Night Club.

Sepi.

“Tidak. Aku sudah berada di apartementku. “

“Oh syukurlah !”  ujarku

“Kau tidak mengatakan kenapa kau bisa seperti ini. Aku tidak rela jika kau menderita, Jiyeon.”

“Aku tidak apa-apa”  jawabku.

“Hh!” terdengar laki-laki itu menyeringai atau apalah.’Tapi sepertinya Kyuhyun memang meragukan perkataanku.

“Aku masih menginginkanmu. Apa kau pikir aku menyerah setelah kau menikah ?”

Aku terhenyak mendengar ungkapan Kyuhyun yang lugas. Dia sama sekali tidak merasa caggung mengatakannya. Apa mungkin karena dia melihat Yifan menyia-nyiakan perasaanku.

“Kyuh…aku baik-baik saja.”

“Pergilah bersamaku Sabtu ini. Aku ingin menikmati waktu liburanku denganmu.”

“Sepertinya tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa ? Sedangkan Yifan saja bisa.”  kejarnya

“Aku tidak seperti dia.”

“Apa kau tidak mencintaiku lagi ?”

“A..a..”

BRAKH….

suara pintu terbuka dengan keras.

“Jiyeon !”   panggil Yifan tiba-tiba dari luar kamar.

“Kyuh, suamiku pulang !” Aku langsung menutup ponselku dan berlari menyambut Yifan yang….mabuk lagi.  Dia tergeletak di sofa dengan tubuh bau alkohol. Selalu begitu. Dia pasti mabuk.

Aku seperti sebuah mainan bekas di matanya. Tidak berguna dan selalu disingkirkan. Namun terkadang dibutuhkan jika dia merasa ingin memainkannya.

Aku memperbaiki letak kakinya, meluruskannya di sofa. Menatap pada matanya yang menatapku namun tidak menyadari bahwa aku istrinya. Atau menyadari tapi tidak diperhatikan sama sekali. Aku hanya halusinasi untuknya.

“Yifan…apa kau tidak mencintaiku lagi ?” tanyaku lirih. Lebih seperti gumaman. Ya, aku merasa karena dia mabuk, dia tidak akan terlalu mendengarkan. Tapi orang mabuk adalh orang yang paling jujur sedunia.

Ya. Hanya sekedar lalu sambil melepas kaos kakinya. Aku menoleh ke wajahnya yang menyeringai.

“Jiyeon.. apa kau tidak bosan menanyakan hal itu ?”  Yifan tergelak dalam tawa yang hambar. Sorot matanya tajam namun tanpa fokus. Aku mengusap wajah tampannya yang berkeringat.

“Aku hanya ingin tahu, Sayang ! Apa kau membenciku, sehingga memperlakukan aku seperti ini. ”  aku melepaskan setiap butir kancing kemejanya dengan jemariku yang gemetar karena perasaan tak jelas yang kurasakan. Rasanya seperti mencopoti harga diriku satu persatu. Ngilu.

Air mataku hampir jatuh. Namun ku tahan.

“Aku mencintaimu …” jawabnya langsung. Yifan terduduk. Mulutnya sungguh bau.

“Apa kau punya kekasih ?” tanyaku sambil mencoba membuka kemejanya, namun tidak bisa.

“Jiyeon, aku mengencani Joan… apa kau tau, dia wanita yang cantik. ….dan tentu saja seksi!  ”  Yifan terkulai lagi ke arah berlawanan.

Lalu kembali aku memperbaiki letak kakinya, dan mulai melepaskan kemeja baunya dari tubuh putihnya.

Mencintaiku, tapi mengencani wanita bernama Joan. Hh..menggelikan.

“Yifan jika kau mempunyai satu alasan yang jelas ,  kenapa kau mempertahankanku untuk tetap setia menjadi istrimu, maka aku akan berada di sisimu, meskipun aku harus menderita. Apa kau sungguh mencintaiku ? ”  Aku mencoba berinteraksi lewat sorot matanya yang tak kumemgerti. Dia terkadang menatapku sedih, namun juga kemudian terlihat melecehkan, …

“Kumohon jangan menyiksa batinku seperti ini. Jika kau tidak mencintaiku lagi, lepaskanlah aku ! Dan hiduplah bersama wanita yang kau cintai itu.  ”  Aku berdiri dan melangkah ke dapur. Jantungku tertusuk-tusuk pisau rasanya. Aku sungguh terluka dan tidak bisa lagi menahan air mata ini.

