(CHAPTER) LUCKY (6th)

lucky

Poster by Ychvn

Title : LUCKY (Chapter 6) || Author : DessyDS || Genre : Romance, Sad, Family, Friendship, Drama || Rating : PG – 17 || Leght : Chapter || Main Cast : Kim Nara (OC) & Luhan || Other Cash : Find By Your Seft ^^

Disclaimers               :           Semua cast milik Tuhan dan orang tua masing – masing.

Author Note : Semua cerita ini murni dari pemikiran saya sendiri. Jika ada kesamaan itu tidak kesengajaan. ^^ so don’t be siders and plagiator.

Happy Reading! ^^

~~~~~~~~~~~~
<p style="text-align: justify;"><em>Prev</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Eoh ge. Waeyo?” ujar Nara sambil mengusap lembut kepala Luhan</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Luhan tidak menjawab pertanyaan Nara. Nara tau jika Luhan sedang banyak pikiran. Jika Luhan mempunyai banyak pikiran dia akan menjadi manja ke Nara. Dan salah satu sikap Luhan adalah seperti ini.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ge waeyo? Gwenchana?” tanya Nara yang bingung dengan sikap namja nya itu</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Luhan hanya menjawabnya dengan gumaman. Nara hanya mengulas senyuman mendengar itu. Nara membiarkan Luhan tidur di tempat nya. dia tidak ingin mengusik Luhan. Belakangan ini Namja itu terlihat murung dan memikirkan sesuatu hal. Tetapi ketika Nara menanyakannya Luhan tidak akan mengatakannya. Dia hanya akan mengatakan kalau dia baik-baik saja dan bisa menyelesaikannya sendiri.</em></p>
<p style="text-align: justify;">~~~~~~~~~~

Chapter 6

Ponsel Luhan berdering. Luhan merogoh saku celananya dan melihat siapa yang meneleponnya. Panggilan itu dari Mama nya yang berada di Beijing. Luhan membuang nafasnya kasar. Dia ingin pergi dari hadapan Nara. Tapi Nara melarangnya. Nara memintanya untuk tetap di samping nya. Luhan mengangkat panggilan dari telepon itu dan benar saja Nyonya Lu yang berada di Beijing sudah mengomel duluan.

“Kenapa kamu tidak membalas pesan dari mama? Apa kamu sedang berkencan dengan Nara?”

MaDuì bù qǐ. Aku tidak tau harus menjawab apa atas permintaan mu. Jadwal ku di sini masih padat dan aku belum bisa pulang ke Beijing.”

“Mama tidak ingin mendengar alasan mu Lu! Pulang lah lusa. Mama sudah meminta izin ke agensi kamu. Tidak ada tapi-tapian!”

Baru Luhan akan mengelak perkataan Nyonya Lu tapi hubungan telepon itu sudah terputus. Luhan megeraskan rahangnya kesal. Dia selalu benci ketika Mama nya memaska nya. Dia juga benci ketika dia harus menjadi boneka mama nya.

Nara yang masih bingung dengan sikap Luhan akhirnya mendekati Luhan yang berada di tepi tempat tidur.

“Waeo Ge? Apa Mama menyuruh kamu pulang ke Beijing?”

Luhan menjawab pertanyaan Nara masih dengan gumaman lagi. Nara yang melihat wajah Luhan seperti sedang menahan emosi akhirnya membungkam mulutnya. Nara tau jika Luhan sedang dalam keadaan mood yang tidak baik. Luhan membuang ponsel nya sembarangan di tempat tidur Nara. Dia berjalan ke kamar mandi lagi. Untuk kali ini dia mengacuhkan Nara yang membuat tanda tanya besar di kepalanya.

Nara yang melihat ponsel Luhan mengambilnya dan berniat menaruhnya di atas nakas. Tapi ponsel itu bergetar tanda masuknya pesan. Nara membuka pesan tersebut dan Nara tebelalak kaget ketika membaca pesan itu.

“Mama sudah membelikan tiket pesawat mu lusa ke Beijing dan meminta izin ke agensi kamu. Mama tidak ingin penolakan Luhan. Dan akhirilah hubungan kamu dengan Nara. Mama sudah menjodohkan kamu dengan anak teman Mama. Mama menunggu mu Lu.”

