[ Two Shot ] IN CUBE US ~ Incubus 2nd

 

CreditPosterbyFUNLUOBELL@PosterChannel

CreditPosterbyFUNLUOBELL@PosterChannel


 

Judul ||  Incube Us ( Incubus)

Cast || Kris, Jiyeon, Tao

Genre || Mystery Romance

Length || Two Shot

Rated || M

 

Disclaimer || I own Nothing but the story ! Enjoy reading

 Poster By FUNLUOBELL@POSTERCHANNEL

 

Jantungku berdebar cepat. Hamil ? kenapa kaga-kata yang begitu aku harapkan itu kini terdengar menakutkan. Yifan memelukku dengan hangat.

 

“Ji, kau hamil. Dan aku merasa bahagia. Artinya kita akan segera memiliki anak yang lucu.”  ujarnya bersemangat.

 

“Yi..Yifan…”

 

Dalam hatiku aku begitu gusar. Benarkah aku hamil ? Dan anak siapakah yang ada dalam kandunganku ?  Yifan atau Tao ?

 

.

.

.

 

 

Sejak aku mengetahui kalau aku hamil. Aku mulai merasakan hal-hal yang layaknya ibu hamil rasakan. Seperti mual dan pusing. Walau sebenarnya sebelum aku mengetahui bahwa aku hamil, aku sudah merasakannya, hanya saja aku tidak menyadarinya karena aku tidak mengetahui kalau hal itu adalah gejala kehamilan.

 

Aku mulai malas untuk bangun pagi. Aku mulai enggan untuk bergerak. Terlebih lagi, aku membenci sinar mathari. Aku sangat bermusuhan dengan cahaya matahari semenjak aku merasakan kehamilanku menginjak usia ketiga bulan. Aku selalu berada di dalam rumah. Mengurung diri dalam ruangan gelap. Menutup semua akses cahaya yang masuk dengan tirai hitam. Dan Yifan tiak oernah mengeluh atau berkomentar. Dia sepertinya sangat memaklumi semua yang terjadi. Terkadang aku merasa bahwa kehamilanku ini benar-benar aneh.

 

Aku semakin di landa rasa mual yang acut. Sewaktu-waktu aku bisa muntah, dimanapun itu. Lalu tiba-tiba merasa begitu dingin sehingga Yifan harus menyelimutiku hingga berlapis-lapis.

 

Ibu dan mertuaku beberapa kali melihat kondisiku yang terlihat payah. Bahkan aku berhenti bekerja karena kondisiku. Berat badanku turun drastis. Penampilanku tak ubahnya seperti mayat hidup. Berkulit pucat karena tidak pernah mendapatkan cahaya matahari dan mataku menjadi cekung kehitaman. 

 

“Apa kau sudah meminum vitaminnya ?” tanya Yifan ketika akan berangkat bekerja. Dia menyiapkan vitamin di sampingku.

 

“Yifan, aku kesepian di sini. Apa kau bisa tidak masuk hari ini ?” aku merengek dengan derai air mata.

 

“Jiji, kenapa kau manja sekali. Aku tetap harus bekerja. Bagaimana nasib perusahaanku nanti jika aku tidak masuk.”

 

“Hh, baiklah !  Kau lebih menyanyangi perusahaanmu dari pada istrimu”  jawabku malas.

 

“Akan kuhubungi ibumu, untuk menemanimu .’ usulnya kemudian. 

 

“Tidak perlu. Aku lebih baik sendiri dari pada diatur oleh mereka.” 

 

Yifan tertawa. Dia menyadari bahwa aku sangat membenci aturan kuno yang melarang wanita hamil untuk begini dan begitu. 

 

“Nikmatilah Sayang ! bayangkan saja, yang akan keluar nanti seorang putri cantik sepertimu .”  ujar Yifan.

 

Aku mendesah berat melihat bayangan Yifan berlalu dari kamar. Bagaimana dia bisa begitu yakin kalau anaknya yang akan lahir nanti adalah perempuan. Kenapa aku justru  lebih menginginkan dia nanti laki-laki dan tampan seperti ayahnya.

 

 

Sepanjang hari hanya berada di dalam ruangan tertutup, sebenarnya membuatku gelisah. Aku terbiasa menghadapi dunia luar, namun entahlah kenapa kehamilanku begitu aneh. Jarang sekali ada seorang ibu hamil mengalami hal seperti diriku. Apakah karena bayi ini ?

 

Bayangan Tao menari-nari di kepalaku. Kenapa setelah kehamilan ini dia tidak pernah muncul. Apakah dia tidak ingin dituduh sebagai penyebab kehamilanku. Dan apabila memang bayi ini adalah milik Tao, apa yang akan ku katakan pada Yifan. 

 

Kepalaku bertambah pusing. Aku memilih untuk meninggalkan pembaringanku, dan berjalan ke arah dapur. Dan melihat beberapa stock di dalam lemari es. Tiba-tiba saja aku merasakan bayiku bergerak. Astaga, ini baru bulan ketiga. Dan bayiku sudah begitu aktive. 

 

Aku mengusap perutku untuk menenangkan bayiku. Mungkin dia lapar. Aku memang belum mengisi perutku pagi ini. 

 

“Yak, kita makan dulu ya..!” ujarku mengajak bicara bayi dalam kandunganku. Menurut ibu mertuaku, aku harus sering mengajak bayiku bicara, supaya dia terbiasa dengan suara eommanya. Aku tersenyum.

 

“Eomma punya roti dan selai kacang. Kau mau ?” tanyaku.