“Yifan…”  bisikku dengan suara berat.

“Aku telah melakukan kesalahan, dan aku telah memperbaikinya. Aku bahkan menikah denganmu, bukan karena aku takut padamu. Oh, Yifan…aku mencintaimu. ” Ak masih sibuk dengan air panas yang aku tuangkan ke dalam baskom, dan aku terus bergumam.

“Aku sama sekali tidak marah seandainya kau ingin membalasku dengan berbuat sama. Katakan saja kita impas. Lalu setelah ini, tidak bisakah kita memulai sesuatu yang baru?”  Aku mengambilmadu dan membuat madu hangat untuk menetralkan rasa mual Yifan akibat alkohol.

Aku tidak melihat Yifan bergerak. Dia justru membalikkan badannya ke punggung sofa. Dia menyembunyikan wajahnya di sana. Mungkin tertidur seperti biasanya.

Aku membawa baskom dengan air hangat di dalamnya. Juga kain bersih untuk menyeka wajahnya. Dia adalah suamiku. Aku masih harus berbakti selagi berada di sisinya.

Perlahan aku menarik bahunya. Namun aku terkejut ketika melihatnya menatapku dengan kesedihan. Matanya sembab.

“Kenapa..deng..an matamu ?”  tanyaku. Namun Yifan tidak menjawab. Dia berdiri dan meninggalakan aku. Berjalan ke kamar dengan kaki sempoyongan.

” Yifan …!” panggilku.  Namun dia tidak menjawab.

Mungkin kekosongan yang ada diantara aku dan dia. Mengambang, di ruang kosong yang sudah tidak terisi lagi.

Apa dia tidak sepenuhnya mabuk dan mendengar semua keluhanku ? Apa yang ada di hatinya, pikirannya. Apkah aku masih berarti untuk hidupnya.

.

.

.

Keesokan paginya aku terbangun tanpa Yifan di sisiku. Kosong dan sepi. Terasa begitu lengang apartement yang luas ini. Aku menatap setiap sudutnya yang terkesan dingin. Memilukan. Aku sendiri belum sempat merapikan semua ruangan. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku, perasaannya, juga perkawinan yang terlihat bodoh ini.

Tanganku meraih ponselku. Entah apa yang sedang aku pikirkan.

“Kyuh,..kapan kau berangkat liburan ?” tanyaku langsung.

Lalu aku mengangguk ketika mendengar jawabannya.

“Baiklah, jemput aku sore nanti.” ujarku sambil menutup ponselnya. Aku hanya ingin melepaskan diri dengan sekedar berjalan-jalan.

Tapi mungkin ini adalah keputusan yang salah jika aku pergi dengannya. Sangat salah. Tapi siapa yang akan perduli. Yifan saja tidak perduli denga perasaanku.

# Jiyeon Pov end

////

” AAAAAAA………!” teriak Jiyeon pada laut.  lalu terdiam, menatap batas laut dan langit dikejauhan. Kyuhyun terduduk di atas pasir. Dia memperhatikan punggung Jiyeon. Akankah ada episode baru untuknya. Untuk kisah baru bersamanya.

Jiyeon menoleh. Dia sudah puas berteriak. Dan mendekati Kyuhyun.

“Mana adikmu ?” tanya Jiyeon

“Aku bohong.” jawab Kyuhyun tanpa ekspresi. Dan Jiyeon menendangkan pasir ke arah sepatu Kyuhyun. Laki-laki itu tersenyum.

“Apa kau benar berharap kalau adikku ada bersamaku, bersama kita… di sini ?”

“Kau sudah merencanakannya .” tuding Jiyeon.

“Apa kau marah ?” Kyuhyun menarik Jiyeon untuk duduk di sisinya. Bersama melihat ke arah laut, ke arah ombak, dan merenungkan sesuatu.

“Kenapa kau tidak bercerai saja !” tiba-tiba pertanyaan Kyuhyun membuat Jiyeon terbatuk. Dia menoleh sambil berusaha untuk menelan salivanya.

“Kyuh…a..aku…bercerai…dengan Yifan…?”

“Ya.” Jawab Kyuhyun yakin

menyedihkan sekali jika hal itu terjadi. Namun memang beberapa hari ini, perkataan berpisah itu sudah masuk dalam perhitungan Jiyeon. Ada beberapa hal yang sudah dipertimbangkan sebelum masa pernikahan mereka masuk dalam hitungan tahun.