Nara mengigit bibirnya menahan tangisan yang akan keluar. Kenapa Luhan menyimpan ini semua? Jika memang keluarga nya yang berada di Beijing tidak merestui hubungan mereka, Nara pasti akan menerimanya. Nara merasa di sini dia adalah yeoja yang jahat karna telah merubah anak dari keluarga Lu.

Luhan keluar dari kamar mandi dan melihat Nara yang memegang ponsel nya berlari dan mengambil ponselnya dari tangan Nara.

“Apakah Gege mengizinkan kamu untuk membuka pesan Gege?” ujar Luhan dengan emosi yang sudah tidak bisa di tahan lagi

“Mi… Mianhe.” Nara hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin melihat wajah Luhan. Dia selalu takut dengan wajah Luhan yang emosi nya telah meluap.

Luhan yang mendengar isakan keluar dari Nara langsung memeluk Nara. Membiarkan Nara menangis dan membasahi bajunya. Nara meremas baju belakang Luhan. Pikirannya sekarang kalut. Dia tidak ingin hubungannya dengan Luhan hanya sampai disini. Tapi apa yang harus dia perbuat? Mengikuti Luhan ke Beijing? Itu tidak mungkin. Bagaimana dengan pekerjaan nya? dia tidak ingin mengecewakan Mahasiswa dan pasiennya.

“Uljima. Gwenchana chagia-ya. Gege akan berusaha untuk hubungan kita. Gege yakin Baba akan membantu Gege dari perjodohan itu. bukankah Yeye sudah mengatakan dia akan membantu kita jika suatu saat nanti hubungan kita ada yang melarang? Gwenchana, lusa Gege akan membujuk mama dan Gege janji tidak akan mengecewakan kamu. Ani bukan janji tapi Gege akan membuktikannya.” Ujar Luhan sambil mengelus pelan punggung gadisnya

Gadis itu perlahan merenggangkan pelukannya. Awalnya kepala Nara masih tetap menunduk menyembunyikan wajahnya yang masih basah oleh air matanya. Tapi dengan lembut, Luhan menaikkan pandangannya. Luhan mengangkat dagu gadis didepannya dengan lembut. Luhan menghapus air mata Nara mengungakan jari nya. Mempertemukan kedua matanya dengan bola mata coktat milik Nara. Luhan mengunci pandangan Nara.

Nara menatap Luhan lekat-lekat. Suasana hening menyelimuti keduanya. Sampai ahkirnya, Luhan membuat nafas keduanya saling bertemu. Pria itu mulai memejamkan matanya begitu juga yang dilakukan Nara. Luhan sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia mulai menciptakan pergerakan kecil dan lembut dibibir gadis itu. Semakin lembut dan membuat Luhan semakin gila. Nara membalas perlakuan Luhan.

Nara menikmati permainan mereka kali ini. emosi, sedih dan bahagia bercampur di sana. Perlahan-lahan Nara mengalungkan tangannya dibelakang leher Luhan. Luhan tersenyum di sela-sela ciuman mereka. Pria itu mendorong pelan tubuh gadisnya diatas tempat tidur. Luhan yang merasa permainan nya tidak di tolak oleh gadisnya semakin memperdalam permainannya.

Nara yang mengetahui jika prianya sudah tidak bisa menahan nafsu akhirnya menyudahi kegiatan mereka. Nara melepaskan pertautan mereka. Ada rasa kesal yang menyelimuti Luhan. Mereka berdua mengatur nafas masing-masing. Setelah mereda Luhan mengecup dahi Nara, kedua mata Nara dan Hidungnya. Nara mengecup sekilas bibir pria nya itu.

“Aku tidak akan memberikan semuanya sebelum aku menikah.” Ujar Nara dengan tatapan seringaiannya

Ada rasa kecewa yang menghujam Luhan. Tetapi apa boleh buat, gadisnya selalu seperti itu jika nafsunya sudah naik. Padahal gadisnya selalu menggoda dia untuk melakukan hal yang lebih.

“Kajja, kita minta bantuan Yeye.” Ujar Luhan dengan nada kecewanya

“rapikan dulu rambut dan pakaian mu. apa kamu mau di anggap yang tidak-tidak oleh Yeye?”

