[Series] When You Come [PART 2]

when-you-come

qintazshk‘s present

 ⌊ When You Come ⌋

Jung Soojung and Kim Jongin
Lee Taeyong as additional cast

PG-13 |  chaptered  |  Fantasy/Action/Romance |  Poster by elevenoliu {Thanks kaaak <3}

prequel fiction from [ficlet] You in here | PART 1

you can read with another pairing in here and here

Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^

_soojung pov_

 

Noona, laki-laki itu siapa?”

Lelaki yang jangkungnya melebihiku itu, menunjuk Jongin yang sedang duduk di ruang makan. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan saat melihat Jongin dengan santainya memakan sarapannya.

“Cobalah kenalan dengannya, Taeyong.”

Taeyong –adikku mengerutkan dahi. “Noona yang membawa laki-laki itu kemari?”

Aku mengangguk riang dan kembali menuangkan jus jeruk ke dalam gelas yang akan dipakai Taeyong. “Kau bilang saja kau oppa-ku, ya?”

Oppa? Yang benar saja, baby face seperti ini mana bisa terlihat lebih tua dari noona?

Aku menjitak kepalanya sebisaku –mengingat perbedaan tinggi kami yang signifikan. “Menyebalkan. Aku sudah terlanjur bilang kalau aku punya kakak laki-laki, bukan adik. Sudah sana kenalkan dirimu sebagai oppa­-ku, arra?”

ne, arra.”  Taeyong melangkahkan kakinya mendekati Jongin. Jongin sempat mengerutkan dahinya bingung, tapi ia tersenyum juga setelah sempat menatapku.

“Aku Jung Taeyong,”

“Kim Jongin. Kau oppa-nya Soojung, kan?”

“Aku adiknya. Kau ditipu, hyung.” Taeyong menunjukkan smirk-nya padaku. Uh, harusnya aku tahu kalau dia tidak akan pernah mau diajak kerja sama. Menyebalkan.

“Adik? Tapi kemarin Soojung bilang-“

“Aku lupa kalau aku punya adik, bukan kakak. Seumur hidupku, aku menginginkan kakak laki-laki, bukan adik. Apalagi yang seperti Taeyong.” aku tersenyum kikuk dan Taeyong sudah memandangku dengan tatapan tajamnya.

Aku memandang Jongin lekat-lekat. Siapa tahu ia marah atau menunjukkan reaksi yang aneh saat tahu kalau yang aku katakan salah. Tapi nyatanya tidak. Lelaki jangkung itu malah tersenyum lebar padaku.

God, I’m melting. Bagaimana bisa ia tersenyum semanis itu?

“Jadi, kalian berdua tidak akan sarapan?”

“Tentu saja aku mau sarapan. Tolong kemarikan serealnya, hyung.

“Kau memanggilku hyung, Taeyong?” Jongin menyodorkan kotak sereal cokelat kesukaan Taeyong beserta susu kotak. “Iya. Memangnya kenapa? Aku yakin kalau kau lebih tua dariku. Lagipula, memangnya aku terlihat lebih tua dari hyung, ya?”

“Iya.”

Pft. Aku memuncratkan guava juice yang ada di mulutku. Tak membiarkan sedetik pun terlewat untuk menertawakan kejujuran Jongin yang membuat Taeyong menatapnya kesal.

“Kau jujur sekali, hyung. Dasar menyebalkan,”

“Aku diajarkan jujur di duniaku. Makanya-“

“Duniaku? Memangnya hyung dari dunia mana?”

Jongin menggaruk tengkuknya bingung. Tapi tatapan penasaran Taeyong sepertinya membuat Jongin merasa harus untuk menjawab pertanyaan bocah itu.

“Memangnya kau bukan manusia biasa, hyung? Kau jatuh dari langit, begitu? Apa muncul dari tanah?”

Ya! Kau kira Jongin itu kentang, apa? Muncul dari tanah,”

“Aku hanya menanyakan kemungkinan saja, noona. Lagipula wajah Jongin hyung lonjong seperti kacang. Atau lebih mirip seperti-“

“Astaga, kenapa kalian jadi membandingkan aku dengan tanaman-tanaman, sih?”

Alih-alih meminta maaf, aku dan Taeyong memilih untuk tertawa setelah melihat ekspresi Jongin yang menunjukkan bahwa ia kesal karena obrolanku dengan Taeyong. Tapi detik berikutnya Jongin sudah ikut tertawa bersamaku dan Taeyong.

Pagi yang menyenangkan.

 

 

Hyung, bantu aku mencuci mobil!”

