Cannibal [Chapter 1]

CANNIBAL

a story by slmnabil

Kim Jongin | Jeon Hyena | Key

 Thriller | Romance | Chaptered | 15+

in association with mclennx @ artfantasy

 

CANNIBAL

[END OF THE WORLD]

“Kau bermimpi dalam mimpi, kesimpulanku.”

Key menyeruput kopi paginya. Ia berjalan kesana kemari, sedang Hyena hanya bisa memperhatikannya dari bar.

Key belive me, he was there last night,” ujat Hyena masih bergelut dengan argumennya, tentang apa yang menimpanya semalam.

And why I didn’t hear your scream?”

Hyena menyahuti. “Karena aku tidak berteriak.”

Sedetik kemudian Key mencekokinya dengan selembar roti lapis, menghentikan sejenak bicara Hyena yang tak ada habisnya.

“Dan kenapa kau tidak berteriak?” pria itu menjawab dengan nada jenaka.

“Itu.. aku tidak tahu. Yang jelas si bejat itu ada disana, hampir menelanku bulat-bulat.”

But you’re alive. I need to go to work, see you.

Dan debat pagi itu ditutup dengan jejak kecupan singkat selamat tinggal, dibuat oleh sang pemilik yang meninggalkannya, untuk bekerja.

Tunggu, bekerja? Bekerja yang seperti ‘itu’? Bukan, tentu saja bukan. Bisa dibilang ini karena kasta Key berada di tingkat atas, pengaruh keluarganya tidak bisa diremehkan. Dan berkat itu pula Hyena masih mendapatkan pasokan makanan manusia.

Biasanya ketika Key mulai bekerja, dia akan menunjukan totalitasnya dalam itu, jadi bisa dipastikan Hyena akan sendirian selama beberapa waktu ini. Yah jika puluhan pengawal kekar bersuit yang menjaga ketat rumahnya dianggap dalam mode invisible, you can say Home Alone airing from now on.

“Ah sial, dia lupa menurunkanku.”

Hyena meraih kaki kanannya, mencoba menggerakannya perlahan menuruni kursi bar yang cukup tinggi. Jika dibilang mati rasa, tidak dirinya masih bisa merasakan sepasang tungkai itu. Hanya saja ia tidak dapat menggunakannya dengan baik, for your information.

Telapaknya berhasil menapak lantai kayu. Namun bukan hanya kaki, seluruh tubuhnya ikut terlemparkan otomatis. Hyena mengerang.

Semalam, hal yang sama terjadi. Oleh karenanya ia tidak bisa membedakan, apakah dirinya hanya mendapatkan bunga tidur seperti yang Key katakan, atau Kim Jongin benar-benar mendatanginya.

But if it’s real, she can’t run away. He’s been watching her for a long time.

How? Should I eat you or not?”

Tubuh Hyena menegang, ia tidak dapat merasakan kerja tubuhnya lagi. Atmosfer semakin mencekam dibalik sinar remang-remang lampu balkon yang seharusnya sudah diganti.

Matanya mengerjap, meyakinkan bahwa yang dilihatnya tidak benar karena tak mungkin Kim Jongin berada disini.

“Kenapa kau diam saja? Tidak ingin memangsaku? Kau lupa akan putrimu?”

Jongin membunuh jarak sedikit demi sedikit. Langkahnya amat santai walau sebenarnya ia tetap waspada kalau-kalau sang pemilik rumah menerjangnya.

“Ah, aku hampir lupa. Istriku lumpuh bukan?”

Siluet paras itu semakin tampak jelas. Kim Jongin, dengan bercak-bercak merah gelap pekat berbau anyir di sudut bibirnya.

Hyena tak bisa berkutik, Jongin mengunci pergerakannya. Pria itu melingkari bagian dadanya, indera sensitif Jongin pasti mendeteksi detak jantung Hyena yang gila-gilaan. Dan hanya satu orang yang bisa membuatnya bekerja seperti itu, yakni dirinya. Baik dalam wujud Jongin maupun pemangsa putrinya.

“Atur napasmu dengan baik Sayang. Kenapa? Sekarang kau takut?” Jongin berujar tepat ke telinganya, membuat Hyena bergidik mendengar suara yang nyaris menyerupai bisikan itu.

Jongin memejamkan kelopaknya saat jemarinya menelusuri lekuk-lekuk pada paras nan indah wanitanya. Tangan Hyena mengepal di samping tubuh, ia tak bisa berbuat banyak terhadap kelakuan lancang Jongin.

Jongin menjarah surai Hyena. “You’re sweating hard, Honey. Why?” katanya.

Hyena mengucapkan kalimat ini dengan terbata-bata. “Key, please. I’m scared.

Lagi-lagi sensor Jongin dapat memproses sinyalnya dan mengubahnya menjadi visualisasi sempurna. Ia menyeringai.

That’s not the way you say it before. You should speak like this, Jongin please I’m scared. Remember?