Luhan hanya tersenyum melihat sikap Nara. Mereka merapikan pakaian dan rambut mereka setelah itu Luhan menggenggam tangan Nara. Nara membalas genggaman itu, tapi

“Auuuu…” ringis Luhan yang merasa perih di tanggannya

“Eoh ge waeyo? Apa aku…… Yak! ini kenapa?” ujar Nara yang melihat tangan Luhan yang memar

“Gwenchana. Hanya tidak sengaja……”

“kita obati ini dulu baru ke ruang kerja Yeye.” Potong Nara yang tidak ingin mendengar perkataan Luhan

“Ani gege gwenchana. Ini bisa nanti. Yang penting adalah masalah hubungan kita.”

Nara memberikan tatapan death glarenya dan itu berhasil membungkam mulut Luhan. Nara mengambil obat dan mengoleskan obat itu pada tangan Luhan yang memar. Luhan yang memperhatikan Nara hanya mengulas senyumannya. Dia selalu berterima kasih ke Tuhan yang telah mempertemukan dia dengan yeoja ini.

Di sebuah ruang yang terlihat elegan dan rapi seorang pria paruh baya seperti baru saja menerima panggilan dari Beijing. Anak buah nya mengatakan jika perusahaan di Beijing pendapatannya sedang menurun. Dia selalu pusing jika sudah menghadapi masalah seperti ini. dia selalu ingin menyuruh cucu dan anak nya untuk melanjutkannya. Tetapi dasar semua cucu dan anaknya adalah orang yang selalu ingin mengejar mimpi-mimpinya jadi dia tidak bisa berbuat apapun. Ya dia adalah Tuan Kim, Yeye dari Kim Nara dan Baba dari Appanya Nara.

Dia selalu meminta Nara untuk melanjutkan perusahaan nya, tetapi Nara sudah mengambil jurusan yang salah ketika dia kuliah dulu. Meskipun Tuan Kim yakin cucunya bisa mengatasi perusahaan yang telah dia dirikan. Tetap saja Nara selalu beralasan jika dia tidak pantas dan dia tidak ahli dalam bidang perusahaan yang Yeye nya dirikan. Tuan Kim membuang nafasnya kasar.

Tok tok tok

“Masuklah” ujar lelaki paruh baya itu

Terlihat 2 orang yang memasuki ruangan tersebut. Tuan Kim yang melihat kedua insan itu mengulas senyum nya. dia tau apa yang ingin dilakukan oleh dua insan ini.

Yeye Ni hao? Apa kami mengganggu mu?” ujar tamu laki-laki itu yang menghampiri Tuan Kim

Hao. Wae? Apa ada hal penting yang ingin kalian katakan?” ujar Tuan Kim kepada dua insan itu

“ah ne. apa kami mengganggu Yeye? Jika Yeye masih sibuk kami bisa mengatakan nya lain waktu.” Ujar Nara yang melihat wajah kacau dari Yeye nya. ya dia berhasi membaca pikiran dan apa yang terjadi dengan Yeye nya barusan. Dia tau jika Yeye nya sedang dalam keadaan yang tidak baik.

“Anio. Yeye Gwenchana Nara a. apa yang ingin kalian katakan? Apa mama Luhan melarang hubungan kalian?” Ujar Tuan Kim dengan wajah usil nya

Jakpot! Tepat sasaran sekali kali ini. kedua insan itu terbelalak mendengar penuturan dari Tuan Kim.

“Ah ternyata Yeye benar. Dan lusa kamu harus pulang ke Beijing kan dan Mama kamu mengatakan jika dia akan menjodohkan mu. benar begitu?”

What?! Kedua insan itu semakin terbelalak mendengar ucapan Tuan Kim. kenapa dia bisa tau? Oh ayolah apa dia yang merencanakan ini?

“jangan berfikir jika Yeye yang merencanakan ini Kim Nara.”