Teriakan Taeyong membuat kegiatan Jongin yang sedang menyiram tanaman terusik. Lelaki itu berhenti bersenandung –dan aku menjamin bahwa suaranya patut diperhitungkan untuk menjadi seorang penyanyi.

Ya ampun, anak itu benar-benar bersikap seolah punya kakak lelaki sungguhan.

Ya! Kau seenaknya sekali menyuruh Jongin. Kerjakan sendiri!” Aku memuncratkan beberapa tetes air sabun dari emberku ke arah Taeyong. Sebenarnya hari ini jadwal aku dan Taeyong mencuci mobil kami masing-masing. Mengingat tidak ada orang lain di rumah kami selain aku dan Taeyong.

Dan Jongin.

“Aku hanya perlu bantuannya sebentar, noona. Kalau Seulgi meneleponku, bagaimana?”

“Oh, jangan berlebihan, Jung Taeyong. Sudah selesaikan dulu-“

“Bagian mana yang harus kubersihkan?”

“Jendelanya saja, hyung. Setelah itu tolong bilas semuanya dengan air. Oke? Gomawo, hyung!” Jongin belum menyetujui ucapannya dan Taeyong sudah melesat seperti ceetah ke dalam rumah.

“Maafkan Taeyong, Jongin. Dia memang-“

“Aku senang.” Jongin mempertemukan tatapannya denganku lalu tersenyum lebar. Lebar sekali. Sampai rasanya kebahagiaan Jongin tercurah dalam setiap detik senyumannya.

“Hah? Senang katamu?”

“Iya. Kau tahu, aku tidak punya adik laki-laki dan aku bersyukur aku akhirnya punya adik laki-laki di bumi. Setidaknya Taeyong bisa diajak main basket bersama, ‘kan?”

Bahkan ia sudah menganggap Taeyong sebagai adiknya sendiri.

“Boleh ‘kan aku jadikan Taeyong sebagai adikku selama di sini?”

“Memangnya seberapa lama kau akan di sini?” Aku tak dapat menahan rasa penasaranku jika sudah berhubungan dengan Jongin. Jongin, laki-laki yang baru aku temui beberapa hari lalu, namun sudah terasa seperti keluarga sendiri.

“Entahlah. Sampai waktu yang belum ditentukan. Tapi aku akan segera pergi dari rumahmu jadi-“

“Tidak perlu,” aku menelan ludahku saat tenggorokanku tercekat. Aku menggaruk tengkukku bingung. Jawabanku terlampau cepat untuk menolaknya pergi. “kau tidak perlu pergi. Kau baru saja bilang kalau kau senang punya adik laki-laki, ‘kan? Sepertinya Taeyong juga senang punya hyung.

Dan aku pun senang kau disini.

“Memangnya orangtua kalian dimana?”

“Sibuk mengurusi pekerjaan di China. Karena aku tak mau ikut mereka, jadi aku tetap tinggal dan kuliah di sini. Dan Taeyong hanya mengikuti apa yang noona-nya lakukan. Selalu. Tipikal seorang adik yang menyebalkan.”

“Bukan menyebalkan,” Jongin tersenyum tipis dan menepuk bahuku cepat. “tapi adik yang sangat menyayangimu. Kau tahu itu dengan pasti, Soojung-a.

Rasanya aku ingin melawan mendengar perkataan Jongin yang terdengar sangat bijak itu. Tapi, itu semua benar dan aku tidak menyangkal. Taeyong memang adik yang baik.

“Membayangkan bisa disayangi seorang adik saja sudah sangat menyenangkan.”

Pandangan Jongin menerawang. Entah benda atau apapun yang sedang ia tatap. Namun, sinar di matanya yang meredup membuat aku yakin bahwa ia hanya sedang membayangkan sesuatu.

“Aku bisa berbagi kasih sayang Taeyong denganmu.”

Jongin membalikkan badannya cepat dan menatapku tak percaya. Seolah ia baru saja mendapat sebuah hadiah yang luar biasa bisa menyenangkan hatinya.

“Kau bisa tinggal di sini. Menjadi kakak untuk Taeyong. Bagaimana?”

“Kau benar-benar memperbolehkanku tinggal di sini? Di rumahmu dengan Taeyong?” Aku hampir saja terkikik saat melihat wajah penuh pengharapannya yang seperti anak kecil.

“Tentu saja, kenapa tidak?”

Belum sempat aku bernafas setelah ucapanku barusan, tiba-tiba kedua lengan Jongin sudah meraihku untuk mendekatkan tubuhku padanya. Kedua lengannya itu memelukku erat.

Jongin memelukku.