“Aku masih memberikan waktu untuknya, untukku, untuk kami…”

“Aku tau kau tidak bahagia.” ujar Kyuhyun.

“Semua berawal dari diriku sendiri, aku yang mengkhianatinya.”

“Ini tidak adil !”  hardik Kyuhyun

“Adil atau tidak adil semua sudah terjadi. Dia sudah terlanjur membenciku.”

“Lalu kenapa dia menikahimu? “

“Kau tau jawabannya. Dia ingin aku menderita.”

“Lalu apa dia tidak menderita. “

“Dia selalu pulang dalam keadaan mabuk. “

“Benarkah ?”

“Sudahlah! Aku tidak mau membicarakan.”

“Benar. Bagaimana kalau kita membicarakan masalah kita.”

Jiyeon tersenyum. Dia menatap Kyuhyun yang terlihat sedikit cerah. Wajahnya begitu penuh aura kebahagiaan. Jelas. Mungkin juga untukku. Aku sedikit merasa bebas. Batinku yang terhimpit sedikit mendapatkan kelegaan.

“Ayo kita harus segera mencari tempat beristirahat.”  Kyuhyun menarik tangan Jiyeon ketika melihat langit sudah beranjak kelam. Angin pun semakin kencang berhembus.

.

.

.

“Aku harus mandi dulu sebelum makan malam. ”  Jiyeon masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Kyuhyun yang berseberangan kamarpun melakukan hal yang sama.

Beberapa menit kemudian, Jiueon sudah keluar dari kamar mandi dan memastikan dia mempunyai pakaian yang pantas untuk makan malam. Entah kenapa dia ingin terlihat sedikit menarik.

Tok-tok-tok

Belum lagi sempat berpakaian, Kyuhyun sudah menjemputnya. Jiyeon membukakan pintu.

“Aku belum siap !”  Ujar Jiyeon dengan pout di bibirnya. Kyuhyun menyeruak masuk.

“Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu di sini !”

Kyuhyun duduk di sofa sambil memperhatikan Jiyeon yang masih mengenakan kimononya.

“Aku akan berganti pakaian.” ujar Jiyeon sambil membawa gaun hitamnya ke kamar mandi.

Kyuhyun hanya menyeringai. Dia tadi sempat berharap Jiyeon mengganti pakaian di hadapannya. Aish!  Nakal sekali otaknya.

Lalu…

“Kyuh, bisakah kau menalikan ini !”  Jiueon keluar dengan tali pengikat gaun yang harus ditalikan di belakang. Susunannya seperti sebuah jaring. Jiyeon menyesal, kenapa harus membawa pakaian seperti ini. Merepotkan sekali !

“Baiklah !” Kyuhyun berdiri. Menghampiri Jiyeon dan mengambil tali itu dari tangan Jiyeon. Dengan sedikit menyibakkan rambut panjang Jiueon, Kyuhyun mencoba untuk menalikan tali temali itu.

Sebentar namja tampan itu terpesona dengan punggung Jiyeon yang terbentang indah dan mulus. Kulit bersihnya begitu mengundang hasratnya. Dia tercekat.

“Kyuh..!” Jiyeon menoleh, dan namja itu mendekati wajah Jiyeon.

“Kau cantik sekali !”  bisiknya kemudian. Jiueon menunduk dengan wajah yang pias. Diliriknya Kyuhyun yang masih menatapnya. Sementara tangannya sudah selesai menalikan tali gaun malam Jiyeon dengan sempurna. Tangannya masih memegangi tali itu.

Jantung Jiyeon berdebar kencang. Kedekatan seperti ini sungguh berbahaya. Apalagi mereka berada di dalam kamar yang tertutup rapat. Tidak ada yang mengenali mereka di tempat ini. Tangan Kyuhyun menyentuh bahu mulus Jiyeon.

“Aku sangat merindukanmu !”  Kecupan lembut menyapa bahu Jiyeon.

Deg

Deg

Deg

“Kyuh…!”  Desah Jiyeon.  Dia berjalan menjauh dari laki-laki itu.

“Ma…ma…afkan aku ! Aku terbawa suasana.” Ujar Kyuhyun sambil menutup mulutnya. Dia terlihat panik ketika Jiyeon menatapnya bingung. Disesalinya tkngkanya yang kelewat batas itu.

“Tidak apa-apa. ”  balas Jiyeon.

“Aku sungguh minta maaf !”  Kyuhyun berbalik dan berjalan ke arah pintu. Dia berniat keluar.

