[Candy] 11:11 Wish

[Super Rookies 2014 SERIES] 11;11 Wish

This story brought to you by Viato Charni

[Red Velvet] Bae Joohyun aka Irene [WINNER] Song Minho aka Mino || Fluff, School Life, Slice of Life || Teen || Ficlet (800+ words)

Poster by Sifixo@Artfantasy

.

When I turn around, I only think about you. What do I do if I can’t have you in my hands?

Irene (Candy)

Katanya, kalau mengucapkan permohonan pada pukul 11:11 tepat, maka permohonan itu akan terkabul!

.


.

“Hei! Tahu, tidak? Katanya, kalau mengucapkan permohonan pada pukul 11:11 tepat, maka permohonan itu akan terkabul!”

“Masa? Bohong ah!”

“Ih, ini serius! Para senior pernah melakukannya dan berhasil!”

“Woaaahh. Daebak!

Irene menggeleng-gelengkan kepalanya sembari masih menulis. Aneh-aneh saja pelajar-pelajar sesama kaum hawa di kelasnya. Topik pembicaraan mereka terlalu rendah untuk derajat murid SMA yang mereka sandang. Karena menurut Irene, percaya cerita yang tak masuk akal adalah kekanak-kanakan. Cukuplah kesenangan mengimani kisah tak logis semacam itu ia nikmati semasa kecil. Sekarang Irene sudah remaja, dan tentulah juga semakin rasional.

Itu yang diyakini seorang Irene, tetapi entah mengapa ia tiba-tiba gelisah sendiri. Ponsel di samping tempat pensil diliriknya berulang kali sampai kemudian ia putuskan untuk mengusapnya pelan guna memastikan sesuatu. Pukul 11:10.

Irene termakan omongannya sendiri ketika pelan-pelan jari-jemarinya menautkan diri satu sama lain dan matanya terpejam tatkala ponselnya menunjukkan pukul 11:11.

Ini hanya karena rasa penasaranku. Jika teman-temanku tidak berbohong, coba buktikan dengan mempertemukanku dengan jodohku. Saat ini, ketika aku selesai berharap dalam hati, aku ingin dia ada di hadapanku dan menjadi yang pertama kulihat saat membuka mata. Buktikan kalau akulah yang salah dan harus percaya.

3

2

1

Irene menghembuskan napas sekali guna menenangkan dadanya yang—entah kenapa—menimbulkan suara gemuruh dahsyat. Berlebihan sih, tapi Irene membuka matanya seolah-olah saat ini adalah penentuan hidup dan matinya.

Lalu—

Ada kesalahan. Pasti kesalahan. Irene yakin ini kesalahan. Kenyataan di depannya adalah kesalahan. Situasi ini merupakan kesalahan. Semuanya salah. Bahkan kehadiran pemilik iris kebingungan yang bersitatap dengannya ialah—secara definit—kesalahan.

—Irene terkesiap.

Mungkin bola mata membulat masih bisa dimaklumi, tapi berdebar-debar bukan tindakan yang tepat untuk dijadikan reaksi.

Noona, kamu tadi ngapain, sih?”

“Bu—bukan apa-apa!”

“Heh… Jangan bilang kalau tadi kamu me—“

“Aku gak buat permohonan apapun, Minho!”

Nah, kan keceplosan.

Lantaran rasa malu, akhirnya Irene memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibir, merutuki diri, dan menginginkan laki-laki itu mati supaya kekehannya berhenti otomatis.

“Minho, diam.”

Laki-laki itu mati-matian memperjuangkan ketenangan hingga tawa menggelegarnya sekarang hanya sarup-sarup menggema. “Oke oke. Baiklah, Noona. Maaf.”

Minho berdeham—melegakan tenggorokannya yang terasa ganjal.

“Tapi, kamu benar-benar tidak mencoba ‘Permohonan 11:11’ itu? Hampir semua siswa sudah mencobanya, lho. Jadi tidak ma—ah, iya. Maaf.” Minho batal jadi cerewet. Manik tajam dan decihan sinis Irene sukses mengomandaninya untuk segera mengemis pengampunan.

“Jadi, kenapa tiba-tiba datang ke kelasku?” Irene langsung ke inti. Beruntung ketenteraman suka sekali bersamanya, hingga ketakwajaran perasaan yang melingkupinya tadi kini terusir dengan sendirinya.

“Mumpung kelasku tak ada guru, dan kelasmu juga sedang free, jadinya aku mampir ke sini saja.”

“Dasar!” Irene menyentil dahi Minho yang seharusnya berada menjulang jauh melebihinya. Namun karena Minho berlutut dan menempatkan dagu di atas mejanya, Irene kini tahu bagaimana para orang jangkung memandang bangsa kerdil. Menyedihkan memang, lantaran Irene selalu mendapat peran si kerdil ketika berhadapan dengan Minho. Bahkan ketika mereka masih cilik, rekor Irene hanya sampai di tingkat sama tinggi, itu pun menjelang dirinya akan lulus Taman Kanak-kanak.