Aroma maskulin yang datangnya dari tubuh Jongin itu sesaat membuatku melupakan semua hal. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih dan aku hanya bisa mengangguk membalasnya.

Pipiku makin memanas ketika Jongin mengelus lembut rambut cokelat panjangku. Dengan seluruh keberanian, aku mengangkat tanganku. Mencoba untuk membalas pelukan erat Jongin. Dan-

“Maafkan aku,” tanpa aba-aba, Jongin melepaskan pelukannya. Aish. Aku baru saja akan membalas pelukannya dan dia dengan seenaknya langsung melepaskan erat tangannya di bahuku.

“Kau kenapa?”

Apa aku terlalu lama berhalusinasi dengan imajinasi membalas pelukan Jongin?

Ya! menyebalkan!Aku mengambil keran yang masih tersalurkan air dari keran dan menyemprotkan air itu ke tubuh Jongin.

“Jung Soojung! Apa yang kau lakukan?” Jongin berusaha menghadang air yang menyiprati tubuhnya dengan kedua tangannya yang kekar. Walaupun kepalanya memang terlindungi, tapi badannya masih saja basah. Itu tujuanku untuk membalaskan ‘dendam’-ku.

“Usahamu gagal, Kim Jongin! Lihat saja rambutmu basah begitu,”

Aku terkikik geli melihat reaksi Jongin yang menurutku lucu. Dia bahkan tak membalas sedikit pun perlakuanku. Permainan ini mulai menyenangkan. Aku memutuskan untuk menyemprotkan lebih banyak lagi air ke tubuhnya yang kini mulai terlihat di balik kaus putihnya yang transparan.

“Jung Soojung, stop!

“Tidak! Sampai kau-“

Aku menganga lebar saat melihat cahaya putih yang menyelimuti badan Jongin secara perlahan. Lapisan itu terlihat seperti balon membungkus yang Jongin dan udara di sekitarnya. Air yang aku semprotkan pun malah jatuh begitu saja di tanah, mengalir di balon itu.

‘Pertunjukkan’ tadi tak ayal membuatku menghentikan gerakanku untuk mengganggu Jongin.

“Jadi,” balon itu meletus dan Jongin tersenyum senang. “kau masih ingin melakukan itu padaku, nona Jung?” Ada rasa yang aneh menjalari tubuhku saat melihat senyum jahilnya itu.

“Wah, balon tadi besar sekali, oppa!

Aku membeku ketika melihat Jongin seperti kehilangan nyawa. Expressionless. Anak-anak yang lewat tadi pasti telah melihat balon yang Jongin ciptakan dan ia tahu itu tak bagus.

Tiba-tiba aku merinding saat memikirkan bagaimana nasib Jongin jika saja ia dianggap makhluk asing yang mengganggu.

“Aku mau lihat lagi balon itu, oppa!”

 

 

 

“Maaf.”

Aku menoleh untuk melihat Jongin yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Jongin menatapku dengan pandangan penuh rasa bersalah, sedikit-banyak membuatku merasa bersalah. Ayolah, bahkan tidak ada satupun di antara kami yang melakukan kesalahan.

“Maaf? Kenapa? Kau ‘kan tidak melakukan kesalahan.”

“Tadi kau harus berurusan dengan anak-anak kecill yang sudah mengerubungiku seperti aku ini satu-satunya mainan yang ada. Kau sibuk menjelaskan penjelasan masuk akal untuk mereka. Aku tahu itu merepotkan. Jadi, maafkan aku.”

Aku tersenyum senang saat Jongin menatapku putus asa. “Tak perlu minta maaf. Dan, jangan menatapku begitu. Aku jadi merasa bersalah juga, tahu.”

“Benarkah? Maafkan-“

“Hey,” aku menempatkan jari telunjukku di bibirnya. Tak membiarkannya meneruskan perkataannya tadi. “jangan meminta maaf terus. Kau tidak bersalah. Sungguh. Aku berani bersumpah kalau kau tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Noona! Kenapa kau menyentuh bibir Jongin hyung? Astaga! Apakah kalian-“

“Berisik!” Aku melemparkan bantal sofa ke wajah Taeyong yang baru saja datang ke ruang tengah. “Aku tidak melakukan apa pun. Kau terlalu mendramatisir, Jung Taeyong.”

Dengan gugup, aku mundur dan duduk cukup jauh dari Jongin. Apa yang tadi kau lakukan, Jung Soojung? Memalukan sekali.

“Ngomong-ngomong, apa yang terjadi barusan? Aku sampai tidak bisa mendengar suara Seulgi di telepon karena suara berisik anak-anak di depan tadi. Kalian tidak melakukan hal yang aneh, ‘kan?”