 

“Yummy, ini pasti enak , Sayang !”  aku mengoleskan selai kacang pada lembar roti pertama. Dan menutupnya dengan lembar kedua.

 

“Ugh, ini enaaaak !” ujarku sambil mengunyahnya dengan perlahan.

 

“Sebentar akan kau rasakan. Sabar ya !”  kuusap lagi perutku. 

 

Namun tiba-tiba aku merasakan mual yang luar biasa. Apakah bayiku tidak menghendaki makanan yang kumakan. Aku memuntahkannya semua, tidak bersisa, sampai cairan kuning dari lambungku keluar semua. Terasa begitu pahit dan letih. Keringat dinginku mengalir, dan tubuhku gemetar . 

 

Aku ingin makan lagi. Namun tidak ada satupun makanan yang membuatku berselera selain daging mentah di dalam chiler. Entah kenapa daging itu terasa begitu menggiurkan. Tanpa menunggu lebih lama aku segera mengambilnya. Menatapnya sebentar. Benarkah aku menginginkan daging mentah ini. 

 

Aku menggigitnya dengan ragu. Sedikit. Lalu mengunyahnya. Mataku terbelalak. Kenapa rasanya begitu enak. Kenapa terasa manis dan lezat. Lalu aku mulai menggigit dengan potongan yang lebih besar, dan lebih-dan lebih. Tanpa terasa akhirnya aku menghabiskan dua potong daging steik mentah itu tanpa bersisa.

 

Sebentar kemudian aku tercengang dengan selera makanku. Aku baru saja menghabiskan dua potong daging mentah. Bagaimana ini ? Dan perutku juga tidak mual lagi. Bayiku menyukainya. Dia menyukai daging mentah. 

 

Lalu aku berjalan ke arah sofa. Aku duduk dan menyalakan teve, melihat beberapa acara. Bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Apa yang akan dikatakan Yifan seandainya dia tahu aku telah bersikap seperti singa di kebun binatang.

 

Ponselku berbunyi. aku melihatnya tergeletak di meja makan. Aku malas mengambilnya. Jadi kubiarkan dia menyala sampai bosan. Dan akhirnya berhenti sendiri setelah sekian menit berbunyi. Mungkin ibu mertuaku . Pikirku. 

 

.

.

.

 

Tok-tok-tok

 

Suara ketukan di pintu itu mengganggu tidur siangku.’Bagaimana ini ?Aku tidak bisa melihat cahaya matahari. Aku tidak mau membuka pintu itu.’

 

Aku melangkah mendekati pintu’ namun berhenti begitu saja ketika aku merasakan aura yang tidak jelas menghalangiku. Aku memang tidak bisa mendekati cahaya matahari, seperti ada sebuah tenaga yang menghalangiku. Dan jika kupaksakan , maka aku akan pingsan berjam-jam. 

 

“Siapa ?” tanyaku  dari jarak dua meter 

 

“Saya hanya mengantarkan barang.” ujar suara di luar. Sepertinya dia seorang namja .

 

“Apakah memerlukan tanda tangan ?” 

 

“Ya. ” jawabnya. 

 

“tolong selipkan di bawah pintu tanda terimanya, nanti saya akan tanda tangani.” ujarku memberi petunjuk.

 

Lalu orang tersebut menyelipkan kertas tiga rangkap itu di bawah pintu. Aku mengambilnya dan menandatangani. Lalu mengembalikannya lewat celah bawah pintu.

 

“Bagaimana dengan barangnya ?” tanya krang itu.

 

“Tinggalkan saja di situ !” ujarku. Aku juga merasa bingung, bagaimana aku mengambilnya. Apakah harus menunggu sampai malam.

 

 

Aku sungguh penasaran dengan kiriman barang itu.

 

“Hallo !”  sapaku pada seseorang di seberang sana. Aku lupa bahwa aku punya tetangga baik hati seperti Claire.

 

“Hallo, Jiji ! ” balasnya

 

“Claire, apakah kau di rumah ?” tanyaku langsung

 

“Ya, ada apa ? Apa ada yang bisa aku bantu ?”

 

“Claire, aku punya sesuatu di depan pintu rumahku, dan aku tidak bisa keluar mengambilnya. Bisakah kau membawanya masuk ? “

 

“Aah, kau masih terserang virus Vampire. Apakah masih separah itu ?”  tanyanya.

 

“Ya. Aku sungguh tidak bisa Claire, sepertinya aku akan langsung jatuh pingsan jika terkena cahaya matahari. Berdiri di belakang pintu sini saja dan merakan hangatnya sinar matahari, aku sudah merasa pening, dan berkunang-kunang.”

 

“Baik-baik, aku akan ke sana. Apa kau butuh sesuatu yang lain, aku akan sekalian membawanya.”

 

“Tidak Claire. Terima kasih !”

 

Beberapa saat kemudian Claire sudah mengetuk pintu.

 

“Ji, buka pintunya !” 

 

Aku segera membukanya, lalu menutupnya dengan cepat setelah Claire masuk dengan sebuah kotak cukup besar di tangannya.

 

“Apa barang ini yang kau maksud ?” tanya Claire sambil meletakkannya di atas meja.

 

“O My God, Ji ! rumahmu gelap sekali. Kau benar-benar seperti vampire. ” lanjut Claire kemudian.

 

“Maafkan aku, memang seperti inilah kondisiku saat ini. Mungkin karena keinginan bayi ini.” aku mengusap perutku lagi.

 

Kudekati box yang diletakkan Claire di atas meja. Aku tidak tahu siapa pengirimnya. Karena tidak tertera di sana. Perlahan-lahan aku membukanya. Dan ..

