[Ficlet] Death or Go?

 5fa85b8f5c4105b2a3f824ff20118381

Death or Go?

 | Yang Min Soo | Min Yoon Gi (Suga BTS) & Kim Seok Jin (Jin BTS)| Genre: Sad, Family, Brothership, Angst, AU!| Length: Ficlet | Rate: PG-13 |

Cast belong to god. Don’t be plagiarism, don’t bash, and i hope you like it, guys 🙂

 

Yoon Gi dilanda keputus asaan. Dimana ia lelah akan hidupnya sendiri dan mengajukan 2 pilihan yang sulit. 

Yoon Gi, remaja berparas tampan itu hanya bisa terdiam. Menutup rapat-rapat mata dan mulutnya. Tubuhnya bergemetar hebat saat amarah sang ayah meluap.

“kau darimana, eoh?!”

“a–aku belajar”

“kau memakai alasan itu lagi?!” Yoon Gi tersentak kaget. Perkataan sang ayah seperti pria paruh baya itu tak mempercayainya.

“kau selalu pulang lewat tengah malam dengan alasan belajar, kau kira appa mu ini percaya setelah melihat tubuhmu selalu babak belur, eoh?!”

Ok, Yoon Gi memang selalu pulang sekolah dengan keadaan wajah babak belur. Bibirnya sedikit sobek dan memar di pipi kanan dan kirinya. Belum lagi kakinya terkilir.

Pada awalnya sang ayah mempercayai Yoon Gi yang giat belajar. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia mulai ragu dengan alasan anak keduanya tersebut. Terlebih Yoon Gi tak mau menjelaskan padanya tentang lebam di sekujur tubuhnya.

Bagaimana bisa sang ayah kembali mempercayai perkataannya?

“jawab yang jujur, Yoon Gi!” pinta sang ayah.

“aku benar-benar belajar, appa”

“kau bohong! Appa tak pernah mengajarkanmu berbohong pada orang tua!” seru sang ayah, menaikkan sedikit oktaf bicaranya.

“apa buktinya kalau kau belajar giat seperti yang kau katakan? Kau selalu peringkat 10 terbawah setiap ujian paralel, kau selalu pulang malam dengan alasan belajar, kau juga selalu babak belur setiap pulang. Bagaimana bisa appamu ini percaya lagi padamu, eoh?!”

Yoon Gi hanya bisa menahan tangis. Perkataan sang ayah seperti pisau yang menggores perasaannya. Sedangkan sang ibu dan kakak tertuanya, Seok Jin hanya bisa melihatnya dari belakang. Seakan mereka berdua tak berani melawan kepala keluarga tersebut.

“contoh kakakmu itu! Dia selalu juara umum dan bisa mengurus dirinya sendiri! Apa yang bisa appa bangga kan darimu, eoh?! Kau tak pernah masuk 10 besar bahkan 20 besar pun kau tak pernah! Dimana letak appa bisa membanggakanmu?!”

Seok Jin membulat mendengar perkataan sang ayah. Ia hanya bisa menggigit ujung bibirnya. Sepertinya sang ayah terlalu memperlakukan ‘lebih’ padanya. Padahal Yoon Gi sangat pandai memasak, sama seperti dirinya. Tetapi sang ayah tak pernah memperhatikan anak bungsunya tersebut.

“seharusnya kau pergi saja dari rumah! Untuk apa appa mengurusi anak sepertimu, eoh?! Tidak ada gunanya sama sekali!”

Yoon Gi maupun Seok Jin terhenyak mendengar ucapan kepala keluarga tersebut. Mereka tak menyangka, sang ayah akan berbicara sekasar itu.

“appa…” lirih Seok Jin

“DIAM! Appa belum selesai dengan adikmu yang tidak berguna ini!”

“appa, ku mohon, hentikan. Ini sudah keterlaluan” pinta Seok Jin, ia tak tega saat menatap adiknya yang hanya bisa menunduk menahan tangis dan sesak di dadanya.

“apanya yang keterlaluan?!” kini sang ayah memarahi Seok Jin.

“appa tak seharusnya seperti ini”

“kau jangan mengatur appa, Seok Jin!”

“tapi—”

“memang seharusnya adikmu ini pergi dari rumah ini atau—”

“mati saja”

Seok Jin langsung menutup mulutnya. Shock akan perkataan sang ayah. Sedangkan Yoon Gi tetap berusaha keras menahan tangis. Tubuhnya seketika lemas dan bergemetar hebat. Tangannya mencengkram keras seragam sekolahnya.

Apa benar sang ayah menginginkan Yoon Gi untuk pergi?

