Cannibal [Chapter 2]

a story by slmnabil

CANNIBAL

Kim Jongin | Jeon Hyena | Key | Seulgi

 Thriller | Tragedy | Romance | Chaptered | 15+

in association with mclennx @ artfantasy

originally posted here nabill’s land

 

prev : prolog | 1

CANNIBAL

[END OF THE WORLD]

 

            Wanita itu lumpuh, entah kapan dan bagaimana. Malam saat dirinya datang, Jongin hanya mendapatkan napas Hyena yang memburu, seseorang yang tak mengharapkan kehadirannya. Or can be someone who’s hoping for his death.

Ia diselubungi atmosfer cahaya remang-remang, iris cokelat hazelnya tak menangkap siluet dengan sempurna. Hanya satu objek yang dibuat jelas di ruangan 9×9 meter tempat tinggalnya, sebuah figura dengan foto keluarga. Keluarganya sebelum hancur seperti ini.

Seseorang pernah bertanya padanya. “Pernah tidak sekali saja kau menginginkan peran seorang suami lagi?”

Jongin tutup mulut. Bukan karena tidak bisa menjawab, ia tak tahu jawaban apa yang harus diberikan dan apa yang ingin mereka dengar darinya. Dunia ini tidak bekerja seperti dulu lagi, apa yang disebut masa lalu tidak lagi bernilai apa-apa. Hanya memoar usang yang harus dibuang jauh-jauh, atau seseorang akan memangsamu. Watch your back!

Ditengah keheningan, bunyi berdecit engsel pintu tertangkap inderanya. Logam berkarat itu seakan berkata, engsel ingin pelumas. Ironis, benda mati saja punya keinginan masa dirinya tidak?

Terkadang Jongin berpikir, dia hidup untuk apa? Untuk siapa? Dan kenapa ia menjalani hidupnya seperti ini? Refleksinya di cermin pun bahkan bertanya demikian.

“Kai sedang apa kau melamun begitu?”

Seorang gadis muncul dari ambang pintu. Kulitnya tak terlalu cerah namun menjadi paduan yang indah dengan bibirnya yang semerah darah.

“Seulgi, kau makan lagi?”

Gadis bersurai hitam kecoklatan itu mengangguk.

“Aku benar-benar tak bisa berburu di San Fransisco. Mereka sudah handal, masih beruntung aku kembali dalam keadaan utuh.

Jongin tidak benar-benar mendengarkan, Seulgi tahu betul. Pria itu tidak akan tertarik akan hal-hal yang menyangkut orang lain lagi. Ada satu hipotesa yang dipegang teguh olehnya. Jika kau membuka diri untuk mendengarkan orang lain, maka mereka akan menuntut balik, orang lain ingin mendengarkan tentang apa dan siapa dirimu.

Karenanya Jongin cenderung lebih menutup diri, karena ia tak mau seseorang membuka ‘pintu’ yang dikuncinya rapat-rapat. Atau bahkan Jongin tak tahu lagi di mana ia menyimpan kuncinya, bisa saja hilang. Ada satu, kemungkinan lain yang tak pernah ingin Seulgi percaya.

Seseorang memiliki kuncinya.

Seulgi melirik benda persegi di sudut ruangan, di samping ranjang Kim Jongin, benda kedua dan terakhir yang disinari cahaya. Ia bisa memaknainya.  Itu seperti dunia sang pria yang gelap gulita, ia tidak bisa melihat mana yang benar mana yang salah. Mana yang harus dan boleh dilakukan, mana yang tidak.

Potret seorang wanita disana seolah menegaskan bahwa kapan pun Jongin merasa tersesat, ia hanya perlu kembali ke pelitanya. Jongin selalu memiliki penuntun untuknya kembali menemukan ruang untuk bernapas.

He looks like a patient in coma. He never knows either he lives or not. It looks like Jongin doesn’t have a room for breathing. But every time he saw that woman, Jongin can breath easily and freely.

“I just kissed her and left.”

Jongin selalu menjawabnya seperti itu. Setiap malam lelaki itu mengunjungi kediaman seseorang bermarga Jeon, tanpa bosan ia hanya melakukannya. Tapi terakhir kali, Jongin bilang wanita itu terbangun dan melihatnya.

Hyena berkeringat hebat dan tubuhnya gemetar. Jadi malam ini, Jongin berpikir dua kali untuk kembali ke rumah itu. Syukurlah, Seulgi tak perlu repot-repot memereteli rasa ingin membunuh Jeon Hyena.

“Kai, mau ke kasino bersamaku malam ini?”

Aroma masakan  menguar dari dapur, berbaur dengan denting-denting logam yang beradu. Hyena rindu memasak, rasanya sudah lama sekali ia tak seantusias ini. Syukurlah Key dengan senang hati mengantarkan alat-alat memasak baru untuknya. Yang terakhir kali sudah tidak bisa digunakan lagi, karena terlalu sering digunakan.

Jujur saja, Nona Jeon ini tidak tahu harus melakukan apa selain memasak. Kakinya lumpuh, otomatis seluruh tubuhnya akan sulit digunakan beraktivitas, hidupnya terpusat sepenuhnya ke bagian atas.

