{Oneshoot} Good Marriage

Good Marriage

Good Marriage-Oneshoot

Jung Hyena | Oh Sehun

Desy M. Storyline

Marriage Life | Angst | Thriller

PG15

AN :

Terinspirasi dari film A Good Marriage. This is pure of my mind. Please be a good readers without plagiarisme.

 

 

Forever,
He still  in my heart

 

~

 

Hyena menatap cermin yang terpajang di dinding kamar. Sosok gadis di depannya membuat Hyena begitu miris menatapnya. Wajah yang lusuh dan juga kedua kelopak mata yang bengkak. Rambutnya yang lurus sebahu terlihat begitu berantakan. Tetesan air terus berjatuhan dari setiap ujung rambutnya.

Kepalanya terasa pening namun Hyena menghiraukannya. Hatinya bimbang. Otaknya berkecamuk dengan keputusan yang akan ia cabut. Pipinya kembali merasakan aliran itu jatuh menetes. Tadi ia hanya terisak, namun sekarang-Hyena lebih memilih mengeluarkan rasa sesak yang terus bergemuruh dalam jiwanya. Kedua tangannya saling membekap, Hyena berjalan mundur hingga tubuhnya dapat terduduk di atas ranjang yang empuk.

Hyena terlalu bodoh kala mengenalnya. Karena kebodohannya, Hyena di hadapkan oleh suatu masalah yang tidak bisa ia hadapi sekarang. Terlalu besar dan sudah berlangsung lama.

“Kau tidak tahu, bahwa aku mencintaimu melebihi diriku sendiri.”

 

Hyena memukul dadanya pelan saat ia memutar kembali memori 2 hari yang lalu. Kebahagiaan itu baru ia rasakan, namun kini harus hilang karena orang yang ia cintai. Semua ini terlalu sempurna untuk di hancurkan. Cinta dan keluarga yang ia bangun harus runtuh setelah 3 tahun lamanya.

‘Kau hanya perlu melihat bukan?’

Apa Sehun akan melakukan hal itu? Hyena tidak bisa membayangkan jika Sehun memperlakukannya sama seperti tawanan. Rasanya juga tidak percaya jika Sehun akan melakukan semua itu. Hyena tahu bahwa pria itu sangat mencintainya. Ungkapan cinta selalu ia dengar di pagi hari. Dekapan dan kecupan selalu ia terima tiap jam, menit, dan detik. Dan kau mau bilang bahwa ia akan tega melakukan hal menjijikkan itu padamu?

Hyena menarik selimut dan berbaring. Kedua matanya terpejam sembari berharap bahwa esok akan lebih baik dari hari ini. Jika ia menginginkan ini semua adalah mimpi.., rasanya tidak mungkin.

~

Angin malam berhembus menusuk  pori-pori. Jalanan sepi dan basah hanya di isi oleh sedikit pejalan kaki yang masih berkeliaran. Sehun, lelaki itu memilih untuk beristirahat sejenak di sebuah pom bensin. Beruntungnya ada sebuah cafe kecil di sana, sehingga ia bisa menghangatkan tubuhnya untuk sementara waktu.

Perjalanannya masih panjang. Bisnis dan pekerjaan yang mendorongnya untuk terus melaju di tengah malam dengan hawa yang menusuk. Hanya di temani oleh hutan dan tebing sepanjang perjalanan.

“Mungkin dia sudah tidur.”

Sehun menatap layar ponselnya yang berwarna hitam pekat. Ibu jarinya mengusap layar itu berulang-ulang. Sehun merindukannya. Harusnya sekarang ia tengah berbaring di samping Hyena di temani oleh balutan selimut yang hangat. Memeluk tubuh mungilnya dan berbisik bahwa betapa Sehun sangat mencintai wanita itu. Toh, pasti sekarang Hyena pasti sedang kesulitan untuk tidur. Sehun tahu bahwa Hyena paling benci tidur sendiri. Ia takut gelap, namun jika tidak dalam keadaan gelap gadis itu tidak bisa tidur. Aneh bukan?

Dengan pasti Sehun kembali masuk ke mobilnya. Menyalakan mesin dan membawa mobilnya berbalik arah. Kali ini entah kenapa Sehun benar-benar berat meninggalkan Hyena sendirian.

~

Sepandai-pandainya Tupai melompat, pasti akan terjatuh jua. Kata pepatah selalu ada benarnya, dan semuanya sudah terbongkar di malam kemarin.

Sehun meletakkan 2 gelas soda di meja makan. Mata tajamnya menatap dingin Hyena yang tengah menikmati macaronie cheese sebagai hidangan sarapannya. Ini buruk dan tidak aman. Hyena terus berdoa dalam hati kalau semalam ia tidak melakukan hal ceroboh.

“Kau sangat pintar. Membongkar dan menatanya seperti semula.”

2 kalimat terlontar dari bibir Sehun. Kedua tangannya menyilang. Raut wajahnya seakan Sehun tahu apa yang sudah terjadi. Hyena tidak tahu apa yang akan Sehun lakukan padanya, Sehun tidak pernah berbuat kasar. Jika pun ia membuat suatu kesalahan, Sehun tidak pernah memarahinya dan menatapnya tajam seperti ini. Ini kah sisi lain Oh Sehun?