“M…Mwo?” ujar Nara terbata-bata

“Buang semua pikiran negative mu tentang Yeye Nona Kim.” ujar Tuan Kim yang memperlihatkan death glarenya

“Yeye akan berusaha untuk ini. kalian tenang saja. Tetap menjalin hubungan seperti biasa. Dan kamu Luhan, lusa pulanglah ke Beijing. Yeye yakin Mama kamu tidak akan berani menjodohkan kamu dengan wanita itu jika Mama kamu tau Kim Nara adalah cucu dari Kim Si Wan yang notaben nya adalah direktur dari perusahaan yang di pegang oleh Baba mu sekarang. Dan kamu Kim Nara, mulai besok kamu harus mengurangi tugas kedokteran dan berhentilah menjadi dosen. Dengan IQ 180 tidak mungkin kamu tidak bisa menjalani perusahaan yang Yeye dirikan. Jika untuk kali ini kamu membantah, Yeye tidak yakin hubungan kalian akan baik-baik saja.” Ujar Tuan Kim dengan percaya diri dan memperlihatkan seringaiannya

Nara yang melihat itu menatap Yeye nya dengan tatapan kenapa orang tua ini menjadi mengerikan? Kedua insan yang berbeda jenis itu hanya bisa membungkam mulutnya. Untuk kali ini mereka benar-benar tidak bisa melawan perkataan dari Tuan Kim. jika mereka membantah mungkin hubungan mereka akan selesai sampai disini.

“kalau begitu kalian boleh kembali ke kamar kalian. Dan kamu Luhan, pulanglah ke dorm. Siapkan pakaian mu untuk lusa.” Ujar Tuan Kim dengan nada perintah –mungkin-

“ani. Aku akan berada disini untuk hari ini. aku akan mengemasi barang ku besok Ye.” Setelah lama membungkam mulutnya akhirnya Luhan membuka pembicaraannya.

“ah… terserah kalian mau bagaimana. Dan kamu Nona Kim, nanti malam setelah selesai makan malam kamu harus menemui ku di ruang biasa.”

“Ne Ye. Kalau begitu aku dengan Luhan Gege permisi ke kamar. Aku harus mengurus Baby Eunho.”

Nara berdiri dan menarik Luhan yang masih mematung di tempat duduknya.

Setelah kedua insan itu keluar Tuan Kim mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang. Tidak perlu menunggu lama sambungan itu telah terhubung.

“Saya lusa akan ke Beijing untuk mengurus semuanya. Dan hubungi sekretaris Kwon untuk membelikan ku 2 tiket pesawat.” Ujar Kim Si Wan dengan tegas. Sedangkan yang di telepon hanya mengiyakan dan menjalankan perintah dari Tuan nya.

Para member EXO K baru pulang dari tugas mereka. Dan tentu saja itu sangat melelahkan. Tapi saat Kai akan kekamar dia mencium wangi masakan yang membuat perut nya memberontak minta di isi. Kai melupakan kelelahannya. Dia berjalan ke dapur. Dan Bingo di sana sudah ada Kim Nara ahjjuma yang memasak untuk member EXO. Nara dan Luhan memang sedang berada di dorm EXO karena Luhan ingin menyusun bajunya untuk keberangkatannya ke Beijing besok. Menurut Kai seorang Kim Nara sudah seperti ahjjuma yang memasak untuk anak-anak tuan nya. dan masakan dari Kim Nara Ahjjuma itu selalu bisa Kai habiskan sendiri.

“Ahjjuma, apa yang kamu masak? Dan bagaimana kamu bisa di sini?”

“Yak! Seenaknya saja Oppa memanggilku Ahjjuma. Kamu tidak akan mendapat jatah makanan ini Kkamjong!” Ujar Nara dengan kesal. Siapa coba yang tidak kesal jika di panggil Ahjjuma. Padahal niat Nara baik memasakkan mereka makanan kesukaan mereka.

Kai yang melihat perubahan wajah Nara itu bergidig ngeri melihatnya. Dan apa tadi kata Nara, dia tidak mendapat jatah makan malam ini? oh ayolah itu akan membuat seorang Kim Jong In merengek seperti anak kecil yang berusaha minta ice cream ke Eommanya.

“Ah Noona jebal, jangan seperti itu. aku ingin makan masakan mu..”

“Mwo? Noona? Yak! Kim Jong In aku bukan Noona mu dan kamu itu lebih tua dari aku.”

“Kau akan menjadi istirnya Luhan Hyung, jadi seharusnya aku memanggilmu Noona bukan Nara. Lagian aku lebih suka memanggilmu Noona dari pada Nara. Karna kamu seperti Noona ku.”

Luhan yang mendengar jika gadisnya sedang ribut di dapur akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur melihat apa yang terjadi.