Tangan Hyena sibuk sekali, antara mencampur bahan-bahan masakan dan memutar alat bantu jalannya bergantian. Sebenarnya tangan Bibi Han selalu terbuka, tapi Hyena tidak mau sering-sering merepotkannya. Yah terkadang, beberapa kali saja saat dirinya benar-benar membutuhkan pertolongan. Terjatuh dari kursi roda seperti tadi pagi misalnya. Dan untuk menemaninya makan malam ini.

“Bibi, jangan memaksakan. Jika ingin memuntahkannya tidak apa-apa.”

Sejak tadi Hyena memperhatikan Bibi Han yang terlihat menahan kuat-kuat agar isi perutnya tidak keluar. Wanita paruh baya itu memang menjejalkan spaghettinya banyak-banyak, tapi ia tidak terlihat seperti menikmatinya.

Bukan makanannya, tapi pemakannya. Tidak ada yang aneh dengan masakan Hyena, wanita itu sudah mahir melakukannya. Hanya saja Bibi Han sudah terlalu sering memakan yang seperti ‘itu’ jadi mau memasukkannya ke mulut pun sudah untung.

“Bi, terkadang, aku berpikir apakah ada orang lain yang masih bertahan hidup sepertiku? Belum tentu kan di luar sana ada Key, Key yang lainnya juga.”

Bibi Han tersenyum, terbentuk lipatan-lipatan di sekitar matanya saat ia melakukan itu. “Tentu saja ada. Bukan seperti Tuan Muda dengan kekuasaanya, melainkan dengan cinta.”

Sontak Hyena tersenyum miris tak percaya. “Cinta? Apakah sesuatu seperti itu masih ada? Disaat seorang ayah pun bisa membunuh anaknya sendiri?”

Ia menatap piring kosong di hadapannya. Membayangkan Ahra, putrinya ada di sana membuatnya bisa mati berdiri. Kadang Hyena masih heran, apa kira-kira yang Jongin pikirkan sampai bisa menyantap putrinya sendiri.

“Nona, sudah saatnya kau melupakan kejadian itu. Seseorang yang selalu berdiam diri di masa lalu, ia akan buta di kehidupan kini.”

Bibi Han meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

“Bi, tidakkah kau mengerti? Yang bisa kugunakan untuk berlari dari masa lalu sudah tidak ada lagi,” Hyena menyahuti. Ia menatap sepasang kakinya sendiri.

“Karena itu Tuan Muda ada di sini, ia bisa membawamu berlari, secepat yang kau inginkan Nona.”

Love is not exist anymore, it’s bullshit.

“Hentikan makanmu Bi, aku akan membersihkan.”

Hyena menempatkan nampan putih dari plastik di atas pahanya. Ia memindahkan piring-piring kotor dan tak lupa dengan kelengkapnnya. Kemudian memutar kursi rodanya kembali ke sudut kanan dapur, dimana Key mendesign wastafelnya.

“I wash, you dry.”

Ia menyodorkan sebuah lap berwarna kuning ke ruang kosong di sampingnya. Menyadari tak ada yang meraihnya, Hyena refleks menoleh dan siap dengan perbendaharaan umpatannya. Tapi ia terhenti, tidak ada siapapun di sampingnya. Tidak ada lagi.

“Honey help me! Don’t make me blame at you again today.”

Hyena sibuk sekali. Mungkin di Minggu pagi orang lain akan bahagia luar biasa, melupakan rutinitas yang melelahkan di tempat kerja. Hanya saja ia tidak suka hari itu, Jongin sulit sekali lepas dari ranjang, sengaja menyiksanya dengan pekerjaan rumah yang menumpuk.

Jeon Hyena tak suka teriak-teriak, ia tak suka marah-marah, dan tidak berniat juga melakukan itu. Tidak mau cepat tua, tidak mau cepat mati, begitu katanya. Tapi Jongin hobi sekali membuatnya kesal.

“Aku lebih suka melihatmu marah-marah ketimbang tersenyum. Kau kan hanya teriak-teriak padaku saja, jadi ini poin yang tidak semua orang mendapatkannya.”

Saat Jongin berkata seperti itu padanya, Hyena tak bisa menahan umpatan dari mulutnya. “Sinting kau,” katanya. “Sini cepat!”

“Baiklah, karena hari ini kau sangat cantik, akan kubantu.”

Hyena menyodorkan lap berwarna kuning kepada Jongin. “I wash, you dry.”

“Why don’t we do that together? You wash, I wash. You dry, I dry.”

Mata mereka bertemu. “Kau suka sekali ya diumpat? Sudah kukatakan, aku tidak mau cepat tua.”

“Walaupun nanti di wajahmu itu banyak kerutan, kau tetap cantik Sayang.”

Pandangannya mengabur. Hyena tidak tahu sejak kapan cairan itu membendung di matanya. Ia cepat-cepat menghapusnya sebelum Bibi Han melihat, dan mulai menyibukkan diri dengan benda-benda di hadapannya yang perlu dibersihkan.

Karena Hyena tak bisa berlari, seperti halnya rasa sakit yang selalu menghantuinya, kebahagian itu pun tak pernah meninggalkannya.

-to be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Cannibal [Chapter 2]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s