[2nd] Illusion

feat. IRENE RV & DANIEL HENNEY

feat. IRENE RV & DANIEL HENNEY

arin yessy presents…

ILLUSION

Irene (as 19 y.o girl with mental disorder) & Daniel Henney
find the other main cast and their character by your self ^^

read 1st here

‘namaku Irene, umurku 20 tahun, saat ini aku tidak bisa tidur karena tak ada morfin di rumah. Aku tak ingin memberitahu ayah betapa puteri bodohnya ini terobsesi pada cairan itu, namun aku tak akan sanggup.
hari ini aku bertemu dengan seorang laki-laki yang dihajar habis-habisan oleh ayahku. Kupikir laki-laki itu gila, karena ia menatapku seperti itu dan mengetahui namaku. Orang asing! Gila! Dunia akan kiamat!!’

Aku terperanjat. Sesuatu yang sangat dingin menyentuh kulit pipiku. Refleks aku segera bangun dan mendapati sosok yang kukenal duduk di samping tempat tidurku mengenakan jaket bulu-bulu dombanya. Seperti orang eskimo bodoh yang tersesat saat musim panas California.

“ssttt….” orang aneh. Memangnya aku berteriak atau apa, kenapa dia menyuruhku diam? Bukankah aku memang sudah diam dari tadi.

“finnick..” ucapku malas. Aku hendak kembali merebahkan diri namun ia menahan tubuhku. Apa maunya anak ini? Maksudnya pacarku ini.

“kau tak bisa tidur?” ia menatapku khawatir. Justru sebaliknya aku menatap heran ke arahnya. Bukankah aku jelas-jelas membuka mataku? Tapi pacarku ini keren juga, sepertinya dia punya bakat jadi maling. Terbukti tak ada orang rumah yang tahu tengah malam begini ia datang ke kamarku.

“finnick, kau mau apa?”

“kau pasti menginginkan ini” ia memperlihatkan kepadaku satu botol ukuran dua puluh ml morfin cair kepadaku. Otakku mendadak langsung bereaksi, mataku berbinar sempurna, dan tanganku tergerak untuk merebut botol kecil itu.

“tunggu dulu..” finnick mencekal tanganku. Moodku jatuh berantakan tak menentu. Sumpah ingin kugigit saja hidungnya yang mancung itu, biar jadi seperti Voldemort sekalian yang tidak punya hidung.

“irene sayang.. kau harus janji, ini morfin terakhirmu”

“kenapa?” kalau saja saat ini bukan malam hari dan aku ada di rumah sakit jiwa, pasti saat ini aku sudah berteriak kencang seperti orang kesetanan atau merengek sampai air mataku habis dan pita suaraku putus.

“tidak baik untuk kesehatanmu.. dengar sayang, kau harus melepaskan ketergantunganmu.. morfin memang membuatmu nyaman, tapi lama kelamaan akan merusak tubuhmu.”

“baiklah.. aku janji..”

“benarkah??” manik mata blue ocean itu membulat sempurna. Mungkin ia tak percaya aku semudah itu mengatakannya. Tapi tentu saja aku tak benar-benar serius. Lebih baik mati muda daripada aku tak dapat jatah morfin sama sekali. Toh semua manusia akan mati, aku hanya mempercepat prosesnya saja.

“benar.. aku akan berhenti..”

Finnick merengkuh erat tubuhku. Aroma citrus tercium dari tubuhnya, dan semakin tajam ketika kutenggelamkan kepalaku di perpotongan lehernya. Oh finnick.. kau memang bodoh sayangku.. sama bodohnya denganku.

“aku tidak ingin kau bermimpi buruk lagi..” ucapnya dengan penuh penekanan.

.

.

.

“finnick datang tadi malam?” Shit! kekasihku itu ternyata tidak ada bakat sama sekali menjadi seorang penguntit. Kenapa ayah dapat mengetahui tindakannya dengan mudah.

“hmm…” aku hanya memainkan dan mencacah-cacah rotiku dengan pisau, rasanya enggan sekali memakannya saat ini.

“kau harus makan sayang..” ia menatapku khawatir, dan aku tak ingin ambil pusing karenanya.

“aku tidak lapar yah.”

Kulihat ayah bangkit dari tempat duduknya dan pindah duduk di sampingku. Ia mengambil roti yang baru dan mengoleskan strawberry jam di atasnya.

