Finding Love [Chapter – 1] What Happened?

poster fl

Finding Love

Cast and Character | Chapter 1: What Happened?

Written By © Amy Park

Main Cast:

BTS V – iKON B.I – Kim Hyemi (OC) – EXO Sehun

Supporting Cast:

Choi Minda (OC) – Park Yejin (OC) – Winner Taehyun – Jung Lucile (OC) – JYJ Jaejoong

Multichapter | PG15 | Romance – Family – Friendship – Angst

.

.

No time needed to show my feeling towards you!

=== Finding Love ===

Hanbin masuk ke dalam kamar Taehyung sambil membawa guling. Dia mendapati Taehyung yang sedang menonton TV bersama Hyemi. Hanbin heran, mereka tampak sangat serius. Bahkan, Taehyung sampai membuka mulutnya lebar, sedangkan Hyemi seperti orang sekarat yang menatap layar TV dengan pandangan jijik.

“Kalian sedang nonton apa, sih?”

Hanbin hendak duduk. Namun, karena terlalu kaget dengan acara TV yang saudaranya tonton, dia terjatuh.

“Ya Tuhaaaaaaaaaaaaan!! Kalian menonton yadong!!”

Teriakan melengking Hanbin berhasil membuat Taehyung dan Hyemi tersadar.

“HEY!! Kalian kenapa ada di kamarku?!” pekik Taehyung.

“Kim Taehyung, Kim Hyemi, akan aku laporkan kalian ke appa dan eomma!”

Hanbin segera berdiri untuk melakukan aksi pengaduannya, tetapi Hyemi berhasil menahannya, “Jangan, kumohon. Aku tidak berniat menonton yadong, aku hanya tidak sengaja menonton. Oknum utama adalah Taehyung, bukan aku.”

Taehyung menoyor kepala Hyemi. Ia tidak terima disalahkan oleh adik kembarnya, “Salah sendiri, kenapa kau masuk kamar orang sembarangan?”

“Aku sudah mengetuk, kau saja yang serius menonton film. Mau tidak mau aku penasaran dan akhirnya ikut menonton acara itu. Oooooh, kau telah meracuni otakku.” Hyemi meremas rambut dengan kedua tangan, betingkah seolah-olah ia merasa frustasi.

“Aku tidak meracuni otakmu. Kau sendiri yang melakukannya. Bukannya keluar, malah ikut nonton.” Cibir Taehyung tidak mau kalah.

Hanbin menghela napas mendengar pertengkaran kecil kedua saudaranya. Untuk mencairkan suasana, ia pun berbicara, “Taehyung benar, kau seharusnya langsung pergi ketika tahu bahwa dia sedang menonton film yadong, Hyemi-ya.”

Taehyung mengangguk setuju, “Iya, seharusnya memang begitu.”

Hanbin menjitak kepala Taehyung dengan keras, “Kau juga seharusnya tidak menonton film yadong. Kau memberikan contoh buruk kepada kami, Kim Taehyung.”

Hyemi tersenyum puas dan ikut menjitak kepala Taehyung, “Menjadi orang yang paling tua harus memberikan contoh yang baik.”

“Ugh, aku hanya lebih tua beberapa menit dari kalian,” keluh Taehyung sambil mengelus kepalanya yang masih sakit akibat jitakan saudara kembarnya.

Tidak ingin mendapat jitakan yang kesekian kali, Taehyung memilih untuk mengalihkan pembicaraan. “Kalian mau apa ke kamarku? Ini sudah tengah malam,” ujar Taehyung seraya meraih remote dan mematikan TV. Dia pun berjalan ke tempat tidur lalu duduk di sana.

“Aku ingin tidur di sini. Kamarku berantakan.” Hanbin berjalan menghampiri Taehyung dan duduk di sebelahnya.

“Dan kau, mau apa ke kamarku?”

Hyemi tersenyum lebar dan mengampiri mereka. Dia duduk di antara Taehyung dan Hanbin, lalu mulai mengatakan tujuan kedatangannya.

“Bantu aku mencari cinta!”

“Heh??!!”

Hyemi berdecak sambil mengibaskan tangannya, “Jangan kaget seperti itu. Kalian berlebihan.”

“Cepat jelaskan maksudnya, aku mengantuk,” dingin Hanbin.

“Begini, aku menyukai seseorang. Aku ingin kalian membantuku untuk mendapatkannya. Nah, sebagai imbalan, aku akan membantu kalian untuk mendapatkan perempuan yang kalian suka. Kita saling membantu. Bagaimana?”

