[Ficlet] Si Norak, Si Aneh, Si Kutu Buku

image

Si Norak, Si Aneh, Si Kutu Buku

 

( Dikutip dari buku Chicken Soup For The Teenage Soul  II : Si Norak, Si Aneh, Si Kutu Buku )

Have been published on : Baekachow

 

~ Berdiri tegap, bahu tegak, dagu terangkat, pandangan mata ke depan, tersenyum! ~

echaakim

.

.

Berdiri tegap, bahu tegak, dagu terangkat, pandangan mata ke depan, tersenyumlah semanis mungkin, demikian aku bergumam. Tidak, ini tidak mungkin kulakukan. Pelan-pelan, kupasang lagi kacamataku dan kembali merunduk, kebiasaanku. Segera kusesali keputusanku itu saat diam-diam menyelinap kembali ke bangkuku. Matanya samasekali tak berkedip saat aku melangkah masuk. Bahkan berdehem untuk menarik perhatiannya rasanya akan sia-sia saja.

 

Kuambil buku sejarah. Aku mencuri pandang saat ia duduk disebelahku. Ia tampak persis seperti dalam mimpiku kemarin malam: sempurna, tanpa cacat setitik pun. Segala sesuatu yang ada padanya sungguh pas–senyumannya, rambut cokelatnya yang selalu jatuh terurai indah, oh, matanya itu bahkan sangat membuatku tergila-gila. Aku tak sadar bahwa aku tengah menatapnya karena tiba-tiba saja ia menoleh dan memandangku. Cepat-cepat aku menunduk, melihat buku sejarah yang tebal dan pura-pura sibuk mencari sesuatu untuk dikerjakan. Aku tak berani bahkan sekadar melirik untuk melihat apakah ia masih memandangku atau tidak. Aku mengalihkan perhatian ke jendela, cahaya matahari membuatku menyipit. Sial.

 

Ironisnya, aku melewatkan musim panasku disekolah. Aku bukannya tidak lulus dalam mata pelajaran ini, sebagaimana halnya dengan murid lain yang ada disini. Aku memiliki hasrat yang luar biasa untuk belajar dan meraih sebanyak-banyaknya selama masa sekolahku di SMA. Singkatnya, aku adalah orang yang aneh. Si penyendiri. Si kutu buku. Tidakkah begitu?

 

Dari sudut mata kulihat ia hendak menepuk bahuku. Semua otot tubuhku mengejang. Sentuhannya begitu ringan, jemari lentiknya hampir tak terasa olehku. Pelan-pelan aku menghadap dirinya, sementara mataku terpaku pada lantai marmer dibawah. Aku tak kuasa memandang mata indah itu.

 

 

“Pekerjaan rumah kemarin–kau sudah menyelesaikannya?”

 

 

Tentu saja sudah kuselesaikan! Bahkan PR untuk nanti malam pun sudah selesai kukerjakan. Apa kau tidak tahu siapa aku? Akulah satu-satunya murid paling pintar disekolah ini. Setiap malam sepanjang pekan kuhabiskan berjam-jam di depan layar komputer. Kekuatan dibekakangku mendorongku lebih kuat lagi. Kelak aku akan begitu terjerumus dalam dunia kaum terbuang sehingga aku akan bermabuk-mabukan bersama komputerku. Belum, aku belum masuk ke dunia itu. Untuk sementara ini aku cukup senang bahwa masih ada hal yang belum kuketahui–hal yang sekarang ini ada dalam pikiranmu.

 

 

Aku berdehem. “Ya, aku sudah menyelesaikannya..”

 

 

Umm.. aku agak kesulitan dengan soal nomor 13. Kau tahu jawabannya?” Dengan satu gerakan mulus, ia menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.

 

 

“Aku..” jawabku gelagapan.

 

 

“Apa?” Jawabannya.. kau?” Ia bertanya kebingungan dengan alis bertaut.

 

 

“A-ahh, tidak, tidak, bukan itu..” Aku menyangkal. Pipiku terasa merah padam. Sial, kalau aku memang pintar, mengapa bersikap bodoh seperti ini? Aku sudah melatih apa yang akan kukatakan kepadanya seribu kali, berulang-ulang. Aku berangan-angan bahwa pembicaraan itu akan berakhir dengan dia yang akan mengajakku untuk bertemu diluar sekolah. Ia akan berpendapat bahwa aku lucu dan tak ada seorang pun pria yang lebih menarik dibandingkan aku.

 

 

Aku menarik napas panjang. “Franklin Roosevelt’s Brain Trust.” Kupaparkan jawabannya dengan gugup.