“Sayangnya kau meninggalkan sebuah kartu nama yang terjatuh.”

Hyena menggenggam kuat garpu di tangannya. Jantungnya berdegup kencang, tidak salah lagi kalau Sehun sudah tahu bahwa Hyena telah membongkar gudang-nya. “Apa yang kau lakukan pada mereka?” Hyena mulai berani bertanya tanpa menatap Sehun. Ia sekarang sedang berhadapan dengan seorang pembunuh.Orang yang selama ini selalu bersembunyi di balik topeng dan tipu muslihat.

Decakan kecil keluar dari mulut Sehun. Ia mengambil kursi dan duduk di dekat Hyena yang masih tetap enggan untuk mendongak. Kedua tangannya ia tumpu di atas meja lalu menatap Hyena dengan mata yang tenang. “Hanya sebuah mainan, yang ujungnya sudah tidak ku butuhkan lagi.” Cerca Sehun santai.

Tetesan bening itu kini terjatuh. Hyena menatap Sehun dengan mata berkaca-kaca dan basah. Bagaimana bisa lelaki yang ia cintai membunuh begitu banyak wanita di luar sana. Rasanya tidak mungkin, ingin percaya pun rasanya tidak ingin. Tapi bukti sudah menunjukkan siapa Oh Sehun sebenarnya. Perlahan tangan Sehun terangkat, menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Kedua tangannya menangkup pipi Hyena, memaksa mata mereka untuk saling bertemu. “Namun diantara mereka, kau lah yang ku pilih.”

Hyena hanya menangis mendengar perkataan yang keluar dari mulut Sehun. Ia sekarang merasa takut. Mungkin belum sekarang, tapi suatu saat nanti Sehun akan memperlakukan dia sama seperti wanita di luar sana.

“Sekarang, habiskan sarapanmu dan kita akan berkunjung ke rumah orang tua ku.”

~

Hyena terdiam selama jam makan siang. Pikirannya masih di hantui oleh bayang-bayang malam kemarin. Bahkan perkataan Sehun tadi pagi terus terngiang di telinganya. Hyena merasa hidupnya mulai tidak tenang. “Hyena-ssi, kenapa kau diam? Apa makanannya tidak enak?” Nyonya Oh memegang tangan Hyena membuat Hyena tersadar dari lamunan. “Dia kurang enak badan.” Sehun menjawab pertanyaan ibunya. Tangan kekarnya melingkar di pinggang Hyena sembari tersenyum ke arahnya.

Setelah makan siang Sehun berpamitan dan memilih untuk pulang. Dan harus ia akui, tubuh Hyena memang sedikit hangat. Apakah ia masih shok?

Ketika tiba di rumah Hyena langsung menaiki tangga dan masuk ke kamar tanpa bicara sepatah kata pun. “Aku akan membawakanmu obat.” Teriak Sehun saat Hyena menutup pintu kamar. Dengan gesit Sehun menyiapkan nampan, dan menaruh selembar obat-obatan dan segelas air mineral.

Di kamar, Hyena tengah memeluk dirinya sendiri. Ia masih merasa takut untuk bertemu dengan Sehun. Di matanya Sehun bukan lagi sosok yang lembut. Melainkan jahat dan bisa membunuh dirinya kapan pun. Hyena menoleh ke arah pintu kala mendengar suara hentakkan kaki di tangga. Ilusi mulai memenuhi otak Hyena, berkhayal jika Sehun akan menarik rambutnya kuat lalu membenturkann kepalanya pada kaca besar yang terpajang di lemari. Atau mungkin, ia membawakan obat racun untuk dirinya.

“Hyena-ya..?”

Sehun mengetuk pintu membuat Hyena semakin ketakutan. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Membunuhnya?

CKLEK!

Nampak sosok Sehun sudah berdiri di ambang pintu dengan nampan yang ia bawa. Sehun melangkah mendekati Hyena yang tengah berdiri di ambang jendela. Melihat keadaan di luar sana. Sepi dan hampir tidak ada orang. Apakah ini sebuah peluang?

“Hyena, aku membawakan obat untukmu.” Ujar Sehun lembut sembari mengelus kepala istrinya pelan. Hyena berbalik. Tersenyum kecil kepada Sehun sebelum benda itu akan tertancap di tubuhnya.

~

Tubuhnya ambruk di lantai. Kepalanya mengeluarkan banyak darah. Beling dan kaca berserakan di lantai. Dengan nafas yang sesak, Sehun melirik Hyena yang tengah berdiri di samping tubuhnya. Ia menangis, terisak sembari membekap bibirnya sendiri. “Maafkan aku, hanya ini yang bisa ku lakukan.” Isaknya sembari menunjukkan sebuah plastik bening. Perlahan, Hyena memasukkan kepala Sehun ke dalamnya, lalu mengikatnya dengan kuat. Sangat kuat.

