[Ficlet] Translucent (krisyeon)


Translucent-Alana-Pis !


Title || TRANSLUCENT

Author ||  Alana

Cast || Wu Yifan feat Park Jiyeon

Genre || Sad

Length || Ficlet

Rated || M

 

Disclaimer ||  I Own Nothing But The Story

 .

>>>Translucent<<<


 

 

 

Sekali lagi aku menyeringai menatapmu. Kesempatan kali ini merupakan kesempatan ketiga kalinya kau datang menemuiku. Ini sudah cukup untukku meringankan rasa rinduku padamu. Kau masih sama seperti terakhir kau menemuiku. Raut wajahhmu masih menyimpan kebencian. Aku tidak menyalahkan tentang rasa benci yang membuatku terikat padamu. Kenyatannya memang aku sungguh menikmati kebencianmu.

 

Lima menit berjalan kau masih diam. Mempermainkan jemarimu pada meja fiber di depanmu. Aku melambai kecil mencandaimu. Memberikan senyuman yang kau balas cibiran. Mungkin dalam hatimu , kau akan menghujatiku lagi seperti dua bulan yang lalu saat terakhir kalinya kau datang padaku

 

Bibirmu sexy ketika kau menyumpahiku dengan kata-kata najis. Sungguh terasa manis untukku. Kata-kata pedas dan caci makimu seperti ganja yang membuatku melayang. Kau tahu aku merana ketika aku harus selalu menunggu waktu tak pasti tentang kedatanganmu.

 

“Kenapa dengan matamu ? ” Pertanyaanmu menyinggung mengenai memar di kelopak mataku akibat hantaman sebuah kepalan tangan seorang teman. Entahlah, teman atau musuh, tapi kami sama-sama berada di dalam sini. Dia menguasai pos Barat dan aku menguasai Pos Timur. Menyenangkan bisa saling bertukar energy. Melepaskan kepenatan dengan berkelahi.

 

“Hanya sebuah belaian sayang dari sahabatku !” ujarku santai. 

 

Kutelan ludahku lagi ketika melihat belahan dadamu yang menggodaku. Kenapa kau mengenakan pakaian seperti itu. Apa kau sengaja ingin menggodaku. Kau tahu hasratku tidak pernah mati untukmu. Kau bahkan menjadi khayalanku setiap aku berada didalam kesendirianku. Rasanya memang tidak sama, seperti saat mencumbumu, tapi cukuplah bagiku untuk melepaskan ejakulasiku hanya dengan mengkhayalkanmu. Menciummu, menindihmu dan membuatmu orgasme berkali-kali dengan gairahku. Agh…

 

Tapi kau sekarang lebih banyak diam. Kau tidak meluap-luap seperti saat pertama kalinya kau datang dan hampir menghancurkan wajahku dengan cakaran tanganmu. Kau sungguh ganas seperti singa betina berebut hewan buruan. 

 

“Apa khabarmu ?” tanyaku

 

Kau tidak menjawab. Baiklah. Hak asasimu. Aku hanya menggeser letak dudukku. Pantatku terasa sedikit panas. 

 

“Apa khabarmu ? ” balasmu dengan nada dingin. 

 

“Hh, kau menanyakan khabarku. Apa kau merindukan aku ? “

 

“Rinduku tidak sebesar kebencianku. Kau masih sama seperti dulu. Sepertinya kau memang tidak pernah menyesali perbuatanmu. Tempat busuk ini, justru membuatmu semakin busuk.”  

 

Aku tahu kau hanya menutup-nutupi rasa kagummu padaku. Aku tidak lagi polos seperti dulu. Tempat ini membuatku menjadi laki-laki. Bahkan lebih dari sekedar laki-laki. Tubuhku kian kekar, mentalku jauh lebih perkasa di banding Yifan yang dulu kau kenal. Aku bisa lebih berani menghadapi binatang buas yang dikurung dalam penjara ini. 

 

“Aku tidak akan pernah menyesali apa yang telah kulakukan pada Jinso. Kau tau, aku sangat lega setelah aku membunuhnya.”

 

Dua puluh tahun. Dan sekarang sudah kujalani tujuh tahunku di sini untuk menerima konsekuensiku. Tentu saja, satu-satunya hal yang kusesali dalam hidupku setelah membunuh calon suamimu adalah aku tidak bisa lagi bertemu denganmu. 

 

“Kenapa kau masih saja mengunjungiku jika kau membenciku?” tanyaku sambil mengeluarkan rokok yang kau berikan padaku.

 

“Karena aku hanya ingin melihat sedalam apa penderitaanmu di sini.” 

 

“Aku bahagia. Aku tidak menderita. Kau salah!”