“makanlah.. setidaknya demi ayahmu yang sudah tua ini..” ia menyodorkan roti itu ke arahku yang sangat terpaksa harus kuterima.

“ayah tidak setua itu, masih tampan dan kaya.. kenapa tidak cari istri baru saja?”

“sudah.. kau harus makan..” aku menatap ragu roti dalam genggamanku. Sejujurnya aku merasa sangat kenyang pagi ini. Dan karena yeahh.. aku kehilangan nafsu makanku entah sejak kapan. Mungkin karena benda ajaib itu.

“makanlah.. ayah tak mungkin meracunimu..”

Hell No! Kenapa ayah harus memandangiku seperti itu. Sumpah, rasanya seperti aku di suruh makan protein serangga dalam film Snowpiercer yang super menjijikkan. Oh ayolah irene! Ini hanya roti, roti, roti…!!!

Aku memaksakan diriku. Hingga Perlahan akhirnya masuklah secuil roti ke dalam mulutku. Rasanya… hmm.. setidaknya tidak seperti protein serangga sih. Tapi tetap saja aku tak menyukainya.

“anak pintar..” ayah mengelus pelan rambutku.

Oh and For your information ya, rambutku sudah super wangi dan tak kusut lagi sekarang. Setidaknya kadar kecantikanku melejit 90% dari kemarin. Tubuhku sudah wangi kembang tujuh rupa, rambut pirangku disisir dengan rapi serta di beri hiasan sebuah pita cantik, juga jangan lupakan dres-dress cantik yang disiapkan ayah di lemari bajuku yang luasnya setara dengan ruang keluarga. Untung saja finnick tak tergiur padaku, karena well yeah, ayahku akan menghajarnya jika ia berani melakukan sesuatu padaku. Tapi sepertinya tak ada masalah ketika ayah tahu finnick datang ke kamarku kemarin malam. Kenapa ya?? Ah sudahlah!

“ayah harus berangkat ke kantor, kau tetap dirumah dan jangan kemana-mana.. oke? Lakukan apapun sesukamu tapi jangan keluar dari rumah, oke?”

“oke oke oke..” aku memeluk lengan ayahku ketika ia hendak memasuki mobilnya. Mobil baru? Oh aku lupa kejadian kemarin. Aku bahkan juga lupa betapa kayanya ayahku, sepertinya memang tak masalah kalau aku minta dibelikan jet pribadi sekalipun.

“ayah sayang padamu..”

“cup cup..” ia mengecup kening dan pipiku sebelum benar-benar menghilang di balik pagar rumah kami. Sementara aku masih mematung di tempatku semula selama beberapa menit, kemudian berjongkok di salah satu anak tangga di depan rumah.

“nona irene, anda tidak masuk?”

“nanti..”

“baiklah, panggil saja saya jika nona butuh bantuan”

“hmmm..”

Aku merebahkan tubuhku di antara anak tangga di halaman depan rumah. Cukup membuatku sakit punggung sih, tapi yang penting aku tak keberatan melakukannya.

Kuhela nafasku secara perlahan sambil menatap langit pagi berwarna biru cerah. Kebiasaanku setiap pagi yang memandangi matahari di pagi hari. Kubiarkan sinarnya menerpa hangat permukaan pipiku. Kupejamkan mataku sejenak menikmati hembusan angin yang menerbangkan helai-helai poni pirangku. Kurentangkan tanganku lebar-lebar, ahhhhhhhahahhah… gilaaaa!!! Menyenangkan sekali rasanya.. seperti seluruh dunia ini milikku.

Setelah merasa punggungku tak bisa di ajak berkompromi lagi, aku memilih bangkit dan duduk bersandar di salah satu tiang beton. Duh duh.. kenapa malah jadi kayak gembel begini? Padahal sudah didandani dengan cantik, tapi aku hanya berakhir melamun sendirian di depan teras rumah.

Kutumpukan daguku di atas kedua lututku yang sengaja ditekuk. Rambutku yang terurai lurus ditiup angin pagi dengan sensasi yang sangat menyenangkan.