“Aku akan menunggumu di luar.” ujarnya sambil menutup pintu itu lagi. Dan sekarang tinggalah Jiyeon terpekur dengan perasaan gundah. Apa yang telah terjadi ? Ouh, hampir saja !

Matanya terpejam dan merasakan perasaannya bergemuruh.

.

.

.

Jiyeon segera merogoh ponselnya dari dalam tas ketika benda tipis itu bergetar. Dia memperhatikan sejenak sebelum akhirnya menekan tombol aktif.

“Yifan ?”

“Kau di mana ?”

“A..aku di rumah ibuku. ” jawab Jiyeon sambil melirik Kyuhyun.

“Kenapa tidak menghubungiku dulu ?”

“Aku buru.buru. Kau di mana ? “

“Di rumah.” jawab Yifan.

“Maaf.” ujar Jiyeon

“Kapan kau pulang ?” tanya Yifan. Sepertinya dia tidak mabuk.  Dan kenapa pulang secepat ini. Jam berapa ini? Jiyeon jadi merasa bersalah karena meninggalkan suaminya sendiri di rumah.

“Apa kau sudah makan ?” tanya Jiyeon

“Sudah.” jawab Yifan singkat.

“Aku akan kembali besok.” ujar Jiyeon.

“Aku akan menjemputmu !”

Jiyeon langsung menoleh ke arah Kyuhyun yang menatapnya gelisah.

“A…aa..”

“Sudah lama aku tidak bertemu ibu mertuaku. Apa dia baik-baik saja ?”

Aneh. Sangat aneh. Kenapa dengan Yifan.  Apa dia sedang waras. Apa dia …

“Jiyeon… aku ingin mengatakan sesuatu padamu…” Yifan berbicara begitu lembut. Mengingatkan dirinya di saat pertama mereka menjalin hubungan. Yifan yang manis, dan selalu terlihat lembut dan perhatian. Juga sangat menyanyanginya. Hati Jiyeon kembali gundah. Dia terpekur menatap api lilin yang bergerak ke sana sini di tiup angin laut.

“Kau ingin mengatakan apa ?” tanya Jiyeon dengan hati berdebar-debar

Kyuhyun hanya menarik nafasnya berat. Dia sepertinya akan kembali merana. Kakinya melangkah menjauh. Dia berdiri di pagar pembatas untuk melihat ke laut lepas.

“Nanti saja kalau kita bertemu. ” ujar Yifan dengan suara hutskynya yang menghantam relung hati Jiyeon.

“Oh…baiklah !”

“Jiyeon, …!”

“Ehm..?”

“Apa kau masih mencintaiku ?”

Pertanyaan itu mengembara di kepala Jiyeon yang penuh dengan berbagai macam pengertian. Kenapa Yifan terlihat berbeda. Apa yang sedang direncanakannya.

“Yifan, apa kau mabuk ?” tanya Jiyeon sedikit resah. Dia tidak bisa menjawab hal itu di saat seperti ini. Terlebih dia masih ragu dengan sikap Yifan. Bukan berarti dia tidak mencintai Yifan.

Deg

Apakah ini artinya dia masih mencintai Yifan.

“Baiklah. Aku akan segera beristirahat supaya besok aku bisa berangkat lebih awal untuk menjemputmu.” ujar Yifan kemudian.

What ?

Jiyeon mulai panik. Dia tidak bisa berada di sini, malam ini. Dia harus segera ke Seoul untuk pergi ke rumah ibunya. Aigoo! Kenapa harus mengatakan hal itu.

“Jiyeon !” panggil Yifan lagi.

“Ya..?”

“Maafkan aku !”

Lama Jiyeon terdiam. Maaf ?

Klik

.

.

.

Kyuhyun berkali-kali menoleh ke arah Jiyeon ketika dia mengendarai mobilnya. Dan Jiyeon merasa bersalah karena harus melibatkan laki.laki itu sekarang.

“Maaf !” ujar Jiyeon

“Aku yang terlalu tinggi berharap padamu.”

“Kyuh… “

“Aku masih mencintaimu. Aku ingin merebutmu dari Yifan. Aku ingin memilikimu !”  ujar Kyuhyun dingin.

Lalu mobil terhenti di sisi jalan tol

“Apa yang adamdi pikiranmu ketika bertemu lagi denganku ?” tanya Kyuhyun sambil menarik jemari Jiyeon.

“Aku senang.”

“Apa kau merasa bahwa kita kemungkinan masih bisa bersama’?”