“Kai a, apa yang kamu lakukan disini?”

“ah Luhan Hyung, Nara Noona tidak akan memberiku makan malam.”

“Noona? Kenapa kamu memanggil dia Noona? Pergilah bersih-bersih Kai. Dia sedang dalam mood tidak baik.” ujar Luhan yang menyeret Kai keluar dari dapur

Luhan kembali ke dapur dan melihat Nara sudah melepaskan apron dan makanan yang Nara masak telah tersaji di meja makan.

“Eoh Ge kamu sudah selesai packing?” ujar Nara yang menyadari kehadiran Luhan

“sudah. Tadi kamu dengan Kai kenapa eoh?”

“ah itu. sudahlah jangan bahas tentang Kai. Aku ingin pulang sekarang.” Ujar Nara dengan wajah kesal

Luhan yang mengetahui jika mood Nara semakin buruk akhirnya memutuskan untuk mengikuti gadisnya dari belakang. Dia merutuki Kai yang telah membuat Nara menjadi seperti ini. sedangkan Nara, dia tidak tau kenapa dia bisa seperti ini. dia merasa hari ini adalah hari terburuk baginya. Dan Kai datang mengganggunya yang sedang memasak. Itu berhasil membuat mood nya bertambah buruk.

Nara dan Luhan sudah sampai di rumah Kim. Luhan hanya bisa membungkam mulutnya ketika melihat sikap Nara yang menurutnya ‘mengerikan’. Mungkin Nara dimasuki oleh hantu penghuni dorm yang selalu di takuti oleh Nara ketika ingin ke dorm mereka. Jika Luhan mengingat itu maka Luhan akan merinding memikirkannya dan melihat gadisnya.

Tidak hanya Luhan yang takut dengan sikap Nara kali ini. semua Kim Family’s memandang Nara dengan tanda tanya besar di kepala. Ketika makan malam berlangsung seorang Kim Nara tidak biasanya makan seperti itu. tetapi tidak dengan Halmoni Nara. Dia sama seperti Nara bisa melihat masa depan dan membaca pikiran orang. Dan salah satu masa depan yang berhasil dia lihat adalah masa depan dari Kim Nara. Dia tau apa yang menyebabkan cucu dari anak perempuan nya –Eomma Nara- seperti itu.

Sebenarnya Nara mengizikan Luhan pergi ke Beijing jika itu mulutnya yang mengatakannya. Tidak dengan ‘hatinya’ dia merasa ada sesuatu yang menganjal ketika dia mengijinkan prianya pergi dari dia. Oh ayolah Nara, bukankah kata Yeye hubungan kalian akan baik-baik saja? Nara menepis semua pikiran yang merusaki otaknya.

Sekarang dia berada di ruangan yang terlihat elegan dan nyaman. Tapi tidak untuk kali ini. Nara merasa hawa ruangan itu dingin, meskipun pendingin ruangan itu normal. Nara menghampiri Yeye nya yang duduk di atas kursi kebesarannya. Oh tentu saja Nara menakuti Yeye nya ketika dia bersikap dingin begini. Meskipun Nara sedang dalam mood yang tidak baik tetap saja dia takut jika Yeye, Haraboeji atau Appa nya sudah marah atau wajah mereka berubah.

“Kita akan berangkat ke Beijing juga besok. 2 jam setelah keberangkatan Luhan. Tidak ada penolakan Nona Kim. kamu harus membantu Yeye mengurusi perusahaan di Beijing yang sedang terancam.”

“tapi…”

“maaf nona Kim, tidak ada tapi-tapian!” potong Kim Si Wan

Itu memang sudah menjadi rencananya untuk hubungan cucunya dan urusan perusahaannya. Dia tau jika Nara bisa mengatasi masalah perusahaannya kali ini.

Ada rasa kecewa dan bahagia dalam diri Nara. Dia tidak tau kenapa mood nya seperti ini. seharusnya dia berterima kasih ke Yeye nya karna membantu hubungannya. Tapi ada perasaan sesak jika mengingat perjodohan Luhan dengan seorang wanita yang Nara tidak tau siapa orang itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Tapi kedua insan yang berada di kamar berwana baby blue bercampur putih itu masih enggan untuk membuka mata mereka. Gadis yang tidak sengaja terbangun itu terbelalak kaget ketika melihat jam yang bergantung manis di dinding kamar nya.