 

Aku tidak mempercayai apa yang kulihat. isi box itu adalah pakaian bayi, dan pernak perniknya. 

 

“Apa kau sudah mengetahui jenis kelamin bayimu, Ji ?” tanya Claire . Aku menggeleng.

 

“Bagaimana si pengirim ini begitu yakin kalau bayimu perempuan ?” tanya Claire lagi. Dan aku menggeleng lagi.

 

.

.

.

 

Aku menyimpan satu box pakaian itu di dalam lemari. Yifan belum mengetahuinya. Aku hanya menduga kalau kiriman baju bayi itu dari Tao. Hatiku bertambah cemas saja. Ini membuktikan kalau Tao ikut bertanggung jawab atas bayi yang ada dalam perutku. Aku takut nanti dia sewaktu-waktu muncul dan mempertanyakan keberadaan bayiku. Apa yang bisa kulakukan. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku tidak ingin Tao mengambil anakku.  

 

“Kau kenapa ?” Yifan mengusap wajahku. Dia melihat kecemasanku.

 

“Tidak apa-apa.” 

 

“Kau mulai terlihat bingung lagi. Apa kau depresi menghadapi kehamilanmu yang aneh ini ? ”  tanya Yifan. 

 

“Yifan, apa kau merasa aku aneh ?”

 

“Ya. Tentu saja, semua ibu hamil pasti akan aneh. Apalagi jika sudah meminta yang aneh-aneh.” Yifan tersenyum. Dia memelukku. Seperti ada yang disembunyikannya. Diapun merasakan aku aneh, terlebih dengan kehamilanku. Apakah dia sedang menghiburku dengan mengatakan kalau semua ibu hamil memang aneh. Dan aku termasuk salah satunya.

 

“Yifan, apa kau memginginkan bayi perempuan ?”  

 

“Apa saja. Asal dari rahimmu.” ujar Yifan menenangkan.

 

Syukurlah! batinku lega.  Aku hanya menatap lemari dan memikirkan pakaian bayi itu lagi. Dan aku berharap bayiku laki-laki. Sehingga semua baju bayi perempuan itu tidak akan terpakai.

 

 

 

.

.

.

 

Aku merasakan ada sebuah tangan yang mengusap perutku. Malam ini Yifan tidak pulang karena ada urusan bisnis di luar kota. Dia menginap untuk dua hari. Aku merasakan tubuhku seperti dijalari aura yang aneh, dia menelusuri tubunku. Tangan itu begitu lembut mengusap perutku. 

 

“Jiji !” panggil suara itu. Aku tidak berani membuka mataku. Hanya diam dan berharap semua itu cepat berlalu.

 

” Jiji…” panggilnya lagi.

 

Perlahan aku seperti merasakan ada sebuah bayangan di depan mataku. Dia berada tepat di depanku. 

 

“Kau siapa ? Jangan ganggu aku !”  bisikku. Namun dia tak menjawab. Dan ketika aku memberanikan diri membuka mataku, aku melihat wajah yang sedang tersenyum. Dia menatapku dengan tatapan mata yang tajam. Namun dia tidak menyakitiku. Dia berangsur menghilang. Aku tidak terlalu jelas melihatnya karena gelap meliputiku. Apakah dia Tao?

 

.

.

.

 

“Apa kau baik-baik sajadia selama aku pergi ?”  Yifan menatapku ketika dia menyuapkan nasinya ke dalam mulutnya. Aku menunduk. Berharap dia tidak bertanya lagi. Aku sudah cukup merasakan ketegangan selama dia pergi. Bahkan tadi malampun aku seperti merasakan Seseorang memelukku dari belakang. Namun ketika aku berbalik, tidak ada siapapun di sampingku.

 

Kejadian itu selalu terjadi jika Yifan tidak berada di sisiku. Aku hanya merasa bahwa dia adalah Tao. Dia mengawasiku, meski dia tidak berada di sisiku. Atau berada di sisiku, namun aku tidak bisa melihatnya.

 

.

.

.

 

Usia kandunganku sekarang sudah menginjak bulan ke sembilan. Semua terlihat wajar dan normal, tidak ada hal-hal aneh pada kandunganku, dan pertumbuhan bayi dalam perutku terlihat sangat baik. Satu hal yang masih menjadi bahan pemikiranku. Dokter mengatakan kalau bayiku memang perempuan. Yifan sudah sibuk mencari nama untuk bayi ini. Semua sumber di telusuri demi untuk mendapatkan nama bayi yang dia inginkan. 

 

Wu Miao Shan. Akhirnya keputusan berakhir pada nama cantik itu. Menurutnya nama itu adalah nama lahir Dewi Kwan Im yang merupakan dewi yang baik hati dan penuh kharisma. Aku menurut saja ketika Yifan mengutarakannya. Toh, memang Yifan memang berdarah China. Dia mempunyai hak penuh untuk memberikan nama keluarga untuk anaknya. 

 

“Apakah aku boleh memanggilnya Shan-Shan saat dia lahir nanti.” tanyaku manja. Aku sudah terlihat seperri badut saat bejalan kian kemari di hadapannya.

 

“Ya, itu panggilan yang bagus. ” jawabnya.

 

Aku terus berjalan ke sana kemari, di dalam rumah. Supaya aku bisa melahirkan dengan lancar. Yifan menggeleng-gelengkan kepalanya saat merasa terganggu dengan kegiatanku di depannya.

 

“Apa kau tidak capek ?” tanyanya halus. 