“Kyuh…”

“Yifan sangat egois. Dia berselingkuh setelah menikah. Itu merupakan kesalahan besar. Aku heran kenapa kau masih memaafkannya. “

“Aku hanya bersikap tenang,  karena dia suamiku. Aku masih berharap dia berubah. “

“Jiyeon, aku mencintaimu. Aku bisa memberikan kebahagiaan yang kau butuhkan. Aku benar-benar ingin mengambilmu dari Yifan.”

“Aku ….”

“Kau tidak mencintaiku lagi… waktu itu kau belum menjawabnya.”

Tiba-tiba ponsel Jiyeon berbunyi lagi. Buru-buru dia mengangkatnya untuk mengalihkan perhatiannya dari pertanyaan Kyuhyun.

Yifan.

“Hallo !” sapa Jiyeon,

“Hallo ! Jiyeon… kenapa kalian berhenti di pinggir jalan ?”

“What !!!”  Jiyeon langsung mengarahkan matanya ke luar., mencari-cari sesuatu di sekitarnya. Dan ketika dia menoleh ke belakang mobil, ternyata di sana sudah terparkir mobil Yifan.

Jantung Jiyeon berdebar kencang.

“Kyuhyun, Yifan di belakang kita. Ternyata dia mengikutiku sejak tadi. Oh Tuhan…bagaimana ini ! Bagaimana ?”  Jiyeon panik. Dia melihat dari kaca spion, Yifan keluar dari mobilnya.

Lalu ketika Jiyeon menutup matanya dia mendengar suara pintu mobil di banting. Kyuhyun keluar.  Jiyeon melihat Yifan menghampiri sisi pintu disebelahnya. Namun Kyuhyun menahannya.

Andweeh! mereka jangan berkelahi.

Jiyeon keluar dengan tubuh gemetar dan wajah pucat. Ini sungguh memalukan dipergoki sedang bersama dengan laki.laki lain oleh suami. Jiyeon merasa sangat berdosa.

“Kalian jangan berkelahi !”  Ujar Jiyeon ketika melihat Yifan mencengkram kemeja Kyuhyun, dan Kyuhyun siap melayangkan tinjunya.

Namun mereka memang laki.laki. Perkelahian memang hal yang mendongkrak harga diri mereka. Kyuhyun berhasil meninju wajah Yifan. Begitupun Yifan sudah berhasil mendaratkan kepalan tangannya di perut Kyuhyun. Kedua laki.laki itu akan bersiap-siap saling menghantam lagi.

“Kalian jangan berkelahi,..atau…AKU AKAN MENABRAKKAN DIRIKU PADA MOBIL YANG MELINTAAAAASSS!”  teriak Jiyeon sambil berjalan pelan ke arah tengah jalan. Sebenarnya dia hanya mengancam, namun dia tidak menyadari bahwa mobil melintas begitu kencang di jalan bebas hambatan.’

“Jiyeoooon, jangaaaaaan !”  teriak Yifan.

BRAKH…

Tubuh Jiyeon terpental tiga meter di atas aspal.  Matanya langsung terpejam dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Yifan berlari mendekati istrinya dengan wajah panik.

“Jiyeon…Jiyeon…Jiyeon..!”  laki-laki itu tidak berani memegang tubuh istrinya. Dia segera nenelepon bantuan medis, untuk segera datang.

.

.

.

Sebuah janji yang suci terselip di dalam hati, membuatku seperti melayang pada langit tak berbatas. Di mana aku ? kenapa aku bisa melihatmu…

Yifan…. Yifan….

Panggilku.  Suaraku memantul seperti di dalam ruang hampa. Aku melihatnya menangis di sisiku, memegang jemariku. Memelukku… apakah aku mati ?

# Yifan pov,

Malam itu aku melihat Kyuhyun. Entah kenapa aku merasa bahwa aku akan kehilangan seseorang yang kucintai. Mungkin dia datang karena Jiyeon memanggilnya, atau dia yang sengaja datang untuk mengambil istriku.

Dia duduk di sisiku , memperhatikanku yang dalam kondisi setengah mabuk. Tentu saja dia melihatku bersama Joan. Dia adalah wanita yang selama ini telah kujadikan yangkedua. Aku seharusnya tidak melakukannya, karena aku tidak mencintai Joan. Aku hanya menggunakannya sebagai pelampiasan kekesalanku.

Kenapa Jiyeon mengkhianatiku.

Kenapa kau mengkhianatiku, Jiyeon….