Dia buru-buru membangunkan prianya yang masih bergelut dengan selimutnya. Mereka berdua memang sudah sering tidur bersama. Tetapi mereka hanya TIDUR.

Garis bawahi kata TIDUR. Jangan berpikiran yang macam-macam, karna kalian tau sendiri bagaimana tegas nya seorang Kim Nara.

“Oppa irreona. Apa kamu lupa jam penerbanganmu?”

Hanya gumaman yang di dapat oleh Nara. Prianya selalu malas bangun jika masih terlalu pagi seperti ini.

“Oppa irreona. Tidak konyol jika kamu ketinggalan pesawat.”

Luhan yang merasa jika gadisnya cerewet tidak seperti biasanya akhirnya membalikkan badannya dan menempelkan bibirnya di bibir gadisnya. Nara hanya bisa membelalakan matanya atas sikap Luhan. Hal itu memang sudah biasa Luhan berikan tetapi dia selalu merasa belum siap jika Luhan mencium secara tiba-tiba.

Luhan yang merasa tidak ada penolakan akhirnya mulai menciptakan pergerakan kecil dan lembut dibibir gadis itu. Semakin lembut dan membuat Luhan semakin gila. Nara membalas perlakuan Luhan. Mungkin pagi ini adalah pagi yang panas untuk mereka.

Nara yang mengingat tujuan awalnya akhirnya memutuskan pertautan itu. ada rasa kecewa yang melanda Luhan.

“kita tidak bisa melanjutkannya. Kamu harus bersiap-siap kebandara.”

“apa kamu benar-benar ingin gege pergi?” Luhan mengeratkan pelukannya. Ada rasa tidak rela jika harus meninggalkan gadisnya dengan keadaan yang seperti ini

“Gwenchana. Aku percaya sama kamu. Aku yakin kamu bisa membuktikan nya untuk mempertahankan hubungan kita.” Ucap Nara sambil mengelus lembut pipi prianya. “mandilah. Aku akan menyiapkan pakaian dan sarapan mu.” Sambung Nara

Nara hanya membersihkan wajah dan menyikat giginya. Setelah selesai Nara berjalan ke dapur miliknya dan mulai memasak makanan kesukaan Luhan. Luhan memang tidak tau jika Nara akan ke Beijing bersama Yeye nya. mereka menyimpan ini dari Luhan. Karna Nara mengetahui satu hal dari Halmoni nya. Nara hanya fokus pada masakannya. Dia menepis semua pembicaraan dengan Yeye nya semalam.

*flasback

“Kita akan berangkat ke Beijing juga besok. 2 jam setelah keberangkatan Luhan. Tidak ada penolakan Nona Kim. kamu harus membantu Yeye mengurusi perusahaan di Beijing yang sedang terancam.”

“tapi…”

“maaf nona Kim, tidak ada tapi-tapian!” potong Kim Si Wan

“tapi kenapa aku harus ikut ye?”

“ada satu hal yang kamu harus ketahui tentang Luhan, Nara a. dan Yeye mohon setelah kamu mengetahui hal itu kamu harus bisa menerimanya dan jangan membuat penyakit lamamu kambuh. Yeye tidak ingin melihat itu. arra?” ujar tuan Kim dengan tegas

Nara menggangguk pasrah. Jika sudah tentang penyakitnya dia selalu tidak bisa berjanji.Nara memang mempunyai penyakit asmah yang akan kambuh ketika dia merasa tertekan dan dadanya merasa sesak. Itu juga salah satu hal yang Nara simpan dari Luhan.

Dia tidak ingin Namja nya tau jika dia mempunyai penyakit itu. selama hubungannya dengan prianya baik-baik saja mungkin hal itu juga akan baik-baik saja untuk penyakitnya. Itulah alasan Nara menyimpan penyakitnya. Dan keluarga Kim selalu siaga jika penyakit Nara yang satu itu kambuh. Jika penyakit itu kambuh maka akan fatal akibatnya. Itu bisa mengancam nyawa seorang Kim Nara.

*flashback end

Nara yang sedang berkutat dengan pisau putih dan ayam itu terbelalak kaget ketika ada yang memeluknya dari belakang.