Taehyung mengusap dagunya, “Yakin kau akan membantuku untuk mendapatkan perempuan yang aku suka?”

Hyemi mengangguk mantap, “Aku yakin dan aku berjanji!!”

Taehyung menepukan kedua tangannya, “Oke, aku setuju!”

Hyemi tersenyum senang, “Dan kau, Hanbin, kau setuju tid—kenapa malah tidur?”

Hyemi menatap kesal Hanbin yang sudah tertidur pulas dengan gulingnya. Taehyung pun terkekeh, “Ini sudah lewat jam dua belas, dia pasti langsung teler.”

“Tapi setidaknya dengarkan aku dulu,” cemberut Hyemi.

“Sudahlah, biarkan saja. Oh, kau mau tidur di sini?”

Hyemi tidak menjawab. Dia langsung membaringkan badannya dan menarik selimut sehingga menutupi tubuhnya. Taehyung menggeleng melihat tingkah laku saudara perempuannya itu. Dia mematikan lampu kamar terlebih dulu kemudian ikut tertidur bersama kedua saudara kembarnya.

===

Taehyung dan Hyemi saling berpandangan ketika mereka baru saja keluar dari lift. Hanbin hanya berdiri di belakang mereka, sudah tahu apa yang akan kedua saudaranya lakukan. Taehyung mengusap kedua tangannya dan mengeratkan pegangannya pada tas yang dia gendong. Taehyung tersenyum jahil pada Hyemi.

“Siap? Yang kalah tratktir es krim! Mulai!!”

Yah! Kau mencuri start!”

Hanbin hanya menggeleng melihat Taehyung dan Hyemi yang berlomba lari menuju lobi. Sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan mereka, membuat suasana apartemen di pagi hari menjadi ramai dan bewarna. Pegawai-pegawai yang bekerja di apartemen tersebut pun sudah tahu kebiasaan Taehyung dan Hyemi sebelum berangkat sekolah itu.

Setelah berjalan santai menyusul kedua saudaranya ke lobi utama, Hanbin masuk ke mobil milik sepupunya yang bernama Lucile. Dia pun mengambil kursi depan.

“Kau lelet sekali,” ucap Lucile ketus kepada Hanbin yang baru duduk di sebelahnya.

“Maaf,” ucap Hanbin singkat. Lucile hanya menggurutu tak jelas lalu mulai melajukan mobilnya.

Hanbin menengok ke jok belakang, tempat Taehyung dan Hyemi duduk, “Jadi, siapa yang menang hari ini?”

“Aku!!!” teriak Taehyung girang.

“Kau curang!! Kau mencuri start dariku. Kemenanganmu tidak sah.”

“Tidak ada peraturan dalam perlombaan kita, jadi kemenanganku masih tetap sah dan kau harus membelikan aku es krim!”

“Ugh~ kau tetap saja curang, tahu! Pokoknya mulai beso—“

“Berisik! Tutup mulut kalian atau aku turunkan di jalan!” potong Lucile kesal.

Taehyung dan Hyemi langsung menutup mulut mereka, sedangkan Hanbin hanya terkekeh geli.

===

Mereka bertiga sudah sampai di sekolah. Sekolah mewah dan megah bernama Kyungsan International High School. Sekolah swasta terkenal dengan fasilitas dan kualitas yang setara dengan sekolah di luar Asia.

“Kalian masuk kelas duluan saja, aku akan ke kantin telebih dulu,” seru Hyemi.

“Belikan aku es krim!” girang Taehyung.

“Ini masih pagi. Nanti saja siang, akan aku belikan di kedai langgananku.”

Taehyung mengangguk setuju dengan pasrah. Dia dan Hanbin lalu kembali berjalan menuju kelas mereka, sedangkan Hyemi berpisah menuju kantin. Langkah Hanbin dan Taehyung kembali terhenti ketika berpapasan dengan perempuan cantik berambut pendek yang memakai kacamata tipis.

Annyeong~~!! Kalian datang pagi rupanya. Sudah mengumpulkan esai kepadaku?” tanya gadis itu ramah.

Hanbin menjentikkan jarinya, “Untung kau mengingatkan, Minda-ya.” Dia membuka tas dan mengambil berkas lalu menyerahkannya pada Minda, “Topik yang aku ambil tentang kemajuan industri musik Korea di kancah Internasional. Ah.. tidak terlalu bagus sepertinya.”

Minda tertawa kecil, “Jangan merendah. Topikmu bagus. Mengikuti perkembangan.”

Gadis itu lalu menatap Taehyung yang sedari tadi hanya terdiam, “Kau sudah mengumpulkan tugas, Taehyung?”