Kemudian memoriku melayang tanpa basa basi menuju kejadian kemarin siang. Laki-laki pengendara aston martin hitam yang menatapku seperti…. arghhhh.. apa yaa… dan namaku… begitu indah ketika ia mengucapkan namaku. Siapa laki-laki itu? dewa? Pasti dia anaknya Zeus.. eh bukannya anaknya Zeus adalah Hercules? Maksudku dia memang tidak sekekar Hercules, lagipula siapa yang pernah melihat Hercules? Tapi apapun itu.. yang penting dia tampan. dia memiliki tipe ketampanan yang sedikit berbeda dengan tipenya Finnick. Laki-laki kemarin itu tampan dengan wajah khas Asia miliknya. Benar-benar.. aku ingin bertemu lagi dengannya.

.

.

.

Entah sudah berapa lama aku berkutat memandangi langit. Tapi yang jelas sinar matahari menjadi semakin panas menerpa kulit tubuhku. Merasa luar biasa bosan, aku memilih untuk berjalan-jalan sebentar. Enaknya kemana ya? kenapa aku tidak memiliki ide sama sekali untuk pergi ke suatu tempat? Sepertinya rumah ini memang baru, rasa-rasanya aku baru pertama kali menjejakkan kaki di rumah ayah yang satu ini. Ayahku terlalu kaya bahkan aku tak ingat berapa rumah, mobil, harta yang ia punya.

Sepertinya berjalan-jalan keluar pagar tidak masalah. Toh aku tak akan lama karena sebentar lagi bibi pasti menyuruhku untuk makan siang.

Kurapikan tatanan rambutku beserta bando pita pink di atasnya dan mengibaskan rok dressku yang terkena sedikit debu. Ku langkahkan kakiku menelusuri jalan dimana tadi pagi mobil ayah melewatinya dan menghilang di balik pagar.

Kuamati jalan di luar pagar secara seksama. Sedikit bimbang sebenarnya, apakah aku harus mengambil jalan ke kiri atau ke kanan?.. hmmm…

Masa bodohlah, aku akan mengambil jalan ke kiri.

Jadi kulangkahkan saja kakiku melewati jalanan sepi khas perumahan mewah. Mengamati rumah-rumah cantik dengan beragam design dari gaya country hingga modern minimalis. Kaki-kakiku masih tetap melangkah dengan antusias hingga pemandangan di sekitarku berubah menjadi kawasan keramaian.

Jujur aku takjub dengan orang-orang ini. Mereka berjalan dengan cepat-cepat seperti ada seseorang yang memerintahkan pada mereka. Pakaian mereka necis seperti gaya berpakaian ayah, namun berani taruhan! Tak ada yang sewangi ayah atau finnick.

Gedung-gedung pencakar langit berada di sisi sisi jalan, juga kawasan pertokoan ramai dengan hiruk pikuk orang-orang.

Tiba-tiba kelelahan mendera kaki dan tubuhku. Rasanya kaki-kakiku mau copot dari tubuhnya dan punggungku pegal luar biasa. Hingga Kuputuskan sejenak untuk beristirahat di sebuah bangku tak jauh dari kawasan pertokoan. Sungguh aku bingung dan tak tahu apa yang harus kulakukan.

Aku hanya memainkan tali sepatu sneakersku yang lepas salah satu talinya atau memainkan gelang gangguan jiwaku yang anehnya masih enggan kulepas. Warnanya biru muda, seperti warna langit yang sangat kusukai.

Aku menghela nafas kasar. Baru kali ini aku merasa perutku sangat lapar dan kerongkonganku haus seperti mau terbakar. Aku hanya makan sedikit roti tadi pagi, tanpa meminum susuku, dan sial memang! Aku bahkan tak punya apapun untuk membeli sesuatu. Hueeee!!! Ayahhh….

Dalam hati aku sudah menangis meraung-raung, namun hanya lelehan air mata saja yang keluar dari kelopak mataku. Benar-benar desperate. Aku seperti seorang gadis malang yang sedang dicampakkan oleh kekasihnya yang berselingkuh dengan gadis lain.

Dan yeah… semua orang yang lewat menatapku kasihan, namun tak ada yang memiliki cukup banyak waktu untuk menolongku. Sungguh aku kali ini benar-benar mengasihani diriku sendiri.

Karena tak tahan dengan beragam tatapan, kupaksakan kakiku melangkah. Sedikit terseok karena tali sepatuku lepas sebelah. Tapi siapa peduli? I don’t have any idea bagaimana cara mengaitkan simpulnya. Mataku menerawang ke seberang jalan, mencari-cari jalan pulang ke rumah. Sementara wajahku tampak sangat menyedihkan ketika sedang menyeberang jalan, dan….