 

“Capek sedikit, tapi aku hatus terus bergerak supaya aku bugar saat melahirkan.”

 

“Kalau begitu terus, kau akan kehabisan energy saat melahirkan nanti. “

 

“Eomma membawakan ginseng kemarin. Aku yakin aku bisa bertahan dengan baik.”

 

“Baiklah, tapi kau harus berhenti, karena aku tidak bisa nyaman melihat acara teve itu kalau kau terus berjalan di depanku.”

 

Yifan menarik tanganku untuk duduk di sisinya. Tak lupa juga dia merangkulku agar aku tak bergerak lagi. Sungguh pintar caranya membuatku takluk. Aku langsung menenggelamkan wajahku di dalam pelukannya. Inilah suamiku, dan aku terus menyakini kalau bayi dalam perutku adalah darah dagingnya, bukan Tao.

 

.

.

.

.

 

Musim sudah menjadi begitu dingin. Salju-salju turun seperti hujan deras. Di luar matahari sudah tidak terlalu ganas. Aku melangkahkan kakiku menginjak salju setebal dua centi. Rasanya begitu lembut. Yifan membimbingku untuk menaiki mobil, sementara aku sudah merasakan detik-detik persalinanku mendekat. 

 

“Aku sudah mengabari eomma untuk segera menyusul ke rumah sakit.” ujar Yifan sambil mengikatkan sitbelt di tubuhku dengan hati-hati.

 

“Uh..uh..uh..Apakah dokternya sudah diberitahu ?” tanyaku dengan nafas yang kuatur agar kontraksi tidak terlalu menyakitkanku. 

 

“Sudah.”  Yifan segera memasuki mobil dan meninggalkan halaman rumah. Claire melambaikan tangannya seakan memberi semangat. Aku tak bisa membalasnya karena kondisiku sendiri sudah sangat payah.

 

.

.

.

 

Tepat pukul satu siang bayiku lahir. Dan perempuan seperti hasil USG sebelumnya. Dan aku kehilangan banyak darah, sehingga harus menjalani tranfusi. Yifan menungguiku saat proses melahirkan sesaat lalu. 

 

“Bagaimana Shan-Shan ?” tanyaku ketika aku sudah berada di ruang perawatan. Shanshan masih di ruang bayi. Yifan menunjukkan Shanshan yang dia rekam lewat mini handycam-nya. Aku tidak berhenti tersenyum melihat wajahnya yang sangat tembem, dan kemerahan. Matanya sipit dan memiliki hidung mancung seperti appanya. 

 

“Yifan, dia mirip sekali denganmu. ” ujarku sambil mencium pipi suamiku.

 

“Benarkah ?” Yifan mencandaiku. 

 

“Apa maksudmu dengan kata benarkah itu. Apa kau meragukan kalau anak ini, adalah anakmu !”  aku mematutkan mulutku.

 

“Aku melihat dia lebih mirip dirimu. Cantik. ”  Yifan memelukku. Dia terlihat lega. Namun seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Mungkin juga sesuatu itu ada di pikiranku. 

 

.

.

.

.

 

Yifan tidak menyiapkan kamar khusus untuk Shanshan, karena dia tidak ingin bayi itu terpisah dariku. Jadi Shanshan tetap berada di kamarku. Walau tidur dalam box bayinya yang berwarna pink. Aku mengeluarkan baju bayi yang aku sembunyikan di dalam lemari. Akhirnya aku mempergunakan juga baju-baju bayi ini.

 

ShanShan mengamatiku dari matanya yang bening dan lucu. Usianya sudah satu bulan. Dan dia masih menyusu padaku. Namun aku juga memberinya tambahan susu formula ,supaya tidak terlalu repot jika aku harus kembali bekerja nantinya. 

 

“ShanShan , lihat baju ini ! lucu kan !” aku memamerkan baju berwarna pink dengan renda putih dan pita berwarna merah di kerahnya pada Shanshan. Dia tertawa ceria, sambil menggerakkan tangan dan kakinya. 

 

Ting-Tong-Ting-Tong…

 

Pagi-pagi sudah ada yang bertamu. Mungkin ingin menengok ShanShan. Pikirku.

 

“Jung Ahjuma, tolong buka pintunya !” teriakku pada pelayan yang di bawa oleh Eomma untuk membantuku.

 

Aku masih sibuk merapikan baju-baju ShanShan di lemari. Lalu beberapa saat kemudian, Jung Ahjuma berdiri di sisiku. 

 

“Kenapa ? Ada apa ? Siapa tamunya ?” tanyaku sambil menggendong Shanshan.

 

“Seorang laki-laki, Nyonya.” jawabnya.

 

“Siapa ?” 

 

“Saya tidak tahu. Dia hanya ingin bertemu Nyonya.” 

 

Aku mengerutkan dahiku. Menyerahkan Shanshan pada Jung ahjuma dan berjalan menuruni tangga. Seorang laki-laki. Aku melihat punggung dan postur tubuhnya dari belakang sini. 

 

Tao. Huang Zi Tao. 

 

Aku dengan mudah mengenalinya. Sejenak berhenti di tangga, menahan debar jantungku. Mau apa dia ke sini. Dan kenapa harus muncul lagi. Apa karena Shanshan?  

 

Tao berbalik dan melihat ke arahku dengan senyum. Dan kakiku menjadi lemas. Aku terduduk begitu saja di anak tangga dengan tatapan tak mengerti.

 

“Hi, Jiji !” sapanya lembut. Dia berjalan ke arahku. Apa dia akan mengambil Shanshan. 

 

“Tao…”  bisikku lirih.