Taehyung tidak menjawab. Hanbin menyikut tangannya sehingga pada akhirnya lelaki itu tersadar, “Oh-uh, mengumpulkan apa?”

Minda berdecak, “Tugas esai Bahasa Korea. Kumpulkan padaku, ini hari terakhir. Aku harus menyerahkannya pada Kim seongsangnim siang ini.”

“Oh, tugas esai! Aku sudah selesai,” Taehyung membuka tas hitamnya dan mengambil tugas esai tersebut lalu menyerahkannya pada Minda.

“Film Kartun Tidak Baik untuk Dewasa??” heran Minda membaca judul esai milik Taehyung.

Taehyung hanya tertawa garing sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Aku terinspirasi dari sebuah film, jadi aku membuat esai itu. Ahh… sangat buruk, jangan dibaca!”

Minda tertawa, “Oke, baiklah! Kuambil tugas kalian.”

“Hyemi ada di kantin jika kau ingin menagih esai miliknya,” ucap Hanbin.

“Tidak perlu, dia sudah mengumpulkannya kemarin. Kalau begitu aku duluan, ya!”

Minda tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan mereka. Taehyung tak henti-hentinya memandangi kepergian Minda.

“Oh, ayolah, Taehyung. Kau seperti orang idiot!”

Hanbin segera menarik tangan Taehyung dan menyeretnya menuju kelas mereka.

===

Ahjuma, roti bakar coklat satu, ya! Jangan lupa pakai susu!” ucap Hyemi. Sang ahjuma mengangguk lalu pergi untuk membuatkan pesanan Hyemi.

“Terobosan baru, eh? Biasanya rasa stroberi.” Ujar suara lelaki yang begitu dikenal oleh Hyemi.

Hyemi menoleh dan mendapati lelaki tampan berkacamata sedang tersenyum ke arahnya, “Taehyun oppa?

“Tidak memesan roti bakar stroberi?” tanya Taehyun lagi sambil tersenyum manis.

Hyemi menggeleng, “Tadi malam aku tidak sengaja memecahkan toples selai coklat. Dia menangis dan akan memaafkan aku jika aku memakan segala macam makanan yang rasa coklat selama tiga hari. Aku harus melakukannya.”

Taehyun tertawa seraya mengacak rambut Hyemi pelan, “Kau unik.”

Hyemi cemberut karena tidak terima dengan sebutan yang dilontarkan Taehyun, “Aku tidak unik. Aku hanya merasa bersalah.”

Taehyun tertawa seraya menanggapi pernyataan Hyemi, “Apapun yang kau katakan, Hyemi.”

“Roti bakar coklat siap!” ucap seorang ahjuma sambil meletakkan piring berisi roti bakar coklat pesanan Hyemi.

Hyemi menyerahkan uang pas kepada ahjuma itu lalu mengambil pesanan miliknya.

“Kalau kau mau pesan apa?” tanya ahjuma itu pada Taehyun.

“Coklat panas satu,” jawabnya. Sang ahjuma mengangguk sambil berlalu.

Oppa, aku duduk duluan, ya? Lapar.”

Taehyun tersenyum, “Silakan, nanti aku menyusul.”

===

“Hey, Kim Minseok. Kau kenal dengan gadis itu?” tanya seorang lelaki tampan pada sepupunya.

“Gadis yang mana?”

Lelaki itu menunjuk seorang gadis yang sedang memakan roti bakar dengan lahap, ditemani seorang lelaki berkacamata yang sedang mengobrol dengannya.

“Ah, Kim Hyemi. Aku mengenalnya. Dia temanku di klub jurnal. Memangnya kenapa, Sehun?”

Sehun tersenyum simpul pada Minseok, “Apa kau mau mengenalkannya padaku? Aku rasa, aku mulai tertarik untuk mendapatkannya.”

Minseok menyesap jeruk hangat miliknya lalu menatap Sehun, “Kau harus tahu, dia mungkin agak gila atau abnormal. Dia selalu berbicara pada benda mati.”

“Benarkah? Sudah aku duga. Dia memang unik. Aku semakin tertarik.”

Minseok menghela napas, “Sudahlah, Sehun. Sebaiknya kau fokus sekolah dan jangan mengganggu—“

“Kau tak mau mengenalkanku padanya, ya? Ya sudah, aku akan berkenalan dengan dia tanpa bantuanmu,” potong Sehun.

Lelaki itu meraih tas coklatnya lalu pergi meninggalkan Minseok. Minseok hanya menghela napas. Sepupunya yang satu itu memang menyebalkan.