Dada Sehun semakin sesak, ia merasa tidak ada pasokan udara lagi yang bisa ia hirup. Dirinya merasa ringan dan melayang. Dan dengan tenang, Sehun menutup kedua matanya.

“Ini sudah saatnya kau beristirahat, Sehun-ah. Sudah cukup kau melakukan banyak perbuatan dosa di luar sana.” Desis Hyena tepat di telinga Sehun.

Dengan terburu-buru Hyena membereskan semuanya. Ia menghilangkan jejak dan tanda bukti dirinya yang melekat pada Sehun. Hyena mengambil sehelai rambutnya yang terjatuh di sisi leher Sehun. Ia juga menyimpan kembali plasti bening di laci. Semuanya ia bersihkan seolah-olah ini adalah kecelakaan.

Setelah beres, Hyena mengatur deru nafasnya lalu mengambil telepon genggam. Tanpa ragu Hyena menelpon polisi. Ia melapor bahwa suaminya terjatuh dari lantai dua dan telah meninggal dunia di tempat.

~

2 tahun kemudian.

 

“Hay, dear!” Hyena mengeluarkan sebuah boneka beruang yang tengah memeluk boneka kecil berbentuk love. Memberikannya pada Hyunji yang tengah berulang tahun hari ini. “Gomawo, eomma!” Hyunji memeluk bonekanya. Ia tampak senang dengan pemberian ibu-angkatnya. “Sekarang, pergilah bersiap-siap karena kita akan segera pindah dari sini.” Ujar Hyena sembari mengatur kembali beberapa kardus yang semalam ia tata.

“Hm! Kemana kita akan pindah?”

“Pulau Nami. Kita akan tinggal di pulau. Memiliki rumah di pinggir pantai, dan kita bisa bermain di pantai setiap hari.” Ujar Hyena. Hyunji sekali lagi nampak begitu senang. Hyunji berlari kecil menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.

Hyena hanya bisa tersenyum. Sembari menunggu mobil yang akan mengangkut barang-barangnya. Hyena membuka kembali sebuah album berwarna merah mawar. Memori itu kembali ia ingat. Ada rasa rindu di lubuk hatinya, merindukan sosok lelaki yang pernah menghiasi hari-harinya. Merindukan setiap pelukan hangat yang selalu melekat pada tubuhnya.

Foto demi foto Hyena ratapi, di setiap foto selalu terselip kenangan yang begitu indah. Terlalu sayang untuk di lupakan. Namun, semuanya telah berubah. Setelah ia tahu semuanya, Hyena yakin ini adalah jalan terbaik. Bagi Sehun, dan juga baginya.

Oh Sehun.

Selamanya. Ia tetap akan menyimpan pria itu di hatinya.

THE END

Advertisements

8 thoughts on “{Oneshoot} Good Marriage

  1. Thriller tapi pembawaannya kalem. Ya semenyeramkannya ff atau jenis bacaan thriller lainnya, masih ga semenyeramkan sebagaimana ketik menontonnya #curcol :’D
    So, Sehun is the villain. Psycho perhaps?
    Tapi tidakkah membunuhnya juga menjadikan seseorang, sang istri, jadi penjahat juga? Aku bingung pada saat kepalanya dimasukkan ke dalam plastik? Bagaimana polisi akan percaya bahwai itu hanya kecelakaan semata?
    Mohon diralat kalau salah

    Untuk penulisannya, ga begitu memperhatikan karena fokus cukup tersita pada jalannya cerita. Hanya, aku melihat sekilas, menemukan banyak kesalahan kamu pada awalan di-, yang seharusnya bersambung kamu tulis terpisah, n sebaliknya.
    Kosakatanya juga beberapa ada yang salah.
    Nb: Semoga berkenan dengan review aku ini ya 🙂

    • Sebelumnya makasih udh baca dan review cerita ku.
      Sebenernya aku sengaja ngebuat cerita ini agak kalem dan gak terlalu kelihatan sadis.
      Dan soal kata ‘di-‘ yg seharusnya di sambung itu aku juga masih bingung. -,-” terus yg ‘ke-‘ aku juga masih bingung. Intinya mah, aku masih ababil banget 😀 tp gpp aku bakalan terus belajar kok. ^^
      Makasih ya udah kasih masukkan sekaligus kritikan 😀

  2. Sehun dibunuh sama hyena ya ampun .-., yah mungkin ini perlajaran buat sehun karna banyak ngebunuh cewe ,tapi yah giman kok ah sudahlah….,keren yah motif hyena ngebunuh sehun tanpa ninggalin jejak wisssss /?

    Ah yah kak kemaren -kemaren aku baca prolognya the killer dan itu menarik bikin penasaran ><

  3. Adduhhh sesaakkk sesaakkkk…sehunnya kesian -_- yaampunn mungkin karma dia kli yahh krn membunuh wanita”…

  4. Ini cerita tentang pembunuh yang dibunuh :v wks… Hebat2… Tapi kgak nyangka juga gue si Hyena bisa bunuh Sehun serapi itu.. Dia belajar darimana tuh?? Jangan2 dia sering liat film detektive2an :v wkwkwkwk.. Woke lah.. Keep writing ye….

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s