Tentu saja, Hyena sangat mengingatnya. Memorinya tak seburuk itu sampai melupakan sosok manis Kim Jongin dan segala yang telah mereka lewati selama tiga tahun ini.

“Itu hari ulang tahunmu, saat kau mengucapkannya. Dan kenapa aku mendengar nama yang lain di tahun berikutnya?”

Cause the one who make me scared it’s you.”

Their eyes met, it’s been a long time. And she can’t understand what does that glare means. If Key said it’s just a dream in a drem, so why she can felt his breath?

Itu hanyalah sebuah bangunan kumuh pada awalnya. Dinding yang retak disana-sini dengan debu tebal sebagai kelambu beralaskan kayu yang berdecit tiap kali ada yang menapakinya.

Itu dulu. Siapa yang menyangka bangunan tak layak huni semacam itu bisa berubah menjadi gedung yang tampak ala-ala Yunani? Relief-reliefnya amat detil bahkan sampai titik tak kasat mata, arsitektur tanpa bandingan.

Key, dengan langkah tegasnya melewati sekitar empat pintu besar dengan tinggi lima meter untuk sampai ke ruang utama, ruangan dengan ukuran selebar kediaman yang ditinggalinya. Siapa lagi yang mungkin memilikinya jika bukan sang pemilik gedung? Yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

Seorang pria berbadan cukup gempal, rambutnya memutih dan kerut-kerut identitas menghiasi wajahnya.

Dad, sorry I’m late,” begitu kalimat pertama Key saat beliau memasuki ruangan.

Seseorang yang disapa Dad itu tidak sendirian, ibunya pun menyambung langkahnya.

“Bukankah Ibu sudah peringatkan? Tinggalkan wanita itu. Lihat akibat kau tidak mendengarkanku?”

Key tersenyum simpul. “Mom, ini bukan tentang wanitanya. Memang dasarnya aku saja yang terlambat bangun.”

“Karena siapa kau terlambat? Wanita itu bukan? Siapa namanya? Jeon.. Hyeri? Hera?”

“It’s Jeon Hyena,” katanya meluruskan.

“Ah iya apapun namanya kau harus cepat menjauh darinya. Dengar, Ibu kemarin bertemu dengan Menteri Rusia dan coba tebak, putrinya benar-benar cantik, tipemu sekali.”

“Jadi?”

“Jadi tinggalkan Hera-mu lalu menikahlah dengan Samara.”

Ah, kesepuluh kalinya kah? Key terlalu sering mendengar kata menikah keluar dari sang ibu. Putri mentri, putri pengusaha, bahkan sampai miss korea saja pernah dikenalkan padanya. Ia saja tak mengerti wanita tua itu mendapat koneksi darimana sampai-sampai orang penting seperti mereka, walaupun kedudukan keluarganya dalam negara pun tak main-main.

Ini adalah sebuah usaha casino yang sekaligus merangkap dengan bar. Pengunjung per bulannya selalu meningkat presentasenya dan hebatnya pelanggan casino bukanlah sembarang orang. Jangan tanya kenapa, karena jujur Key saja tak tahu.

Sang ayah berbisik, “Son, mau kuberi saran?”

Key menoleh, menunjukkan ekspresi keingintahuan. Dirinya memang selalu kompak dengan pria yang dianggapnya sebagai panutan.

“Yang penting itu menikahnya, bukan dengan siapa kau menikah.”

Dan seperti itulah pembicaraan tentang pernikahan bergulir antara ayah dan anak tersebut. Sesekali diselingi tawa dan senyuman setiap melewati beberapa pekerja saat mereka berjalan menuju ruang rapat. Ada sesuatu yang perlu mereka sepakati hari ini.

“Ini CEO La Food di Roma, dan ini putraku, Key.”

Mereka bertukar sapa. “Senang bertemu denganmu Tuan.”

“Bagaimana haruskah kita mulai saja kesepakatannya?”

Lampu-lampu pun meredup, digantikan sinar yang terfokus di sisi selatan, sebuah presentasi dari sang CEO.

“Seperti yang kita tahu, bukan rahasia umum lagi bahwa kanibalisme semakin merajalela. Pasokan makanan di alam tidak lagi memadai karena monopoli perusahaan-perusahaan besar dari segala penjuru dunia. Kami La Food, merupakan penguasa terkaya dengan lahan-lahan besar di beberapa negara,” ia memulai presentasinya.

Key membolak balik dokumen yang diajukan, tidak buruk. Bukan hanya lahan tapi perusahaan besar lain pun beberapa ada dalam organisasi mereka, jadi tak bisa diragukan lagi omset yang didapatkannya. Perusahaan makanan sebesar ini pengaruhnya bahkan lebih tinggi dari presiden sekalipun.

Cannibalism change people’s paradigm about who they’re. Cannibalism, one simple word with a strong impact.

-to be continued-

Mind to review?

Advertisements

3 thoughts on “Cannibal [Chapter 1]

  1. Pingback: [2] CANNIBAL | INDO FANFICTIONS

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s