[Oneshoot] The Dark

suho_edit_by_nounou01-d5lpaq5

qintazshk’s present

⌊ The Dark ⌋

Kim Joon Myeon as Suho and Bae Joo Hyun as Irene

T  | Romance-Sad | Oneshoot

enjoy this fanfiction and create your imagination ^^

Suho adalah sosok yang sempurna. Rupa yang menawan, perangainya yang dapat membuat semua orang luluh dan jangan lupakan sudut bibirnya yang selalu melengkung sempurna jika namanya diserukan oleh semua gadis yang melihatnya memainkan biola dengan lihai.

“Suho tidak pernah terlihat dekat dengan wanita, ya?”

“Apa dia seorang… gay?”

Suho tidak pernah merasa ganjil saat kalimat itu terkadang masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia sudah terbiasa. Sampai kapan pun, Suho hanya akan tersenyum menanggapi segala ocehan orang-orang mengenai dirinya.

Tidak, bukannya Suho tidak ingin meluruskan pikiran orang sinting seperti mereka. Hanya saja, Suho tahu kalau tidak ada gunanya mengoceh panjang lebar untuk membicarakan hal yang tidak penting dengan orang tidak tahu malu seperti mereka.

Suho mencintai kedamaian.

Sama seperti Suho yang selalu mencintai senyum seorang gadis yang selalu duduk di bangku taman di bawah pohon ek dengan sinar matahari menyinari rambut panjangnya yang berwarna cokelat keemasan. Suho suka itu.

 

 

“Suho!”

Seruan seorang laki-laki dengan suara bass-nya berhasil membuat laki-laki bernama Suho tadi berbalik lalu tersenyum pada orang yang memanggilnya.

“Kau mau ikut? Kau tahu, hari ini,” lawan bicara Suho itu mendekati telinganya dan kembali berbisik, “aku dapat sesuatu yang bagus yang harus kutunjukkan padamu.”

“Jongin-ah,” Suho menjauhkan jaraknya dengan lelaki itu lalu menarik lagi sudut bibirnya. “kalau yang satu ini mengenai hal-hal aneh tentang eksperimenmu lagi tentang kimia, aku bersumpah akan menghajarmu.”

“Tidak, Suho hyung. Kali ini tentang sesuatu yang lain. Hyung pasti menyukainya.”

“Bukan eksperimen gilamu lagi?”

Lelaki jangkung bernama Jongin itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Aku berjanji kalau ini menyenangkan. Kalau hyung tidak suka, hyung boleh melakukan hal yang sudah hyung katakan padaku tadi.” Jongin melanjutkan kembali ucapannya sembari tersenyum tanpa ragu.

“Baik-“

“Aku tahu hyung pasti mau ikut!”

Tanpa menunggu lagi, Jongin sudah menarik paksa Suho masuk ke dalam mobil sedan hitam terbarunya.

 

 

Gadis itu datang.

Gadis yang selalu Suho perhatikan secara diam-diam ketika sore menjelang itu datang. Gadis itu datang dengan gaun pendek selutut dan bahu terbuka, memberikan senyum terbaiknya pada semua orang yang ia lihat. Persis seperti malaikat,  ulang Suho berkali-kali dalam hati.

Suho pun tak tanggung-tanggung menyunggingkan senyumnya ketika pandangan gadis itu bertubrukan dengan pandangannya yang semenjak tadi tak kunjung berpaling dari gadis itu. Degup jantung Suho semakin cepat ketika gadis itu membalas senyumannya.

What a perfect day!”

Seruan Suho yang terdengar cukup keras itu membuat Jongin menoleh.

“Ada apa, hyung?”

Suho tidak menjawab pertanyaan Jongin. Bahkan menatap laki-laki yang sudah dianggapnya adik itu saja tidak.

Tatapan Suho masih melekat untuk menatap gadis itu seorang. Hanya untuk malam ini saja Suho ingin menikmati memandang gadis itu sampai ia puas. Walau ia tahu bahwa gadis itu takkan pernah membosankan untuk dipandang.

Suho tidak bisa memalingkan wajahnya sedikit pun dari wajah seorang gadis barang sedetik –atau bahkan sepersekian detik yang berharga- semenjak ia sampai di rumah Jongin.

Alis Suho mengerut ketika mendapati gadis itu menggerakkan jarinya. Meminta Suho mendekat walau Suho tidak yakin bahwa ialah sasaran gadis itu.

“Aku pergi.” Tanpa berbalik untuk menatap Jongin, Suho melangkahkan kakinya mendekati gadis itu. Keraguan yang Suho rasa sebelumnya pun langsung ia tepis begitu gadis itu tersenyum manis padanya.

“Selamat bersenang-senang, hyung.

Suho tidak mengerti makna ucapan Jongin tadi.

“Bae Joo Hyun atau kau bisa memanggilku Irene. Kau?”

Saat ini juga, ingin rasanya Suho menerjunkan dirinya dari tebing tertinggi dunia. Meminta alam membuatnya sadar bahwa ini adalah kenyataan bukan sekedar mimpi yang selama ini ia bayangkan.

Namun, sentuhan lembut gadis itu di tangannya membuat Suho tersadar dengan cepat. Cepat sekali.

“A-Aku Kim Joon Myeon atau… Suho. Senang-“

“Ugh, jangan terlalu formal seperti ini, Suho.” Gadis tadi, Irene, memamerkan deretan gigi putihnya. Membuat Suho sedikit-banyak bergerak kikuk karena jarak tubuh mereka yang terlalu dekat. Salahkan orang-orang yang berdesakan untuk menikmati mewahnya pesta seorang Kim Jongin malam ini.