 

“Aku tahu.”  kau mendesah. Mungkin kau merasa menyesal karena melihatku seperti ini. Atau kau justru menginginkan aku segera terbebas dari jeruji besi ini.

Seandainya saja aku bisa menyentuhmu, mengusap sedikit kulitmu, atau menyentuhkan bibirku di keranuman bibirmu,  lalu menyelipkan lidahku ke dalam rongga mulutmu, setelah itu aku bisa berkelana merasakan betapa lincahnya lidahmu memilin lidahku. Ough…

 

Aku frustasi.

 

“Bagaimana denganmu. Apa kau masih membenciku ? atau kau justru berterima kasih padaku karena aku telah menembakkan peluru itu tepat di dada kiri Jinso. Melubangi jantungnya dan memusnahkan cintanya dari hidupmu.  ”  

Aku bersyukur telah membunuhnya, meski aku harus dipenjara.  namun setidaknya tidak ada laki-laki brengsek lagi yang akan memenjarakanmu dalam kehidupannya.

 

“Kau manusia terkutuk ! Aku sangat membencimu.” makimu geram. Wajahmu mengeras, namun sedikit bening terselip di sudut matamu yang menatapku tajam.

 

“Kau mencintaiku.” ujarku dengan keyakinanku sendiri. Meski akhirnya kau memutuskan untuk menikahi Jinso.

 

“Kenapa ?” tanyamu

 

“Itu bukan sebuah tragedy, tapi hal yang aku syukuri. aku sudah mengatakannya sebelumnya.”

 

Aku merenungi diriku. Dan betapa dalam aku mencintaimu. Ternyata waktu tidak pernah membuatku bisa melupakanmu, meski kini kau telah membenciku sedalam itu.  ya, sedalam itu…

 

FUUUH 

 

Asap rokokku menebarkan kebahagiaanku. Jantungku berdetak kian cepat saat kau menatapku dengan seluruh kebencianmu. Aku tidak tahu kenapa bisa ada cinta dan kebencian yang disatukan di tempat ini. 

 

TUK

 

TUK

 

TUK

 

Suara ketukan tanganku menjadi perhatianmu. Beberapa kali menarik nafasmu dalam-dalam dan melemparkannya seiring kau berdiri. 

 

“Jangan pergi !” pintaku.

 

“Aku rasa aku tidak akan kembali lagi . Ini yang terakhir aku mengunjungimu. Jadi aku berharap kau akan mati di tempat ini bersama seluruh perasaan cintamu padaku. Kau akan terbunuh karena merindukanku.” Kata-kata kejammu kali ini benar-benar menusuk jantungku. 

 

Bukan kalimat itu yang ingin kudengar darimu. 

 

Kenapa waktu yang diperuntukkan demi kita terasa begitu menyakitkan. 

 

Mataku nanar. Perasaanku menjadi kalut ketika menatap langkahmu menjauh dariku. Punggungmu seperti sebuah gambaran masa lalu yang kembali kuingat dalam benakku.

Kau dulu mencintaiku. Dan sekarang pun masih.

 

“Aku tidak selamanya berada di sini ! Aku akan keluar! Aku akan mencarimu !”  teriakku dengan seluruh tenagaku.

 

BRAKH….

 

Kulemparkan meja itu hingga melesat membentur dinding. Menahan nafasku dalam-dalam dan aku benar-benar merasakan sunyinya hatiku melihat punggungmu berlalu. Kau benar. Aku akan mati karena merindukanmu.

“Jiyeon.” rintihku.

 

Datanglah meski kau membenciku. Jangan menghentikan waktuku untuk melihatmu. Apa kau tidak tahu, karena hanya sedikit waktu itulah yang kudevosikan untuk meringankan penderitaanku karena mencintaimu.

 

 

 

end.

A/n

maaf, selalu membuat FF ga nyambung sama judulnya.’bentar! Aku mau nangis dulu barengan sama Kris di pojokan!

48 thoughts on “[Ficlet] Translucent (krisyeon)

  1. Kris dia bener2 cinta mati sama jiyi sampai rela d penjara cuma karna g mau liat jiyi sama laki2 lain
    Aku dah bc ff ini sampai 5 x tetep aja penasaran pengen bc lgi bgus banget ffnya

  2. Wowww bahasa nya frontal bgt tp kerenn ✌✌

    Kesian kris saking cinta nya sampe nekat gt dan akhirnya menanggung perbuatannya deh

    • Lha sih nangis juga. Iya, ekspresi orang yang dipenjara, nahan segala-galanya. Jadi jiwanya lebih keras. Mungkin. Jadi frontal ajah..apa adanya. Hehe..thanks Aya!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s