“Tiiiiinnnnnttttttttt..!!!!!!” suara klakson mobil memekakkan telingaku. Manik mataku menatap kaget ke arah sebuah mobil yang melaju kencang ke arahku. Aku menahan nafasku, sebentar lagi pasti aku akan berakhir bertemu dengan dokter lagi, atau lebih bagus kalau mati langsung sekalian. Jadi aku tak perlu merasakan rasa sakit dan dapat terjun bebas langsung ke neraka.

“cittttttttt…” kali decitan rem yang terdengar. Mobil berhenti tepat hanya berjarak beberapa centimeter dari depan tubuhku.

Aku tercengang. Kudengar samar-samar semua orang menghela nafas lega. Kemudian pengemudinya keluar dari dalam mobil.

“Anda seharusnya berhati-hati saat menyebrang! Bagaimana jika anda tertabrak?? Apakah anda ini tidak takut mati atau bagaimana??!” laki-laki itu berteriak, dengan aksen britain english yang sangat kental. Refleks aku menoleh ke arahnya.

Beberapa plester menempel di beberapa bagian wajah seperti pelipis, tulang pipi, dan sudut-sudut bibirnya. Selama beberapa detik mataku tak dapat berpaling dari manik mata cokelat dengan pupil yang tiba-tiba mengecil kemudian tiba-tiba membesar, dan manik matanya kelam seketika. Ia berjalan pelan menghampiriku dengan mata setengah berkaca-kaca. Apa ini?

Laki-laki itu menyentuh pipi kiriku namun anehnya aku tak menolak perlakuannya.

“irene.. apakah ini kau? Irene?”

.

Tbc.

 

 

cerita part ini bisa di bilang belum ada apa-apanya, belum ada konflik serius.. sedikit clue aja, akhirnya aku sudah berpikir masak-masak bahwa main character laki-laki di Illusion ini adalah ayahnya Irene dan main cast perempuannya Irene (tentu saja).. so stay tune aja ~~ 😉 comment juseyo~~

Advertisements

17 thoughts on “[2nd] Illusion

  1. Haiii reader baru ini~
    hihiw
    Chapter satu baca disebelah, tp karena gasabar jadi langsung aja kesini cari chap dua 😀
    Penasaran sumpah sama yang terjadi sebelumnya sama Irene
    Terus si Finnick itu emang ada ato cuma illusi-nya Irene doang?
    nah terus itu cowok yang part terakhir itu siapa?

    Kok belum dilanjut sih? kan udah lama banget? 😀

  2. Huwaaa T_T aku nggak tahu mau bilang gimana (cz banyak yang pingin aku tulis :’v) aku suka bahasanya kakak :V gak tau kenapa, bahasanya bagus, bener-bener serasa jadi diri sendiri. Ada beberapa kata yang lucu :v, aku jarang (hampir tidak pernah) nemu FF yang cast Korea x Barat. Dan ini bener-bener wahhh :”V ternyata cocok gitu ya :3 Finnick munculin yang buanyak ya :3 moment irene x finnick bikin yang romantis… Ceritanya ribet xD jangan2 yang nabrak itu bapaknya irene sendiri tapi bapaknya gila /? Terus yang cowok asia yang manggil namanya dia siapa ya -_- pusing mikir sendiri /? Ditunggu kelanjutanya :3 maaf ngerusuh kebanyakan -_-

  3. Lanjutnya author..aku suka Irene di sini. Karakternya bikin greget..bikin aku pengin nebak-nebak terus sebenarnya dia itu siapa atau kenapa?
    Fighting!!

  4. Irene ini beneran kecanduan morfin? Atau hanya butuh morfin. Jeng aq baca emang kayak orang bego di sini. Otakku cetek untuk memahami imaginasimu. Tapi karakter Irene di sini bikin aku benci. Beneran cewek sok kaya yang no problem … Duh! Pengen nabokin rasanya. Kayaknya gampang amat ngejalani hidup, bangun tinggal bangun, makan tinggal makan, masih ngerengek minta morfin. Ampun ! Morfin itu mahal, ga kayak ecstasi yg bisa dibeli 30 rb /butir, atau ganja paling 10rb selinting. Kelasnya emang kakap. Ciee..morfin! Selain Finick yg absurt, dan Ayahnya yang kayaknya aku liat dia bayangainnya Adji Pangestu gitu. Ganteng, rapih, trus wangih/amburadul deh/ yang jelas, ikutan stress bacanya. Tapi penasaran sama yang batusan turun dari mobil. Tuh kan Irene nya pake depresi…jadi keingetan sama yang di sono.. Aduh.. Oke deh, berusaha untuk tetep waras buat yg lagi depresi.