 

Tao duduk di hadapanku dengan lututnya. Melihat dengan dua matanya yang mengarah tepat ke dalam hatiku. 

 

“Aku merindukanmu. Dan bayiku.” ujarnya.

 

“Bayiku, anakku dan Yifan.”  tegasku dengan suara gemetar. 

 

“Jiji, aku ingin melihat bayiku.”  suaranya seperti sebuah racun di tubuhku. Aku langsung terbakar amarah.

 

“Dia bukan anakmu ! Tidak boleh ! Keluar kau !”  aku tiba-tiba berdiri dan menggeret tangannya untuk mendekat ke arah pintu.

 

“Dia anakku Jiji. Yifan juga tau kalau Shanshan adalah anakku. “

 

Seperti disambar petir, aku langsung berbalik dan menampar wajahnya dengan seluruh tenaga dan emosiku.

 

Tao menahan nafasnya dan menyentuh wajahnya. Dia menatapku lembut. Namun penuh tekanan. 

 

“Jiji, aku hanya ingin melihat anakku. Aku tidak akan melukainya.” ujarnya lagi.

 

“Apa maksudmu, kalau Yifan mengetahui kalau dia adalah anakmu ? Apa maksudnya !!”  jeritku. Ahjuma berdiri di atas tangga sambil membawa Shanshan dalam tangannya. Dia mungkin terkejut ketika mendengarku berteriak.

 

“Ahjuma bawa Shanshan ke kamar !” perintahku dengan geram. Namun Tao melirik ke atas. Dia melihat Shanshan dan tersenyum.

 

“Apa dia mengenakan baju-baju yang aku kirimkan ?”

 

“Jadi semua itu darimu ?” aku menahan nafasku. Kepalaku begitu pusing. Aku sungguh bingung dengan situasi yang terjadi. Aku sudah pernah mengira sebelumnya kalau baju-baju bayi itu adalah kirimannya.

 

Tapi mengetahui bahwa semua ini merupakan konspirasi, aku menjadi sesak. Dan Yifan mengetahui kalau Shanshan bukan anaknya. Apa yang terjadi sebenarnya ? Apakah itu sebabnya dia selalu mengatakan dengan yakin kalau anakku adalah perempuan, dan dia juga memahami dengan semua kejanggalan-kejanggalan yang terjadi padaku sebelumnya.

 

” Aaarrrrrghhhh….!”  jeritku histeris.

 

“Jiji !” Sesaat lalu aku masih bisa melihat senyum manis Tao, lalu …gelap.

 

.

.

.

 

Aku membuka mataku dan melihat cahaya matahari menembus melewati tirai jendela kamarku. Harum mawar memenuhi ruangan. Aku merasa begitu nyaman di ranjangku. NAmun kenapa tubuhku terbaring lemah , sementara aku melihat Tao menggendong bayiku di sisi yang sedikit gelap. Dia melindungi Shanshan dari cahaya matahari.

 

“Dia sangat cantik, sepertimu !” ujarnya sambil tersenyum ke arahku. Aku ingin menggerakkan tubuhku namun sepertinya tidak bisa. Seperti ada sebuah tenaga yang menghalangiku. Tao tersenyum dingin. Matanya seperti memancarkan sesuatu. Aku melihatnya seperti cahaya kemerahan, namun samar. 

 

“Jangan ambil bayiku ?” aku memohon dengan suara yang tak bisa kukeluarkan. 

 

“Jangan khawatir, aku hanya akan membawa Qiong Lin sebentar. ” ujarnya sambil mengecup kening Shanshan.

 

Qiong Lin ?

 

“Namanya Wu Miao Shan !” jeritku. Namun sekali lagi suaraku tidak bisa keluar. Aku terus berusaha bergerak demi Shanshan. 

 

“Dia anakku. Huang Qiong Lin. Seputih salju.” jawabnya ringan.

 

“Kau akan membawanya ke mana ?” tanyaku dengan berderai air mata. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana aku harus berbuat. Kenapa semua fenomena ini begitu aneh. Apa yang membuatnya begitu percaya diri. Apa dia tidak takut, Yifan akan marah.

 

Tao mendekatiku. Dia duduk sambil tersenyum dengan lembut. Hh..mahluk apa kah dia? kenapa dia bisa melakukan semua ini padaku? Kenapa aku hanya bisa diam menatapnya tak berdaya, seperti saat-saat dia menyetubuhiku dengan semua pesonanya. 

 

“I love you, Jiji !”  Tao mengusap pipiku. 

 

Aku hanya memejamkan mataku sebentar. Kehidupan macam apa yang kujalani ini. Yifan !  panggilku di dasar hatiku. Apa yang telah kau lakukan padaku ?

 

“Akan kuceritakan padamu, kenapa Yifan tidak akan keberatan aku membawa Qiong Lin sebentar.”  aku kembali mengejar penjelasan darinya.

 

“Tapi sepertinya Qiong Lin membutuhkan susu.”  Tao tersenyum melihat Shanshan . Lalu mengambil botol susu yang sudah disiapkan Jung Ahjuma tadi. Aku menangis merasakan perasaan Shanshan. 

 

“Jangan ambil anakku !” pintaku lirih.

 

Tao melirikku lagi, dan tersenyum seperti tadi.

 

 

“Dia mengatakan kalau dirinya mandul. Dan dia menginginkan seorang anak. Tapi dia tidak ingin mengadopsi, ataupun terlihat di mata keluarga dan orang lain dia sebagai laki-laki yang lemah. Kau tahu kan. Harga diri. Kebanggaan. Status dan egoisme. ”  ujarnya lagi. Aku hanya memejamkan mataku dengan hati tercabik-cabik. Selebihnya aku tahu apa yang akan Tao ceritakan padaku.