Sungguh ironi.

“Keren!”

“Apanya yang keren?” garis-garis kebingungan timbul di kening Irene saat lamat-lamat ia mengobservasi Minho yang ternyata sudah menampilkan sirat takjub dari matanya.

Si adik kelas langsung heboh sendiri. “Woah woah woah! Permohonanku baru saja terkabul! Keren!”

“Memangnya kamu minta apa?”

“Aku minta supaya suatu saat nanti Irene Noona bisa menyentuh dahiku,” jelasnya. “Barusan kamu tidak hanya menyentuhnya, tapi menyentilnya! Itu lebih dari yang kuharapkan!”

Irene memandang Minho jengah. “Jadi kamu termasuk yang sudah pernah mencoba ‘Permohonan 11:11’ itu?” tanyanya yang segera menorehkan anggukan—bonus acungan jempol—dari Minho.

“Aku melakukannya kemarin. Kamu melakukannya juga ‘kan tadi?”

“T-tidak! Tidak mungkin!”

“Iya, tidak mungkin,” kata Minho, mengangguk-angguk. “Tidak mungkin salah karena bahkan kamu sempat keceplosan. Ckckck. Tidak tahu berbohong tapi malah sok.”

Kedoknya sudah terbongkar, tapi Irene terlalu malu untuk mengakui. Begitu memalukannya sehingga kepingan-kepingan potret Minho berserakan dimana-mana dalam memorinya, lalu dialihkan pada lanskap parasnya yang terpejam—menanti kemunculan cinta sejati dari karangan permohonan sialan itu, lantas manik familiar itu menyambutnya tatkala matanya mengenal kembali dunia, mengenal tempatnya berada, mengenal sensasi hangat yang sering menjalarinya, mengenal detakan tak karuan karena ulah jantungnya, dan mengenal Minho—sang empunya iris kelam—jawaban uji coba atas permohonan yang diujikannya beberapa saat lalu.

“Akui saja. Kamu sudah membuat permohonan, ‘kan?”

Alih-alih menatap bola mata Minho yang merajuk akan persetujuan, Irene lebih memilih mengevakuasi arah pandang irisnya ke zona aman, dimana mampu meredakan lonjak kegirangan cardia-nya, serta sanggup memperlambat laju rona merah muda di pipinya untuk timbul ke permukaan.

“Iya, ‘kan?”

Masih tak mau membuat kontak mata, Irene berkata sekenanya. “Sekalipun iya, ‘Permohonan 11:11’ tak akan berlaku untukku—”

Pelan-pelan Irene memberanikan diri, melirik Minho dengan gerak hati-hati, tetapi kemudian penyesalan tumbuh ketika sinar mata lelaki itu menembus benteng pertahanannya, memutuskan ikat pada cardia-nya sehingga lompatan-lompatan jantungnya bertambah kecepatan, dan semburat di pipinya juga melejit tanpa hitungan detik.

“Benarkah?”

Irene gelagapan. Dia menelan ludah…

“—mungkin”

…dan ucapannya sendirilah yang membuktikan ia berharap akan keajaiban oleh apa yang disebutnya kekanakan.

.


.

kali ini pairing mino-irene. aku dedikasikan buat 2 temenku (K.G.T & N.T.K) dan kalian yg wktu itu req pairing ini 😀 aku minta maaf klo ff-nya ga sesuai ekspektasi kalian dan malah jdi kyk gini /.\

btw, ada yg udh tau ttg “Permohonan 11:11” ga? curcol dikit ya hehe. aku tau ini dri seorang kk kls yg wktu itu sma2 ikut pelatihan persiapan lomba bareng aku. dia cerita ttg “Permohonan 11:11” ini dan dia itu rajin bgt berdoa pas jam 11:11 tepat -_______- dia jga blg klo permohonannya terkabul katanya :v aku sih blm prnah coba wks..

ada yg mau coba? xD

aku tahu ff ini bnyk kekurangan, jdi tlg kasih aku saran dan kritik (yg membangun) di kolom komentar ya 🙂 tulis juga pairing mana yg kmu tunggu slnjtnya xD (syukur2 klo ada nungguin wkwk)

wah trnyta aku makin cerewet .-. udahan ah~

See ya next imagination!

7 thoughts on “[Candy] 11:11 Wish

    • syukur deh klo kamu suka, seneng deh hihi^^
      nanti aku coba pake pairing ini lagi ya klo ada ide 🙂
      kelamaan kena writer’s block nih hiks (curcol dikit)

  1. haloo…. new reader…. kyaaas mino irene. senenggggg. agak susah nyari ff yg pair mrwka b2.. sering2 buat pair ini ya. gegara sbs gayo jadi ngeship in mreka b2. nexttttt plissss. tq thor

    • makasih udh mau mampir+baca+ komen^^ syukur deh klo kmu seneng muehehe ❤
      wah sama nih, aku juga ngeship mereka krna sbs gayo kkk~
      klo ada ide, pasti aku buat kok+pgn ngebanyakin ff pairing ini juga haha 😀

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s