    • Lebih tepatnya kecanduan.. Ntr dah d ceritain, soalnya gak seru dong kalau d bocorin.. Hha 😀
      Haha.. Syukurlah penggambaran karakter irenenya cukup bikin qm sebel, tp yah pasti ada sabab musababnya lah jeng,. Kek makul filsafat aja.. Ibaratnya skrng baru tahu Ynya aja, tp Xnya belum d ketahui.. 😀
      Morfin lebih mahal pastinya kan, aq jg gamau nulis kecanduan morfin sebelum searching dlu d internet, ya at least gak malu2in entar 😀
      Whatt?! Aji pangestu, wedeeehh.. Boleh lah, sesuai imajinaasi masing2..
      Sek sek, yg d sono siapa tuh?? Hihi,
      Aniwey tengkyu udah d review,, laff laff lana dah 😉

      • Bu bukan di repiew, tp ninggalin jejak. Pasti karena Irene sakit. Morpin biasanya emang suka dipake kalo dikedokteran. Kayak khasus terapy penyembuhan karena oprasi kanker tulang, tuh kan emang minta ampun sakitnya. Biasanya suka dikasih morfin kata anestesinya.misalnya begitu. Tapi kecanduan.. Hihi aq sok tau! Tapi Yo wis lah tak tunggu tekomu..halah! Hv a nais dei!

        • Mnrtku ino d repiew jeng, wlwpun cm singkat tp membangun sekalii.. Saia suka suka suka 😀
          Yaps, gampang banget kecanduan sama morfin,, tp sygnya mahal kali.. Jd hrs mikir2 dlu kalau mau kecanduan 😀
          Oke.. Tengkyu dah mampir jeng

  5. Finnick Finnick Finnick! That man makes me crazy! Kak Arin Finnick nya keluarin yang banyaaaaak! Sebanyak-banyaknya :)) Setiap adegan Finnick ngapain aja sukaaa :)) Ngga sama Irene juga ngga apa2, sama nabil ajaaaa ;))

    • Huee.. Siappp nabils… Aq jg suka banget sama cowok atu itu.. Part 3 bakal jd author pov dlu,, hehe.. Biar finnicknya lebih maksimal 😀 yeay! Tengkyuu sarannya nabils ^^ 😉

  6. Cepet banget update nya! Makin laff laff sama kak arin! ❤

    Aku gak bisa nebak siapa yang hampir nabrak Irene, sama siapa yang nabrak mobil ayah Irene. Siapa?? Pokoknya bukan finnick kan?? Atau mantannya Irene??

    Great fanfic kak arin! Selalu bikin aku penasaran setengah mati, huhu TAT semangat buat kelanjutannya yaa. Update nya kalo bisa cepet /maksa/

    • Hduh.. Aq jg laff laff banget sama bekey..
      Hmm.. sebenernya org yg sama, tp….. Hmm entar deh, bekey baca aja y d next chapternya :*D mumpung lg weekend jd bs post cepet 😀
      Aniwey tengkyu ya bekey, sdh mampir2 ke ff gajeku ini 😉 *bow

  7. Bentar, jangan-jangan ayahnya Irene itu kepribadian ganda ._.
    Ah gatau ah, ato jangan jangan Finnick yang kepribadian ganda ato Irene itu selain gila, juga amnesia ._.

    Aku gaberani nebak kalo orang itu mantannya Irene :v
    Oh, ato jangan jangan itu kakaknya Irenen -,- Entahlah -,- Aku pusing :’v

    Fighting thor, ditunggu next chapternya :’v

    • Muehehe.. Sedikit pusing kalau d tebak2.. Ikutin aja alur gaje yg aq buat,, insya Allah tidak tersesat /plakk! 😀
      Aniwey tengkyu udh mampir lagi ^^ *bow

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s