“sudahlah! Appa ingin istirahat! Appa bisa mati hanya karena memikirkanmu”

Pria paruh baya berjalan pergi, meninggalkan kedua anaknya yang hanya terdiam kaku. Sedangkan sang ibu menatap sendu anak bungsunya tersebut. Ada rasa khawatir dan sedih mendengar suaminya berbicara kasar pada anak bungsunya tersebut.

“Yoon Gi-ya…” lirih Seok Jin

“aku tidak apa-apa, hyung. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur”

Seok Jin hanya bisa mendesah. Adiknya selalu seperti itu, menutupi segalanya. Yoon Gi seperti membuat benteng untuk dirinya dari orang-orang, termasuk keluarganya sendiri. Yoon Gi selalu memilih untuk memendamnya sendirian. Tanpa membiarkan siapapun tahu bagaimana tersiksanya ia. Bagaimana sesaknya ia.

Sudah cukup hanya ia yang merasakannya.

************

Yoon Gi menangis, meluapkan segala kesedihan dan luka yang ia rasakan. Ia pun meringkuk, membenamkan kepalanya di kedua kakinya. Sang ayah berhasil membuat dadanya sesak, seperti ribuan jarum yang menyerang tubuhnya. Perkataan tajam sang ayah jauh lebih menyakitkan dari teman-teman yang suka membully nya dengan kekerasan.

“appa, benarkah itu yang appa inginkan?” lirih Yoon Gi, menatap langit-langit kamarnya.

Tiba-tiba ekor mata Yoon Gi menemukan secarik kertas serta pulpen. Perlahan ia mengambilnya. Dengan tangan yang bergemetar serta bulir-bulir yang terus membasahi kedua pipinya ia menggoreskan tinta di atas kertas putih tersebut. Meluapkan segala yang ia rasakan. Meluapkan rasa terluka yang membuatnya terasa dicekik. Meluapkan segala hal yang selalu mengganggu hidupnya.

Menuliskan 2 pilihan yang sulit untuk dirinya sendiri. 

************

Yoon Gi berjalan lemah, menelusuri trotoar dengan tatapan kosong. Sejak perkataan sang ayah, ia merasa kehilangan gairah hidup. Makan tak teratur, membolos hanya untuk meluapkan segalanya, dan tidak lagi pulang malam hanya karena belajar.

Tatapannya terpancar rasa terluka yang sangat mendalam, melebihi remaja kebanyakan. Wajahnya pucat dan tubuhnya kian tirus. Senyuman yang biasa melengkung manis di bibir Yoon Gi kini tak berbekas. Semua lenyap tenggelam ke dalam rasa terlukanya.

Saat di Zebracross, bermaksud untuk menyebrang, Yoon Gi langsung melangkah kan kakinya setelah melihat lampu lalu lintas hijau untuk pejalan kaki. Tanpa menyadari ada sebuah mobil sedan putih yang melaju cepat ke arahnya. Beberapa orang sudah memperingatkan Yoon Gi. Tetapi Yoon Gi seperti menutup mata dan telinga. Peringatan orang-orang seakan hanya angin yang melewatinya.

BRAAAK!

************

Seok Jin terlihat sibuk membereskan kamar Yoon Gi. Sesekali ia mengarahkan moncong Vacuum Cleaner ke tempat yang ia rasa kotor dan berdebu. Tak lupa ia membereskan buku pelajaran Yoon Gi yang berserakan di atas meja belajar remaja manis tersebut.

Seok Jin mengerjapkan kedua matanya saat menemukan secarik kertas di atas kasur empuk milik Yoon Gi. Kertas tersebut sedikit basah dan terlipat. Perlahan tangan kekar Seok Jin menggapai kertas tersebut. Sebelum ia membacanya, terdengar suara isakan serta panik dari belakangnya.

“Seok Jin-ah! Cepat! Kita harus ke rumah sakit! Adikmu kecelakaan!” panik sang ibu.

Mata Seok Jin melebar mendengarnya. Dengan asal ia melempar moncong Vacuum Cleaner lalu memasukkan kertas tersebut ke dalam saku celananya. Ia berlari cepat, mengikuti sang ibu yang sama paniknya.

************

Dokter yang baru keluar dari ruang operasi hanya bisa menggeleng sesekali mengucapkan kata maaf. Seok Jin tak bisa mempercayai hal ini. Tubuhnya merosot, kakinya seakan tak bisa menopang berat badannya sendiri. Perlahan bulir-bulir air mata membasahi pipinya.