===

Aktifitas murid kelas 2-2 terhenti ketika Jung seongsaengnim—wali kelas sekaligus guru Matematika—memasuki kelas. Namun, kebisingan samar kembali terdengar ketika para murid melihat lelaki tampan yang masuk bersama Jung seongsangnim.

“Selamat pagi, semuanya. Di sebelah saya adalah murid baru pindahan Kanada. Mulai sekarang dia akan menjadi teman baru kalian.”

“Hallo, saya Oh Sehun.” ucapnya datar.

Para murid perempuan bersorak kecil ketika Sehun memperkenalkan diri, sedangkan para murid lelaki hanya mencibir. Mereka merasa tidak ada yang spesial dari Sehun. Mereka masih menganggap Sehun tak lebih tampan dari mereka.

“Silakan duduk di sebelah Taehyung, Sehun. Hanya tempat itu yang tersisa.”

Sehun menatap ke arah Taehyung. Lelaki itu tersenyum lebar sambil menunjuk bangku kosong di sebelahnya. Sehun meracau tak jelas lalu menghampiri bangku Taehyung yang berada di jajaran depan dekat jendela. Walaupun malas, Sehun pun pada akhirnya duduk di sebelah Taehyung.

“Hai, aku Taehyung.”

“Aku sudah tahu,” ketus Sehun.

Taehyung berdehem, “Serpertinya kau kurang ramah. Tapi…. itu tidak masalah, kita akan menjadi sahabat yang dekat!” Taehyung menepuk-nepuk pundak Sehun dengan semangat sambil tersenyum lebar. Sehun hanya menghela napas.

“Kau membuatnya takut, Kim Taehyung,” seru seorang gadis dari belakang.

“Kau lebih baik diam, Kim Hyemi.”

Sehun menengok ke belakang dan mendapati seorang gadis yang kini sedang mencibir ke arah Taehyung. Senyum Sehun pun mengembang karenanya.

===

Rasanya Hyemi ingin sekali membunuh murid baru yang bernama Sehun. Bagaimana dia tidak kesal? Ketika jam istirahat, lelaki itu tiba-tiba menarik lengan Hyemi dengan paksa dan membawanya ke suatu tempat yang tidak diduga oleh Hyemi.

“Sakit! Lepaskan!”

Bagai orang tuli, Sehun tidak mengindahkan teriakan Hyemi. Dia terus menarik tangan Hyemi dan membawanya ke kantin kosong yang ada di halaman belakang sekolah. Tempat yang paling sepi dan paling angker di sekolah itu.

“Kau ini mau apa sebenarnya, huh?” bentak Hyemi sambil melepaskan genggaman tangan Sehun.

Sehun menyeringai. Membuat Hyemi takut. Lelaki itu berjalan mendekati Hyemi. Ia memaksa Hyemi duduk di sebuah bangku yang kotor. Hyemi hanya bisa terdiam dan memperhatikan Sehun yang kini sudah duduk di hadapannya, hanya sebuah meja berkarat yang menjadi jarak mereka. Hyemi pun semakin merinding melihat seringai Sehun yang semakin lebar.

“He-hei, kau…kau mau apa, huh?” tanya Hyemi dengan terbata.

“Aku ingin kau menjadi kekasihku!”

“Kau gila!!”

Sehun tersenyum, “Aku tidak gila. Apakah memintamu menjadi kekasihku adalah hal yang gila?”

“Tidak juga, sih. Tapi—“

“Baguslah. Berarti kau menerima tawaranku.”

“Heh? Tawaran apa?”

“Menjadi kekasihku.”

What? Aku tidak pernah menjawab iya,” tolak Hyemi keras.

Sehun melipat kedua tangan di dada. Lelaki itu menatap Hyemi dengan wajah angkuhnya, “Kau seharusnya bersyukur. Jika menjadi kekasihku, hidupmu akan bergelimang harta. Aku akan memberikan semua yang kau inginkan.”

Senyuman sinis pun langsung menghiasi bibir Hyemi ketika gadis itu mendengar perkataan Sehun. “Heh, orang kaya, kau masih berpikir bahwa semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang, ya?”

“Ya, tentu saja.”

“Kalau kau berpikir seperti itu, berarti kau bodoh. Maaf mengecewakanmu, tetapi aku sama sekali tidak tertarik dengan hartamu, oh ralat, harta orang tuamu!!”