Pertanyaan itu seperti ingin membunuhku. Aku tidak pernah bisa menerima kenyataan kalau Jiyeon, wanita selembut salju yang kucintai membiarkan dirinya terlibat dengan laki-laki lain. Laki-laki yang slama ini lebih berada dekat dengannya.

Dan aku,…akupun sama. Melibatkan wanita yang selama ini dekat denganku, untuk kujadikan selingkuhanku. Namun sayangnya Joan bukanlah wanita yang mudah untuk melepaskan aku. Dia yang sekarang menjeratku selalu bisa menarikku dalam pelukannya lagi. Dan lagi…Aku menjadi Yifan yang brengsek yang selalu mengutuki Jiyeon sepanjang hari. Namun ketika aku melihat kehadiran Kyuhyun,… aku seperti merasa tertampar kembali.

Seolah-olah kehadirannya mengisyaratkan sesuatu,… aku akan kehilangan jika aku tetap membiarkan diriku dalam pelukan Joan.

Malam itu akupulang dan aku tidak sepenuhnya mabuk ketika aku mendengarnya berbicara. Aku melihat wajahnya yang cantik sedang terisak. Dia bahkan mengatakan merelaKan aku bersama Joan seandainya aku tidak mencintainya.

Perkataan itu mebuat hatiku perih merasakan penderitaan yang telah aku torehkan di hatinya.  Jiyeon…

Meskipun dia telah melakukan kesalahan, dia tidak pernah berpaling dariku. Bahkan dia tetap memperhatikan diriku. Kelembutannya membuatku malu pada diriku sendiri. Aku adalah laki-laki suami yang tidak tau diri. Aku menyiksanya setiap hari.  Menyisa seorang wanita istri yang selama ini telah aku pilih menjadi pendampingku. Seharusnya aku menjadikannya abadi di dalam hidupku.

Jiyeon, …

Aku menjadi ketakutan ketika aku menyadari bahwa Kyuhyun membawanya pergi. Aku tidak mau dia pergi. Aku ingin memperbaiki semuanya seperti yang dia katakan padaku. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal kembali.

Namun aku merusak segalanya. Aku bahkan tidak bisa melindunginya. Aku membuatnya terhempas di jalan aspal dengan perasaan sedihnya.

Jiyeon….

# Yifan Pov end,

.

.

.

Jiyeon membuka matanya. Buram. Dia hanya melihat bayangan di depannya.

“Jiyeon…”  panggil sosok itu. Jiyeon memperjelas pengelihatannya.

“Kyuhyun !”  balas Jiyeon lirih. Laki-laki itu tersenyum.

“Ya. Ini aku…”

Jiyeon terdiam. Apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa sesaat lalu dia seperti melihat Yifan menangis di sisinya. Kemana dia…kemana Yifan. Di mana suaminya.  Matanya melirik ke segala arah.

Dan Kyuhyun menghela nafas lirih. Dia tahu siapa yang sedang dicari Jiyeon.

“Dia sudah pergi.” ujar Kyuhyun kemudian.

Deg

Kemana ? Jiyeon mendadak seperti hampa.

Lalu Kyuhyun mengambil sesuatu dari atas locker di samping ranjang. Dia menyerahkan kepada Jiyeon.

“Apa ini ?”  Jiyeon menerima dengan tangan lemah. Dia gemetar.

Diperhatikannya dengan teliti surat yang disodorkan Kyuhyun padanya.

Form surat perceraian yang sudah ditanda tangani Yifan.

Jiyeon langsung terkulai lemas, dengan mata terpejam. Wajahnya memanas karena hatinya merasa perih. Oh Tuhan…Oh Tuhan…batinnya menjerit-jerit. Tidak boleh! ini tidak boleh terjadi. Jiyeon tidak ingin di ceraikan Yifan.

Surat itu diremasnya dengan sedih. Kyuhyun hanya tercekat di sampingnya. Sekarang dia benar-benar memahami siapa yang lebih dicintai Jiyeon. Sulit untuknya menerima kenyataan ini, namun memang seperti itulah kenyataannya.

“Aku akan mencarinya. Dan membawanya ke sini !” bisik Kyuhyun.

Jiyeon tidak bisa menahan tangisnya. Dia benar-benar terpukul dengan surat perceraian itu. Bahkan dia tidak sanggub mengatakan apa-apa pada Kyuhyun. Dia tidak tahu harus bagaimana dengan laki.laki itu. Kyuhyun terlalu baik.

.

.

.