Tak ada bedanya dengan kedua orang tua Seok Jin, mereka sama Shock nya dengan Seok Jin. Bahkan sang ibu menangis histeris, kehilangan anak bungsunya. Sang ayah hanya bisa menarik kerah baju dokter, meminta agar anaknya kembali diselamatkan.

“selamatkan anakku, dok!” pinta sang ayah

“maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi semua itu tergantung yang di Atas”

Seok Jin meringkuk, menutup mulutnya dengan jari-jari tangannya. Masih tak percaya akan kepergian sang adik yang tiba-tiba. Tangannya merogoh saku celananya, teringat akan secarik kertas yang ia temukan di kamar Yoon Gi.

Air mata kian deras membasahi wajah tampan Seok Jin. Isakan kian terdengar walaupun sudah dicegah oleh jari-jari tangannya. Ia tak menyangka, adiknya akan menulis seperti itu. Dadanya terasa sesak dan terbakar. Ia meremas kertas tersebut. Menyesal karena tak mengetahui perasaan sang adik sejak awal. Menyesal karena tidak bisa menjadi sandaran bagi Yoon Gi. Menyesal karena tidak bisa mencegah yang sudah terjadi.

“Tuhan, kenapa kau mengabulkan salah satu pilihannya? Kenapa kau tidak menolak keduanya?”

Aku lelah akan semuanya. Hyungku dan orang tuaku juga lelah. Aku tak bisa membiarkan semua ini terjadi. Aku tak tega membiarkan semuanya lelah karenaku. Baik hyungku maupun eomma yang selalu membela ku. Aku akan mengalah untuk semuanya. Mengalah untuk Jin-hyung, eomma, appa, dan teman-teman yang sudah bersikap kasar padaku. Aku akan mengalah untuk semuanya. 

Tuhan, aku lelah akan hidupku. Bisakah kau memilih salah satu dari pilihanku ini? Ini permintaan appa. Ini keinginan appa. Bisakah kau memilih salah satunya lalu mengabulkannya? Ini permintaanku yang terakhir. Aku janji tak akan meminta apapun lagi setelah ini. 

Kumohon pilih lah salah satunya. Ku mohon, kabul kan salah satunya. Ku mohon, pilih lah yang terbaik untukku. 

MATI ATAU PERGI?

END

 

19 thoughts on “[Ficlet] Death or Go?

  1. Heh heh heh Yang Minsoo-___-
    Apa apaam dirimu ampir bikin mewek pagi-pagi? :’v
    Yaampun, yooonnnngggggiiiiiii ><

    Tapi ini serius loh, aku suka sama semua karakter mereka yang ada disini, terutama Jin .__. *peluk Jin*
    Rasanya dia itu apa yaa jadi sosok kakak yang gimanalah cara jelasinnyaa yang jelas dia itu baiknya ga ketulungan-______-
    Alur yang kamu pake juga ga nyeleneh dan menurut aku pas banget. Ditambah gaya bahasa kamu yang ok, makin ngena banget bacanya..

    Sip, aku mau ngegalonin Yoongi hueeeeeeee 😥
    Tuhan beneran ngejawab salah satunya, omaygat/? :'
    Awesome fic! *gelantungan ditangan taehyun* XD

    • Huaaaah, maafkan aku echaa telah membuatmu hampir mewek 😦 *alaymodeon

      Aiiih, karakter Jin bener2 ngegambarin abang impianku #kasiaan yang ga punya kakak -___-

      Wkwkwk, makasih udah bilang ngena kata2nya, terharu sayaaaa… 😀

      Permintaan yoongi terwujud dan itu bikin nyeseeek >< #apaan sih
      Gomawo ya chaa, udah baca sm komen 😀

      • Hahahah XD
        Abang impian:’v Aku juga gapunya masa XD *geret Jin pulang*

        Kamu yang bikin nyesek, Min, kamuuu XD
        Hahah, oke, sama-sama 😉

        • Iyaaaa jin itu abang impian binggo ><, seandainya punya abang kyk dia #mulai deh -__-
          Aku kah? Omaygat! Ternyata diriku yg bikin nyesek, perasaan yoongi dah -__- *kurung yoon gi #apaan deh -__-

  2. KENAPA YOON GI MATI DISINI. KENAPA TOLONG JELASIN KE AKU, AKU GA KUAT HUHU SUAMIKUUUUUUUU :””””””
    Perasaan setiap cerita yoongi yang kubaca jarang banget berakhir bahagia -,___- apa yoongi sebegitu nistanya(?) #plak
    anyway, seokjin karakternya bagus disini. jadi abangku yuk(?)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s