Hyemi lekas berdiri dan hendak pergi dari tempat itu. Namun, Hyemi terjatuh karena Sehun sengaja menyandung Hyemi dengan kakinya. Sehun berdiri dari kursi dan tersenyum kecil melihat Hyemi yang kesakitan. Lutut kanan gadis itu terluka cukup parah.

“Kau memperlakukan perempuan yang menolak cintamu dengan cara ini? Pengecut!!!” Umpat Hyemi sambil menatap Sehun penuh amarah.

Disamping menjawab pertanyaan Hyemi, Sehun lebih memilih kembali bertanya, “Kenapa kau tidak menangis ketika lututmu mengeluarkan banyak darah?”

“Cih, daripada kau menanyakan hal yang tidak penting, lebih baik kau bantu aku berdiri!!” ujar Hyemi kesal sambil mengulurkan tangan kanannya pada Sehun.

Sehun pun meraih tangan Hyemi dan membantunya berdiri. Lelaki itu tersenyum lalu kembali berkata, “Karena aku telah membantumu berdiri, kau resmi menjadi kekasihku mulai hari ini. Tidak ada penolakan, ini hukum mutlak.”

Hyemi menatap Sehun tidak percaya. “Hey, otakmu benar-benar butuh—“

Perkataan Hyemi terpotong karena Sehun tiba-tiba saja mengecup bibirnya dengan singkat dan cepat. Lelaki itu terkekeh melihat ekspresi kaget Hyemi yang tampak lucu di matanya. Sehun berucap, “I miss you, Kim Hyemi. Sampai bertemu lagi.”

Hyemi hanya terdiam dan benar-benar tidak siap dengan apa yang baru saja dialaminya. Setelah Sehun menghilang, gadis itu pun tersadar lalu berteriak, “OH SEHUN, I’LL KILL YOU WITH MY OWN HAND!!!”

===

Taehyung menyunggingkan senyuman ketika menemukan Sehun yang sedang berjalan di koridor. Sambil men-dribble bola, Taehyung berlari dari lapangan basket menghampiri Sehun. Taehyung dengan gesit mengoper bola pada Sehun yang untungnya berhasil Sehun tangkap. Jika tidak, bola itu pasti akan menghantam kaca kelas dan memecahkannya.

Sehun melirik Taehyung sinis, “Maksudmu apa?”

Taehyung berdecak, “Aku hanya menyapamu. Ah, sebenarnya sekalian bertanya. Kau bergabung dalam klub Politik dan Budaya?”

Sehun memantulkan bola sekali lalu menatap Taehyung datar, “Iya. Kenapa?”

“Hanya bertanya.” Senyum Taehyung. Senyuman Taehyung berubah menjadi senyuman jahil, “Mau bertanding basket denganku, anak politik?”

Sehun mendelik lalu melemparkan bola pada Taehyung. Taehyung tampak tidak sigap sehingga bola itu mengenai kepalanya lalu menggelinding ke lapangan basket.

“Berani sekali menantangku,” ketus Sehun. Tanpa meminta maaf, Sehun pun meninggalkan Taehyung.

“Dia benar-benar sadis.” Geleng Taehyung sambil terus mengusap bagian kepalanya yang tertimpa bola.

“Ini bolamu.”

Taehyung hampir saja terjatuh karena kaget. Minda tiba-tiba sudah ada di depannya sambil menyerahkan bola basket milik Taehyung. Lelaki itu tersenyum kaku lalu mengambil alih bolanya dari tangan Minda. “Terima kasih.”

Minda tersenyum, “Mau mengajari aku basket?”

Taehyung memandang Minda seakan gadis di depannya ini mengatakan hal yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Minda menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Taehyung sehingga lelaki itu sadar. “Oh, mengajari basket, ya?” kikuk Taehyung.

Minda terkekeh lalu mengambil bola basket dari tangan Taehyung, “Setelah ini kelas kita bebas. Han seongsangnim pergi ke Jepang sehingga tidak bisa masuk. Bagaimana jika kau mempergunakan waktu kosong itu untuk mengajariku basket?”

Taehyung menggaruk kepalanya bingung. Seperti biasa, mulutnya selalu saja kaku ketika berhadapan dengan gadis yang satu ini.

===

“Kau sebenarnya mencari apa, Kim Jaejoong?”

Changmin memperhatikan gerak-gerik bosnya yang sedang mengacak-ngacak laci meja kerja. Jaejoong menatap Changmin lesu, “Kau lihat kotak kecil berwarna ungu keemasan? Yang kemarin aku beli di Paris.”

Changmin mengerutkan keningnya, “Cincin yang akan kau berikan pada Lucile?”