Sebulan berlalu. Jiyeon sudah dalam kondisi pulih dari cidera di kepala dan lengan tangannya yang patah. Namun dia belum sembuh dari cidera di dalam hatinya. Yifan belum juga muncul. Dia menghilang, dan Kyuhyun belum juga menemukannya. Apakah Yifan benar-benar merasa kalau Jiyeon sudah menandatangani surat perceraian itu, yang artinya mereka bukan lagi suami istri.

Kenyataannya, Jiyeon masih menyimpan surat itu dengan baik. Dia belum menandatanganinya. dia hanya merasa Yifan merasa bersalah tas semua kejadian yang menimpa dirinya. Dia masih mencarinya di hari terakhir itu. Yifan masih menunjukkan perhatiannya.

.

.

#Jiyeon pov,

.

.

Musim dingin sudah menyapa hari. Di luar sepertinya suhu sudah mencapai di bawah nol. Namun di dalam ruangan ini semua terasa hangat. Aku masih menantinya. Sangat menantinya.

Yifan.

Dalam pengertianku, aku menunggunya seperti aku menunggu kereta terakhir di dalam hidupku. Mungkin kedatangannya agak sedikit lebih lama. Namun dia pasti datang. Memang ada beberapa kereta yang datang lebih dulu, salah satunya Kyuhyun. Namun aku tetap menunggu kereta terakhir yang selama ini selalu membawaku pergi. Aku terrbiasa dengannya. Hidupku sudah aku pertaruhkan untuknya. Mungkin dia bukan laki.laki yang sempurna. Tapi menurutku dia adalah laki-laki yang terbaik. Aku menyadarinya meski terlambat. Dan perlu memahaminya setelah berbagai peristiwa kukalui bersamanya.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Aku segera merapikan pekerjaanku dan bersiap untuk pulang. Pulang ke rumah yang sepi. Rumahku , juga rumah Yifan. Rumah kami. Aku belum meninggalkan rumah itu. Aku masih menempatinya. Aku masih menunggunya. Dan berharap dia segera pulang. Untukku, untuk kami, pernikahan ini.

Berjalan di jalanan yang beku. Suasana terihat lebih hangat dengan berbagai bentuk manusia heterogen yang melintas tak beraturan. Aku melabuhkan pandanganku pada sebentuk bayangan tubuh yang berdiri diantara pejalan kaki di hadapanku. Dia dengan postur tingginya yang selama ini begitu akrab di mataku.  Apakah aku tidak salah memprediksi kehadirannya.

Yifan.

Dia berdiri menatap ke arahku. Di kejauhan.  Sepertinya dia datang lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan. apakah dia merindukan aku ?

Aku hanya berdiri di tempatku, menantinya menghampiriku. Dan jantungku berdegub kencang ketika melhat langkahnya berjalan ringan ke arahku. Matanya yang teduh terus menalikan cerita diantara hembusan angin dingin yang membekukan. Aku berada di sana di dalam cerita hidup yang dia hadirkan dalam hatinya..

“Aku ingin mengambil surat itu. Apa kau sudah menandatanginya ?” tanyanya ragu. aku tahu dia hanya ingin bertemu denganku, memastikan keadaanku.

“Sudah.” jawabku berdusta.

“Baguslah !” timpalnya dalam senyum. Dia menyentuh wajahku.

“Ya.” balasku. Kusentuh lembut tangannya yang menempel di pipiku.

“Aku tidak punya banyak waktu. Apakah kau mau menemaniku makan sekarang ?” ujarnya menawarkan.

Sebuah rumus baru.

“Ya, baiklah.Tapi pulanglah dulu untuk mengambil surat itu.” ujarku. Mengajaknya pulang, ke rumah kami.

Aku tersenyum. Menggandeng lengannya dan berjalan disisinya. Sepanjang perjalanan aku terdiam. Yifan pun tidak banyak bicara. Namun aku melihat dia bahagia.

“Yifan…!” bisikku

“Emh..?” sahutnya

“Jangan pergi lagi !”

“Tidak akan .”

.

.

.

fin

.

.

.

.

a/n

Agh, aku memutusan mereka tidak jadi bercerai. Ff ini yang tadinya dirncanakan Kyuhyun Jiyeon jadi Krisyeon lagi. wae? karena aku ga suka ada perceraian.