Suho tidak tahu harus bergerak atau tidak saat Irene menyentuh lengannya dan membawanya dengan segera keluar. Suho yakin Irene tidak menculiknya karena gadis itu membawanya ke taman belakang rumah Jongin. Hanya sampai situ lalu gadis itu diam.

Mulut Irene membuka, hendak memulai obrolan mereka setelah sunyi senyap di antara mereka yang cukup panjang terjadi. Namun, Suho tidak menyangka bahwa bibir tipis Irene yang dipolesi lipstick merah muda itu akan berkata kata-kata yang tidak diduganya.

“Sudah lama tidak bertemu, Suho.”

 

 

Irene memainkan jemarinya yang lentik tanpa sedikit pun menatap laki-laki yang sudah menatapnya dengan rasa penasaran yang sudah membakarnya sedari tadi. Irene tegar dengan pendiriannya untuk tidak menatap laki-laki itu.

“Aku masih menunggumu untuk menjelaskan maksud dari ucapanmu tempo hari, Bae Irene.”

Suho menatap Irene intens. Tak berniat sedetik pun terlewat untuk menatap Irene yang masih diam sejak tiga jam yang lalu. Tiga jam yang membuat Suho frustasi bukan main.

“Apa kau tidak lelah berdiam diri seperti ini?” Suho tak tahu kalau suaranya melembut. Suara lembutnya membuat Irene mau-tak-mau menatap Suho penuh pengharapan.

“Syukurlah kau mau menatapku. Itu lebih baik daripada diam menunduk.”

Irene sadar ada yang tidak beres dengannya. Suho hanya mengulum senyum tipis, tapi rasanya Irene sudah melayang ke langit ketujuh. Seketika, pendiriannya runtuh setelah membalas senyum Suho.

“Apa kau tidak mau menjelaskan apa maksud dari ucapanmu waktu itu?” Suho mendesahkan nafas kecewa –lagi- saat Irene kembali menunduk menghindari tatapannya. “Baiklah, aku tidak akan memaksa.”

“Pulanglah secepat yang kau bisa. Hari sudah akan malam.”

Mata bulan sabit Suho memandang langit luas yang sudah berwarna gelap. Suho tak sadar kalau pemandangan kesukaannya –langit malam dengan bintang yang bertaburan dan bulan yang bersinar terang- bisa terlewat begitu saja karena sibuk mengoceh satu arah dengan Irene.

“Aku pergi. Kau hati-,”

“Amnesia.”

“Hah?”

Suho membalikkan lagi badannya menghadap Irene. Satu kata saja dari Irene yang bersuara lembut itu bisa membuat Suho terdiam. Kini, Suho justru terdiam sendiri memikirkan gadis cantik di hadapannya ini. Apa suara lembut Irene yang menghentikannya atau justru kata yang keluar dari bibir gadis itu?

“Kau mengalami kecelakaan tiga tahun lalu. Kecelakaan yang kau inginkan sendiri. Kecelakaan yang akhirnya membuat kau kehilangan ingatanmu secara total. Kau…,” Irene menarik nafas panjang-panjang ketika tenggokannya tercekat karena menahan tangis. “bahkan melupakan aku. Melupakan kita.”

Suho memandang Irene tak percaya.

“Apa maksudmu dengan ‘kita’?”

“Masa lalumu yang kelam merenggut kebahagian kau, Suho. Masa lalu yang sudah kita coba hapus bersama dan memulai lagi hidupmu dari awal. Kau bahkan berkata bahwa kita bisa hidup bahagia lagi setelah itu.”

Tidak seharusnya Irene menitikkan air mata di hadapan Suho kali ini. Benar-benar bukan saat yang tepat untuk menangis ketika dirinya harusnya bahagia bertemu seseorang yang selalu ia ingin temui selama ini.

“Nyatanya, kau pergi tanpa pernah kembali. Kau pergi dan benar-benar memulai hidupmu yang baru. Hidup baru dengan identitas baru dan memori yang baru. Setidaknya, kau bisa menyimpan memori tentang aku dan Joona. Tentang keluarga keci kita.”

“Aku tidak mengerti maksud dari ucapanmu, Irene. Siapa Joona? Keluarga kecil, katamu?” Suho menatap manik Irene. Tetapi, bukannya mendapat jawaban, Suho malah mendapati dirinya sendiri menitikkan air mata ketika mata Irene menatapnya sedih. Menatapnya seperti sudah banyak penderitaan yang Irene alami tanpa Suho ketahui.

“Siapa yang kau maksud dengan ‘kita’? Aku benar-benar tidak-“

Bibir Irene yang menempel di bibir Suho, menghentikan ucapan lelaki itu. Bibir tipis Irene mencium bibir Suho dengan penuh perasaan. Terlalu banyak perasaan yang Irene rasakan. Saking banyaknya sampai Irene tidak bisa menjabarkannya dalam untaian kata-kata.

Detik demi detik sudah berlalu sejak pertama kali kedua bibir itu berpagut. Irene berusaha menghargai setiap detiknya yang ia lewatkan untuk mencium Suho yang sama sekali tidak melawan tindakannya yang terang-terangan bersikap kurang ajar padanya.

“Jangan pergi lagi, Suho.”

END

Hai!

SuRene lagi! ^^ walau mungkin ngga akan ada yang nge-ship couple ini, i will stand strong for them hohooo yehet! semoga suka deh 😀

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshoot] The Dark

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s