Jongin yang sedang mengeringkan rambutnya berhenti lalu menatapku. Tatapannya itu aku artikan bahwa ia ingin aku yang menjawab dengan jawaban yang sama seperti yang aku beri kepada anak-anak tadi.

“Hal aneh apa yang bisa kami lakukan di depan rumah, hah?”

“Oh, jadi,” Taeyong menatapku dan Jongin penuh kecurigaan yang berkilat di matanya. “kalian melakukan hal aneh di dalam rumah begitu?”

“Bukan! Astaga, Jung Taeyong. Kau menyebalkan sekali. Jadi begini,” dengan ragu aku mulai berbicara pada Taeyong. “tadi Jongin-“

“Aku ingin jawaban dari Jongin hyung, bukan noona.

Jongin meminta lagi bantuanku menggunakan tatapannya. Aku sendiri masih tak tahu atas keajaiban apa ia bisa memunculkan balon sebegitu besarnya. Taeyong bukan anak kecil yang bisa dengan mudahnya menerima cerita karanganku.

Akhirnya aku menggedikkan bahu, menyerah.

“Jelaskan saja pada Taeyong. Aku sendiri juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi. Kau berhutang penjelasan untukku juga.”

“Kenapa sih manusia bumi suka ingin tahu urusan yang sama sekali bukan urusan mereka?” Ucapan Jongin membuatku berhenti ingin tahu walaupun ucapannya tadi hanya bisikan pelan yang aku yakin hanyalah ucapannya untuk dirinya sendiri. Posisi dudukku yang ada di sebelahnya membuatku mendengar semua itu. Menyebalkan.

Hyung, kau benar-benar membuatku penasaran. Sekarang hyung ceritakan padaku dan Soojung noona seperti apa dunia-tanpa-rasa-penasaran yang hyung tinggali. Dan semua beres.”

“Semua tidak akan pernah beres jika sudah tersentuh tangan manusia bumi.”

“Aku akan menceritakannya pada kalian, dengan satu syarat.”

Perkataan Jongin sukses membuat Jung bersaudara menatap laki-laki itu antusias.

“Tidak ada pengkhianatan setelah ceritaku selesai. Kalian bisa berjanji mengenai hal yang satu ini?”

Kedua mata bulat Jongin menatap Soojung dan Taeyong dengan cermat. Yang ditatap hanya mampu mengangguk sembari menatap Jongin penuh harap. Jongin berusaha mencari sinar yang menyiratkan kejahatan di kedua mata Soojung dan Taeyong, namun ia tidak menemukannya.

“Dunia asalku bernama ‘Almaiscript’. Dunia penuh keteraturan, kedamaian, dan kebahagiaan. Fisik dunia kami tidak jauh berbeda dengan bumi, hanya saja dunia kami terlihat lebih baik dari segala sisi daripada bumi kalian yang penuh kejahatan.”

Kedua mata Soojung dan Taeyong masih terlihat penasaran dengan penjelasan Jongin. Mata mereka begitu bersinar terang, seolah meminta Jongin melanjutkan ceritanya.

“Seluruh kehidupan di dunia kami sudah diatur dalam sebuah script. Sesuai dengan nama dunia kami. Masalah pada script dunia kamilah yang membuatku harus datang kemari.”

“Kenapa harus hyung yang datang ke bumi? Ah, maksudku bukannya aku tidak suka hyung datang, tapi ada manusia lain dari dunia Almaiscript, bukan?”

“Aku pangeran tunggal Almaiscript.”

Soojung dan Taeyong hanya bisa berdecak kagum begitu Jongin menyebut kata ‘pangeran”. Tahu-tahu, Soojung sudah membayangkan pangeran berkuda putih yang selalu ada di bayangannya selama ini.

“Aku bukan pangeran berkuda putih, Soojung-a. Aku pangeran bersayap putih.”

Soojung menatap Jongin kaget. “Ka-kau bisa membaca pikiranku?”

“Itu salah satu kelebihan yang diturunkan oleh ayahku, raja Almaiscript. Ada banyak jenis kelebihan yang dimiliki oleh manusia Almaiscript. Tapi, biasanya kelebihan membaca pikiran orang itu diturunkan oleh keturunan raja.”

“Jadi hyung tahu apa yang sedang kupikirkan?”

“Kau memikirkan seseorang. Tunggu,” Jongin memejamkan matanya lalu membukanya dan langsung tersenyum girang. “Seulgi? Kekasihmu?”