“Iya! Benar!” sumringah Jaejoong.

Changmin menepuk jidatnya. Dia menghela napas lalu menunjuk tangan Jaejoong, “Itu. Kau sedang memegangnya.”

Jaejoong mengangkat tangan kanannya, “Ah!! Ketemu! Changmin-ah, ayo kita pergi!”

Changmin menggeleng pelan sambil mengikuti langkah Jaejoong. Mereka menaiki lift. Ada dua karyawan yang tersenyum dan memberikan hormat pada Jaejoong di dalam lift tersebut.

“Jadi, sekarang kita mau kemana?” tanya Changmin.

“Ke rumah Lucile. Aku akan mengajaknya kencan. Kau harus ikut.”

“Heh? Kau gila, Joong-ah? Masa kencan mengajakku? Tidak mau, aku tidak mau. Pergi saja sendiri.”

Jaejoong menghela nafas, “Hanya mengantarku ke rumahnya lalu mengantarkan kami ke restoran. Setelah itu kau menunggu sebentar, lalu antar kami pulang. Gajimu akan aku naikkan.”

Changmin mengerang, “Aku bukan supirmu. Sekali tidak mau, aku tetap tidak mau.”

Kedua karyawan lain yang ada di sana hanya terkekeh melihat tingkah mereka berdua. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Changmin dan Jaejoong merupakan sahabat baik sejak SMA. Maka dari itu, hubungan mereka tidak terlihat seperti bos dan sekertarisnya.

===

Lucile memainkan ponselnya dengan kesal. Memutar-mutar benda tipis itu tanpa tahu tujuan sebenarnya. Dia menopang kakinya lalu membuka slide ponselnya. Tidak ada panggilan masuk ataupun pesan singkat. Dia mengerucutkan bibirnya dan melempar ponselnya ke meja.

“Kau lebih baik mengubunginya duluan, Lu. Siapa tahu dia lupa dengan janjinya.”

Lucile menyipitkan matanya pada Yejin yang sedang mengerjakan sesuatu di tablet miliknya. “Aku tidak mau. Masa aku harus terus mengingatkan dia bahwa kami punya janji?”

“Kau tahu sendiri sifatnya.”

“Iya, tapi dia seharusnya tidak memelihara sifat buruknya itu.”

“Kalau begitu apa boleh buat, kau harus lebih bersabar menunggu.”

Lucile menghentakan kakinya, mengambil kembali ponselnya dan bangkit dari sofa. Gadis itu berjalan menghampiri Yejin yang sedang duduk di tempat tidurnya.

“Dia terlalu lama, mungkin sebaiknya aku tidur.”

Lucile merebahkan tubuhnya di sebelah Yejin dan mulai memejamkan matanya. Tepat setelah itu ponsel Lucile bergetar. Dia langsung mengangkat panggilan tersebut.

“Kau lama sekali. Di mana?”

Yejin menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu.

“Aku di rumah Yejin. Aku sudah bilang padamu kemarin. Ughhh~ baiklah! cepat datang!” Lucile menutup sambungan dan menghela napas dalam. “Dia malah menjemputku ke apartemen.”

Yejin tertawa kecil, “Kau harus maklum, Lu. Kau tahu dia pelupa.”

===

Setelah Jaejoong menjemput Lucile dan membawanya kencan, Yejin langsung duduk di meja kerjanya. Dia meregangkan tubuhnya sesaat lalu membuka sebuah map yang berisi novel karangan penulis pemula yang harus ia periksa sebelum dinyatakan layak terbit atau tidak oleh perusahaan tempat ia bekerja. Novel itu harus selesai diperiksa malam ini juga. Belum sempat Yejin membaca baris pertama novel tersebut, bel pintu kembali berbunyi. Yejin mendesah kecil lalu bangkit untuk membuka pintu.

Nuna!!” ucap seorang lelaki dengan nada ceria begitu Yejin membukakan pintu untuknya.

“Hanbin? Ada apa malam-malam ke rumahku?”

Hanbin terkekeh lalu masuk ke dalam rumah, lelaki itu berjalan kecil menuju meja kerja Yejin yang memang tak jauh dari ruang tamu. Yejin menutup pintu rumah lalu menghampiri Hanbin yang sedang melihat pekerjaannya.

“Harus kerja lembur, ya?” tanya Hanbin dengan nada kecewa. Hanbin menatap Yejin dalam, “Aku mengganggu?”

Yejin tersenyum kecil, “Tidak sama sekali. Lagipula itu pekerjaan mudah, beberapa jam mungkin selesai.”