 

“Lalu dia bekerja sama denganku. Kau tahu siapa diriku ?”  Tao menatapku. Aku menggeleng lemah.

 

“Aku sangat menginginkanmu. Berkali-kali aku melihatmu melintasi toko buku di mana aku biasa membeli buku. Dan kau membuatku tertarik hanya dengan melihat senyummu, dan harum tubuhmu. Aku berpikir, ingin meihatmu terbaring dengan gaun tidur berwarna merah ditubuhmu. Dan menyetubuhimu sepertinya menjadi hal sangat mengagumkan.”  Sekarang aku mengerti kenapa aku selalu mengenakan gaun merah itu setiap malam. Itu karena ulahnya. Tapi bagaimana caranya?

 

“Yifan tidak menyadari sebelumnya dengan siapa dia bekerja sama. Dia hanya mengira bahwa aku hanya seorang asing, sebatang kara, dan mempunyai penampilan yang menarik. Dia memastikan bahwa aku bisa mearik perhatianmu.”

 

Tao terdiam lagi sambil mengusap wajah Shanshan.

 

“Tentu saja aku sangat senang, dan bangga. Dia memberikan waktu seluas-luasnya padaku untuk dirimu. Tapi tentu saja, aku harus mempunyai alasan yang logis supaya kau bisa menerimaku dengan hatimu. Akupun punya harga diri. Aku tidak mau jika wanita yang kuinginkan tidak menginginkanku.” 

 

Tao menatapku tajam sambil memegangi botol susu Shanshan. Bayiku meminum susunya dengan lahap. Dan matanya masih terpejam.

 

“Aku tau kau menginginkanku saat itu. ” ujarnya dengan yakin.

 

Aku menatapnya, mencoba untuk mengambil hatinya supaya dia melepaskan mantra sihir apapun ini yang sedang mendera tubuhku. Benar , aku sangat menginginkannya waktu itu. Dia tampan, dan sangat menggairahkan. Aku bersalah.

 

“Kau tidak perlu merasa bersalah, karena Yifan tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia suami yang baik. Dan teman yang baik juga. ” Tao tersenyum. Dan harga diriku menjadi hancur saat ini.

 

Dia berhenti sebentar untuk mensendawakan Shanshan. Dia sungguh mengerti memperlakukan bayi.

 

“Baiklah, aku akan membawa Qiong Lin berjalan-jalan sebentar. Kau tidak usah khawatir, aku akan mengembalikannya. ” 

 

“Jangan bawa Shanshan !” teriakku lagi.

 

“Dia akan baik-baik saja bersama Appanya. Benar, kan Qiong Lin.” Tao mencium shanshan lagi. Dia benar-benar merasa kalau dia adalah ayah dari Shanshan. 

 

“Jiji ,  Aku benar-benar mencintaimu. Dan kau tahu, aku akan hancur sebentar lagi. Aku hanya meminta sebentar waktuku agar aku bisa meihat putriku dan menghabiskan sebentar waktuku bersamanya.” 

 

“Kau akan bawa ke mana Shanshanku ?” tanyaku.

 

“Aku tidak tahu. Hanya berjalan-jalan. Aku ingin menunjukkan pada teman-temanku, bahwa aku mempunyai keturunan.”

 

Setelah itu Tao mencium keningku. 

 

“Aku tidak menyangka kalau aku benar.benar mencintaimu, Jiji.”  

 

Dan Tao menghilang bersama bayiku. Aku tidak mempercayai apa yang aku lihat. Untuk sesaat aku termangu. Lalu seperti terlepas dari sihir aku langsung berteriak, dan beranjak dari ranjangku.

 

“SHANSHAAAAAAAN  !” teriakku keras setelah aku sanggub bergerak. 

 

Jung ahjuma pun tiba-tiba menyeruak.

 

‘Nyonya, Shanshan di bawa pergi !”   ujarnya.

 

“Aku tahu, Ahjuma. Hubungi Yifan ! aku akan mengejar penculik anakku !” tegasku sambil mengambil mantel tebal dan kerudung. Aku tahu di mana aku bisa mencari Tao. 

 

Apartementnya.

 

.

.

.

.

 

 

Aku masih ingat dimana apartement Tao. Sangat jelas sekali, dan aku tidak bermimpi waktu itu. Gedung apartement itu nyata. Aku melihatnya. Dan aku hanya tinggal menaiki lift itu hingga ke lantai sepuluh, lalu aku akan berbelok ke kanan, dan berjalan hingga ke ujung koridor. Di sana apartement milik Tao berada. 

 

Kosong.

 

Apartement ini kosong dan seperti tidak pernah ditempati sebelumnya. Sangat kotor dan berdebu. Apakah aku salah alamat?  

 

Aku kembali keluar dan memastikan diriku tidak salah memasuki apartement orang lain. Tapi kenyataannya, nomornya benar.  Dan di sana tertera 10.10. B.  

 

“Nyonya mencari siapa ?” tanya seorang wanita ketika keluar dari apartementnya. Tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku menunjuk apartement yang tadi aku masuki.

 

“Apartement itu kosong. Sudah sepuluh tahun tidak dihuni, Nyonya. Apa Nyonya salah alamat ?” tanyanya bingung. 

 

“Tapi aku pernah ke sini sebelumnya bersama seorang namja, tinggi, dan …”  aku berhenti bicara ketika melihat wanita itu menatapku dengan tatapan aneh. Lalu dia masuk lagi dan menutup pintunya. 