“yak oppa, tidak bisakah kamu jangan mengaketkan ku?”

“Ah. Mian oppa tidak tau jika kamu akan kaget. Kamu masak apa eoh?”

“aku hanya memasak ayam goreng dan nasi goreng kimchi. Duduklah Ge. Aku akan menyelesaikan sarapan mu secepatnya.”

Pria itu bukan melepaskan pelukannya tetapi dia semakin mengeratkan pelukannya. Nara merasa risih jika sudah seperti ini. Ya dia memang menyukai pelukan dari prianya. Tetapi jika dia sedang memasak dia akan merasa risih dan acara memasaknya terbengkalai.

“bisakah Gege menunggu di meja makan dulu? Kau membuatku susah untuk  memasak Ge.”

“mmm, tidak bisa! aku tetap ingin disini dulu” gumamnya.

“wae? Kenapa kamu jadi seperti ini eoh? Oh ayolah Ge ini sudah jam 6 dan pesawat mu akan berangkat jam 9 Ge.”

“Arraseo.. Arraseo.. kenapa kamu jadi cerewet eoh? Oh ayolah Chagi, Gege akan di Beijing selama 1 minggu. Apa kamu benar-benar tidak akan kangen dengan Gege selama itu?”

“Bukan kah sudah biasa Gadismu ini cerewet? Hmm.. mungkin ‘tidak’! aku sudah terbiasa tentang itu. Bukankah selama kamu ada tour dengan exo kamu juga akan meninggalkanku?” ucap Nara sambil menekankan kata ‘tidak’

Luhan yang mendengar perkataan dari gadisnya melepaskan pelukannya dan berjalan menuju meja makan dengan wajah kesalnya. Oh ayolah Nara, kamu berhasil membuat Luhan kesal sepagi ini. Apa kamu benar-benar tidak akan kangen dengan pria mu?

Tentu saja Nara akan kangen dengan Prianya. Apa yang di katakan oleh mulut mu tidak akan pernah sama dengan apa yang dikatakan oleh hatimu. Munafik jika seorang Kim Nara tidak akan kangen dengan Prianya.

Tapi ingatlah satu hal, Mungkin sekarang Nara benar-benar tidak akan kangen dengan Luhan. Bukankah Nara juga akan ke Beijing bersama Yeye nya. Bisa saja mereka bertemu di cafe yang berada di Beijing atau Luhan datang ke rumah Nara yang berada di Beijing. Itu bisa saja terjadi. Tidak akan ada yang tau hal yang akan terjadi 1 detik kemudian bukan?

Tapi tetap saja Kim Nara, Pria mu tidak akan tau hal itu.

Setelah Nara menyelesaikan masakannya Nara membawanya ke meja makan. Dia memberikan nya ke Luhan. Reaksi Luhan saat ini adalah menerima makanan itu dan mengabaikan Nara. Nara yang merasa hawa dingin Luhan saat ini hanya berhasil menelan saliva nya.

Dia selalu merinding jika prianya sudah seperti ini. Nara mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Dia seperti telah berhasil membangunkan hantu yang sudah tidur berpuluh-puluh abad. Dan itu tentu saja mengerikan.

“Oppa..”

Hanya gumaman yang di dengar oleh Nara. Prianya terlalu malas untuk menjawab pertanyaan gadisnya. Dia benar-benar tidak habis pikir jika gadisnya bisa berkata seperti itu. Nara tidak jadi bertanya. Dia benar-benar mengutuk dirinya dalam hati.

Luhan yang telah selesai makan membawa piring itu ke wastafel dan pergi meninggalkan dapur. Luhan tidak ingin berlama-lama di sana. Dia sudah kesal dan dia tidak ingin emosi nya meledak yang akhirnya akan memarahi yeoja nya. Luhan berjalan menuju kamar Nara dan mencoba menenangkan dirinya.

TBC

hai i’m back with Lucky chapet 6 😀 Apa masih ada yang benar-benar menunggu ini? kekeke

semoga ajah ada deh yah 😀

Advertisements

3 thoughts on “(CHAPTER) LUCKY (6th)

  1. Pingback: LUCKY (8th) | INDO FANFICTIONS

  2. Pingback: LUCKY (7th) | INDO FANFICTIONS

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s