Hanbin mengangguk senang, “Nuna lanjutkan bekerja saja. Aku akan memasak sup ikan kesukaan nuna. Nuna pasti belum makan.” Semangat Hanbin sambil menunjukan kantong kresek hitam yang sedari tadi dia bawa. Yejin tak sadar jika Hanbin membawa kantong itu, kantong yang mungkin berisi bahan makanan.

“Terima kasih, Hanbin.”

Hanbin hanya tersenyum lalu langsung berjalan riang menuju dapur. Yejin yang melihat itu terkekeh kecil kemudian kembali duduk di meja kerjanya. Wajahnya kembali masam ketika melihat berkas novel yang masih harus dia periksa.

===

Malam hari ini terasa begitu dingin. Taehyung berlari menghampiri Hyemi yang sedang berdiri di sebuah halte bus. “Hey, lebih baik kau segera pergi ke kedai Seo ahjuma. Taehyun hyung menunggumu di sana. Aku sudah merencanakan kencan yang sempurna untukmu!!!”

“Benarkah?” tanya Hyemi berbinar.

Taehyung mengangguk, “Tentu saja. Cepat hampiri dia. Dan ingat, jangan berbasa-basi, kalian sudah lama saling mengenal dan seluruh warga sekolah juga tahu bahwa kalian dekat. Jadi, langsung nyatakan saja perasaanmu.”

“Tapi—“

“Tidak ada tapi. Katakan sekarang atau tidak selamanya!”

Hyemi mengangguk mantap, “Doakan aku!”

Hwaiting!!”

Hyemi merapatkan jaketnya lalu berlari kecil menuju kedai Seo ahjuma yang tak jauh dari halte.

“Semoga berhasil, Hyemi!!! Dan, hey, jangan lari, lututmu akan semakin parah!!”

Hyemi yang mendengar teriakan kakak kembarnya itu menoleh dan tersenyum kecil, memberitahu bahwa ia tidak apa-apa. Taehyung pun membalas senyuman adiknya yang kini sudah kembali berlari. Setelah Hyemi menghilang dari pandangannya, dia mengusap-ngusap kedua tangan dan berbalik pergi.

“Huaaa!!!”

Lelaki itu terlonjak kaget ketika mendapati seseorang yang ada di hadapannya.

“Ini aku, Taehyung-ya!.”

Taehyung menghembuskan napas lega, “Kau persis setan, Hanbin. Bukankah kau bilang tidak bisa mengantar Hyemi? Urusanmu sudah beres?”

Hanbin mengangguk, “Yep. Oh, hey, kau membiarkan Hyemi menemui Taehyun hyung sendirian? Bagaimana bisa? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya? Ini sudah malam.”

“Ck, kau tenang saja. Taehyun hyung pasti mengantar Hyemi pulang. Taehyun hyung orang baik.”

“Iya, itu menurutmu. Bagaimana kalau tidak?”

“Kau terlalu berlebihan, Hanbin. Percayalah, Hyemi akan pulang ke rumah dengan selamat.”

“Oke oke. Tapi, setelah ini kita kemana? Ini kan Sabtu malam, besok kita tidak sekolah. Bagaimana kalau jalan-jalan?”

Taehyung menjentikkan jarinya, “Ide bagus. Kita pergi ke klub malam saja.”

Hanbin menoyor kepala Taehyung, “Kita belum cukup umur, bodoh!”

Taehyung mengusap kepalanya, “Aku hanya bercanda.”

Hanbin mendelik, “Kita ke game center saja, bagaimana?”

“Oke, kau yang bayar!”

“Patungan!” ucap Hanbin sambil menampakkan aura seramnya.

“Baiklah…”

===

“Taehyun oppa?”

“Oh, Hyemi. Duduklah.”

Hyemi dengan hati-hati duduk di samping Taehyun yang terlihat sudah menghabiskan es krim miliknya.

“Mau pesan rasa apa? Coklat?”

Hyemi menggeleng cepat, “Stroberi.”

Taehyun memanggil pelayan lalu memesankan es krim untuk Hyemi, “Toples yang kau pecahkan sudah memaafkanmu?” canda Taehyun.

Hyemi menggeleng, “Aku melanggar janji. Aku sedang butuh stroberi.”

Taehyun mengerutkan keningnya. Gadis di sampingnya ini terlihat gugup, “Ah, iya, kata Taehyung kau akan mengatakan sesuatu padaku. Apa itu?”

Hyemi menelan ludahnya. Dia benar-benar gugup sekarang. Namun, dia harus mengatakannya.

“Kau sakit?”