 

Aneh.

 

Bukankah dulu aku merasa Tao membawaku ke sini. Aku tidak habis pikir. Bahkan di sini tidak ada jejak bekas Tao sedikitpun. Apakah aku bermimpi. Apa aku sudah gila?

 

Aku tidak bisa merumuskan apapun sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumahku. Dan di sana, Yifan sudah menungguku. Dia menatapku sedih.

 

“Jiji..!”  dia berusaha untuk memelukku, namun aku mendorong tubuhnya supaya menjauh dariku.

 

“Aku membencimu, Yifan! Sangat membencimu.” ujarku sambil terduduk lemas di sofa. Aku memikirkan bayiku. Aku sangat khawatir padanya. Oh Tuhan ! 

 

“Maafkan aku !” ujar Yifan di sisiku. Kami duduk bersisian namun tidak saling menatap.

 

“Jadi kau mengetahui hal ini! dan kau bersikap masa bodoh! kau membuatku seperti orang gila. Kenapa kau lakukan ini ? ”  Aku menutup wajahku dan menangis.

 

“Aku memeriksakan diriku ke dokter. Aku merasa bahwa mungkin ada yang salah denganku. Dan aku mengetahui bahwa aku mandul setelah menjalani serangkaian test mengenai kesuburanku. Aku tidak menghasilkan sperma yang sehat untuk membuahimu.”  ujarnya menjelaskan. Dengan sangat lancar dan tenang. Seolah-olah Yifan benar-benar sadar bahwa dia memang sengaja melakukan hal itu.

 

“Dan kau menyuruh orang lain untuk membuahiku !” jeritku histeris.

 

Yifan membungkam mulutku. Namun aku menepiskannya. 

 

“Aku sangat marah padamu Yifan !”

 

“Aku tahu. Kau berhak marah !” jawabnya.

 

“Lalu bagaimana dengan Shanshan? Anak siapa dia ? ”  tanyaku menantangnya. Yifan menatapku sambil menggenggam tanganku.

 

“Jiji, dia …”

 

“Sudahlah, aku sudah tahu Yifan. Aku sudah tahu. Dia milik Tao. ”  Kusandarkan tubuhku dan menghela nafas berat. Baiklah. Aku akan tenang sekarang. Aku tidak usah terlalu repot berpikir lagi. Namun,..

 

“Tao itu siapa ?”  tanyaku lagi ketika aku mengingat bahwa Tao mungkin saja bukan manusia. Dia mungki iblis atau apalah itu.

 

“Tao , hm..dia itu …temanku. Dia adalah Huang Zi Tao. Temanku. Sepertinya itu saja yang aku tahu darinya.”  Yifan tidak bisa menjelaskan apapun. Dan aku merasa bahwa ada sesuatu yang aku curigai dari sosok Tao. Dan Yifan enggan mengungkapnya.

 

Aku berjalan menaiki tangga menuju kamarku. Aku ingin mencari sesuatu dari buku-buku mitology yang pernah aku baca. Ya mungkin saja aku bisa menemukan jawabannya. 

 

.

.

.

 

Malam semakin gelap. Aku sengaja membuka jendela kamarku untuk angin malam supaya masuk ke dalam kamarku. 

 

 

Aku mengenakan gaun tidur berwarna merah kesukannya. Aku mengundangnya masuk ke dalam kamarku. Dia pasti tahu. Dia hapal betul dengan aroma tubuhku. Aku duduk dengan posisi yang sexy menghadap ke arah luar.

 

Tiba-tiba angin berhembus masuk. Aku merasakannya, menikmatinya. Dan ini sungguh dingin sekali. Aku bahkan hampir membeku. Namun kemudian jendela itu tertutup dengan sendirinya. 

 

BRAKH

 

Tubuhku gemetar. Dan sosok yang muncul dihadapanku.  menyeruak begitu saja, menjelma menjadi satu bentuk utuh tubuh dengan postur tinggi, dengan warna kulitnya yang eksotis, dia bertelanjang dada, dengan sebagian rambut panjangnya menutupi pundaknya yang tegap. terlebih dari itu, aku tidak terlalu memikirkan dirinya. Aku hanya berpikir, bagaimana putriku, Shanshan akan kembali lagi padaku. Dia berdiri diantara celah kakiku dan memegang daguku. Mengarahkan matanya yang merah tepat dipandanganku.

 

“Kenapa kau memanggilku ? ” suaranya seperti sebuah geraman. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku. 

 

“Jadi seperti inikah bentuk aslimu, dan aku berhasil memanggilmu ?” tanyaku dengan sedikit merasakan ngeri. 

 

“Jadi kau tahu bagaimana cara memanggilku sekarang.” 

 

Tao mendorong tubuhku. Dia begitu siap ingin bercumbu denganku, namun aku mendorong tubuhnya.

 

“Di mana Shanshan ?” tanyaku. Tao menyeringai.

 

“Dia tidur.” jawabnya singkat.

 

“Bawa dia padaku, lalu kau boleh menyentuhku.” 

 

“Kau pintar bernegosiasi sekarang.”

 

“Aku tidak perduli. Bawa ke sini dulu anakku, lalu kau bebas atas tubuhku.”  Entah kenapa aku mengatakan hal ini. Mungkin karena aku sudah tidak perduli lagi pada Yifan. Dia telah mendustaiku, dan bersekongkol dengan mahluk ini untuk mengelabuiku. 

 

“Jiji..kau tahu aku mencintaimu.” bisiknya . Tao duduk di sisiku.