“Astaga, hyung!” Taeyong membelakkan matanya sembari menghampiri Jongin lalu memukul lengan kekar Jongin. Mata Taeyong yang tajam itu memandang Jongin penuh misteri. “Kau menyeramkan, hyung.

Jongin dan Soojung tertawa keras ketika Taeyong secara mengejutkan bangkit dari duduknya agar berjauhan dengan Jongin.

“Jangan pikirkan yang tidak-tidak dengan Seulgi, oke? Aku masih membaca pikiranmu, Jung Taeyong.”

Ucapan Jongin terdengar seperti seorang ayah yang sedang menasihati anak laki-lakinya. Dan hal itu membuat Taeyong sedikit-banyak senang.

“Tidak, hyung. Aku tidak melakukan apa pun, aku janji.”

Jongin mengulum senyum tipis lalu beralih pada Soojung yang sedang menatap lekat dirinya. Tatapan gadis itu bahkan tidak berpaling barang sedetik pun walaupun sudah jelas yang dipandangnya sedang menatapnya penuh tanda tanya.

“Jung Soojung,”

Panggilan dari Jongin tidak juga membuat Soojung tersadar.

“Soojung-a,

Kali ini Jongin menaikkan volume suaranya, tapi Soojung tak kunjung menatap mata Jongin.

Dear?

“Hem?”

“Kau menyebalkan sekali noona. Jongin hyung sudah memanggilmu ribuan kali tapi noona tidak menyahut. Giliran dipanggil ‘dear’ dengan suara merdu Jongin hyung, noona langsung menjawab. Apa maksudnya itu?”

Pertanyaan sarkatik dari mulut Taeyong membuat Soojung –yang baru saja mendapat kesadarannya kembali- mendelik tajam, sedangkan Jongin tertawa renyah mendengar rentetan kata dari Taeyong yang seolah mengintimidasi Soojung.

“Sekarang kau sudah tahu, ‘kan, hyung? Soojung noona itu seorang dreamer. Dreamer yang aneh.”

“Aku bukan dreamer, Jung Taeyong. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ucapan Soojung terdengar makin pelan hingga akhir kalimatnya, membuat Jongin harus menajamkan pendengarannya untuk mengetahui apa yang diucapkan oleh Soojung.

“Jadi sebenarnya, apa tujuanmu datang ke bumi, Jongin?”

Pertanyaan yang keluar dari bibir tipis Soojung tak ayal membuat Jongin membulatkan mata dengan sempurna. Lelaki itu menggaruk tengkuknya tanpa sadar sembari menatap Soojung penuh keraguan.

“Aku tidak memaksamu untuk memberitahuku. Aku hanya penasaran.” Soojung tersenyum lebar penuh ketulusan. “Kalau kau keberatan, kau tidak perlu memberitahuku soal tujuanmu datang kemari.”

Karena kedatanganmu saja sudah membahagiakan, Kim Jongin.

“Kenapa kau senang dengan kedatanganku?”

Kali ini, Soojung yang langsung menutup mulutnya, tidak percaya dengan yang barusan Jongin katakan.

“Ka-kau tahu?!”

“Aku sudah bilang kalau aku punya kemampuan untuk membaca pikiran seseorang dan kau juga manusia. Tentu saja aku bisa tahu apa yang sedang kau pikirkan.” Jawab Jongin lamat-lamat lalu menunjukkan senyumannya pada Soojung.

“Tujuanku untuk memperbaiki masalah script dunia kami, tentu saja. Aku hanya harus menyelesaikan masalah itu secepatnya, setelah itu pergi tanpa jejak kembali ke dunia asalku.”

Soojung tidak tahu mengapa, tapi saat Jongin –dengan suara tegasnya- berkata kalau ia akan kembali dengan cepat membuat dada Soojung terasa sesak.

“Sekarang, apa yang akan hyung lakukan?”

“Aku harus menemukan seseorang, secepat mungkin.”

“Apa hyung membutuhkan bantuanku dan Soojung noona? Ya, aku tahu kalau hyung bisa melakukan apa pun sendiri dengan kekuatan hyung, tapi aku hanya menawarkan bantuan saja.”

“Aku tidak tahu,” Jongin menggaruk tengkuknya –lagi.

“Kehadiran kalian tidak ada dalam script hidupku.”

 —

Hai!

Kenapa aku langsung post part 2-nya di sini? Itu karena semua FF sudah dijadwal agar publish di waktu yang sama. Maaf kalau kalian harus pindah blog hanya untuk membaca part 1-nya. Tapi sejak part 2 ini, part selanjutnya akan terus di publish di sini.

Papoi! ❤

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s