Taehyun meraba kening Hyemi, membuat gadis itu semakin panik sehingga ia cepat berkata, “Oh-uhm, aku tidak apa-apa.”

Taehyun tersenyum simpul, “Jadi apa yang ingin kau katakan?”

Hyemi menghela napasnya, dia lalu memberanikan diri untuk menatap Taehyun, “Aku… menyukaimu, oppa.”

“Apa?”

“Aku menyukaimu!” ucap Hyemi lebih keras sambil menutup matanya.

“Aku juga menyukaimu.”

Hyemi sontak membuka matanya mendengar jawaban Taehyun. Dia menatap Taehyun dengan penuh harapan.

“Sebagai adikku. Aku menyukaimu sebagai adikku. Kau sudah aku anggap sebagai adik kandungku, Hyemi. Maafkan aku,” ucap Taehyun terlihat bersalah.

Hyemi terdiam lalu menatap Taehyun sayu, “Kau tidak marah padaku, kan?”

“Kenapa marah?”

“Karena aku menyukai oppa.”

Taehyun tertawa kecil, “Tentu saja tidak.”

“Syukurlah,” ucap Hyemi mencoba tersenyum.

Seorang pelayan datang dan menyimpan es krim stoberi pesanan Hyemi sambil berlalu. Hyemi mulai menyantap es krim tersebut dengan antusias. “Oppa,” Hyemi menyikut lengan Taehyun.

“Mmm?”

Oppa yang bayar, ya? Aku tidak membawa uang.”

Taehyun terkekeh dan mengacak rambut Hyemi, “Boleh.”

“Sekalian antar aku pulang. Atau jika tidak, kasih aku ongkos untuk naik bus.”

===

Lampu merah membuat mobil mewah Sehun terhenti. Dia menyipitkan matanya ketika melihat seorang gadis yang dikenalnya sedang menunggu bus seorang diri di sebuah halte.

“Minseok, bukankah itu Hyemi?” tanya Sehun

Minseok yang duduk di sebelah Sehun melihat ke arah yang ditunjukkan oleh sepupunya, “Ya, dia Hyemi.”

Sehun memiringkan kepalanya, “Sepertinya ada masalah dengannya.”

Minseok menghela napas. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan Sehun saat ini.

Sehun menepuk pundak supirnya dari belakang lalu berkata, “Batalkan pertemuan dan putar arah ke halte bus!”. Minseok memejamkan matanya. Ucapan Sehun sama persis dengan apa yang baru saja dia prediksi.

== Finding Love ==

Preview chapter 2: That Creepy Boy

“Kubilang juga apa. Sekarang Hyemi tersesat. Kita harus bagaimana?”

Taehyung membalas menoyor Hanbin, “Tentu saja mencarinya. Hal itu lebih baik dari pada mengomel tak jelas.”

“Jika kau ingin menghinaku, maka pergilah.”

“Minum dulu, ini bisa menghangatkan tubuhmu,” Sehun menyodorkan coffe cup di depan wajah Hyemi.

“Aku tidak mau.”

“Keadaanmu sudah baikan?”

Hyemi mengibaskan tangannya sambil menatap Hanbin, “Kau pikir aku sakit? Tentu saja aku baik-baik saja. Kalian jangan terlalu berlebihan.”

“Kau akan bertemu Taehyun hyung di sekolah, kau tidak apa-apa?” tanya Taehyung yang membuat Hanbin menatapnya sebal.

***

How is it? Anehkah? Gajekah? Hahaha ini baru perkenalan, belum memasuki konflik yang sesungguhnya. Dan…. cast di ff ini cukup banyak, jadi yang belum baca chapter cast and characters, diharapkan baca chapter itu terlebih dulu agar tidak pusing. Akhir kata, seperti biasa, saran dan kritik yang membangun sangat aku terima. Mohon tinggalkan jejak setelah membaca ini. Thanks ^^

 

9 thoughts on “Finding Love [Chapter – 1] What Happened?

  1. Pingback: Finding Love [Chapter 5] Beginning of All | INDO FANFICTIONS

  2. Pingback: Finding Love [Chapter – 4] Hurt | INDO FANFICTIONS

  3. Pingback: Finding Love [Chapter – 3] Heartbreaker | INDO FANFICTIONS

  4. Pingback: Finding Love [Chapter – 2] That Creepy Boy | INDO FANFICTIONS

  5. Apa sehun masa lalu hyemi?? Kusuka bgt karakter kim bersaudaraaa. Jgn lama2 pokoknya post chapter 2nya yaaa. Fighting author nim~~~

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s