 

Aku sedikit tergugu. Dia mengatakan hal itu berkali-kali. Apakah benar dia terlibat secara batin denganku ? Apakah mahluk sepertinya di perkenankan terlibat secara batin dengan korbannya. Korban. Ya, aku menganggab diriku sebagai korban. Jika dia memang terlibat secara batin denganku , maka dia akan mati. Jadi seperti itulah Incubus.

 

Tubuhnya berubah menjadi sosok Tao yang selama ini kukenal. Dia terlihat lebih manis dan berkharisma. 

 

“Kau akan mati.” ujarku.

 

“Kau sudah tahu.” sahutnya. 

 

“Ya.” 

 

“Maafkan aku !” bisiknya kemudian dengan sebuah kesan sedih. Aku hanya menatapnya tak mengerti. Aku berdiri di hadapannya, tepat diantara kakinya.  Dia mendongak melihatku. Apakah benar dia mencintaiku ?

 

“Katakan di mana Shanshan ! Kau tidak boleh mati sebelum kau kembalikan Shanshan padaku !” ujarku sambil mencengkram rahangnya. Tao tersenyum.

 

“Aku menyukai sikapmu. Kau sungguh berani kali ini !” 

 

“Aku punya alasan untuk berani. “

 

“Apa kau tidak takut aku akan membawamu mati bersamaku ?” ujarnya datar dengan tatap mata yang dingin.

 

“Aku sama sekali tidak takut padamu. Kita pernah mengalami hal-hal yang indah dan luar biasa. Apa kau sungguh mencintaiku, hingga kau menginginkan aku ikut mati dan menderita bersamamu ? Apa kau pikir aku sudi mati denganmu ?” aku mengatakan dengan perasaan yang perih. Entah kenapa perih itu tiba-tiba hadir. Mataku seperti berkaca-kaca. Apakah aku memang memiliki perasaan untuknya.

 

“Kenapa kau menangis ?” bisiknya. Dia menghapus bening di mataku. Lalu sebentar kemudian dia mengecup bibirku dengan lembut.  Lalu melepasnya dengan tatapan yang teduh untukku. 

 

“Kau harus hidup untuk anakku. Qiong Lin.” bisiknya.

 

“Di mana dia ?” tanyaku

 

“Berikan aku satu malam terakhir denganmu, akan kukembalikan Qiong Lin padamu.”

 

“Kau sungguh pintar bernegosiasi sekarang !”  

 

Tao tersenyum dan mendekatkan tubuhku padanya.

 

.

.

.

 

 

Aku terbangun dengan suara tangisan. Aku buru-buru melihat ke dalam box bayi dimana Shanshan biasa tertidur.  

 

“Shanshan !”  jeritku penuh haru. 

 

Yifan datang menyeruak. Dan melihatku sudah menggendong Shanshan dalam pelukanku. 

 

“Dia sudah mengembalikannya.”  Yifan memelukku dan Shanshan.

 

Aku menatap ke arah jendela. Di luar sana matahari bersinar dengan cerahnya. Dan sepertinya semua sudah berakhir. Semalam adalah pertempuran terakhirku dengan Tao. Dan dia memenuhi janjinya. Mengembalikan Shanshan padaku. 

 

“Jiji..!”  panggil Yifan lembut. Dia menatapku penuh kasih. Seperti ada penyesalan di raut wajahnya. 

 

“Tidak sekarang Yifan. Aku membutuhkan waktu untuk memaafkanmu.”  ujarku sambil membawa Shanshan mendekati cahaya. Aku ingin menghapuskan kesan Tao dari kehidupannya.

 

Shanshan beringsut dalam pelukanku. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang mungil, namun aku menyingkapnya. Wajahnya begitu berseri ketika kehangatan cahaya itu menyapa kulit lembutnya. Matanya terpejam, dan seperti layaknya bayi, dia menangis. 

 

.

.

.

 tumblr_m5rc4d9O1Y1rpbwmqo1_500

Aku melihatnya berlari. Rambutnya bergoyang kesana kemari. Tingkahnya lucu, dan senyumnya adalah cahaya dalam hidupku. Wu Miao Shan atau Huang Qiong Lin, aku tak perduli. Yang terpenting, dia adalah anakku, putriku, cintaku. …

 

Bayangan Tao masih ada di benakku, mungkin juga di benak Yifan. Aku tidak tahu apakah Yifan menyesali hal itu atau tidak, namun dia terlihat seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia menganggab Shanshan seperti anaknya. Dan hal itulah yang membuatku menyadari satu hal. Dia bahagia ketika melihatku bahagia. Dia merasa sempurna meski hidup ini tidak sempurna untuknya. Dan aku sudah memaafkannya. Kami layak untuk bahagia.

 

.

.

.

FIN

 

a/n

 

Ini murni khayalan , dan sedikit mitos mengenai INCUBUS. Aku ga terlalu banyak tau, cuma mencoba untuk membuat cerita ini jadi sedikit seru aja. Mudah-mudahan bisa di nikmati aja ! oke, Pis..see you !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

44 thoughts on “[ Two Shot ] IN CUBE US ~ Incubus 2nd

  1. Jd ini sebenernya lebih dominan tao jiyeon ketimbang krisyeon ya
    Dan jiyeon skrg malah terlihat seperti menyukai tao drpd kris

    Jd tao itu sebangsa iblis ya??
    Rada greget juga sih sa kris yg merelakan jiyeon di sentuh o/ pria lain

    Tp yaaa aku suka koq sama ceritanya
    Mysteri romance kkkk

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s