Perceraian itu sakit…SAKIT…SAKIT…SAKIT… ! oke, lebay dikit. Tapi emang aku ditengah acara kehilangan feel Kyuhyun nya..kok malah jadi miris sendiri dengan Kris..waktu dia pura-pura mabuk. Hik-hiks..lebay lagi.

ya…apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Hanya aja manusia aja yg kadang egois dan kurang instropeksi…  jadi aku memang ga sreg sama perceraian. @korban perceraian@  Aku hanya mempunyai harapan banyak dari kebahagiaan pernikahan. meski agak tersendat di awal2!  oke agak ngelantur dikit, dan ini berakhir dengan hal yang gaje. ya terserah saja… semoga bisa dinikmati aja pada akhirnya /pesennya hanya begitu/

Sekali lagi terima kasih untuk pihak-pihak yang sudah mendukung terselenggaranya FF ini, baik dari seluruh pecinta FF Krisyeon, KyuYeon, dan sponsor-sponsor sekalian..juga semua yang sudah menyempatkan membaca FF ini. Love u all! Pis!

67 thoughts on “[Twoshot] Last Train 2nd/End

  1. Di akhir agak ambigu ya, jiyeon bilang udh tanda tangan, trus di ajak pulang ke rumah, jiyeon bilang jgn pergi lagi yifan blg tidak akan
    Apa mngkn mereka sebenernya udh saling ngerti dan ga bisa berpisah
    *aku malah bingung ngejabarin nya gimana kkkk

    Yg penting intinya krisyeon balikan lagi dan memperbaiki hub mereka
    Ff ini bikin nyesekkk deh baca nya
    Miris ngebayangin jiyeon kris kyuhyun

    Kyuhyun sini aku temenin, kesian dy di tolak 2 kali kkkk
    Emang lom jodoh yaa hehehe

  2. Jiyeon bilang “sudah” (Tanda tangan). Trus, seharusnya Yi Fan sedih kan, kok dia malah senyum. Trus, Yi Fan kan gak tau kalau sebenarnya Jiyi boong udah tanda tangan. Kok dia bilang gak akan ninggalin Jiyi. Tapi, bagus kok. . .

  3. Setuju sama author…setiap manusia mempunyai kesalahan tapi harus diberi kesempatan utk merubah dirinya ke arah yg lebih baik dg tidak mengulang kesalahan yg sama..

  4. Hwaaaa.. ff na bikin mewek 😭
    Yifan memang pantas malu dg sikap dia ke jiyi.
    Harus lihat kyuhyun dulu baru bisa bikin yifan sadar.
    Fiuuhh~ krisyeon happy ending jg.

    • Ff lain mungkin nanti April, Sayangku. soalnya aq beneran lagi sibuk di tempat krjaku. Mau ada Audit ISO. Yup, aku usahakan April.Makasih ya! Oke !PIs !

    • Oke..mudah2 April aku udah bisa kayak biasanya lagi. Lagi sibuk sama kerjaan di kantor. /ciyee kantor/ hehe..beneran aku lagi sibuk. Tapi nanti di akhir Maret akan ada Tomorrow last chapter. NC Bang Yongguk vs Jiyeon, kalo berminat.. Silahkan ngeinbox kayak biasanya! Pis! Makasih yaw !

  5. akhirny…krisyeon batal cerai. syukurlah….
    hn..tp perlu sequel nh aplg kisah d.akhir…
    kan kris mw mg.ambil surat tp knp dia tdk akn mlepas jiyeon

    • Hahaha…iya..masih kurng ya…aku udah capek ngetiknya.. Pikirku..bisa diartikan sendiri deh sama yg baca. Mereka kan masih saling cinta.. Begituh…btw makasih !

  6. Yaelah kris awalnya kecewa sm jiyeon dan selingkuh dg joan niatnya buat bikin jiyeon sakit hati eh malah kris akhirnya nyesel dan takut jiyeon di rebut kyuhyun lagi..tp akhirnya mereka bisa bersatu lagi

  7. wahhhh lana sini cipok kamj huahhh kok aku senangnya bukan main sama part ini…
    huh sumpah konfliknya dapet banget disini tapi yahhhh akhirnya yang bikin agak jleb dengan kata fin huahhh masih perlu moment krisyeon u,u

    trus buat kyu huahhh sini pok pok hehehe

    daebak deh alana ^^

    • Hahaha..iya moment Krisyeonnya kurang ya… Iya deh ntar dibikin kalo ada feelnya lagi..khusus mereka. Siapa..Krisyeon..tp nanti akan ada Krisyeon lagi… Tp ..khasusnya beda. Makasih ya…

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s