 

 

“Thanks,” katanya, lalu mulai menuliskan jawaban itu dengan santai, kemudian menoleh ke pria berambut cokelat keriting yang duduk dibelakangnya. Ia berusaha mengambil hati si pria dengan leluconnya. Si pria cokelat keriting samasekali tidak tersenyum. Sebaliknya, aku bisa tertawa terpingkal-pingkal kalau saja lelucon itu tertuju untukku. Tapi kemudian aku ingat bahwa lelucon itu tertuju untuk si pria cokelat keriting, bukan aku.

 

Kuperhatikan gerak tubuh si pria cokelat keriting saat tiba-tiba dia mencondongkan tubuh kedepan, kearahnya sambil memainkan helaian rambut panjang dengan jari si pria cokelat keriting yang menyentuh pelan. Dengan usil aku menyenggol pensilku sampai jatuh dari meja. Sengaja.

 

Perhatiannya terganggu, dan ia melihat ke lantai–tepat di depan sepatu yang dikenakannya. Ia membungkuk dan memungut pensil itu, yang telah habis kugigit-gigit kalau aku sedang gugup. Ia berdiri; hidungnya lebih dekat dengan hidungku ketimbang dengan jarak hidung si pria cokelat keriting tadi ke hidungnya.

 

Tanganku menyentuh tangannya saat aku mengambil pensil itu. Aku merinding dan jantungku berdebar hebat. Belum pernah ia menunjukkan senyuman seindah sekarang ini.

 

Waktu sesaat itu seakan tak pernah ada, dan tanpa sepatah kata pun yang terucap, ia berbalik dan sibuk kembali dengan si pangeran keriting dibelakangnya. Dengan kecewa aku membungkukkan badan kedepan dan bertopang dagu, memperhatikan dengan terpesona kala si pria cokelat keriting mengembungkan pipinya lucu. Dengan gerakan singkat dia menusuk-nusuk pipi si pria cokelat keriting sambil tertawa. Mata gadis idamanku tak lepas dari pria itu. Oh, rasanya ingin sekali aku berteriak dan mengguncangkan tubuhnya, menyadarkannya. Pria cokelat keriting ini benar-benar tidak ada apa-apanya! Dibalik penampilannya yang bagaikan seorang pangeran mahkota istana kerajaan, isi kepalanya hanya kosong melompong!

 

 

Suatu saat nanti kita akan saling menyelamatkan, diam-diam aku berjanji dalam hati. Kita sebenarnya sama, kita sama-sama ingin bebas dari dunia fantasi ini. Ini saja sudah merupakan dasar untuk membangun hubungan yang lebih akrab lagi.

 

 

Malam ini aku bisa pergi ke pusat perbelanjaan di tengah kota. Membeli cat rambut cokelat terang–atau mungkin hitam lebih keren, dan topi yang sedang jadi trend musim ini. Atau berkeliling pusat pertokoan mencari kaus mahal yang sering dikenakan si pria cokelat keriting tadi. Aku bisa memanfaatkan musim panas untuk membuatku tampak lebih keren. Tapi.. mungkin aku malah mengurung diri dan mengerjakan PR di kamar.

 

Tidak, malam ini aku akan berlatih: berlatih untuk berdiri tegap, bahu tegak, dagu terangkat, dan tersenyum semanis mungkin. Agar mungkin besok ia akan menanyakan jawaban dari soal nomor 12…. dan namaku tanpa melihat nametag-ku duluan..

 

 

 

 

END~

Ew, itu Byun Baekhyun yang sedang jatuh cinta XD
Hahahah XD Setelah bikin dia bersedih-sedih ria di fic sebelumnya, hatiku tegerak untuk membahagiakan si mungil nan unyu ini/? *yaelah bahasamu chakk :’v

Oke, aku ngambil cerita ini dari buku Chicken Soup For The Teenage Soul II yang lagi-lagi menginspirasi lewat ceritanya yang ga pernah bosen dibaca ^^  Setelah sebelumnya buku keramat ini juga yang jadi pusat inspirasiku di ff Good Night, Daddy XD *plesbek

Lewat judul cerita Si Norak, Si Aneh, Si Kutu Buku aku buat fic ini dengan make si Baekhyun sebagai tokoh si ‘aku’ dan secret girl sebagai ‘dia’ XD Lalu kalian bisa berspekulasi sendiri tentang siapa itu si pria cokelat keriting :v

Ps : Big thanks buat my lovely dear, Mrs. N  yang uda minjemin buku ini lagi XD Laffyaa~~♡♡♡

10 thoughts on “[Ficlet] Si Norak, Si Aneh, Si Kutu Buku

  1. Lucu masa XD
    Baekhyun’a gk mau kalah gtu ma si cowok cokelat keriting 😀
    Ko aku mlah mikir kalw si cowok itu chanyeol ya? 😀
    Daebak!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s